Daily Archives: September 4, 2014

Bertualang ke Negeri Orang

Dunia adalah sebuah buku dan orang-orang yang tidak pernah melakukan perjalanan ia hanya membaca satu halaman.” (St. Agustinus)

Kupandangi buku kecil di tanganku, sudah ‘dikotori’ oleh beberapa stempel tidak lagi kosong. Beberapa tahun lalu ketika Rhenald Kasali membuat tulisan tentang buku ini aku hanya meringis. Bagaimana tidak, Pak Rhenald secara eksplisit mengatakan bahwa tanpa buku ini manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, dan menjadi pemimpin yang steril. Lebay banget nggak sih? Ya, buku yang baru kubuat beberapa bulan lalu ini adalah paspor yang disebut Pak Rhenald sebagai tiket untuk melihat dunia. Setelah melakukan perjalanan ke separuh nusantara di akhir tahun lalu, tahun ini saatnya memulai petualangan ke negeri orang.

Kesempatan itu segera datang di awal tahun ini saat paper yang berjudul “The Effectiveness Of Zakat Funding In Breaking The Poverty Chain, Creating Excellent And Independent Generation Through Beastudi Etos Program Of Dompet Dhuafa (Mentoring And Coaching Scholarship)” terpilih oleh tim penilai Baznas untuk dipresentasikan di New York, USA pada akhir Mei 2014 dalam acara World Zakat Forum. Hal ini jauh melebihi ekspektasiku yang hanya ingin mengambil hikmah perjalanan ke negara-negara tetangga. Sejujurnya, agak berat juga harus berangkat sendirian ke Negeri Paman Sam pun beberapa teman ada disana. Namun kesempatan tersebut adalah momen yang tepat bagiku untuk membuat paspor.

Kisah tentang pengalaman membuat paspor mungkin sudah banyak yang menuliskannya, petunjuk yang ada di website departemen imigrasi nampaknya juga sudah cukup jelas. Tanpa menjelaskan mengenai alur dan tahapan detail, ada beberapa pengalaman yang ada baiknya dibagi. Membuat paspor sebaiknya online, karena akan mempercepat proses pembuatan sekaligus daftar antrian ketika berada di kantor imigrasi. Jika sudah paham tahapannya, paspor sebenarnya dapat selesai dalam 5 hari kerja walaupun tidak memanfaatkan fasilitas one day service yang tersedia di kantor-kantor imigrasi tertentu. Daftar online dan pembayaran di hari pertama, penyerahan berkas di hari kedua, wawancara di hari ketiga, dan jika lancar pasporpun siap diambil di hari kelima. Jika memanfaatkan fasilitas one day service tentu bias lebih cepat lagi.

Untuk mengurangi waktu tunggu, datanglah di waktu optimal. Datang kepagian akan membuang banyak waktu menunggu jadwal buka layanan, datang kesiangan akan lama mengantri, bahkan bukan tidak mungkin akan kehabisan nomor antrian yang memang dibatasi. Datang sekitar 40 – 50 menit sebelum waktu buka layanan sepertinya cukup pas. Map dan materai tidak harus dibeli di koperasi kantor imigrasi, lebih cepat jika bawa sendiri. Ambil formulir, taruh map dan berkas dalam antrian sambil mengisi formulir. Nama jangan sampai salah karena akan mempersulit proses di kemudian hari. Persiapkan semua kelengkapan berkas, lebih baik bawa lebih daripada ada yang kurang. Mengurus paspor juga butuh kepercayaan diri yang tinggi, apalagi pas wawancara. Tenang saja, sebanyak itu orang yang datang mengurus paspor, tidak sedikit di antaranya yang juga sama-sama baru membuat paspor.

Singkat kata, setelah paspor jadi saatnya mengurus visa USA yang lebih rumit. Detail alur dan tahapan bisa dibaca di website kedutaan besar USA, tidak sedikit pula yang sudah menceritakannya. Lebih melelahkan daripada mengurus paspor, untuk formulir isian onlinenya saja berlembar-lembar dalam bahasa Inggris. Untuk pembayarannya saja harus di Bank Standard Chartered atau Bank Permata tertentu. Sebagai catatan, konfirmasi di Bank Permata lebih lama 1 hari karena prosesnya tetap melalui Bank Standard Chartered. Persyaratan upload foto visa berbeda-beda untuk tiap negara, lebih amannya menggunakan jasa foto yang sudah berpengalaman dan bertebaran di Jalan Sabang. Ada juga berbagai pertanyaan terkait teroris di dokumen aplikasi yang harus diisi. Mengatur waktu wawancara juga butuh waktu. Belum lagi antrian panjang di Kantor Kedubes USA ada di beberapa titik: untuk bisa masuk, untuk pemeriksaan barang bawaan (tas ransel dilarang dibawa masuk), pemeriksaan dokumen, pengambilan sidik jari, dan antrian untuk wawancara. Akan lebih baik jika didampingi oleh orang yang telah berhasil mengurus visa USA.

Setelah wawancara dalam bahasa Inggris yang cukup mendebarkan, aku mendapat lembaran kuning yang artinya pengajuan visaku masih dipertimbangkan. Wajar saja, seorang muslim yang memelihara jenggot dan belum pernah ke luar negeri tiba-tiba ke USA, untuk presentasi riset di forum zakat sedunia. Untung saja namaku tidak kearab-araban sehingga permohonan visa tidak langsung ditolak. Konon beberapa tokoh muslimpun kesulitan untuk langsung diterima permohonan visanya. Sayangnya, mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi serta berbagai agenda di tanggal tersebut, apalagi setelah permohonan visa ditangguhkan, aku urung berangkat ke USA. Alhamdulillah, setidaknya aku bisa mengisi pelatihan, menghadiri event besar di kantorku dan menjadi saksi nikahnya adik kandungku di Balikpapan karena tidak jadi berangkat ke USA. Beberapa hari setelah wawancara, seorang kurir menghubungi untuk kemudian memberikan pasporku, lengkap dengan visa USA. Ya, permohonan visaku disetujui pun aku memutuskan untuk tidak jadi berangkat.

Benarlah Allah SWT mengikuti prasangka hamba-Nya, satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Tak lama berselang, ada konfirmasi bahwa paper yang berjudul “The Effect of Coaching and Mentoring Programs to Improve Students Competencies (Case Study of Beastudi Etos Scholarship)” diterima untuk dipresentasikan dalam Annual Conference on Management and Social Sciences 2014 di Hotel Fort Canning, Singapura. Kesempatan kali ini tidak kusia-siakan, apalagi untuk ke Singapura tidak perlu repot mengurus visa. Dan benar saja, banyak sekali hikmah perjalanan yang kutemukan selama 4 hari 3 malam disana, rencananya akan dishare di tulisan terpisah. In syaa Allah

Beberapa bulan lalu seorang teman mengirimkan artikel tentang pengelolaan keuangan ala miliarder Hong Kong Li Ka-Shing, dimana salah satu pos anggaran yang seharusnya disediakan adalah berkunjung ke luar negeri. Selain untuk refreshing, liburan ke luar negeri juga dapat memperluas jaringan dan menambah pengalaman hidup. Hal ini sejalan dengan tulisan Pak Rhenald tentang paspor di awal. Bagaimanapun, ada hal-hal baru yang dapat kita temukan di tempat yang baru, apalagi di negara lain yang secara bahasa dan budaya saja jelas berbeda. Banyak hikmah perjalanan yang dapat diambil. Pengalaman hidup yang akan semakin membuka mata dan pikiran kita. Dan ketika target ke luar negeri tahun ini sudah tercapai, beberapa waktu lalu ada penugasan untuk melakukan studi banding pendidikan ke India di medio Oktober 2014. Hmm, kira-kira akan ada kejutan apa lagi ya? ^_^

“Memiliki tujuan di akhir perjalanan adalah sesuatu yang bagus; tapi pada akhirnya, yang penting adalah perjalanannya.” (Ernest Hemingway)