Trip to Singapore (1)

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” (H. Jackson Brown Jr.)

Dari Indonesia, langkahku berhenti di Changi Airport, salah satu bandara terbaik di dunia. Ini nyata, aku tidak sedang bermain monopoli. Sekilas dilihat dari luar bandaranya tidak luar biasa, namun isinya benar-benar berbeda dari belasan bandara di Indonesia yang pernah kukunjungi. Hamparan karpet di setiap penjuru, free Wi-Fi di setiap sudut. Pandanganku teralihkan pada sekumpulan orang yang ramai antri di salah satu sudut bandara. Ternyata mereka antri di depan tap water yang berisi air bersih siap minum. Banyak penumpang pesawat membawa botol kosong yang siap diisi di bandara, maklum saja harga air minum dalam kemasan lumayan mahal di Singapura. Dan bukan hanya faktor efisiensi, kabarnya pengambilan sampel uji kelayakan air minum gratis di bandara dilakukan setiap hari, sehingga kesehatan dan kebersihannya bisa jadi lebih terjamin dibandingkan air minum dalam kemasan. Memang agak berbeda dengan di Indonesia dimana tap water yang ada di beberapa titik (pun bukan bandara) justru diragukan kualitas airnya.

Sayangnya, aku tidak membawa botol kosong saat itu. Lebih tepatnya, air minum yang kubawa –beserta sabun cair– disita petugas bandara di terminal keberangkatan internasional Soekarno-Hatta. Ternyata memang ada larangan untuk membawa cairan dengan volume lebih dari 100ml. Kalau botol kosong boleh. Salahku tidak mencari informasi lebih awal, ini mungkin yang dinamakan learning cost (istilah yang lebih halus dari stupidity cost). Dan inilah buah perjalanan ke tempat yang baru, cuma membahas air saja sudah banyak hikmah perjalanan yang didapat ^_^.

Langkahku terus menyusuri bandara megah penuh kaca dan cahaya ini. Seperti halnya di bandara Soekarno-Hatta, ada beberapa terminal dengan jarak yang cukup jauh. Bedanya, di Changi Airport ada transportasi gratis yang menghubungkan antar terminal berupa skytrain. Yup, istilah ‘populer’nya kereta gantung. Peta bandara juga disediakan gratis dan pusat informasi pun ada di beberapa titik. Asal bisa membaca petunjuk arah nampaknya tidak akan kesasar di Changi Airport. Jangan malu juga untuk bertanya, karena petugas disana tampak sudah terbiasa melayani pengunjung yang bingung arah dan kurang mahir berbahasa Inggris ^_^.

Singkat cerita, –setelah sempat berputar-putar shock culture di bandara—selepas makan, kami bergegas menuju pintu imigrasi. Ini penting. Ada form yang harus diisi dan diserahkan ke petugas imigrasi. Setelah dicocokkan dengan paspor, petugas imigrasi akan memberikan sobekan kecil kartu embarkasi/ disembarkasi semacam ‘tiket’ yang harus disimpan. Seringkali petugas tidak mengingatkan bahwa sobekan kecil itu tidak boleh hilang dan harus diserahkan kembali ketika hendak meninggalkan Singapura. Tidak perlu ditanya bentuk riilnya seperti apa, jangankan terpikir untuk difoto, tidak hilang atau dibuang aja sudah Alhamdulillah. Karena secara fisik (bentuk dan isi tulisan) memang tidak terlihat penting untuk disimpan, mana tidak diingatkan pula.

Oh ya, aku berangkat bersama seorang rekan kerja yang mendokumentasikan seluruh perjalanan kami. Untuk komunikasi selama di Singapura, beberapa operator jaringan telepon seluler Indonesia memiliki mitra, jadi tidak harus membeli SIM Card yang baru, cukup cari jaringan yang sesuai secara manual. Namun hati-hati dalam menggunakan paket data karena akan signifikan menyedot pulsa. Biar aman, sebaiknya matikan paket data dan manfaatkan fasilitas free Wi-Fi yang dapat ditemukan di berbagai tempat di Singapura. Beli kartu baru juga tidak apa-apa, lebih memudahkan bagi yang harus selalu online, namun ada beberapa pencatatan dan ketentuan dari pemerintah Singapura, termasuk pembatasan jumlah SIM Card yang bisa dibeli.

Cepat dan disiplin. Itulah kesan pertamaku pada orang-orang yang kujumpai di Singapura. Ramah? Orang Indonesia jauh lebih ramah. Di Singapura, orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa, seolah ada yang mengejar. Dan individualis. Eskalator atau tangga berjalan disana di-setting lebih cepat dibandingkan di Indonesia. Walaupun sudah bergerak lebih cepat, sebagian besar penduduk sana masih saja berjalan di atas eskalator. Tidak diam menunggu sampai. Benar-benar mengamalkan slogan ‘Waktu adalah Uang’. Di Indonesia, aku termasuk orang yang cepat dalam berjalan, namun aku bahkan berjalan kalah cepat dibandingkan anak-anak Singapura.

Kedisiplinan jelas terlihat dari ketaatan terhadap aturan dan penerapan budaya antri. Tidak ada yang berani menyerobot antrian, pun panjang sekalipun sebagaimana sempat kulihat antrian panjang karyawan yang akan pulang dengan taksi di Orchard Road. Bahkan garis batas antrian, termasuk batas menunggu di depan pintu MRT tidak ada yang melanggar. Ketika traffic light menunjukkan warna merah tidak ada kendaraan yang berani berjalan pun jalan di depannya kosong dan tidak ada pula yang menyeberang jalan. Pun demikian dengan pejalan kaki, jika belum diperbolehkan menyeberang, tidak ada yang berani melintas walaupun jalanan kosong.

Menariknya, kecepatan dan kedisiplinan ini menular. Beberapa hari cukup untuk memengaruhi kecepatan berjalan dan kedisiplinan terhadap aturan. Berkenaan dengan kedisiplinan ini, secara alami timbul perasaan bersalah jika hendak melanggar aturan, bahkan walau tidak ada orang lain yang melihat sekalipun. Norma sosial dapat berjalan tanpa tekanan ataupun teguran. Aku memang masih melihat ada sebotol minuman yang dibuang di trotoar atau orang yang menyeberang jalan tanpa memerhatikan rambu, namun itu kasuistik, sangat kecil presentasenya. Bagaimanapun, disiplin sudah jadi budaya. Tiba-tiba aku teringat Indonesia. Sebuah ironi negara bertetangga…

(to be continued)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>