Monthly Archives: January 2015

Pancasila dan Pendidikan Karakter (3/3)

Ideologi adalah perkara mendasar karenanya tidak jarang melahirkan fanatisme bahkan bisa sampai berupa fasisme dan chauvinisme. Ketika suatu ideologi sudah terinternalisasi, maka tidak ada kata selain perjuangan dan pembelaan, pun terkadang harus membabi buta. Terlepas dari fakta sejarah, lahirnya Hari Kesaktian Pancasila merupakan upaya yang jelas untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang diperjuangkan. Tinggal kurang role model-nya saja. Namun bagaimana dengan saat ini, masihkah ada yang mati-matian membela Pancasila? Jawabannya mungkin masih ada. Namun jumlahnya sama saja dengan mereka yang mati-matian merongrong Pancasila. Adapun sebagaian besar orang, mungkin termasuk kita, cenderung biasa-biasa saja, jika tidak bisa dibilang apatis dengan ideologi Negara.

Kembali menyoal tentang pendidikan karakter, pada tahun 2011, Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional mengeluarkan buku kecil berjudul “Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter”. Dalam pengantar buku tersebut, Kabalitbang Kemmendiknas menulis, “Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Hal ini sekaligus menjadi upaya untuk mendukung perwujudan cita-cita sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945”. Adapun tujuan Pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi: (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; (3) mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia. Kemudian disebutkan bahwa dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan,  telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/ Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggung Jawab (Sumber: Pusat Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10).

Butir-butir Pancasila memang kaya akan nilai-nilai luhur atau karakter positif, baik yang bersumber dari olah hati, olah pikir, olah raga, orah rasa, maupun olah karsa. Pancasila memang dekat dengan pendidikan karakter dan merupakan komponen penting untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Namun tidakkah 18 karakter terlalu banyak untuk sekadar dihapal dan diimplementasikan? Apalagi dengan 45 butir Pancasila. Atau mungkin malah terlalu sedikit mengingat keseluruhan nilai dan karakter yang diidentifikasi sudah tercakup dalam ajaran agama? Apakah hal-hal yang sifatnya normatif tersebut sudah tepat diposisikan sebagai karakter Pancasila? Ah, sepertinya tidak perlu dipermasalahkan, tidak usah dibantah, toh kontennya baik. Dan jika bisa diterapkan akan memberi dampak positif. Mungkin.

Pendidikan Karakter Pancasila, Adakah?
Bukan hendak menyepelekan Pancasila, jika saya anggap “Pancasila tidak perlu dianggap serius”. Pancasila masih dapat menjadi alat pemersatu bangsa yang penting, namun bukan berarti segala sesuatunya harus dikaitkan dengan Pancasila. Setelah universitas, pemuda, kongres, pusat studi hingga karakter, akan ada apa lagi yang terkait Pancasila? Tidak salah. Hanya saja Pancasila selayaknya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang tanpa cela. Dan tidak perlu juga menghujat Pancasila sebagai sesuatu yang nista. Pancasila ada sebagai pondasi bangsa, di atasnya lah pilar hingga atap berbangsa dan bernegara didirikan. Pancasila adalah perekat yang didesain untuk bersifat alamiah. Tidak perlu terlalu serius.

Lalu bagaimana dengan karakter Pancasila? Jika melihat tidak adanya seorang pancasilais, maka pada hakikatnya tidak ada yang namanya “karakter Pancasila”.  Pendidikan karakter di Indonesia lebih tepat dominasinya dikembalikan kepada agama masing-masing. Dengannya, nilai-nilai Pancasila juga sudah tegak tanpa embel-embel karakter Pancasila. Karakter Pancasila lebih sulit diimplementasikan sebab pendidikan karakter membutuhkan keteladanan dan pembiasaan, sementara kita tidak menemukan manusia Indonesia yang bisa mengamalkan Pancasila 100 persen. Atau dalam terminologi yang lebih ekstrim, alasan kita berkepribadian dan berbuat baik adalah demi Tuhan Yang Maha Esa, bukan karena Pancasila. Dan di akhirat nanti, bukankah yang akan ditanyakan adalah sejauh mana pengamalan agama, dan bukan pengamalan Pancasila?

* * *

Tahun 2001. Dalam sebuah diskusi di pelajaran Pandidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) aku bertanya, “Jika sila pertama mendasari dan menjiwai sila kedua, ketiga, keempat dan kelima Pancasila, kemudian sila kedua mendasari dan menjiwai sila ketiga, keempat dan kelima Pancasila, dan seterusnya. Mengapa tidak dijadikan satu sila saja? Lebih praktis dan mudah diingat. Karena toh sila pertama sudah melingkupi semuanya”. Suasana kelas mendadak hening. Pertanyaan yang kulontarkan tak mampu dijawab oleh teman-temanku yang baru saja mempresentasikan. Mereka hanya menoleh ke guru kami meminta dukungan dan penjelasan.

Menyaksikan suasana kelas yang kurang kondusif, guru PPKn kami pun angkat bicara. “Sila-sila Pancasila itu dapat dianalogikan seperti sebuah buku, jadi ada bab, sub-bab, sub sub-bab, dan seterusnya. Jadi harus ada penjelasan turunannya, tidak cukup hanya dengan bab yang sifatnya terlalu luas…”, jelas beliau. “Jika dianalogikan demikian, berarti ‘buku Pancasila’ memang sejatinya hanya ada satu bab dan bukan lima bab? Karena yang lainnya hanya sub-bab bahkan sub sub sub sub bab. Lalu mengapa dinamakan Pancasila?”, jawabku memberikan tanggapan. Ekspresi Pak Guru pun seketika berubah, tampak marah bercampur malu dan bingung. Dengan singkat beliau menutup diskusi yang sebenarnya semakin menarik, “Purwo, kamu harus lebih banyak belajar…”. Akupun terdiam, seraya tersenyum…

Garuda Pancasila Aku lelah mendukungmu Sejak Proklamasi, selalu berkorban untukmu Pancasila dasarnya apa? Rakyat makmur adilnya kapan? Prihatin bangsaku Tidak maju, maju…… Tidak maju, maju…… Tidak maju, maju…..” (Dipelesetkan oleh almarhum Harry Roesli dari lagu kebangsaan Garuda Pancasila)

Menengok Negara Paradoks Bernama India

Apa yang muncul di pikiran Anda ketika mendengar kata “India”? Bollywood? Joget-joget everywhere? Kemajuan teknologi? Anda benar. Atau slumdog? Kemiskinan everywhere? Penerapan sistem kasta yang diskriminatif? Anda tidak salah. India ibarat Dewa Janus dalam mitologi Romawi Kuno yang memiliki dua wajah yang saling berseberangan. Agak mirip dengan Dewa Yama dalam ajaran Hindu. Apapun analoginya, setidaknya paradoks itulah yang kami rasakan dalam perjalanan singkat di India. Dua kondisi yang tampaknya bertolakbelakang namun nyata terjadi di satu tempat, di satu waktu.

Asal nama India berasal dari nama sungai Indus, salah satu pusat peradaban kuno (3000 SM), membuat India kaya sejarah dan budaya. Tradisi masih coba dijaga, pakaian sari masih mudah ditemui dikenakan oleh wanita India. Sayangnya penerapan tradisi kasta sama artinya dengan pelestarian kemiskinan. India yang kaya sejarah justru terkesan sebagai Negara yang kotor dan jorok. Hampir semua tempat dapat menjadi toilet, untuk laki-laki maupun perempuan. Safety riding dan mematuhi peraturan lalu lintas menjadi hal langka di berbagai Negara bagian. Keselamatan dan keamananpun tidak terjamin, dengan sekitar 32 ribu kasus per tahun, India merupakan Negara dengan kasus pembunuhan terbanyak di dunia. Jauh dari kata beradab. Ketika seekor sapi menjadi makhluk yang dihormati, seorang janda dianggap pembawa sial. Di beberapa wilayah bahkan masih menerapkan ritual suttees, dimana istri yang ditinggal suaminya akan membakar dirinya hidup-hidup.

India adalah Negara demokrasi terbesar dengan penduduk mencapai 1.2 miliar, jumlah penduduk yang hanya kalah oleh China yang menerapkan sistem pemerintahan sosialis – komunis. Di satu sisi, demokratisasi di India membawa banyak perbaikan, terutama dari aspek pendidikan, ekonomi dan sosial. Pun demikian, angka kemiskinan, kelaparan dan penduduk buta huruf di India masih sangat tinggi. Demokratisasi juga tidak berbanding lurus dengan terpenuhinya hak-hak perempuan. Angka perkosaan dan pelecehan seksual masih tinggi. Sistem kasta yang diskriminatif dan bertentangan dengan nilai demokrasi juga masih diterapkan di lapangan. Bahkan pembahasan tentang kasta di tengah demokrasi India pun seolah menjadi suatu hal yang tabu. Ya, India bisa dikatakan sebagai paradoks Negara demokrasi (semu) terbesar di dunia.

India memang Negara besar dengan penduduk yang banyak, tersebar dalam 28 negara bagian dan 7 serikat. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di India termasuk Top 10 di dunia, namun PDB per kapitanya merupakan yang terendah di antara Negara berkembang di Asia. Kesenjangan dan nilai kemandirian menjadi paradoks di India. Subsidi pangan yang diberlakukan belum mampu mengatasi tingginya angka kelaparan, padahal India dikenal sebagai Negara penghasil teh dan susu terbesar di dunia. Wajah ‘kota mimpi’ Mumbai sebagai kota industri film terbesar dalam banyak film Bollywood sangat bertolak belakang dengan banyaknya slumdog area di penjuru India. Kesederhanaan memang menjadi salah satu wajah India, tetapi belum cukup menutupi wajah kemiskinan.

Lebih dari satu juta penduduk India adalah biliuner, bahkan aset bersih 25 orang terkaya mencapai 174.8 miliar dollar. Lalu mengapa kemiskinan tampak di hampir setiap sudut India? Bagaimana tidak, jika ternyata sekitar setengah miliar penduduk India terkategori miskin dengan pendapatan kurang dari 1 US$ per hari. Harga pangan memang murah namun biaya untuk membangun rumah sangatlah besar, tidak heran tidak sedikit penduduk India yang tinggal di jalanan. Yang mengherankan adalah seorang Mukesh Ambani, orang terkaya di India dengan aset senilai 24.2 miliar dollar, memiliki rumah pribadi senilai 1 miliar dollar!

India merupakan salah satu negara penghasil doktor terbesar, buah manis dari fokus ke pendidikan tinggi, pun di sisi lain angka putus sekolah tergolong tinggi. Lulusan kampus India memang diakui di dunia internasional, namun Indeks Pembangunan Manusianya bahkan lebih rendah dari Indonesia. Koran dan buku murah serta mudah didapat, perpustakaan pun relatif ramai. Ironisnya, India termasuk negara dengan jumlah penduduk buta huruf terbesar. Biaya kuliah terbilang murah, apalagi untuk mahasiswa pribumi, ditambah lagi adanya beasiswa untuk mahasiswa dari kasta rendah. Pun kuota untuk kasta rendah sudah disediakan, bahkan dalam dunia politik, realitanya peluang untuk ‘naik kasta’ tidak semudah itu. Profesor dan doktor, apalagi pimpinan perguruan tinggi masih didominasi kasta atas, betapapun kasta sudra dan dalit (non-kasta) berupaya keras.

Kemajuan teknologi di India juga sudah diakui di kancah internasional. Indian Institutes of Technology (IIT) termasuk kampus teknologi ternama di dunia dengan lulusan yang berkualitas. Bangalore (yang sekarang bernama Bengaluru) merupakan kota IT yang terkenal sebagai Silicon Valley of India. Ada juga kota Hyderabad yang dijuluki Cyberabad, semakin menunjukkan identiknya India dengan teknologi. Namun sisi lain India justru menunjukkan wajah gagap teknologi. Laptop yang dibawa mahasiswa asal Indonesia disana kerap dianggap barang mewah di beberapa kampus. Powerbank yang saya bawa tidak dikenali bahkan dicurigai oleh petugas keamanan. Sisi lain inilah yang menempatkan India sebagai Negara dengan birokrasi dan administrasi terburuk di Asia. Terdapat lebih dari 150 ribu kantor pos, tetapi pengiriman surat biasa terlambat berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Entah dikemanakan teknologi canggih itu.

Di dunia kesehatan, India memiliki dokter-dokter terbaik dan rumah sakit terbaik, namun rasio dokter : pasien di India mencapai 1 : 2000. Mayoritas penduduknya tidak menerapkan pola hidup bersih dan sehat, angka kematian dan tingkat aborsi di India juga tinggi. WHO mencatat ada sekitar 900 ribu jiwa yang meninggal per tahun di India dikarenakan air minum terkontaminasi. Kota Delhi yang tampak lebih beradab saja dicatat WHO sebagai ibukota dengan udara paling tercemar (tingkat partikulat 2.5 μm).

Menengok negara paradoks bernama India sejatinya melongok ke dalam negara kita sendiri, Indonesia. Ada potret yang sama terkait kesenjangan dan diskriminasi. Ada teguran yang serupa tentang kemiskinan dan keberadaban. Dan tidak semua paradoks berkonotasi negatif, sebagaimana yin dan yang ada untuk saling melengkapi. Ada pembelajaran tentang kesederhanaan dan kemandirian yang bisa didapat dari India. Ada pula pembelajaran tentang inovasi dan kefokusan yang menjadi catatan menarik dari India. Namun di sisi lain, hikmah tentang rasa syukur dan kepedulian menjadi hal lain yang tidak kalah bermakna.

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” (Mahatma Ghandi)