Monthly Archives: September 2015

Antara Tragedi Crane dan Tragedi Mina

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan, “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nisa: 78-79)

Ibadah haji tahun 1436 Hijriyah ini diwarnai berbagai tragedi. Belum lepas dari ingatan pada tanggal 11 September 2015 lalu sebuah crane dari proyek perluasan Masjidil Haram dengan berat sekitar 1300 ton jatuh sehingga mengakibatkan lebih dari seratus orang meninggal –termasuk 11 jama’ah asal Indonesia– dan ratusan orang lainnya luka-luka. Hanya 13 hari berselang, gegap gempita takbir, tahmid, tahlil dan kalimat talbiyah di tanggal 10 Dzuhhijjah 1436 H sontak berubah menjadi teriakan panik di Jalan 204 Mina saat jama’ah haji melempar jumrah. Dikabarkan, sebanyak lebih dari 700 orang jama’ah haji meninggal dan ratusan lainnya luka-luka karena terhimpit dan terinjak-injak. Dunia Islam berduka, seluruh dunia pun turut berbela sungkawa.

Kematian adalah rahasia Allah SWT, kita hanya bisa mendo’akan kebaikan bagi mereka yang meninggal dan terluka di tanah suci sana. Bahkan boleh jadi iri. Namun selalu ada pelajaran dari setiap musibah yang menimpa. Di dunia ini, hampir dalam seluruh hal berlaku hukum sebab akibat, dan hal ini yang sebaiknya menjadi renungan dan perhatian kita semua. Apalagi menurut hemat penulis, tragedi Mina ini memiliki dimensi yang jelas berbeda dengan musibah jatuhnya crane sebelumnya karena hujan badai yang sangat dahsyat. Cuaca Mekkah saat itu memang sedang tidak bersahabat dan sulit diprediksi, sebagaimana sulitnya mempercayai crane seberat 1300 ton bisa roboh. Ketetapan Allah SWT memang tidak bisa dielakkan, namun manusia diberikan kelebihan akal untuk dapat memperhitungkan berbagai potensi kecelakaan, termasuk berbagai kemungkinan terburuk.

Jika pada tragedi jatuhnya crane ada faktor alam yang di luar kendali dan turut berperan, tragedi Mina sungguh menyisakan berbagai ironi. Pertama, kejadian ini bukan kali pertama, bahkan mungkin setiap tahun selalu ada saja korban di Mina. Tercatat ada 360 korban jiwa pada kejadian serupa (di jalan yang sama) pada tahun 2006, 250 korban jiwa dua tahun sebelumnya, berturut-turut 370 dan 180 korban jiwa pada tahun 1997 dan 1998, 270 korban jiwa pada tahun 1994, dan yang paling diingat tentu 1426 jema’ah haji yang meninggal pada tragedi Mina 1990. Kedua, faktor manusia sangat dominan dalam tragedi ini, penyebabnya adalah ketidaksabaran dan ketidakdisiplinan dalam mematuhi peraturan ataupun budaya antri dan tanpa campur tangan faktor alam pula. Ketiga, penyebab kematian adalah manusia juga bukan benda tajam, benda keras atau benda berbahaya. Tertindih dan terinjak, sangat mengenaskan.

Tulisan ini tentu tidak akan berujung pada wacana ‘ga mikir’ orang-orang Jaringan Islam Liberal yang beranggapan bahwa haji dan umroh tidak perlu dilakukan karena pemborosan sementara banyak ibadah yang dapat dilakukan di dalam negeri. Dan tidak pula serta merta menyalahkan ataupun membela pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Hanya saja tidak jarang ada di antara kita yang masih begitu mudah memandang kematian, sebatas sebuah suratan takdir atau sunatullah yang pasti terjadi. Tanpa coba belajar dari sejarah, tanpa pernah benar-benar introspeksi akan musibah yang terjadi. Merenungi musubah yang bisa terjadi karena dosa dan perbuatan manusia. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Keledai tidak akan jatuh dua kali ke lubang yang sama karenanya kejadian yang kerap berulang seharusnya mudah diantisipasi. Dalam hal ini wajar saja jika sorotan utama ditujukan kepada Pemerintah Arab Saudi kerena musibah berulang semestinya tidak perlu terjadi. Di Indonesia, beberapa kali ada kejadian tewasnya orang-orang karena rebutan zakat. Pihak yang paling disoroti tentu pihak penyelenggara dan pemberi zakat, pun bisa jadi ada faktor ketidakpedulian dan ketidakdisiplinan dari para mustahiq (penerima zakat). Tim pengamanan dan pengawalan ibadah haji seharusnya sudah cukup piawai menghadapi rutinitas tahunan dan memahami betul celah-celah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Bahkan paham benar apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir korban. Memang tidak sedikit jama’ah haji dan umroh yang bandel dan sulit diatur, namun tentu bisa dibuatkan mekanisme untuk menertibkan mereka. Menghormati tamu jelas berbeda dengan membiarkan tamu berbuat semena-mena.

Namun jika ditelaah lebih dalam, kesalahan tidak pantas ditimpakan semua ke Pemerintah Arab Saudi yang pastinya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut para tamu Allah SWT. Ada masalah akhlak kaum muslimin yang juga perlu mendapat perhatian serius agar kejadian serupa tidak terulang. Budaya disiplin, santun dan taat aturan sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Islam, sayangnya tidak tercermin dalam keseharian banyak kaum muslimin. Pantas saja ada riset yang menyebutkan bahwa Negara paling Islami di dunia ternyata bukan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Alih-alih instropeksi, tidak sedikit pihak yang malah skeptis bahkan su’uzhon dengan riset tersebut.

Tragedi Mina semestinya tidak perlu terjadi jika umat muslim di seluruh dunia dapat menerapkan budaya tertib dan patuh aturan. Kabarnya, sudah ada peringatan dari PPIH Arab untuk tidak melempar jumrah pada waktu-waktu tertentu, termasuk ketika waktu kejadian, namun tidak diindahkan padahal melempar jumroh sudah disediakan waktu dan tempatnya. Kabarnya ada jema’ah haji yang berhenti bahkan berbalik melawan arah padahal pelaksanaan ibadah haji sudah ada alurnya. Ketidakdisiplinan yang harus dibayar mahal. Jika aturan manusia yang konkret dibuat untuk kepentingan hidup bermasyarakat saja dilanggar, bagaimana dengan aturan Allah SWT yang bisa jadi lebih abstrak?

Sungguh ibadah haji seharusnya menunjukkan kekuatan umat Islam, mampu bersatu dan mengatasi segala perbedaan. Bukannya menyisakan catatan pilu yang mencoreng muka umat Islam. Hukuman pancung untuk para petugas yang bertanggung jawab tidak serta merta menghapus duka. Penanganan korban tewas dan terluka termasuk pemberian santunan adalah hal lain yang bagaimanapun tidak lebih utama dari memastikan keselamatan para tamu Allah SWT. Dan tamu yang baik semestinya meringankan beban tuan rumah dengan persiapan yang optimal, mulai dari kebersihan hati, pemahaman yang utuh hingga persiapan fisik. Ya, memastikan bahwa para tamu dapat selamat dan terlayani dengan baik sebenarnya juga menjadi tanggung jawab para tamu. Pihak penyelenggara ibadah haji harus instropeksi, namun semua pihak semestinya juga harus mawas diri.

Tulisan ini tidak hendak mencari kambing hitam. Belajar dari sejarah, orang-orang munafik biasa menjadikan momentum musibah untuk memecah belah. Selain penanganan korban yang sudah dan tengah dilakukan, ada baiknya kita banyak berdo’a dan beristighfar, memohon ampunan dan pertolongan. Takdir Allah SWT ada di luar jangkauan kita, tapi bukan berarti tidak ada yang bisa kita persiapkan, antisipasi dan lakukan untuk menyambutnya. Tragedi dalam prosesi melempar jumrah ini semoga mampu menumbuhkan tekad kuat untuk memerangi syaithan dan para sekutunya, termasuk yang mengalir dalam darah setiap Bani Adam. Dan bagi mereka yang wafat di tanah suci biarlah Allah SWT yang memberikan balasan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan dikembalikan…

Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Teladan Pemimpin Itu Bernama Ibrahim

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
(QS. Ash-Shaffat: 108-111)

Salah satu kisah yang tidak pernah terlewat dalam peringatan Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Ya, momen Idul Adha memang identik dengan kisah Nabi Ibrahim a.s., mulai dari syariat pelaksanaan haji hingga pemotongan hewan qurban. Keteladanan Nabi Ibrahim a.s. tercermin dari banyaknya kisah hikmah perjalanan Nabi Ibrahim, yang tidak hanya dimuat dalam Al Qur’an, tetapi terdapat pula pada kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Kitab Injil termasuk Injil Barnabas, hingga kisah-kisah Israiliyat. Nama ‘Ibrahim’ sendiri disebut sebanyak 62 kali di 24 surah dalam Al Qur’an, jumlah ayat yang menceritakan kisah beliau tentu lebih banyak lagi.

Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim a.s. adalah dari sisi kepemimpinan beliau. Allah SWT langsung yang memilih beliau sebagai pemimpin umat manusia, dengan firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah: 124). Nabi Ibrahim a.s. memenuhi seluruh kualifikasi penting figur pemimpin yang layak dijadikan teladan.

 

Berjiwa Bersih dan Ta’at Kepada Allah

Pemimpin harus memiliki fondasi spiritualitas yang baik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120). Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Nabi Ibrahim a.s. lahir di tengah keluarga dan masyarakat penyembah berhala, tentu membutuhkan jiwa yang sangat bersih dan komitmen kuat untuk menemukan hidayah dan mempertahankan keimanannya. Dan kejernihan hati inilah yang membuat Nabi Ibrahim a.s. menjadi Hamba Allah yang sangat ta’at. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ’ Tunduk patuhlah!’, Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS.Al Baqarah: 131). Ketundukan penuh keyakinan dan keikhlashan inilah yang mengantarkan beliau memperoleh posisi mulia di hadapan Allah SWT. Aspek spiritualitas inilah yang membuat seorang pemimpin senantiasa tegar menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Keta’atan inilah yang menjadi alasan hadirnya pertolongan Allah SWT.

Selamatnya Nabi Ibrahim a.s. ketika dibakar hidup-hidup seperti dikisahkan dalam Surah Al Anbiya adalah buah dari keyakinan ini. Dikabulkannya do’a beliau untuk memperoleh keturunan yang shalih di usianya yang sudah lanjut adalah buah dari keikhlashan ini. Selamatnya Hajar dan Ismail ditinggal di tengah gurun tandus ataupun selamatnya Ismail ketika disembelih adalah buah dari keta’atan. Karena Allah SWT akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan keta’atan itu berbuah hikmah. Dari keta’atan meninggalkan anak isteri tercinta dikenal istilah sa’i dan air zamzam, bahkan lahirlah peradaban di Mekkah. Dari keta’atan menyembelih Ismail, sempurnalah syariat haji dan qurban.

 

Cerdas dan Berani

Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan keberanian, tidak hanya salah satunya. Tidak sedikit orang yang memiliki kemampuan intelektual namun tidak memiliki keberanian, segudang idenya pun hanya menjadi setumpuk angan. Hasilnya adalah pemimpin yang gemar berandai-andai untuk kemudian menyesal. Ada pula yang sekedar memiliki keberanian tanpa perhitungan, yang terjadi hanya kesia-siaan, pemborosan, bahkan kerusakan. Pemimpin modal nekat dan mengandalkan keberuntungan.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. sudah tumbuh sejak beliau masih belia. Hal ini jelas tampak dari dialog Ibrahim kecil dengan ayahnya tentang konsep ketuhanan seperti tertuang dalam Surah Maryam atau dalam upaya beliau mencari Tuhan seperti dikisahkan cukup panjang dalam Al Qur’an surah Al An’am. Dalam berbagai referensi terdahulu, misalnya dalam Injil Barnabas, dikisahkan dialog panjang Ibrahim kecil dengan ayahnya yang selalu berakhir dengan ancaman atau pemukulan Ibrahim kecil karena ayahnya kehabisan argumen. Keluarga Nabi Ibrahim a.s. cukup dihormati, butuh upaya lebih untuk menentang penyimpangan dari keluarganya dan sistem masyarakat yang rusak.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. juga tercermin di Surah Al Anbiya dalam peristiwa penghancuran berhala yang dilakukannya yang berujung pada pembakaran dirinya hidup-hidup. Atau dalam perdebatan beliau dengan Raja Namrud seperti dikisahkan dalam firman Allah, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. al-Baqarah: 258)

 

Visioner dan Amanah

Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji” (QS. an-Najm: 37). Pemimpin harus visioner sekaligus amanah. Sekedar pemimpin visioner saja tidak cukup untuk mengubah apapun, namun sekedar mengerjakan tanggung jawab juga hanya akan terjebak pada rutinitas. Dalam Al Qur’an terdapat Surah Ibrahim yang di antaranya memuat do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s, salah satunya adalah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37)

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. berdo’a, Baitullah belumlah didirikan dan wilayahnya sangat tandus. Atas karunia Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. punya visi dan tekad kuat untuk menyempurnakan janji tersebut. Beberapa tahun kemudian Baitullah dibangun untuk kemudian berkembang menjadi wilayah Masjidil Haram – Mekkah yang kita kenal sekarang, pusat manusia-manusia mendirikan shalat. Hal menarik lainnya dari do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s. adalah beliau senantiasa mendo’akan anak cucu dan keturunannya, di antaranya agar tidak menyembah berhala (ayat 35) dan tetap mendirikan shalat (ayat 41). Pemimpin sejati tahu benar pentingnya kaderisasi. Memastikan adanya kader penerus perjuangan merupakan hal yang fundamental. Nabi Ibrahim a.s. pun mendapat gelar Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim a.s. kecuali semuanya berasal dari keturunan beliau.

Nabi Luth a.s. adalah salah seorang pengikut Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dikisahkan bahwa para malaikat menemui dan memberitahu Nabi Ibrahim a.s. terlebih dahulu –bahkan sempat ‘berdebat’ dengan beliau– sebelum membinasakan Kaum Sodom yang mengingkari Nabi Luth a.s. Karena perjuangan tidak bisa diusung sendirian. Atau simak bagaimana kesabaran Ismail kecil ketika mengetahui dirinya akan disembelih atas perintah Allah SWT oleh ayahnya sendiri yang jarang ditemuinya. Tentu butuh pendidikan akidah dan akhlak yang luar biasa, termasuk kepada kedua isterinya. “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132).

 

Peduli dan Penuh Kasih Sayang

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi lembut hati dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75). Ayat ini turun terkait upaya Nabi Ibrahim a.s. yang mencoba membela Kaum Luth yang hendak diazab Allah SWT dengan berdalih masih ada kesempatan untuk memperoleh hidayah. Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada para malaikat, “Apakah kamu hendak membinasakan negeri yang di sana terdapat 300 orang mukmin?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Angka tersebut terus turun hingga menjadi ‘seorang mukmin’ dan para malaikat tetap menjawab ‘tidak’. Nabi Ibrahim a.s. kemudian berkata, “Disana terdapat Luth”. Mereka berkata, “Kami lebih tahu tentang siapa yang ada disana” hingga akhirnya ditegaskan dengan ayat selanjutnya, “Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (QS. Hud: 76).

Pun tegas dalam bersikap terkait masalah aqidah, dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya pun mencerminkan sikap santun dan lembut hati. Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At Taubah: 114). Apalagi jika menyimak dialog beliau dengan anaknya yang bahkan sampai meminta pendapat anaknya untuk sesuatu yang bisa saja tinggal diperintahkan.

Pemimpin harus santun, penuh kepedulian dan kasih sayang. Keluhuran budi pekerti tercermin dari sikap dan kata-kata, dan hal inilah yang sejatinya sangat efektif untuk menggerakkan orang lain. Kemuliaan akhlak inilah yang membuat Nabi Ibrahim digelari Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah SWT. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An Nisa’: 125).

Berbeda dengan Nabi Yusuf a.s., Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s. dan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Ibrahim a.s. memang tidak menempati jabatan struktural dalam pemerintahan. Namun jati diri kepemimpinan tetap terpancar dari diri beliau dan membuat beliau menempati posisi sangat penting dalam sejarah kehidupan manusia. Setiap kita adalah pemimpin, sehingga harus berupaya menjadi pribadi yang berjiwa bersih, ta’at kepada Allah SWT, cerdas, berani, visioner, amanah, peduli dan penuh kasih sayang. Sudah saatnya kualifikasi pemimpin seperti ini menggantikan sosok pimpinan yang tidak beritikad baik, tidak peduli terhadap umat Islam, sok pintar, klemar-klemer, cinta dunia, tidak berkompeten, egois dan suka menyakiti yang dipimpinnya.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar ter­masuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah: 130)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim…” (QS. Al Mumtahanah: 4)