Monthly Archives: September 2016

Ulang Tahun, Ajang Umbar Kebodohan

Tawa teman-teman Sandy mendadak hilang mendapati temannya kejang-kejang setelah diikat dan disiram air di sebuah tiang lampu sebuah tempat futsal di kawasan Serpong, Tangerang. Lewat tengah malam selepas futsal (26/9/16), Sandi yang berulang tahun dikejutkan oleh temannya yang mengikatnya di sebuah tiang lampu yang ternyata berarus listrik karena adanya kabel yang terkelupas. Petugas keamanan langsung menurunkan panel listrik untuk mematikan setrum dan Sandy pun dilarikan ke rumah sakit. Sandy yang rencana menikah bulan depan menghembuskan nafas terakhirnya di ruang perawatan UGD RS. Eka Hospital tepat di hari ulang tahunnya. Ironis.

Kasus ulang tahun berdarah ini bukan kali pertama. Tahun lalu, 5 siswi SD tewas tenggelam saat merayakan ulang tahun di bendungan Tiyuh, Tulang Bawang Barat – Lampung (22/5/15). Sepulang sekolah, Vita bersama 7 merayakan ulang tahun di bendungan. Vita yang diceploki telur ayam kemudian membalas melumuri teman-temannya hingga sama-sama kotor. Gustian, salah seorang temannya yang hendak membersihkan diri, malah terpeleset jatuh ke bagian air yang dalam. Femi, Yulianti, Nurtika dan Vita yang mencoba membantu malah tenggelam. Ketiga temannya yang tidak bisa berenang hanya bisa berteriak histeris dan memanggil bantuan warga. Warga yang datang mengevakuasi sudah terlambat, kelima siswi kelas V SDN 2 Agung Jaya sudah tewas. Setahun sebelumnya, kasus serupa terjadi di Pantai Slamaran, Pekalongan (22/3/14). Kali ini Endang yang membersihkan diri di pantai setelah berlumuran telur dan tepung justru terseret ombak. Teman-temannya dari SMPN 1 Doro yang masih berseragam pramuka langsung menolongnya, dibantu seorang pemancing yang kebetulan ada di lokasi. Endang yang berulang tahun berhasil diselamatkan, namun Arief –salah seorang temannya—dan Fatikhurohman si pemancing justru terseret arus dan jenazah mereka baru ditemukan keesokan harinya.

Tak kalah ironis apa yang menimpa Maizatul Farhanah, siswi kelas VII SMPN 3 Batam yang tewas sia-sia dijahili teman sekelasnya dengan sepengetahuan wali kelasnya. Saat teman-tamannya mengajak Farhanah ke kantin, teman-teman yang lainnya memasukkan uang 300 ribu dan handphone temannya ke dalam tas Farhanah. Wali kelas datang menyampaikan laporan kehilangan dan memerintahkan dilakukan penggeledahan. Barang-barang tersebut ditemukan dalam tas Farhanah kemudian ia diminta berdiri dan diinterogerasi disertai teriakan ‘maling’ dari teman-temannya. Farhanah pingsan seketika. Depresi parah dan menolak makan. Pada 16 Desember 2010, tepat 20 hari setelah ulang tahunnya, gadis berusia 13 tahun yang sebelumnya dikenal ceria tersebut meninggal akibat infeksi jaringan otak dan pendarahan lambung.

Jika dirinci, kasus serupa tentunya banyak, apalagi ditambah yang luput di media. Semua berawal dari kebodohan di hari ulang tahun. Daftar ironi ajang unjuk kebodohan akan semakin banyak jika ditambah berbagai kasus terkait. Misalnya Zsa Zsa Jesica Shienjaya, mahasiswi UK Petra yang tewas gantung diri dengan tali raffia di kamar kosnya hanya karena pacarnya membatalkan perayaan ulang tahun bersamanya (18/6/12). Atau bagaimana Desy, siswi SMA Negeri 3 Tanjungbalai yang dicekoki narkoba dan diperkosa hingga tewas setelah menghadiri pesta uang tahun temannya (6/8/16). Bulan lalu, netizen juga dibuat geram dengan postingan tertanggal 14 Agustus 2016 di laman FB Mim Medan. Foto-foto yang viral di sosial media ini memuat sekelompok siswi berseragam pramuka yang mengikat temannya yang berulang tahun di sebuah tiang, melempari telur ke muka dan mulut sehingga temannya ini menangis dan terlihat sangat tersiksa, sementara mereka tampak bahagia dan berbangga. Jika ditelusuri, ini bukan kali pertama mereka melakukannya dan tampaknya juga bukan kali terakhir.

Tak perlu dalil-dalil agama bahwa tiup lilin adalah prosesi persembahan untuk dewa bulan atau bahwa perayaan ulang tahun merupakan bentuk menyerupai (tasyabuh) orang kafir, akal dan hati nurani sehat pun cukup untuk menolak perayaan ulang tahun sebagai ajang unjuk kebodohan. Apa manfaat yang ingin dicapai? Apakah caranya sudah tepat untuk memperoleh manfaat tersebut? Teman-teman Sandy bukan hanya akan berurusan dengan pihak polisi, tetapi juga merasakan tanggung jawab moral yang berat kepada keluarga Sandy dan akan dihantui penyesalan seumur hidup. Demikian pula dengan teman-teman dan guru Farhanah. Sepadankah dengan tawa dan kegembiraan sesaat? Apakah kebodohan tersebut menjadi satu-satunya cara untuk meraih manfaat?

Enam belas tahun lalu, penulis pernah ‘menceramahi’ teman-teman yang menceburkan penulis yang saat itu berulang tahun ke kolam di sekolah. Bagaimana jika orang yang dilempar ke kolam kepalanya terbentur batu besar yang tidak terlihat dari permukaan? Bagaimana jika ia punya penyakit sehingga langsung kejang-kejang dan tenggelam? Bagaimana basah kuyup akan menampakkan auratnya ketika keluar dari kolam? Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapkah? Apakah kejahiliyahan tersembunyi yang mendatangkan tawa sesaat tersebut sebanding dengan keburukan yang menyertainya? Belum lagi jika diingat bahwa Allah mengabulkan do’a mereka yang teraniaya. Alih-alih mempererat persahabatan, umbar kebodohan malah berbuah do’a buruk dari mereka yang teraniaya kepada teman-temannya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Segala musibah memang bisa dilihat dari kacamata takdir. Hanya saja ada hukum kausalitas yang perlu diperhatikan. Tak ada asap kalau tak ada api. Potensi musibah ulang tahun dapat diminimalisir bila tidak disertai aksi umbar kebodohan. Jika kebodohan tidak mungkin dihindari, lebih baik jangan rayakan ulang tahun. Logis. Toh sejatinya setiap harinya usia kita berkurang. Lalu apakah berarti ulang tahun harus dirayakan dengan serius, dengan refleksi diri atau muhasabah misalnya? Mungkin saja, tapi bukan di situ poinnya. Jangan umbar kebodohan dalam menyikapi berulangnya tanggal lahir! Bagi yang ada di level kesadaran akan hakikat waktu dan kefanaan dunia rasanya tidak perlu lagi merayakan ulang tahun. Namun bagi orang awam yang masih sehat akalnya, setidaknya bisa berpikir tentang resiko dan manfaat dari cara yang digunakan dalam merayakan ulang tahun. Bagi orang awam yang masih punya hati nurani, setidaknya bisa berempati maukah dirinya menerima perlakuan yang sama.

Kebodohan dapat dilawan dengan akal sehat dan hati jernih. Dan perlawanan tersebut akan semakin kuat dengan edukasi, aksi dan regulasi yang mendukung. Musibah buah dari umbar kebodohan di hari ulang tahun sebenarnya bisa diantisipasi sebagaimana penyikapan atas berbagai aksi bodoh lainnya, seperti tawuran pelajar, tidak tertib lalu lintas dan coret-coret baju sekolah setelah kelulusan, ataupun perploncoan di masa awal masuk sekolah atau kampus. Namun karena ulang tahun sifatnya personal, perbaikan individu menjadi faktor kunci menjadikan ulang tahun sebagai momentum cerdas dan mencerdaskan. Tak lagi jadi ajang umbar kebodohan, melainkan mengantarkan pada perbaikan dan kebaikan.

Dua hal yang tak terbatas: alam semesta dan kebodohan manusia; tapi saya tidak yakin tentang alam semesta.” (Albert Einstein)

Ketika Negara Mengais Recehan Uang Umat

“Bappenas Incar Zakat untuk Danai Pengentasan Kemiskinan”, begitu salah satu judul berita yang dimuat di CNN Indonesia (14/9). Eramuslim.com (15/9) bahkan memberi judul lebih provokatif: “Bangkrut, Jokowi Lirik Uang di Baznas Buat Dipakai”. Inti beritanya sih Menteri Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas, Bambang P.S. Brodjonegoro, menyatakan bahwa dana yang terhimpun di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dapat digunakan untuk memperkuat program pengentasan kemiskinan yang telah dibuat pemerintah. Masih sebatas rencana. Namun di tengah momentum ‘penghematan’ yang sedang dilakukan pemerintah di semua lini ditambah kebijakan tax amnesty yang dinilai belum optimal, wacana ini seakan bermakna pemerintah meminta dana zakat digunakan untuk membiayai program pengentasan kemiskinan pemerintah. Keliru kah?

Zakat memang bukan sekadar untuk membersihkan harta dan menyucikan jiwa, ada fungsi ekonomi dan sosial kemasyarakatan yang menyertainya, termasuk peran zakat dalam pengentasan kemiskinan. Sejalan dengan salah satu tujuan Negara: memajukan kesejahteraan umum. Tantangannya adalah pengelolaan zakat yang belum terpusat membuat sinergi dengan program pemerintah bertujuan serupa tidak mudah terwujud. Wacana pengelolaan zakat satu pintu bukan hal baru, apalagi setelah lahirnya UU Pengelolaan Zakat nomor 23 tahun 2011. Benturan pendapat pun terjadi antara pihak yang menjadikan zakat sebagai model kebijakan fiskal –yang menghendaki pemerintah sebagai operator dengan alasan utama optimalisasi potensi zakat—dengan model partisipatif yang menghendaki pemerintah cukup sebagai regulator, motivator dan pengayom lembaga zakat yang dibentuk masyarakat dengan pertimbangan utama pada aspek kepercayaan dan partisipasi masyarakat.

Faktor Trust dan Logika Terbalik
Apakah upaya pengentasan kemiskinan akan lebih efektif jika zakat yang terhimpun digunakan untuk membiayai program eksisting pemerintah? Jawabannya mungkin akan ada kesamaan dengan pertanyaan: apakah penghimpunan zakat akan lebih optimal jika dikelola oleh pemerintah? Pemerintah mungkin bisa membuat kebijakan yang mengikat dan memaksa, namun ada faktor trust yang turut menentukan keberhasilan implementasinya. Faktor trust ini yang menjelaskan mengapa sampai ada petisi tolak tax amnesty dan tagar #TolakBayarPajak pun sosialisasi tax amnesty banyak dilakukan. Ada yang tidak melakukan sesuatu karena tidak tahu, sebagian lagi karena tidak mampu, namun tidak sedikit karena tidak mau. Negara sejatinya adalah sebuah organisasi nonprofit super besar, dimana faktor trust menjadi hal penting dalam penyelenggaraannya.

Sekarang bagaimana jika pertanyaannya dibalik, apakah upaya pengentasan kemiskinan akan lebih efektif jika anggaran yang ada di pemerintah digunakan untuk membiayai program eksisting lembaga zakat? Menariknya, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa program pengentasan kemiskinan yang diinisiasi lembaga zakat lebih efektif dibandingkan program yang diinisiasi perusahaan ataupun pemerintah. Persentase masyarakat miskin yang terentaskan dari total penerima manfaat program lebih besar. Memang sampelnya lembaga zakat yang sudah establish seperti Dompet Dhuafa, PKPU atau Rumah Zakat. Dan memang secara total penerima manfaat tidak sebesar pemerintah yang support anggarannya juga jauh lebih besar. Namun hal ini memberi sinyal kuat bahwa lembaga zakat sudah nyata berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan, dan sudah selayaknya memperoleh dukungan pemerintah. Bukan malah sebaliknya. Dengan logika serupa, bukan tidak mungkin penghimpunan zakat justru akan lebih optimal jika dilakukan oleh masyarakat dengan memperoleh dukungan regulasi dan pengawasan dari pemerintah.

Sebenarnya, pengelolaan ZISWAF terpusat sebagaimana pengelolaan baitul maal pada masa kekhalifahan adalah lebih ideal. Namun Indonesia tidaklah dalam kondisi ideal. Ada banyak Pe-eR dan pembuktian yang terlebih dahulu perlu diselesaikan. Masih ingat kasus korupsi pengadaan Al Qur’an? Atau kasus korupsi dana haji? Sebelum zakat menjadi instrumen kebijakan keuangan negara, penyelenggara negara perlu memantapkan performanya sebagai clean government dengan menuntaskan berbagai kasus keuangan negara. Jangan sampai pengelolaan zakat justru terjerat birokrasi, budaya ABS, atau bahkan kepentingan politis. Membangun trust merupakan syarat harmonisasi saling menguntungkan.

Negara juga perlu memahami hakikatnya sebagai organisasi nonprofit. Bukan malah mendorong lembaga zakat berubah dari lembaga sosial keagamaan menjadi lembaga keuangan keagamaan. Tidak semua potensi perlu dikapitalisasi. Lihat saja bagaimana penolakan publik atas wacana pengelolaan umroh oleh pemerintah. Adalah paradoks mendapati organisasi nonprofit yang berorientasi bisnis. Sebagaimana amil zakat mengelola amanah muzakki, kepercayaan masyarakat akan terbangun dengan kerja yang amanah dan profesional. Bukan aji mumpung atau sekadar rebutan proyek. Jika pemerintah hanya berpikir profit, bisa-bisa ke depan kotak amal masjid juga wajib setor ke pemerintah. Sinergi itu bukan mengakuisisi. Berbagai program sektor ketiga yang menunjang ketercapaian cita-cita Negara adalah sinergi. Kebijakan pemerintah yang mendukung partisipasi masyarakat dalam mengatasi permasalahan bangsa juga merupakan sinergi. Sinergi adalah saling memperkuat, bukan memanfaatkan salah satu pihak. Dan problematika kemiskinan sebagai simpul terlemah bangsa ini takkan terurai tanpa peran serta aktif dan produktif dari setiap elemen bangsa. Zakat mungkin recehan, namun jika dikelola dengan baik, akan mencapai satu titik dimana amil akan kesulitan mencari mustahik. Karena masyarakat sudah sejahtera. Semoga saja akan terjadi di negeri ini, di masa mendatang…

Permainan Zin Obelisk

Beberapa waktu lalu, aku mengikuti pelatihan tentang Knowledge Management Awareness. Knowledge Management bukanlah hal yang baru kukenal karena satu dasawarsa lalu skripsiku pun mengangkat tema tersebut. Namun ada satu sesi dalam pelatihan tersebut yang sangat membekas yaitu tentang permainan Zin Obelisk. Bahan permainannya tidak diberikan sehingga aku harus mencari referensi awal berbahasa Inggris untuk melakukan simulasi ulang. Aku penasaran kenapa jawaban timku bisa salah sedangkan dari beberapa kali perhitungan hasilnya tetap sama. Dari referensi yang kuperoleh, permainan ini awalnya adalah untuk team problem solving bukan terkait knowledge management. Hanya saja nominalnya diganti sehingga hasilnya pun pasti akan berbeda. Tugas kelompoknya pun dikembangkan yang semula hanya menebak hari menjadi menghitung berapa lama dan pada hari apa Zin Obelisk selesai dibangun. Berikut adalah informasi yang diberikan:

1. Pengukuran dasar waktu di Atlantis adalah hari.
2. Hari orang-orang Atlantis dibagi menjadi schlibs dan ponks.
3. Panjang zin adalah 54 kaki.
4. Ketinggian zin adalah 30 kaki.
5. Lebar zin adalah 45 kaki.
6. Zin ini dibangun dari blok batu.
7. Setiap blok berukuran 1 kaki kubik.
8. Hari 1 dalam sepekan di Atlantis disebut Aguaday.
9. Hari 2 dalam sepekan di Atlantis disebut Neptiminus.
10. Hari 3 dalam sepekan di Atlantis disebut Sharkday.
11. Hari 4 dalam sepekan di Atlantis disebut Mermaidday.
12. Hari 5 dalam sepekan di Atlantis disebut Daydoldrum.
13. Ada lima hari dalam sepekan di Atlantis.
14. Satu hari kerja memiliki 9 schlibs.
15. Setiap pekerja membutuhkan waktu istirahat selama hari kerja sebesar 18 ponks.
16. Ada 8 ponks dalam satu schlib.
17. Setiap pekerja mampu meletakkan 2 blok per ponk.
18. Pada setiap saat ketika pekerjaan sedang berlangsung ada sekelompok 10 orang di tempat kerja.
19. Salah satu anggota dari setiap kelompok memiliki tugas keagamaan dan tidak menaruh blok.
20. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan pada Daydoldrum.
21. Apakah itu Cubitt?
22. Cubitt adalah sebuah kubus yang ukuran semua sisinya 1 yard megalitik.
23. Adalah 3 ½ kaki dalam satu yard megalitik.
24. Apakah pekerjaan dilakukan pada hari Minggu?
25. Apakah itu Zin?
26. Dengan cara apa Zin didirikan?
27. Zin terdiri dari blok berwarna hijau.
28. Hijau memiliki makna keagamaan khusus pada Mermaidday.
29. Setiap kelompok memiliki dua orang wanita.
30. Pekerjaan dimulai saat fajar pada Aquaday.
31. Hanya satu kelompok yang mengerjakan konstruksi pembangunan zin tersebut.
32. Ada delapan timbangan emas dalam satu fin emas.
33. Setiap blok biayanya 2 fin emas.

Detail informasi tersebut dimodifikasi dari sumber berbahasa Inggris sehingga mungkin tidak benar-benar identik dengan informasi yang diberikan ketika pelatihan. Misalnya dalam pelatihan kemarin informasi no. 11 tidak dicantumkan tetapi ada tambahan informasi pengecoh tentang VOZ. Yang jelas, informasinya sudah cukup untuk dapat menjawab pertanyaan. Setiap informasi diberikan dalam bentuk kartu secara acak pada masing-masing orang di kelompok. Sebagiannya bukan informasi, sebagian lainnya informasi yang tidak berguna. Jadi setiap orang dan kelompok harus memilah informasi yang diterimanya. Karena kartu tersebut tidak boleh ditunjukkan kepada anggota kelompok lain, maka harus ada sharing knowledge di setiap kelompok. Disinilah distorsi informasi mungkin terjadi. Salah perhitungan di timku terjadi pada informasi no.15 dimana waktu istirahat 18 ponk dihitung setiap pekan, bukan setiap hari kerja. Dalam beberapa hal, mengerjakan sendiri memang lebih mudah daripada mengerjakan bersama-sama, apalagi dari 6 kartu yang kuperoleh hanya 1 yang berisi informasi bermanfaat. Namun disitulah menariknya permainan tim. Lalu, berapa hari dan pada hari apa Zin Obelisk selesai dibangun? Sebelum membaca penjelasan mengenai langkah-langkah menjawabnya, barangkali pembaca bisa mencoba menjawabnya sendiri terlebih dahulu. ^_^

Baiklah, ini jawabannya…

Pertama, hitung volume Zin dengan rumus balok = panjang x lebar x tinggi. Dari informasi no. 3, 4, dan 5, diperoleh volume Zin sebesar 54 kaki x 45 kaki x 30 kaki = 72900 kaki kubik. Karena setiap blok berukuran 1 kaki kubik (informasi no.7), berarti Zin tersusun oleh 72900 blok batu. Kedua, perlu dihitung waktu efektif bekerja setiap pekerja. Dari informasi no.14 dan 16 diperoleh bahwa satu hari kerja terdiri dari 9 schlibs x 8 ponks/ schlibs = 72 ponk. Karena setiap pekerja butuh istirahat 18 ponk (informasi no.15), maka waktu efektif bekerja setiap pekerja adalah 72 – 18 ponks = 54 ponks. Ketiga, hitung produktivitas kerja. Dari informasi no. 17 diperoleh bahwa setiap pekerja mampu meletakkan 2 blok per ponk. Artinya dalam waktu efektif bekerja, setiap pekerja mampu meletakkan 54 ponks x 2 blok/ ponks = 108 blok batu. Selanjutnya dari informasi no. 18 dan 19 (serta no. 31), didapatkan informasi bahwa jumlah pekerja adalah sebanyak 10 dikurangi 1 orang (tugas keagamaan) = 9 orang. Artinya, setiap hari kerja, ada sebanyak 9 orang x 108 blok batu/ orang = 972 blok batu yang dipindahkan. Terakhir, hitung lama waktu pengerjaan dengan membagi volume Zin dengan produktivitas kerja. 72900 blok batu dibagi 972 blok batu/ hari kerja = 75 hari kerja. Jadi, Zin Obelisk selesai pembangunannya dalam 75 hari kerja.

Hal yang perlu diperhatikan, 75 hari kerja bukan berarti 75 hari, karena setiap pekannya tidak dilakukan pekerjaan pada hari ke-5 (informasi no. 12 dan 20). Artinya, dalam sepekan hanya ada 4 hari kerja, yaitu Aquaday, Neptiminus, Sharkday dan Mermaidday (informasi no. 8 – 11). Pembangunan diselesaikan dalam 75 hari dibagi 4 hari kerja/ pekan = 13 pekan plus 3 hari. Karena pekerjaan dimulai pada hari ke-1 atau Aguaday (informasi no.30), berarti peletakan batu terakhir dilakukan pada hari ke-3 atau Sharkday. Jadi, Zin Obelisk diselesaikan pembangunannya dalam 75 hari, dimana hari ke-75 jatuh pada Sharkday.