Daily Archives: October 13, 2016

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (2/3)

Karakteristik selanjutnya seorang pemimpin teladan adalah challenge the process. Berani menghadapi proses. Risalah dakwah adalah amanah yang berat sehingga semua Rasul pasti memiliki karakteristik ini. Ketika wahyu pertama kali turun di Gua Hira, Rasulullah bukan hanya terkejut akan datangnya Jibril yang tiba-tiba dan memerintahkan beliau untuk membaca. Momen pengangkatan kenabian tersebut membuat tubuh Rasulullah bergetar keras. Menggigil takut. Bahkan setibanya di rumah pun beliau langsung meminta Khadijah r.a. untuk menyelimutinya. Setelah kondisi Rasulullah membaik, Khadijah r.a. mengajak beliau bertemu Waraqah bin Naufal, sepupunya yang pendeta Nasrani. “Sungguh, ini sama seperti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda pada masa itu! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!”, ujar Waraqah setelah mendengar cerita Nabi saw. “Benarkah mereka akan mengusirku?”, tanya Rasulullah saw penuh keheranan. “Ya, tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan mereka akan dimusuhi. Jika aku masih hidup pada saat itu, niscaya aku akan membantumu dengan sekuat tenaga.” Tidak berapa lama setelah peristiwa tadi, Waraqah meninggal (HR. Bukhâri dan Muslim).

Waraqah sudah menyampaikan konsekuensi yang akan dihadapi para Rasul Allah, namun pemimpin teladan adalah mereka yang berani menerima tantangan. Di awal masa kenabian, Abu Thalib yang khawatir akan situasi gawat yang akan dihadapi keponakannya Muhammad pernah meminta beliau menghentikan dakwahnya. Dengan tenang Rasulullah SAW menjawab, “Wahai paman! Demi Allah! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku takkan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya, atau aku binasa karenanya.” Challenge the process.

Dalam sejarah kenabian, Rasulullah tidak hanya berani menghadapi beban kepemimpinan ataupun berbagai ujian dalam berdakwah. Rasulullah juga berani bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambilnya. Dalam perang Uhud, Rasulullah menyetujui usul mayoritas sahabat dari golongan muda yang ingin menyambut tantangan musuh di luar Madinah, pun beliau sendiri lebih suka bertahan di Madinah. Para sahabat menyesali sikap mereka yang terkesan memaksa Rasulullah untuk keluar dari Madinah, mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak bermaksud menyelisihi pendapatmu, putuskanlah sekehendakmu! Jika engkau lebih suka bertahan di Madinah maka lakukanlah!”. Beliau menjawab, ”Tidak pantas bagi seorang nabi menanggalkan baju perang yang telah dipakainya sebelum Allah memberi keputusan antara dia dengan musuhnya.”. Challenge the process.

Hal keempat yang menjadi cirri dari seorang pemimpin teladan adalah enable other to act. Ya, kepemimpinan adalah seni memengaruhi dan menggerakkan orang lain. Dalam buku “The 100, a Ranking of the Most Influental Persons in History, karya Michael Hart, Nabi Muhammad saw menempati peringkat pertama, bahkan tetap menempatinya pun buku beberapa kali direvisi. Peneliti nonmuslim ini berargumen bahwa Muhammad adalah satu-satunya manusia yang meraih keberhasilan spektakuler, baik di bidang penyiaran agama maupun kehidupan dunia. Yesus hanya di peringkat ketiga di bawah Newton. Rasulullah adalah penyebar risalah salah satu agama terbesar sekaligus pemimpin politik dan panglima tentara yang brilian serta pemimpin agama yang hebat dan agung. Muhammad yang lahir dari keluarga sederhana di lingkungan yang terbelakang diakuinya sebagai politikus terbesar dan kepala pemerintahan terhebat dalam sejarah kemanusiaan universal. Pengaruhnya bukan saja masih terasa namun terus berkembang hingga saat ini.

Michael H. Hart bukan satu-satunya tokoh nonmuslim yang mengapresiasi kepemimpinan Muhammad, banyak nama-nama lain yang mengungkapkan hal serupa di antaranya Mahatma Gandhi, Karen Amstrong dan Sir George Bernard Shaw. Jika nonmuslim saja memuji, apalagi para sahabat yang langsung berinteraksi dengan beliau. Lihat saja bagaimana Rasulullah menggerakkan kaum muslimin dalam peristiwa baiatul aqabah, hijrah, berbagai ekspedisi dakwah hingga berbagai peperangan yang dialami. Banyak sekali kisah yang menggambarkan betapa Rasulullah mampu membuat para sahabat bergerak. Rela berkorban harta bahkan jiwa mereka demi pemimpinnya tercinta. Enable other to act.

Sebuah sketsa indah terjadi menjelang perang badar. Rencana menghadang kafilah Abu Sufyan berbuntut perang besar melawan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya berkali-kali lipat dengan persenjataan yang lengkap. Dalam musyawarah, Miqdad bin Amr dari kaum muhajirin mengatakan, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti apa yang diperlihatkan Allah kepada engkau, dan kami akan selalu bersama engkau. Demi Allah, kami takkan berkata sebagaimana kaum Bani Israel berkata kepada Nabi Musa: ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan duduk menunggu di sini’. Tetapi kami semua akan berkata: Pergilah engkau bersama Rabb-mu berperang dan sesungguhnya kami akan berperang pula bersama engkau. Demi Dzat Yang Mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami siap bertempur bersama engkau hingga mencapai tempat itu!”. Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz dari kaum Anshar berujar, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepada engkau dan kami telah  membenarkan engkau, kami juga telah memberikan sumpah janji untuk selalu patuh dan taat kepada engkau, maka majulah engkau untuk berperang sebagaimana engkau kehendaki. Demi Dzat Yang Mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, maka kami semua akan terjun pula bersama engkau, tak seorangpun di antara kami yang akan mundur. Kami sangat gembira jika esok engkau menghadapi musuh, kami berada di sisimu bersama-sama menghadapinya. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang yang sabar dan jujur di dalam pertempuran. Semoga Allah menunjukkan kepada engkau tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan limpahan barakah Allah!”. Enable other to act.

(bersambung)