Daily Archives: March 20, 2020

Jika Bisa Kembali ke Masa Lalu…

If you could see your whole life from start to finish, would you change things?
(Louise Banks dalam film ‘Arrival’)

Akhirnya, 44 chapter komik Boku Dake ga Inai Machi selesai kubaca dalam dua hari. Komik karya Kei Sanbe ini sudah diadaptasi ke dalam anime bahkan live action dengan judul internasionalnya ‘Erased’. Erased berkisah tentang Satoru Fujinuma, seorang pemuda yang memiliki kemampuan untuk mengirim dirinya kembali ke waktu sebelum kejadian berbahaya terjadi sehingga memungkinkan dirinya untuk melakukan pencegahan. Saat ibunya dibunuh, kemampuan Satoru mengirim dirinya ke 18 tahun lalu, saat dia masih di sekolah dasar. Kondisi ini memberinya kesempatan untuk mencegah penculikan berantai yang merenggut nyawa kedua teman sekelasnya dan seorang anak kecil dari sekolah lain. Pelaku penculikan ini pula yang membunuh ibunya di masa depan, apa ada hubungannya?

Cerita berkaitan dengan perjalanan waktu menurutku selalu menarik. Kita bisa melatih fokus sekaligus imajinasi, menghubungkan berbagai peristiwa antar waktu, mencari dan menganalisis petunjuk yang terserak, dan biasanya cerita seperti ini memiliki plot twist yang tak terduga. Beberapa film yang terkait dengan relativitas waktu bahkan memukau nalar (mind blowing), bukannya membuat rileks malah bikin pusing semisal film Interstellar ataupun Inception. Pertanyaannya adalah bagaimana jika kita bisa kembali ke masa lalu? Apa yang akan kita lakukan?

Sebagai manusia yang hobi berpikir, pertanyaan ini sudah lama muncul. Dan jawaban pertama yang muncul adalah: tidak mungkin manusia bisa kembali ke masa lalu. Dalam dogma agama sudah jelas bahwa waktu adalah makhluk Tuhan yang memiliki karakteristik sangat bernilai (tak tergantikan), cepat berlalu, dan tidak akan kembali. Karenanya solusi dari perbuatan dosa adalah taubat dan tidak mengulanginya, bukan kembali ke masa lalu dan memperbaikinya. Secara logika pun kembali ke masa lalu lebih sulit diterima dibandingkan pergi ke masa depan. Tak perlu pusing dengan teori relativitas khusus Einstein yang membuat seseorang ‘melompat’ ke masa depan jika bergerak dengan kecepatan cahaya, para astronot yang ke luar angkasa pun merasakan ‘lompatan waktu’ ini sehingga ketika kembali ke bumi seakan sudah berada di masa depan. Berbeda dengan kembali ke masa lalu. Mereka yang mengaku atau dicurigai sebagai time traveler faktanya belum benar-benar terbukti. Jika ada mesin waktu dari masa depan, harus ada ‘teknologi portal’ di masa lalu untuk memunculkan mesin waktu tersebut. Jika tidak ada, bukan hanya tidak bisa kembali ke masa depan, lokasi munculnya tak bisa dipastikan aman. Dalam hal ini teleportasi masih lebih masuk akal karena relativitas jarak masih dalam dimensi ruang dan waktu yang sama. Sementara kembali ke masa lalu masih sebatas fiksi dan fantasi. Lagipula jika kembali ke masa lalu dimungkinkan, maka istilah ‘penyesalan selalu datang di akhir, jika di awal namanya pendaftaran’ sudah tak lagi relevan.

Namun jawaban menafikan kemungkinan manusia untuk kembali ke masa lalu tidaklah menjawab pertanyaan. Jika memang bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan kita lakukan? Maka jawaban kedua yang terlintas adalah: apapun yang dilakukan, takdir masa depan tidak akan berubah. Dalam hal ini terjadi yang disebut predestination paradox. Masa depan terbentuk dari masa lalu, dan sudah terbentuk, apapun yang dilakukan di masa lalu. Dalam hal ini terjadi looping timeline atau paradoks waktu. Masih ingat film Terminator dimana John Connor mengirim Kylee Reese untuk melindungi ibunya di masa lalu dari terminator yang akan membunuh ibunya sehingga John Connor tidak dilahirkan. Yang terjadi kemudian adalah ternyata Kylee merupakan ayah dari John, orang yang mengirimnya ke masa lalu. Pola serupa juga terjadi di beberapa film seperti Project Almanac, Harry Potters and The Prisoner of Azkaban, hingga Avengers: Endgame. Bahkan mesin waktu Doraemon pun seringkali menerapkan pendekatan ini. Perjalanan waktu adalah bagian dari takdir masa depan, sehingga tidak akan mengubahnya.

Jawaban kedua ini masih belum menjawab dengan tegas pertanyaan. Masih membatasi imajinasi pula. Lantas bagaimana jika kita bisa kembali ke masa lalu dan mampu mengubah masa depan, apa yang akan kita lakukan? Sebelum menjawabnya, kita perlu berimajinasi terlebih dahulu tentang mekanisme kembali ke masa lalu yang dipilih. Apakah dengan mekanisme menciptakan dunia paralel yang tidak saling memengaruhi ala Dragon Ball? Dimana penggunaan mesin waktu menciptakan banyak dunia paralel. Ataukah dengan mekanisme yang memberikan pengaruh fisik langsung dengan mengubah masa lalu ala Back to the Future? Sebagaimana tubuh Marty perlahan menghilang karena ‘mengganggu hubungan’ kedua orang tuanya di masa lalu. Apalagi jika polanya lompat-lompat tak beraturan waktu dan tempat ke masa lalu dan masa depan ala The Time Traveler’s Wife, penjelajahan waktu cuma bikin repot. Mekanisme mustahil yang paling masuk akal sepertinya pola mengembalikan ingatan ke masa lalu ala Boku Dake ga Inai Machi dan X-Men: Days of Future Past. Bukan fisik yang kembali ke masa lalu, melainkan ingatan masa depan. Ada juga pola mengembalikan ingatan masa depan ke tubuh orang lain ala Source Code, tapi tampaknya akan menyulitkan.

Jika ingatan masa depan bisa kembali ke masa lalu, dan aktivitas di masa lalu bisa mengubah masa depan, maka banyak hal yang bisa dilakukan. Pertama, saya akan mencatat semua ingatan masa depan dalam buku. Ada rekaman berbagai peristiwa dalam berbagai lingkup lintas waktu dan tempat disana. Ada memori tentang orang-orang yang dikenal hingga masa depan. Semua ingatan ini perlu dicatat sehingga memudahkan dalam menentukan prioritas dan mengelola sumber daya. Buku ini barangkali berbeda dengan future diary ala anime Mirai Nikki atau film The Butterfly Effect. Namun monitoring akan perubahan masa depan dapat dipantau dengan buku ini.

Kedua, saya akan melakukan berbagai perbaikan kecil di masa lalu. Selain karena perjalanan hidup yang relatif sudah lurus, perbaikan kecil akan lebih mudah dikontrol. Jika belajar dari film animasi The Girl Who Leapt Through Time, mengoreksi peristiwa sepele pun bisa memberikan efek domino yang besar. Perubahan kecil dalam problem solving bisa mengubah banyak hal. Jadi saya akan menahan diri dulu dari misi besar menyelamatkan dunia sambil melihat pola perubahan yang akan terjadi. Bagaimanapun tantangan mengubah masa depan adalah mengendalikan butterfly effect dari upaya memperbaiki masa lalu. Ketiga, jika ada hal besar yang hendak dilakukan adalah menyelamatkan orang-orang terdekat. Sudah banyak orang-orang di sekitar yang meninggal bukan karena penyakit tua yang memang tak ada obatnya. Jika masa depan masih bisa berubah, memperpanjang waktu kebersamaan dengan mereka adalah hal sentimental yang perlu dicoba.

Yah, pada akhirnya kita hidup di hari ini. Dan hanya ada hari ini. Kalau kata Oogway dalam Kungfu Panda, “You are too concerned with what was and what will be. There is a saying: Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called present.”. Masa lalu pada akhirnya hanyalah romantika sejarah yang tersimpan dalam memori, kita hanya bisa membukanya tanpa memasukinya. Menoleh ke masa lalu untuk mengambil pelajaran demi kebaikan di hari ini dan masa depan. Sementara masa depan adalah misteri yang belum tentu ada, kita hanya bisa mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Dan waktu sejatinya adalah kehidupan itu sendiri. Tidak perlu mengulang hidup untuk hari ini, cukuplah dengan mengoptimalkan hari ini untuk masa depan yang lebih baik.

Time waits for no one” (Makoto Kono dalam animasi ‘The Girl Who Leapt Through Time’)