Daily Archives: October 10, 2020

Iman Dulu Baru Imun

Dari Abdullah bin Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu. Jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah. Jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.
(HR. At Tirmidzi)

Rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia tercipta per 8 Oktober lalu yaitu penambahan sebesar 4.850 kasus baru. Angka ini melampaui rekor harian sebelumnya sebesar 4.823 kasus baru per 25 September 2020. Penambahan kasus Covid-19 ini terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, dimana DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar dengan 1.182 kasus baru. Ricuhnya demonstrasi Omnibus Law melengkapi kabar duka dari negeri ini.

Ada yang unik dari pandemi Covid-19 ini, pola serangannya acak, mempersulit proses tracing nya. Tidak sedikit olahragawan yang fisiknya sehat ternyata terjangkit, namun rekan-rekan yang berlatih bersamanya ternyata negatif. Dalam sebuah ruangan dimana terdapat orang yang positif corona, tidak semua orang di ruangan tersebut tertular virus corona, dan belum tentu mereka yang tertular adalah yang dekat jaraknya dengan pembawa virus. Ada yang sembuh cepat pun dengan penyakit penyerta (komorbid), ada yang lama sembuhnya walau tanpa komorbid. Ada yang abai namun selamat dari pandemi, ada yang ketat menerapkan protokol kesehatan namun masih terpapar virus.

Selama ini, sistem imun yang dimiliki seseorang lah yang dijadikan jawaban ilmiahnya. Walau sebenarnya tak bisa menjawab penyebaran virus yang memilih korbannya secara acak, termasuk mereka yang punya pola hidup sehat. Karenanya, kita perlu mengembalikan jawabannya kepada perkara yang lebih esensi, yaitu keimanan. Dalam konteks iman, keselamatan dan kecelakaan adalah hak prerogratif Allah SWT. Sakit, sembuh, dan sehat merupakan ketetapan dari Allah SWT. Sehingga kita mampu bersyukur dan tidak lalai terhadap kesehatan yang menyertai. Juga mampu bersabar, tidak berputus asa, serta senantiasa mengambil pelajaran dari setiap musibah yang melanda. Ya, jawaban mengapa ada yang positif atau negatif Covid-19 dengan beragam kondisinya dalam perspektif keimanan adalah semata karena takdir Allah SWT. Jadi bukan imun yang menentukan.

Iman adalah sesuatu yang tidak hanya diyakini dalam hati, namun juga diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Dalam aspek spiritual, keimanan ini akan menghadirkan ketenangan jiwa dalam kondisi apapun. Perasaan tenteram dari stres, cemas, dan takut berlebihan akan menguatkan sistem imun tubuh, sehingga lebih tangguh menghadapi penyakit yang menyelinap ke dalam tubuh. Pada titik inilah iman akan berdampak positif terhadap imun. Bahkan dalam kondisi terserang penyakit pun, orang dengan iman yang kuat akan tetap bisa berpikir dan bersikap positif. Alhasil, keimanannya akan kian bertambah dengan penyakitnya. Nabi Ayub a.s. ketika ditimpa ujian hidup hingga 18 tahun hanya berdo’a, “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al Anbiya: 83). Hanya mengadu, tanpa mengeluh, menuntut, ataupun menyalahkan. Kalaupun ada kesembuhan yang diharapkan, itupun dalam rangka keta’atan karena penyakitnya menghambatnya dalam beribadah. “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS. Shad: 41). Hal ini menguatkan bahwa bagaimanapun, iman harus didahulukan daripada imun.

Lantas apakah mereka yang merasa aman dari virus Corona membuktikan bahwa keimanan mereka kuat? Hati-hati, dalam hal ini ‘rasa aman’ bak pisau bermata dua. Bisa hadir dari manifestasi iman dan kekuatan tawakkal. Bisa juga indikasi dari sifat ujub dan takabbur. Indikator pembedanya hanya amal shalih dan kesombongan. Raja’ dan rasa aman harus disertai amal shalih. Kisah perjalanan khalifah Umar bin Khattab r.a. ke Negeri Syam yang masyhur di masa pandemi ini dapat menjadi i’tibar. Di wilayah Saragh, Abu Ubaidah bin Al Jarrah r.a. memberitahu bahwa Negeri Syam tengah dilanda wabah tha’un. Dalam musyawarah dadakan yang digelar, para shahabat berbeda pendapat antara melanjutkan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah. Akhirnya Amirul Mukminin mengikuti saran dari sesepuh Quraisy yang hijrah sebelum fathu Makkah untuk kembali ke Madinah. Beberapa shahabat tidak puas, termasuk Abu Ubaidah r.a. yang lantas bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah kita hendak lari dari takdir Allah?”. “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain”, jawab Umar r.a. dengan tegas seraya memberikan analogi seseorang yang memiliki seekor unta lalu turun ke lembah yang mempunyai dua sisi, yang satu subur dan yang lain tandus. “Jika engkau menggembalakan untamu di tempat tandus adalah takdir Allah, maka bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, berarti engkau menggembala dengan takdir Allah juga?”, jelas Umar r.a. Keputusan ini dikuatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf r.a. yang datang terlambat dan menyampaikan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri” (HR. Bukhari – Muslim).

Iman perlu disertai dengan amal, tawakkal perlu diiringi dengan ikhtiar. Mereka yang abai terhadap protokol kesehatan namun ‘merasa aman’ dengan hanya mengonsumsi madu dan habbatussauda misalnya, tidaklah sempurna ikhtiar dan keimanannya. Apalagi jika sampai bersikap keras kepala ketika ditegur, bahkan merendahkan orang lain. Bisa jadi ‘rasa aman’nya justru muncul dari goda’an setan. Sebab sebagaimana penyakit, kesehatan dan ‘rasa aman’ juga sejatinya merupakan ujian keimanan. Iman adalah kunci untuk memproduksi sistem imun dan rasa aman. Sebagaimana iman, imun dan aman juga merupakan nikmat Allah yang perlu dijaga. Ar-Razi berkata, “Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakiknya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi. Kemudian seandainya kambing diikat pada suatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan”. Dan dari semuanya, nikmat iman adalah nikmat yang paling besar. Ibnu Taimiyah berkata, “Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat iman. Dia adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan taat dan kebaikan, berkurang dengan kefasikan dan kemaksiatan”. Mari kita rawat iman untuk juga merawat imun.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS. Al-An’am: 82)