Monthly Archives: January 2021

Tembus Sejuta Kasus Positif Covid, Prestasi Siapa?

“...Sepanjang tahun 2020 dan memasuki tahun 2021, kita menghadapi beberapa ujian, beberapa cobaan yang sangat berat. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, 215 negara dan Indonesia, telah mengakibatkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Kita bersyukur, Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik, tetapi permasalahan belum sepenuhnya selesai. Pandemi masih berlangsung dan kita harus waspada dan siaga…

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sambutan virtualnya pada Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 25 Januari lalu. Entah statement yang optimis atau gegabah mengingat kala itu kasus positif Covid-19 di Indonesia hampir menyentuh angka sejuta kasus, dengan jumlah pasien Covid-19 yang meninggal lebih dari 28 ribu jiwa. Dan benar saja, selang sehari kemudian, berdasarkan laporan Gugus Tugas Percepatan Penanangan Covid-19, per 26 Januari 2021, Indonesia mencatatkan penambahan 13.094 kasus baru Covid-19 yang membuat Indonesia menembus jumlah 1 juta dengan total 1.012.350 kasus. Jumlah kasus ini bahkan lebih tinggi dari penggabungan jumlah kasus dari 9 negara ASEAN lainnya yang berjumlah 920.797 kasus. Filipina yang per 6 Agustus 2020 lalu sempat memuncaki kasus Covid-19 di wilayah Asia Tenggara, saat ini kurvanya sudah mulai menurun dengan 516.166 kasus, jauh tertinggal dari Indonesia. Dengan total tes per populasi penduduk yang kurang dari setengahnya dibandingkan Filipina, kasus riil Covid-19 di Indonesia kemungkinan jauh lebih besar dari data yang dilaporkan.

Ungkapan syukur bahwa Indonesia mampu mengelola Covid-19 bukan kali itu saja disampaikan Jokowi. “…Pemerintah telah mengambil langkah untuk mengurangi dampak dari krisis ini. Walau pandemik belum berlalu tapi kita bersyukur bahwa kita termasuk negara yang mampu mengelola tantangan ini. Penanganan kesehatan yang bisa dikendalikan dengan terus meningkatkan kewaspadaan dan pertumbuhan ekonomi yang sudah naik kembali sejak kuartal 3 lalu meski dalam kondisi minus…”, ucap Jokowi dalam acara HUT PDIP ke-48 10 Januari lalu. Ungkapan syukur tidak salah, namun beberapa pihak menganggapnya kurang tepat. Apalagi hingga kini belum ada permintaan maaf dari pemerintah atas penanganan pendemi Covid-19 yang terbilang sangat lamban. Belum lagi kasus korupsi dana bansos yang terkuak ke publik, pemerintah sepertinya lebih tepat untuk banyak istighfar dan meminta maaf, daripada memberikan ketenangan semu dengan prestasi semu.

Hari ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, menyampaikan permintaan maaf atas kasus dan kematian akibat virus corona yang terus bertambah. “Saya sangat menyesal atas setiap nyawa yang telah meninggal dan tentu saja, sebagai perdana menteri saya bertanggung jawab penuh atas semua yang telah dilakukan pemerintah…” ujar Johnson ketika angka kematian akibat Covid-19 di Inggris melampaui 100 ribu jiwa. September tahun lalu, Presiden Israel Reuven Rivlin, menyatakan permintaan maaf terhadap warga Israel akibat kegagalan pemerintah membendung pandemi virus corona. “Saya menyadari bahwa kami belum banyak melakukan apa-apa sebagai pemimpin yang pantas mendapat perhatian Anda. Anda percaya kami, dan kami mengecewakan Anda…”, ujar Rivlin ketika Israel menerapkan penguncian wilayah (lockdown) akibat lonjakan penularan dan kematian akibat Covid-19. Kanselir Jerman, Angela Merker pada 9 Desember lalu juga meminta maaf kepada publik atas peningkatan kematian harian akibat virus seraya menjura, membungkuk dengan menangkupkan kedua tangan. “Saya benar-benar minta maaf… tetapi jika kita membayar harga korban tewas pada 590 orang setiap hari maka itu menurut saya, tidak dapat diterima…” ujarnya dalam pidato emosional di depan parlemen.

Sikap berbeda ditunjukkan Pemerintah Indonesia. Memang berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengendalikan virus, mulai dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB proporsional, hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Presiden Jokowi juga sempat menunjuk Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan untuk menekan lonjakan kasus di beberapa daerah, namun upaya itu belum juga membuahkan hasil. Walau dianggap terlambat, Jokowi juga memecat Terawan Agus Putranto dan menunjuk Budi Gunadi Sadikin untuk menjadi Menteri Kesehatan, pun hasilnya juga belum terlihat.

Merespon data kasus Covid-19 yang sudah menembus 1 juta kasus, Menkes Budi Gunadi Sadikin berjanji akan lebih menggencarkan program 3T, yaitu testing, tracing, dan treatment untuk mengurangi laju penularan virus. “Angka ini membuat kita harus merenung dan ada dua momen penting yang harus kita sadari. Saatnya Indonesia untuk berduka. Sebab, dengan terus meningkatnya kasus, banyak sekali pasien yang meninggal dunia. Bahkan, sudah lebih dari 600 tenaga kesehatan gugur dalam menghadapi pandemi ini. Dan mungkin sebagian dari keluarga dekat dan teman dekat sudah meninggalkan kita. Itu momen pertama yang harus kita lalui bahwa ada rasa duka yang mendalam dari pemerintah, dari seluruh rakyat Indonesia atas angka ini… Angka 1 juta ini memberikan satu indikasi bahwa seluruh rakyat Indonesia harus bersama dengan pemerintah bekerja bersama untuk atasi pandemi ini dengan lebih keras lagi. Kita teruskan kerja keras kita…” ujar Menkes dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden. Bukan permintaan maaf, namun mengajak masyarakat untuk merenung. Dalam kesempatan yang berbeda, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, dibutuhkan percepatan dan keserempakan program vaksinasi Covid-19 untuk membangun kekebalan kelompok atau herd immunity. Semakin cepat herd immunity terbentuk, semakin cepat pula pandemi berakhir. “Perlu ada kecepatan. Itu kuncinya kenapa perlu cepat dilakukan vaksinasi kepada dua pertiga populasi agar memiliki antibodi,” kata Tito saat Rapat Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19, Senin lalu.

Semuanya baik-baik saja. Barangkali itu pesan yang disampaikan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi Covid-19. Tanpa kesedihan dan kecemasan pun korban terus bertambah. Jika kita telusuri rekam perjalanan pandemi Covid-19 di negara ini, kita akan mendapati banyak pernyataan kontroversial dari para pejabat tinggi yang sebenarnya justru kontraproduktif dalam upaya penanganan Covid-19. Misalnya Menkes Terawan yang mengatakan tidak ada masyarakat Indonesia yang terkena virus corona karena do’a. Atau Menhub Budi Karya yang sebelum positif Covid-19 pernah berkelakar bahwa masyarakat Indonesia memiliki kekebalan tubuh dari virus corona karena gemar makan nasi kucing. Bukan sebatas pernyataan, kebijakan kontroversial juga kerap dibuat. Misalnya pemberian diskon bagi wisatawan untuk menggenjor sektor pariwisata, atau anggaran untuk influencer yang mencapai 90,45 miliar rupiah. Dan pada akhirnya, kita tidak bisa terus mengutuk kegelapan. Berusaha menjadi bagian dari solusi pun keberhasilannya akan diklaim pemerintah. Apalagi menghadapi rezim yang anti kritik, yang dapat dilakukan hanya senantiasa menjaga diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita agar tetap baik-baik saja. Mematuhi protokol kesehatan karena kesadaran, bukan sekadar ikut kebijakan pemerintah yang seringkali tak tentu arah. Karena solusi mengatasi pandemi ini ada di setiap diri kita.

Alhamdulillah 243 WNI yang pulang dari Wuhan dan diobservasi 14 hari di Natuna dinyatakan bersih dari Corona. Dalam kelakarnya, Menko Perekonomian Airlangga bilang: Karena perizinan di Indonesia berbelit-belit maka virus corona tak bisa masuk. Tapi omnibus law tentang perizinan lapangan kerja jalan terus” (Mahfud MD)

Pengasuhan Positif

Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akannya” (HR. Muslim)

Pandemi Covid-19 bukan hanya memberi dampak negatif terhadap bidang kesehatan dan ekonomi. Kekerasan anak meningkat cukup signifikan di masa pandemi. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap anak sebesar 38 persen selama kurun 2020. Dari 2.700 kasus yang tercatat di Komnas PA, 52 persennya adalah kejahatan seksual. Angka riilnya pasti lebih besar. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menerima lebih dari 4.000 laporan kekerasan terhadap anak sepanjang 1 Januari hingga Juli 2020. Ada 3.296 anak perempuan dan 1.319 anak laki-laki menjadi korban kekerasan selama rentang waktu tersebut. Dari jumlah tersebut, 1.111 anak mengalami kekerasan fisik, 979 anak mengalami kekerasan psikis, 2.556 anak menderita kekerasan seksual, 68 anak menjadi korban eksploitasi, 73 anak menjadi korban perdagangan orang, dan 346 anak menjadi korban penelantaran. Dan 58,80% kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak itu terjadi di dalam rumah tangga.

Tidak sedikit kasus kekerasan tersebut yang dipicu oleh hal yang sepele, ada yang hanya karena ribut berebut baju dengan kakaknya, ada yang karena sakit-sakitan, ada yang karena minta dibelikan sampul buku sekolah, bahkan ada yang karena salah jemur pakaian. Sesepele apapun alasannya, dampak dari kekerasan tersebut akan memberikan bekas yang mendalam. Kesalahan dalam pola asuh ini berpotensi menjadikan korban sebagai pelaku di masa sepan. Berbagai kasus seperti seorang ayah yang mencabuli anaknya, atau seorang ibu yang menganiaya anaknya, semestinya tidak terjadi jika terjadi pengasuhan positif dalam keluarga. Pengasuhan positif akan meningkatkan kualitas interaksi yang positif antar keluarga. Ada saling pengertian dan saling menghargai. Tumbuh kembang anak akan teroptimalkan. Sementara berbagai perilaku menyimpang dan kelainan akan dapat diantisipasi dan dihindari.

Dalam prinsip pengasuhan positif, anak harus dilakukan dengan cinta dan kasih sayang, penghargaan dan saling memaafkan, bebas dari tindakan kekerasan, dan tidak membeda-bedakan. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak. Caranya adalah dengan menjaga keharmonisan keluarga, memenuhi kebutuhan anak, melakukan stimulasi/ pendidikan sesuai dengan tahap perkembangan anak, dan memberikan perlindungan dari tindakan kekerasan. Bukankah itu sama saja dengan memanjakan? Memenuhi kebutuhan bukan berarti menuruti semua kemauan anak. Melindungi anak dari tindakan kekerasan bukan berarti tidak menegur atau menasihati anak. Pengasuhan positif adalah membangun ekosistem keluarga yang penuh nilai kasih sayang, bukan menjadikan anak lebih superior dibandingkan orang tua mereka.

Ada beberapa peran yang harus dijalankan orang tua dalam pengasuhan anak. Mulai dari memenuhi kebutuhan anak akan makanan sehat dan bergizi; menanamkan nilai agama dan moral dalam kehidupan; membangun kelekatan emosi dengan anak sebagai dasar keterampilan bersosialisasi; memenuhi kebutuhan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman; menumbuhkan perilaku saling menghargai, menyayangi, toleransi, cinta kasih, kerja sama, tanggung jawab, dan kesederhanaan; hingga mengajarkan cara menyelesaikan masalah dan konflik yang dihadapi serta mengambil keputusan. Sayangnya, tidak semua orang tua mampu menjalankan peran-peran tersebut karena berbagai kendala. Ada yang terkendala ekonomi, ada yang terkendala kompetensi, ada juga yang terkendala waktu. Tidak mengherankan, pola pengasuhan positif lebih sulit diterapkan di keluarga miskin dengan pendidikan minim, atau di keluarga tanpa kehadiran orang tua.

Untuk menerapkan pengasuhan positif, orang tua perlu memberikan keteladanan yang baik dan pembiasaan yang baik. Kemudian terus melakukan pengasuhan tanpa kekerasan dan berkelanjutan. Orang tua harus memahami tahap perkembangan anak, cara berkomunikasi efektif, dan membangun disiplin positif. Anak usia 0-2 tahun adalah tahap penyesuaian diri. Anak butuh simulasi sentuhan lembut, ekspresi wajah gembira ketika berinteraksi, diajak bicara dengan suara pelan, digendong ketika menangis, distimulasi panca inderanya, disapih dengan jujur, dan diperhatikan perkembangan berjalan dan berbicaranya. Hindari mengguncang, merebut kasar, mengayun keras, meneriaki, membiarkan bayi menangis lama, memperlihatkan ekspresi marah atau dingin, menstimulasinya dengan gawai, dan mengabaikan keterlambatan perkembangan anak.

Anak usia 2-7 tahun adalah tahap mandiri dan eksplorasi. Anak butuh stimulasi gerak tubuh dan keseimbangan melalui aktivitas di luar ruangan. Orang tua perlu mengizinkan anak untuk berinisiatif mengerjakan tugas sehari-hari secara mandiri dan mempertahankan hak propertinya sendiri. Beri anak kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan pastikan anak memiliki banyak waktu bermain bebas dengan pengawasan. Stimulasi dengan gawai sebaiknya dilakukan setelah anak berusia lima tahun, itu pun dengan waktu yang sangat terbatas. Biarkan anak bermain tanpa menuntutnya dengan berbagai beban aktivitas akademis. Anak usia 7-10 tahun adalah tahap berkarya dan kepercayaan. Berikan stimulasi pemecahan masalah (problem solving) lewat diskusi, eksperimen, dan praktik langsung. Orang tua perlu lebih banyak mendengar dan memberikan kesempatan anak untuk berpendapat. Orang tua juga perlu mengenali lingkungan pertemanan anak. Orang tua tidak boleh terlalu mengekang anaknya, melarang tanpa penjelasan, ataupun mengisolasi anak dari dunia pertemanannya. Pun demikian, pengawasan anak masih tetap diperlukan.

Pengasuhan positif membutuhkan komunikasi efektif, dimana penyampaian pesan dapat dipahami oleh penerima pesan dengan nyaman. Untuk membangun komunikasi efektif dengan anak, orang tua perlu mendengar aktif dan memberikan kesempatan pada anak untuk bicara lebih banyak. Bicaralah dengan singkat dan jelas, menggunakan kata-kata yang positif. Jaga kontak mata dan posisi tubuh yang sejajar dengan anak. Cobalah berempati dan memperhatikan Bahasa tubuh anak. Hindari menyalahkan, meremehkan, memarahi, memberi label, mengejek, membandingkan, dan menyindir anak. Banyak masalah pengasuhan yang bersumber dari permasalahan komunikasi, karenanya komunikasi efektif ini sangat penting untuk diperhatikan.

Pengasuhan positif juga membutuhkan disiplin positif, yaitu pembentukan kebiasaan dan tingkah laku anak yang positif dengan kasih sayang sehingga anak dapat menjadi makhluk sosial dan tumbuh berkembang dengan optimal. Disiplin positif bukanlah mengendalikan anak dengan kekerasan atau melarang hal yang diinginkan anak atau menghukum anak yang melakukan kesalahan. Tujuan disiplin positif adalah membuat anak dapat bertanggung jawab atas tingkah lakunya, memberikan kesempatan kepada anak untuk berperilaku sesuai dengan yang diinginkan oleh lingkungannya, dan mengajarkan anak bagaimana bertingkah laku, memahami mana yang benar dan salah. Orang tua membutuhkan bekal kesabaran, kepercayaan diri, ketenangan, konsistensi, dan tidak mudah menyerah dalam mendisiplinkan anak. Buatlah kesepakatan bersama dan pilihlah waktu yang tepat. Berilah contoh dan penjelasan, jangan mengungkit perilaku yang sudah berlalu. Hindari mencaci, mengecam, dan memukul anak karena bisa membuat anak membenci, dendam, dan tidak mengacuhkan orang tuanya. Apresiasi perilaku positif anak pada waktu dan proporsi yang tepat merupakan pembentukan karakter anak.

Anak adalah kehidupan. Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu. Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu,
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri. Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya. Karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi, bahkan dalam mimpi sekalipun. Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak tengelam di masa lampau…
” (‘Anakmu Bukanlah Milikmu’, Kahlil Gibran)

(Masih) Menanti Kabar Baik di 2021

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

#Gempa Mag:6.2, 15-Jan-21 01:28:17 WIB, Lok:2.98 LS, 118.94 BT (Pusat gempa berada di darat 6 km TimurLaut Majene), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) IV-V Majene, III Palu, II Makasar #BMKG. Begitulah update informasi bencana yang viral pagi ini beserta foto dan videonya. Informasi gempa di Sulawesi Barat tersebut menambah panjang deretan bencana yang terjadi sepanjang tahun 2021 yang baru berjalan setengah bulan. Sebelumnya ada bencana banjir di beberapa wilayah tanah air seperti di Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Jember, dan Kepulauan Riau. Belum semuanya sudah teratasi, termasuk musibah longsor Sumedang. Malam ini bahkan ada informasi gempa 4.7 SR di Pangandaran.

Dan masih lekat dalam ingatan akan peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari lalu yang mengangkut 62 orang. Jangan lupakan juga bencana dunia berupa virus corona yang pada awal tahun ini memunculkan varian baru yang sudah mengeinfeksi di puluhan negara. Update dana Covid-19 di Indonesia hingga pertengahan Januari 2021 ini juga menunjukkan tren dan rekor yang memprihatinkan. Setengah bulan ini sudah beberapa kali rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia terpecahkan, mulai dari 8.854 kasus baru (6 Januari), 9.321 kasus baru (7 Januari), 10.617 kasus baru (8 Januari), 11.278 kasus baru (13 Januari), 11.557 kasus baru (14 Januari), hingga 12.818 kasus baru per hari ini. Melihat trennya, bukan tidak mungkin rekor kasus harian akan kembali terpecahkan. Rekor kematian harian akibat Covid-19 di Indonesia pun sudah dua kali terpecahkan di awal tahun ini, yaitu 302 orang dan 306 orang pada 12 dan 13 Januari lalu. Total korban jiwa di seluruh dunia akibat Covid-19 di pertengahan Januari 2021 ini sudah menembus angka 2 juta jiwa, dimana korban terbesar di AS yang mencapai lebih dari 400 ribu jiwa.

Pengadaan, pendistribusian, dan penyuntikan vaksin sayangnya belum menjadi kabar baik. Banyak isu mengenai efek samping dan kontroversi vaksin yang menyertai. Belum lagi isu konspirasi. Faktanya, kasus baru dan kematian akibat Covid-19 di Indonesia dan dunia terus meningkat. Vaksin yang sifatnya jangka panjang barangkali akan menjadi kabar baik di masa mendatang ketika efektivitasnya sudah mulai dirasakan. Ironisnya, tidak sedikit bencana atau musibah yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia. Misalnya banjir di Kalimantan Selatan yang terparah sepanjang sejarah disebabkan penebangan hutan berganti menjadi kawasan tambang dan perkebunan sawit. Kecelakaan pesawat juga bukan karena faktor alam. Belum lagi jika ada pemotongan dana bantuan bencana sebagaimana yang beberapa kali terjadi. Pada titik inilah, manusia perlu introspeksi dan berbenah. Bukan hanya pasrah, apalagi sibuk mencari kambing hitam.

Sore ini tersiar kabar wafatnya Sayyidil Walid Al Habib bin Abdurrahman Assegaf. Salah seorang ulama yang nasabnya sampai ke Rasulullah SAW sekaligus salah seorang guru dari Habib Rizieq Shihab. Berpulangnya beliau hanya berselang sehari dari meninggalnya Syaikh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber, ulama Al Hafizh kelahiran Madinah yang kerap mengisi acara Ramadhan dan bertemakan Al Qur’an di TV. Tahun lalu, beliau pernah juga menjadi korban penusukan oleh ‘orang gila’ kala berdakwah di Lampung. Bersamaan dengan dua ulama tersebut, tersiarlah kabar belasan ulama lainnya yang berpulang ke Rahmatullah sepanjang Januari 2021. Menyusul para ulama dan orang shalih yang banyak meninggal beberapa tahun terakhir. Walaupun kematian adalah sunnatullah, meninggalnya para ulama sejatinya juga merupakan musibah. Bukan hanya bagi keluarga dan kerabatnya, namun bagi umat manusia seluruhnya. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.

Lantas sampai kapan bencana terus melanda dan musibah terus mendera? Karena kehidupan sejatinya adalah ujian, potensi bencana dan musibah akan selalu ada mengiringi perjalanan hidup manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Bisa bersabar atau lantas berputus asa? Tetap bersyukur atau malah kufur? Yang pasti, harapan akan masa depan yang lebih baik akan selalu ada. Bukankah semakin pekat malam, semakin dekat pula dengan fajar? Semakin berat masalah, semakin dekat dengan jalan keluar. Semakin lelah dalam berjuang, semakin dekat pula dengan kemenangan. Semuanya mudah bagi Allah SWT. Tinggal bagaimana kita mendekat pada-Nya, tidak jemu memohon dan berharap pada-Nya, tidak berhenti bersabar dan berjuang di Jalan-Nya. Ujian kehidupan memang tidak ringan, semakin Allah SWT mencintai hamba-Nya, semakin berat pula ujian yang diberikan-Nya. Semoga Allah SWT memberikan kita punggung yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai ujian.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)

Pendidikan 2021, Adaptasi Pembelajaran Daring

Formal education will make you a living, self-education will make you a fortune” (Jim Rohn)

Memasuki tahun 2021, pandemi Covid-19 belum terlihat akan segera usai, termasuk di Indonesia. Data kasus harian per 6 Januari 2021 manunjukkan angka 8.854 kasus baru. Jumlah yang melampaui rekor kasus harian sebelumnya pada 3 Desember 2020 lalu sebesar 8.369 kasus. Dan jika melihat kurva Covid-19 di Indonesia yang masih terus menanjak, sepertinya tinggal menunggu waktu rekor kasus harian Covid-19 akan kembali dipecahkan. Optimisme untuk segera memulai pembelajaran tatap muka per Januari 2021 yang sempat muncul paska Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi sepertinya perlu ditahan kembali. Memperhatikan peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia dan dunia, satu per satu daerah ataupun institusi pendidikan justru menegaskan akan melanjutkan pembelajaran daring semester ini.

Dalam evaluasi pemerintah, semakin lama pembelajaran tatap muka tidak terjadi, semakin besar dampak negatif yang terjadi pada anak. Dampak negatif tersebut berupa ancaman putus sekolah, kendala tumbuh kembang, serta tekanan psikososial dan kekerasan dalam rumah tangga. Memang jika dilihat dari sisi efektivitas pembelajaran, Belajar Dari Rumah (BDR) ini lebih punya banyak keterbatasan dibandingkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Dari segi fasilitas misalnya, tidak semua guru dan siswa memiliki gawai yang memadai, beberapa wilayah masih terkendala sinyal, dan tidak sedikit yang terkendala kuota untuk melakukan pembelajaran daring. Pembelajaran daring juga lebih terbatas waktunya. Belum lagi keterbatasan kemampuan orang tua dalam mengajar dan mendampingi selama BDR, baik dari segi waktu maupun kompetensi. Secara teknis, pembelajaran daring juga lebih sulit dalam membangun, menjaga, dan memastikan siswa fokus belajar. Siswa juga relatif lebih cepat bosan karena kehilangan suasana bersosialisasi dengan teman-temannya. Dan masih banyak catatan lain dalam implementasi pembelajaran daring.

Sayangnya, PTM bukan solusi juga untuk pendidikan di masa pandemi. Pembelajaran daring tetap harus dilanjutkan, dengan beberapa perbaikan (improvement) dari apa yang sudah berjalan mulai Maret 2020 lalu. Pembelajaran daring tahun lalu memang masih sangat kacau. Komponen pendidikan mulai dari guru, siswa, orang tua, pemerintah, hingga kurikulum dan infrastruktur seakan terkaget-kaget. Jauh dari kata siap. Tahun ini seharusnya komponen pendidikan tersebut bisa lebih beradaptasi dengan kondisi yang ada. Ekosistem pendidikan daring dapat lebih baik dipersiapkan. Komunikasi dan pembagian peran antara guru dengan orang tua juga bisa lebih apik. Metode pembelajaran yang paling tepat juga seharusnya sudah mulai terlihat. Ada karakteristik pendidikan di setiap jenjang pendidikan, di masing-masing wilayah yang dapat ditemukenali. Sehingga pendidikan di masa pendemi ini tidak hanya mengenal satu pola solusi pembelajaran.

Dalam hal kompetensi keterampilan dan praktikum, pembelajaran daring memang tidak akan seefektif pembelajaran tatap muka. Pun demikan dalam hal kompetensi sikap dan perilaku. Namun bukan berarti tak ada yang bisa dilakukan. Sebagaimana materi dan kurikulum pendidikan di masa pandemi dapat disesuaikan dan disederhanakan, pendidikan praktik dan pendidikan karakter pun dapat disesuaikan dan disederhanakan. Bukan dihilangkan karena berbagai keterbatasan. Bagaimanapun, pendidikan adalah pembelajaran yang menyeluruh. Bahkan dalam pembelajaran daring yang turut membuka akses informasi lebih luas ke peserta didik, pendidikan karakter justru harus dikuatkan.

Pembelajaran daring sebenarnya menjadi tantangan untuk optimalisasi teknologi informasi dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa jadi peluang pengembangan pendidikan terutama untuk siswa pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Di tengah begitu berkembangnya teknologi informasi, keaktifan dan kemandirian peserta didik dalam belajar juga perlu semakin dibiasakan. Bagi guru dan orang tua sebagai pendidik, kondisi ini juga dapat mengupgrade kemampuan literasi teknologi informasi dan komunikasi mereka agar tidak ketinggalan zaman. Pembelajaran daring juga mampu merangsang kreativitas dan inovasi pembelajaran. Setelah pandemi terkendali dan masa pembelajaran daring selesai, di masa transisi kemungkinan pembelajaran juga masih akan menggunakan system hybrid. Jadi sebagaimana pola Work from Home (WfH), BDR bisa jadi tidak benar-benar akan ditinggalkan. Dan jika fase transisi ini ternyata butuh waktu lebih lama, bukan tidak mungkin pola hybrid ini yang akan menjadi ‘new normal’ dalam dunia pembelajaran. Karenanya kemahiran dalam beradaptasi terhadap pembelajaran daring ini begitu krusial, tidak hanya untuk hari ini tetapi juga di masa mendatang.

Bagaimanapun, pembelajaran tatap muka memang tidak tergantikan. Ada komponen pendidikan yang seakan menghilang dengan hanya pembelajaran daring. Namun kesehatan dan keselamatan masyarakat juga perlu diutamakan. Pembelajaran daring akan lebih efektif dalam mengurangi penyebaran Covid-19 dengan catatan siswa disiplin menerapkan protokol kesehatan di lingkungan sekitarnya. Jika siswa dan masyarakat abai ya sama saja, malah pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan ketat bisa jadi lebih bermanfaat. Menjadi penting bagi stakeholder pendidikan untuk segera beradaptasi dengan pembelajaran daring dan berkolaborasi menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung pembelajaran. Kita tak tahu sampai kapan pembelajaran yang kurang ideal ini masih akan terus berlangsung. Semoga pandemi ini segera berlalu sehingga proses pendidikan dan pembelajaran bisa lebih efektif. Bukan sekadar kembali melakukan pembelajaran tatap muka yang belum tentu efektif. Namun terus memperbaiki sistem pendidikan dan pola pembelajaran agar semakin efektif.

Learning is not the product of teaching. Learning is the product of the activity of learners.” (John Holt)

2021, Tahun Masih Harus Bersabar

Aku mencari segala bentuk rezeki tetapi aku tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar
(Umar bin Khattab r.a.)

Akhirnya, tahun 2020 berlalu. Ada banyak harapan di tahun 2021 ini. Pandemi virus corona sepanjang tahun 2020 benar-benar membuat dunia berselimut duka dan kekhawatiran. Banyak event nasional dan internasional di tahun 2020 yang ditunda atau dibatalkan, mulai dari konser musik, festival film, hingga Olimpiade di Tokyo. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia yang tetap berjalan barangkali termasuk anomali. Dalam kaleidoskop 2020 di bidang apapun, tidak terlepas dari dampak yang dirasakan akibat pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya bidang kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan, sosial budaya, politik, hukum, hubungan internasional, agama, hingga teknologi informasi dan olahraga tahun 2020 pasti terkait dengan persoalan pandemi ini.

Memasuki tahun 2021, pandemi belum juga berakhir. Bahkan angka statistiknya terus bertambah. Kasus Covid-19 tercatat sudah menembus 80 juta dengan korban jiwa lebih dari 1,8 juta di seluruh dunia. Di luar kasus Covid-19, awal tahun 2021 ini sebenarnya relatif lebih baik daripada awal tahun 2020. Awal tahun lalu sudah diwarnai dengan isu World War III karena memburuknya hubungan AS dengan Iran. Beberapa negara di Timur Tengah juga ikut bergejolak. Indonesia juga bersitegang dengan China yang mengklaim Laut Natuna. Awal tahun 2020 juga ditandai dengan banjir bandang di Jakarta, kebakaran hutan Australia, dan erupsi Gunung Taal di Filipina. Belum lagi kasus Reynhard Sinaga yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Semoga tidak terulang di tahun ini.

Di tahun 2021 ini sepertinya kesabaran masih akan terus diuji. Ada lebih dari 110 ribu kasus aktif Covid-19 di Indonesia dari sekitar 750 ribu kasus yang terdata, dengan korban jiwa lebih dari 22 ribu orang. Banyak ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia penuh. Itu belum termasuk klaster liburan akhir tahun. Petugas medis perlu lebih bersabar menghadapi pasien Covid-19 yang tak jua surut. Sudah 10 bulan sejak kasus pertama corona di Indonesia diumumkan, kebutuhan ekonomi harus terus terpenuhi, masyarakat tak bisa lagi ‘ditertibkan’ untuk diam saja di rumah. Butuh kesabaran untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimana masyarakat semakin abai. Di dunia pendidikan, banyak orang tua yang sepertinya juga masih harus bersabar untuk mendidik anaknya belajar di rumah karena pembelajaran tatap muka urung dilakukan.

Masyarakat Indonesia juga masih harus bersabar menghadapi pemerintah negeri ini. Ketidaktahuan pemerintah akan masuknya mutasi virus corona di Indonesia beberapa hari lalu seakan dejavu dengan kondisi awal tahun lalu saat pemerintah menyatakan belum ada kasus Covid-19 di tanah air pun ada beberapa warga asing yang terinfeksi setelah berkunjung ke Indonesia. Keputusan menutup kedatangan Warga Negara Asing (WNA) di awal tahun ini juga terasa terlambat hampir setahun. Dan memang butuh kesabaran ekstra dalam menyikapi kebijakan pemerintah Indonesia. Sepanjang tahun 2020, sudah ada puluhan pernyataan kontroversial dari pejabat pemerintah. Belum lagi ditambah berbagai pelanggaran hukum dan kesewenang-wenangan yang dilakukan. Jika pada 2020 masih ada Donald Trump, Presiden AS yang eksentrik dan kerap jadi olok-olok. Dengan tak terpilihnya lagi Trump, bukan tak mungkin Indonesia akan banyak mendapat sorotan dunia, bukan dalam artian yang positif.

Umat Islam masih harus bersabar. Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Habib Rizieq Shihab (HRS) dipenjara tak lama setelah 6 orang pengawalnya tewas ditembak polisi. Ironis, HRS dipenjara di Rutan Narkoba karena melanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, sementara beberapa bulan lalu puluhan ribu narapidana dibebaskan kerena Covid-19. HRS ditetapkan sebagai tersangka tanpa menghilangkan satupun nyawa, sementara para penembak laskar FPI tidak diusut, apalagi dihukum. Penangkapan HRS diproses begitu cepat pun tidak merugikan negara seperti kasus BLBI, Jiwasraya, e-KTP, ataupun Pelindo. Bahkan HRS sudah membayar denda 50 juta. Sementara Harun Masiku dan Sjamsul Nursalim yang jelas merugikan negara tak jua tertangkap. Menteri KKP dan Menteri Sosial yang diciduk KPK karena kasus korupsi memang di-reshuffle, namun jatah menteri dari partai lumbung koruptor tidaklah berkurang. Boro-boro ditindak atau dibubarkan, yang ada malah kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader partai penguasa menguap begitu saja. Apalagi kasus yang menyeret ‘anak Pak Lurah’. Barangkali harus menunggu Pak Lurah lengser dulu untuk menuntut keadilan, itupun jika Pak Lurah barunya berani menuntut.

Dan masyarakat dunia masih harus bersabar. Vaksin bukan obat. Alih-alih mengobati, vaksin lebih bersifat preventif. Butuh waktu untuk membuatnya, tambahan waktu untuk memproduksi vaksin yang efektif, tambahan waktu lagi untuk mendistribusikannya, serta lebih banyak waktu lagi untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit menular. Belum lagi adanya kelompok anti vaksin dan penganut teori konspirasi. Umat manusia perlu lebih bersabar agar tidak menimbulkan bencana lain yang lebih besar. Bagaimanapun, banyak bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Ditambah lagi potensi bencana alam. Selain pandemi Covid-19, tahun 2020 lalu ada berbagai bencana dengan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit, mulai dari kebakaran, banjir bandang, badai besar, letusan gunung berapi, gempa bumi, serangan belalang, angin topan, ledakan, hingga kerusuhan sipil dan krisis kemanusiaan. Dan tidak ada jaminan bencana serupa tak terulang di tahun ini.

Lalu sampai kapan harus bersabar? Sampai kapanpun, sebab kesabaran sejatinya tiada batas. Sabar secara bahasa artinya menahan diri. Sedangkan secara syari’at, sabar adalah menahan diri dalam tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian atau musibah. Jadi batas kesabaran adalah ketika tak ada lagi ketaatan yang harus dilakukan, kemaksiatan yang harus dihindari, dan musibah yang harus dihadapi. Ya, kesabaran harus ada sepanjang hayat. Kesabaran inilah yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian, tetap optimis, menikmati proses kehidupan, menjauhkan dari penyakit, keberuntungan yang baik, dan derajat tinggi di surga. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang sabar, semakin sabar di tahun ini, dan terus bersabar di tahun-tahun selanjutnya.

Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku
(Ali bin Abi Thalib r.a.)