Monthly Archives: April 2021

Kalau Ramadhan Bisa Menyapa…

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelenggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Kalau bulan bisa ngomong, ia akan mengungkapkan kecemburuannya pada Ramadhan. Bagaimana tidak, Ramadhan ini begitu spesial dan dianakemaskan. Bukan hanya berlimpah berkah dan ampunan, serta menjadi bulan yang identik dengan Al Qur’an, dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hitungan bulan seakan tak ada artinya dibandingkan dengan suatu malam di bulan Ramadhan. Jika bulan-bulan lain bisa menuntut, tentu mereka akan meminta kesetaraan, semua bulan seperti bulan Ramadhan. Dimana pintu-pintu kebaikan begitu terbuka luas. Aktivitas ibadah pun seakan begitu dimudahkan.

Kalau setan bisa protes, ia akan menggugat bulan Ramadhan. Bagaimana tidak, di bulan Ramadhan ini mereka dibelenggu tak dapat leluasa menggoda manusia. Memang masih ada kepanjangan tangan mereka dari bangsa jin dan manusia, namun tentu kerjanya tidak semudah di luar bulan Ramadhan. Di bulan ini berbuat baik menjadi lumrah. Sementara perbuatan tidak baik menjadi cela. ‘Puasa ga boleh bohong’… ‘Lagi puasa jangan ngomongin orang’… ‘Kalo marah batal lho puasanya’… Jika setan-setan bisa berdemonstrasi, mereka akan melakukan aksi massa menuntut keadilan. Mengapa tidak ada semenit atau bahkan sedetikpun malaikat dibelenggu sehingga manusia sulit berbuat baik? Dan mereka harus menerima dibelenggu selama sebulan lamanya!

Kalau Ramadhan bisa menyapa, ia akan bertutur ramah kepada orang beriman yang antusias bersiap menyambutnya. Mengabarkan betapa berharganya kesempatan beramal shalih ketika pintu-pintu surga terbuka lebar sementara pintu-pintu neraka ditutup. Mengingatkan untuk dapat menjaga konsistensi berbuat baik sepanjang Ramadhan, tidak hanya giat di awal. Jika Ramadhan bisa baper, ia akan bersedih menyaksikan manusia yang membiarkannya berlalu begitu saja. Mengasihani manusia yang masih menuruti syahwatnya serta tidak bertambah kebaikannya. Padahal ia hanya datang menyapa sesaat. Sebulan adalah waktu yang teramat singkat. Sementara tidak ada jaminan tahun depan manusia akan kembali menjumpainya.

“Ya Allah, perjalankanlah bulan ini kepada kami dengan penuh kebajikan dan iman, serta keselamatan dan Islam. Rabb-ku dan Rabb-mu (bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi)