Pilih Topskor Atau Juara Liga?

Football is a team sport and not an individual sport. We win as a team, and every individual is better if we are part of the team” (Fernando Torres)

Gelaran liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 berakhir sudah. Selain Bundesliga dengan Bayern Munich nya, di berbagai liga top Eropa muncul klub juara baru yang mengandaskan juara bertahan. Di Serie A, Inter Milan memutus dominasi Juventus. Di La Liga, Atletico Madrid mengalahkan dominasi Real Madrid dan Barcelona. Di league 1, Lille berhasil mematahkan dominasi PSG. Di Liga Portugal, Sporting Lisbon sukses mengakhiri dominasi Porto dan Benfica. Dan di setiap liga, sudah tentu ada pencetak gol terbanyak alias top scorer. Menariknya, mengesampingkan Bundesliga dengan Bayern Munich nya, banyak top scorer liga tidak berhasil membawa timnya menjuarai liga.

Cristiano Ronaldo yang merupakan pemain aktif dengan gol terbanyak di dunia, di musim ketiganya bersama Juventus akhirnya berhasil menjadi top scorer Serie A. Di musim perdananya 2018/2019, 21 gol Ronaldo kalah dari Quagliarella (Sampdoria) dan Zapata (Atalanta) yang mencetak 26 dan 23 gol. Di musim 2019/2020, 31 golnya tidak cukup untuk mengalahkan 36 gol Immobile (Lazio). Namun di dua musim sebelumnya, Ronaldo sukses membawa Juventus menjadi juara Serie A, sementara ketika Ronaldo berhasil menjadi top scorer Serie A, Juventus harus puas mengakhiri musim di posisi ke-4. Bahkan jika ditarik lagi ke belakang, terakhir kali top scorer Serie A menjuarai liga terjadi 12 tahun lalu pada musim 2008/2009, saat Ibrahimovic dengan 25 golnya berhasil membawa Inter Milan juara Serie A.

Di pentas La Liga, tanpa Ronaldo, Lionel Messi sukses menjadi top scorer La Liga dalam 5 musim terakhir. Namun torehan 30 golnya hanya mampu membawa Barcelona menutup musim di posisi ke-3, terpaut 7 dan 5 poin dari Atletico Madrid dan Real Madrid. Luis Suarez yang merupakan top skor juara La Liga Atletico Madrid dengan 21 golnya hanya ada di urutan ke-4 daftar top skor La Liga. Kondisi serupa terjadi di Ligue 1. Kylian Mbappe berhasil menjadi top scorer Ligue 1 untuk tiga musim berturut-turut. Namun 27 golnya hanya bisa mengantarkan PSG di posisi runner-up. Padahal jumlah tersebut jauh di atas Burak Yilmaz, top skor juara Ligue 1 Lille yang ‘hanya’ mencetak 16 gol.

Manchester City musim ini begitu dominan di Premier League. Paling banyak mencetak gol, paling sedikit kebobolan, ball possession dan pass accuracy tertinggi, serta sudah memastikan diri sebagai juara Premier League jauh-jauh hari. Namun Manchester City tidak dominan dalam urusan top scorer. Ilkay Gundogan yang merupakan top skor City ‘hanya’ mencetak 13 gol. Kalah jauh dari nama-nama seperi Kane, Salah, dan Fernandes. Bahkan jumlah golnya lebih sedikit dibandingkan Bamford, Son, Calvert-Lewin, Vardy, ataupun Watkins. Kondisi serupa terjadi di Liga Belanda. Ajax Amsterdam begitu mendominasi, paling banyak mencetak gol, paling sedikit kebobolan, ball possession, shot per game dan pass accuracy tertinggi, serta sudah memastikan diri sebagai juara Eredivisie jauh-jauh hari. Namun Dusan Tadic, top skor Ajax dengan 14 golnya hanya ada di peringkat ke-8 daftar top skor bersama Henk Veerman (SC Heerenveen) dan Lennart Thy (Sparta Rotterdam). Sementara top skor Eredivisie justru diperoleh Giakoumakis (26 gol) dari klub VVV-Venlo yang terdegradasi musim ini setelah hanya mencatatkan 6 kemenangan dan 5 laga imbang.

Sudah kerap terjadi, kesuksesan menjadi top skor tidak berbanding lurus dengan keberhasilan menjadi juara liga. Di Liga Champions musim ini pun juga menunjukkan bahwa Erling Haaland dengan 10 golnya berhasil menjadi top skor namun hanya mampu membawa Borussia Dortmund menjejak perempat final Liga Champions. Hal ini dapat dipahami, sosok ‘superman’ dalam tim akan memudahkan lawan membaca pola permainan. Cukup ‘matikan’ saja figur sentral seperti Ronaldo atau Messi. Atau lihat saja betapa tumpulnya Spurs tanpa sosok Kane dan atau Son. Atau bagaimana vitalnya peran Giakoumakis yang mampu mengamankan 18 poin bagi VVV-Venlo di Eredivisie musim ini. Tanpanya, VVV-Venlo akan menyudahi liga hanya dengan 5 poin hasil sekali menang dan dua kali imbang. Faktanya, VVV-Venlo kalah di semua pertandingan Eredivisie ketika Giakoumakis tidak bermain.

Lebih repotnya lagi, ego kerap muncul pada figur sentral ini. Padahal biasanya ‘superman’ ini kerap sudah difasilitasi dalam mengeksekusi penalti ataupun set piece. Kondisi berbeda diperlihatkan finalis liga champions. Tercatat ada 16 pemain Chelsea yang mencetak gol di Premier League, 6 pemain di antaranya terlibat dalam minimal 7 gol. Di Manchester City juga ada 16 pemain yang mencetak gol di Premier League, 8 di antaranya terlibat dalam minimal 8 gol. Relatif merata tanpa ada yang benar-benar menonjol. Rotasi pemain yang kerap dijalankan pun semakin memperlihatkan bahwa kedua finalis ini bermain sebagai tim. Chelsea memiliki 15 pemain yang pernah terpilih sebagai man of the match di laga premier league musim ini, sementara Manchester City ada 12 pemain.

Pada akhirnya, tim yang berorientasi pada ‘superteam’ lebih berpeluang juara dibandingkan tim yang mengandalkan ‘superman’. Gelar individu barangkali bisa diraih para ‘superman’ ini, namun tidak mudah memadukannya dengan gelar tim. Karena ada ego yang harus ditekan, kepercayaan yang perlu ditumbuhkan, dan kelapangan hati yang mesti dihidupkan. Bagaimanapun, satu tim dalam sepakbola terdiri atas 11 pemain, 1 atau 2 pemain sehebat apapun tentu tidak cukup. Para pemain sentral ini sudah memahami hal ini, bahkan tidak jarang menyampaikan statement bahwa yang terpenting adalah kemenangan tim dan bukan rekor pribadi. Sayangnya, kadang-kadang hal tersebut tidak tampak di lapangan. Apalagi mereka juga membawa bebannya sendiri sebagai pemain yang diandalkan. Padahal formulanya sederhana: tim unggul akan melahirkan pemain-pemain unggul, namun pemain unggul belum tentu dapat menghadirkan tim unggul. So, mau jadi ‘superman’ atau ‘superteam’?

No individual can win a game by himself” (Pele)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>