Pembuktian Mereka yang Terbuang

Barcelona didn’t value me. They underestimated me and Atletico opened their doors to give me an opportunity. I will always be grateful to this club for trusting in me.” (Luis Suarez)

Gelaran liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 usai sudah. Beberapa liga seperti Serie A Italia, Eredivisie Liga Belanda, Bundesliga Jerman, Liga Premier Inggris, ataupun Primeira Liga Portugal sudah ada kepastian juaranya jauh hari sebelum kompetisi berakhir. Namun untuk Ligue 1 Perancis dan La Liga Spanyol, penentuan juara liga baru dapat dipastikan di pertandingan terakhir. Di Ligue 1, Lille langsung tancap gas dengan gol di menit ke-10, dan digandakan semenit setelah jeda. Angers hanya bisa membalas 1 gol di menit ke-91. Di pertandingan lain, gol PSG di menit ke-37 yang digandakan di menit ke-71 tidak cukup menjadikan PSG mempertahankan gelar Ligue 1 untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Gelar juara Ligue 1 pun berpindah ke Lille yang terakhir memperolehnya 10 tahun lalu.

Di pertandingan terakhir La Liga 21 jam sebelumnya, drama terjadi di menit ke-18 ketika Real Valladolid yang butuh keajaiban untuk selamat dari jurang degradasi berhasil membobol gawang pemuncak klasemen Atletico Madrid. Namun dua menit berselang, Real Madrid yang butuh kemenangan untuk mengambil alih puncak klasemen justru kebobolan oleh Villareal yang sedang berjuang menembus 6 besar zona kompetisi eropa. Sampai turun minum, duo Madrid yang berpeluang menjadi jawara La Liga dalam posisi tertinggal. Selepas jeda, hanya butuh 12 menit bagi Atletico Madrid untuk menyamakan skor melalui Correa, dan 10 menit kemudian Luis Suarez sukses membuat Atletico berbalik unggul. Di pertandingan lain, Real Madrid baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-87 dan sukses melakukan comeback 4 menit kemudian. Duo Madrid pun menang dengan skor 2-1, Villareal gagal menembus zona kompetisi eropa, dan Real Valladolid pun terdegradasi.

Luis Suarez menjadi sorotan dalam keberhasilan Atletico Madrid meraih gelar La Liga ke-11 setelah 6 musim terakhir didominasi oleh Real Madrid dan Barcelona. Bukan hanya karena berhasil mencetak gol penentu kemenangan, Luis Suarez baru musim ini bergabung dengan Atletico Madrid setelah ‘dibuang’ Barcelona yang menganggapnya terlalu tua. Luis Suarez dengan torehan 21 golnya di pentas La Liga menjadi top skorer klub, setara dengan jumlah gol Llorente (12 gol) dan Correa (9 gol). Gol-golnya pun seringkali menentukan hasil akhir, ada 21 poin yang didapat dari 21 golnya, tertinggi dari pemain manapun di La Liga musim ini. Pun tertinggal jauh dari sahabatnya Leonel Messi (30 gol) yang memperoleh gelar El Pichichi La Liga musim ini, torehan gol Suarez ini sebanding dengan jumlah gol striker Barcelona lain yang lebih muda, yaitu Griezmann (13 gol), Dembele (6 gol), dan Braithwaite (2 gol). Pembuktian yang berkelas. Uniknya, kejadian serupa terjadi 7 tahun lalu ketika David Villa ‘dibuang’ Barcelona ke Atletico Madrid dengan kedatangan Neymar, dan membawa Atletico menjadi juara La Liga di musim pertamanya.

Masih lekat dalam ingatan pula ketika tahun lalu Barcelona dibantai Bayern Munich 2-8 di perempat final Liga Champions. Philippe Coutinho, pemain ‘buangan’ Barcelona yang berstatus pinjaman turut mencatatkan dua gol dan satu assist menghadapi tim yang meminjamkannya, pun baru diturunkan di menit ke-75 sebagai pemain pengganti. Kisah pembuktian ‘mantan’ juga bisa dilihat di Inter Milan yang dihuni beberapa pemain ‘buangan’ Liga Premier Inggris seperti Young, Lukaku, Sanchez, dan Darmian (Manchester United) dan Christian Eriksen (Tottenham Hotspur). MU dan Spurs pun sempat menjadi finalis, mengakhiri musim tanpa piala, sementara Inter Milan menjadi juara Serie A Italia setelah terakhir meraihnya 11 tahun lalu. Pembuktian ‘mantan’ juga bisa dilihat di Liga Champions, dimana Thomas Tuchel yang berhasil membawa PSG memenangkan dua gelar Ligue 1 termasuk domestic quadruple dan mengantarkan final Liga Champions musim lalu, dipecat PSG secara sepihak. Tak lama berselang, Tuchel menjadi pelatih Chelsea dan berhasil menjadi juara Liga Champions hanya dalam waktu 4 bulan masa kepelatihannya. Sementara PSG gagal di semifinal Liga Champions dan harus puas di posisi runnerup Ligue 1.

Pembuktian mereka yang terbuang ini berbeda dengan kasus pindahnya pemain karena ingin memperoleh trofi di klub lain yang dinilainya lebih potensial. Pembuktian mereka yang terbuang ini juga berbeda dengan kasus pindahnya pemain hanya karena urusan uang. Keduanya adalah pilihan pragmatis yang rasional. Tanpa perlu menyebut nama, tidak sedikit pemain yang memilih opsi ini. Mereka tidak benar-benar terbuang, pun sebagian di antara mereka memperoleh cap pengkhianat dari fans klub lamanya. Kalaupun pada akhirnya mereka sukses dengan klub barunya, nuansa pembuktiannya akan sangat berbeda dengan mereka yang pindah karena ‘terpinggirkan’. Emosinya akan berbeda.

Bagaimanapun, ada motivasi kuat setelah ‘diremehkan’. Ada kebahagiaan tersendiri mendapati diri lebih baik dari apa yang orang lain prasangkakan. Di sisi lain, menjadi penyesalan tersendiri bagi mereka yang salah dalam menilai dan membuat keputusan. Walaupun pihak ini biasanya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Mengatakan turut berbahagia dengan kesuksesan mereka yang pernah dipinggirkan, pun ada sesak di hati yang tidak bisa diutarakan. Karenanya, menjadi penting untuk mengawal proses perpindahan pemain dengan cara yang baik. Sehingga kesan yang muncul pun baik. Jika pun ternyata pemain yang dilepas memperoleh kesuksesan, pihak klub akan tetap memperoleh kredit positif. Klub hebat yang menyebarkan pemain-pemain hebat. Bukan klub bodoh yang membuang dan menyia-nyiakan talenta hebat. Apalagi dalam dunia sepakbola, yang telah ‘dibuang’ mungkin saja akan ‘dipungut’ lagi di kemudian hari.

Tell me I can’t, then watch me work twice as hard to prove you wrong” (Neymar Jr.)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>