Antara ‘Ad dan Tsamud (2/2)

Kaum ‘Ad dan Tsamud diberikan tenggat waktu sebelum diazab dan mereka sama-sama tidak mau bertaubat. Ketika tanda azab berupa kekeringan menimpa ladang dan kebun kaum ‘Ad, Nabi Hud a.s. masih berusaha meyakinkan mereka, “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” Kaum ‘Ad berkata: “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” (QS. Hud: 52-54). Sementara Nabi Saleh a.s. berkata, “Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat. Mereka membunuh unta itu, maka berkata Saleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 64-65).

Dan akhirnya, kesudahan kaum ‘Ad dan Tsamud pun sama, sama-sama dibinasakan. “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” (QS. Fushshilat: 13). Teknisnya memang tidak persis sama, hal ini justru menunjukkan betapa mudah dan banyaknya cara jika Allah SWT hendak mengazab suatu kaum. Kaum ‘Ad diazab dengan beragam cara. Dimusnahkan oleh suara yang mengguntur, menjadikan mereka seperti sampah yang dibawa banjir (QS. Al Mu’minun: 41). Kemudian dengan angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan mereka menjadi tak tampak lagi kecuali bekas tempat tinggal mereka (QS. Al Ahqaf: 24-25), atau angin yang membinasakan, yang tidak membiarkan suatu apapun yang dilandanya dan menjadikannya seperti serbuk (QS. Adz Dzariyat: 41-42), atau angin yang sangat bergemuruh dalam beberapa hari (QS. Fushshilat: 16), atau angin kencang yang terus menerus sehingga membuat mereka bergelimpangan bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya (QS. Al Qamar: 19-20). Dikatakan pula sebagai angin topan yang sangat dingin, yang melanda selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, dan menjadikan kaum ‘Ad mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk), serta tidak menyisakan seorang pun di antara mereka (QS. Al Haqqah: 6-8).

Kaum Tsamud tak lebih baik, azabnya juga beragam. Dalam tafsir Ibnu Katsir, selama tiga hari masa penangguhan azab, wajah mereka berubah. Menjadi kuning di hari pertama, lalu menjadi merah di hari kedua, kemudian menjadi hitam di hari ketiga. Kemudian kaum Tsamud diazab dengan gempa yang menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka (QS. Al A’raf: 78). Juga disebutkan bahwa azabnya adalah suara yang sangat keras (QS. Al Haqqah: 5), atau suara mengguntur yang menimpa sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya (QS. Hud:67), atau suara keras yang mengguntur di pagi hari (QS. Al Hijr: 83), atau suara keras mengguntur yang menjadikan mereka seperti batang-batang kering yang lapuk (QS. Al Qamar:31). Juga disebutkan mereka diazab dengan sambaran petir (QS. Fushshilat: 17), atau mereka disambar petir sedang mereka melihatnya, mereka tidak mampu bangun juga tidak mendapat pertolongan (QS. Adz Dzariyat: 44-45).

Mentadabburi ayat-ayat tentang azab umat-umat terdahulu semestinya mampu membuat kita merenung. Betapa besarnya kuasa Allah SWT dan betapa mudah bagi-Nya untuk membinasakan suatu kaum. Caranya pun banyak, mulai dari melibatkan makhluk seukuran virus atau bakteri, hingga benda langit berukuran besar. Namun jika di masa lampau, azab begitu terlihat, di masa sekarang kita perlu lebih berhati-hati. Balasan atas kekafiran dan kemaksiatan tidak sesegera itu. Melakukan perbuatan dosa pun terasa semakin ringan. Nyaman dalam kelalaian. Kisah hancurnya umat terdahulu mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur, mewawas diri dan tidak sombong. Tidak ada daya upaya yang bisa dilakukan manusia, kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT.

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
(QS. At Taubah: 70)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>