Daily Archives: August 20, 2021

Yang Terbaik Bagimu

Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja. Indahnya saat itu, buatku melambung, di sisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu. Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu. Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu. Patuhi perintahmu, jauhkan godaan yang mungkin ku lakukan dalam waktuku beranjak dewasa. Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak…
(‘Yang Terbaik Bagimu’, ADA Band feat Gita Gutawa)

Alkisah, hiduplah seorang ayah bersama anak laki-laki semata wayangnya. Istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu, dan semenjak anaknya kuliah di kota sebelah, ia kerap merasa kesepian. Ayah dan anak laki-lakinya ini sangat menyukai otomotif dan kerap menghadiri pameran otomotif yang bisa ditempuh oleh mobil tua ayahnya. Suatu saat di masa liburan kuliah, mereka datang ke sebuah pameran otomotif yang cukup besar. Sambil bergurau, sang ayah menanyakan mobil seperti apa yang disukai sang anak, agar bisa sering pulang menemui ayahnya di kampung. Sang anak pun menjawab dengan antusias bahwa mobil city car keluaran terbaru menjadi favoritnya. Harganya tidak terlampau mahal, namun desainnya cukup elegan. Sang ayah hanya menanggapinya dengan tersenyum.

Waktupun cepat berlalu, sang anak lulus kuliah dengan hasil memuaskan dan langsung mendapat tawaran kerja di kota. Ketika prosesi wisuda, sang ayah tak bisa hadir karena sedang sakit, sementara mobil tuanya pun sudah dijual. Sang anak tampak sangat bersedih, merasa ditinggalkan, bahkan di momen spesial pun harus diikutinya sendiri. Namun rupanya sang ayah masih sempat mengirimkan paket hadiah wisuda ke alamat tempat tinggal anaknya di kota. Sepulang wisuda, dengan bersemangat, sang anak membuka paket hadiahnya, seraya berharap sang ayah memberi kejutan besar. Setelah dibuka, hadiahnya ternyata sebuah kotak kayu yang berukir indah. Sang anak membukanya, dengan harapan ada hadiah berupa kunci mobil di dalamnya. Namun yang ada di dalamnya ternyata ‘hanya’ Al Qur’an yang terlihat bagus sebagai hiasan. Dengan kecewa, ia pun menutup kotak tersebut dan menaruhnya di sudut lemari di kamarnya. Tak lupa ia menelpon ayahnya dan berterima kasih ‘setengah hati’ kepada ayahnya.

Waktupun kian cepat berlalu, sang anak sudah sukses berkarir. Ia sudah mampu membeli mobil yang diidam-idamkannya. Namun kesibukannya seringkali membuatnya tidak sempat pulang ke kampung menjumpai ayahnya. Hingga suatu saat, ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan jatuh sakit dan kemudian meninggal. Setelah prosesi pemakaman dan menyelesaikan berbagai keperluan di kampung, sang anak pun kembali sendirian ke kota dengan penuh kesedihan. Tak terasa air mata mengalir pelan di pipinya. Memasuki rumahnya yang baru, ia mendapati kotak kayu hadiah ayahnya ketika wisuda yang ditaruhnya di pojok lemari. Ia mengusap kotak kayu berukir indah itu seraya membayangkan tangan kasar dan kokoh milik ayahnya. Membuka kotak kayu tersebut dan mengambil Al Qur’an di dalamnya. Karena tak pernah membukanya, ia baru menyadari ada semacam pembatas halaman di Al Qur’an tersebut. Ia buka Al Qur’an di pembatas halaman yang ternyata menunjukkan Surah Luqman, dan ia sangat terkejut. Ternyata kertas yang menjadi pembatas halamannya adalah selembar cek dengan nominal sebesar harga mobil city car yang diidam-idamkannya, dan tertanggal persis dengan waktu wisudanya dulu. Air matanya pun tumpah.

Alif Laam Miim. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah. Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan mereka meyakini adanya akhirat. Merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung…” (QS. Luqman: 1-5). Terbata ia mulai membaca Al Quran yang terasa sudah sangat lama tak disentuhnya. Teringat dulu ayahnya mengajarinya dengan keras agar ia mampu membaca Al Qur’an dengan baik.

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji”. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 12-14). Isaknya semakin keras. Merasa belum banyak berbuat baik kepada ayahnya selagi masih ada kesempatan. Dan kini yang tersisa hanya penyesalan.

Sang anak baru tersadar mengapa ayahnya menjual mobil tuanya. Pantas saja seakan ada ganjalan hati yang dipendam ayahnya hingga akhir hayatnya. Dan sejak wisuda, intensitas interaksi dirinya dengan ayahnya memang sangat berkurang. Begitulah cinta seorang ayah yang kadang kala tidak dimengerti oleh anaknya. Seorang ayah mungkin hampir tidak pernah mengumbar ungkapan cinta secara verbal, namun rasa cintanya tergambar jelas dari kerja keras dan pengorbanannya. Mencoba memberi yang terbaik bagi anaknya, dan menyisakan untuk dirinya sendiri. Tak pernah terlihat mengeluh dan menangis. Bahkan ada cinta dalam amarahnya. Sejenak, berbagai kenangan masa lalunya dengan ayahnya terlintas, membawa kesyahduan yang tak terlukiskan. Sebuah memori indah yang takkan terulang kembali. Hanya ungkapan maaf dan terima kasih yang terlambat untuk disampaikan. Dan untaian do’a yang bisa dipanjatkan, semoga Allah SWT menerima segala amal baiknya, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

…Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya. Ku terus berjanji takkan khianati pintanya. Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya ku mencintaimu. Kan ku buktikan, ku mampu penuhi semua maumu. Andaikan detik itu kan bergulir kembali. Ku rindukan suasana basuh jiwaku, membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu. ‘Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
(‘Yang Terbaik Bagimu’, ADA Band feat Gita Gutawa)