Monthly Archives: March 2022

Buatlah Kegaduhan, Selagi Cari Sensasi Masih Halal

Teko hanya mengeluarkan isi teko. Kata-kata mencerminkan isi hati. Hati yang baik akan mengatakan yang baik, begitu pula sebaliknya.” (Aa Gym)

Penetapan logo halal terbaru yang diterbitkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag membuat gaduh. Penetapan label halal yang dituangkan dalam Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan Label Halal dan berlaku secara nasional tersebut menuai kontroversi. Sebenarnya, standardisasi dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk sertifikasi halal memang sebaiknya diselenggarakan oleh pemerintah, sementara ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menerbitkan logo halal secara legal formal adalah Organisasi Masyarakat (Ormas), bukan badan atau lembaga pemerintah.

Bukan tanpa alasan penetapan logo halal yang baru ini banyak memperoleh cibiran. Pertama, perubahan logo bukanlah hal yang urgen dan substantif. Tak heran ada meme yang menyindirnya dengan langkanya minyak goreng. Ketika ada isu besar yang menyoroti pemerintah, sudah menjadi lumrah ada kebijakan atau statement remeh tidak popular yang kemudian dikelola menjadi kegaduhan. Perubahan logo juga tidak berkolerasi langsung terhadap persoalan sertifikasi halal, berbeda dengan edukasi dan pendampingan UMKM, misalnya. Intinya, kebijakan ini dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak perlu.

Kedua, perubahan logo di tengah kondisi pemerintah yang sedang butuh uang untuk membangun Ibu Kota Negara (IKN) baru justru memunculkan spekulasi baru. Apalagi baru pekan lalu MUI mengingatkan pemerintah agar tidak cap penceramah radikal hanya karena kritik pemerintah. Imbauan ini muncul setelah pada awal bulan Maret ini Presiden Jokowi berpesan kepada TNI-Polri untuk tidak mengundang penceramah radikal dan tidak ikutan debat soal IKN. Coincidence? I think not! Terkesan ada aroma bisnis pula. Bagaimanapun, perubahan administrasi, apalagi skala nasional, adalah proyek besar. Belum lagi dampak mekanisme penerbitan sertifikasi halal ke depannya yang dikelola langsung oleh pemerintah.

Ketiga, tidak sedikit kegaduhan yang dibuat pejabat negara belakangan ini, khususnya ketika ada isu khusus yang sedang disoroti. Kegaduhan yang jika ditanggapi membuang energi, jika dibiarkan semakin menjadi-jadi. Apalagi sosok Menteri Agama bukan kali ini saja membuat gaduh. Belum ada sebulan ketika Gus Yaqut menjadi sorotan publik usai mengeluarkan pernyataan kontroversial seakan membandingkan suara toa masjid dengan gonggongan anjing. Kemudian dalam sebuah webinar yang digelar oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 24 Oktober 2021 lalu, Yaqut mengungkapkan bahwa jabatan Menteri Agama bukan merupakan hadiah negara untuk umat Islam secara keseluruhan, melainkan hanya untuk NU. Pernyataan kontroversial tersebut bahkan membuat beberapa pihak sampai mengusulkan pembubaran Kementerian Agama. 5 April 2021 lalu, Gus Yaqut juga melontarkan pernyataan kontroversi yang berharap semua agama bisa diberi kesempatan untuk memulai doa dalam suatu acara formal. Tahun lalu juga beredar video Gus Yaqut mengucapkan selamat hari raya Naw-Ruz 178 EB ke komunitas Baha’i, sementara Baha’i oleh MUI diangga sebagai aliran sesat. Bahkan sehari usai dilantik menjadi Menteri Agama pada 24 Desember 2020, Gus Yaqut menyebut jika negara harus melindungi semua kaum yang ada termasuk Syiah dan Ahmadiyah.

Keempat, tidak sedikit masyarakat yang skeptis dan kehilangan kepercayaan pada pemerintah, walaupun sudah sewajarnya hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikelola oleh negara. Hal ini tentunya tidak terlepas dari track record pemerintah, terutama dalam hal penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Ironisnya, Kementerian Agama (Kemenag) termasuk yang terkorup, KPK bahkan pernah menempatkan Kemenag sebagai kementerian dengan indeks integritas terendah. Pada 2005, mencuat kasus korupsi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan Dana Abadi Umat di Departemen Agama tahun 2003-2005 yang melibatkan mantan Menteri Agama, Said Agil Husin al Munawar dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggara Haji (BIPH), Taufik Kamil yang merugikan negara hingga 719 Miliar rupiah. Said Agil ini sempat tenar ketika menjabat karena memerintakan penggalian ‘harta karun’ di kompleks Prasasti Batutulis. Kemudian pada 2011-2012, sejumlah pejabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DR) dan pejabat Kemenag mengorupsi dana untuk pengadaan Alquran dan Laboratorium Madrasah. Kemudian ada kasus Penyalahgunaan Dana Haji dan Biaya Operasional Menteri yang dilakukan oleh mantan Menteri Agama, Suryadharma Ali. Selanjutnya, pada 2019 lalu ramai kasus jual beli jabatan yang melibatkan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin, dan Kepala Kanwil Kabupaten Gresik, Muafaq Wirahadi.

Last but not least, desain logo halal baru tak kalah kontroversialnya. Penjelasan panjang dan filosofis terkait makna logo baru jauh dari kata memuaskan. Misalnya sejak kapan warna ungu bermakna keimanan. Logo halal baru memang anti-mainstream, logo halal di banyak negara –baik Islam sebagai agama mayoritas ataupun minoritas—lebih mirip dengan logo halal lama, tanpa lingkaran bertuliskan ‘Majelis Ulama Indonesia’, tentunya. Sederhana, jelas, dan umum. Halal itu jelas. Tidak sedikit pula yang mengkritisi logo baru yang kurang tepat dari perspektif seni kaligrafi. Dan menjadikan gunungan sebagai perwajahan logo halal baru bisa dikatakan sebagai blunder besar. Gunungan wayang identik dengan orang Jawa, tidak mewakili keindonesiaan. Alih-alih menghadirkan nuansa Islam nusantara, kesan yang terasa justru nilai primordialisme dan sukuisme. Alhasil, ramai netizen membuat logo halal baru sesuai kekhasan daerahnya masing-masing, semisal Sumatera Barat dengan rumah gadang-nya, atau Sumatera Selatan dengan jembatan amperanya. Akhirnya, banyak sekali dijumpai logo halal tandingan yang beredar di dunia maya.

Sekontroversial apapun, atau dikritik sebanyak apapun, logo halal baru sudah ditetapkan dan efektif digunakan per 1 Maret 2022 lalu. Belajar dari kasus Roy Suryo yang melaporkan Gus Yaqut terkait penistaan agama bulan lalu, justru balik dilaporkan karena pencemaran nama baik, tampaknya semuanya akan aman ke depannya. Para pendukung pemerintah terjamin keamanannya setidaknya sampai 2024, apalagi kalau Jokowi diperpanjang 3 periode. Karena waktu menuju 2024 semakin sempit, ‘aji mumpung’ harus dioptimalkan. Kebijakan dan legacy perlu segera dibuat mumpung masih punya kewenangan. Seperti yang sudah-sudah, toh nanti isunya akan menguap dan tergantikan. Apalagi publik di Indonesia relatif ‘mudah lupa’. Kegaduhan pun diselesaikan dengan kegaduhan yang lain. Skema ini bisa diulang berkali-kali. Setidaknya selama ‘cari sensasi’ masih halal untuk dilakukan. Hanya butuh waktu kurang dari 15 bulan, seorang Yaqut Cholil Qoumas dikenal di penjuru nusantara. Dan tampaknya masih akan ada rangkaian kegaduhan yang semakin mempopulerkan namanya ke depannya.

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah)

Ramadanmu, Mau Jadi Apa?

Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu…” (Tere Liye dalam ‘Rindu’)

Apa hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita ketika disebutkan kata ‘Ramadan’? Puasa makan dan minum dari fajar hingga petang? Shalat tarawih dan lailatul qadr? Kebisingan bangunin orang untuk sahur? Ngabuburit? Ta’jil dan buka puasa bersama? THR? Mudik lebaran? Atau iklan sirup di TV? Ramadan memang bisa memberikan kesan yang berbeda pada setiap orang. Karenanya, ada yang gembira menyambutnya –dengan beragam alasan masing-masing–, ada yang biasa saja, bahkan (mungkin) ada yang terganggu akan kedatangannya. Barangkali karena shaum atau berpuasa juga bermakna ‘menahan diri’. Ada kebiasaan yang perlu ditahan, nafsu dan keserakahan yang perlu diredam, ataupun kesenangan yang perlu dibatasi.

Bagi banyak orang yang akan kembali bertemu dengan Ramadan, atau dengan kata lain tahun ini bukan Ramadan pertama baginya, tentu Ramadan sebelumnya sudah memberikan kesan tertentu. Kesan inilah yang turut menentukan apa yang dirindukan dari Ramadan. Ibarat ada tamu istimewa yang akan datang setiap tahunnya, tentu ada kesan yang tertinggal. Bisa jadi keramahtamahannya, senyumannya, kecerdasannya, kebijaksanaannya, atau hal lainnya. Kesan itulah yang dirindukan. Jika tanpa kesan, barangkali memang tidak ada kerinduan. Menariknya, kesan yang dirindukan inilah yang nantinya turut menentukan apa yang nanti akan diterima. Besarnya persiapan juga seringkali berbanding lurus dengan besarnya kerinduan. Tidak bersiap-siap untuk menyambut bisa jadi menggambarkan tiada kerinduan.

Lebih jauh lagi, akan seperti apa kesudahan Ramadan, erat kaitannya pula dengan kerinduan ini. Mereka yang benar-benar rindu akan Ramadan bukan hanya akan menyambut kedatangannya dengan suka cita, namun tidak benar-benar meninggalkannya saat Ramadan harus pergi. Buat mereka, Ramadan tidak pernah benar-benar pergi, ia tetap ada disini, menanti kehadirannya kembali, meninggalkan jejak dalam aktivitas sehari-hari. Karenanya, tak perlu ada kerepotan yang luar biasa dalam menyambut kedatangannya, sebab persiapannya sudah dijaga sepanjang tahun. Pembuktian kerinduan seperti inilah yang akan memudahkan proses madrasah Ramadan untuk membentuk insan bertaqwa yang senantiasa bertambah kebaikan setiap tahunnya.

Alumni Ramadan memiliki nilai akhir yang beragam. Ada yang lulus secara memuaskan, ada yang biasa saja, ada juga yang gagal, entah disadari atau tidak. Yang paling merugi adalah mereka yang gagal dan tidak diberikan kesempatan untuk mengulang tahun depan. Karenanya dianjurkan untuk memposisikan bahwa bisa jadi Ramadan ini adalah Ramadan terakhir sehingga kita bisa optimal dalam menjalani prosesnya. Hasil akhir mutlak menjadi kewenangan Allah SWT untuk menilainya, kita hanya bisa berikhtiar dan berdo’a. Ikhtiar itu bisa diawali dengan membangun kesan positif akan kehadiran Ramadan, sehingga ada harapan yang membuncah, disertai dengan mempersiapkan segala sesuatunya seoptimal mungkin, dan membersamainya ketika datang seproduktif mungkin.

Dan tamu itu tak lama lagi akan datang, entah kesan dan hasil seperti apa yang akan ditinggalkannya kali ini. Yang jelas, waktu untuk melakukan persiapan tidak banyak, bahkan kunjungannya pun sebenarnya teramat singkat. Perlu perencanaan matang agar tiap jenak waktu berharga ke depannya bisa dimanfaatkan sesuai dengan yang kita harapkan. Agar Ramadan kita penuh makna, tidak hanya mendapat lapar dan dahaga. Agar di akhir nanti kita bisa melepas kepergiannya dengan air mata kebahagiaan, bukan penyesalan. Agar kebaikan dan keberkahannya senantiasa terus mengalir, bahkan setelah kepergiannya.

Ramadanmu, mau jadi apa? Tentunya #jadimanfaat. Bismillah…

Keunggulan kita atas orang lain tidak ditentukan oleh kenyataan bahwa kita lebih berkuasa, lebih pandai atau lebih kaya. Melainkan ditentukan oleh tingkat manfaat kita atas orang banyak.” (Cak Nun)

Dr. Stone: Akhir Perjalanan Penggila Sains

Manusia suatu saat pasti akan mati, tetapi ilmu mereka tidak akan mati” (Ishigami Senku – Dr. Stone)

Setelah lima tahun, manga berjudul ‘Dr. Stone’ yang serialnya dimuat dalam majalah Weekly Shonen Jump sejak Maret 2017 akhirnya tamat pada chapter 232 di awal Maret ini. Manga yang ditulis oleh Riichiro Inagaki dan diilustrasikan oleh Boichi ini juga sudah dianimasikan dan animenya sudah ditayangkan sejak Juli 2019 lalu. Shuonen bergenre science-fiction adventure ini menceritakan tentang seorang remaja jenius bernama Senku Ishigami bangkit dari pembatuan, 3.689 tahun 158 hari setelah kilatan cahaya hijau misterius mengubah umat manusia menjadi batu. Setengah tahun kemudian, Taiju Oki, teman sekelasnya Senku juga terbangkitkan. Petualangan mereka pun dimulai, untuk kembali membangun peradaban manusia yang telah hancur kembali ke zaman batu, menghidupkan kembali orang-orang, dan menyelesaikan misteri di balik cahaya pembatuan 3700 tahun yang lalu.

Petualangan mereka tentunya tidak sederhana, dengan kejeniusan Senku dan kekuatan fisik Taiju mereka memulai mengakselerasi ilmu pengetahuan dan teknologi, mulai dari teknologi sederhana untuk bertahan hidup, hingga teknologi yang semakin kompleks seiring semakin banyaknya manusia yang dibangkitkan dan kompleksitas alur ceritanya. Ada juga permusuhan dan peperangan yang harus dihadapi dalam petualangan mereka, pun pada akhirnya lawan pun menjadi kawan dengan tujuan memecahkan misteri pembatuan 3700 tahun yang lalu. Di bagian terakhir, Stone to Space Saga – Moon Mission Arc, dikisahkan bagaimana Senku dan Kerajaan Sains berkeliling dunia mengumpulkan bahan dan sumber daya (termasuk manusia) untuk membuat satelit dan pesawat ruang angkasa ke bulan dimana sosok misterius Why-Man yang membatukan umat manusia berada.

Manga Dr. Stone memang tidak setenar manga legendaris seperti Doraemon ataupun Dragon Ball. Juga tidak sepopuler manga bergenre action advanture seperti One Piece atau Naruto. Pun demikian, tema ‘kiamat pembatuan’ ini tampak cukup orisinil dibandingkan tema isekai, kultivasi, reinkarnasi/ regresi, ataupun sistem/ game yang relatif mainstream baik di manga, manhwa, ataupun manhua. Apalagi beberapa bagian penjelasan tentang sains dalam manga Dr. Stone cukup detail dan mengharuskan pembacanya berpikir. Hal ini menunjukkan bahwa penulis manga melakukan riset yang cukup dalam untuk membangun alur cerita. Namun namanya juga cerita fiksi, terdapat berbagai hal yang tidak logis di antara tema sains yang dimunculkan. Misalnya saja bagaimana Senku bisa menghitung jumlah detik dan hari yang dilalui selama pembatuan secara presisi, padahal sejenius apapun manusia tetaplah butuh mengistirahatkan otaknya. Atau bagaimana manusia yang membatu tidak tertutup vegetasi tumbuhan, tertimbun dalam tanah dan menjadi lapuk setelah ribuan tahun berlalu.

Beberapa hal yang tidak logis bahkan berpotensi menghadirkan plot hole, misalnya mengapa ayahnya Senku dan rekan-rekan astronot yang selamat dari pembatuan tidak membangun peradaban yang lebih besar dan meninggalkan warisan ilmu pengetahuan yang lebih lengkap untuk generasi selanjutnya. Atau bagaimana pembatuan dapat menyembuhkan luka bahkan menghidupkan kembali yang telah mati. Atau bagaimana hewan yang tidak terbatukan seharusnya lebih mendominasi dunia tanpa manusia. Catatan lainnya barangkali alur yang terlalu cepat di akhir-akhir seakan dikejar deadline untuk segera tamat. Plot twist yang diharapkan di akhir juga tidak terjadi, why man ternyata ‘hanyalah’ sekumpulan alat pembatuan, parasit mesin yang hidup dari baterai berlian. Yang bahkan takt ahu siapa yang menciptakannya. Alasan dibalik pembatuan dari perspektif why man jadi ‘agak awkward’, dan cerita spin off berjudul ‘Dr. Stone Reboot: Byakuya’ jadi tidak terasa istimewa.

Pun demikian, ada hal yang menarik di chapter 211. Dalam perjalanan mengumpulkan sumber daya dari seluruh dunia untuk membangun roket, pemberhentian terakhir Senku dan kawan-kawan adalah di Indonesia. Mereka membangun Kota Karet di Kalimantan. Indonesia juga dijadikan negeri penghasil beras untuk membuat onigiri. Di chapter 218, Indonesia kembali disebutkan sebagai salah satu jaringan komunitas ilmuwan yang terhubung dengan internet pertama melalui kabel bawah laut. Indonesia memang disebutkan di beberapa manga atau anime lainnya, namun setidaknya di manga Dr. Stone ini Indonesia dipersepsikan secara positif. Entah nanti bagaimana di animenya karena memang belum sampai sana jalan ceritanya.

Manga ini juga diakhiri dengan happy ending. Teman sekelas Senku, Taiju dan Yuzuriha akhirnya menjadi pasangan suami istri setelah 3700 tahun memendam rasa. Chrome dan Ruri dari Desa Ishigami juga resmi bertunangan. Sementara Senku masih sibuk dengan upayanya membuat mesin waktu. Mengingatkan kita pada banyak ilmuwan yang tidak menikah semisal Newton, Tesla, dan Voltaire. Walaupun banyak adegan humor di sepanjang jalan cerita, manga Dr. Stone ini terbilang bukan bacaan ringan, butuh pemikiran mendalam untuk memahaminya. Apalagi ada beberapa selipan filsafat yang menyertainya, termasuk hakikat Sang Pencipta dan tujuan penciptaan, dari sudut pandang sains. Jika ditelan mentah-mentah berpotensi ‘mengagungkan’ sains di atas segalanya.

I’m going to use the power of science to rescue every single person” (Ishigami Senku – Dr. Stone)

Propaganda dan Standar Ganda Konflik Ukraina

Perang perang lagi, semakin menjadi. Berita ini hari, berita jerit pengungsi. Lidah anjing kerempeng, berdecak keras beringas. Melihat tulang belulang, serdadu boneka yang malang. Tuan, tolonglah tuan, perang dihentikan. Lihatlah di tanah yang basah, air mata bercampur darah…” (‘Puing II’, Iwan Fals)

Sudah dua pekan ini media nasional dan internasional banyak menyoroti Ukraina, apalagi setelah invasi militer Rusia ke Ukraina 12 hari lalu. Berbagai macam informasi pun mengalir melalui beragam media. Berita, video dan gambar pun tersebar, dimana tidak sedikit di antaranya yang ternyata hoax. Konflik Rusia – Ukraina memang menjadi medan proxy war, berbagai macam propaganda dilakukan oleh kedua belah pihak. Di masyarakat dunia pada umumnya, simpati atas Ukraina begitu besar, apalagi ditambah sosok Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang digambarkan begitu berani, heroik, dan merakyat. Dalam hal membentuk opini publik, Rusia tampaknya masih kalah dibandingkan ‘Barat’ yang memiliki daya dukung luar biasa terhadap arus informasi dan pembentukan opini dunia.

Blok Barat dengan Blok Timur semestinya sudah tidak ada lagi setelah berakhirnya perang dingin antara keduanya yang ditandai dengan bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur dan runtuhnya Uni Soviet sebagai pemimpin Blok Timur. Namun nyatanya, konflik Rusia – Ukraina kali ini –setelah sebelumnya juga terjadi sewindu yang lalu—tidak lepas dari keterlibatan NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara. NATO adalah organisasi aliansi militer antar negara yang dibuat negara-negara Blok Barat pada 1949. Sekitar 6 tahun kemudian, negara-negara Blok Timur mendirikan Pakta Warsawa untuk menghadapi kemungkinan ancaman dari aliansi NATO. Ketika Pakta Warsawa dibubarkan pada 1991, NATO tetap eksis bahkan terlibat dalam berbagai perang terbuka, misalnya dalam Perang Bosnia, Invasi Militer ke Afghanistan, hingga Perang di Libya. Padahal selama masa perang dingin, NATO tidak terlibat dalam perang terbuka.

Tak heran, Rusia yang (dipersepsikan) menyerang Ukraina, masih mendapat dukungan dari negara lain. Beberapa di antaranya adalah sekutu Rusia seperti Belarusia, Venezuela, Korea Selatan, dan Myanmar. Namun beberapa di antaranya yang lain adalah ‘korban’ Blok Barat semisal Iran dan Suriah. Bagaimana dengan Indonesia? Secara politis, Indonesia termasuk 1 dari 141 negara pendukung resolusi yang mengecam agresi Rusia ke Ukraina. Namun dengan tidak menyampaikan kata ‘invasi’ ataupun ‘Rusia’ dalam pernyataannya, Indonesia relatif masih berhati-hati dengan mengedepankan isu kemanusiaan dan keamanan. Namun cengkraman Blok Barat sepertinya masih sedemikian kuat sehingga Indonesia dengan politik bebas aktifnya malah mendukung salah satu pilihan dan bukannya abstain, apalagi mengingat intervensi Barat ke Ukraina seperti halnya intervensi Barat dalam lepasnya Timor Timur.

Sementara itu, netizen Indonesia malah tidak banyak yang pro Barat. Bagaimanapun, isu agama (Islam) dan isu ‘anti-Barat’ cukup sukses diangkat. Belum lagi kedekatan Indonesia dengan Rusia dan Cina, secara sejarah ataupun aktual. Netizen Indonesia ‘kanan’ ataupun ‘kiri’ yang biasanya berseberangan, dalam hal ini mendapati kesimpulan yang sama pun alasannya berbeda. Ditambah lagi standar ganda yang dilakukan Amerika dan sekutunya dalam menyikapi konflik Rusia-Ukraina ini menjadi tambahan amunisi untuk memposisikan ‘kejahatan’ Barat. Penerapan standar ganda inilah yang akhirnya menjadi anti-propaganda.

Seorang Osama bin Laden yang dianggap sebagai dalang peristiwa 11 September 2001 dijadikan alasan bagi Amerika dan sekutunya untuk menyerang Afghanistan. Terlepas dari berbagai teori konspirasi seputar peristiwa 9/11, Osama bukanlah pribadi yang mewakili negara, apakah layak negaranya dibombardir? Sementara ada negara yang berulang kali menyerang negara lain, namun jangankan dibombardir, negara tersebut bahkan dielu-elukan layaknya pahlawan. Bayangkan saja seandainya Indonesia kena sanksi internasional atas aksi Reynhard Sinaga yang telah memperkosa ratusan pria di Inggris. Atau bagaimana operasi militer Amerika di Irak selama bertahun-tahun hanya karena ‘dugaan’ adanya senjata pemusnah massal, sementara negara-negara yang terbukti memiliki ratusan bahkan ribuan senjata nuklir aman-aman saja. Bahkan untuk menggertak Rusia, NATO ‘meminjam tangan’ Ukraina. Atau bagaimana Rusia diberikan berbagai sanksi ekonomi dan sosial terkait invasi ke Ukraina, sementara tak ada sanksi apapun bagi Amerika menginvasi banyak negara lain, ataupun Israel yang menginvasi Palestina. Sementara dalam perspektif Rusia, yang dilakukannya hanyalah menerima kembali wilayah yang pernah dilepas karena ingin kembali bergabung, menindak tegas bekas wilayah jajahan yang mengingkari kesepakatan, dan mempertahankan wilayahnya dari campur tangan pihak asing yang bahkan sampai mendirikan pangkalan militer dilengkapi dengan berbagai persenjataan di perbatasan negaranya. Ditambah bumbu-bumbu lain seperti jalur minyak dan gas di Ukraina.

Hanya saja argumentasi ‘standar ganda’ ini tidak popular ketika dibawa ke media internasional, dimana propaganda Barat sudah begitu lekat. Klaim tentang ‘standar ganda’ ini memang tidak lantas membenarkan peperangan dan tragedi kemanusiaan yang terjadi. Belum lagi ada perspektif isu berbeda yang dimunculkan antara perang di Timur Tengah (dan Afrika) dengan perang di Eropa. Ditambah lagi, ‘kejahatan’ Amerika sudah jadi rahasia umum yang tidak bisa diapa-apakan. Amerika ibarat anak Kepala Sekolah yang suka mem-bully temannya. Tidak ada siswa yang berani melaporkan, dilaporkan pun tidak ada guru yang berani bertindak. Mengangkat argumentasi ini hanya akan berujung pada perdebatan diskriminatif kontraprduktif yang akan jauh keluar dari konteks win-win solution.

Pada akhirnya, tidak mengambil keputusan atas sesuatu yang belum benar-benar diketahui bisa jadi merupakan langkah bijak. Bukan berarti menutup mata atas tragedi kemanusiaan yang terjadi, namun tidak perlu sok tahu, sok pahlawan, dan terjun lebih dalam di pusaran konflik. Bersiap akan kemungkinan terburuk akan jauh lebih baik dibandingkan turut memperburuk keadaan. Sudah cukup banyak ‘provokator’ dan ‘sengkuni’ dalam berbagai konflik bersenjata di penjuru dunia ini. Bagaimanapun, industri pertahanan perlu konsumen, sebagaimana industri kesehatan dan farmasi butuh penyakit. Lebih baik bersiap untuk beradaptasi ‘new normal’, tidak terjebak pada isu propaganda, apalagi sampai menerapkan standar ganda. Tetap optimis bahwa dunia akan kembali aman dan damai. Tapi mungkinkah keamanan dan kedamaian dapat dicapai dengan konflik dan peperangan? Wallahu a’lam

…Perang perang lagi, mungkinkah berhenti. Bila setiap negara, berlomba dekap senjata. Dengan nafsu yang makin menggila, nuklir pun tercipta (nuklir bagai dewa). Tampaknya sang jenderal bangga, di mimbar dia berkata: Untuk perdamaian (bohong), demi perdamaian (bohong), guna perdamaian (bohong), dalih perdamaian (bohong). Mana mungkin, bisa terwujudkan. Semua hanya alasan, semua hanya bohong besar” (‘Puing II’, Iwan Fals)

Menulis Itu Mudah, Yang Susah Adalah Istiqomah

Orang-orang yang istiqomah lebih bersemangat ada masa-masa akhir mereka, dibandingkan ada masa-masa awalnya” (Ibnul Qayyim)

‘Pojok Pagi Ekselensia Indonesia’, begitu tagline tulisan salah seorang rekan menandai perpindahan amanah yang diembannya. Tak terasa, sudah 18 tulisan yang dibuatnya dalam kurun waktu 5 pekan ini. Terbilang sangat produktif jika melihat dalam 10 tahun sebelumnya bisa dihitung tulisan yang dibuatnya. Walaupun tantangan konsistensi mulai terlihat, dimana di awal tulisan rutin setiap harinya, namun belakangan sudah mulai per tiga hari. Keistimewaan tulisannya barangkali relatif, saya menyukai beberapa tulisannya yang sederhana dan mengalir misalnya ketika mengambil hikmah dari ‘upo’, butiran nasi yang tertinggal dan menempel. Namun barangkali yang lebih istimewa adalah tekadnya untuk lebih produktif menulis yang tentunya tidak mudah. Ada juga seorang rekan lain yang telah menerbitkan lebih dari 50 buku. Setiap harinya ada target untuk menulis minimal satu halaman, dan hal ini bisa istiqomah dilakukannya. Beratkah?

Istiqomah itu berat, yang ringan namanya istirahat”, demikian ungkap sebuah kutipan. Ya, banyak sekali godaan dan alasan untuk memilih ‘istirahat’ dibandingkan istiqomah. Tak perlu berbicara tentang orang lain, saya sendiri mengalaminya dan website ini menjadi contohnya. Sudah cukup lama website ini kembali vakum tanpa tulisan terbaru. Bukan karena kekurangan ide dalam membuat tulisan, setiap harinya ada banyak hal yang bisa diceritakan ataupun gagasan yang bisa dituliskan. Bukan juga karena terlalu sibuk, setiap harinya selalu waktu yang bisa lebih produktif jika dialokasikan untuk memproduksi tulisan. Sebenarnya tidak ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk tidak produktif dalam menulis, namun realitanya selalu ada saja excuse ataupun pembenaran untuk tidak melakukan. Itulah ujian konsistensi dalam produktifitas.

Berapologi dan membuat alasan itu mudah, apalagi banyak hal produktif yang sebenarnya tidak butuh alasan, lillahi ta’ala. Repotnya, sebagaimana kebohongan, satu alasan akan membawa alasan yang lain, dan ada akhirnya menjadi kebiasaan banyak alasan. Ketika sudah jadi kebiasaan maka alasan berubah menjadi sesuatu yang lumrah. Butuh tekad yang kuat dan titik tolak yang kokoh untuk kembali ke jalan penuh produktivitas. Kadang butuh motivasi eksternal. Bahkan kadang butuh mekanisme reward and punishment dan pengorbanan besar untuk kembali meniti jalan istiqomah.

The first step is always the hardest”, begitu pepatah mengatakan. Ibarat mengayuh sepeda, yang paling berat adalah kayuhan di awal, selanjutnya akan lebih ringan. Bahkan bisa jadi kayuhan awal tidaklah seberat yang dikhawatirkan. Tulisan ini misalnya, ternyata bisa diselesaikan dalam waktu sekitar satu jam. Waktu yang terbilang sangat singkat jika dibandingkan dengan waktu yang saya habiskan buat menghapus lebih dari 8000 pesan spam yang masuk ke inbox website karena sudah berbulan-bulan tidak diupdate. Namun berpikir bahwa kayuhan selanjutnya akan selalu lebih mudah tidaklah tepat juga, karena jalurnya naik turun, disitulah ujian istiqomah. Akan ada masanya dimana kayuhan akan kembali berat, dan ada waktunya juga betapa kayuhan terasa dimudahkan.

Dan istiqomah menulis ini hanyalah satu dari banyak ujian keistiqomahan lain. Begitu banyak amal kebaikan yang mudah dilakukan, namun begitu mudah pula untuk ditinggalkan. Padahal amalan yang paling disukai Allah SWT adalah yang kontinyu walaupun sedikit. Semuanya diawali dengan niat dan memulainya secara bertahap, tidak perlu terlalu dipikirkan, cukup dilakukan. Bisa dikuatkan dengan keteladanan dari berbagai tokoh inspiratif dan lingkungan yang turut mendukung. Dan semakin sempurna dengan berdo’a kepada Allah SWT yang membolak-balikan hati. Dan sebagaimana kemalasan, keistiqomahan akan membawa pada konsistensi dalam hal yang lain sehingga pada akhirnya bisa membentuk pribadi yang istiqomah. Semoga Allah SWT menganugerahkan kita sikap istiqomah dalam ketaatan dan kebaikan. Fastaqim kama umirta! Bismillah…

Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8 )