Category Archives: Artikel Islami

Semoga Kalian Syahid Akhirat

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Kabar duka itu kembali tiba. Tadi siang jam 10.40, Om Wagiman meninggal di RSUD Wonosari setelah 2 pekan dirawat akibat Covid. Om Wagiman adalah suami dari adik bungsu ibu saya yang tinggal berdampingan dengan rumah kakek dan nenek saya. Beliau berhenti dari pekerjaannya di Kota Yogyakarta dan memilih buka usaha di kampung seraya memperdalam agama. Istrinya pun berhenti bekerja dari salah satu bank konvensional terbesar di Wonosari untuk lebih fokus ke keluarga. Cepat sekali kabar duka itu tiba sebab baru malam Jum’at pekan lalu (17/6), Mbah Akung (ayahnya Ibu) meninggal dan dicovidkan. Dan baru seminggu sebelumnya, pada 11 Juni 2021, Bude Rani (istri dari kakak sulung Ibu) meninggal di RS. PON.

Bulan ini baru berjalan tiga pekan namun sudah banyak sekali kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Baru 3 hari lalu, Pak Yuli Pujihardi, salah seorang pimpinan Dompet Dhuafa meninggal di RS. Kartika Pulomas setelah terpapar Covid. Di awal bulan ini pada 4 Juni 2021, Mas Jojo, salah seorang tim IT senior di Dompet Dhuafa berpulang ke rahmatullah, juga terjangkit Covid. Belum lagi jika ditambah wafatnya orang tua dari teman-teman, rekan kerja di wilayah, tetangga di perumahan, hingga orang-orang yang banyak dikenal, tentu daftarnya akan semakin banyak lagi. Apalagi jika ditambahkan informasi tentang kenalan saya yang terpapar Covid di bulan ini. Tampaknya gelombang Covid bulan ini memang tidak main-main.

Salah satu hikmah dari kematian adalah pengingatan bagi mereka yang masih hidup untuk lebih siap dalam menghadapi kematian. Mendengar bagaimana testimoni orang-orang atas kebaikan mereka yang telah mendahului kita, membuat kita benar-benar merenung tentang bagaimana akhir hidup kita kelak dan akan dikenang seperti apa. Apalagi mendengar cerita tentang husnul khatimah beberapa rekan, kian membuat takut akan kesudahan su’ul khatimah. Kabar ‘bahagia’nya, orang beriman yang meninggal karena wabah akan memperoleh predikat syahid akhirat, Insya Allah. Ada ganjaran kebaikan yang menyertainya. Syahid dunia adalah seseorang yang berjuang seakan-akan di jalan Allah, akan tetapi niatnya hanya karena ingin dapat nama, ada pamrih, dan bukan karena Allah semata. Sementara mereka yang wafat karena berperang di jalan Allah akan memperoleh predikat syahid dunia akhirat, mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, serta jaminan masuk surga.

Dari Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad SAW, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho’un. Rasulullah SAW lalu menjawab: Sesungguhnya wabah tho’un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho’un lalu tetap tinggal disana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala di sisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah SAW bertanya (kepada sahabatnya), “Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itulah syahid, Ya Rasulullah’’. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu, alangkah sedikit umatku yang syahid”. Para sahabat bertanya, “Mereka itu siapa ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, dan orang yang mati karena sakit perut juga syahid.” (HR. Muslim).

Hal ini bukan berarti kita cukup mengharap kematian akibat Covid saja agar dapat predikat syahid akhirat. Apalagi ada prasyarat keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan tawakkal untuk meraih predikat tersebut. Namun hal ini bisa jadi penguat optimisme dalam do’a-do’a kita. Semoga penyakit yang diderita orang yang mendahului kita dapat menggugurkan dosa-dosanya. Semoga kesabaran dalam menghadapi wabahnya dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT. Sementara bagi kita yang masih hidup, cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa kematian bisa datang kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Bahwa ada perjalanan panjang nan kekal setelah kehidupan di dunia fana ini. Bahwa harus ada bekal yang cukup untuk menjalaninya. Maka berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum. Allahumma la tahrimna ajrahum wala taftinna ba’dahum waghfirlana wa lahum wali ikhwaninalladzina sabaquna bil iman wala taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu Rabbana innaka ra’ufurrahim (Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, bebaskanlah dan maafkanlah mereka. Ya Allah, janganlah kiranya pahala mereka tidak sampai kepada kami dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggal mereka. Ampunilah kami dan mereka, dan juga kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang)

Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh orang, yaitu korban ath-tha’un (wabah) adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Daud)

Dari Niatlah Semua Berawal

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Semua berawal dari niat. Salah satu hadits masyhur tentang niat adalah hadits pertama dalam Hadits Arbain An Nawawi. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab r.a, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah SWT. Berbeda dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia, misalnya karena mengejar wanita. Dalam hadits tersebut amalan yang dicontohkan adalah hijrah. Ada yang berhijrah karena Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia. Setiap amal yang dilakukan seorang muslim harus dilandasi niat yang ikhlas agar amal tersebut diterima. Imam Ahmad dan Imam Syafii mengatakan bahwa hadits di atas mencakup sepertiga ilmu. Selain itu, Imam Syafii juga menambahkan bahwa makna hadits tentang niat ini mencakup 70 bab fiqh. Bahkan tidak sedikit ulama yang mengatakan bahwa hadits di atas merupakan sepertiga bagian dari Islam. Karena itulah setiap orang yang menuntut ilmu wajib meluruskan kembali niat yang dimilikinya.

Suatu amal perbuatan akan diterima Allah SWT ketika niatnya benar dan caranya benar. Saat suatu ibadah atau amalan baik dilakukan karena niat selain Allah, maka ibadah atau amalan tersebut akan tertolak. Termasuk niat yang tidak ikhlas adalah berharap pujian, ketenaran, ataupun harta dunia. Di sisi lain, seseorang yang berniat melakukan amal kebaikan bisa dihitung sudah melakukan kebaikan jika niatnya ikhlas karena Allah. Misalnya saja orang yang berniat shalat malam lalu ketiduran, atau orang yang berniat shalat jamaah kemudian ketika ia sampai masjid jama’ah sudah selesai. Orang tersebut tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang yang telah melakukannya, Insya Allah.

Secara bahasa, niat artinya keinginan atau tujuan. Sedangkan makna secara istilah, niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”. Bagaimanapun, amal perbuatan menyangkut tiga hal, yaitu hati, lisan, dan anggota badan. Sehingga niat dalam hati pun sudah merupakan salah satu dari ketiga hal tersebut. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Siapa saja yang ingin melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Demikian pula ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.”.

Dalam sebuah hadits disebutkan. ‘Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah r.a. berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Berawal dari niat, dan akhirnya pun akan ditentukan oleh niat. Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, niat itu wajib dalam ibadah. Niat merupakan syarat sah suatu ibadah. Sedangkan, dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk mendapatkan keridhaan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diharuskan memakai niat. Misalnya saat seseorang berpuasa di hari Senin, ada beberapa kemungkinan puasa yang dilakukannya. Bisa puasa Senin Kamis, puasa Ayamul Bidh, puasa Daud, membayar hutang puasa, dan sebagainya. Dan puasa apa yang sejatinya orang itu lakukan adalah sesuai dengan apa yang ia niatkan. Kemudian dengan niat pula suatu perbuatan biasa bisa bernilai pahala, misalnya makan, minum, tidur, dan sebagainya. Ketika seseorang meniatkan semua perbuatan tersebut sebagai bentuk ibadah karena Allah SWT, maka perbuatan tersebut akan bernilai ibadah. Karenanya, mari penuhi aktivitas harian kita dengan niat beribadah, senantiasa berhati-hati atas rusaknya niat, dan terus berupaya meluruskan niat karena Allah SWT semata. Dari niatlah semua berawal dan kita akan memperoleh apa yang kita niatkan.

Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Ibnul Mubarak)

Aku (Ingin Jadi) Hafizh Qur’an

Kuputuskan satu impian, aku ingin jadi hafidz Quran…
Ku akan bertahan walau sulit melelahkan, Allah beri aku kekuatan…
Kuimpikan sepasang mahkota, ‘tuk berikan di akhirat kelak…
Sebagai pertanda bahwa kau sangat kucinta, aku cinta engkau karena Allah…

Kucinta Umi, kucinta Abi, kuharap doamu selalu dalam hati…
Kucinta Umi, kucinta Abi, berharap bersama di Surga-Nya nanti…

I love you Umi, I love you Abi, I love my family forever in my heart…

* * *

Beberapa hari terakhir, putri keduaku kerap menyenandungkan lagu ‘Aku Hafizh Qur’an’ yang dipopulerkan oleh penyanyi religi cilik Aishwa Nahla. Bukan tanpa alasan tentunya, akhir pekan ini, Muthi akan wisuda TK B di sekolahnya. Sebuah prosesi seremonial yang sederhana mengingat masih tingginya kasus Covid-19 di negeri ini. Senandung ‘Aku Hafizh Qur’an’ menjadi salah satu penampilan para peserta didik, disamping hapalan Juz ‘Amma dan lagu ‘Guruku Tersayang’. Selain menyelesaikan studinya di TK Al Wafa, Muthi juga mendapat penghargaan sebagai siswi terbaik dalam disiplin menghapal Juz ‘Amma. Di waktu yang bersamaan dengan Wisuda Muthi, putri sulungku juga menyelenggarakan Wisuda Al Qur’an online setelah menyelesaikan hapalan juz 30.

Program menghapal Al Qur’an memang semakin menjamur. Hal ini menjadi salah satu hal yang patut disyukuri di akhir zaman ini. Jika dahulu, menghapal Al Qur’an di’monopoli’ oleh pesantren dan madrasah, saat ini tidak sedikit sekolah yang bahkan tanpa embel-embel sekolah Islam yang juga memprogramkan hapalan Al Qur’an kepada peserta didiknya. Tidak sedikit pula orang tua muslim milenial yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya dengan program hapalan Al Qur’an sebagai salah satu pertimbangannya. Bahkan ada orang tua yang secara khusus menghadirkan guru tahfizh privat bagi anaknya. Hapalan Al Qur’an menjadi tren baru di tengah ‘perang pemikiran’ yang kian marak.

Dalam beberapa hadits, para penghapal Al Qur’an memang memiliki berbagai keutamaan. Mulai dari didahulukan sebagai imam shalat, pemimpin shalat, hingga dikuburkan lebih dulu ketika syahid. Tidak hanya itu, para penghapal Al Qur’an akan dianugerahi mahkota dan pakaian kemuliaan, dan mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Bahkan mereka dapat menganugerahkan mahkota dan pakaian kemuliaan kepada kedua orang tuanya. Dari Buraidah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim). MasyaAllah…

Menghapal Al Qur’an memang merupakan salah satu bentuk interaksi positif terhadap Al Qur’an, selain membacanya, menyimaknya, mempelajarinya, mengajarkannya, mengkaji atau mentadabburinya, dan mengamalkannya. Budaya menghapal Al Qur’an juga bisa menjadi sarana syiar Islam. Bagaimana Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqoh Fahmil Qur’an (MFQ), dan Musabaqoh Hifzhil Qur’an (MHQ) menjadi kompetisi produktif. Bagaimana lantunan murottal menjadi alternatif senandung positif dibandingkan lagu-lagu jahiliyah. Dan hapalan Al Qur’an ini sebaiknya dapat dipelihara, tidak hanya dihapal sesaat untuk kemudian dilupakan. “Jagalah Al-Quran ini, demi zat yang jiwaku berada dalam tangan-Nya. Sesungguhnya dia lebih gampang terlepas daripada unta yang dilihat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga kita dan keluarga kita menjadi para pecinta Al Qur’an. Aamiiin…

“Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.” (HR. Turmudzi)

Kalau Ramadhan Bisa Menyapa…

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelenggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Kalau bulan bisa ngomong, ia akan mengungkapkan kecemburuannya pada Ramadhan. Bagaimana tidak, Ramadhan ini begitu spesial dan dianakemaskan. Bukan hanya berlimpah berkah dan ampunan, serta menjadi bulan yang identik dengan Al Qur’an, dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hitungan bulan seakan tak ada artinya dibandingkan dengan suatu malam di bulan Ramadhan. Jika bulan-bulan lain bisa menuntut, tentu mereka akan meminta kesetaraan, semua bulan seperti bulan Ramadhan. Dimana pintu-pintu kebaikan begitu terbuka luas. Aktivitas ibadah pun seakan begitu dimudahkan.

Kalau setan bisa protes, ia akan menggugat bulan Ramadhan. Bagaimana tidak, di bulan Ramadhan ini mereka dibelenggu tak dapat leluasa menggoda manusia. Memang masih ada kepanjangan tangan mereka dari bangsa jin dan manusia, namun tentu kerjanya tidak semudah di luar bulan Ramadhan. Di bulan ini berbuat baik menjadi lumrah. Sementara perbuatan tidak baik menjadi cela. ‘Puasa ga boleh bohong’… ‘Lagi puasa jangan ngomongin orang’… ‘Kalo marah batal lho puasanya’… Jika setan-setan bisa berdemonstrasi, mereka akan melakukan aksi massa menuntut keadilan. Mengapa tidak ada semenit atau bahkan sedetikpun malaikat dibelenggu sehingga manusia sulit berbuat baik? Dan mereka harus menerima dibelenggu selama sebulan lamanya!

Kalau Ramadhan bisa menyapa, ia akan bertutur ramah kepada orang beriman yang antusias bersiap menyambutnya. Mengabarkan betapa berharganya kesempatan beramal shalih ketika pintu-pintu surga terbuka lebar sementara pintu-pintu neraka ditutup. Mengingatkan untuk dapat menjaga konsistensi berbuat baik sepanjang Ramadhan, tidak hanya giat di awal. Jika Ramadhan bisa baper, ia akan bersedih menyaksikan manusia yang membiarkannya berlalu begitu saja. Mengasihani manusia yang masih menuruti syahwatnya serta tidak bertambah kebaikannya. Padahal ia hanya datang menyapa sesaat. Sebulan adalah waktu yang teramat singkat. Sementara tidak ada jaminan tahun depan manusia akan kembali menjumpainya.

“Ya Allah, perjalankanlah bulan ini kepada kami dengan penuh kebajikan dan iman, serta keselamatan dan Islam. Rabb-ku dan Rabb-mu (bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi)

Pegiat Zakat, Jangan Berkhianat!

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kalian menghianati berbagai amanat yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal 27)

Hasil pemeriksaan medis untuk kali ketiga dalam dua pekan terakhir masih belum berhasil menunjukkan gejala penyakit apapun. Padahal sejak sakit di kaki serasa ditusuk-tusuk beberapa pekan lalu, aku belum pernah benar-benar pulih. Dan kali ini penyakitnya kembali menghampiri, demam tinggi, tidak bisa tidur, bahkan indera penciuman pun tidak berfungsi. Covid kah? Tidak. Ini sudah kali kedua dalam dua pekan ini hasil SWAB test menunjukkan hasil yang negatif. Dokter pun bingung atas apa yang terjadi. Diagnosis yang bisa disampaikan hanyalah stress, seraya menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana persoalan pikiran bisa memberi dampak terhadap tubuh.

Malam ini terasa panas menyelimuti tubuh, padahal AC sudah menyala. Mungkin suara murathal Al Baqarah yang sayup-sayup terdengar di kamar sebelah yang jadi penyebabnya. Beberapa hari ini, dalam ruqyah mandiri, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuh ini. Di hari kelima, aku tak sanggup lagi, ruqyah mandiri terasa sangat melelahkan. Butuh bantuan orang lain. Segera saja aku minta diantar menemui ustadz yang memang biasa membantu dalam melakukan ruqyah. Menjadi sebuah ikhtiar, bagaimanapun ruqyah hanyalah sarana karena yang menyembuhkan adalah Allah SWT.

Dalam keadaan setengah sadar, ada kalanya berteriak bahkan memukul diri sendiri, jin kafir dan jin muslim yang bersemayam dalam tubuhku saling bentrok. Jin kafir ini menyampaikan tiga misinya: membunuh diriku, membuatku bercerai dengan istriku, dan membuatku keluar dari tempat kerjaku. Kuteringat beberapa hari lalu betapa tiba-tiba aku membenci diriku, istriku, dan tempat kerjaku. Jin kafir ini tampak sangat membenci pekerjaanku sebagai pegiat zakat. Apalagi ada berbagai perbaikan yang kulakukan, yang bisa jadi mengusik sebagian orang. Setelah melalui waktu yang terasa panjang, akhirnya semuanya berhasil terkendali. Atas izin Allah SWT aku kembali sehat, dan semakin mantap untuk berjuang di jalan ZISWAF yang ternyata begitu dibenci para musuh Allah. Tak boleh berlalu seharipun tanpa tilawah, dzikir, dan senantiasa mengingat-Nya.

* * *

Kisah di atas adalah penggalan kisah nyata dari seorang rekan pegiat ZISWAF yang diceritakan langsung kepada penulis beberapa waktu lalu. Penyakit nonmedis memang bukan hal baru bagi penulis. Namun ada beberapa ibroh yang dapat diambil dari cerita seorang rekan ini. Pertama, ‘gangguan’ bukan hanya bisa masuk ke orang awam, namun orang ‘alim’pun dapat terkena ‘gangguan’ tersebut pada titik terlemahnya. Kedua, penyakit nonmedis memang benar ada, pun demikian, ruqyah harus tetap dipandang sebagai sarana, bukan merupakan faktor yang menentukan kesembuhan. Ketiga, jalan para pejuang syariah memang tak pernah mulus dari cobaan dan gangguan. Dan itu merupakan sunatullah dalam berjuang.

Walaupun tidak bisa dijadikan hujjah yang dapat dipercaya, ada beberapa perkataan jin dalam kasus di atas yang dapat menjadi warning sekaligus motivasi. Bukan perkataan tentang sadisnya pembunuhan 6 laskar FPI yang entah didapatnya dari mana. Namun ungkapan kebenciannya terhadap para pejuang syari’ah, para pegiat dakwah, zakat, wakaf, dan sebagainya. Di saat semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya penegakan syari’ah, pihak yang memusuhinya pun tidak sedikit, miltan, terorganisir dan sistematis. Polarisasi ideologis antara kedua kubu ini lebih dahsyat dibandingkan perang antara ‘cebong’ dengan ‘kampret’. Dan tidak ada posisi di antara hizbullah dengan hizbusysyaithan. Akan ada masa dimana manusia akan memilih dimana mereka akan berdiri.

Ujian besar bagi para pejuang syari’ah pun tampaknya tinggal menunggu waktunya. Tanda-tandanya sudah semakin kentara, seperti pembubaran beberapa ormas Islam, ditutupnya pasar muamalah, ataupun ditangkapnya Ketua salah satu Lembaga Amil Zakat karena diduga danai terorisme. Ujian ke depan bisa jadi semakin berat karena para pejuang syari’ah ini ‘diserang’ dari dalam di saat ada kepentingan eksternal untuk memanfaatkan dana umat. Tantangan terbesarnya justru datang dari para pengkhianat perjuangan. Mereka yang berada di barisan umat, namun mengedepankan kepentingan duniawi pribadi dan kelompoknya. Jumlahnya barangkali tidak besar, namun ibarat kanker yang terus merusak sel, jaringan, dan organ sehat. Syari’ah Islam yang mulia, distigmakan negatif akibat ulah oknum pengkhianat berkedok syari’ah.

Pun demikian, optimisme tetap harus dipupuk. Tidak sedikit pejuang syari’ah yang benar-benar tulus ikhlash dalam berjuang. Merekalah anasir terkuat dalam menghadapi berbagai ujian. Yang namanya jalan kebenaran memang tak pernah sepi dari aral menghadang. Godaan untuk meninggalkan medan juang dan memilih jalan yang lebih aman dan menjanjikan juga semakin besar. Perjalanan waktu nanti akan membuktikan, siapa yang benar-benar berjuang di Jalan-Nya, siapa yang mencederai amanah hanya demi kenikmatan sesaat yang semu. Semoga Allah SWT senantiasa memantapkan langkah kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Ahlan Wa Sahlan Ya Sya’ban

Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman” (Abu Bakar al Balkhi)

Tak terasa, bulan Sya’ban 1442 H telah tiba. Artinya, dalam waktu kurang dari sebulan lagi, bulan Ramadhan akan kembali menghampiri. Kata sya’ban diambil dari kata sya’bun yang artinya kelompok atau golongan. Dinamakan Sya’ban karena pada bulan tersebut masyarakat jahiliyah berpencar mencari air. Ada juga yang mengatakan, mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan. Al Munawi mengatakan, “Bulan Rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan Sya’ban, mereka berpencar ke berbagai medan peperangan”.

Bulan Sya’ban ialah bulan dimana Rasulullah SAW paling sering berpuasa sunnah. Banyak dalil yang menjelaskan mengenai hal ini, di antaranya dari Aisyah r.a. yang meriwayatkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah melebihi (puasa sunnah) di bulan Sya’ban.” (HR.  Bukhari). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Usamah bin Zaid r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban”. Rasulullah SAW bersabda, “Ini adalah bulan yang seringkali dilalaikan oleh banyak orang. Keberadaannya antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan, saya ingin sekali ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa” (HR. An Nasa’i).

Bulan Sya’ban memang seakan ‘kalah pamor’ dibandingkan bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab termasuk salah satu dari empat syahrul haram (bulan yang dimuliakan). Letaknya terpisah dari tiga syahrul haram lainnya yang dekat dengan pelaksanaan haji. Bulan Rajab pun memiliki momentum Isra Mi’raj yang di Indonesia banyak diperingati sebagai salah satu hari libur nasional. Sementara Ramadhan adalah Sayyidusy Syuhur (penghulunya para bulan) yang nama bulannya disebutkan langsung dalam Al Qur’an. Ramadhan juga memiliki banyak julukan, di antaranya Syahrul Qur’an, bulan dimana Al Qur’an pertama kali diturunkan. Kemudian syahrush shiyam, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Bahkan di bulan Ramadhan ada lailatul qadar, dimana satu malamnya lebih baik daripada seribu bulan.

Pun tidak sepopuler bulan Rajab dan Ramadhan, bulan Sya’ban sebenarnya memegang peran vital dalam memastikan kesuksesan menjalani ibadah Ramadhan. Ibarat akan bertanding, porsi latihan harus optimal jelang menghadapi pertandingan. Ibarat akan menyelenggarakan kegiatan, gladi resik event Ramadhan sudah harus mantap di bulan Sya’ban. Ibarat akan memanen ketakwaan di bulan Ramadhan, bulan Sya’ban adalah momen penting dalam memelihara pohon ketakwaan yang bibitnya telah ditanam sejak bulan Rajab. Bagaimana mungkin panennya akan berhasil jika pemeliharaannya dilupakan? Berbagai kegiatan Tarhib Ramadhan pun banyak digelar di bulan Sya’ban ini. Pun sebenarnya Tarhib Ramadhan yang bersifat ilmu dan pengingatan lebih tepat dikondisikan sejak bulan Rajab, sehingga di bulan Sya’ban ini umat Islam bisa langsung latihan dalam menyambut Ramadhan.

Persiapan iman, ilmu, fisik, dan mental sudah benar-benar dimatangkan di bulan Sya’ban ini. Persiapan diri dan keluarga untuk menyambut Ramadhan juga harus benar-benar siap. Dengan latihan dan pemanasan yang cukup, seharusnya pertandingan dapat dijalani dengan baik. Tidak perlu khawatir ‘telat panas’ ataupun cedera. Dan bulan Sya’ban belum lama masuk, ada cukup banyak waktu untuk menguatkan bekal dan persiapan. Apalagi kondisi pandemi tidak se’mencekam’ tahun lalu. Berbagai persiapan seharusnya bisa lebih optimal. Semoga dengan pembiasaan yang baik di bulan Sya’ban ini dapat mengantarkan kita untuk bisa lebih produktif di bulan Ramadhan. Pembiasaan positif yang semoga saja dapat istiqomah dilakukan di luar Ramadhan.

Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan” (HR. Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman. Syaikh Ahmad Syakir berkata dalam takhrij Musnad Imam Ahmad: sanad hadits ini dhaif)

Sliver the Truth

Kebenaran umpama selembar cermin di tangan Tuhan yang jatuh pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memerhatikannya, lalu berpikir telah mengenggam kebenaran.” (Jalaluddin Rumi)

Sliver the truth’ artinya sepotong kebenaran, sebuah istilah yang baru saya dapati saat berdiskusi dengan Pak Zaim Uchrowi, salah seorang pendiri Harian Republika. Beliau mengatakan bahwa ‘sliver the truth’ begitu berkembang di Indonesia, terutama di dunia maya. ‘Sliver the truth’ mengandung kebenaran, namun tidak utuh, dan menurut beliau hal ini lebih berbahaya daripada kebohongan/ hoax. Hoax ketika dibuktikan kepalsuannya akan nyata kebohongannya dan ditinggalkan. Namun sepotong kebenaran tidak benar-benar bisa dibuktikan kepalsuannya karena masih mengandung kebenaran. Mereka yang meyakini sepotong kebenaran ini pun lebih sulit untuk bersikap objektif dan menerima kebenaran yang kompleks. Sepotong kebenaran dianggap sebagai kebenaran yang utuh.

Ada istilah serupa yang saya kenal sebelumnya yaitu ‘half-truth’ atau kebenaran yang setengah-setengah. Ada pepatah lama yang mengatakan, “a half-truth is a whole lie”. Barangkali ada benarnya, sebab sepotong kebenaran lebih didominasi kepingan yang dekat dengan kebohongan dibandingkan dengan kepingan kebenarannya. Dan menjadi lebih berbahaya dibandingkan kebohongan karena kepingan kebenaran ini diyakini sebagai kebenaran sementara kepingan yang lain diyakini sebagai kebohongan. Semakin lama penggalan kebenaran ini diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, semakin jauhlah dengan kebenaran hakiki sebab mereka yang meyakininya menutup diri dari penggalan kebenaran yang lain.

Dalam realitanya, ‘sliver the truth’ ini banyak digunakan untuk memanipulasi kebohongan menjadi kebenaran. Belum lagi jika sudah melibatkan framing media. Kebohongan yang terus diulang akan menjadi kebenaran, apalagi jika dalam pengulangan tersebut diselipkan ‘sliver the truth’. Istilah ‘framing’ ini akhirnya dekat dengan istilah ‘paltering’ alias mempermainkan kebenaran. Mengelabui orang dengan menyatakan hal yang ‘benar’. Contoh sederhana yang lekat dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan istilah ‘On the Way (OTW)’ ketika terlambat memenuhi janji pertemuan, padahal baru saja berangkat di depan rumah. Tidak sepenuhnya salah karena memang sudah di jalan (depan rumah). Bahkan ada yang lebih ekstrim menggunakan OTW dengan maksud lagi jalan ke kamar mandi buat siap-siap. Sejenis kebohongan yang barangkali dianggap lumrah.

Sebenarnya tidak semua ‘kebohongan’ dilarang. Nabi Ibrahim a.s. misalnya, pernah ‘berbohong’ tiga kali: menatap langit dan mengatakan dirinya sakit ketika diajak warga untuk berhari raya menyembah berhala; ‘mengambinghitamkan’ berhala paling besar yang menghancurkan berhala-berhala; dan mengakui Sarah (istrinya) sebagai saudara perempuannya. Termasuk ‘sliver the truth’ karena Nabi Ibrahim a.s. memang merasa sakit hatinya menyaksikan kemusyrikan kaumnya. Dalam kasus penghancuran berhala, yang disampaikan Nabi Ibrahim a.s. adalah sejenis majas, bukan jawaban dusta atas sebuah pertanyaan. “Berhala yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al Anbiya:63). Secara logika, karena berhala tidak dapat berbicara, maka pernyataannya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Bahkan ada yang menafsirkan kalimat bal fa’alahu kabiruhum hadzaterdiri dari dua kalimat.Bal fa’alahumenjawab pertanyaan bahwa pelakunya adalah laki-laki, sementara kabiruhum hadzaadalah sebuah kebenaran karena Nabi Ibrahim a.s. saat itu memang menunjuk berhala paling besar yang ada disana. Kemudian untuk kasus mengakui Sarah sebagai saudarinya karena memang Sarah adalah saudara perempuan seagamanya. Saat itu bahkan Sarah memang satu-satunya saudari seiman. Jika ditambah berbagai potensi fitnah yang akan muncul jika Nabi Ibrahim a.s. menjawab ‘apa adanya’, maka keputusan untuk slivering the truthtentu akan lebih mudah dipahami. Atau dalam kisah Nabi Yusuf a.s., manipulasi kebenaran pun sempat dilakukan ketika menuduh saudaranya (Benyamin) mencuri sehingga dapat ditahan, dan pada akhirnya bisa membawa ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.) ke Mesir. Itu termasuk siasat. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Ummu Kultsum binti Uqbah Abi Mu’ith r.a. mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah termasuk pendusta: orang yang mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan.” Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mentolerir kebohongan hanya dalam tiga kondisi: pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau sebaliknya.

Hanya saja dalam kondisi saat ini, ‘slivering the truth’ ini tidak patut dibudayakan. Bukan hanya motifnya yang seringkali politis dan sangat pragmatis, kondisi masyarakat pun juga tidak mendukung. Bualan dan dusta semakin jadi fenomena biasa. Daya kritis terhadap informasi menurun sementara fanatisme golongan meningkat. Belum lagi ditambah media yang cenderung kepada satu potongan kebenaran, bukan pada kebenaran itu sendiri. Sepotong kebenaran ini ketika dipadukan dengan arogansi dan fanatisme berlebihan dapat berbahaya. Bukan hanya akan menolak kebenaran dari pihak yang berbeda, dan merendahkan pihak lain, namun akan menimbulkan kebencian dan permusuhan dengan pihak lain. Polaritas antar golongan semakin kuat, seperti anjing dan kucing. Atau ibarat cebong dan kampret.

Ada istilah ‘white lies’ bahkan ‘beautiful lies’, namun ‘seputih’ apapun hal itu tetaplah sebuah kebohongan, bukan kebenaran. Kebohongan ‘baik’ yang akan diikuti oleh kebohongan lain untuk menutupinya. Kebohongan yang akan melahirkan kenyamanan semu. The truth is still the truth, even if no one believes it. A lie is still a lie, even if everyone believes it. Memang kebenaran kadang menyakitkan, karenanya tidak semua orang menyukainya. Ada pula yang namanya pembenaran, yang mampu memberi kepuasan sesaat. Dan sepotong kebenaran adalah sesuatu hal yang berbeda lagi. Bisa diarahkan membawa kebaikan, namun lebih berpotensi besar menyertai kebohongan. Karenanya, daripada menyampaikan sepotong kebenaran, lebih baik membiasakan berpikir kritis dan terbuka, tabayyun (check and recheck), serta menahan diri dari perkataan dan perilaku dusta, sekecil apapun, dalam keadaan bercanda sekalipun. Membiasakan diri untuk terus mencari, menelaah, dan menerima kebenaran. Bisa jadi ada kesalahan dari kebenaran yang kita yakini. Bisa jadi ada kebenaran dalam kesalahan yang orang lain yakini. Sebab kebenaran sejati hanya ada di sisi Allah SWT.

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim)

(Masih) Menanti Kabar Baik di 2021

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

#Gempa Mag:6.2, 15-Jan-21 01:28:17 WIB, Lok:2.98 LS, 118.94 BT (Pusat gempa berada di darat 6 km TimurLaut Majene), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) IV-V Majene, III Palu, II Makasar #BMKG. Begitulah update informasi bencana yang viral pagi ini beserta foto dan videonya. Informasi gempa di Sulawesi Barat tersebut menambah panjang deretan bencana yang terjadi sepanjang tahun 2021 yang baru berjalan setengah bulan. Sebelumnya ada bencana banjir di beberapa wilayah tanah air seperti di Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Jember, dan Kepulauan Riau. Belum semuanya sudah teratasi, termasuk musibah longsor Sumedang. Malam ini bahkan ada informasi gempa 4.7 SR di Pangandaran.

Dan masih lekat dalam ingatan akan peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari lalu yang mengangkut 62 orang. Jangan lupakan juga bencana dunia berupa virus corona yang pada awal tahun ini memunculkan varian baru yang sudah mengeinfeksi di puluhan negara. Update dana Covid-19 di Indonesia hingga pertengahan Januari 2021 ini juga menunjukkan tren dan rekor yang memprihatinkan. Setengah bulan ini sudah beberapa kali rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia terpecahkan, mulai dari 8.854 kasus baru (6 Januari), 9.321 kasus baru (7 Januari), 10.617 kasus baru (8 Januari), 11.278 kasus baru (13 Januari), 11.557 kasus baru (14 Januari), hingga 12.818 kasus baru per hari ini. Melihat trennya, bukan tidak mungkin rekor kasus harian akan kembali terpecahkan. Rekor kematian harian akibat Covid-19 di Indonesia pun sudah dua kali terpecahkan di awal tahun ini, yaitu 302 orang dan 306 orang pada 12 dan 13 Januari lalu. Total korban jiwa di seluruh dunia akibat Covid-19 di pertengahan Januari 2021 ini sudah menembus angka 2 juta jiwa, dimana korban terbesar di AS yang mencapai lebih dari 400 ribu jiwa.

Pengadaan, pendistribusian, dan penyuntikan vaksin sayangnya belum menjadi kabar baik. Banyak isu mengenai efek samping dan kontroversi vaksin yang menyertai. Belum lagi isu konspirasi. Faktanya, kasus baru dan kematian akibat Covid-19 di Indonesia dan dunia terus meningkat. Vaksin yang sifatnya jangka panjang barangkali akan menjadi kabar baik di masa mendatang ketika efektivitasnya sudah mulai dirasakan. Ironisnya, tidak sedikit bencana atau musibah yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia. Misalnya banjir di Kalimantan Selatan yang terparah sepanjang sejarah disebabkan penebangan hutan berganti menjadi kawasan tambang dan perkebunan sawit. Kecelakaan pesawat juga bukan karena faktor alam. Belum lagi jika ada pemotongan dana bantuan bencana sebagaimana yang beberapa kali terjadi. Pada titik inilah, manusia perlu introspeksi dan berbenah. Bukan hanya pasrah, apalagi sibuk mencari kambing hitam.

Sore ini tersiar kabar wafatnya Sayyidil Walid Al Habib bin Abdurrahman Assegaf. Salah seorang ulama yang nasabnya sampai ke Rasulullah SAW sekaligus salah seorang guru dari Habib Rizieq Shihab. Berpulangnya beliau hanya berselang sehari dari meninggalnya Syaikh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber, ulama Al Hafizh kelahiran Madinah yang kerap mengisi acara Ramadhan dan bertemakan Al Qur’an di TV. Tahun lalu, beliau pernah juga menjadi korban penusukan oleh ‘orang gila’ kala berdakwah di Lampung. Bersamaan dengan dua ulama tersebut, tersiarlah kabar belasan ulama lainnya yang berpulang ke Rahmatullah sepanjang Januari 2021. Menyusul para ulama dan orang shalih yang banyak meninggal beberapa tahun terakhir. Walaupun kematian adalah sunnatullah, meninggalnya para ulama sejatinya juga merupakan musibah. Bukan hanya bagi keluarga dan kerabatnya, namun bagi umat manusia seluruhnya. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.

Lantas sampai kapan bencana terus melanda dan musibah terus mendera? Karena kehidupan sejatinya adalah ujian, potensi bencana dan musibah akan selalu ada mengiringi perjalanan hidup manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Bisa bersabar atau lantas berputus asa? Tetap bersyukur atau malah kufur? Yang pasti, harapan akan masa depan yang lebih baik akan selalu ada. Bukankah semakin pekat malam, semakin dekat pula dengan fajar? Semakin berat masalah, semakin dekat dengan jalan keluar. Semakin lelah dalam berjuang, semakin dekat pula dengan kemenangan. Semuanya mudah bagi Allah SWT. Tinggal bagaimana kita mendekat pada-Nya, tidak jemu memohon dan berharap pada-Nya, tidak berhenti bersabar dan berjuang di Jalan-Nya. Ujian kehidupan memang tidak ringan, semakin Allah SWT mencintai hamba-Nya, semakin berat pula ujian yang diberikan-Nya. Semoga Allah SWT memberikan kita punggung yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai ujian.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)

2021, Tahun Masih Harus Bersabar

Aku mencari segala bentuk rezeki tetapi aku tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar
(Umar bin Khattab r.a.)

Akhirnya, tahun 2020 berlalu. Ada banyak harapan di tahun 2021 ini. Pandemi virus corona sepanjang tahun 2020 benar-benar membuat dunia berselimut duka dan kekhawatiran. Banyak event nasional dan internasional di tahun 2020 yang ditunda atau dibatalkan, mulai dari konser musik, festival film, hingga Olimpiade di Tokyo. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia yang tetap berjalan barangkali termasuk anomali. Dalam kaleidoskop 2020 di bidang apapun, tidak terlepas dari dampak yang dirasakan akibat pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya bidang kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan, sosial budaya, politik, hukum, hubungan internasional, agama, hingga teknologi informasi dan olahraga tahun 2020 pasti terkait dengan persoalan pandemi ini.

Memasuki tahun 2021, pandemi belum juga berakhir. Bahkan angka statistiknya terus bertambah. Kasus Covid-19 tercatat sudah menembus 80 juta dengan korban jiwa lebih dari 1,8 juta di seluruh dunia. Di luar kasus Covid-19, awal tahun 2021 ini sebenarnya relatif lebih baik daripada awal tahun 2020. Awal tahun lalu sudah diwarnai dengan isu World War III karena memburuknya hubungan AS dengan Iran. Beberapa negara di Timur Tengah juga ikut bergejolak. Indonesia juga bersitegang dengan China yang mengklaim Laut Natuna. Awal tahun 2020 juga ditandai dengan banjir bandang di Jakarta, kebakaran hutan Australia, dan erupsi Gunung Taal di Filipina. Belum lagi kasus Reynhard Sinaga yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Semoga tidak terulang di tahun ini.

Di tahun 2021 ini sepertinya kesabaran masih akan terus diuji. Ada lebih dari 110 ribu kasus aktif Covid-19 di Indonesia dari sekitar 750 ribu kasus yang terdata, dengan korban jiwa lebih dari 22 ribu orang. Banyak ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia penuh. Itu belum termasuk klaster liburan akhir tahun. Petugas medis perlu lebih bersabar menghadapi pasien Covid-19 yang tak jua surut. Sudah 10 bulan sejak kasus pertama corona di Indonesia diumumkan, kebutuhan ekonomi harus terus terpenuhi, masyarakat tak bisa lagi ‘ditertibkan’ untuk diam saja di rumah. Butuh kesabaran untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimana masyarakat semakin abai. Di dunia pendidikan, banyak orang tua yang sepertinya juga masih harus bersabar untuk mendidik anaknya belajar di rumah karena pembelajaran tatap muka urung dilakukan.

Masyarakat Indonesia juga masih harus bersabar menghadapi pemerintah negeri ini. Ketidaktahuan pemerintah akan masuknya mutasi virus corona di Indonesia beberapa hari lalu seakan dejavu dengan kondisi awal tahun lalu saat pemerintah menyatakan belum ada kasus Covid-19 di tanah air pun ada beberapa warga asing yang terinfeksi setelah berkunjung ke Indonesia. Keputusan menutup kedatangan Warga Negara Asing (WNA) di awal tahun ini juga terasa terlambat hampir setahun. Dan memang butuh kesabaran ekstra dalam menyikapi kebijakan pemerintah Indonesia. Sepanjang tahun 2020, sudah ada puluhan pernyataan kontroversial dari pejabat pemerintah. Belum lagi ditambah berbagai pelanggaran hukum dan kesewenang-wenangan yang dilakukan. Jika pada 2020 masih ada Donald Trump, Presiden AS yang eksentrik dan kerap jadi olok-olok. Dengan tak terpilihnya lagi Trump, bukan tak mungkin Indonesia akan banyak mendapat sorotan dunia, bukan dalam artian yang positif.

Umat Islam masih harus bersabar. Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Habib Rizieq Shihab (HRS) dipenjara tak lama setelah 6 orang pengawalnya tewas ditembak polisi. Ironis, HRS dipenjara di Rutan Narkoba karena melanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, sementara beberapa bulan lalu puluhan ribu narapidana dibebaskan kerena Covid-19. HRS ditetapkan sebagai tersangka tanpa menghilangkan satupun nyawa, sementara para penembak laskar FPI tidak diusut, apalagi dihukum. Penangkapan HRS diproses begitu cepat pun tidak merugikan negara seperti kasus BLBI, Jiwasraya, e-KTP, ataupun Pelindo. Bahkan HRS sudah membayar denda 50 juta. Sementara Harun Masiku dan Sjamsul Nursalim yang jelas merugikan negara tak jua tertangkap. Menteri KKP dan Menteri Sosial yang diciduk KPK karena kasus korupsi memang di-reshuffle, namun jatah menteri dari partai lumbung koruptor tidaklah berkurang. Boro-boro ditindak atau dibubarkan, yang ada malah kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader partai penguasa menguap begitu saja. Apalagi kasus yang menyeret ‘anak Pak Lurah’. Barangkali harus menunggu Pak Lurah lengser dulu untuk menuntut keadilan, itupun jika Pak Lurah barunya berani menuntut.

Dan masyarakat dunia masih harus bersabar. Vaksin bukan obat. Alih-alih mengobati, vaksin lebih bersifat preventif. Butuh waktu untuk membuatnya, tambahan waktu untuk memproduksi vaksin yang efektif, tambahan waktu lagi untuk mendistribusikannya, serta lebih banyak waktu lagi untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit menular. Belum lagi adanya kelompok anti vaksin dan penganut teori konspirasi. Umat manusia perlu lebih bersabar agar tidak menimbulkan bencana lain yang lebih besar. Bagaimanapun, banyak bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Ditambah lagi potensi bencana alam. Selain pandemi Covid-19, tahun 2020 lalu ada berbagai bencana dengan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit, mulai dari kebakaran, banjir bandang, badai besar, letusan gunung berapi, gempa bumi, serangan belalang, angin topan, ledakan, hingga kerusuhan sipil dan krisis kemanusiaan. Dan tidak ada jaminan bencana serupa tak terulang di tahun ini.

Lalu sampai kapan harus bersabar? Sampai kapanpun, sebab kesabaran sejatinya tiada batas. Sabar secara bahasa artinya menahan diri. Sedangkan secara syari’at, sabar adalah menahan diri dalam tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian atau musibah. Jadi batas kesabaran adalah ketika tak ada lagi ketaatan yang harus dilakukan, kemaksiatan yang harus dihindari, dan musibah yang harus dihadapi. Ya, kesabaran harus ada sepanjang hayat. Kesabaran inilah yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian, tetap optimis, menikmati proses kehidupan, menjauhkan dari penyakit, keberuntungan yang baik, dan derajat tinggi di surga. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang sabar, semakin sabar di tahun ini, dan terus bersabar di tahun-tahun selanjutnya.

Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku
(Ali bin Abi Thalib r.a.)

Untuk Kita Renungkan

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat…

Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2003 menetapkan 9 Desember sebagai Hari Antikorupsi Sedunia. Tema Hari Antikorupsi tahun ini adalah “Recover with Integrity to Build Forward Better”. Tema ini erat kaitannya dengan mitigasi korupsi dan pemulihan Covid-19, sesuatu yang menjadi ironi di Indonesia. Baru beberapa hari yang lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Menteri Sosial, Juliari P. Batubara terkait korupsi Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19. Ironisnya lagi, Wakil Bendahara Umum PDIP ini kerap terlibat aktif dalam kampanye antikorupsi. Dalam posternya sebagai Caleg DPR RI Dapil Jateng 1 pada Pemilu 2019 lalu, ditampilkan slogan besar “Korupsi dibabat pasti Indonesia Hebat!”. Dalam cuplikan wawancara setelah diangkat Jokowi sebagai Mensos akhir tahun lalu, Pak Juliari sempat mengatakan “…Jadi pengendalian korupsi itu ya diri sendiri, nggak ada orang lain. Inget lho, kalau kamu korupsi kasihan anak istrimu, kasihan anak suamimu. Mereka pasti keluar malu!”. Bahkan pada peringatan Hari Antikorupsi tahun ini beredar banyak spanduk yang memuat fotonya dengan tulisan “Membangun Kesadaran Seluruh Elemen Bangsa dalam Budaya Anti Korupsi: Kemensos RI Hadir Tanpa Korupsi Wujudkan Indonesia Sejahtera”. Gambaran lengkap pribadi tanpa integritas. Apa yang diucapkan berbeda dengan yang dilakukan. Masih ingat dengan slogan “Katakan Tidak! pada Korupsi” dimana tiga bintang utama iklan tersebut malah didakwa sebagai koruptor? Demikianlah politik pencitraan. Ringan dalam berkata, namun karena tak bersumber dari bersihnya jiwa, perilaku yang ditampilkan jadi jauh berbeda.

Anugrah dan bencana adalah kehendak-Nya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cam
buk kecil agar kita sadar
Adalah Dia diatas segalanya…

Dua pekan lalu, KPK menetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo sebagai tersangka kasus korupsi ekspor benih lobster (benur). Pada peringatan Hari Antikorupsi tahun lalu, Pak Edhy sempat mengunggah cuitan di laman twitternya, “Korupsi adalah musuh utama yang harus kita perangi. Bersama-sama membangun komitmen KKP menjadi birokrat yang bersih dan melayani untuk mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera. Selamat Hari Antikorupsi Sedunia!”. Lagi-lagi perkataan yang tidak sesuai dengan perbuatan. Entah sekadar tuntutan jabatan atau memang terlalu jumawa, kesudahan mereka yang berteriak lantang antikorupsi justru tidak sedikit yang berakhir di jeruji besi. Bisa jadi batas benci dan cinta memang sedemikian tipis. Bisa jadi pula manusia diuji dengan sisi terlemahnya. Yang pasti, semangat antikorupsi memang bukan sebatas kata dan narasi. Tetapi sikap aktif untuk tetap jujur dan amanah dalam menghadapi segala godaan dunia.

…Ini bukan hukuman hanya satu isyarat
Bahwa kit
a mesti banyak berbenah
Memang bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan yang tega berbuat nista…

Tanpa bermaksud mengecilkan, jika ekspor benur adalah urusan bisnis, korupsi bansos Covid-19 adalah urusan hajat hidup orang banyak. Jahat sekali rasanya, mengambil hak mereka yang terdampak bencana. Tak heran wacana hukuman mati mengemuka sesuai Undang-undang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) pasal 2. Dalam UU Tipikor disebutkan, hukuman mati bisa dijatuhkan jika korupsi dilakukan terhadap dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi. Pun sepertinya hukuman mati bagi koruptor hanyalah wacana. Mantan Bupati Nias, Binahati Benedictus Baeha yang pernah terlibat dalam kasus korupsi dana bantuan bencana tsunami Nias divonis 5 tahun penjara. Mantan Anggota DPRD Mataram, Muhir terjaring OTT Kejari Mataram terkait kasus pungli bencana alam divonis 2 tahun penjara. Korupsi penyediaan air bersih di wilayah bencana oleh para pejabat Kementerian PUPR dan korupsi rehab masjid di NTB oleh para ASN Kanwil Kemenag juga tidak ada yang dihukum mati. Jangankan hukuman mati untuk kasus korupsi, hukuman potong tangan tampaknya takkan terjadi di negara ini. Dan akhirnya, rakyatlah yang paling menderita.

Tuhan pasti telah memperhitungkan amal dan dosa yang kita perbuat
Kemanakah lagi kita ‘kan sembunyi, hanya kepada-Nya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari hanya runduk sujud pada-Nya…

Dalam perspektif manusia, korupsi tidak dapat dibenarkan. Dalam perspektif Islam apalagi, korupsi adalah tindak kriminal yang masuk konteks suap (risywah), pencurian, penipuan, dan pengkhianatan. Harta hasil korupsi tidaklah berkah, do’a dan shadaqoh koruptor tidak diterima, dan korupsi bukan hanya menjadi penghalang untuk masuk surga, namun akan memberi penghinaan bagi pelakunya dan menyeretnya ke neraka. Dalam sebuah hadits yang panjang, Rasulullah SAW bersabda, “…Sesungguhnya saya mempekerjakan salah seorang di antara kalian untuk mengumpulkan zakat yang telah Allah kuasakan kepadaku, lantas ia datang dan mengatakan, “Ini hartamu dan ini hadiah yang diberikan kepadaku”. Kenapa dia tidak duduk-duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya sampai hadiahnya datang kepadanya? Demi Allah, tidaklah salah seorang diantara kalian mengambil sesuatu yang bukan haknya, selain ia menjumpai Allah pada hari kiamat dengan memikul hak itu, aku tahu salah seorang di antara kalian menjumpai Allah dengan memikul unta yang mendengus, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik…” (HR. Bukhari).

Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada dis
ini, di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum…

Dan akhirnya, biarkanlah hukum berjalan, bukan kuasa kita untuk memvonis dan menetapkan hukuman. Persoalannya sekarang, ini bukan tentang orang lain, tetapi ini tentang kita. Mengambil pelajaran memang lebih mudah dibandingkan bercermin. Padahal tidak ada jaminan kita benar-benar terbebas dari dosa korupsi. Dosa ini bisa dimulai dari perkara remeh seperti mencontek, plagiat, tidak jujur dalam mengisi presensi kehadiran, mengurangi timbangan, mengambil keuntungan secara tidak jujur, dan sebagainya. ‘Tidak korupsi’ butuh pembuktian, bukan sebatas omongan. Benteng kokohnya adalah keikhlashan, kesabaran, dan rasa syukur yang mendalam. Dan biasanya, korupsi tidaklah sendirian. Karenanya butuh lingkungan yang dapat berani menegur dan saling mengingatkan untuk menjaga idealisme antikorupsi. Dan jangan lupa, perkuat hubungan dengan Sang Pemilik Jiwa yang Maha Mengawasi Hamba-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa memelihara kita dari aksi korupsi yang tercela. Selamat Hari Antikorupsi Sedunia!

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) hartamu itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 188)

*judul dan quote diambil dari lirik lagu “Untuk Kita Renungkan”, Ebiet G. Ade