Category Archives: Artikel Islami

Kalau Ramadhan Bisa Menyapa…

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelenggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Kalau bulan bisa ngomong, ia akan mengungkapkan kecemburuannya pada Ramadhan. Bagaimana tidak, Ramadhan ini begitu spesial dan dianakemaskan. Bukan hanya berlimpah berkah dan ampunan, serta menjadi bulan yang identik dengan Al Qur’an, dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hitungan bulan seakan tak ada artinya dibandingkan dengan suatu malam di bulan Ramadhan. Jika bulan-bulan lain bisa menuntut, tentu mereka akan meminta kesetaraan, semua bulan seperti bulan Ramadhan. Dimana pintu-pintu kebaikan begitu terbuka luas. Aktivitas ibadah pun seakan begitu dimudahkan.

Kalau setan bisa protes, ia akan menggugat bulan Ramadhan. Bagaimana tidak, di bulan Ramadhan ini mereka dibelenggu tak dapat leluasa menggoda manusia. Memang masih ada kepanjangan tangan mereka dari bangsa jin dan manusia, namun tentu kerjanya tidak semudah di luar bulan Ramadhan. Di bulan ini berbuat baik menjadi lumrah. Sementara perbuatan tidak baik menjadi cela. ‘Puasa ga boleh bohong’… ‘Lagi puasa jangan ngomongin orang’… ‘Kalo marah batal lho puasanya’… Jika setan-setan bisa berdemonstrasi, mereka akan melakukan aksi massa menuntut keadilan. Mengapa tidak ada semenit atau bahkan sedetikpun malaikat dibelenggu sehingga manusia sulit berbuat baik? Dan mereka harus menerima dibelenggu selama sebulan lamanya!

Kalau Ramadhan bisa menyapa, ia akan bertutur ramah kepada orang beriman yang antusias bersiap menyambutnya. Mengabarkan betapa berharganya kesempatan beramal shalih ketika pintu-pintu surga terbuka lebar sementara pintu-pintu neraka ditutup. Mengingatkan untuk dapat menjaga konsistensi berbuat baik sepanjang Ramadhan, tidak hanya giat di awal. Jika Ramadhan bisa baper, ia akan bersedih menyaksikan manusia yang membiarkannya berlalu begitu saja. Mengasihani manusia yang masih menuruti syahwatnya serta tidak bertambah kebaikannya. Padahal ia hanya datang menyapa sesaat. Sebulan adalah waktu yang teramat singkat. Sementara tidak ada jaminan tahun depan manusia akan kembali menjumpainya.

“Ya Allah, perjalankanlah bulan ini kepada kami dengan penuh kebajikan dan iman, serta keselamatan dan Islam. Rabb-ku dan Rabb-mu (bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi)

Pegiat Zakat, Jangan Berkhianat!

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kalian menghianati berbagai amanat yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal 27)

Hasil pemeriksaan medis untuk kali ketiga dalam dua pekan terakhir masih belum berhasil menunjukkan gejala penyakit apapun. Padahal sejak sakit di kaki serasa ditusuk-tusuk beberapa pekan lalu, aku belum pernah benar-benar pulih. Dan kali ini penyakitnya kembali menghampiri, demam tinggi, tidak bisa tidur, bahkan indera penciuman pun tidak berfungsi. Covid kah? Tidak. Ini sudah kali kedua dalam dua pekan ini hasil SWAB test menunjukkan hasil yang negatif. Dokter pun bingung atas apa yang terjadi. Diagnosis yang bisa disampaikan hanyalah stress, seraya menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana persoalan pikiran bisa memberi dampak terhadap tubuh.

Malam ini terasa panas menyelimuti tubuh, padahal AC sudah menyala. Mungkin suara murathal Al Baqarah yang sayup-sayup terdengar di kamar sebelah yang jadi penyebabnya. Beberapa hari ini, dalam ruqyah mandiri, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuh ini. Di hari kelima, aku tak sanggup lagi, ruqyah mandiri terasa sangat melelahkan. Butuh bantuan orang lain. Segera saja aku minta diantar menemui ustadz yang memang biasa membantu dalam melakukan ruqyah. Menjadi sebuah ikhtiar, bagaimanapun ruqyah hanyalah sarana karena yang menyembuhkan adalah Allah SWT.

Dalam keadaan setengah sadar, ada kalanya berteriak bahkan memukul diri sendiri, jin kafir dan jin muslim yang bersemayam dalam tubuhku saling bentrok. Jin kafir ini menyampaikan tiga misinya: membunuh diriku, membuatku bercerai dengan istriku, dan membuatku keluar dari tempat kerjaku. Kuteringat beberapa hari lalu betapa tiba-tiba aku membenci diriku, istriku, dan tempat kerjaku. Jin kafir ini tampak sangat membenci pekerjaanku sebagai pegiat zakat. Apalagi ada berbagai perbaikan yang kulakukan, yang bisa jadi mengusik sebagian orang. Setelah melalui waktu yang terasa panjang, akhirnya semuanya berhasil terkendali. Atas izin Allah SWT aku kembali sehat, dan semakin mantap untuk berjuang di jalan ZISWAF yang ternyata begitu dibenci para musuh Allah. Tak boleh berlalu seharipun tanpa tilawah, dzikir, dan senantiasa mengingat-Nya.

* * *

Kisah di atas adalah penggalan kisah nyata dari seorang rekan pegiat ZISWAF yang diceritakan langsung kepada penulis beberapa waktu lalu. Penyakit nonmedis memang bukan hal baru bagi penulis. Namun ada beberapa ibroh yang dapat diambil dari cerita seorang rekan ini. Pertama, ‘gangguan’ bukan hanya bisa masuk ke orang awam, namun orang ‘alim’pun dapat terkena ‘gangguan’ tersebut pada titik terlemahnya. Kedua, penyakit nonmedis memang benar ada, pun demikian, ruqyah harus tetap dipandang sebagai sarana, bukan merupakan faktor yang menentukan kesembuhan. Ketiga, jalan para pejuang syariah memang tak pernah mulus dari cobaan dan gangguan. Dan itu merupakan sunatullah dalam berjuang.

Walaupun tidak bisa dijadikan hujjah yang dapat dipercaya, ada beberapa perkataan jin dalam kasus di atas yang dapat menjadi warning sekaligus motivasi. Bukan perkataan tentang sadisnya pembunuhan 6 laskar FPI yang entah didapatnya dari mana. Namun ungkapan kebenciannya terhadap para pejuang syari’ah, para pegiat dakwah, zakat, wakaf, dan sebagainya. Di saat semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya penegakan syari’ah, pihak yang memusuhinya pun tidak sedikit, miltan, terorganisir dan sistematis. Polarisasi ideologis antara kedua kubu ini lebih dahsyat dibandingkan perang antara ‘cebong’ dengan ‘kampret’. Dan tidak ada posisi di antara hizbullah dengan hizbusysyaithan. Akan ada masa dimana manusia akan memilih dimana mereka akan berdiri.

Ujian besar bagi para pejuang syari’ah pun tampaknya tinggal menunggu waktunya. Tanda-tandanya sudah semakin kentara, seperti pembubaran beberapa ormas Islam, ditutupnya pasar muamalah, ataupun ditangkapnya Ketua salah satu Lembaga Amil Zakat karena diduga danai terorisme. Ujian ke depan bisa jadi semakin berat karena para pejuang syari’ah ini ‘diserang’ dari dalam di saat ada kepentingan eksternal untuk memanfaatkan dana umat. Tantangan terbesarnya justru datang dari para pengkhianat perjuangan. Mereka yang berada di barisan umat, namun mengedepankan kepentingan duniawi pribadi dan kelompoknya. Jumlahnya barangkali tidak besar, namun ibarat kanker yang terus merusak sel, jaringan, dan organ sehat. Syari’ah Islam yang mulia, distigmakan negatif akibat ulah oknum pengkhianat berkedok syari’ah.

Pun demikian, optimisme tetap harus dipupuk. Tidak sedikit pejuang syari’ah yang benar-benar tulus ikhlash dalam berjuang. Merekalah anasir terkuat dalam menghadapi berbagai ujian. Yang namanya jalan kebenaran memang tak pernah sepi dari aral menghadang. Godaan untuk meninggalkan medan juang dan memilih jalan yang lebih aman dan menjanjikan juga semakin besar. Perjalanan waktu nanti akan membuktikan, siapa yang benar-benar berjuang di Jalan-Nya, siapa yang mencederai amanah hanya demi kenikmatan sesaat yang semu. Semoga Allah SWT senantiasa memantapkan langkah kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Ahlan Wa Sahlan Ya Sya’ban

Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman” (Abu Bakar al Balkhi)

Tak terasa, bulan Sya’ban 1442 H telah tiba. Artinya, dalam waktu kurang dari sebulan lagi, bulan Ramadhan akan kembali menghampiri. Kata sya’ban diambil dari kata sya’bun yang artinya kelompok atau golongan. Dinamakan Sya’ban karena pada bulan tersebut masyarakat jahiliyah berpencar mencari air. Ada juga yang mengatakan, mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan. Al Munawi mengatakan, “Bulan Rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan Sya’ban, mereka berpencar ke berbagai medan peperangan”.

Bulan Sya’ban ialah bulan dimana Rasulullah SAW paling sering berpuasa sunnah. Banyak dalil yang menjelaskan mengenai hal ini, di antaranya dari Aisyah r.a. yang meriwayatkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah melebihi (puasa sunnah) di bulan Sya’ban.” (HR.  Bukhari). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Usamah bin Zaid r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban”. Rasulullah SAW bersabda, “Ini adalah bulan yang seringkali dilalaikan oleh banyak orang. Keberadaannya antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan, saya ingin sekali ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa” (HR. An Nasa’i).

Bulan Sya’ban memang seakan ‘kalah pamor’ dibandingkan bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab termasuk salah satu dari empat syahrul haram (bulan yang dimuliakan). Letaknya terpisah dari tiga syahrul haram lainnya yang dekat dengan pelaksanaan haji. Bulan Rajab pun memiliki momentum Isra Mi’raj yang di Indonesia banyak diperingati sebagai salah satu hari libur nasional. Sementara Ramadhan adalah Sayyidusy Syuhur (penghulunya para bulan) yang nama bulannya disebutkan langsung dalam Al Qur’an. Ramadhan juga memiliki banyak julukan, di antaranya Syahrul Qur’an, bulan dimana Al Qur’an pertama kali diturunkan. Kemudian syahrush shiyam, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Bahkan di bulan Ramadhan ada lailatul qadar, dimana satu malamnya lebih baik daripada seribu bulan.

Pun tidak sepopuler bulan Rajab dan Ramadhan, bulan Sya’ban sebenarnya memegang peran vital dalam memastikan kesuksesan menjalani ibadah Ramadhan. Ibarat akan bertanding, porsi latihan harus optimal jelang menghadapi pertandingan. Ibarat akan menyelenggarakan kegiatan, gladi resik event Ramadhan sudah harus mantap di bulan Sya’ban. Ibarat akan memanen ketakwaan di bulan Ramadhan, bulan Sya’ban adalah momen penting dalam memelihara pohon ketakwaan yang bibitnya telah ditanam sejak bulan Rajab. Bagaimana mungkin panennya akan berhasil jika pemeliharaannya dilupakan? Berbagai kegiatan Tarhib Ramadhan pun banyak digelar di bulan Sya’ban ini. Pun sebenarnya Tarhib Ramadhan yang bersifat ilmu dan pengingatan lebih tepat dikondisikan sejak bulan Rajab, sehingga di bulan Sya’ban ini umat Islam bisa langsung latihan dalam menyambut Ramadhan.

Persiapan iman, ilmu, fisik, dan mental sudah benar-benar dimatangkan di bulan Sya’ban ini. Persiapan diri dan keluarga untuk menyambut Ramadhan juga harus benar-benar siap. Dengan latihan dan pemanasan yang cukup, seharusnya pertandingan dapat dijalani dengan baik. Tidak perlu khawatir ‘telat panas’ ataupun cedera. Dan bulan Sya’ban belum lama masuk, ada cukup banyak waktu untuk menguatkan bekal dan persiapan. Apalagi kondisi pandemi tidak se’mencekam’ tahun lalu. Berbagai persiapan seharusnya bisa lebih optimal. Semoga dengan pembiasaan yang baik di bulan Sya’ban ini dapat mengantarkan kita untuk bisa lebih produktif di bulan Ramadhan. Pembiasaan positif yang semoga saja dapat istiqomah dilakukan di luar Ramadhan.

Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan” (HR. Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman. Syaikh Ahmad Syakir berkata dalam takhrij Musnad Imam Ahmad: sanad hadits ini dhaif)

Sliver the Truth

Kebenaran umpama selembar cermin di tangan Tuhan yang jatuh pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memerhatikannya, lalu berpikir telah mengenggam kebenaran.” (Jalaluddin Rumi)

Sliver the truth’ artinya sepotong kebenaran, sebuah istilah yang baru saya dapati saat berdiskusi dengan Pak Zaim Uchrowi, salah seorang pendiri Harian Republika. Beliau mengatakan bahwa ‘sliver the truth’ begitu berkembang di Indonesia, terutama di dunia maya. ‘Sliver the truth’ mengandung kebenaran, namun tidak utuh, dan menurut beliau hal ini lebih berbahaya daripada kebohongan/ hoax. Hoax ketika dibuktikan kepalsuannya akan nyata kebohongannya dan ditinggalkan. Namun sepotong kebenaran tidak benar-benar bisa dibuktikan kepalsuannya karena masih mengandung kebenaran. Mereka yang meyakini sepotong kebenaran ini pun lebih sulit untuk bersikap objektif dan menerima kebenaran yang kompleks. Sepotong kebenaran dianggap sebagai kebenaran yang utuh.

Ada istilah serupa yang saya kenal sebelumnya yaitu ‘half-truth’ atau kebenaran yang setengah-setengah. Ada pepatah lama yang mengatakan, “a half-truth is a whole lie”. Barangkali ada benarnya, sebab sepotong kebenaran lebih didominasi kepingan yang dekat dengan kebohongan dibandingkan dengan kepingan kebenarannya. Dan menjadi lebih berbahaya dibandingkan kebohongan karena kepingan kebenaran ini diyakini sebagai kebenaran sementara kepingan yang lain diyakini sebagai kebohongan. Semakin lama penggalan kebenaran ini diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, semakin jauhlah dengan kebenaran hakiki sebab mereka yang meyakininya menutup diri dari penggalan kebenaran yang lain.

Dalam realitanya, ‘sliver the truth’ ini banyak digunakan untuk memanipulasi kebohongan menjadi kebenaran. Belum lagi jika sudah melibatkan framing media. Kebohongan yang terus diulang akan menjadi kebenaran, apalagi jika dalam pengulangan tersebut diselipkan ‘sliver the truth’. Istilah ‘framing’ ini akhirnya dekat dengan istilah ‘paltering’ alias mempermainkan kebenaran. Mengelabui orang dengan menyatakan hal yang ‘benar’. Contoh sederhana yang lekat dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan istilah ‘On the Way (OTW)’ ketika terlambat memenuhi janji pertemuan, padahal baru saja berangkat di depan rumah. Tidak sepenuhnya salah karena memang sudah di jalan (depan rumah). Bahkan ada yang lebih ekstrim menggunakan OTW dengan maksud lagi jalan ke kamar mandi buat siap-siap. Sejenis kebohongan yang barangkali dianggap lumrah.

Sebenarnya tidak semua ‘kebohongan’ dilarang. Nabi Ibrahim a.s. misalnya, pernah ‘berbohong’ tiga kali: menatap langit dan mengatakan dirinya sakit ketika diajak warga untuk berhari raya menyembah berhala; ‘mengambinghitamkan’ berhala paling besar yang menghancurkan berhala-berhala; dan mengakui Sarah (istrinya) sebagai saudara perempuannya. Termasuk ‘sliver the truth’ karena Nabi Ibrahim a.s. memang merasa sakit hatinya menyaksikan kemusyrikan kaumnya. Dalam kasus penghancuran berhala, yang disampaikan Nabi Ibrahim a.s. adalah sejenis majas, bukan jawaban dusta atas sebuah pertanyaan. “Berhala yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al Anbiya:63). Secara logika, karena berhala tidak dapat berbicara, maka pernyataannya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Bahkan ada yang menafsirkan kalimat bal fa’alahu kabiruhum hadzaterdiri dari dua kalimat.Bal fa’alahumenjawab pertanyaan bahwa pelakunya adalah laki-laki, sementara kabiruhum hadzaadalah sebuah kebenaran karena Nabi Ibrahim a.s. saat itu memang menunjuk berhala paling besar yang ada disana. Kemudian untuk kasus mengakui Sarah sebagai saudarinya karena memang Sarah adalah saudara perempuan seagamanya. Saat itu bahkan Sarah memang satu-satunya saudari seiman. Jika ditambah berbagai potensi fitnah yang akan muncul jika Nabi Ibrahim a.s. menjawab ‘apa adanya’, maka keputusan untuk slivering the truthtentu akan lebih mudah dipahami. Atau dalam kisah Nabi Yusuf a.s., manipulasi kebenaran pun sempat dilakukan ketika menuduh saudaranya (Benyamin) mencuri sehingga dapat ditahan, dan pada akhirnya bisa membawa ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.) ke Mesir. Itu termasuk siasat. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Ummu Kultsum binti Uqbah Abi Mu’ith r.a. mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah termasuk pendusta: orang yang mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan.” Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mentolerir kebohongan hanya dalam tiga kondisi: pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau sebaliknya.

Hanya saja dalam kondisi saat ini, ‘slivering the truth’ ini tidak patut dibudayakan. Bukan hanya motifnya yang seringkali politis dan sangat pragmatis, kondisi masyarakat pun juga tidak mendukung. Bualan dan dusta semakin jadi fenomena biasa. Daya kritis terhadap informasi menurun sementara fanatisme golongan meningkat. Belum lagi ditambah media yang cenderung kepada satu potongan kebenaran, bukan pada kebenaran itu sendiri. Sepotong kebenaran ini ketika dipadukan dengan arogansi dan fanatisme berlebihan dapat berbahaya. Bukan hanya akan menolak kebenaran dari pihak yang berbeda, dan merendahkan pihak lain, namun akan menimbulkan kebencian dan permusuhan dengan pihak lain. Polaritas antar golongan semakin kuat, seperti anjing dan kucing. Atau ibarat cebong dan kampret.

Ada istilah ‘white lies’ bahkan ‘beautiful lies’, namun ‘seputih’ apapun hal itu tetaplah sebuah kebohongan, bukan kebenaran. Kebohongan ‘baik’ yang akan diikuti oleh kebohongan lain untuk menutupinya. Kebohongan yang akan melahirkan kenyamanan semu. The truth is still the truth, even if no one believes it. A lie is still a lie, even if everyone believes it. Memang kebenaran kadang menyakitkan, karenanya tidak semua orang menyukainya. Ada pula yang namanya pembenaran, yang mampu memberi kepuasan sesaat. Dan sepotong kebenaran adalah sesuatu hal yang berbeda lagi. Bisa diarahkan membawa kebaikan, namun lebih berpotensi besar menyertai kebohongan. Karenanya, daripada menyampaikan sepotong kebenaran, lebih baik membiasakan berpikir kritis dan terbuka, tabayyun (check and recheck), serta menahan diri dari perkataan dan perilaku dusta, sekecil apapun, dalam keadaan bercanda sekalipun. Membiasakan diri untuk terus mencari, menelaah, dan menerima kebenaran. Bisa jadi ada kesalahan dari kebenaran yang kita yakini. Bisa jadi ada kebenaran dalam kesalahan yang orang lain yakini. Sebab kebenaran sejati hanya ada di sisi Allah SWT.

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim)

(Masih) Menanti Kabar Baik di 2021

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

#Gempa Mag:6.2, 15-Jan-21 01:28:17 WIB, Lok:2.98 LS, 118.94 BT (Pusat gempa berada di darat 6 km TimurLaut Majene), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) IV-V Majene, III Palu, II Makasar #BMKG. Begitulah update informasi bencana yang viral pagi ini beserta foto dan videonya. Informasi gempa di Sulawesi Barat tersebut menambah panjang deretan bencana yang terjadi sepanjang tahun 2021 yang baru berjalan setengah bulan. Sebelumnya ada bencana banjir di beberapa wilayah tanah air seperti di Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Jember, dan Kepulauan Riau. Belum semuanya sudah teratasi, termasuk musibah longsor Sumedang. Malam ini bahkan ada informasi gempa 4.7 SR di Pangandaran.

Dan masih lekat dalam ingatan akan peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari lalu yang mengangkut 62 orang. Jangan lupakan juga bencana dunia berupa virus corona yang pada awal tahun ini memunculkan varian baru yang sudah mengeinfeksi di puluhan negara. Update dana Covid-19 di Indonesia hingga pertengahan Januari 2021 ini juga menunjukkan tren dan rekor yang memprihatinkan. Setengah bulan ini sudah beberapa kali rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia terpecahkan, mulai dari 8.854 kasus baru (6 Januari), 9.321 kasus baru (7 Januari), 10.617 kasus baru (8 Januari), 11.278 kasus baru (13 Januari), 11.557 kasus baru (14 Januari), hingga 12.818 kasus baru per hari ini. Melihat trennya, bukan tidak mungkin rekor kasus harian akan kembali terpecahkan. Rekor kematian harian akibat Covid-19 di Indonesia pun sudah dua kali terpecahkan di awal tahun ini, yaitu 302 orang dan 306 orang pada 12 dan 13 Januari lalu. Total korban jiwa di seluruh dunia akibat Covid-19 di pertengahan Januari 2021 ini sudah menembus angka 2 juta jiwa, dimana korban terbesar di AS yang mencapai lebih dari 400 ribu jiwa.

Pengadaan, pendistribusian, dan penyuntikan vaksin sayangnya belum menjadi kabar baik. Banyak isu mengenai efek samping dan kontroversi vaksin yang menyertai. Belum lagi isu konspirasi. Faktanya, kasus baru dan kematian akibat Covid-19 di Indonesia dan dunia terus meningkat. Vaksin yang sifatnya jangka panjang barangkali akan menjadi kabar baik di masa mendatang ketika efektivitasnya sudah mulai dirasakan. Ironisnya, tidak sedikit bencana atau musibah yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia. Misalnya banjir di Kalimantan Selatan yang terparah sepanjang sejarah disebabkan penebangan hutan berganti menjadi kawasan tambang dan perkebunan sawit. Kecelakaan pesawat juga bukan karena faktor alam. Belum lagi jika ada pemotongan dana bantuan bencana sebagaimana yang beberapa kali terjadi. Pada titik inilah, manusia perlu introspeksi dan berbenah. Bukan hanya pasrah, apalagi sibuk mencari kambing hitam.

Sore ini tersiar kabar wafatnya Sayyidil Walid Al Habib bin Abdurrahman Assegaf. Salah seorang ulama yang nasabnya sampai ke Rasulullah SAW sekaligus salah seorang guru dari Habib Rizieq Shihab. Berpulangnya beliau hanya berselang sehari dari meninggalnya Syaikh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber, ulama Al Hafizh kelahiran Madinah yang kerap mengisi acara Ramadhan dan bertemakan Al Qur’an di TV. Tahun lalu, beliau pernah juga menjadi korban penusukan oleh ‘orang gila’ kala berdakwah di Lampung. Bersamaan dengan dua ulama tersebut, tersiarlah kabar belasan ulama lainnya yang berpulang ke Rahmatullah sepanjang Januari 2021. Menyusul para ulama dan orang shalih yang banyak meninggal beberapa tahun terakhir. Walaupun kematian adalah sunnatullah, meninggalnya para ulama sejatinya juga merupakan musibah. Bukan hanya bagi keluarga dan kerabatnya, namun bagi umat manusia seluruhnya. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.

Lantas sampai kapan bencana terus melanda dan musibah terus mendera? Karena kehidupan sejatinya adalah ujian, potensi bencana dan musibah akan selalu ada mengiringi perjalanan hidup manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Bisa bersabar atau lantas berputus asa? Tetap bersyukur atau malah kufur? Yang pasti, harapan akan masa depan yang lebih baik akan selalu ada. Bukankah semakin pekat malam, semakin dekat pula dengan fajar? Semakin berat masalah, semakin dekat dengan jalan keluar. Semakin lelah dalam berjuang, semakin dekat pula dengan kemenangan. Semuanya mudah bagi Allah SWT. Tinggal bagaimana kita mendekat pada-Nya, tidak jemu memohon dan berharap pada-Nya, tidak berhenti bersabar dan berjuang di Jalan-Nya. Ujian kehidupan memang tidak ringan, semakin Allah SWT mencintai hamba-Nya, semakin berat pula ujian yang diberikan-Nya. Semoga Allah SWT memberikan kita punggung yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai ujian.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)

2021, Tahun Masih Harus Bersabar

Aku mencari segala bentuk rezeki tetapi aku tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar
(Umar bin Khattab r.a.)

Akhirnya, tahun 2020 berlalu. Ada banyak harapan di tahun 2021 ini. Pandemi virus corona sepanjang tahun 2020 benar-benar membuat dunia berselimut duka dan kekhawatiran. Banyak event nasional dan internasional di tahun 2020 yang ditunda atau dibatalkan, mulai dari konser musik, festival film, hingga Olimpiade di Tokyo. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia yang tetap berjalan barangkali termasuk anomali. Dalam kaleidoskop 2020 di bidang apapun, tidak terlepas dari dampak yang dirasakan akibat pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya bidang kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan, sosial budaya, politik, hukum, hubungan internasional, agama, hingga teknologi informasi dan olahraga tahun 2020 pasti terkait dengan persoalan pandemi ini.

Memasuki tahun 2021, pandemi belum juga berakhir. Bahkan angka statistiknya terus bertambah. Kasus Covid-19 tercatat sudah menembus 80 juta dengan korban jiwa lebih dari 1,8 juta di seluruh dunia. Di luar kasus Covid-19, awal tahun 2021 ini sebenarnya relatif lebih baik daripada awal tahun 2020. Awal tahun lalu sudah diwarnai dengan isu World War III karena memburuknya hubungan AS dengan Iran. Beberapa negara di Timur Tengah juga ikut bergejolak. Indonesia juga bersitegang dengan China yang mengklaim Laut Natuna. Awal tahun 2020 juga ditandai dengan banjir bandang di Jakarta, kebakaran hutan Australia, dan erupsi Gunung Taal di Filipina. Belum lagi kasus Reynhard Sinaga yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Semoga tidak terulang di tahun ini.

Di tahun 2021 ini sepertinya kesabaran masih akan terus diuji. Ada lebih dari 110 ribu kasus aktif Covid-19 di Indonesia dari sekitar 750 ribu kasus yang terdata, dengan korban jiwa lebih dari 22 ribu orang. Banyak ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia penuh. Itu belum termasuk klaster liburan akhir tahun. Petugas medis perlu lebih bersabar menghadapi pasien Covid-19 yang tak jua surut. Sudah 10 bulan sejak kasus pertama corona di Indonesia diumumkan, kebutuhan ekonomi harus terus terpenuhi, masyarakat tak bisa lagi ‘ditertibkan’ untuk diam saja di rumah. Butuh kesabaran untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimana masyarakat semakin abai. Di dunia pendidikan, banyak orang tua yang sepertinya juga masih harus bersabar untuk mendidik anaknya belajar di rumah karena pembelajaran tatap muka urung dilakukan.

Masyarakat Indonesia juga masih harus bersabar menghadapi pemerintah negeri ini. Ketidaktahuan pemerintah akan masuknya mutasi virus corona di Indonesia beberapa hari lalu seakan dejavu dengan kondisi awal tahun lalu saat pemerintah menyatakan belum ada kasus Covid-19 di tanah air pun ada beberapa warga asing yang terinfeksi setelah berkunjung ke Indonesia. Keputusan menutup kedatangan Warga Negara Asing (WNA) di awal tahun ini juga terasa terlambat hampir setahun. Dan memang butuh kesabaran ekstra dalam menyikapi kebijakan pemerintah Indonesia. Sepanjang tahun 2020, sudah ada puluhan pernyataan kontroversial dari pejabat pemerintah. Belum lagi ditambah berbagai pelanggaran hukum dan kesewenang-wenangan yang dilakukan. Jika pada 2020 masih ada Donald Trump, Presiden AS yang eksentrik dan kerap jadi olok-olok. Dengan tak terpilihnya lagi Trump, bukan tak mungkin Indonesia akan banyak mendapat sorotan dunia, bukan dalam artian yang positif.

Umat Islam masih harus bersabar. Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Habib Rizieq Shihab (HRS) dipenjara tak lama setelah 6 orang pengawalnya tewas ditembak polisi. Ironis, HRS dipenjara di Rutan Narkoba karena melanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, sementara beberapa bulan lalu puluhan ribu narapidana dibebaskan kerena Covid-19. HRS ditetapkan sebagai tersangka tanpa menghilangkan satupun nyawa, sementara para penembak laskar FPI tidak diusut, apalagi dihukum. Penangkapan HRS diproses begitu cepat pun tidak merugikan negara seperti kasus BLBI, Jiwasraya, e-KTP, ataupun Pelindo. Bahkan HRS sudah membayar denda 50 juta. Sementara Harun Masiku dan Sjamsul Nursalim yang jelas merugikan negara tak jua tertangkap. Menteri KKP dan Menteri Sosial yang diciduk KPK karena kasus korupsi memang di-reshuffle, namun jatah menteri dari partai lumbung koruptor tidaklah berkurang. Boro-boro ditindak atau dibubarkan, yang ada malah kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader partai penguasa menguap begitu saja. Apalagi kasus yang menyeret ‘anak Pak Lurah’. Barangkali harus menunggu Pak Lurah lengser dulu untuk menuntut keadilan, itupun jika Pak Lurah barunya berani menuntut.

Dan masyarakat dunia masih harus bersabar. Vaksin bukan obat. Alih-alih mengobati, vaksin lebih bersifat preventif. Butuh waktu untuk membuatnya, tambahan waktu untuk memproduksi vaksin yang efektif, tambahan waktu lagi untuk mendistribusikannya, serta lebih banyak waktu lagi untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit menular. Belum lagi adanya kelompok anti vaksin dan penganut teori konspirasi. Umat manusia perlu lebih bersabar agar tidak menimbulkan bencana lain yang lebih besar. Bagaimanapun, banyak bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Ditambah lagi potensi bencana alam. Selain pandemi Covid-19, tahun 2020 lalu ada berbagai bencana dengan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit, mulai dari kebakaran, banjir bandang, badai besar, letusan gunung berapi, gempa bumi, serangan belalang, angin topan, ledakan, hingga kerusuhan sipil dan krisis kemanusiaan. Dan tidak ada jaminan bencana serupa tak terulang di tahun ini.

Lalu sampai kapan harus bersabar? Sampai kapanpun, sebab kesabaran sejatinya tiada batas. Sabar secara bahasa artinya menahan diri. Sedangkan secara syari’at, sabar adalah menahan diri dalam tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian atau musibah. Jadi batas kesabaran adalah ketika tak ada lagi ketaatan yang harus dilakukan, kemaksiatan yang harus dihindari, dan musibah yang harus dihadapi. Ya, kesabaran harus ada sepanjang hayat. Kesabaran inilah yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian, tetap optimis, menikmati proses kehidupan, menjauhkan dari penyakit, keberuntungan yang baik, dan derajat tinggi di surga. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang sabar, semakin sabar di tahun ini, dan terus bersabar di tahun-tahun selanjutnya.

Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku
(Ali bin Abi Thalib r.a.)

Untuk Kita Renungkan

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat…

Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2003 menetapkan 9 Desember sebagai Hari Antikorupsi Sedunia. Tema Hari Antikorupsi tahun ini adalah “Recover with Integrity to Build Forward Better”. Tema ini erat kaitannya dengan mitigasi korupsi dan pemulihan Covid-19, sesuatu yang menjadi ironi di Indonesia. Baru beberapa hari yang lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Menteri Sosial, Juliari P. Batubara terkait korupsi Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19. Ironisnya lagi, Wakil Bendahara Umum PDIP ini kerap terlibat aktif dalam kampanye antikorupsi. Dalam posternya sebagai Caleg DPR RI Dapil Jateng 1 pada Pemilu 2019 lalu, ditampilkan slogan besar “Korupsi dibabat pasti Indonesia Hebat!”. Dalam cuplikan wawancara setelah diangkat Jokowi sebagai Mensos akhir tahun lalu, Pak Juliari sempat mengatakan “…Jadi pengendalian korupsi itu ya diri sendiri, nggak ada orang lain. Inget lho, kalau kamu korupsi kasihan anak istrimu, kasihan anak suamimu. Mereka pasti keluar malu!”. Bahkan pada peringatan Hari Antikorupsi tahun ini beredar banyak spanduk yang memuat fotonya dengan tulisan “Membangun Kesadaran Seluruh Elemen Bangsa dalam Budaya Anti Korupsi: Kemensos RI Hadir Tanpa Korupsi Wujudkan Indonesia Sejahtera”. Gambaran lengkap pribadi tanpa integritas. Apa yang diucapkan berbeda dengan yang dilakukan. Masih ingat dengan slogan “Katakan Tidak! pada Korupsi” dimana tiga bintang utama iklan tersebut malah didakwa sebagai koruptor? Demikianlah politik pencitraan. Ringan dalam berkata, namun karena tak bersumber dari bersihnya jiwa, perilaku yang ditampilkan jadi jauh berbeda.

Anugrah dan bencana adalah kehendak-Nya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cam
buk kecil agar kita sadar
Adalah Dia diatas segalanya…

Dua pekan lalu, KPK menetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo sebagai tersangka kasus korupsi ekspor benih lobster (benur). Pada peringatan Hari Antikorupsi tahun lalu, Pak Edhy sempat mengunggah cuitan di laman twitternya, “Korupsi adalah musuh utama yang harus kita perangi. Bersama-sama membangun komitmen KKP menjadi birokrat yang bersih dan melayani untuk mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera. Selamat Hari Antikorupsi Sedunia!”. Lagi-lagi perkataan yang tidak sesuai dengan perbuatan. Entah sekadar tuntutan jabatan atau memang terlalu jumawa, kesudahan mereka yang berteriak lantang antikorupsi justru tidak sedikit yang berakhir di jeruji besi. Bisa jadi batas benci dan cinta memang sedemikian tipis. Bisa jadi pula manusia diuji dengan sisi terlemahnya. Yang pasti, semangat antikorupsi memang bukan sebatas kata dan narasi. Tetapi sikap aktif untuk tetap jujur dan amanah dalam menghadapi segala godaan dunia.

…Ini bukan hukuman hanya satu isyarat
Bahwa kit
a mesti banyak berbenah
Memang bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan yang tega berbuat nista…

Tanpa bermaksud mengecilkan, jika ekspor benur adalah urusan bisnis, korupsi bansos Covid-19 adalah urusan hajat hidup orang banyak. Jahat sekali rasanya, mengambil hak mereka yang terdampak bencana. Tak heran wacana hukuman mati mengemuka sesuai Undang-undang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) pasal 2. Dalam UU Tipikor disebutkan, hukuman mati bisa dijatuhkan jika korupsi dilakukan terhadap dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi. Pun sepertinya hukuman mati bagi koruptor hanyalah wacana. Mantan Bupati Nias, Binahati Benedictus Baeha yang pernah terlibat dalam kasus korupsi dana bantuan bencana tsunami Nias divonis 5 tahun penjara. Mantan Anggota DPRD Mataram, Muhir terjaring OTT Kejari Mataram terkait kasus pungli bencana alam divonis 2 tahun penjara. Korupsi penyediaan air bersih di wilayah bencana oleh para pejabat Kementerian PUPR dan korupsi rehab masjid di NTB oleh para ASN Kanwil Kemenag juga tidak ada yang dihukum mati. Jangankan hukuman mati untuk kasus korupsi, hukuman potong tangan tampaknya takkan terjadi di negara ini. Dan akhirnya, rakyatlah yang paling menderita.

Tuhan pasti telah memperhitungkan amal dan dosa yang kita perbuat
Kemanakah lagi kita ‘kan sembunyi, hanya kepada-Nya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari hanya runduk sujud pada-Nya…

Dalam perspektif manusia, korupsi tidak dapat dibenarkan. Dalam perspektif Islam apalagi, korupsi adalah tindak kriminal yang masuk konteks suap (risywah), pencurian, penipuan, dan pengkhianatan. Harta hasil korupsi tidaklah berkah, do’a dan shadaqoh koruptor tidak diterima, dan korupsi bukan hanya menjadi penghalang untuk masuk surga, namun akan memberi penghinaan bagi pelakunya dan menyeretnya ke neraka. Dalam sebuah hadits yang panjang, Rasulullah SAW bersabda, “…Sesungguhnya saya mempekerjakan salah seorang di antara kalian untuk mengumpulkan zakat yang telah Allah kuasakan kepadaku, lantas ia datang dan mengatakan, “Ini hartamu dan ini hadiah yang diberikan kepadaku”. Kenapa dia tidak duduk-duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya sampai hadiahnya datang kepadanya? Demi Allah, tidaklah salah seorang diantara kalian mengambil sesuatu yang bukan haknya, selain ia menjumpai Allah pada hari kiamat dengan memikul hak itu, aku tahu salah seorang di antara kalian menjumpai Allah dengan memikul unta yang mendengus, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik…” (HR. Bukhari).

Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada dis
ini, di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum…

Dan akhirnya, biarkanlah hukum berjalan, bukan kuasa kita untuk memvonis dan menetapkan hukuman. Persoalannya sekarang, ini bukan tentang orang lain, tetapi ini tentang kita. Mengambil pelajaran memang lebih mudah dibandingkan bercermin. Padahal tidak ada jaminan kita benar-benar terbebas dari dosa korupsi. Dosa ini bisa dimulai dari perkara remeh seperti mencontek, plagiat, tidak jujur dalam mengisi presensi kehadiran, mengurangi timbangan, mengambil keuntungan secara tidak jujur, dan sebagainya. ‘Tidak korupsi’ butuh pembuktian, bukan sebatas omongan. Benteng kokohnya adalah keikhlashan, kesabaran, dan rasa syukur yang mendalam. Dan biasanya, korupsi tidaklah sendirian. Karenanya butuh lingkungan yang dapat berani menegur dan saling mengingatkan untuk menjaga idealisme antikorupsi. Dan jangan lupa, perkuat hubungan dengan Sang Pemilik Jiwa yang Maha Mengawasi Hamba-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa memelihara kita dari aksi korupsi yang tercela. Selamat Hari Antikorupsi Sedunia!

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) hartamu itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 188)

*judul dan quote diambil dari lirik lagu “Untuk Kita Renungkan”, Ebiet G. Ade

Sepakbola Eropa Tanpa Muslim (2/2)

Pesepakbola muslim di Liga Italia (Serie A) sebagiannya diisi pemain berpengalaman di liga lain. Misalnya Franck Ribery (Fiorentina) yang sudah memenangkan semua piala yang mungkin didapat ketika memperkuat Bayern Munchen. Edin Dzeko (AS Roma) pernah meraih gelar Bundesliga bersama Wolfsburg dan dua kali juara Premier League bersama Manchester City. Brahim Diaz (AC Milan) pernah juara Premier League 2017/2018 bersama Manchester City dan juara La Liga 2019/2020 bersama Real Madrid. Henrikh Mkhtariyan (AS Roma) pernah juara Liga Armenia (4 kali), juara Liga Ukraina (3 kali) dan juara Liga Eropa bersama Manchester United. Tiemoue Bakayoko (Napoli) pernah juara Ligue 1 bersama AS Monaco dan juara piala FA bersama Chelsea. Nama-nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Serie A di antaranya Calhanoglu dan Bennacer (AC Milan); Mert Muldur, Kaan Ayhan, Mehdi Bourabia, dan Hamed Jr. Traore (Sassuolo); Merih Demiral (Juventus); Berat Djimsiti (Atalanta); Kalidou Koulibaly, Elseid Hysad, dan Ghoulam (Napoli); Hakimi dan Handanovic (Inter Milan); Koray Gunter dan Mert Cetin (Verona); Amadou Diawara (AS Roma); Keita Balde, Omar Colley dan Mehdi Leris (Sampdoria); Fares dan Strakosha (Lazio); Sofyan Amrabat (Fiorentina); Adam Ounas (Cagliari); Barrow dan Mbaye (Bologna); Gervinho (Parma); Valon Behrami (Genoa); Amer Gojak (Torino); Mamadou Coulibaly (Udinese); dan Ahmad Benali (Crotone).

Perancis, negara yang dipimpin Presiden Macron, menyumbang banyak nama-nama pesepakbola muslim. Liga Perancis (Ligue 1) sering menjadi tempat dimana bakat para pesepakbola muslim ditemukan. Di skuad PSG sebagai juara Ligue 1 tiga muslim terakhir, ada sejumlah pemain muslim di antaranya Idrissa Gueye dan Abdou Diallo. Diallo masih berseragam AS Monaco ketika menjadi juara Ligue 1 2016/2017 bersama dengan banyak pesepakbola muslim lainnya seperti Toure, Bakayoko, Mendy, Traore, Nabil Dirar dan Djibril Sidibe. Sidibe masih bertahan di AS Monaco bersama pemain muslim lainnya termasuk Ben Yedder yang menjadi top skor Ligue 1 musim lalu bersama Mbappe. Nama-nama pemain muslim lainnya yang masih aktif bermain di Ligue 1 di antaranya Zeki Celik, Burak Yilmaz, Yusuf Yazici, dan Boubakary Soumare (Lille); Nayef Aguerd, Hamari Traore, dan M’Baye Niang (Rennes); Boubacar Kamara, Saif-Eddine Khaoui, dan Pape Gueye (Marseille); Amine Gouiri, Hassane Kamara, Boudaoui, dan Youcef Atal (Nice); Aouar, Ekambi, Benlamri, dan Moussa Dembele (Lyon); Niane, Boulaya, Kouyate, Bronn, Fofana, dan Maziz (Metz); Oumar Doucoure, Sylla, Haidara, dan Seko Fofana (Lens); Boufal, Thioub, Ismael Traore, El Melali, Abdoulaye Bamba, Coulibaly, Amadou, Ali-Cho, dan Alioui (Angers); Ben Arfa, Yacine Adli, Sabaly, dan Zerkane (Bordeaux); Wahbi Khazri, dan Abdoulaye Sidibe (Saint Etienne); Haris Belkebla (Brest); Abdelhamid, Berisha, El Bilal Toure, Zeneli, dan Drammeh (Reims); Umut Bozok (Lorient); Lafont, Abeid, Louza, Abdoul Kader Bamba, Abdoulaye Toure, dan Kalifa Coulibaly (Nantes); Ferhat, Duljevic, dan Benrahou (Nimes); Habib Diallo, Simakan, Ibrahima Sissoko, Lamine Kone, Idriss Saadi, dan Majeed Waris (Strasbourg); Chafik, Ngouyamsa Nounchil, dan Moussa Konate (Dijon).

Terlihat banyak bukan, pesepakbola muslim yang aktif bermain di lima liga terbaik Eropa? Nyatanya, belum semua nama tertulis disana, masih ada puluhan nama lain. Atau bahkan ratusan nama lagi jika kita sertakan liga-liga lain di Eropa. Secara kuantitas, keberadaan pemain muslim ini jelas akan memberikan dampak terhadap persepakbolaan di Eropa. Bagaimana dengan kualitas? Indikatornya tentu tidak mudah, apalagi ada ratusan nama. Kalau kita jadikan Liga Champions musim ini sebagai kompetisi tingkat tertinggi di level Eropa, kita akan mendapati pesepakbola muslim disana. Di posisi kiper ada Mendy (Chelsea) dengan 3 cleansheet (CS), dengan cadangan Bounou (Sevilla) yang belum pernah kalah (2 CS) dan Handanovic (Inter – 1 CS). Dengan formasi 3-5-2, di posisi bek kiri ada Bansebaini (Monchengladbach – 1 CS) yang sudah mencetak 2 gol (GS), Zouma (Chelsea – 3 CS) di tengah, dan bek kanan Djimsiti (Atalanta – 1 CS). Sebagai bek cadangan ada Rudiger (Chelsea – 1 CS), Hakimi (Inter – 1 CS), Mazraoui (Ajax), Aguerd (Rennes), dan Mendy (Madrid). Di posisi gelandang bertahan ada Gundogan (Man. City – 2 GS – 2 CS) dan Pogba (Man. United – 2 assist (AS) & 1 CS). Di posisi gelandang serang ada Salah (Liverpool – 2 GS, 1 AS, 3 CS) di kanan, Ziyech (Chelsea – 1 GS & 3 CS) di tengah, dan Mane (Liverpool – 1 GS, 1 AS & 3 CS) di kanan. Sebagai cadangan ada Visca (Basaksehir – 1 GS & 1 AS), Kante (Chelsea – 3 CS), Pjanic (Barcelona – 1 CS), dan Fares (Lazio). Di posisi striker ada Thuram (Monchengladbach – 2 GS & 2 AS) dan Dembele (Barcelona – 2 GS & 1 AS). Cadangan striker ada En Nesyri (Sevilla – 2 GS), Benzema (Madrid – 2 GS), Marega (Porto – 1 GS & 1 AS), dan Berisha (Salzburg – 1 GS & 1 AS). Jika Liga Eropa dibuatkan seperti ini juga pasti kita akan mendapati banyak pemain muslim disana. Ada 48 klub yang bermain dari negara yang lebih beragam. Saat ini, top skor sementara Liga Eropa adalah pesepakbola muslim, Yusuf Yazici (Lille – 6 GS). Di bawahnya ada beberapa pemain yang telah mencetak 4 gol, di antaranya pemain muslim, Munas Dabbur (Hoffenheim).

Banyak masyarakat yang lebih tertarik dengan sepakbola daripada politik, barangkali karena bisa menghibur tanpa menyakiti. Dalam sejarah manusia, para politisi non-muslim lah yang banyak mewarnai kehancuran peradaban manusia. Pun demikian dalam sejarah dunia kemanusiaan, para pemimpin non-muslimlah yang paling banyak mengalirkan darah rakyatnya. Karenanya, stigma terorisme yang dilekatkan pada Islam tidaklah beralasan. Apalagi dalam dunia persepakbolaan, banyak pemain muslim yang menghibur dan menorehkan prestasi tanpa mengumbar kebencian dan permusuhan. Sudah saatnya Bangsa Barat yang (konon) lebih rasional dalam berpikir, bisa lebih bijaksana dalam bersikap dan mengeluarkan statement. Kedamaian dunia tidaklah hadir dari menebar kebencian, apalagi terus berprasangka buruk dan mengkambinghitamkan orang lain. Para pejabat dan politisi sepertinya perlu belajar respect dari dunia sepakbola. Bagaimana kekerasan dan rasisme akan berbuah hukuman. Bagaimana performa lebih diutamakan di atas pertimbangan yang berbau SARA. Dan akhirnya, sepakbola Eropa tanpa Muslim akan jauh tertinggal, sebagaimana dunia tanpa Islam akan jatuh pada kegelapan.

Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan sepak bola. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan dan saya menemukan Islam” (Franck Ribery)

Sepakbola Eropa Tanpa Muslim (1/2)

I don’t have tattoos, I don’t change hairstyles, I don’t know how to dance. I just want to play football.” (Mo Salah)

Guys, who’s the most important for the French people? The teacher Samuel Paty who lost his life teaching knowledge to the kids. Or a millionaire football player Paul Pogba?”, demikian kicau akun ‘Angry Smurf’ di status twitter miliknya beberapa hari lalu seraya memention ‘The Sun Football’, media Inggris yang sempat menyebar hoax tentang mundurnya Paul Pogba dari timnas Perancis akibat komentar Presiden Macron yang dinilai menghina Islam. Twit tersebut sudah dihapus, namun jejak hasil polingnya masih bisa dilihat. Sebanyak 71,4% responden memilih Paul Pogba, dan hanya 28,6% dari lebih 12 ribu responden yang memilih Samuel Paty, guru yang disebut Presiden Perancis, Emmanuel Macron, sebagai pahlawan. Dalam kolom komentar, meski aksi terorisme banyak dikecam, tidak sedikit pula yang justru menyalahkan guru Paty yang dianggap turut menyebarkan kebencian.

Kontroversi pernyataan Presiden Macron sepertinya perlu pembahasan tersendiri, apalagi tidak sedikit negara di Eropa yang ‘tidak ramah’ dengan imigran muslim. Namun mendapati dukungan terhadap pesepakbola di atas kasus politik yang terjadi mengisyaratkan betapa banyak orang yang lebih mencintai sepak bola dibandingkan mereka yang membenci Islam. Misalnya ketika Mesut Ozil mundur dari timnas Jerman dua tahun lalu akibat diskriminasi, banyak pihak yang mendukungnya. Pun demikian ketika Ozil harus dicoret dari skuat Arsenal karena mendukung muslim Uighur. Dicoretnya Franck Ribery, Hatem Ben Arfa, Mamadou Sakho, Samir Nasri hingga Karim Benzema dari timnas Perancis yang dianggap tak lepas dari isu rasisme pun memperoleh banyak sorotan. Perancis mungkin lupa bahwa imigran muslim telah menghuni timnas Perancis sejak tahun 1936 dan sebagian besar skuad timnasnya saat ini adalah warga keturunan.

Sumbangsih ilmuwan muslim terhadap dunia sudah banyak yang mengupasnya, mulai dari Ibnu Sina (Bapak Kedokteran Modern), Al Zahrawi (Bapak Ilmu Bedah Modern), Ibnul Haytham (Bapak Optik Modern), hingga Al Khawarizmi (Bapak Aljabar, penemu angka nol). Lantas bagaimana kiprah pemain sepakbola muslim dalam sepakbola modern? Ali Daei, pemegang rekor gol terbanyak untuk timnas (109 gol) adalah seorang muslim. Karena sedemikian banyaknya pesepakbola muslim di dunia, pembahasan kali ini akan fokus pada pesepakbola muslim yang masih aktif bermain di lima liga top eropa. Jadi nama-nama pesepakbola muslim seperti Zinedine Zidane, Frederick Kanoute, Nicolas Anelka, Eric Abidal, Yaya Toure, Kolo Toure, hingga Thierry Henry tak masuk hitungan.

Mulai dari Liga Inggris, ada empat pesepakbola muslim yang mengantarkan Liverpool menjadi juara Liga Champions 2018/2019 dan juara Liga Inggris 2019/2020. Naby Keita dan Xherdan Shaqiri barangkali hanya pemain pelapis. Namun Mohamed Salah dan Sadio Mane punya peran vital di Liverpool beberapa musim terakhir. Tanpa mereka Liverpool akan memperpanjang puasa gelar. Salah menjadi topskor Liverpool di Liga Champions 2018/2019 dengan 5 gol dan 2 assist, diikuti Mane dengan 4 gol dan 1 assist. Keita mencetak 1 gol, Shaqiri 2 assist. Di Liga Inggris 2019/2020, Salah mencetak 19 gol dan 10 assist, Mane 18 gol dan 7 assist, Keita 2 gol dan 3 assist, dan Shaqiri 1 gol. Musim ini pun Salah dan Mane masih tak tergantikan sebagai top skor klub. Manchester City selaku juara Liga Inggris 2018-2019, juara piala FA 2019, dan juara Piala Liga 2018-2020 mencatatkan setidaknya tiga pemain muslimnya. Benjamin Mendy di posisi bek, Ilkay Gundogan di posisi gelandang bertahan, dan Riyad Mahrez di posisi gelandang serang. Riyad Mahrez juga berperan penting mengantarkan Leicester City menjadi juara Liga Inggris 2015/2016 bersama pemain muslim lainnya, N’Golo Kante. Musim 2016/2017, Kante pindah ke Chelsea dan bersama bek muslim, Kurt Zouma berperan mengantarkan Chelsea menjadi juara Liga Inggris 2016/2017, juara piala FA 2017/2018, dan juara Piala Eropa 2018/2019. Dalam skuad Manchester United yang menjuarai Liga Eropa 2016/2017 tercatat nama pemain muslim seperti Paul Pogba, Marouane Fellaini, dan Henrikh Mkhitaryan. Sementara dalam skuad Arsenal yang menjuarai Piala FA 2019/2020 lalu ada nama pemain muslim seperti Mesut Ozil, Granit Xhaka, Shkodran Mustafi, dan Sead Kolasinac. Selain itu masih ada puluhan pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Liga Inggris, di antaranya Elneny (Arsenal); El Ghazi, El Mohamedy, Bertrand Traore dan Trezeguet (Aston Villa); Jahanbakhsh dan Tariq Lamptey (Brighton); Edouard Mendy, Rudiger dan Ziyech (Chelsea); Ayew, Kouyate dan Sakho (Crystal Palace); Doucoure dan Tosun (Everton); Kamara (Fulham); Choudhury, Nampalys Mendy, Slimani, Soyuncu, dan Under (Leicester); Djenepo (Southampton); Aurier dan Sissoko (Spurs); Ivanovic (West Brom); Said Benrahma dan Issa Diop (West Ham); serta Romain Saiss dan Adama Traore (Wolves).

Di Liga Spanyol yang klub besarnya lebih terbatas, pesepakbola muslim barangkali tidak sebanyak di Liga Inggris. Ada nama Karim Benzema yang bersama Real Madrid berhasil tiga kali menjuarai La Liga termasuk musim 2019/2020, dan empat kali juara Liga Champions termasuk juara beruntun tahun 2016-2018. Torehan 254 golnya bersama Real Madrid menunjukkan kontribusi besarnya. Sebelumnya, torehan 66 golnya berhasil mengantarkan Lyon menjuarai Ligue 1 empat musim beruntun (2004-2008). Pemain muslim lainnya di skuad Real Madrid ada Eden Hazard dan Ferland Mendy. Di klub rival, ada Miralem Pjanic dan Ousmane Dembele, pesepakbola muslim yang berseragam Barcelona. Kala terakhir menjuarai Liga Champions 2014/2015, dalam skuad Barcelona ada nama Munir El Haddadi, pesepakbola muslim yang saat ini bermain bersama Sevilla. Setelah mendapat tiga gelar La Liga bersama Barcelona, Munir berhasil menjuarai Liga Eropa 2019/2020 berseragam Sevilla bersama pesepakbola muslim lainnya, kiper Yassine Bounou dan striker Youssef En-Nesyri. Selain itu, juga masih ada nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di La Liga, di antaranya Januzaj (Real Sociedad); Nabil Fekir dan Aissa Mandi (Real Betis); Abdoulay Diaby dan Enes Unal (Getafe); Kone (Elche); Kondogbia dan Diakhaby (Valencia); Mahmoud (Deportivo); Papakouli Diop (Eibar); Yokuslu dan Emre Mor (Celta Vigo); Bardhi (Levante); dan El Yamiq (Real Valladolid).

Di Liga Jerman, pesepakbola muslim terbilang banyak, namun tidak setenar nama-nama di Liga Inggris. Di skuad Bayern Munchen, ada rekrutan baru bek muslim Bouna Sarr. Di skuad Borussia Dortmund, ada Emre Can dan Mahmoud Dahoud yang beragama Islam. Sementara di skuad Leipzig ada Amadou Haidara, Yussuf Poulsen, Dayot Upamecano, dan Ibrahima Konate. Nama-nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Bundesliga di antaranya Demirbay, Moussa Diaby, Amiri, dan Bellarabi (Leverkusen); Thuram, Bansebaini dan Ibrahima Traore (Monchengladbach); Rani Khedira (Augsburg); Al Ghoddioui (Stuttgart); Omer Toprak (Werder Bremen); Amin Younes, Aymen Barkok, dan Almamy Toure (Eintracht Frankfurt); Admir Mahmedi dan Yunus Malli (Wolfsburg); Bicakcic, Belfodil, Dabbur, dan Kasim Nuhu Adams (Hoffenheim); Amir Abrashi (Freiburg); Ellyes Skhiri dan Salih Ozcan (Koln); Amine Harit, Salif Sane, Nassim Boujellab, Suat Serdar, Vedad Ibisevic, Nabil Bentaleb, Ahmed Kutucu, Ozan Kabak, dan Hamza Mendyl (Schalke); serta Oztunali dan Niakhate (Meinz).

(bersambung)

Iman Dulu Baru Imun

Dari Abdullah bin Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu. Jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah. Jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.
(HR. At Tirmidzi)

Rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia tercipta per 8 Oktober lalu yaitu penambahan sebesar 4.850 kasus baru. Angka ini melampaui rekor harian sebelumnya sebesar 4.823 kasus baru per 25 September 2020. Penambahan kasus Covid-19 ini terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, dimana DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar dengan 1.182 kasus baru. Ricuhnya demonstrasi Omnibus Law melengkapi kabar duka dari negeri ini.

Ada yang unik dari pandemi Covid-19 ini, pola serangannya acak, mempersulit proses tracing nya. Tidak sedikit olahragawan yang fisiknya sehat ternyata terjangkit, namun rekan-rekan yang berlatih bersamanya ternyata negatif. Dalam sebuah ruangan dimana terdapat orang yang positif corona, tidak semua orang di ruangan tersebut tertular virus corona, dan belum tentu mereka yang tertular adalah yang dekat jaraknya dengan pembawa virus. Ada yang sembuh cepat pun dengan penyakit penyerta (komorbid), ada yang lama sembuhnya walau tanpa komorbid. Ada yang abai namun selamat dari pandemi, ada yang ketat menerapkan protokol kesehatan namun masih terpapar virus.

Selama ini, sistem imun yang dimiliki seseorang lah yang dijadikan jawaban ilmiahnya. Walau sebenarnya tak bisa menjawab penyebaran virus yang memilih korbannya secara acak, termasuk mereka yang punya pola hidup sehat. Karenanya, kita perlu mengembalikan jawabannya kepada perkara yang lebih esensi, yaitu keimanan. Dalam konteks iman, keselamatan dan kecelakaan adalah hak prerogratif Allah SWT. Sakit, sembuh, dan sehat merupakan ketetapan dari Allah SWT. Sehingga kita mampu bersyukur dan tidak lalai terhadap kesehatan yang menyertai. Juga mampu bersabar, tidak berputus asa, serta senantiasa mengambil pelajaran dari setiap musibah yang melanda. Ya, jawaban mengapa ada yang positif atau negatif Covid-19 dengan beragam kondisinya dalam perspektif keimanan adalah semata karena takdir Allah SWT. Jadi bukan imun yang menentukan.

Iman adalah sesuatu yang tidak hanya diyakini dalam hati, namun juga diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Dalam aspek spiritual, keimanan ini akan menghadirkan ketenangan jiwa dalam kondisi apapun. Perasaan tenteram dari stres, cemas, dan takut berlebihan akan menguatkan sistem imun tubuh, sehingga lebih tangguh menghadapi penyakit yang menyelinap ke dalam tubuh. Pada titik inilah iman akan berdampak positif terhadap imun. Bahkan dalam kondisi terserang penyakit pun, orang dengan iman yang kuat akan tetap bisa berpikir dan bersikap positif. Alhasil, keimanannya akan kian bertambah dengan penyakitnya. Nabi Ayub a.s. ketika ditimpa ujian hidup hingga 18 tahun hanya berdo’a, “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al Anbiya: 83). Hanya mengadu, tanpa mengeluh, menuntut, ataupun menyalahkan. Kalaupun ada kesembuhan yang diharapkan, itupun dalam rangka keta’atan karena penyakitnya menghambatnya dalam beribadah. “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS. Shad: 41). Hal ini menguatkan bahwa bagaimanapun, iman harus didahulukan daripada imun.

Lantas apakah mereka yang merasa aman dari virus Corona membuktikan bahwa keimanan mereka kuat? Hati-hati, dalam hal ini ‘rasa aman’ bak pisau bermata dua. Bisa hadir dari manifestasi iman dan kekuatan tawakkal. Bisa juga indikasi dari sifat ujub dan takabbur. Indikator pembedanya hanya amal shalih dan kesombongan. Raja’ dan rasa aman harus disertai amal shalih. Kisah perjalanan khalifah Umar bin Khattab r.a. ke Negeri Syam yang masyhur di masa pandemi ini dapat menjadi i’tibar. Di wilayah Saragh, Abu Ubaidah bin Al Jarrah r.a. memberitahu bahwa Negeri Syam tengah dilanda wabah tha’un. Dalam musyawarah dadakan yang digelar, para shahabat berbeda pendapat antara melanjutkan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah. Akhirnya Amirul Mukminin mengikuti saran dari sesepuh Quraisy yang hijrah sebelum fathu Makkah untuk kembali ke Madinah. Beberapa shahabat tidak puas, termasuk Abu Ubaidah r.a. yang lantas bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah kita hendak lari dari takdir Allah?”. “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain”, jawab Umar r.a. dengan tegas seraya memberikan analogi seseorang yang memiliki seekor unta lalu turun ke lembah yang mempunyai dua sisi, yang satu subur dan yang lain tandus. “Jika engkau menggembalakan untamu di tempat tandus adalah takdir Allah, maka bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, berarti engkau menggembala dengan takdir Allah juga?”, jelas Umar r.a. Keputusan ini dikuatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf r.a. yang datang terlambat dan menyampaikan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri” (HR. Bukhari – Muslim).

Iman perlu disertai dengan amal, tawakkal perlu diiringi dengan ikhtiar. Mereka yang abai terhadap protokol kesehatan namun ‘merasa aman’ dengan hanya mengonsumsi madu dan habbatussauda misalnya, tidaklah sempurna ikhtiar dan keimanannya. Apalagi jika sampai bersikap keras kepala ketika ditegur, bahkan merendahkan orang lain. Bisa jadi ‘rasa aman’nya justru muncul dari goda’an setan. Sebab sebagaimana penyakit, kesehatan dan ‘rasa aman’ juga sejatinya merupakan ujian keimanan. Iman adalah kunci untuk memproduksi sistem imun dan rasa aman. Sebagaimana iman, imun dan aman juga merupakan nikmat Allah yang perlu dijaga. Ar-Razi berkata, “Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakiknya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi. Kemudian seandainya kambing diikat pada suatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan”. Dan dari semuanya, nikmat iman adalah nikmat yang paling besar. Ibnu Taimiyah berkata, “Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat iman. Dia adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan taat dan kebaikan, berkurang dengan kefasikan dan kemaksiatan”. Mari kita rawat iman untuk juga merawat imun.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS. Al-An’am: 82)