Category Archives: Artikel Motivasi

Mencari Kebahagiaan

Untuk apa kau mengejar kemewahan? Apakah kau mencari kebahagian? Mengapa kau berduka ketika kegagalan? Apa kau tak terima takdir dari Tuhan? Mencari kekayaan, temui kegagalan. Ingin bahagia, terima kedukaan. Kekayaan tak menjanjikan kebahagian, adakala ia membawa kedukaan. Bersyukurlah dengan apa yang ada, itulah kunci kebahagian sebenarnya. Perlukan keimanan jua ketaqwaan, agar bahagia dunia akhirat. Berusahalah untuk berjaya, bersyukur dengan apa yang ada. Jika kau gagal tak perlu kecewa, itukan takdir dari Tuhan…” (‘Mencari Kebahagiaan”, Brothers)

Dimana kebahagiaan harus dicari? Bagaimana cara mendapatkannya? Ada dua kisah tentang pemuda yang mencoba mencari jawaban atas dua pertanyaan pertanyaan tersebut dan bertemu dengan orang bijak yang memberi mereka jawaban. Pada kisah pertama, orang bijak menyuruh pemuda tersebut pergi ke taman dan menangkap seekor kupu-kupu. Pemuda itu bergegas ke taman dan mulai mengejar kupu-kupu. Berlari kesana kemari, menerjang rerumputan, tanaman bunga, dan semak belukar, namun tak berhasil jua menangkap kupu-kupu. Orang bijak itupun menghentikan pemuda tersebut seraya berujar, ”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari dan menerjang tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak? Mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisiknya, biarkan ia memenuhi alam semesta ini sesuai fungsinya. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik dalam hatimu. Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan di suatu tempat. Ia tidak ke mana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah sebaik-baiknya, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri.

Pada kisah kedua, orang bijak memberikan sebuah sendok kemudian menuangkan tinta di atasnya. Orang bijak tersebut meminta sang pemuda untuk mengelilingi rumahnya yang besar sambil menjaga tinta di atas sendok tersebut agar tidak tumpah. Setelah sekian waktu, pemuda tersebut berhasil mengelilingi rumah besar itu tanpa menumpahkan tinta. Namun ia gelagapan ketika ditanya tuan rumah mengenai koleksi lukisan di lorong yang menurutnya paling indah, atau kucing peliharaan yang menurutnya paling cantik, atau bahkan jumlah kamar yang dilewatinya. Orang bijak tersebut akhirnya berkata, “Nak, sadarilah bahwa banyak orang yang tidak bisa menemukan bahagia karena terlalu fokus pada masalah yang dihadapinya. Mereka seperti kesulitan mencari-cari kebahagiaan, padahal bahagia itu sederhana, ada di mana-mana, di sekitarnya, dekat dengan dirinya. Sama seperti apa yang terjadi pada dirimu selama berkeliling rumah ini. Padahal ada banyak hal yang bisa engkau nikmati di sekitar, tapi kenyataannya engkau bahkan tak menyadari ada apa saja di sekitarmu.

Pesan dari dua kisah berbeda itu sama. Bahwa kebahagian itu sejatinya ada melingkupi setiap manusia, tak perlu dicari dan dikejar sedemikian rupa, cukup dimunculkan dengan rasa syukur dan kelapangan dada. Itulah mengapa banyak orang bahagia yang hidup sederhana, sementara tidak sedikit mereka yang berlimpah harta dan tahta namun tak merasa bahagia. Sebuah penelitian dari Kim dan Maglio (2018) mendapati bahwa menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir justru akan membuat seseorang tidak bahagia. Semakin dikejar semakin terasa jauh, dan waktupun semakin terasa tidak cukup. Agar lebih berbahagia, Kim dan Maglio menyarankan untuk lebih memfokuskan pada apa yang dimiliki saat ini dan mengurangi memikirkan ketercapaian tujuan akhir. Sederhananya, perbanyak bersyukur.

Tidak sedikit pula orang yang tertipu dengan kebahagiaan semu. Kebahagiaan sesaat. Ada sebuah studi yang membagi beberapa mahasiswa dalam dua grup. Grup pertama harus melakukan aktifitas yang terasosiasi dengan kebahagiaan, sementara grup kedua membuat kegiatan yang memberikan arti hidup. Para mahasiswa di grup pertama menghabiskan waktunya untuk aktivitas semacam bermain game, makan enak, atau hahahihi dengan teman-teman. Sementara mahasiswa grup kedua melakukan aktifitas seperti belajar, menolong orang, ataupun memaafkan teman. Hasilnya? Awalnya, grup pertama terlihat bahagia di saat grup kedua terlihat berjuang untuk melakukan aktifitasnya. Namun beberapa bulan kemudian, grup pertama terdeteksi mengalami penurunan mood ketika grup kedua berkata mereka jauh lebih merasa puas, tercerahkan dan emosi positif lainnya.

* * *

Seekor kelinci kecil ingin menyelidiki apa sebenarnya yang disebut dengan kebahagiaan. Pada suatu hari, ia keluar sendirian dari sarangnya untuk pergi mencari jawaban. Ketika bertemu singa, ia bertanya, “Apa arti kebahagiaan bagimu?”. Singa berkata, “Kebahagiaan ialah semua anggota keluarga selalu berada di samping kita”. Ketika bertemu harimau, ia juga bertanya, “Apa arti kebahagiaan bagimu?”. Harimau menjawab, “Kebahagiaan ialah orang yang kamu cintai juga mencintai dirimu”. Setelah mendengar itu, kelinci melompat pulang ke rumahnya kemudian bergegas memberitahukan semua jawaban yang didengarnya kepada ibunya. Saat ia selesai bercerita, sang ibu justru berkata, “Padahal hari ini kamu sudah sangat bahagia”. Kelinci itu bertanya, “Mengapa?”. Ibunya berkata, “Karena kamu tidak diterkam oleh mereka dan bisa kembali dengan selamat”.

Bahagia itu sederhana. Tak perlu banyak definisi, cukup dirasakan. Tak perlu diburu dan dicari, cukup ditumbuhkan. Mari kita berbahagia!

The foolish man seeks happiness in the distance; the wise grows it under his feet” (James Oppenheim)

Ini Tentang Kita, Bukan Tentang Saya

“The only way we’re going to get through this is if we think as WE, not ME…”

Kutipan di atas saya ambil dari sebuah video pendek berjudul “Covid-19 Hoarder Rips People Off, A Stranger Teaches Him A Lesson”. Video tersebut berkisah tentang seorang anak muda yang memborong berbagai macam barang yang dibutuhkan di masa pandemi Covid-19 ini (emergency supplies) seperti tisu, toilet paper, hand sanitizer, dan sebagainya untuk dijual lebih mahal. Kemudian ada ‘a stranger’, wanita penderita diabetes yang membutuhkan insulin syringes (alat suntik insulin) dan tidak menemukannya di toko manapun. Singkat cerita, wanita ini akhirnya membeli alat suntik insulin dari anak muda dengan seluruh uang yang dimilikinya karena harganya yang dinaikkan lima kali lipat. Tak lama kemudian, anak muda tersebut dihubungi ibunya yang jatuh sakit dan segera pulang. Ternyata ibunya yang menderita diabetes kehabisan alat suntik insulin dan memaksakan dirinya mencari kemana-mana namun tidak menemukannya di toko manapun sehingga jatuh sakit. Di saat anak muda tersebut menyesali keputusannya menjual alat suntik insulin, ‘a stranger’ tadi datang dan membantu ibunya tanpa pamrih. Video ditutup dengan anak muda tadi yang memberikan emergency supplies yang dimilikinya secara gratis kepada yang membutuhkan. Terdengar klise memang, namun saya tertarik dengan kutipan di atas yang berulang kali disampaikan dalam video tersebut.

Kenyataannya, pandemi Covid-19 ini memang mengajarkan kita untuk berpikir dan bertindak sebagai ‘kita’, bukan sebagai pribadi masing-masing. Tidak sedikit orang yang positif terpapar virus corona atau mereka yang harus dikarantina yang lebih cepat pulih dengan masyarakat sekelilingnya yang membantu kebutuhan hariannya sementara mereka tak boleh kemana-mana. Di sisi lain juga tidak sedikit orang yang berpotensi terpapar virus corona, termasuk tenaga medis, yang diusir dari lingkungan yang tidak mendukungnya. Padahal pandemi Covid-19 ini hanya bisa kita lalui dengan saling menolong dan tidak egois, sebab tidak banyak yang punya sumber daya untuk melaluinya seorang diri.

Barangkali ada benarnya mereka yang beranggapan bahwa negara-negara sosialis lebih mampu menghadapi pandemi Covid-19 dibandingkan negara-negara liberalis yang cenderung mengakomodir ego individu. Di Asia Tenggara misalnya, Vietnam dan Laos yang berpaham sosialis berhasil mencatatkan nol kematian akibat virus corona dengan recovery rate mencapai 81.25% (Vietnam) dan 73.68% (Laos). Di Asia Tenggara hanya Kamboja yang lebih baik. Tidak perlu dibandingkan dengan Indonesia atau Filipina yang tergolong tinggi case fatality rate (CFR)nya (sekitar 6.6%), bahkan Singapura yang teknologinya lebih maju pun kesulitan menghadapi virus Corona. Singapura yang merepresentasikan kekuatan liberalis di Asia Tenggara mencatatkan kasus positif corona tertinggi di Asia Tenggara dengan 22 korban jiwa (CFR hanya 0.08%) dengan recovery rate hanya 33.3%. Kuba, negara sosialis di Amerika Utara juga kurva Covid-19nya sudah menurun. Dengan CFR 4.2% dan recovery rate hampir 80%, Kuba jauh lebih baik dibandingkan negara liberalis di Amerika Utara seperti USA dan Kanada. Bahkan China sebagai negara sosialis dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan menjadi negara dimana virus corona bermula, hanya menempati posisi ke-13 dalam urutan jumlah kasus positif corona dan jumlah korban meninggal akibat corona, dengan recovery rate mencapai 94.3%. Lebih baik dibandingkan USA dan beberapa negara liberalis di Eropa.

Memang faktor utama dalam menghadapi pandemi Covid-19 bukan perkara negara sosialis atau liberalis, lebih kepada penyikapan pemerintah dan rakyatnya. Namun kepatuhan akan larangan berkumpul dan keluar rumah tanpa keperluan, atau kebiasaan untuk saling berbagi sama rata sama rasa tentu akan mendukung terhentinya penyebaran virus corona. Disinilah pentingnya ego pribadi bisa ditekan untuk kepentingan bersama. Mereka yang hanya mementingkan dirinya tanpa peduli orang lain akan berpotensi membahayakan orang lain. Ketika merasa sehat, mereka tak mengindahkan peraturan untuk tetap di rumah walaupun berpotensi menjadi carrier bagi virus corona bahkan menjadi orang tanpa gejala. Ketika positif corona, mereka baru merasa perlu berbagi penyakit dengan orang lain, mulai dari menjilat dan meludah di sembarang tempat hingga memeluk orang lain. Ego pribadi yang justru mencelakakan orang lain.

Parahnya lagi jika penyakit mementingkan diri sendiri ini menjangkiti pejabat dan pemerintah. Kebijakan yang diambil bukan untuk kemaslahatan bersama. Menguntungkan diri dan kelompoknya tanpa peduli masyarakat semakin bingung dan kesusahan. Hukum dibuat dan diimplementasikan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Di satu sisi menuntut rakyat untuk menghadapi berbagai masalah dengan gotong-royong, di sisi lain tidak mau berkorban untuk memberikan sumbangsih apapun. Kalaupun ada kontribusi, selalu ada hitung-hitungannya: tidak merugikan diri sendiri atau harus ada return yang besarnya senilai atau lebih besar. Jauh dari nilai-nilai Pancasila. Jauh dari nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Pemerintah yang berpikir ‘saya’ ini jauh lebih berbahaya ketimbang pribadi yang berpikir ‘saya’, sebab dampak dari kebijakan akan jauh lebih besar dibandingkan dampak dari personal yang masih bisa dihadapi dengan personal lain yang berpikir ‘kita’.

Bukan hanya pemerintah, pengusaha atau pemilik perusahaan atau pemimpin dalam berbagai lingkup kepemimpinan juga bisa memberikan dampak yang besar dalam memilih untuk berpikir ‘saya’ atau ‘kita’. ‘Saya’ akan berpotensi bersikap sewenang-wenang untuk menyelamatkan diri sendiri, sementara ‘kita’ akan berupaya mencari solusi terbaik bagi semua orang. Sayangnya, sebagian besar masyarakat hanyalah ‘butiran pasir’ yang tidak memiliki kewenangan untuk memilih. Masyarakat hanya menjadi pihak yang terdampak dan bukan memberikan dampak. Karenanya ‘butiran pasir’ ini perlu bersatu dan bergotong-royong menjadi ‘kita’ yang memiliki kekuatan. Jika kekuatannya tidak cukup memberikan dampak besar, setidaknya cukup untuk saling membantu di antara ‘kita’. Sudah banyak inisiatif masyarakat yang membuat anggota masyarakatnya tetap survive menghadapi pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap krisis ekonomi masyarakat. Kepedulian masyarakat ‘kita’ sangatlah tinggi, pun dampaknya mungkin terbatas.

‘Indonesia Terserah’ adalah gambaran betapa sebagian masyarakat lelah menjadi ‘kita’ sementara sebagian masyarakat lainnya bahkan pemerintah malah memilih menjadi ‘saya’. Ketika semua masyarakat sudah lelah, ‘Indonesia Terserah’ akan menjadi ‘Indonesia Menyerah’. Memang butuh kepedulian dan keteladanan dari pemerintah untuk mengubah ‘Indonesia Terserah’ menjadi ‘Indonesia Peduli’. Namun pada akhirnya, setiap diri kita hanya bisa mengubah apa yang ada pada lingkar kendali kita. Cukup menjadi pribadi yang berpikir dan bersikap ‘kita’ untuk menyelamatkan lingkungan kita. Sehingga tidak ada keluarga, tetangga, teman, ataupun kerabat kita yang gagal melalui pandemi Covid-19 hanya karena ketidakpedulian kita. Kontribusi minimum ‘kita’ adalah dengan tidak membahayakan atau mencelakakan orang lain. Bahkan jika sebagian besar masyarakat memilih menjadi ‘saya’, mungkin akan ada satu titik dimana ‘kita’ perlu berpikir ‘saya’ untuk menyelamatkan ‘kita’. Agar setidaknya ada sekelompok masyarakat yang tetap sehat dan selamat untuk mempertahankan eksistensi ‘Kita Indonesia’. Dan agar setidaknya ada sekelompok masyarakat yang tetap optimis berusaha dan berdoa agar Indonesia mampu melalui pandemi Covid-19 ini.

Semoga ‘saya’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’, tanpa adanya si ‘dia’…

Menjadi Manusia Kuat

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

Lagu berjudul ‘Manusia Kuat’ dari Tulus itu kembali terdengar di tengah pandemi Covid-19. Lagu yang merupakan salah satu official song Asian Para Games 2018 ini memang kental nuansa motivasi untuk mengatasi segala rintangan menjadi manusia kuat. Asian Para Games adalah suatu perhelatan olahraga penyandang disabilitas terbesar di Asia. Selain ‘Manusia Kuat’, official songs Asian Para Games 2018 lainnya adalah ‘Dream High’, ‘Sang Juara’, ‘Kita Semua Sama’, dan ‘Song of Victory’. Lagu ‘Dream High’ yang dinyanyikan Sheryl Sheinafia berkolaborasi dengan penyanyi tunantra, Claudya Fritska, juga memiliki konten motivasi pantang menyerah untuk menggapai impian. Selain Claudya, penyanyi tunanetra lainnya yang turut menyanyikan official songs adalah Allafta Hidzi Sodiq (Zizi) yang mendampingi Adyla Rafa Naura Ayu (Naura) menyanyikan ‘Sang Juara’ dan Putri Ariani yang bersama artis lainnya membawakan ‘Song of Victory’. Mereka dan para atlet Asian Para Games sudah membuktikan jalan menjadi manusia kuat yang berani berjuang dalam kondisi bagaimanapun untuk meraih cita dan impian.

Kau bisa patahkan kakiku, tapi tidak mimpi-mimpiku…
Kau bisa lumpuhkan tanganku, tapi tidak mimpi-mimpiku…

Ketika lagu ‘Manusia Kuat’ ini kembali menggema di tengah wabah virus corona, pesan yang disampaikan juga sama. Selalu ada harapan di tengah segala ujian. Yang terpenting adalah menguatkan jiwa kita, dan melengkapinya dengan usaha terbaik untuk keluar sebagai pemenang. Mentalitas dan sugesti positif memiliki makna penting untuk melawan penyakit. Jangan sampai kalah sebelum berperang. Pikiran dan sikap mental negatif akan melemahkan sistem imunitas sehingga fisik lebih rentan terhadap penyakit. Relaksasi pikiran dan berdamai dengan jiwa menjadi langkah penting untuk menangkal virus corona. Tentu harus disertai dengan upaya terbaik lainnya. Sehingga yang muncul bukan sikap menyepelekan, namun tetap tenang dalam kehati-hatian.

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ukuran utama manusia yang kuat bukanlah ukuran fisik, namun ukuran kebesaran jiwanya. Kemampuan mengendalikan jiwanya dalam kondisi emosi, dan keberanian untuk memaafkan. Menurut Imam Ibnu Battal, sebagaimana dikutip Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari’, hadits tersebut menunjukkan bahwa berjuang mengendalikan nafsu itu lebih berat dari pada berjuang melawan musuh. Imam Ibnu Hajar menambahkan bahwa musuh terbesar bagi seseorang adalah syaithan yang ada pada dirinya dan nafsunya. Sementara marah itu timbul dari keduanya. Oleh karana itu, barangsiapa yang bisa berjuang melawan amarahnya sampai bisa mengalahkannya disertai juga dengan melawan nafsunya maka ialah orang yang paling kuat.

Kau bisa merebut senyumku, tapi sungguh tak akan lama…
Kau bisa merobek hatiku, tapi aku tahu obatnya…

Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, namun juga mengendalikan diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa, termasuk mengendalikan amarah. “Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’” (HR. Bukhari dan Muslim). Ramadhan adalah momentum tepat untuk upgrading diri menjadi manusia kuat. Bukan hanya sehat fisik karena berpuasa, namun juga kuat jiwa karena terbiasa mengendalikan hawa nafsu.

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

…Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya…”, demikian salah satu petikan lirik lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, karya W.R. Supratman. Untuk membangun Indonesia, dibutuhkan jiwa-jiwa yang terbangun, dan badan-badan yang terbangun. Tentu bukan tanpa alasan kata ‘jiwa’ dituliskan lebih dulu dari kata ‘badan’. Karena bagaimanapun, bangsa yang kuat dibangun dari jiwa yang kuat, baru kemudian badan yang kuat. Semangat pantang menyerah dan berjuang hingga titik darah penghabisan adalah salah satu perwujudan dari jiwa yang kuat tersebut. Bahkan di stanza lain lagu ‘Indonesia Raya’, lirik tersebut diganti dengan “…Sadarlah hatinya, sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya…”. Semakin meneguhkan untuk membangun Indonesia butuh kejernihan hati dan keluhuran budi, tidak cukup hanya pembangunan fisik belaka.

Kau bisa hitamkan putihku, kau takkan gelapkan apa pun…
Kau bisa runtuhkan jalanku, ‘kan kutemukan jalan yang lain…

Berbagai macam ujian dan cobaan sejatinya adalah pupuk untuk menumbuhkan jiwa yang kuat. Bagaimanapun, pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang. Masalah dan kendala selalu ada dalam kehidupan, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Putus asa bukanlah pilihan sebab jalan keluar selalu tersedia. Jiwa yang kuat inilah yang akan membentuk pribadi yang kuat. Yang kemudian akan menjadi fondasi dalam membangun masyarakat, bangsa, dan negara yang kuat. Perkara jiwa adalah perkara kemauan, bukan kemampuan. Karenanya, akhirnya berpulang ke pribadi masing-masing, maukah menjadi manusia kuat yang memiliki jiwa yang kuat? Sisanya, biarlah Sang Pemilik Jiwa yang akan menguatkan siapa yang dikehendaki-Nya.

“…Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. Ali Imran: 13)

Rumah Sempit yang Meluas

“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan 4 perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban)

Awalnya mungkin menyenangkan beraktivitas di rumah, namun lama-kelamaan rasa bosan datang menyertai. Kebosanan adalah hal yang lumrah, apalagi jika kita menjalankan aktivitas monoton. Namun kebosanan ini perlu dikelola sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap kondisi kejiwaan. Selain gejala penyakit Covid-19, ada gejala lain yang perlu diwaspadai di masa pandemik seperti ini, yaitu gejala cabin fever. Cabin fever merupakan istilah lama yang kembali mengemuka, menggambarkan emosi atau perasaan sedih yang muncul akibat terlalu lama terisolasi di dalam rumah ataupun tempat tertentu. Jika sebatas bosan atau sedih tentu masih wajar, namun cabin fever ini dapat menimbulkan kegelisahan, turunnya motivasi, mudah tersinggung, mudah putus asa, sulit berkonsentrasi, pola tidur tidak teratur, lemah lesu, sulit mempercayai orang lain, tidak sabaran, bahkan depresi untuk waktu yang lama.

Cara sederhana untuk mengatasi cabin fever adalah pergi ke luar rumah, namun di tengah kondisi wabah seperti ini aktivitas ke luar rumah tentu dibatasi. Bahkan dapat dikatakan, semua aktivitas saat ini dibawa ke rumah. Kerja dari rumah, belajar di rumah, hingga beribadah di rumah. Ketika kantor dipindah ke rumah, sekolah dipindah ke rumah, sampai masjid pun pindah ke rumah, bisa dibayangkan betapa penuh sesaknya rumah kita. Ruang untuk urusan pribadi, keluarga, pendidikan, kantor, hingga urusan ibadah semua bertumpuk di rumah. Jika sebelumnya barangkali ada orang-orang yang sulit memisahkan urusan pribadi atau keluarga dengan urusan kantornya, sekarang banyak orang akan mengalaminya sebab sekat antar ruang itu sudah tak lagi ada. Jika sebelumnya ada orang-orang yang cakap dalam menempatkan segala urusannya, kini mereka harus bekerja keras menatanya sebab segala urusan hanya punya satu tempat bernama rumah.

Kebosanan di rumah tampak tak terelakkan, apalagi alternatif solusi mengatasi kebosanan tampak tidak variatif. Ke luar rumah untuk berolahraga atau berkebun misalnya, punya batasan waktu dan kondisi. Atau menata ulang perabotan misalnya, selain melelahkan, jika terlalu sering dilakukan juga justru akan menimbulkan kebosanan baru. Atau bahkan tetap menjaga interaksi dengan banyak orang melalui media digital juga hanya menjadi solusi semu, sebab tentu kita bisa merasakan tidaklah sama interaksi by phone atau by video dengan interaksi langsung.

Lantas apakah kita cukup pasrah terpenjara dalam kebosanan? Tunggu dulu, kebosanan itu sejatinya hanya masalah perspektif. Dalam KBBI, bosan didefinisikan sebagai ‘sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak’. Jadi yang menentukan kadar kebosanan adalah ‘tidak suka’, ‘terlalu sering’, dan ‘terlalu banyak’, yang kesemuanya adalah sesuatu yang relatif. Tidak mengherankan cabin fever tidak termasuk dalam gangguan psikologis, sebab gejala tersebut takkan ditemukan pada mereka yang memandangnya secara positif. Dan artinya, solusi atas kebosanan ini sebenarnya sederhana, mengelola ‘kesukaan’ kita dan mengatur kadar intensitasnya.

Dari sudut pandang yang positif, ketika kantor dipindah ke rumah, sekolah dipindah ke rumah, sampai masjid pun pindah ke rumah, bisa dibayangkan betapa luasnya rumah kita sebenarnya. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan, dan banyak spot yang bisa dieksplorasi dari bangunan luas bernama rumah, apalagi jika ditambah pekarangan dan lingkungan sekitarnya. Luar biasanya lagi, kita mempunyai kemampuan teleportasi ala pahlawan fiksi, berpindah dari rumah, sekolah, kantor, masjid, dan tempat-tempat lain dalam sekejap. Karena kebosanan adalah perkara ‘kesukaan’, semakin kita menikmati prosesnya, kebosanan akan kian menjauh.

Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”, demikian ungkap Bung Hatta. Bagaimana mungkin ada kebebasan dalam penjara hanya bermodalkan buku? Lagi-lagi ini hanya masalah perspektif. Penjara bagi jiwa adalah ketika kita dipaksa melalukan sesuatu yang tidak kita sukai. Karenanya ketika kita dapat melakukan apa yang kita sukai, dan menyukai apa yang kita lakukan, jiwa kita akan bebas, tidak dipenjara ataupun dikarantina. Dan ternyata sekadar ‘suka’ saja tidak cukup, aktivitas yang dilakukan perlu merangsang kreativitas agar tidak monoton. Melakukan hal yang berbeda, atau melakukan hal yang sama dengan cara berbeda dapat mengatur kadar intensitas. Karena itulah, membuat rencana aktivitas dan menata ruang yang terkesan teknis administratif bisa jadi lebih efektif dalam mengusir kebosanan dibandingkan melakukan gerakan olahraga yang itu-itu saja. Sebagaimana mengisi TTS akan lebih produktif dibandingkan menonton televisi. Dan membuat tulisan akan lebih membebaskan dibandingkan bermain game.

A house is made of bricks and beams. A home is made of hopes and dreams”, begitulah kata pepatah. Penjara kebosanan bernama rumah hanya akan muncul ketika kita gagal menjadikan harapan sebagai bata-batanya dan impian sebagai tiang-tiangnya. Rumahpun terasa sempit karena terbatasi dinding dan pagar. Lain halnya dengan rumah yang diisi dengan cinta dan kebahagiaan, energi positifnya mampu menempuh jarak yang teramat luas, sehingga rumahpun terasa lapang. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Ar Rafi’i dalam Wahyul Qalam, “Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang semakin kecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya”. Kebosanan muncul dalam kesempitan dan hilang dalam kelapangan. Karenanya, rumah di surga kelak tidak menghadirkan kebosanan, sebab isinya penuh cinta dan kebahagiaan. Semoga kita mampu melapangkan rumah-rumah kita, dan membuka jalan untuk memiliki rumah yang lapang kelak di Jannah-Nya. Aamiiin…

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Jangan Jumawa Menang Sementara

Juara adalah pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi” (Dennis de Young)

Gelaran babak 16 besar kompetisi sepakbola Benua Biru sudah selesai. Di Liga Eropa, Arsenal berhasil comeback dengan kemenangan tiga gol tanpa balas di Emirates Stadium setelah sebelumnya kalah 2-0 di kandang Rennes (14/3). Dua hari sebelumnya kisah serupa dicatatkan Juventus di Liga Champions yang mengandaskan perlawanan Atletico Madrid dengan skor serupa (12/3). Kemenangan besar Chelsea atas Dinamo Kyiv (14/3) dan Manchester City atas Schalke 04 (12/3) di kandang sehingga menyisakan selisih agregat 8 gol pun kalah ramai dibandingkan berbagai kemenangan dramatis yang terjadi. Pekan lalu, comeback luar biasa dicatatkan Manchester United (MU) yang menyingkirkan Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 1-3 di kandang lawan setelah kalah 0-2 di Old Trafford (6/3). Sebelumnya, Ajax juga sukses membalikkan ketertinggalan 1-2 di kandang dengan kemenangan telak 1-4 atas juara bertahan Liga Champions tiga tahun terakhir di kandang Real Madrid, Santiago Bernabeu (5/3).

Beberapa pertandingan bahkan harus ditentukan di babak tambahan waktu (extra time). Comeback FC Porto mengunci kemenangan atas AS Roma baru diperoleh di menit ke-117 setelah agregat sama kuat 3-3 di waktu normal (6/3). Di Liga Eropa, Benfica baru memastikan tiket perempat final atas Dinamo Zagreb di menit ke-94 dan 105 setelah aggregat sama kuat 1-1 di waktu normal (14/3). Tim tersukses di Liga Eropa, Sevilla, harus tersingkir di menit-menit akhir setelah aggregat sama kuat 4-4 di waktu normal (14/3). Bahkan ketika extra time, Sevilla sempat unggul melalui Vazquez di menit ke-98 sebelum disamakan Van Buren di menit ke-102. Kemenangan Sevilla dengan aturan gol tandang pun buyar setelah Traore mencetak gol kemenangan Slavia Prague di menit ke-119.

Metafora ‘Bola itu Bundar’ yang menunjukkan ketidakpastian hitung-hitungan hasil akhir sudah lama dikenal di dunia sepakbola. Bahkan mungkin sebelum ‘Das Wunder von Bern’, Keajaiban Bern kala Jerman Barat berhasil mengalahkan tim unggulan Hongaria di Final Piala Dunia 1954 yang dianggap menjadi cikal bakal adanya metafora tersebut. Sayangnya, tidak sedikit orang yang melihatnya dari sudut pandang keberuntungan yang menjadi pangkal kemenangan, bukan mengantisipasi berbagai kelalaian yang mengakibatkan kekalahan yang tak terduga sebelumnya. Bagaimanapun, hasil akhir biasanya tidak akan mengingkari ikhtiar, termasuk usaha sebelum memulai pertandingan.

Faktor penentu utama adalah mentalitas pemenang. Hal ini yang menyebabkan klub dengan sejarah kuat selalu ada peluang mengejar ketertinggalan sebelum peluit akhir ditiup. Selain Keajaiban Bern, dikenal juga ‘The Istanbul Miracle’ dimana Liverpool berhasil menjadi juara Liga Champions 2005 lewat drama adu pinalti setelah sebelumnya tertinggal 3-0 dari AC Milan hingga menit ke-53. Atau final Liga Champions 1999, dimana dua gol kemenangan MU yang dicetak di menit 90+1 dan 90+3 oleh dua orang pemain pengganti membuyarkan kemenangan Bayern Munchen yang sudah di depan mata. Keberhasilan melakukan comeback hampir selalu dikaitkan dengan mentalitas kuat penuh keyakinan dan pantang menyerah, bukan sekadar kecermelangan strategi.

Di sisi sebaliknya, kekalahan setelah kemenangan sementara kerap dihubungkan dengan sikap sombong dan meremehkan. Lihat saja bagaimana Kapten Real Madrid, Sergio Ramos, sengaja mencari akumulasi kartu kuning kala menang 1-2 di kandang Ajax. Merasa di atas angin, Real Madrid malah tersingkir setelah kebobolan 4 gol di leg 2. Atau perhatikan bagaimana PSG merasa sudah pasti lolos ke babak 8 besar setelah menumbangkan MU di Old Trafford dua gol tanpa balas. Bagaimana mungkin MU bisa memberikan perlawanan di Parc des Princes dengan sebagian besar pemain utama tidak bisa bermain. PSG seakan lupa bahwa dua tahun sebelumnya Barcelona dapat membalikkan defisit 4 gol dari PSG dengan gol penentu kemenangan di menit 90+5. Sekali lagi, bola itu bundar, jangan lekas berpuas diri hingga merasa aman, apalagi sampai meremehkan lawan.

Hal penting berikutnya yang juga menentukan adalah kecermatan dalam memanfaatkan momen. Gol penentu kemenangan dari Porto, Juventus, dan MU lahir dari sepakan 12 pas di menit-menit krusial. Telles sukses mengeksekusi penalti buat Porto di menit 117, Ronaldo berhasil mencetak hattrick bagi Juventus dari titik putih di menit 86, sementara Rashford dari MU mencetak gol penalti di menit 90+3. Tidak perlu menyalahkan wasit atau siapapun, bagaimanapun hukuman penalti diberikan karena ada kelalaian dalam menjaga momentum dengan pelanggaran. Memanfaatkan momen juga bisa didapat dari ganjaran kartu, pergantian pemain, ataupun situasi set piece.

Meraih kemenangan memang tidak mudah, namun mempertahankan kemenangan juga tidak lebih mudah. Kemenangan sementara yang berujung pada sikap jumawa tentu mudah dikalahkan dengan kekalahan sementara yang melahirkan usaha ekstra. Keberhasilan semu disertai sikap belagu akan menemui karmanya ditundukkan oleh kegagalan semu yang dibarengi mentalitas kuat untuk terus maju. Betapa banyak petahana yang gagal melanjutkan kemenangan karena kelalaian menjaga momentum dan malah bersikap merendahkan. Tidak sedikit pula mereka yang mampu membalikkan keadaan, meraih kesuksesan setelah menempuh keterpurukan. Hanya Allah SWT yang mengetahui ketentuan masa depan, tugas kita hanya terus berjuang sampai akhir. Karena bagaimanapun, bola itu bundar.

Tanpa impian kita tidak akan meraih apapun, tanpa cinta kita tidak akan merasakan apapun, tanpa Allah kita bukan siapa siapa” (Mesut Ozil)

Tulisan 8 Bulan Kemudian

Tulisan ini dibuat di Hotel Grasia – Semarang, di malam pertama kegiatan Future Leaders Camp (FLC) Beasiswa Aktivis Nusantara, tanggal 28 Maret 2019. Ya, 8 bulan berselang dari waktu posting tulisan ini. Semacam tulisan dari masa depan.

Tentu bukan tanpa sebab, tulisan ini dimunculkan. Website ini sempat hiatus selama 8 bulan terhitung sejak akhir Juli 2018 hingga akhir Maret 2019. Hingga tidak sedikit pihak yang bertanya-tanya mengapa tidak ada update tulisan lagi. Kesibukan merupakan alasan klasik. Nyatanya banyak orang yang lebih sibuk masih bisa rutin menyampaikan gagasannya lewat tulisan. Dan faktanya, gagasan itu banyak berseliweran, sehingga dalih tidak ada ide untuk ditulis jelas tidak relevan.

Lantas mengapa bisa berbulan-bulan vakum membuat tulisan? Pertama adalah faktor kesungguhan yang kurang. Kedua adalah cara berpikir yang terlalu rumit, tidak sederhana. Faktor pertama sudah melanggar kiat produktif menulis: teruslah menulis. Sementara faktor kedua menabrak kaidah menulis, bahwa menulis itu mudah, dan menulis bukanlah beban.

Karenanya dengan adanya tulisan 8 bulan kemudian ini, semoga muncul motivasi baru dalam menulis, setidaknya agar tulisan ini tidak terbaca karena tertutup oleh tulisan-tulisan yang lebih anyar. Dalam rentang 8 bulan hiatus ataupun setelahnya. Ya, tulisan 8 bulan setelah ini kemungkinan besar tidak ditulis pada waktu yang benar, melainkan (lagi-lagi) merupakan ‘tulisan dari masa depan’.

Jika dalam sepekan bisa diselesaikan sebuah tulisan, maka dalam 8 bulan setidaknya sudah ada 32 tulisan yang akan menutup tulisan ini. Jika dalam sepekan bisa ada lebih dari 1 tulisan, tentu lebih banyak lagi tulisan yang akan menutup tulisan ini. Barangkali secara kualitas tulisan tidak sepanjang dan semendalam sebelumnya, namun tulisan ini semoga menjadi salah satu ikhtiar untuk kembali menggiatkan menulis, pun hanya beberapa paragraf atau kalimat.

Jika semuanya berjalan sesuai dengan perencanaan, barangkali butuh beberapa waktu sebelum tulisan ini ‘tenggelam’ oleh tulisan lain yang lebih baru. Dan semoga saja semua berjalan sesuai rencana. Atau harus ada cara lain untuk revitalisasi aktivitas menulis yang berbulan-bulan lamanya kurang diprioritaskan. Semoga hanya mereka yang ‘setia’ dengan website ini yang sempat membaca tulisan ini. Artinya, tidak butuh waktu lama untuk ‘menenggelamkan’ tulisan ini dengan tulisan-tulisan yang lebih baru.

Bismillah… Memulai lembaran baru untuk kembali produktif menulis… Semoga bisa terus menebar kebermanfaatan…

Bekerjalah Dengan Passion, Tak Harus Sesuai Passion

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(QS. Al Baqarah: 216)

Saya tidak suka sepak bola, ini hanya pekerjaan saya”, begitu ungkap Gabriel Batistuta dalam sebuah wawancara. Pun beberapa waktu lalu legenda sepak bola Fiorentina ini mencoba mengklarifikasinya, pernyataan mengejutkan ini ternyata dikuatkan kesaksian Alessandro Rialti, co-writer Batistuta dalam proses penulisan otobiografinya. “Ia adalah seorang profesional yang sangat baik namun tidak benar-benar menyukai sepak bola. Begitu ia meninggalkan stadion, ia tidak ingin sepak bola merecoki kehidupannya. Ia seorang pria yang sensitif dan cerdas. Ketika kami menulis buku ini, ia datang ke kantor saya dan selama lima hari penuh berbicara mengenai keluarga dan kehidupannya di Argentina. Namun ketika membicarakan sepak bola dan karirnya, ia menjadi tidak bersemangat. ‘Catatan tentang karirku ada di sana,’ ia berkata, ‘kau bisa lihat sendiri’.”batistuta

Profesionalisme striker yang dijuluki Batigol ini tergambar dalam prestasinya bersama Timnas Argentina, yang jauh di atas Lionel Messi. Selain berhasil menjuarai Copa Amerika 1991 dan 1993, serta Piala Konfiderasi 1992, Batigol tercatat pernah membuat hattrick di dua gelaran Piala Dunia secara beruntun (dari tiga gelaran Piala Dunia yang diikutinya), sebuah catatan yang belum bisa disamai siapapun. Dan tentu butuh passion kuat untuk meraihnya. Beberapa pesepakbola lain juga ada yang menyatakan kekurangtertarikannya terhadap sepak bola. Di antaranya Christian Vieri, striker produktif Italia yang lebih menyukai kriket, bahkan menjadikan Allan Border, seorang pemain kriket Australia sebagai inspirasinya di bidang olah raga.

Secara bahasa, kata ‘passion’ bersinonim dengan antusiasme, gairah, dan semangat. Secara lebih spesifik, maknanya identik dengan preferensi atau minat besar terhadap sesuatu. Padahal gairah dengan minat ini merupakan terminologi yang berbeda, sehingga ‘bekerja dengan passion’ dan ‘bekerja sesuai passion’ memiliki makna yang berbeda. “Without passion you don’t have energy, without energy you have nothing”, demikian disampaikan Presiden AS, Donald Trump. Ketiadaan passion ini memang berbahaya, bahkan sama saja dengan ketiadaan hidup. Dan ‘without’ adalah lawan kata dari ‘with’ (dengan). Artinya, aktivitas kehidupan kita harus disertai dengan passion, agar kita benar-benar hidup. Perkara sesuai tidak dengan passion, masih bisa diperdebatkan. Bahkan kadangkala ketidaksesuaian dengan passion bukanlah pilihan. Lantas, apakah ini menjadi masalah?

Follow your passion adalah saran terburuk”, begitu kata Mike Rowe dalam sebuah sesi talkshow TedX. Dalam acara yang dipandunya, setelah bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang pekerjaan, Rowe menyimpulkan bahwa mengikuti passion tidak serta merta membuat seseorang bahagia. “Aku bertemu peternak babi yang bekerja di tengah kandang yang sangat bau. Tapi dia menghasilkan banyak uang, dan bahagia. Dia bisa bahagia bukan karena mengikuti passion-nya terhadap babi. Siapa sih yang cinta sama babi? Dia bahagia karena pekerjaannya memberinya cukup uang, memberinya otonomi yang besar dan merasa kalau dia berkontribusi terhadap masyarakat”, demikian ungkap Rowe. Hal ini bukan berarti passion tidak penting, hanya saja bukan syarat utama untuk berbahagia.

Coba kita ingat-ingat apa minat kita sewaktu kecil, barangkali ada berbagai jawaban. Apakah jawabannya masih sama sekarang? Jika tidak, hal itu cukup menunjukkan bahwa passion bisa berubah. Apakah minat tersebut bisa menghasilkan uang? Jawabannya akan menggambarkan bahwa ada keterbatasan ketersediaan pekerjaan dibandingkan dengan passion yang ada. Kalau passionnya berdagang atau menulis mungkin bisa relevan, namun bagaimana dengan passion bermain catur atau memancing? Apalagi jika passionnya adalah makan dan tidur. Passion yang dimaknai sebagai preferensi atau minat seharusnya dibedakan dengan hobi. Tidak semua hal yang disukai dan menyenangkan lantas bisa diklaim sebagai passion. Malah ada yang mengatasnamakan tidak sesuai passion hanya sebagai dalih kemalasan, atau keengganan bekerja lebih keras. Hal ini biasanya dapat dikenali dari kebingungannya ketika ditanya apa passionnya. Daripada menyerah hanya karena rasa-rasanya tidak passion, lebih baik dijalani dengan sebuah kemungkinan justru akan menemukan passion.great passion

Passion adalah buah dari proses, menjadi sempit jika dimaknai sebagai sesuatu yang sifatnya given. Ada yang mendefinisikan passion sebagai panggilan jiwa, tidak salah, namun perlu diingat bahwa ada proses yang menyertai. Tidak sedikit orang yang awalnya mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan passionnya, selang berapa waktu kemudian justru bisa menikmatinya. Bekerja sesuai passion akan mempertajam kompetensi sekaligus menggiringnya ke zona nyaman. Di fase transisi, banyak orang memilih aman untuk melihat passionnya sesuai dengan pengalaman masa lalu, bukan proyeksi masa depan. Padahal passion bisa berkembang. Seseorang yang punya passion wirausaha misalnya, bisa menambah modal, pengalaman, dan jaringannya dengan aktivitasnya sebagai karyawan. Atau seseorang dengan passion mengajar misalnya, bisa melatih kemampuan komunikasinya sebagai marketer. Ada sisi kreativitas dan konsistensi yang justru akan lebih teruji dengan bekerja di luar passion.

Mencintai pekerjaan adalah penting, itu namanya bekerja dengan passion. Semangat, gairah, dan kerja keras yang hadir adalah perwujudan dari amanah, tanggung jawab, dan profesionalisme. Bekerja dengan passion adalah wujud nyata dari rasa syukur. Jika ternyata pekerjaan sesuai dengan passion, itu adalah bonus, tapi bukanlah penentu produktivitas kerja. Dan bukan alasan keengganan beranjak dari zona nyaman. Kesesuaian passion dapat dibangun dan terus dikembangkan. Tidak sedikit orang yang justru kian menghebat dengan passionnya setelah melewati masa-masa penting yang tidak sesuai dengan passionnya. Syaratnya, jalani pekerjaan dengan passion, sesuai atau tidaknya dengan minat dan preferensi. Bisa jadi ada kebaikan yang banyak di dalamnya. Dalam hal ini suka tidak suka menjadi kurang penting dibandingkan amanah tidak amanah. Karena bukankah sesuatu yang kita sukai belum tentu baik bagi kita, demikian pula sebaliknya? Karenanya, mari bekerja dengan penuh passion.

We believe people WITH passion can change the world for the better” (Steve Jobs)

The Power of Diremehkan

Ketika seseorang menghina kamu, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kamu, bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka” (B.J. Habibie)

Rasanya tidak banyak yang tersisa dari gelaran Copa America Centenario dan Euro tahun 2016 ini. Gemanya kurang nyaring tertutup Ramadhan serta nyaris tidak ada pertandingan yang benar-benar merarik. Dan berbeda dengan Piala AFF dimana timnas Indonesia menjadi salah satu kontestannya, kepentingan Indonesia juga minim terhadap pesta sepakbola di benua Amerika dan Eropa. Kalaupun ada catatan tersisa, tampaknya tidak jauh dari bagaimana tim-tim unggulan seperti Brazil, Spanyol dan Inggris begitu cepat tersingkir. Juga bagaimana tim superior yang diunggulkan justru gagal menjadi juara setelah kalah di final.

Ya, Copa America Centenario 2016 menjadi panggung bagi Chili setelah mengalahkan Argentina melalui babak adu pinalti, mengulang kesuksesan serupa pada Copa America 2015. Padahal di pertandingan pertama babak penyisihan, Argentina sukses mengalahkan Chili 2-1 dan selanjutnya terus menang hingga final dengan selisih minimal 3 gol. Sementara itu, Piala Eropa 2016 menjadi panggung bagi Portugal yang memupus asa juara tuan rumah Perancis lewat 1 gol di babak perpanjangan waktu. Portugal yang sepanjang kompetisi hanya menang sekali di babak normal menaklukkan Perancis yang tidak pernah kalah sepanjang kompetisi. Portugal meraih gelar pertamanya melawan tim unggulan sebagaimana Chili juga meraihnya tahun lalu.

Bola itu bundar, kejadian tim ‘kuda hitam’ jadi juara bukan hal baru. Yunani pernah melakukannya di Euro 2004 dan Denmark melakukannya pada Piala Eropa 1992. Hal ini juga terjadi di liga lokal, misalnya VFL Wolfsburg yang menjadi juara Bundesliga Jerman 2008/ 2009, Montpellier yang jadi juara Ligue 1 Perancis 2011/ 2012 atau yang teranyar Leicester City yang jadi juara Liga Inggris 2015/ 2016. Mengalahkan tradisi juara tim-tim unggulan. Status sebagai tim yang tidak diunggulkan menjadi salah satu kunci sukses mereka. Bertanding tanpa beban, tanpa angan-angan yang terlampau tinggi. Lihat saja betapa frustasi dan tersiksanya Argentina dan Perancis ketika dalam waktu normal tak mampu mengalahkan lawan yang di atas kertas berada di bawah mereka. Tanpa beban, Chili dan Portugal justru memberikan tekanan psikologis yang besar kepada lawan, baik ketika bertahan ataupun menyerang.

Menjadi mereka yang diremehkan itu menyenangkan. Apalagi ketika tidak disangka justru mampu memberikan kejutan. Betapa banyak tokoh dan public figure yang pernah mengalami masa-masa diremehkan, dicemooh ataupun mengalami berbagai penolakan. Thomas Alfa Edison dan Albert Einstein semasa kecil kerap dicap bodoh. Walt Disney dipecat dari kantornya karena dianggap kurang kreatif. Michael Jordan dikeluarkan dari tim basket SMA-nya. Steve Jobs dan Kolonel Sanders diolok-olok idenya. Steven King dan J. K. Rowling berkali-kali ditolak tulisannya. Bahkan tidak sedikit di antara mereka pernah mengalami depresi berat karenanya, tetapi ada kekuatan pembuktian yang menyertai tiap cemoohan dan penolakan.

Menjadi mereka yang tidak diunggulkan kadang dilematis. Antara besar kepala dengan rendah diri. Jika terlalu ambisius bisa salah arah, bahkan menghalalkan segala cara. Ketika berhasil pun rentan masuk jebakan kesombongan. Belum siap mental menjadi pemenang. Alhasil mereka malah balik meremehkan dan mengolok-olok orang lain. Sebaliknya, jika terlalu diterima sebagai sebuah kenyataan dapat menghadirkan rasa minder yang melemahkan. Tidak ada motivasi karena tak berani bermimpi. Mundur teratur. Terminologi ‘tidak diunggulkan’ berubah menjadi ‘pecundang’.

Menjadi mereka yang dipandang sebelah mata boleh jadi menantang. Memotivasi untuk bisa lebih baik, mengerahkan segenap upaya terbaik dan terus melakukan perbaikan. Memberi bukti indah kesuksesan tanpa maksud membalas dendam. Mereka yang pernah merasakan diremehkan semestinya akan lebih mudah tetap berpijak ke bumi ketika sukses, dibandingkan mereka yang setiap saat dielu-elukan. Tidak takut menghadapi tantangan masa depan, namun tidak pula menganggapnya ringan. Karena sikap meremehkan pada hakikatnya adalah suatu bentuk keangkuhan. Dan kesombongan hanya akan menggiring pada kehancuran.

Lalu mengapa tim ‘kuda hitam’ cepat redup cahayanya? Pertama, karena mereka tidak lagi diremehkan sehingga kekuatan mereka berkurang. Kedua, karena mereka gagal lepas dari beban pemenang tidak lagi tenang dan menghanyutkan. Ketiga, karena mereka gagal merawat momentum keberhasilan, tergesa-gesa dan aji mumpung. Padahal mempertahankan kesuksesan tidak lebih mudah daripada merebutnya. Butuh kerja ekstra ketika kita sudah menjadi pihak yang diperhitungkan. Solusinya tentu bukan merekayasa agar kembali diremehkan, namun terus memberikan bukti bahwa untuk menghebat tidak perlu dengan meremehkan orang lain. Fokus memperbaiki diri dan menginspirasi orang lain. Tak lupa untuk bersyukur atas segala karunia yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta.

I love when people underestimate me and then become pleasantly surprised.” (Kim Kardashian)

Berkolaborasi dalam Kompetisi, Berkompetisi untuk Kolaborasi

Alkisah di sebuah desa, ada seorang petani yang menanam jagung kualitas terbaik. Panennya selalu berhasil dan ia kerap memperoleh penghargaan sebagai petani dengan jagung terbaik sepanjang musim. Seorang wartawan lokal tertarik untuk mewawancara petani tersebut. Ia datang ke rumah petani kemudian disambut dengan ramah dan dijamu dengan baik. Dalam suasana wawancara yang hangat, ia menanyakan rahasia kesuksesan petani tersebut.

“Mudah saja, saya selalu membagi-bagikan benih terbaik yang saya miliki kepada para tetanggga”, jawab si petani. “Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya? Bukannya itu justru akan membuat Anda rugi dan kalah bersaing?”, tanya wartawan itu penuh keheranan. Sejenak petani itu terdiam kemudian menjelaskan, “Kami para petani ini telah diajarkan oleh alam. Angin yang berhembus menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jadi, jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula”.

* * *

Pilih mana kompetisi atau kolaborasi? Tidak sedikit orang yang mendikotomikan antara keduanya. Kompetisi yang bersinonim dengan persaingan kemudian diidentikkan dengan saling menjatuhkan, tingkat stres tinggi, hingga menghalalkan segala cara. Sementara kolaborasi yang bermakna kerja sama dipahami sebagai aktivitas saling membangun dan saling menguntungkan. Ibarat baik dan buruk, tentu tidak sulit menentukan pilihan. Bahkan ada yang ‘mengharamkan’ kompetisi, terutama di dunia pendidikan, karena hanya mengedepankan ego yang berbuah kerusakan, sementara setiap individu punya keunikan yang tidak bisa dan tidak seharusnya dikompetisikan.

Pembunuhan pertama oleh manusia juga didorong oleh menang – kalah dalam kompetisi. Namun bukan kompetisinya yang salah, melainkan bagaimana menyikapi kompetisi tesebut. Habil mempersembahkan kurban ternak terbaik sementara Qabil memberikan kurban hasil tani terburuk. Jika ditelaah lebih dalam, ternyata orientasi, cara berkompetisi dan bagaimana menyikapi hasil kompetisilah yang menentukan dampak dari kompetisi. Sementara kompetisi adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kompetisi sudah dimulai sejak pembuahan sel telur oleh satu dari jutaan sperma, hingga perjalanan hidup yang hakikatnya adalah kompetisi dengan waktu. Karenanya tidak heran jika Allah memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, berkompetisi menuju Ridha dan Jannah-Nya.

Kompetisi akan mendorong kreativitas dan inovasi, bersungguh-sunguh untuk terus menjadi lebih baik. Hidup tanpa kompetisi adalah stagnasi di zona nyaman. Meniadakan keindahan akan dinamika hidup. Coba saja bayangkan tiada kompetisi dalam memasuki jenjang pendidikan baru, atau dalam rekrutmen karyawan, atau bahkan dalam memilih pasangan. Meniadakan kompetisi sama saja mengingkari hakikat hidup manusia. Dan jika tidak didikotomikan, kompetisi sesungguhnya membuka ruang besar untuk tercipta kolaborasi. Ya, berkolaborasi dalam kompetisi.

Dunia semakin kompetitif dan kian menyempitkan makna kompetisi. Hanya ada satu juara, yang kalah akan tergilas zaman. Paradigma kompetisi untuk ‘saling membunuh’ mendorong manusia untuk melakukan apa saja untuk dapat bertahan hidup. Ketika manusia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dilakukan sendirian, kolaborasi menjadi opsi strategis untuk dapat terus eksis. Sayangnya, kolaborasi yang dihasilkan dari paradigma seperti ini sifatnya transaksional. Ada selama masih ada kepentingan. Untuk berkolaborasi dengan benar, perlu paradigma kompetisi yang benar. Bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk terus berkembang. Bukan untuk memperoleh pengakuan, tetapi untuk memberikan kebermanfaatan yang lebih luas. Mengubah mindset dari win-lose menjadi win-win.

Kolaborasi adalah berbagi peran dan potensi untuk mencapai tujuan bersama tanpa harus mengeliminasi jati diri. Perbedaan adalah hal yang perlu ada dalam sebuah kolaborasi, hal itulah yang membedakannya dengan sebatas koordinasi. Kolaborasi akan memperbesar peluang pengembangan dan keberhasilan. Kemenangan milik bersama. Kolaborasi adalah berbagi untuk bisa saling melengkapi. Berbagi dan memberi, itulah makna strategis kolaborasi yang tidak dimiliki oleh kompetisi.Kolaborasi akan meredam syahwat kompetisi yang takkan pernah terpuaskan, menyeimbangkan sisi manusia sebagai makhluk sosial tidak hanya sebagai makhluk individu. Realitanya, kolaborasi mungkin tidak bisa membahagiakan dan menguntungkan semua orang, namun setidaknya tidak perlu hasil akhir yang mencelakakan atau menghancurkan pihak lain.

Hidup penuh dengan kompetisi sehingga terlibat dalam kompetisi seringkali bukan pilihan. Namun membangun paradigma kompetisi yang sehat adalah pilihan. Menggunakan cara-cara yang baik dalam berkompetisi adalah pilihan. Menyikapi kemenangan dan kekalahan dengan benar adalah pilihan yang mendewasakan. Mempersiapkan diri untuk bijak dalam menghadapi kompetisi dan hasilnya lebih realistis dibandingkan menghindari kompetisi dan berharap semua akan jadi pemenang. Namun jika kompetisi adalah keniscayaan, kolaborasi adalah pilihan. Pilihan para pemenang sejati. Betapa banyak orang yang menginjak-injak orang lain untuk mencapai puncak, dibandingkan mereka yang bergandengan tangan bersama mencapai puncak. Hampir semua manusia tengah berkompetisi, namun sedikit di antaranya yang berkolaborasi. Padahal kebermanfaatan adalah ukuran keberhasilan. Mari berlomba berkolaborasi dalam kebaikan. Berkompetisi untuk kolaborasi.

Competition make us faster, collaboration make us better

Ketika Kebosanan Tak Jemu Menghampiri

Wahai manusia, hendaknya kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga kalian merasa bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR.Muslim)

Hadits di atas adalah tanggapan Rasulullah SAW ketika A’isyah r.a. bercerita kepada beliau tentang Haulah binti Tuwait, muslimah ahli ibadah yang tidak pernah tidur malam. Rasulullah SAW menggambarkan bahwa kemampuan setiap orang tidaklah sama, termasuk kemampuan dalam mengatasi kejenuhan. Mungkin ada sedikit orang yang jarang sekali dihinggapi kebosanan karena mampu mengalihkan kebosanan tersebut pada aktivitas yang bermanfaat. Pun demikian rasa jemu dan bosan sebenarnya merupakan hal yang wajar, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Al Bazzar “Tiap-tiap amal itu ada masa-masa jemunya, dan pada tiap-tiap masa jemu itu ada peralihannya. Barangsiapa yang peralihannya itu kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk, dan barangsiapa yang peralihannya kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat”. Usahlah risau ketika rasa bosan datang menghampiri, namun risaulah ketika kita gagal menghadapi kebosanan tersebut dengan penyikapan yang tepat.

Alkisah, ada seorang tua bijak ditanya oleh tamunya, “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, Pak Tua?”. Orang bijak itu pun menjawab, “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu”. “Kenapa kita merasa bosan?”, tanya tamunya lagi. “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki”, jawab orang bijak tersebut. “Lalu, bagaimana menghilangkan kebosanan?”, tanyanya lagi. Orang bijak itu menjawab, “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya”. Tamu tersebut kembali bertanya, “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”. Orang bijak itu bertanya balik, “Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”. “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua”, jawab sang tamu. “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang”, jawab Orang Bijak tersebut. “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya…”, lanjutnya.

Tamu itu pun pergi, namun selang beberapa hari, ia kembali mengunjungi Orang Bijak tersebut dengan wajah kusut. Tamu tersebut bertanya, “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”. Orang Bijak tersebut menjawab, “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan. Misalnya, mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu”. Tamu itu kembali beranjak, beberapa minggu kemudian, ia datang lagi ke rumah Orang Bijak tersebut dengan wajah ceria. Ia berkata, “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”. Sambil tersenyum Orang Bijak tersebut berkata, “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria”.

* * *

Sekali lagi, rasa bosan adalah sesuatu yang wajar, bukan aib. Rasa jenuh adalah sunatullah, sebagaimana iman tidaklah statis, bisa naik bisa turun. Kehidupan tidaklah datar, semangat manusia pun ada masa pasang surutnya. Rentang waktunya bisa jadi beragam, kadarnya pun boleh jadi berbeda setiap orang. Manusia berbeda dengan malaikat yang selalu taat, berbeda dengan iblis yang tak pernah jemu menggoda manusia. Rasa bosan, jenuh dan jemu tersebut mungkin memang tidak bisa dihindari, namun bukan berarti tidak perlu diantisipasi dan disikapi. Rasa jenuh yang tidak dikelola akan menghasilkan energy negatif, kebosanan yang dituruti akan berujung pada sikap kontraproduktif. Lalu bagaimana mengarahkan rasa bosan menjadi sesuatu yang bermanfaat?

Benda tajam pun butuh saatnya untuk diasah agar tetap tajam, begitu juga dengan jiwa, pikiran dan tubuh manusia. Jiwa yang jenuh butuh istirahat sejenak dengan kontemplasi, guna mengembalikan dan mengumpulkan kembali energi yang telah tercurah. Jiwa yang tengah butuh istirahat jangan dipaksa terus berlari karena bisa jadi malah membuatnya mati. Pikiran pun dapat terjangkiti rasa bosan sehingga butuh dibuat lebih rileks agar kembali cemerlang. Jika pikiran terus diforsir hasilnya pasti tidak akan optimal, buah pikiran tak akan jernih, kreatifitas pun justru semakin tumpul. Begitupun tubuh manusia, butuh masa rehat dan santai. Kondisi tidak sehat yang dipaksa terus berbuat berpotensi mendatangkan sakit yang berlipat. Sesekali memang perlu memanjakan tubuh agar semakin tangguh. Jadi, kebosanan bisa jadi waktu yang tepat untuk mengasah kembali ‘pisau’ kita, asal jangan terlalu lama sehingga ‘pisau’ kita semakin menipis dan habis.

Kebosanan biasanya timbul karena rutinitas, aktivitas yang monoton dan mengekang potensi untuk berkembang. Karena timbul dari rutinitas, rasa jenuh sebenarnya dapat diarahkan untuk mengembangkan kreativitas. Variasi kita dalam melakukan sesuatu akan sangat mempengaruhi ketahanan kita sebelum rasa jenuh datang menghampiri. Optimalisasi otak kanan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dalam aktivitas yang sama akan menjadikan aktivitas tersebut lebih menyenangkan, ibarat permainan. Mungkin atas dasar inilah berkembang metode fun learning dalam pembelajaran ataupun stimulasi otak tengah ataupun kanan, sebagai penyeimbang aktivitas otak kiri yang biasanya lebih dominan sehingga lebih rentan dengan kejenuhan. Tidak hanya sebagai antisipasi dan pencegahan dari kebosanan, variasi aktivitas dapat pula menjadi pertolongan pertama dan obat bagi penyakit jenuh akibat rutinitas.

Mengisi kebosanan dengan ‘mengasah pisau’ ataupun dengan variasi aktivitas akan mendatangkan manfaat di balik kejenuhan kita. Namun ada lagi sikap yang lebih produktif, yaitu dengan mengalihkan kebosanan dengan aktivitas lain di luar rutinitas yang tidak kalah bermanfaat. Lihatlah Bilal bin Rabbah yang menghibur dirinya dengan shalat. Orang-orang shaleh biasa memanfaatkan rasa jenuh yang dirasakannya untuk semakin mendekat kepada Allah SWT, dengan shalat, tilawah Qur’an, dzikir, do’a, dan sebagainya. Tidak sedikit pula yang mengalihkan kejenuhannya dengan membaca ataupun menulis buku. Ada pula yang masa jemunya dialihkan untuk produktif mengerjakan amanah lain. Kalau meminjam istilah Anis Mata dalam buku “Mencari Pahlawan Indonesia”, hal inilah yang disebut sebagai siasat pengalihan. Kala kebosanan datang, ia segera dialihkan kepada aktivitas lain yang produktif. James S. Ritty, seorang pemilik sebuah bar di Dayton, Ohio, AS. Ketika jenuh di pekerjaannya, ia pergi berwisata dengan kapal laut. Selama istirahatnya di atas kapal, ia memperhatikan suatu alat penghitung kecepatan baling-baling kapal, ia pun mendapat ide untuk membuat mesin penghitung uang. Dengan bantuan saudaranya, terciptalah mesin kas pertama yang dipatenkan pada November 1879. Kurang lebih seperti itulah contoh menyikapi kebosanan dengan lebih produktif.

Namun perlu juga dicermati dan diwaspadai bahwa kebosanan kadang kita yang mendatangi, bukannya menghampiri kita. Ya, kita lah yang menciptakan kebosanan, bukan sesuatu di luar diri kita. Jiwa kita yang tidak menjalani aktivitas dengan penuh keceriaan, pikiran kita yang tidak mau berkembang sehingga menjalani hari dengan rutinitas, atau tubuh kita yang terlalu dimanjakan sehingga tidak juga sampai pada performa optimalnya. Dalam hal ini kebosanan harus dilawan, rasa jenuh harus dihadapi karena berpotensi menjadi penyakit bagi diri kita. Jiwa harus dibangun dan diperkokoh, pikiran harus dijernihkan dengan hal-hal positif, tubuh pun harus dipaksa berbuat untuk mengusir kemalasan. Ketika kebosanan terjadi karena kelemahan jiwa, tidak ada kata lari dan beristirahat, yang ada adalah bangkit dan lawan.

Dinamika kehidupan silih berganti, begitupun suasana hati. Kebosanan selalu siap datang menyergap, namun tidak boleh terlalu lama menetap. Kala kebosanan datang menghampiri, mungkin memang saatnya untuk berhenti sejenak, introspeksi dan memperbaiki diri. Ketika rasa jemu itu datang, mungkin memang tantangan bagi kita untuk tidak terkekang dan terus berkembang. Tatkala kejenuhan hadir kembali, mungkin ada ladang kebaikan lain yang menanti, mengalihkan perhatian sejenak untuk tetap produktif dalam berkontribusi. Kebosanan takkan jemu menyapa, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tidak berlama-lama dilanda kebosanan, tidak jemu melawan kejenuhan yang melalaikan, tidak bosan berbuat, bertahan menghadapi kebosanan dan terus menebar kebermanfaatan. Karena hanya ada satu tempat dimana kebosanan tak dapat tinggal, hanya ada satu masa dimana kejenuhan tidak memiliki tempat untuk menetap. Tempat tinggal yang kekal, masa yang abadi, di akhirat nanti…

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah.” (Ust. Rahmat Abdullah)