Category Archives: Hati & Pernikahan

Memilih Tempat Tinggal untuk Membangun Peradaban

Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan; tetangga yang jelek, istri yang jahat (tidak shalihah), tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.
(HR. Ibnu Hibban)

Kebahagiaan sejati memang adanya di hati, namun ada beberapa indikator yang dapat mengakselerasi hadirnya kebahagiaan. Empat diantaranya disebut dalam hadits di atas. Di tulisan sebelumnya, penulis sudah kerap menyampaikan tentang seni mencari dan memilih istri. Tulisan ini hadir untuk membahas indikator kebahagiaan yang lainnya, yaitu bagaimana memilih tempat tinggal untuk membangun keluarga dan rumah tangga bahagia. Dan sesuai dengan hadits di atas, ada empat indikator kebahagiaan, termasuk dalam hal memilih tempat tinggal.

Pertama, istri yang shalihah mencerminkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang diisi oleh pribadi-pribadi yang baik. Rumah yang berisi entitas-entitas yang baik. Porsi besar tanggung jawab untuk membangun dan membina pribadi-pribadi yang ada di dalam keluarga memang ada di pundak suami selaku kepala keluarga. Namun porsi besar untuk mengelola entitas-entitas tersebut ada pada istri selaku manajer rumah tangga. “…Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya, sedangkan perempuan adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari-Muslim). Disinilah dibutuhkan sinergi suami istri untuk menciptakan tempat tinggal yang baik. Jadi, syarat pertama untuk memperoleh tempat tinggal yang baik adalah menghadirkan kepala keluarga dan manajer rumah tangga yang baik sehingga aktivitas di dalamnya penuh dengan kebaikan.

Kedua, tempat tinggal yang luas menunjukkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang membuat nyaman, baik secara materi maupun non-materi. Dalam memilih tempat tinggal, kenyamanan materi tentu perlu menjadi pertimbangan. Tidak perlu memaksakan jika harganya tidak terjangkau, harga yang membebani hanya akan menambah utang dan berpotensi mengacaukan pengelolaan keuangan rumah tangga. Memang materi bukan faktor penentu keharmonisan rumah tangga, namun nyatanya banyak rumah tangga berantakan karena faktor materi semata. Dan kenyamanan yang sangat penting untuk diperhatikan adalah kenyamanan non-materi. Pilihan tempat tinggal merupakan salah satu tahap yang menentukan pilihan masa depan sehingga kesepakatan penentuan tempat tinggal sebaiknya melibatkan suami istri, bukan salah satu pihak saja. Mufakat tersebut akan menjadi awal kenyamanan. Faktor keselamatan dan keamanan juga perlu menjadi perhatian. Rumah semegah apapun tidaklah akan menghadirkan kenyamanan jika berada di kawasan rawan kejahatan. Faktor-faktor lain yang menentukan kenyamanan seringkali subjektif, mulai dari keasrian lingkungan, hingga penggunaan sistem syari’ah dalam hal pembiayaan, namun faktor-faktor ini tetap penting untuk diperhatikan. Keluarga dan rumah tangga yang penuh kasih sayang dan bertabur Rahmat Allah SWT (mawaddah wa rahmah), hanya dapat diwujudkan ketika ada ketenangan dan kenyamanan (sakinah). Karenanya kenyamanan menjadi salah satu indikator penting tempat tinggal yang baik.

Ketiga, tetangga yang shalih menggambarkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang memiliki lingkungan yang baik. Lingkungan masyarakat yang religius, akrab dan saling tolong menolong. Bagaimanapun kedekatan kita dengan keluarga sedarah kita, orang-orang yang pertama kali akan menolong kita jika kita tertimpa musibah, bahkan menyolatkan dan mengurusi jenazah kita ketika kita mati adalah tetangga kita. Tidak heran dalam banyak riwayat Rasulullah SAW begitu memperhatikan adab bertetangga dan memuliakan hak tetangga, diantaranya Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku untuk berbuat baik terhadap tetangga, sampai-sampai aku mengira dia akan menjadikannya sebagai ahli waris” (HR. Bukhari-Muslim). Lingkungan yang baik juga dicirikan dengan kemudahan untuk beribadah, saling berinteraksi, saling memberi, saling menasehati dan saling bantu. Lingkungan yang baik juga akan mendorong kita untuk terus mengembangkan diri dan lebih produktif.

Keempat, tunggangan yang nyaman menyiratkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang menunjang mobilitas untuk beraktivitas dan kemudahan akses terhadap berbagai fasilitas. Dalam kehidupan, ada berbagai fase yang berpotensi mempengaruhi kualitas dan produktivitas kita misalnya lulus kuliah, mulai bekerja, menikah ataupun memiliki anak. Menempati tempat tinggal yang baru juga merupakan fase hidup yang berpotensi mempengaruhi aktivitas. Tempat tinggal yang baik akan mendorong kita untuk semakin produktif dalam bekerja, berkarya, berkontribusi dan menjalankan segudang amanah kita. Berbagai fasilitas yang tersedia tentunya juga perlu menjadi perhatian. Keberadaan fasilitas seperti sarana transportasi, instansi pemerintahan, layanan pendidikan dan kesehatan, hingga fasilitas olah raga dan hiburan tentunya akan menunjang mobilitas dan produktivitas kita. Jadi, kita perlu memastikan bahwa tempat tinggal yang kita pilih tidak justu menghambat aktivitas kita dan menurunkan produktivitas kita.

Tempat Tinggal untuk Peradaban
Salah satu penyebab mandegnya pembangunan peradaban adalah ketika kebutuhan pokok atas sandang, pangan dan papan masih sulit untuk didapatkan. Ironis, mereka yang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sandangnya banyak yang justru mengumbar aurat, sementara di sisi lain harga sandang yang memenuhi kaidah syari’at, misalnya jilbab, tidaklah murah. Atau perhatikan bagaimana orang-orang membuang-buang makanan sementara di belahan bumi yang lain tidak sedikit orang yang sakit atau bahkan mati karena kelaparan. Belum lagi jika kita mempersoalkan sulitnya menemukan pangan yang sehat di dunia yang penuh penyakit dan kecurangan ini. Dalam hal papan, pembangunan rumah susun dan rumah subsidi seringkali masih belum tepat sasaran. Banyak keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal karena rumah layak bagi mereka hanya sebatas impian. Padahal ketercukupan kebutuhan pokok merupakan syarat sekaligus tolok ukur kemajuan peradaban.

Dan jika kita memfokuskan pada ketersediaan papan untuk membangun peradaban, kita akan menemukan bahwa pemilihan tempat tinggal akan menentukan maju mundurnya peradaban. Pemilihan kota Mekkah dan Madinah sebagai pusat penyebaran peradaban Islam bukan tanpa alasan, ada berbagai pertimbangan strategis di dalamnya. Ketika dikaji lebih dalam, pemilihan rumah Arqam bin Abi Arqam sebagai madrasah awal, pembangunan pasar dan masjid di Madinah juga menggambarkan betapa pertimbangan lokasi untuk beraktivitas menjadi penting dalam membangun peradaban. Di setiap peradaban yang tercatat dalam sejarah, selalu ada kota dan tempat tinggal yang menjadi pusat peradaban, tidak terkecuali peradaban di Mesir, Yunani ataupun Mesopotamia. Banyak tokoh pengukir sejarah berhasil membangun lingkungan tempat tinggalnya untuk membangun peradaban yang lebih maju. Ya, individu-individu hebat akan membangun diri dan lingkungannya dulu sebelum membangun peradaban.

Memilih tempat tinggal yang baik sepertinya merupakan perkara kecil bila dibandingkan dengan membangun peradaban. Namun ketika setiap orang memperhatikan tempat tinggal dan tetangganya serta membangun lingkungannya, niscaya akan tercipta kebahagiaan pribadi, keluarga dan masyarakat. Dan terbentuknya peradaban yang lebih maju tinggal menunggu waktunya. Dan tugas berat membangun peradaban dari tempat tinggal memang bukan perkara yang mudah diwujudkan. Butuh sekelompok orang yang menjadi motor perubahan, butuh sekelompok keluarga yang dapat menjadi teladan dan butuh sekelompok masyarakat yang rela berjuang dan berkorban. Tidak hanya itu, peran berbagai pihak yang mengembangkan lingkungan tempat tinggal yang baik dan terjangkau masyarakat juga diperlukan. Peran pemerintah dalam memperhatikan tata kota dan ketersediaan tempat tinggal juga dibutuhkan. Dan yang menjadi keniscayaan, ketika lingkungan tempat tinggal siap untuk berubah, perbaikan dan kemajuan akan menjadi realita. Sebaliknya, ketika lingkungan tempat tinggal rusak, kehancuran peradaban tinggal menunggu waktunya saja.

Andai kota itu peradaban, rumah-rumah di dalamnya haruslah menjadi binaan budaya, dan tiang seri setiap rumah yang didirikan itu hendaklah agama, dan agama yang dimaksudkan tentulah agama yang berpaksikan tauhid
(Faisal Tehrani dalam ‘Tuhan Manusia’)

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo

Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tetapi kau tetap dirimu sendiri di mataku, bukan Montague. Apa itu ‘Montague’? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apa pun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain! Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, kalau pun mawar berganti dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu, ambillah diriku seluruhnya” (Shakespeare dalam ‘Romeo & Juliet’)

Rangkaian kalimat di atas tertulis dalam teks drama yang dibuat William Shakespeare dalam roman Romeo & Juliet. Dikisahkan hubungan Romeo dari suku Montague dengan Juliet dari suku Capulet menemui jalan buntu karena kedua suku tersebut bermusuhan. Dalam keputusasaannya, Juliet mengangankan Romeo dapat mengganti namanya, apapun itu, sehingga dapat diterima oleh keluarga Juliet. Uniknya, hanya penggalan kalimat ‘Apalah arti sebuah nama?’ yang menjadi begitu terkenal, mengesankan penulisnya menjadi orang yang tidak mementingkan nama. Jika Shakespeare masih hidup, mungkin dia hanya akan geleng – geleng kepala, apalagi sebelumnya ia pernah mengingatkan, “Perhatikan arti di setiap kata, perhatikan makna di balik kalimatnya”.

Pentingnya nama seharusnya tidak perlu menjadi perdebatan. Kehidupan kita dipenuhi nama, baik mahkluk hidup maupun benda mati. Tak dapat dibayangkan betapa merepotkannya jika semua benda di dunia tidak memiliki nama, bagaimana kita akan menyebut suatu benda? Pentingnya nama ini sudah jelas tergambar dari bagaimana Allah SWT mengajarkan Adam untuk mengenal nama benda dan segala sesuatu setelah penciptaannya (QS. Al Baqarah : 31). Bahkan dalam beberapa ayat, Allah SWT mengecam nama – nama sesembahan kaum musyrikin, misalnya dalam QS. An Najm : 19  – 23. Dalam beberapa hadits juga disebutkan betapa Rasulullah SAW kerap mengganti nama – nama yang buruk –bukan hanya nama orang, tapi juga nama kelompok masyarakat, bahkan nama kota– dengan nama yang lebih baik (HR. Abu Daud, Turmidzi dan beberapa ahli hadits).

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa memberi nama yang baik merupakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian” (HR. Abu Daud). Nama Abdullah dan Abdurrahman memang merupakan nama yang paling disukai dan nama yang paling sesuai adalah Harits dan Hammam (HR. Abu Daud, Nasa’i dan lainnya), namun bukan berarti keempat nama tersebutlah yang harus digunakan dan tidak melulu harus berbahasa Arab. Purwo Udiutomo, misalnya, tidak berbahasa Arab, namun maknanya baik. Purwo (bahasa Jawa) atau Purwa (bahasa Sunda) artinya pertama atau terdahulu. Udiutomo berasal dari kata ‘ngudi’ dan ‘utomo’ (bahasa Jawa) yang berarti mencari keutamaan. Sehingga Purwo Udiutomo berarti anak pertama yang mencari keutamaan. Sebuah do’a orang tua yang baik.

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo
Rumaisha dalam bahasa Arab dapat diartikan ‘yang mendamaikan’ atau ‘yang merukunkan’. Jika dipisahkan, Rumaisha terdiri dari dua kata, yaitu ‘Rum’ yang dalam bahasa Kawi berarti ‘daya tarik, keindahan dan kecantikan’ dan ‘Aisha’ yang dalam bahasa Persia berarti ‘kehidupan’. Namun dasar pemberian nama Rumaisha bukanlah hal tersebut di atas, melainkan menamai dengan nama muslimah shalihah. Rasulullah SAW bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka” (HR. Muslim). Rumaisha (binti Milhan) atau lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim, adalah ibu kandung dari Anas bin Malik, pelayan Rasulullah SAW yang meriwayatkan lebih dari 2200 hadits. Rumaisha adalah wanita yang menawan, keibuan, cerdas dan yang paling dikenang oleh para shahabat adalah wanita dengan mahar termahal, yaitu keimanan Abu Thalhah yang kemudian menjadi salah seorang pahlawan generasi sahabat. Ummu Sulaiam adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, da’iyah yang bijaksana, pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama di antara ulama Islam. Ketulusan dan komitmen Rumaisha mengantarkannya menjadi salah satu shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Profil lebih lengkap tentang Rumaisha insya Allah akan disampaikan pada tulisan selanjutnya.

Alifiandra terdiri dari dua kata, yaitu ‘Alif’ dan ‘Andra’. ‘Alif dalam bahasa Arab memiliki arti ‘ramah dan bersahabat’, sekaligus mengandung makna ‘pertama’, ‘lurus’ dan ‘benar’. Sementara ‘Andra’ dalam bahasa Skotlandia (dan beberapa negara di Eropa) berarti gagah berani. Sifat ‘ramah dan bersahabat’ dilengkapi dengan ‘gagah berani’ sehingga diharapkan dapat menghasilkan sifat ‘tidak kaku’ dan ‘dekat’, namun tetap ‘memiliki sikap dan integritas’. Sifat ‘lurus dan benar’ dioptimalkan dengan ‘gagah berani’ sehingga keistiqomahan di jalan kebenaran yang lurus tidak hanya dipertahankan, namun juga diperjuangkan dan disebarkan. Udiutomo adalah nama ayah yang umum diberikan sebagai nama belakang anak, maknanya sudah disampaikan di atas. Dalam Islam, nama ayah kerap dinisbatkan di belakang nama anak karena seseorang tidak boleh menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya (QS. Al Ahzab : 5, HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dan ulama hadits lainnya). Jadi sebaiknya bukan nama suami yang dinisbatkan di belakang nama istri, tetapi nama ayah di belakang nama anak.

Nama yang baik = Awal pendidikan anak
Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ditemui seorang pria yang mengadukan kenakalan anaknya. Umar bin Khattab r.a. berkata, “Hai Fulan, tidak takutkah kamu kepada Allah karena berani melawan dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menimpali, “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”. Umar r.a. menjawab, “Ada tiga, yakni memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya; memilihkan nama yang baik; dan mendidik mereka dengan Al Qur’an”. Mendengar uraian tersebut, sang anak menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, dan dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku, bahkan satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya”. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu….”

Salah satu hak anak adalah mendapatkan nama yang baik, disamping berbagai hak lainnya mulai dari mendapatkan ibu yang baik hingga dinikahkan. Secara sederhana, hak anak adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan pemberian nama yang baik adalah awal pendidikan anak yang baik. Nama adalah do’a, memberi nama yang baik berarti mengharapkannya senantiasa dalam kebaikan. Dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhori – Muslim). Nama adalah motivasi yang akan mempengaruhi tindak tanduk penyandang nama. Ibnu Qoyyim berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya“.

Semoga pemberian nama Rumaisha Alifiandra Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan pertama yang bersahabat dan mendamaikan serta gagah berani dalam mencari kebenaran dan keutamaan sebagaimana Rumaisha binti r.a’… Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

* * *

Rasulullah SAW bersabda, “Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, “Siapa itu?” Mereka berkata, “Dia adalah Rumaisha binti Malhan, ibu dari Anas bin Malik”. (Al Hadits)

Wallahu a’lam bishawwab

(Tidak) selalu ada perempuan hebat di belakang laki-laki hebat

“Perempuan – perempuan yang keji untuk laki – laki yang keji dan laki – laki yang keji untuk perempuan – perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan – perempuan yang baik untuk laki – laki yang baik dan laki – laki yang baik untuk perempuan – perempuan yang baik (pula)…”
(QS. An Nur : 26)

Ada cerita yang cukup menarik dari buku Chicken Soup for The Couple’s Soul. Dikisahkan Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antar negara bagian. Ketika menyadari bensin mobilnya hampir habis, Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu. Tak lama kemudian, ia  mendapati SPBU yang sudah bobrok dan hanya memiliki satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh petugas satu – satunya disana untuk mengisi bensin mobilnya dan memeriksa oli, ia pun berjalan-jalan memutari SPBU itu untuk melemaskan kaki. Ketika kembali ke mobil, ia melihat petugas itu tengah mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika ia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, ia melihat petugas itu melambaikan tangan sambil berkata, “Asyik sekali mengobrol denganmu.”

Setelah mereka meninggalkan SPBU itu, Wheeler bertanya pada istrinya apakah ia mengenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan dan bercerita bahwa mereka pernah satu sekolah di SMA dan sempat berpacaran kira-kira setahun. “Astaga, untung kau ketemu aku. Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas SPBU, bukan istri direktur utama”, kata Wheeler menyombong. Istrinya pun menjawab, “Sayangku, kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas SPBU.”

* * *

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak manusia yang sukses karena dukungan istrinya, dan sebaliknya, tidak sedikit juga kehidupan laki – laki yang hancur karena wanita yang dinikahinya. Lihatlah bagaimana Hajar mendukung perjuangan Nabi Ibrahim, suaminya. Hanya wanita tangguh yang siap ditinggal suaminya dalam waktu lama hanya bersama anaknya yang masih kecil di tengah gurun pasir pada musim kemarau. Hanya istri hebat yang merelakan anaknya disembelih ‘hanya’ karena mimpi suaminya. Tidak mengherankan ada ungkapan yang mengatakan “Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat”. Kebesaran Rasulullah SAW pun tak luput dari peran besar seorang Khadijah ra. Kekuatan iman, ketulusan cinta, kebesaran jiwa dan keteduhan sikap Khadijah dalam mengantarkan proses kenabian hingga melewati fase-fase dakwah tersulit, membuat posisi Khadijah tidak tergantikan di hati Rasulullah SAW. Kehebatan Khadijah juga tergambar dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra., “Setiap kali Rasulullah SAW menyebut Khadijah, beliau pasti memujinya. Suatu hari aku merasa cemburu. Maka kukatakan, “Engkau selalu mengenang perempuan tua yang ompong itu, padahal Allah telah memberimu pengganti yang lebih baik.” Rasulullah SAW menjawab, “Allah tak pernah memberiku pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Dia beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Dia mempercayaiku ketika semua orang mendustakanku. Dia memberiku harta ketika semua orang enggan memberi. Dan darinya Allah memberiku keturunan, sesuatu yang tidak Dia anugerahkan kepadaku dari istri-istriku yang lain.” (HR. Ahmad). Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat, benarkah?

Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat. Tidak sepenuhnya benar, karena perempuan tidaklah selalu ada di belakang bayang – bayang kaum adam. Lihatlah bagaimana Asiah menaikkan posisi tawarnya dan tetap dapat menjaga kehormatannya di hadapan tirani Fir’aun. Bagaimana Asiah menorehkan sejarah dengan menyelamatkan bayi bernama Musa dari kezhaliman suaminya. Atau perhatikanlah bagaimana Maisun menggerakkan kaum muslimin di Damaskus untuk maju ke medan jihad perang salib. Ternyata tidak selamanya perempuan hebat ada di belakang laki – laki hebat. Perempuan juga punya kuasa untuk ada di depan. Perempuan hebat juga tidak melemah di hadapan suami ataupun lingkungan yang kurang mendukung, bahkan ia dapat memperbaiki suami ataupun lingkungannya tersebut.

Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat. Tidak sepenuhnya tepat, karena tidak selamanya laki – laki menjadi pihak yang dependen, tergantung bagaimana perempuannya. Seorang suami berkewajiban membina istrinya, ia tidak boleh hebat sendirian. Disinilah peran kepemimpinan seorang suami dibutuhkan. “Kaum laki – laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki – laki) atas sebagian yang lain (wanita)…” (QS. An Nisa : 34). Lihatlah bagaimana Nabi Ayub as. Mendidik istrinya dengan berbagai ujian yang menimpa dirinya. Atau bagaimana Rasulullah SAW men-tarbiyah istri – istrinya yang menuntut pembagian rampasan perang Hunain. Atau bagaimana Yusuf as. menolak ajakan Zulaikha bahkan berhasil menyadarkannya. Ternyata tidak selamanya perempuan hebat ada di belakang laki – laki hebat. Bagaimanapun perempuan dibuat dari ‘tulang rusuk yang bengkok’ sehingga harus diluruskan. Laki – laki hebat tidak melemah karena perempuan, namun ia akan menguatkan, sehingga mereka dapat ‘tumbuh’ bersama.

Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat. Tidak salah, mungkin ungkapan tersebut sejatinya menegaskan signifikansi peran perempuan dalam kehidupan. Tidak perlu jauh – jauh ke luar negeri, lihat saja peran (almh.) Ibu Tien terhadap kedigjayaan Soeharto, atau besarnya kontribusi (almh.) Ibu Ainun terhadap kesuksesan Habibie, atau signifikansinya pengaruh Ibu Ani terhadap kepemimpinan SBY. Tidak berlebihan Hasan Al Banna mengatakan, “Perempuan itu separuh dari sebuah bangsa. Bahkan separuh yang paling mempengaruhi dan membei peran besar bagi hidupnya suatu bangsa”. Atau kata bijak yang mengungkapkan, “Perempuan adalah tiang negara, jika baik perempuan di sesuatu negara, maka baiklah negara itu, begitu pula sebaliknya”.

Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat. Tidak keliru, sejarah manusia memang tidak pernah lepas dari peran perempuan (dan juga peran laki – laki), mulai dari Hawa yang menemani Adam mendiami surga dan bersama – sama diturunkan ke bumi kemudian menghasilkan keturunan. Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana peran peran perempuan itu dapat memperbaiki, bukan merusak. Sebagaimana hancurnya kekuasaan penakluk dunia sekaliber Alexander The Great dan Napoleon Bonaparte di hadapan wanita. Yang perlu dicermati adalah bagaimana peran perempuan itu dapat memuliakan, bukan menghinakan. Sebagaimana kisah Auf bin Malik al Asyjai yang urung hijrah ke Madinah karena tidak tega meninggalkan istri dan anaknya yang belum beriman sehingga turunlah ayat, “Hai orang–orang beriman, sesungguhnya di antara istri – istrimu dan anak – anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati – hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghabun : 14)

Selalu ada perempuan hebat yang membersamai laki – laki hebat dan selalu ada laki – laki hebat yang membersamai perempuan hebat, ungkapan itu mungkin lebih tepat. Membawa optimisme. Terus belajar untuk saling memberi, menerima, melupakan, mengingatkan dan melengkapi, itulah kuncinya untuk tumbuh berkembang menggapai kesuksesan bersama. Dan kesuksesan sejati lahir ketika kita berhasil membantu orang menggapai sukses. Kehebatan hakiki diperoleh ketika kita dapat mendidik orang menjadi hebat. Ya, hasil akhir hanyalah timbal balik dari proses. Perempuan hebat untuk laki – laki hebat, laki – laki hebat untuk perempuan hebat.  “Tidaklah memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan wanita kecuali orang yang hina.” (HR. Ibnu Asakir)

* * *

“Seorang mukmin dikatakan telah memenuhi faktor – faktor kesuksesan adalah ketika keimanannya kuat kepada Allah, komitmennya kuat terhadap peraturan Allah, perilakunya yang ikhlash terhadap dakwahnya, keseriusannya membangun pondasi untuk pembangunan umat. Tidak hanya itu, tapi dia juga harus manusia yang sukses di rumahnya, di keluarganya, menyambung silaturahim di keluarganya dan keluarga pasangan hidupnya juga” (Hasan Al Banna)

“Adalah Engkau”, Seismic

Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk menjadi bunga dihatiku
Menjadi peneduh kalbu
Di perjalananku, di perjalananku

Tibalah waktu yang telah kurindu
Tuk selalu bersama denganmu
Tlah terbuka pintu itu
Akad tlah terucap sudah
Dinda marilah melangkah

Dinda temanilah aku di setiap detikku
Dengan doamu
Bila terpisahkan waktu
Tetaplah di sini di dalam hatiku

Ya Rabbi izinkanlah kami
Untuk terjaga selalu di jalan-Mu
Dinda doamu laksana pelepas dahaga
Di lelahnya jiwa

Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk selalu hadir di hidupku
Mengiringi setiap langkah saat menuju
acuan hidup ini

Puisi Syukur (dibacakan ketika akad 060211)

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Syukur kuucapkan atas tibanya hari penuh kecintaan
Akhir dari sebuah penantian
Jawaban atas segala kegalauan
Mendapat anugerah pendamping perjuangan

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Segala puji pada-Mu Rabbi atas nikmat hari ini
Pun jua kusadari kekurangan diri
Amalku tak senilai dengan nikmat yang tlah Kau beri
Izinkan syukurku ini terungkap dari lubuk hati

Atas hidayah yang menguatkan iman
Atas pelita Islam penunjuk jalan
Atas bimbingan yang mencerahkan
Atas keyakinan hati yang meneguhkan
Atas anugerah keluarga yang membanggakan
Atas anugerah sahabat yang menguatkan
Atas ketetapan yang menenangkan
Atas segala ujian yang mewarnai kehidupan
Atas segala urusan yang Kau mudahkan
Atas takdir indah yang Kau sempurnakan
Atas cinta suci yang Kau karuniakan

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Berjuta terima kasihku untukmu ayahanda dan ibunda
Pun kupercaya segala kata dan karya
Takkan cukup untuk membalas segala jasa
Izinkan syukur ananda membuncah dari dalam dada

Atas kasih sayang sepanjang jalan
Atas perhatian yang tak terlukiskan
Atas ketulusan jiwa penuh keikhlashan
Atas pelajaran hidup penuh kesabaran
Atas perlindungan yang menentramkan
Atas tutur lembut yang menguatkan
Atas bekal hidup yang menyelamatkan
Atas peluh dan darah dalam perjuangan
Atas hari – hari yang meletihkan
Atas malam – malam yang kurepotkan
Atas air mata yang kau sembunyikan
Atas kesedihan yang tidak kau tampakkan
Atas senyuman dibalik segala kelelahan
Atas do’a yang senantiasa terlantunkan

Maafkan ananda belum dapat membahagiakan
Maafkan ananda belum mampu membanggakan
Maafkan ananda belum bisa menjadi teladan
Masih banyak menyusahkan
Masih kerap mengecewakan
Hanya do’a yang bisa kuhaturkan

Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian
Mengampuni segala dosa dan kesalahan
Menganugerahkan kekuatan dan kesehatan
Memberikan limpahan berkah dan kenikmatan
Memudahkan segala urusan dan keperluan
Meneguhkan hati dan menguatkan iman
Serta melindungi kalian sepanjang jalan

Pun hari – hariku ke depan bertambah amanah
Memikul tanggung jawab yang tidak mudah
Kuyakin do’amu kan mengikis semua gundah
Kutahu restumu kan menghapus segala lelah
Kupercaya ridhamu kan meringankan semua masalah

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Salam takzimku untukmu pendamping hidupku
Dirimu adalah kado terindah dari Allah untukku
Terimalah segala ketidaksempurnaanku
Lengkapilah semua kekuranganku

Untukmu belahan jiwaku
Temanilah tiap detikku dengan tulus kasihmu
Iringilah setiap langkahku dengan do’amu
Sejukkanlah hariku dengan senyummu
Tentramkanlah jiwaku dengan perhatianmu
Teguhkanlah qalbuku dengan ketegaranmu
Ingatkan aku kala tersalah atau keliru

Untukmu calon bidadari syurga
Jadilah sebaik – baik perhiasan di dunia
Jadilah madrasah pendidik generasi yang mulia
Jadilah cahaya penebar rahmah rumah tangga
Mari melangkah membentuk keluarga bahagia
Mari saling membantu untuk menjaga cinta
Mari saling percaya untuk selalu bersama
Mari kita rajut bahagia sampai ke syurga

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Sungguh kuinsyafi tiada nikmat-Mu yang dapat kudustakan
Pun masih tertatih dalam menunaikan segala kewajiban
Izinkanlah hamba-Mu yang lemah ini memanjatkan permohonan

Ya Allah…
Ampunilah segala khilaf dan salah
Jadikanlah setiap hela nafas hidup kami bertabur berkah
Bimbing kami untuk tetap istiqomah
Kuatkanlah kami dalam menapaki langkah
yang mungkin tidak selamanya indah
Jadikanlah kami keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah
Yang kelak dipertemukan kambali di dalam Jannah

Amiin… Walhamdulillahi rabbil ’alamin…

[PurE no Kekkon Shoutaijyo] InsyaAllah Akan Indah Pada Waktunya

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu ‘alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Minasan, konnichiwa.

Kono meru to watashi no kekkon shoutai wo okurimasu.
Goranshite kudasai.
Douka watashitachi wo shukufuku shitekudasai.
Issho ni oiwai shitekudasai.

Maha suci Allah yang telah mempertemukan hati-hati kami hingga berkumpul dalam cinta-Nya, bertemu dalam taat pada-Nya, menyatu menolong dakwah-Nya, berjanji perjuangkan syariat-Nya untuk berbagi cinta, harapan, dan kehidupan dalam tali pernikahan:

Endah Suyanti (Eshu)
Geo UI 2003

&

Purwa Udiutomo (Purwo)
TI UI 2001

Dalam suatu ikatan yang diridhai sesuai dengan sunnah Rasul untuk membentuk keluarga barakah yang sakinah mawaddah warahmah.

Akad Nikah:
Ahad, 6 Februari 2011
Pukul 08.30 WIB
Di Masjid Jami Al-Mujahiddin
Ciganjur, Jakarta Selatan

“Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzaariyaat : 49)

Dengan memohon ridha dan rahmat Allah SWT kami bermaksud menyelenggarakan walimatul ‘ursy yang insya Allah akan diselenggarakan pada:

Ahad, 6 Februari 2011
Pukul 13.00 – 17.00
di Kediaman Mempelai Wanita
Jl. Sadar IV No.44 Ciganjur
Jakarta Selatan

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. Annisa : 1)

Dan guna menguatkan ikatan silaturahim, dengan memohon Ridha dan Rahmat Allah SWT kami bermaksud menyelenggarakan acara ngunduh mantu yang insya Allah akan diselenggarakan pada:

Ahad, 6 Maret 2011
Pukul 10.00 – 16.00
di Casa Grande
Kp. Rawakalong Rt. 01/10
Kel. Grogol, Kec. Limo, Depok, Jawa Barat

Atas kehadiran dan doa restunya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kami yang berbahagia

- Kel. Durohman
- Kel. Wakijan
- PURE – Purwo & Eshu

***

NB: Mohon mengisi buku tamu saat mampir ke situs kami http://pure-lovestory.com/ ^_^

Sekilas tentang Purwo

Sekilas tentang Purwo a.k.a Purwa Udiutomo

Berdasarkan akte kelahiran, saya bernama Purwa Udiutomo, namun saya biasa dipanggil Purwo karena orang tua memang dari suku Jawa. Saya pun baru menyadari nama di akte tertulis Purwa kelas 6 SD ketika hendak mengurus ijazah. Ternyata ada kesalahan penulisan nama, namun sebelum sempat diperbaiki, notaris yang membuatkan akte meninggal karena kecelakaan. Ya udah, untuk menghargai jasa beliau, nama Purwa (yang berlogat Sunda) terus dipakai, toh artinya tetap sama : Pertama.

Yup, saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir tepat 27 tahun yang lalu dari tanggal akad nikah, 6 Februari. Menikmati masa kecil di Jakarta Selatan dan sejak tahun 1993 tinggal di Depok. Pendiam dan kutu buku adalah gambaran Purwo kecil yang tidak jarang menorehkan prestasi akademis. Pengalaman organisasi pertama yang kemudian banyak mengembangkan potensi diri non-akademis adalah ketika diamanahkan menjadi Wakil Ketua OSIS SMAN 1 Depok periode 1999/ 2000.

Masuk Teknik Industri UI tahun 2001 lewat jalur PMDK, baru lulus awal tahun 2007 dengan berbagai pengalaman organisasi dan aktivitas kemahasiswaan dari level jurusan hingga nasional. Amanah terakhir di kampus adalah sebagai Sekretaris Umum BEM UI yang juga mengantarkan berbagai pembelajaran hidup mulai dari berkunjung ke rumah rektor UI, masuk gedung MPR/ DPR hingga dua kali mengunjungi Serambi Mekkah menjadi relawan recovery tsunami Aceh. Saya suka mengunjungi daerah – daerah baru dan mengambil banyak hikmah disana, namun impian besar saya tentunya bersama keluarga dan orang – orang yang dicintai bisa mengunjungi dan menetap di syurga. Amiin…

Sangat terinspirasi dengan hadits Rasulullah SAW, “Sebaik – baik kamu adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain” dan perkataan Confusius, “Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain”. Intinya, kualitas diri di hadapan Allah dan manusia sangat ditentukan oleh kontribusi yang tiada henti. “Terus berkontribusi ‘tuk raih ridha Ilahi”, itulah yang kemudian menjadi motto hidup saya.

Saya sangat menyukai dunia sosial, khususnya di bidang pendidikan. Sebelum bekerja sebagai Manajer Program Pemuda dan Komunitas merangkap Koordinator Nasional Beastudi Etos di Lembaga Pengembangan Insani, jejaring pendidikannya Dompet Dhuafa, saya pernah menjadi peneliti di Circle of Information & Developmentnya Dompet Dhuafa dan menjadi Manajer Bimbingan Belajar Islami Salemba cabang Citayam. Di luar itu juga aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan pemuda yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Mempelajari pengelolaan sistem di bangku kuliah dan berkecimpung di bidang sosial – pendidikan sangat sesuai dengan hobi saya yaitu membaca, menulis dan berpikir.

Saya sangat sepakat dengan perkataan Imam Hasan Al Basri, “Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang lain. Karenanya hatiku tenang. Aku tahu amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain. Maka aku sibukkan diriku untuk beramal…”. Skenario Allah jelas terlihat dalam setiap fase transisi hidup saya, terjadi begitu saja dan dimudahkan. Barulah di masa selanjutnya terlihat alasan yang jelas mengapa Allah menghendaki ketentuan yang kerap tak terduga. Karenanya semuanya hal yang menyangkut takdir saya jalani dengan tenang, tanpa ada kekhawatiran.

Sejalan dengan visi hidup, pernikahan saya pandang sebagai salah satu tahapan dan sarana untuk meraih ridho Allah, sehingga selain membina keluarga yang SAMARA juga harus ada kontribusi bagi lingkungan sekitar dalam upaya untuk membangun peradaban yang lebih baik. Karenanya di dalam pernikahan harus ada proses saling belajar dan meningkatkan kapasitas tiap komponen yang terlibat. Menjadikan tempat tinggalnya menjadi tempat yang menyenangkan dan produktif. Mengisi hari – harinya dengan cinta dan suasana penuh energi positif. Nilai – nilai tentang syukur, keikhlashan, kesabaran dan kesungguhan terus diasah dari waktu ke waktu, untuk selamanya.

Wallahu a’lam bishawwab

“Kasih Kekasih”, In Team

Tak perlu aku ragui
Sucinya cinta yang kau beri
Kita saling kasih mengasihi
Dengan setulus hati

Ayah ibu merestui
Menyarung cincin di jari
Dengan rahmat dari Ilahi
Cinta kita pun bersemi

Sebelum diijabkabulkan
Syariat tetap membataskan
Pelajari ilmu rumah tangga
Agar kita lebih bersedia
Menuju hari yang bahgia

Kau tahu ku merinduimu
Ku tahu kau menyintaiku, oh kasih
Bersabarlah sayang
Saat indah kan menjelma jua

Kita akan disatukan
Dengan ikatan pernikahan, oh kasih
Di sana kita bina
Tugu cinta mahligai bahgia

Semoga cinta kita
Di dalam ridha Ilahi
Berdoalah selalu
Moga jodoh berpanjangan

Ps: sesekali kompakan ga apalah ^_^

Pertanyaan yang Aneh

“Sukakah Anda menabung?”
“Apakah Anda aktif dalam organisasi sosial? Sebutkan!”

Pertanyaan di atas adalah dua dari sekian banyak pertanyaan dalam sebuah form resmi yang harus saya isi beberapa waktu lalu. Dapatkah Anda menduga form apakah yang dimaksud? Sejujurnya, pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang kudapat semasa Sekolah Dasar. Bagaimana gemar menabung dan memiliki kepedulian sosial menjadi nilai dalam butir – butir Pancasila. Namun jelas form yang dimaksud bukanlah soal ulangan PPKn, apalagi dalam halaman berikutnya, masih dalam form yang sama ada pertanyaan – pertanyaan berikut :

“Apa yang dirasakan sulit di dalam melaksanakan ajaran agama (Islam)?”
“Apa Anda mengerjakan shalat, puasa, zakat dan haji?”
“Apakah Anda sudah bisa membaca Al Qur’an? Bila belum apa Anda masih berminat untuk mempelajarinya?”

Nah, kali ini malah seperti soal ulangan Agama Islam. Atau malah kayak mutaba’ah yaumiyah. Jika Anda berpikir form tersebut adalah form evaluasi mentoring ataupun wirid muhasabah harian, jelas salah besar. Selanjutnya, masih pada halaman yang sama, ada juga pertanyaan – pertanyaan berikut :

“Bagaimana pendapat Anda tentang Keluarga Berencana dan kesehatan?”
“Tahukah Anda tentang manfaat Imunisasi Tetanus Teksoid (TT)?”

Hmm, apa lagi nih? Mungkin kalau di sekolah sekarang masuk ke mata pelajaran kesehatan reproduksi. Semakin memperjelas atau justru semakin membingungkan? Nampaknya seperti soal – soal pengetahuan umum. Jika Anda menduga saya sedang mengikuti tes CPNS, perkiraan yang konyol. Form tersebut bukanlah sejenis tes potensi akademik ataupun psikotes. Baiklah, akan saya perjelas dengan pertanyaan kunci pada bagian bawah halaman pertama

“Pernahkah Anda mendengar atau membaca UUP No. 1/ 1974? Apa saja ketentuan – ketentuan UUP?”

Jika Anda belum pernah mendengar istilah UUP, sepertinya pertanyaan di atas malah semakin membuat bingung. UUP adalah kependekan dari Undang – Undang Perkawinan dan form yang saya isi adalah Naskah Penasihatan Calon Pengantin yang disusun oleh Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) ketika mengurus berkas pernikahan ke KUA. Masih ada puluhan pertanyaan lain yang beberapa diantaranya mungkin akan membuat kita mengernyitkan dahi seraya bergumam ‘apa hubungannya?’ atau ‘buat apa nanya – nanya beginian?’. Pertanyaan tentang hobi atau pertanyaan tentang kapan mulai berkenalan, misalnya. Sepertinya naskah ini adalah naskah baru, karena ketika saya bertanya ke orang tua atau mereka yang sudah menikah beberapa tahun lalu, mereka mengatakan tidak mengetahuinya.

Lebih uniknya lagi, pertanyaan – pertanyaan tersebut disusun seperti kuisioner. Jika saya pikir – pikir, jawaban dari pertanyaan yang beragam tersebut memang dapat menjadi bahan skripsi atau tesis bahkan mungkin disertasi. Terlepas dari apa sebenarnya tujuan disusunnya form tersebut dan mau diapakan jawaban dari pertanyaan – pertanyaan yang diajukan. Buat saya pribadi, form tersebut mengingatkan beberapa hal yang positif, misalnya tentang hak dan kewajiban suami isteri atau kewajiban orang tua terhadap anaknya. Namun memang seperti ada pertanyaan ’titipan’ seperti pertanyaan tentang KB di atas. Yah, paling tidak form tersebut berhasil membuat saya membaca UU Perkawinan dan mencari informasi tentang imunisasi TT. Tapi sejujurnya, saya lebih bersemangat mengerjakan soal Matematika Dasar dibandingkan mengisi Naskah Penasihatan Calon Pengantin yang lebih terkesan formalitas. Kesimpulannya, bagi mereka yang belum menikah, harap dipersiapkan jawaban untuk pertanyaan – pertanyaan di atas ^_^

Jodoh yang Sempurna

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. An Nur : 26)

* * *

 

Beberapa tahun lalu, seorang ’adik’ bertanya kepadaku tentang maksud ayat di atas. Apakah menutup kemungkinan seseorang yang belum baik memperoleh seseorang yang jauh lebih baik (untuk kemudian membantunya menjadi lebih baik)? Lalu bagaimana dengan realita bahwa juga tidak sedikit laki – laki ’hebat’ yang menikah dengan wanita yang ’biasa – biasa saja’, dan sebaliknya? Bagaimana pula penjelasan tentang pernikahan antara dua orang yang tidak ’sekufu’ karena perjodohan? Lalu,apakah jodoh itu proses atau hasil? Sejujurnya, aku kesulitan menanggapinya, yang dapat kusampaikan hanyalah asbabun nuzul ayat di atas yang terkait fitnah besar yang menimpa pernikahan Rasulullah SAW. Sedangkan untuk jodoh sendiri, entahlah, aku merasakan banyak rahasia di dalamnya dan ada dominasi kehendak Allah dalam hal ini, termasuk tentang kesesuaian dalam perspektif kita yang mungkin berbeda dalam perspektif Allah.

Ada satu cerpen yang kuingat dalam buku paket Bahasa Indonesia SMA terbitan Depdiknas, judulnya ”Jodoh yang Sempurna”. Dalam cerpen yang pernah masuk menjadi salah satu soal Ebtanas ini diceritakan tentang seorang laki-laki yang mencari pasangan hidup yang sempurna baginya ke biro jodoh. Dari 110 juta wanita, komputerpun memilihkan seorang wanita yang sangat cocok dengan dirinya. Mereka memiliki banyak kesamaan, mulai dari hobi, karakter, jumlah anak yang diinginkan, pendidikan untuk anak, pakaian, tempat tinggal, makanan dan jenis musik favorit, dan berbagai kesamaan lainnya. Merekapun menikah dan sepertinya semuanya akan berakhir bahagia. Namun di akhir cerpen terjemahan karya Stephen Makler dengan judul asli ’The Perfect Match’ tersebut, dikisahkan ternyata mereka bercerai karena pernikahannya telalu ’sempurna’, tidak ada perbedaan pendapat apalagi pertengkaran karena banyaknya kesamaan mereka. Pernikahanpun jadi membosankan dan tidak dapat dipertahankan.

Mencari yang Sempurna?
Penulis pernah membaca sebuah artikel yang bercerita tentang seorang lelaki yang sedang berusaha mencari pasangan hidup yang sempurna, kesempurnaan yang mungkin dapat direpresentasikan sebagai cantik, cerdas, kaya, keturunan ningrat dan berakhlak mulia. Beberapa wanita sudah coba didekatinya, namun belum ada yang sesuai dengan kriterianya karena selalu ada kekurangannya. Suatu ketika, ia menemukan wanita idamannya yang memiliki syarat kesempurnaan yang didambakan. Lelaki itupun mengutarakan isi hatinya, termasuk upayanya mencari wanita yang sempurna. Namun, apa jawaban dari wanita tersebut? ”Mohon maaf, saya tidak dapat menerima permintaan Anda, karena saya juga sedang mengidam-idamkan seorang lelaki yang sempurna”.

Ada artikel serupa yang sempat penulis muat dalam tulisan ’Berikan Aku yang Terbaik’, tentang seseorang yang berdo’a kepada Tuhan untuk memberikannya pasangan. Tuhan menjawab, ”Engkau tidak memiliki pasangan karena kau tidak memintanya”. Kemudian orang itu tidak hanya berdo’a, tetapi juga menjelaskan kriteria pasangan yang diinginkan : baik hati, lembut, pemaaf, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh perhatian dan pengertian, pintar, humoris hingga kriteria fisik. Seiring berjalannya waktu, daftar kriteria itupun bertambah. Hingga suatu malam ketika ia berdo’a, dalam hatinya Tuhan berkata, ”Hamba-Ku, Aku tak dapat memberikan apa yang kau inginkan karena Aku adalah Tuhan Yang Maha Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh cinta kasih kepadamu padahal terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang pemaaf tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam…”.

Tuhan melanjutkan, ”Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang kau cari selama ini daripada membuat kau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulang dan dagingmu, dan kau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana kau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu. Boleh jadi kamu membenci dan tidak suka sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi kamu mencintai dan sangat mendambakan sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Aku Maha Mengetahui sedangkan kau tidak mengetahui. Sabarlah, Aku Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Ku”

Sempurna dalam Ketidaksempurnaan
Berbicara tentang kesempurnaan, sebenarnya Allah telah menciptakan manusia dengan sempurna dan memuliakannya dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain. Namun, nafsu yang menggiring kepada kemaksiatan dan pemahaman yang keliru tentang kesempurnaan itulah yang membuat manusia tak lagi sempurna. Dan karena tidak ada manusia yang tak pernah berdosa maka tidak ada manusia yang sempurna. Jika ada seseorang yang merasa dirinya sudah sempurna, disitu saja ia sejatinya sudah menunjukkan ketidaksempurnaannya. Karenanya pula, memutuskan untuk mencari pasangan yang sempurna sama halnya dengan memutuskan untuk tidak menikah sama sekali.

Ketidaksempurnan kondisi ini bukan berarti manusia hanya cukup mencari pasangan yang jauh dari sempurna atau bahkan sekedar pasrah menunggu jodoh seadanya. Tidak mencari yang sempurna, bukan berarti tidak mencari yang baik dan tepat. Dalam do’a istikharah, Rasulullah SAW telah mengajarkan untuk memohon kepada Allah agar memilihkan yang terbaik untuk diri, agama dan urusan kita ke depannya, bukan memilihkan yang sempurna. Baik bukan berarti sempurna, namun sempurnapun belum tentu baik. Ketika sesuatu yang sempurna sangat sulit ditemukan, sesuatu yang baik biasanya dapat ditemukan di tempat yang baik dengan cara yang baik pula. Ketika kesempurnaan hanya layak disandang oleh Yang Maha Sempurna, sesuatu yang baikpun layak diperoleh mereka yang baik.

Manusia memang memiliki hasrat dan penuh keinginan. Bagi dirinya sendiri, tentu yang terbaiklah yang diharapkan, termasuk dalam hal jodoh. Allah menghendaki kita untuk mencari dan menemukan jodoh terbaik dengan usaha terbaik. Dan hal yang tidak boleh dilupakan untuk mendapatkan yang terbaik adalah dengan terus memperbaiki diri. Tawakkal setelah berikhtiar yang terbaik, akan menghasilkan keikhlashan sehingga apapun hasilnya akan dipandang sebagai yang terbaik. Prasangka baik kepada Allah atas segala ketetapan-Nya, akan membuka pintu kebaikan selanjutnya. Hasil dari proses itu kemudian disikapi dengan baik, limpahan kebaikanpun akan terus mengalir.

Kehidupan hakikatnya adalah serangkaian proses pendewasaan, berbagai ketidaksempurnaan sejatinya merupakan pembelajaran. Kekurangan, kesalahan, kelemahan dan berbagai ketidaksempurnaan memang perlu ada untuk kehidupan yang lebih baik. Apa lagi yang dapat diperbaiki dari sesuatu yang sempurna? Karenanya, penyikapan yang baik terhadap ketidaksempurnaan, dibantu oleh sesuatu (atau seseorang) yang baik dan tepat –pun mungkin tidak sempurna– akan terus mengarahkan proses perbaikan menuju kesempurnaan. Hingga pada masanya nanti, kesempurnaan dapat tercipta melalui proses yang baik dari komponen – komponen penyusunnya yang tidak sempurna…

* * *

“Ya Allah… Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu…”

Wallahu a’lam bishawwab
Ps. Mari bertumbuh bersama… ^_^