Category Archives: hikmah perjalanan

Sliver the Truth

Kebenaran umpama selembar cermin di tangan Tuhan yang jatuh pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memerhatikannya, lalu berpikir telah mengenggam kebenaran.” (Jalaluddin Rumi)

Sliver the truth’ artinya sepotong kebenaran, sebuah istilah yang baru saya dapati saat berdiskusi dengan Pak Zaim Uchrowi, salah seorang pendiri Harian Republika. Beliau mengatakan bahwa ‘sliver the truth’ begitu berkembang di Indonesia, terutama di dunia maya. ‘Sliver the truth’ mengandung kebenaran, namun tidak utuh, dan menurut beliau hal ini lebih berbahaya daripada kebohongan/ hoax. Hoax ketika dibuktikan kepalsuannya akan nyata kebohongannya dan ditinggalkan. Namun sepotong kebenaran tidak benar-benar bisa dibuktikan kepalsuannya karena masih mengandung kebenaran. Mereka yang meyakini sepotong kebenaran ini pun lebih sulit untuk bersikap objektif dan menerima kebenaran yang kompleks. Sepotong kebenaran dianggap sebagai kebenaran yang utuh.

Ada istilah serupa yang saya kenal sebelumnya yaitu ‘half-truth’ atau kebenaran yang setengah-setengah. Ada pepatah lama yang mengatakan, “a half-truth is a whole lie”. Barangkali ada benarnya, sebab sepotong kebenaran lebih didominasi kepingan yang dekat dengan kebohongan dibandingkan dengan kepingan kebenarannya. Dan menjadi lebih berbahaya dibandingkan kebohongan karena kepingan kebenaran ini diyakini sebagai kebenaran sementara kepingan yang lain diyakini sebagai kebohongan. Semakin lama penggalan kebenaran ini diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, semakin jauhlah dengan kebenaran hakiki sebab mereka yang meyakininya menutup diri dari penggalan kebenaran yang lain.

Dalam realitanya, ‘sliver the truth’ ini banyak digunakan untuk memanipulasi kebohongan menjadi kebenaran. Belum lagi jika sudah melibatkan framing media. Kebohongan yang terus diulang akan menjadi kebenaran, apalagi jika dalam pengulangan tersebut diselipkan ‘sliver the truth’. Istilah ‘framing’ ini akhirnya dekat dengan istilah ‘paltering’ alias mempermainkan kebenaran. Mengelabui orang dengan menyatakan hal yang ‘benar’. Contoh sederhana yang lekat dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan istilah ‘On the Way (OTW)’ ketika terlambat memenuhi janji pertemuan, padahal baru saja berangkat di depan rumah. Tidak sepenuhnya salah karena memang sudah di jalan (depan rumah). Bahkan ada yang lebih ekstrim menggunakan OTW dengan maksud lagi jalan ke kamar mandi buat siap-siap. Sejenis kebohongan yang barangkali dianggap lumrah.

Sebenarnya tidak semua ‘kebohongan’ dilarang. Nabi Ibrahim a.s. misalnya, pernah ‘berbohong’ tiga kali: menatap langit dan mengatakan dirinya sakit ketika diajak warga untuk berhari raya menyembah berhala; ‘mengambinghitamkan’ berhala paling besar yang menghancurkan berhala-berhala; dan mengakui Sarah (istrinya) sebagai saudara perempuannya. Termasuk ‘sliver the truth’ karena Nabi Ibrahim a.s. memang merasa sakit hatinya menyaksikan kemusyrikan kaumnya. Dalam kasus penghancuran berhala, yang disampaikan Nabi Ibrahim a.s. adalah sejenis majas, bukan jawaban dusta atas sebuah pertanyaan. “Berhala yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al Anbiya:63). Secara logika, karena berhala tidak dapat berbicara, maka pernyataannya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Bahkan ada yang menafsirkan kalimat bal fa’alahu kabiruhum hadzaterdiri dari dua kalimat.Bal fa’alahumenjawab pertanyaan bahwa pelakunya adalah laki-laki, sementara kabiruhum hadzaadalah sebuah kebenaran karena Nabi Ibrahim a.s. saat itu memang menunjuk berhala paling besar yang ada disana. Kemudian untuk kasus mengakui Sarah sebagai saudarinya karena memang Sarah adalah saudara perempuan seagamanya. Saat itu bahkan Sarah memang satu-satunya saudari seiman. Jika ditambah berbagai potensi fitnah yang akan muncul jika Nabi Ibrahim a.s. menjawab ‘apa adanya’, maka keputusan untuk slivering the truthtentu akan lebih mudah dipahami. Atau dalam kisah Nabi Yusuf a.s., manipulasi kebenaran pun sempat dilakukan ketika menuduh saudaranya (Benyamin) mencuri sehingga dapat ditahan, dan pada akhirnya bisa membawa ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.) ke Mesir. Itu termasuk siasat. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Ummu Kultsum binti Uqbah Abi Mu’ith r.a. mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah termasuk pendusta: orang yang mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan.” Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mentolerir kebohongan hanya dalam tiga kondisi: pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau sebaliknya.

Hanya saja dalam kondisi saat ini, ‘slivering the truth’ ini tidak patut dibudayakan. Bukan hanya motifnya yang seringkali politis dan sangat pragmatis, kondisi masyarakat pun juga tidak mendukung. Bualan dan dusta semakin jadi fenomena biasa. Daya kritis terhadap informasi menurun sementara fanatisme golongan meningkat. Belum lagi ditambah media yang cenderung kepada satu potongan kebenaran, bukan pada kebenaran itu sendiri. Sepotong kebenaran ini ketika dipadukan dengan arogansi dan fanatisme berlebihan dapat berbahaya. Bukan hanya akan menolak kebenaran dari pihak yang berbeda, dan merendahkan pihak lain, namun akan menimbulkan kebencian dan permusuhan dengan pihak lain. Polaritas antar golongan semakin kuat, seperti anjing dan kucing. Atau ibarat cebong dan kampret.

Ada istilah ‘white lies’ bahkan ‘beautiful lies’, namun ‘seputih’ apapun hal itu tetaplah sebuah kebohongan, bukan kebenaran. Kebohongan ‘baik’ yang akan diikuti oleh kebohongan lain untuk menutupinya. Kebohongan yang akan melahirkan kenyamanan semu. The truth is still the truth, even if no one believes it. A lie is still a lie, even if everyone believes it. Memang kebenaran kadang menyakitkan, karenanya tidak semua orang menyukainya. Ada pula yang namanya pembenaran, yang mampu memberi kepuasan sesaat. Dan sepotong kebenaran adalah sesuatu hal yang berbeda lagi. Bisa diarahkan membawa kebaikan, namun lebih berpotensi besar menyertai kebohongan. Karenanya, daripada menyampaikan sepotong kebenaran, lebih baik membiasakan berpikir kritis dan terbuka, tabayyun (check and recheck), serta menahan diri dari perkataan dan perilaku dusta, sekecil apapun, dalam keadaan bercanda sekalipun. Membiasakan diri untuk terus mencari, menelaah, dan menerima kebenaran. Bisa jadi ada kesalahan dari kebenaran yang kita yakini. Bisa jadi ada kebenaran dalam kesalahan yang orang lain yakini. Sebab kebenaran sejati hanya ada di sisi Allah SWT.

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim)

Tembus Sejuta Kasus Positif Covid, Prestasi Siapa?

“...Sepanjang tahun 2020 dan memasuki tahun 2021, kita menghadapi beberapa ujian, beberapa cobaan yang sangat berat. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, 215 negara dan Indonesia, telah mengakibatkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Kita bersyukur, Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik, tetapi permasalahan belum sepenuhnya selesai. Pandemi masih berlangsung dan kita harus waspada dan siaga…

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sambutan virtualnya pada Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 25 Januari lalu. Entah statement yang optimis atau gegabah mengingat kala itu kasus positif Covid-19 di Indonesia hampir menyentuh angka sejuta kasus, dengan jumlah pasien Covid-19 yang meninggal lebih dari 28 ribu jiwa. Dan benar saja, selang sehari kemudian, berdasarkan laporan Gugus Tugas Percepatan Penanangan Covid-19, per 26 Januari 2021, Indonesia mencatatkan penambahan 13.094 kasus baru Covid-19 yang membuat Indonesia menembus jumlah 1 juta dengan total 1.012.350 kasus. Jumlah kasus ini bahkan lebih tinggi dari penggabungan jumlah kasus dari 9 negara ASEAN lainnya yang berjumlah 920.797 kasus. Filipina yang per 6 Agustus 2020 lalu sempat memuncaki kasus Covid-19 di wilayah Asia Tenggara, saat ini kurvanya sudah mulai menurun dengan 516.166 kasus, jauh tertinggal dari Indonesia. Dengan total tes per populasi penduduk yang kurang dari setengahnya dibandingkan Filipina, kasus riil Covid-19 di Indonesia kemungkinan jauh lebih besar dari data yang dilaporkan.

Ungkapan syukur bahwa Indonesia mampu mengelola Covid-19 bukan kali itu saja disampaikan Jokowi. “…Pemerintah telah mengambil langkah untuk mengurangi dampak dari krisis ini. Walau pandemik belum berlalu tapi kita bersyukur bahwa kita termasuk negara yang mampu mengelola tantangan ini. Penanganan kesehatan yang bisa dikendalikan dengan terus meningkatkan kewaspadaan dan pertumbuhan ekonomi yang sudah naik kembali sejak kuartal 3 lalu meski dalam kondisi minus…”, ucap Jokowi dalam acara HUT PDIP ke-48 10 Januari lalu. Ungkapan syukur tidak salah, namun beberapa pihak menganggapnya kurang tepat. Apalagi hingga kini belum ada permintaan maaf dari pemerintah atas penanganan pendemi Covid-19 yang terbilang sangat lamban. Belum lagi kasus korupsi dana bansos yang terkuak ke publik, pemerintah sepertinya lebih tepat untuk banyak istighfar dan meminta maaf, daripada memberikan ketenangan semu dengan prestasi semu.

Hari ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, menyampaikan permintaan maaf atas kasus dan kematian akibat virus corona yang terus bertambah. “Saya sangat menyesal atas setiap nyawa yang telah meninggal dan tentu saja, sebagai perdana menteri saya bertanggung jawab penuh atas semua yang telah dilakukan pemerintah…” ujar Johnson ketika angka kematian akibat Covid-19 di Inggris melampaui 100 ribu jiwa. September tahun lalu, Presiden Israel Reuven Rivlin, menyatakan permintaan maaf terhadap warga Israel akibat kegagalan pemerintah membendung pandemi virus corona. “Saya menyadari bahwa kami belum banyak melakukan apa-apa sebagai pemimpin yang pantas mendapat perhatian Anda. Anda percaya kami, dan kami mengecewakan Anda…”, ujar Rivlin ketika Israel menerapkan penguncian wilayah (lockdown) akibat lonjakan penularan dan kematian akibat Covid-19. Kanselir Jerman, Angela Merker pada 9 Desember lalu juga meminta maaf kepada publik atas peningkatan kematian harian akibat virus seraya menjura, membungkuk dengan menangkupkan kedua tangan. “Saya benar-benar minta maaf… tetapi jika kita membayar harga korban tewas pada 590 orang setiap hari maka itu menurut saya, tidak dapat diterima…” ujarnya dalam pidato emosional di depan parlemen.

Sikap berbeda ditunjukkan Pemerintah Indonesia. Memang berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengendalikan virus, mulai dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB proporsional, hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Presiden Jokowi juga sempat menunjuk Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan untuk menekan lonjakan kasus di beberapa daerah, namun upaya itu belum juga membuahkan hasil. Walau dianggap terlambat, Jokowi juga memecat Terawan Agus Putranto dan menunjuk Budi Gunadi Sadikin untuk menjadi Menteri Kesehatan, pun hasilnya juga belum terlihat.

Merespon data kasus Covid-19 yang sudah menembus 1 juta kasus, Menkes Budi Gunadi Sadikin berjanji akan lebih menggencarkan program 3T, yaitu testing, tracing, dan treatment untuk mengurangi laju penularan virus. “Angka ini membuat kita harus merenung dan ada dua momen penting yang harus kita sadari. Saatnya Indonesia untuk berduka. Sebab, dengan terus meningkatnya kasus, banyak sekali pasien yang meninggal dunia. Bahkan, sudah lebih dari 600 tenaga kesehatan gugur dalam menghadapi pandemi ini. Dan mungkin sebagian dari keluarga dekat dan teman dekat sudah meninggalkan kita. Itu momen pertama yang harus kita lalui bahwa ada rasa duka yang mendalam dari pemerintah, dari seluruh rakyat Indonesia atas angka ini… Angka 1 juta ini memberikan satu indikasi bahwa seluruh rakyat Indonesia harus bersama dengan pemerintah bekerja bersama untuk atasi pandemi ini dengan lebih keras lagi. Kita teruskan kerja keras kita…” ujar Menkes dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden. Bukan permintaan maaf, namun mengajak masyarakat untuk merenung. Dalam kesempatan yang berbeda, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, dibutuhkan percepatan dan keserempakan program vaksinasi Covid-19 untuk membangun kekebalan kelompok atau herd immunity. Semakin cepat herd immunity terbentuk, semakin cepat pula pandemi berakhir. “Perlu ada kecepatan. Itu kuncinya kenapa perlu cepat dilakukan vaksinasi kepada dua pertiga populasi agar memiliki antibodi,” kata Tito saat Rapat Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19, Senin lalu.

Semuanya baik-baik saja. Barangkali itu pesan yang disampaikan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi Covid-19. Tanpa kesedihan dan kecemasan pun korban terus bertambah. Jika kita telusuri rekam perjalanan pandemi Covid-19 di negara ini, kita akan mendapati banyak pernyataan kontroversial dari para pejabat tinggi yang sebenarnya justru kontraproduktif dalam upaya penanganan Covid-19. Misalnya Menkes Terawan yang mengatakan tidak ada masyarakat Indonesia yang terkena virus corona karena do’a. Atau Menhub Budi Karya yang sebelum positif Covid-19 pernah berkelakar bahwa masyarakat Indonesia memiliki kekebalan tubuh dari virus corona karena gemar makan nasi kucing. Bukan sebatas pernyataan, kebijakan kontroversial juga kerap dibuat. Misalnya pemberian diskon bagi wisatawan untuk menggenjor sektor pariwisata, atau anggaran untuk influencer yang mencapai 90,45 miliar rupiah. Dan pada akhirnya, kita tidak bisa terus mengutuk kegelapan. Berusaha menjadi bagian dari solusi pun keberhasilannya akan diklaim pemerintah. Apalagi menghadapi rezim yang anti kritik, yang dapat dilakukan hanya senantiasa menjaga diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita agar tetap baik-baik saja. Mematuhi protokol kesehatan karena kesadaran, bukan sekadar ikut kebijakan pemerintah yang seringkali tak tentu arah. Karena solusi mengatasi pandemi ini ada di setiap diri kita.

Alhamdulillah 243 WNI yang pulang dari Wuhan dan diobservasi 14 hari di Natuna dinyatakan bersih dari Corona. Dalam kelakarnya, Menko Perekonomian Airlangga bilang: Karena perizinan di Indonesia berbelit-belit maka virus corona tak bisa masuk. Tapi omnibus law tentang perizinan lapangan kerja jalan terus” (Mahfud MD)

(Masih) Menanti Kabar Baik di 2021

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

#Gempa Mag:6.2, 15-Jan-21 01:28:17 WIB, Lok:2.98 LS, 118.94 BT (Pusat gempa berada di darat 6 km TimurLaut Majene), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) IV-V Majene, III Palu, II Makasar #BMKG. Begitulah update informasi bencana yang viral pagi ini beserta foto dan videonya. Informasi gempa di Sulawesi Barat tersebut menambah panjang deretan bencana yang terjadi sepanjang tahun 2021 yang baru berjalan setengah bulan. Sebelumnya ada bencana banjir di beberapa wilayah tanah air seperti di Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Jember, dan Kepulauan Riau. Belum semuanya sudah teratasi, termasuk musibah longsor Sumedang. Malam ini bahkan ada informasi gempa 4.7 SR di Pangandaran.

Dan masih lekat dalam ingatan akan peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari lalu yang mengangkut 62 orang. Jangan lupakan juga bencana dunia berupa virus corona yang pada awal tahun ini memunculkan varian baru yang sudah mengeinfeksi di puluhan negara. Update dana Covid-19 di Indonesia hingga pertengahan Januari 2021 ini juga menunjukkan tren dan rekor yang memprihatinkan. Setengah bulan ini sudah beberapa kali rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia terpecahkan, mulai dari 8.854 kasus baru (6 Januari), 9.321 kasus baru (7 Januari), 10.617 kasus baru (8 Januari), 11.278 kasus baru (13 Januari), 11.557 kasus baru (14 Januari), hingga 12.818 kasus baru per hari ini. Melihat trennya, bukan tidak mungkin rekor kasus harian akan kembali terpecahkan. Rekor kematian harian akibat Covid-19 di Indonesia pun sudah dua kali terpecahkan di awal tahun ini, yaitu 302 orang dan 306 orang pada 12 dan 13 Januari lalu. Total korban jiwa di seluruh dunia akibat Covid-19 di pertengahan Januari 2021 ini sudah menembus angka 2 juta jiwa, dimana korban terbesar di AS yang mencapai lebih dari 400 ribu jiwa.

Pengadaan, pendistribusian, dan penyuntikan vaksin sayangnya belum menjadi kabar baik. Banyak isu mengenai efek samping dan kontroversi vaksin yang menyertai. Belum lagi isu konspirasi. Faktanya, kasus baru dan kematian akibat Covid-19 di Indonesia dan dunia terus meningkat. Vaksin yang sifatnya jangka panjang barangkali akan menjadi kabar baik di masa mendatang ketika efektivitasnya sudah mulai dirasakan. Ironisnya, tidak sedikit bencana atau musibah yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia. Misalnya banjir di Kalimantan Selatan yang terparah sepanjang sejarah disebabkan penebangan hutan berganti menjadi kawasan tambang dan perkebunan sawit. Kecelakaan pesawat juga bukan karena faktor alam. Belum lagi jika ada pemotongan dana bantuan bencana sebagaimana yang beberapa kali terjadi. Pada titik inilah, manusia perlu introspeksi dan berbenah. Bukan hanya pasrah, apalagi sibuk mencari kambing hitam.

Sore ini tersiar kabar wafatnya Sayyidil Walid Al Habib bin Abdurrahman Assegaf. Salah seorang ulama yang nasabnya sampai ke Rasulullah SAW sekaligus salah seorang guru dari Habib Rizieq Shihab. Berpulangnya beliau hanya berselang sehari dari meninggalnya Syaikh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber, ulama Al Hafizh kelahiran Madinah yang kerap mengisi acara Ramadhan dan bertemakan Al Qur’an di TV. Tahun lalu, beliau pernah juga menjadi korban penusukan oleh ‘orang gila’ kala berdakwah di Lampung. Bersamaan dengan dua ulama tersebut, tersiarlah kabar belasan ulama lainnya yang berpulang ke Rahmatullah sepanjang Januari 2021. Menyusul para ulama dan orang shalih yang banyak meninggal beberapa tahun terakhir. Walaupun kematian adalah sunnatullah, meninggalnya para ulama sejatinya juga merupakan musibah. Bukan hanya bagi keluarga dan kerabatnya, namun bagi umat manusia seluruhnya. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.

Lantas sampai kapan bencana terus melanda dan musibah terus mendera? Karena kehidupan sejatinya adalah ujian, potensi bencana dan musibah akan selalu ada mengiringi perjalanan hidup manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Bisa bersabar atau lantas berputus asa? Tetap bersyukur atau malah kufur? Yang pasti, harapan akan masa depan yang lebih baik akan selalu ada. Bukankah semakin pekat malam, semakin dekat pula dengan fajar? Semakin berat masalah, semakin dekat dengan jalan keluar. Semakin lelah dalam berjuang, semakin dekat pula dengan kemenangan. Semuanya mudah bagi Allah SWT. Tinggal bagaimana kita mendekat pada-Nya, tidak jemu memohon dan berharap pada-Nya, tidak berhenti bersabar dan berjuang di Jalan-Nya. Ujian kehidupan memang tidak ringan, semakin Allah SWT mencintai hamba-Nya, semakin berat pula ujian yang diberikan-Nya. Semoga Allah SWT memberikan kita punggung yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai ujian.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)

2021, Tahun Masih Harus Bersabar

Aku mencari segala bentuk rezeki tetapi aku tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar
(Umar bin Khattab r.a.)

Akhirnya, tahun 2020 berlalu. Ada banyak harapan di tahun 2021 ini. Pandemi virus corona sepanjang tahun 2020 benar-benar membuat dunia berselimut duka dan kekhawatiran. Banyak event nasional dan internasional di tahun 2020 yang ditunda atau dibatalkan, mulai dari konser musik, festival film, hingga Olimpiade di Tokyo. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia yang tetap berjalan barangkali termasuk anomali. Dalam kaleidoskop 2020 di bidang apapun, tidak terlepas dari dampak yang dirasakan akibat pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya bidang kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan, sosial budaya, politik, hukum, hubungan internasional, agama, hingga teknologi informasi dan olahraga tahun 2020 pasti terkait dengan persoalan pandemi ini.

Memasuki tahun 2021, pandemi belum juga berakhir. Bahkan angka statistiknya terus bertambah. Kasus Covid-19 tercatat sudah menembus 80 juta dengan korban jiwa lebih dari 1,8 juta di seluruh dunia. Di luar kasus Covid-19, awal tahun 2021 ini sebenarnya relatif lebih baik daripada awal tahun 2020. Awal tahun lalu sudah diwarnai dengan isu World War III karena memburuknya hubungan AS dengan Iran. Beberapa negara di Timur Tengah juga ikut bergejolak. Indonesia juga bersitegang dengan China yang mengklaim Laut Natuna. Awal tahun 2020 juga ditandai dengan banjir bandang di Jakarta, kebakaran hutan Australia, dan erupsi Gunung Taal di Filipina. Belum lagi kasus Reynhard Sinaga yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Semoga tidak terulang di tahun ini.

Di tahun 2021 ini sepertinya kesabaran masih akan terus diuji. Ada lebih dari 110 ribu kasus aktif Covid-19 di Indonesia dari sekitar 750 ribu kasus yang terdata, dengan korban jiwa lebih dari 22 ribu orang. Banyak ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia penuh. Itu belum termasuk klaster liburan akhir tahun. Petugas medis perlu lebih bersabar menghadapi pasien Covid-19 yang tak jua surut. Sudah 10 bulan sejak kasus pertama corona di Indonesia diumumkan, kebutuhan ekonomi harus terus terpenuhi, masyarakat tak bisa lagi ‘ditertibkan’ untuk diam saja di rumah. Butuh kesabaran untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimana masyarakat semakin abai. Di dunia pendidikan, banyak orang tua yang sepertinya juga masih harus bersabar untuk mendidik anaknya belajar di rumah karena pembelajaran tatap muka urung dilakukan.

Masyarakat Indonesia juga masih harus bersabar menghadapi pemerintah negeri ini. Ketidaktahuan pemerintah akan masuknya mutasi virus corona di Indonesia beberapa hari lalu seakan dejavu dengan kondisi awal tahun lalu saat pemerintah menyatakan belum ada kasus Covid-19 di tanah air pun ada beberapa warga asing yang terinfeksi setelah berkunjung ke Indonesia. Keputusan menutup kedatangan Warga Negara Asing (WNA) di awal tahun ini juga terasa terlambat hampir setahun. Dan memang butuh kesabaran ekstra dalam menyikapi kebijakan pemerintah Indonesia. Sepanjang tahun 2020, sudah ada puluhan pernyataan kontroversial dari pejabat pemerintah. Belum lagi ditambah berbagai pelanggaran hukum dan kesewenang-wenangan yang dilakukan. Jika pada 2020 masih ada Donald Trump, Presiden AS yang eksentrik dan kerap jadi olok-olok. Dengan tak terpilihnya lagi Trump, bukan tak mungkin Indonesia akan banyak mendapat sorotan dunia, bukan dalam artian yang positif.

Umat Islam masih harus bersabar. Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Habib Rizieq Shihab (HRS) dipenjara tak lama setelah 6 orang pengawalnya tewas ditembak polisi. Ironis, HRS dipenjara di Rutan Narkoba karena melanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, sementara beberapa bulan lalu puluhan ribu narapidana dibebaskan kerena Covid-19. HRS ditetapkan sebagai tersangka tanpa menghilangkan satupun nyawa, sementara para penembak laskar FPI tidak diusut, apalagi dihukum. Penangkapan HRS diproses begitu cepat pun tidak merugikan negara seperti kasus BLBI, Jiwasraya, e-KTP, ataupun Pelindo. Bahkan HRS sudah membayar denda 50 juta. Sementara Harun Masiku dan Sjamsul Nursalim yang jelas merugikan negara tak jua tertangkap. Menteri KKP dan Menteri Sosial yang diciduk KPK karena kasus korupsi memang di-reshuffle, namun jatah menteri dari partai lumbung koruptor tidaklah berkurang. Boro-boro ditindak atau dibubarkan, yang ada malah kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader partai penguasa menguap begitu saja. Apalagi kasus yang menyeret ‘anak Pak Lurah’. Barangkali harus menunggu Pak Lurah lengser dulu untuk menuntut keadilan, itupun jika Pak Lurah barunya berani menuntut.

Dan masyarakat dunia masih harus bersabar. Vaksin bukan obat. Alih-alih mengobati, vaksin lebih bersifat preventif. Butuh waktu untuk membuatnya, tambahan waktu untuk memproduksi vaksin yang efektif, tambahan waktu lagi untuk mendistribusikannya, serta lebih banyak waktu lagi untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit menular. Belum lagi adanya kelompok anti vaksin dan penganut teori konspirasi. Umat manusia perlu lebih bersabar agar tidak menimbulkan bencana lain yang lebih besar. Bagaimanapun, banyak bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Ditambah lagi potensi bencana alam. Selain pandemi Covid-19, tahun 2020 lalu ada berbagai bencana dengan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit, mulai dari kebakaran, banjir bandang, badai besar, letusan gunung berapi, gempa bumi, serangan belalang, angin topan, ledakan, hingga kerusuhan sipil dan krisis kemanusiaan. Dan tidak ada jaminan bencana serupa tak terulang di tahun ini.

Lalu sampai kapan harus bersabar? Sampai kapanpun, sebab kesabaran sejatinya tiada batas. Sabar secara bahasa artinya menahan diri. Sedangkan secara syari’at, sabar adalah menahan diri dalam tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian atau musibah. Jadi batas kesabaran adalah ketika tak ada lagi ketaatan yang harus dilakukan, kemaksiatan yang harus dihindari, dan musibah yang harus dihadapi. Ya, kesabaran harus ada sepanjang hayat. Kesabaran inilah yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian, tetap optimis, menikmati proses kehidupan, menjauhkan dari penyakit, keberuntungan yang baik, dan derajat tinggi di surga. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang sabar, semakin sabar di tahun ini, dan terus bersabar di tahun-tahun selanjutnya.

Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku
(Ali bin Abi Thalib r.a.)

Tidak Ada Corona Disini…

You wouldn’t worry so much about what others think of you if you realized how seldom they do
(Eleanor Roosevelt)

Tidak ada corona disini… Santai sajalah…”, ujar seorang guru mendapati saya masih memakai masker di sebuah rumah makan seraya membawa tumbler sendiri. Hari ini adalah hari ketigaku di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Suasananya memang jauh berbeda dengan Jakarta. Tidak semua –bahkan tidak banyak—orang yang mengikuti protokol kesehatan, pun sebatas menggunakan masker ataupun menjaga jarak di tempat umum. Tempat makan ini cukup ramai, tanpa ada tanda silang di meja ataupun di kursinya. Ketika Shalat Jum’at tadi siang pun, saya yang membawa sajadah sendiri termasuk jama’ah yang langka. Orang-orang sini mengatakan bahwa mereka sudah bosan dengan berbagai pembatasan akibat virus corona. Toh setelah sekolah dibuka tidak terjadi lonjakan drastis kasus positif corona. Entah karena imunitas penduduknya tinggi, atau karena pengetesan corona tidak dilakukan. Yang jelas menurut mereka, kunci sehat adalah berbahagia, tidak cemas berlebihan.

Perjalanan kali ini adalah pertama kalinya saya ke luar kota, setelah terakhir ke Pekanbaru awal Maret lalu tepat ketika diumumkannya kasus pertama positif corona di Indonesia. Sehingga menjadi kali pertama juga merasakan administrasi ala new normal untuk bepergian ke luar kota. Dimulai dari rapid test mandiri (sebelumnya sudah pernah rapid dan SWAB test difasilitasi kantor). Ternyata semuanya berbasis aplikasi, tidak semudah sekadar datang ke klinik penyedia jasa rapid test untuk memperoleh layanan. Setidaknya dengan cara ‘konvensional’, sudah dua klinik yang menolak saya untuk rapid test dikarenakan alatnya habis. Di tempat selanjutnya yang alatnya tersedia, saya diminta surat pengantar dari dokter untuk melakukan rapid test. Cara lainnya adalah mendaftar melalui aplikasi, namun hasilnya baru akan keluar esok hari jam 9 pagi. Padahal jadwal penerbangan saya jam 8 pagi. Akhirnya, atas bantuan teman melalui aplikasi, berhasil juga melakukan drive thru rapid test di daerah Cilandak. Praktis dan terbilang murah (ehm, malah promosi). Tidak perlu menunggu hasilnya keluar karena hasilnya akan langsung dikirim melalui aplikasi. Cukup efektif dan efisien buat mereka yang sibuk (ciee…).

Singkat cerita, esok paginya tiba di bandara yang cukup lenggang. Pintu masuk untuk pemeriksaan hasil rapid test ternyata hanya satu arah, dimana juga terdapat pemeriksaan suhu tubuh, sehingga saya harus berjalan memutar cukup jauh (maklum newbie). Dan karena hasil rapid testnya hanya ditunjukkan via ponsel, saya harus mengisi form verifikasi yang hanya berlaku sekali jalan. Jadi pelajaran bahwa sebaiknya hasil rapid testnya dicetak. Pengecekan suhu tubuh dan verifikasi rapid test sebelum check-in inilah yang barangkali membedakan dengan prosedur keberangkatan biasanya. Yah, ditambah tanda silang di bangku ruang tunggu untuk social distancing lah. Uniknya, social distancing ini tidak berlaku di kabin pesawat. Memang kabarnya, pesawat merupakan moda transportasi yang paling aman terhadap penyebaran virus corona. Filter udaranya efektif dalam menyaring kotoran dan mikroorganisme. Sirkulasi udara dalam kabin pesawat juga baik. Walaupun jika melihat kronologi Covid-19, bandaralah yang menjadi salah satu tempat paling rawan dalam penyebaran virus corona. Bedanya lagi di masa pandemi ini, awak kabin menggunakan face shield dan sarung tangan. Kemudian dalam aturan keselamatan penerbangan ada beberapa tambahan terkait protokol kesehatan. Terakhir, di bandara tujuan ada pemeriksaan Health Alert Card (HAC). Sebaiknya e-HAC diisi sebelum melakukan perjalanan melalui aplikasi, sebab pemeriksaan yang dilakukan hanyalah scan barcode e-HAC di terminal kedatangan. Akan lebih merepotkan dan menyebabkan antrean jika baru mengisi e-HAC di pintu bandara kedatangan. Jangan lupa memastikan HP cukup daya dan bisa menampilkan barcode e-HAC.

* * *

Santai saja, corona ga punya harga diri disini…”, timpal guru lain. Saya hanya tersenyum dibalik masker. Berharap sikap yang muncul bukanlah karena abai apalagi menantang, namun sebuah bentuk optimisme menatap masa depan. Per 27 November ini, Covid-19 mencetak dua rekor sekaligus. Jumlah kasus baru positif corona hari ini yang mencapai 5.828 kasus adalah rekor tertinggi kasus harian Covid-19 di Indonesia sejauh ini. Sementara 169 korban jiwa akibat Covid-19 hari ini sejauh ini juga merupakan rekor tertinggi kematian harian akibat Covid-19 di Indonesia. Alhamdulillah, saya dan guru-guru disini baik-baik saja, tanpa gejala. Beberapa hari ini via grup WA, beberapa rekan saya terkonfirmasi positif Covid-19. Saya membayangkan di berbagai pelosok tanah air, bahkan di penjuru dunia, semakin banyak orang yang menganggap Covid-19 biasa saja. Lebih dari 60 juta kasus corona di dunia dengan lebih dari 1,43 juta korban jiwa kian dianggap lumrah. Toh lebih dari 65% pasien bisa sembuh. Belum lagi, ada berbagai bumbu teori konspirasi yang membuat pendemi ini semakin diremehkan.

Corona tak ada disini? Who knows? Sebab ukurannya tak kasat mata. Kalaupun tak ada disini bukan berarti tak ada dimana-mana. Jikalau tak ada saat ini disini, bukan berarti takkan ada disini selamanya. Saya barangkali termasuk orang yang beranggapan bahwa ada campur tangan manusia yang merusak keseimbangan dalam ekskalasi pandemi ini, bukan karena faktor alam ataupun ketidaksengajaan. Namun bukan berarti Covid-19 adalah hoax dan virus corona hanyalah sebuah kebohongan. Lantas apa susahnya menjaga diri dan orang lain dengan mematuhi protokol kesehatan yang sederhana? Toh yang diminta sebatas menggunakan masker bukan memakai APD lengkap yang merepotkan. Toh yang dianjurkan sekadar rajin cuci tangan dan berperilaku hidup bersih dan sehat, bukan harus rajin rapid dan SWAB test yang akan memberatkan. Toh yang disarankan adalah menjaga jarak bukan meniadakan interaksi sosial dengan orang lain yang tidak manusiawi. Sehingga pada akhirnya bukan ada atau tidaknya corona disini, tetapi ada atau tidaknya manusia disini. Manusia yang baik adalah manusia yang dapat menghadirkan rasa aman bagi manusia lainnya. Manusia yang memberikan kebermanfaatan, bukan malah berpotensi mencelakakan. Dan menjadi baik itu mudah. Terapkan protokol kesehatan. Sesederhana itu. Sehingga ada atau tidaknya corona tak menjadi pembatas untuk menunaikan hak dan kewajiban sebagai manusia untuk saling menjaga. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita semua.

Tidak sepatutnya seseorang merasa aman tentang dua hal: kesehatan dan kekayaan
(Ali bin Abi Thalib)

Iman Dulu Baru Imun

Dari Abdullah bin Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu. Jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah. Jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.
(HR. At Tirmidzi)

Rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia tercipta per 8 Oktober lalu yaitu penambahan sebesar 4.850 kasus baru. Angka ini melampaui rekor harian sebelumnya sebesar 4.823 kasus baru per 25 September 2020. Penambahan kasus Covid-19 ini terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, dimana DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar dengan 1.182 kasus baru. Ricuhnya demonstrasi Omnibus Law melengkapi kabar duka dari negeri ini.

Ada yang unik dari pandemi Covid-19 ini, pola serangannya acak, mempersulit proses tracing nya. Tidak sedikit olahragawan yang fisiknya sehat ternyata terjangkit, namun rekan-rekan yang berlatih bersamanya ternyata negatif. Dalam sebuah ruangan dimana terdapat orang yang positif corona, tidak semua orang di ruangan tersebut tertular virus corona, dan belum tentu mereka yang tertular adalah yang dekat jaraknya dengan pembawa virus. Ada yang sembuh cepat pun dengan penyakit penyerta (komorbid), ada yang lama sembuhnya walau tanpa komorbid. Ada yang abai namun selamat dari pandemi, ada yang ketat menerapkan protokol kesehatan namun masih terpapar virus.

Selama ini, sistem imun yang dimiliki seseorang lah yang dijadikan jawaban ilmiahnya. Walau sebenarnya tak bisa menjawab penyebaran virus yang memilih korbannya secara acak, termasuk mereka yang punya pola hidup sehat. Karenanya, kita perlu mengembalikan jawabannya kepada perkara yang lebih esensi, yaitu keimanan. Dalam konteks iman, keselamatan dan kecelakaan adalah hak prerogratif Allah SWT. Sakit, sembuh, dan sehat merupakan ketetapan dari Allah SWT. Sehingga kita mampu bersyukur dan tidak lalai terhadap kesehatan yang menyertai. Juga mampu bersabar, tidak berputus asa, serta senantiasa mengambil pelajaran dari setiap musibah yang melanda. Ya, jawaban mengapa ada yang positif atau negatif Covid-19 dengan beragam kondisinya dalam perspektif keimanan adalah semata karena takdir Allah SWT. Jadi bukan imun yang menentukan.

Iman adalah sesuatu yang tidak hanya diyakini dalam hati, namun juga diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Dalam aspek spiritual, keimanan ini akan menghadirkan ketenangan jiwa dalam kondisi apapun. Perasaan tenteram dari stres, cemas, dan takut berlebihan akan menguatkan sistem imun tubuh, sehingga lebih tangguh menghadapi penyakit yang menyelinap ke dalam tubuh. Pada titik inilah iman akan berdampak positif terhadap imun. Bahkan dalam kondisi terserang penyakit pun, orang dengan iman yang kuat akan tetap bisa berpikir dan bersikap positif. Alhasil, keimanannya akan kian bertambah dengan penyakitnya. Nabi Ayub a.s. ketika ditimpa ujian hidup hingga 18 tahun hanya berdo’a, “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al Anbiya: 83). Hanya mengadu, tanpa mengeluh, menuntut, ataupun menyalahkan. Kalaupun ada kesembuhan yang diharapkan, itupun dalam rangka keta’atan karena penyakitnya menghambatnya dalam beribadah. “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS. Shad: 41). Hal ini menguatkan bahwa bagaimanapun, iman harus didahulukan daripada imun.

Lantas apakah mereka yang merasa aman dari virus Corona membuktikan bahwa keimanan mereka kuat? Hati-hati, dalam hal ini ‘rasa aman’ bak pisau bermata dua. Bisa hadir dari manifestasi iman dan kekuatan tawakkal. Bisa juga indikasi dari sifat ujub dan takabbur. Indikator pembedanya hanya amal shalih dan kesombongan. Raja’ dan rasa aman harus disertai amal shalih. Kisah perjalanan khalifah Umar bin Khattab r.a. ke Negeri Syam yang masyhur di masa pandemi ini dapat menjadi i’tibar. Di wilayah Saragh, Abu Ubaidah bin Al Jarrah r.a. memberitahu bahwa Negeri Syam tengah dilanda wabah tha’un. Dalam musyawarah dadakan yang digelar, para shahabat berbeda pendapat antara melanjutkan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah. Akhirnya Amirul Mukminin mengikuti saran dari sesepuh Quraisy yang hijrah sebelum fathu Makkah untuk kembali ke Madinah. Beberapa shahabat tidak puas, termasuk Abu Ubaidah r.a. yang lantas bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah kita hendak lari dari takdir Allah?”. “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain”, jawab Umar r.a. dengan tegas seraya memberikan analogi seseorang yang memiliki seekor unta lalu turun ke lembah yang mempunyai dua sisi, yang satu subur dan yang lain tandus. “Jika engkau menggembalakan untamu di tempat tandus adalah takdir Allah, maka bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, berarti engkau menggembala dengan takdir Allah juga?”, jelas Umar r.a. Keputusan ini dikuatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf r.a. yang datang terlambat dan menyampaikan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri” (HR. Bukhari – Muslim).

Iman perlu disertai dengan amal, tawakkal perlu diiringi dengan ikhtiar. Mereka yang abai terhadap protokol kesehatan namun ‘merasa aman’ dengan hanya mengonsumsi madu dan habbatussauda misalnya, tidaklah sempurna ikhtiar dan keimanannya. Apalagi jika sampai bersikap keras kepala ketika ditegur, bahkan merendahkan orang lain. Bisa jadi ‘rasa aman’nya justru muncul dari goda’an setan. Sebab sebagaimana penyakit, kesehatan dan ‘rasa aman’ juga sejatinya merupakan ujian keimanan. Iman adalah kunci untuk memproduksi sistem imun dan rasa aman. Sebagaimana iman, imun dan aman juga merupakan nikmat Allah yang perlu dijaga. Ar-Razi berkata, “Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakiknya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi. Kemudian seandainya kambing diikat pada suatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan”. Dan dari semuanya, nikmat iman adalah nikmat yang paling besar. Ibnu Taimiyah berkata, “Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat iman. Dia adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan taat dan kebaikan, berkurang dengan kefasikan dan kemaksiatan”. Mari kita rawat iman untuk juga merawat imun.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS. Al-An’am: 82)

Corona, Emang Gue Pikirin?!

“My head says, “Who’s cares?” But then my heart whispers, You do, stupid!”

Hebat sekali virus corona ini, setiap bulan selalu saja mencatatkan rekor baru. Tiga bulan lalu, per 9 April 2020, kasus harian corona menembus angka 300 untuk pertama kalinya, tepatnya 337 kasus baru. Padahal sebelumnya sejak awal munculnya virus corona di Indonesia ini, belum pernah sekalipun kasus harian corona menembus 250 kasus baru. Masyarakat pun menyikapinya dengan ketar-ketir. Sudah beberapa pekan sekolah diliburkan dan banyak instansi yang menerapkan bekerja dari rumah (work from home), namun kasus positif corona terus bertambah. Pemberian bantuan sosial berupa paket sembako mulai dilakukan untuk meringankan beban masyarakat. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan dan terlepas dari beberapa kasus pelanggaran, masyarakat relatif mematuhi protokol PSBB. Semua pihak bekerja sama berharap pandemi Covid-19 segera berakhir.

Dan sebulan pun berlalu. Dua bulan lalu, per 9 Mei 2020 rekor baru tercipta. Kali ini untuk pertama kalinya kasus harian corona menembus angka 500, tepatnya 533 kasus baru. Namun penyikapannya tidak sedramatis sebulan sebelumnya. Masyarakat sudah mulai bosan di rumah. Ada juga sebagian masyarakat yang lebih takut mati kelaparan dibanding meninggal dunia akibat corona. Kurva Covid-19 di berbagai negara sudah mulai menurun, bahkan beberapa negara sudah berhasil lepas dari pandemi Covid-19. Lockdown sudah terbukti berhasil di beberapa negara. Namun tidak demikian dengan Indonesia, kurvanya masih terus naik. Jumlah kasus menembus 5 digit dan korban jiwa menembus 4 digit. Namun pemerintah dan masyarakat menanggapinya santai. Beberapa ruang publik semakin ramai. Salah seorang pejabat negara pun mengatakan kondisi Indonesia masih aman, bahkan penanganan Covid-19 dianggapnya masih lebih baik dibandingkan beberapa negara dengan kasus positif corona yang jauh lebih besar.

Lantas sebulan pun berlalu. Bulan lalu, per 9 Juni 2020 virus corona kembali menorehkan rekor. Kasus harian corona akhirnya menembus 4 digit untuk pertama kalinya, tepatnya 1.043 kasus baru. Hanya beberapa hari setelah diterapkan istilah “new normal”. Kekhawatiran berbagai pihak yang mempertanyakan kelayakan “new normal” menguap begitu saja. Sebab sebagian besar masyarakat sudah tidak lagi menahan diri, pemerintah pun membiarkan masyarakat untuk berdamai dengan virus corona. Beraktivitas biasa dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Akhirnya, ketika berbagai negara telah berhasil menanggulangi penyebaran virus corona, ketika liga-liga sepakbola terbaik di dunia sudah kembali bergulir, penyebaran virus corona di Indonesia semakin menjadi-jadi. Sejak itu kasus harian corona tidak pernah kurang dari 850 kasus baru, korban jiwa harian tidak pernah kurang dari 30 orang. Pun demikian, banyak masyarakat menikmati kebebasan “new normal” tanpa ada kekhawatiran.

Akhirnya, per 9 Juli 2020 kemarin rekor baru terukir. Tidak tanggung-tanggung, kasus harian corona mencapai 2.657 kasus baru, meningkat 143.4% dibandingkan sehari sebelumnya yang sempat menjadi rekor tertinggi juga (1.853 kasus baru). Lonjakan 254.7% kasus harian corona dalam kurun waktu sebulan ini cukup mengerikan, namun ternyata tanggapan publik semakin biasa dan memaklumi. Masyarakat sudah maklum jika kasus positif Covid-19 terus bertambah. Bagaimana tidak, keseharian sudah berjalan normal. Tempat umum kembali ramai, jalanan mulai kembali macet. Yang membedakan hanya saat ini banyak orang yang menggunakan masker. Dan semakin banyak yang hobi bersepeda. Pemerintah pun biasa saja, seolah menutup mata. Tak ada rapat darurat dan sebagainya. Yang ada malah seorang Menteri mempromosikan kalung antivirus corona.

Artinya kehebatan virus corona dalam mencetak rekor semakin tidak berarti apa-apa. Tidak ada yang peduli. Jika dulu masyarakat sempat begitu berhati-hati, aktivitas #dirumahaja dijalani, kini tidak lagi. Padahal deret angka 337 – 533 – 1.043 – 2.657 bukanlah deret linier, melainkan eksponensial. Padahal puluhan korban jiwa setiap harinya sejak dua bulan lalu adalah manusia, bukan helai daun. Bukan berarti menjalani kehidupan dengan penuh kecemasan adalah lebih baik, namun ketidakpedulian terhadap kondisi diri, keluarga, dan lingkungan menjadi virus baru yang harus diwaspadai. Bahkan harus diberantas karena mematikan hati nurani.

Sempat ada pikiran liar, barangkali jika Presiden beserta beberapa ajudannya positif Covid-19 seperti terjadi di Brazil, penanganan Covid-19 di Indonesia bisa lebih serius. Bukan mendo’akan keburukan, namun gregetan saja dengan respon dan kebijakan pemerintah yang tidak memperlihatkan kesungguhan dalam menghadapi pandemi ini. Belum lagi banyaknya pernyataan kontroversial dari para pejabat di negara ini. Namun bisa jadi ga ngaruh juga sebagaimana Presiden Brazil merasa baik-baik saja dan cukup mengonsumsi obat malaria. Sudah empat bulan lalu beberapa pejabat Brazil dinyatakan positif corona, toh penanganan Covid-19 masih main-main. Status runner-up dengan lebih dari 1,8 juta kasus corona dan lebih dari 70 ribu korban jiwa akibat corona di Brazil juga tidak berarti apa-apa. Apalagi Indonesia yang jumlah kasus positif corona dan korban jiwanya hanya sepersekiannya. Belum lagi pandemi Covid-19 di Indonesia rentan dijadikan proyek. Atau bahkan dipolitisasi. Jadi ‘teguran keras’ semacam itupun bisa jadi tidak mempan di Indonesia yang dalam beberapa hal 11-12 dengan Brazil.

Atau barangkali segelintir masyarakat negara +62 yang selama ini meremehkan virus corona baru bisa insaf jika ada keluarga, kerabat, atau tetangga dekatnya yang positif terpapar Covid-19. Atau mungkin tidak juga, malah jumawa dengan imunitas tubuhnya yang sehat-sehat saja. Pun bisa jadi dirinya termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG) yang menjadi carrier virus corona bagi sekitarnya. Orang-orang semacam ini bahkan ketika dinyatakan positif Covid-19 pun kemungkinan bukannya introspeksi malahan menyalahkan pihak lain atas segala kelalaiannya. Baru tahu rasa nanti ketika ketidakpeduliannya selama ini akan kembali kepada dirinya. Saat keluarganya, kerabatnya, tetangganya dan orang-orang yang mengenalnya membiarkannya, tidak peduli terhadapnya, hingga meninggalkannya.

Semoga titik balik kepedulian itu segera tercipta, sehingga kita semua bisa menjalani new normal yang sebenarnya. Bukan kondisi kritis yang dicitrakan baik-baik saja. Semoga bulan depan, per 9 Agustus 2020, kurva penyebaran Covid-19 sudah turun dan melandai, bukan kembali berlipat mencetak rekor baru di atas 4.000 kasus baru misalnya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dengan serangkaian rekor yang ditorehkan virus corona. Itu hanya menunjukkan kebodohan dan kekalahan semata. Barangkali memang ada pihak tertentu yang diuntungkan dengan pandemi Covid-19 ini, tetapi itu bukan kita. Karenanya sudah sewajarnya setiap kita meningkatkan kedisiplinan dan kepedulian dalam menjaga diri kita, keluarga kita, dan lingkungan sekitar kita untuk memenangkan pertarungan dengan virus corona. Bukan bersikap lemah dan lalai dengan dalih berdamai. Karena kemenangan hanya dapat dicapai dengan kesungguhan. Stay healthy and keep caring!

“Ketika saya berhenti peduli, saat itulah kamu seharusnya mulai khawatir”

Niat Baik, Prasangka, dan Komunikasi

Kadangkala kita sendiri yang merusak jalan cerita. Yang sudah berjalan baik, tidak ada masalah, kita rusak karena tidak sabar, prasangka, terlalu sensitif dan sebagainya.” (Tere Liye)

Neng Salma bingung, Kang Dede suaminya menyampaikan bahwa tahun ini mereka tidak bisa memberikan santunan anak yatim dikarenakan pandemi Covid-19. Sementara Neng Salma sudah terlanjur menjanjikan kepada pihak panti asuhan bahwa tahun ini santunan tetap diberikan walaupun harus memperhatikan prosedur kesehatan. Dan tidak seperti biasanya, suasana hangat yang menyertai rumah tangga Kang Dede tiba-tiba menjadi dingin.

Akang, pokoknya santunan anak yatim harus tetap jadi! Eneng kan udah bilang ke Kang Mus yang dampingi anak-anak…”, ujar Neng Salma. “Bukannya Akang ga mau, tapi kan kondisi emang lagi begini. Lagian salah sendiri Eneng udah bilang duluan. Kang Mus juga pasti ngertiin kok…”, timpal Kang Dede. “Lho, bukannya pas puasa kemarin Akang dapat proyek besar, emangnya uangnya udah habis?”, tanya Neng Salma. “Neng, kebutuhan sekarang lagi pada naik. Banyak masyarakat yang butuh dibantu…”, jawab Kang Dede. “Ntuh Mpok Dona yang biasanya kasih sedekah, kemarin datang malah minta dibantu karena bisnis travelnya lagi ngap-ngapan gegara corona… Karyawan Akang juga harus dites Covid dan disiapkan APD sesuai peraturan, dan itu butuh dana…”, lanjut Kang Dede.

Dengan muka ditekuk, Neng Salma menimpali, “Kalo Akang ga mau bantu kasih santunan, biar Eneng cari sendiri deh uangnya… Lagian banyak orang kok yang mau bantu… Ngerti kalo sedekah tuh membuka pintu rejeki…”. “Dibilang bukannya Akang ga mau tapi emang uangnya ga ada… Ya udah kalo mo cari uang sendiri silakan…”, balas Kang Dede seraya menggerutu. “Ya udah, Eneng cari dana sendiri, ga usah bawa-bawa nama Akang!”, sambut Neng Salma. “Lho, gimana ga bawa-bawa Akang? Orang juga taunya Eneng istri Akang. Lagian rekening buat santuan kan selama ini pake nama Akang…”, Kang Dede menanggapi. “Ya udah, Eneng tinggal bikin rekening sendiri…”, serobot Neng Salma. “Terserah kamu aja!”, tegas Kang Dede seraya pergi tak ingin melanjutkan perdebatan. “Lho kok terserah?! Dasar nggak bertanggung jawab!!”, balas Neng Salma tak kalah sengit. Suasanapun menjadi hening…

* * *

Dasar istri tidak pengertian… Kondisi ekonomi kayak gini kok masih maksa kasih santunan… Buat makan aja susah… Mana segala kasih janji ga tanya-tanya dulu… Selama ini uangnya emang darimana, ga pernah pusing nyari duit sih… Biarin aja, emangnya gampang cari duit… Dibilangin cuma ngelawan, apa perlu cari yang lain aja ya…”, batin Kang Dede.

Dasar suami ga bertanggung jawab… Mau dibantuin jaga reputasi malah marah-marah… Emangnya Eneng ga tau uang proyeknya dipake buat apa… Lagian sok kaya utang dimana-mana… Makanya harus banyak sedekah biar rejekinya berkah… Liat aja, banyak kok yang mau bantuin. Dimana ada kemauan pasti ada jalan… Hmm, atau jangan-jangan Akang udah ga sayang Eneng ya…”, batin Neng Salma.

* * *

Sementara itu di dunia paralel…

Akang minta maaf ya Neng, sepertinya tahun ini kita ga bisa kasih santuan ke binaannya Kang Mus kayak tahun-tahun sebelumnya…”, ujar Kang Dede kepada istrinya selepas makan malam. “Kenapa Kang?”, tanya Neng Salma. “Anggarannya ga cukup. Pengeluarannya lagi banyak karena Covid dan ada beberapa prioritas lain”, jawab Kang Dede. “Oh gitu, semoga Allah memberikan kita rezeki yang berkah. Kalo Eneng bantu cari donatur gimana, Kang?”, tanya Neng Salma. “Boleh aja. Tapi ga malah ngerepotin Eneng?”, Kang Dede bertanya balik. “InsyaAllah nggak, Kang. Kalo niatnya membantu orang, pasti Allah membantu kita. Orang-orang juga pasti bantu. Nanti seberapa terkumpulnya aja disalurkan, Kang Mus pasti paham kondisinya lagi begini. Kasihan juga anak-anak kalo ga dikasih santunan, mereka juga pasti membutuhkan…”, jelas Neng Salma. “Iya, alhamdulillah, Akang senang punya istri yang pengertian kayak Eneng. Akang paling cuma bisa bantu untuk transport dan beberapa bingkisan…”, jawab Kang Dede. “Iya Akang, terima kasih udah bersedia bantu. Sekalian izin pake nomor rekening Akang ya buat penghimpunan donasi. Semoga rezeki Akang semakin lancar…”, ujar Eneng. “Terima kasih, Eneng sayang…”, balas Kang Dede seraya memeluk istrinya.

Sementara itu di tempat lain, seseorang berjubah hitam tampak menggerutu. “Haduh, itu kok rumah tangga Kang Dede masih adem ayem aja… Padahal saya udah ngomporin Neng Salma dengan informasi yang berbeda dengan yang saya sampaikan ke Kang Dede… Kalo mereka sampai cekcok kan saya bisa ambil kesempatan… Harus pake strategi lain nih…”, gumam orang itu.

Komunikasi adalah kunci untuk membuka hubungan (apapun). Lantas kepercayaan adalah kunci penggenapnya agar awet dan langgeng…” (Tere Liye)

27 Tahun Harmoni Kebaikan

Ada hal menarik dari kegiatan penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf dari Dompet Dhuafa ini adalah pendekatan gerakan, itu artinya melibatkan semua dan membuat semua merasa punya kepemilikan atas masalah, punya keterlibatan untuk mau bergerak langsung” (Anies Baswedan)

Pameo “orang miskin dilarang sakit” menghadapi antitesisnya: “orang kaya dilarang berobat”. Itulah kesan pertama saya ketika mengenal Dompet Dhuafa melalui riset evaluasi dan kaji dampak program Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) sekitar 12 tahun lalu. Kala itu BPJS belum ada, asuransi kesehatan (Askes) hanya diakses segolongan orang, sementara kualitas layanan puskesmas masih sangat memprihatinkan. Alhasil, orang miskin tidak mampu mengakses layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas. Dan Dompet Dhuafa sejak tahun 2001 menawarkan solusi lain: layanan kesehatan gratis untuk dhuafa, dimana hanya orang miskin yang boleh berobat. Kualitas layanannya pun lebih baik dari puskesmas, dan pelaksanaan program LKC terbukti efektif dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesehatan masyarakat.

Penelitian berikutnya mengenalkan saya pada beberapa program pemberdayaan ekonomi, mulai dari Lembaga Pertanian Sehat (LPS), Kampoeng Ternak (Kater), dan Masyarakat Mandiri (MM). Jejaring Dompet Dhuafa yang saat ini sudah berganti status dan nama. Riset dan kajian kali ini dilakukan untuk merumuskan performance indicators dari program pemberdayaan berbasis zakat. Turun lapang langsung berinteraksi dengan para petani, peternak, serta pelaku usaha kecil dan mikro memperlihatkan bahwa potensi zakat untuk memberdayakan dan memandirikan masyarakat bukanlah sebatas impian. Kedua penelitian tersebut bisa dibaca di Zakat & Empowering, Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 2 Jumadil Tsani 1430/ Juni 2009.

Di akhir tahun 2008, saya lebih mengenal Dompet Dhuafa dengan mengelola program Beastudi Etos. Selama 12 tahun berkiprah, setidaknya 12 kali pula saya berganti amanah di Dompet Dhuafa. Dinamika yang barangkali tidak dijumpai di organisasi lain. Di satu sisi, dinamika tersebut memperlihatkan potret tentang fleksibilitas dan tidak terjebak pada status quo. Bagaimanapun, kepeloporan Dompet Dhuafa dalam program layanan, pengembangan, dan pemberdayaan berbasis ZISWAF membutuhkan kreativitas dan agilitas yang tinggi. Alhasil, berbagai inovasi produk dan program masterpiece bisa terus dihasilkan. Namun di sisi lain, dinamika cepat ini menjadi tantangan dalam proses kaderisasi dan transformasi nilai-nilai kebaikan. Visi, misi, dan value organisasi harus kuat agar tidak kehilangan arah di tengah pusaran arus perubahan.

Dan 27 tahun bukanlah waktu yang singkat. Tepat di usia tersebut, saya melangsungkan pernikahan. Artinya, Dompet Dhuafa sudah seharusnya menapaki jenjang yang lebih tinggi. Bertambahnya usia berarti bertambah pula kedewasaan, amal kebaikan, dan kontribusi. Barangkali perlu lebih giat dalam menginspirasi dan mengadvokasi, tak lagi mengambil peran sebagai lembaga pelaksana program-program bernuansa charity. Atau barangkali perlu menyeriusi posisi sebagai mitra strategis sekaligus mitra kritis pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakberdayaan di negeri ini. Atau mengelola kepemimpinan dan harmonisasi lembaga-lembaga filantropi sehingga dapat memberi dampak yang semakin signifikan, meluas dan merata. Bukan sekadar tumbuh dan berkembang, namun juga harus produktif menumbuhkan dan mengembangkan.

Selamat hari jadi yang ke-27 buat Dompet Dhuafa. Semoga tetap istiqomah dalam memberdayakan masyarakat marjinal dan terus amanah dalam menyantun dhuafa. Bukan sekadar membantu manusia, namun juga memuliakan manusia. Semoga semakin erat dalam menjalin ukhuwah dan membangun sinergi produktif dengan semua pihak. Saling mengingatkan dan saling menguatkan, karena jalan panjang perjuangan ini tak mungkin ditapaki sendirian. Semoga semakin semangat dalam menggugah etos kerja dan membentang kebaikan. Senantiasa memberikan yang terbaik, dan menjadi teladan baik bagi masyarakat dunia. Semoga senantiasa berlimpah berkah dari Allah SWT.

Terakhir, saya sampaikan kutipan sambutan dalam milad 27 tahun harmoni kebaikan DD dari Bapak Parni Hadi, inisiator dan Ketua Pembina Dompet Dhuafa. “…DD adalah sebuah sejarah, proses menyejarah. Banyak yang telah berkiprah, masing-masing berkontribusi, dari generasi ke generasi. Tak elok menyebut diri sendiri: paling benar dan berjasa paling besar sendiri. Wajib saling menghargai, jangan menghakimi, menzalimi dan meniadakan. Hari ini ada karena kemarin, berlanjut besok, generasi pendahulu dan penerus, saling merajut. Masing angkatan jaman punya peran dan bagian… Seluruh insan DD, ini sebuah perjalanan panjang, a long journey, kita masih harus terus berjuang. Jangan cepat jenuh, perjalanan masih jauh. Kaum dhuafa masih mengaduh, menjerit pahit, kemiskinan terus menghimpit. Ini tugas panggilan jaman, menebar kebaikan, selama hayat dikandung badan. Ini tugas kemanusiaan, pekerjaan suara hati, tidak kenal henti… Terima kasih para muzaki dan mustahik, donatur dan penerima manfaat, kami hanyalah alat, perantara belaka, antara Anda berdua, berkat ridha Allah, Sang Maha Pecinta.

#DompetDhuafa #27harmonikebaikan

Bimbingan Belajar Belajar Bertahan

It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change” (Charles Darwin)

Beberapa waktu lalu, saya menerima undangan dari seorang rekan yang mengelola bimbingan belajar (bimbel) di daerah Citayam. Bukan undangan menjadi pengajar tamu, apalagi undangan membuka cabang baru, namun undangan penutupan lembaga bimbel yang pernah saya besarkan 13 tahun yang lalu. Sedih juga mendengarnya, mengingat banyak kenangan yang tergoreskan, terutama di masa-masa awal pembentukkan bimbel tersebut. Pun demikian saya maklum, mengingat sektor pendidikan memang termasuk sektor kehidupan yang cukup terdampak pandemi Covid-19 ini. Jangankan jalur pendidikan nonformal seperti lembaga kursus, pendidikan formal pun harus beradaptasi cukup keras dan cerdas dalam menghadapi perubahan pengelolaan persekolahan selama masa pandemi Covid-19.

Berbeda dengan sektor terkait pariwisata yang minim pilihan dalam menghadapi Covid-19, sektor pendidikan masih punya pilihan bertransformasi untuk bisa bertahan. Ketika pembelajaran di sekolah bisa digantikan dengan pembelajaran jarak jauh, dunia perhotelan atau maskapai penerbangan misalnya, tidak dapat mengganti layanan mereka dengan menginap atau bepergian via online. Karenanya, ketika banyak sekali industri pariwisata yang terancam gulung tikar terdampak corona, pertumbuhan situs maupun aplikasi terkait pendidikan justru melonjak 267%. Pertumbuhan ini jauh melampaui online shopping (13%), games (44%), dan kesehatan (59%).

Bagaimanapun, sekolah formal masih menjadi primadona di Indonesia. Belajar di rumah dibimbing oleh keluarga yang semestinya menggunakan pendekatan pendidikan informal, tetap kental nuansa pendidikan formal dengan silabus dan kurikulum ketat dari sekolah. Walaupun siswa tidak datang ke sekolah dan pendidik juga tidak bertatap muka dengan peserta didiknya, sekolah formal tetap eksis meski beberapa sekolah mengurangi biaya pendidikan sebagai konsekuensinya. Gagasan homeschooling sempat mengemuka ketika tersebar isu pemerintah tetap mendorong siswa mulai kembali bersekolah pada tahun ajaran baru di pertengahan Juli 2020. Orang tua yang khawatir terhadap kesehatan dan keselamatan anaknya ramai-ramai menolak, pun prosedur kesehatan tetap akan diberlakukan. Namun setelah keluar pernyataan resmi dari Kemendikbud tentang kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19, wacana homeschooling pun menguap. Bagaimanapun, pendidikan formal masih jauh lebih populer, dengan segala penyesuaian yang harus dilakukan.

Kondisi berbeda dialami oleh pendidikan nonformal, khususnya bimbel. Selain tidak ada keharusan untuk mengirimkan anak belajar di bimbel, sejak masa awal pandemi Covid-19 eksistensi bimbel sudah terancam. Pertama, kekhawatiran orang tua terhadap aktivitas berkumpul di luar rumah sehingga KBM bimbel tatap muka menjadi salah satu aktivitas yang dihindari. Kedua, peniadaan Ujian Nasional 2020 oleh pemerintah membuat alasan orang tua memberikan tambahan pembelajaran kepada anaknya melalui bimbel semakin menurun. Dalam perkembangan pandemi Covid-19, keberadaan bimbel kian kritis. Pemerintah telah menginstruksikan sekolah formal untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh dimana siswa belajar dari rumah didampingi orang tuanya. Pendampingan belajar dari bimbel semakin tidak ada artinya. Ditambah lagi dampak pandemi terhadap krisis ekonomi menyebabkan kebutuhan akan bimbel bergeser menjadi sesuatu yang dianggap kurang prioritas.

Berbagai lembaga pendidikan umumnya beradaptasi di tengah pandemi Covid 19 dengan mengubah pola pembelajaran berbasis teknologi informasi. Karenanya platform pendidikan berbasis digital semakin berkembang dan banyak digunakan. Bahkan pemerintah pun mengubah pola pelatihan vokasional yang biasanya dilakukan Balai Latihan Kerja menjadi program kartu prakerja yang berbasis platform digital. Pendidikan formal dan nonformal pun beradaptasi. Namun realitanya tidak semudah itu untuk bimbel yang menjadikan layanan intensifnya sebagai keunggulan. Ketika KBM bimbel diganti online, apa bedanya dengan pembelajaran jarak jauh di sekolah? Efektif belum tentu, bosan bisa jadi. Fokus pendampingan guru terhadap siswa dan fokus belajar siswa tidak bisa dijamin lebih baik dibandingkan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan sekolah. Belum lagi ditambah fakta bahwa tidak semua bimbel siap secara sumber daya untuk segera alih teknologi. Lantas apa keunggulan bimbel?

Sebenarnya masih ada berbagai peluang bagi bimbel untuk bisa bertahan. Tersedia berbagai potensi inovasi program. Pertama, salah satu titik lemah dari pembelajaran jarak jauh adalah orang tua yang belum tentu memiliki kompetensi untuk mendampingi anaknya belajar. Bimbel bisa mengambil peran coaching dan consulting untuk efektivitas pembelajaran jarak jauh, baik terhadap siswa ataupun terhadap orang tua yang mendampingi anaknya belajar. Peran sebagai pengajar yang dalam beberapa kasus sudah tidak lagi relevan dengan kondisi aktual, digeser menjadi peran konsultatif yang ternyata masih dibutuhkan. Dari poin ini pun dapat terlihat bahwa bimbel yang sifatnya privat masih bisa dijalankan di tengah pandemi Covid-19. Kedua, titik lemah lain dari pembelajaran jarak jauh adalah spesialisasi ilmu yang tidak dimiliki orang tua padahal butuh pendalaman lebih. Berapa banyak orang tua yang bisa mendampingi anaknya belajar Fisika atau Kimia, misalnya. Bahkan pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di level tertentu pun butuh ilmu yang spesifik. Disinilah kompetensi pengajar bimbel masih dibutuhkan sebab guru di sekolah maupun orang tua di rumah sama-sama memiliki keterbatasan. Tak heran, program sukses Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang dijalankan oleh bimbel masih ramai peminat pun melalui pembelajaran online. Sebab materi ujiannya memiliki karakteristik spesifik, yang bisa jadi tidak dimiliki guru atau orang tua yang ada di generasi UMPTN atau bahkan Sipenmaru. Dan masih banyak potensi survival lainnya yang ternyata masih bisa dijalankan oleh bimbel di masa pandemi ini. Selama tidak terjebak status quo.

Semasa sekolah, saya tidak ikut bimbel. Selain alasan biaya, saya merasa telah mengetahui cara belajar mandiri yang paling efektif tanpa tergantung pengondisian eksternal. Bahkan ada guru saya yang antipati dengan bimbel. Beliau menganggap bimbel hanya mengajarkan cara praktis tanpa memberikan pemahaman. Beliau pernah membuktikan dengan memberikan soal anti-mainstream yang tidak bisa diselesaikan dengan rumus cepat bimbel, tapi bisa saya selesaikan dengan kombinasi beberapa rumus sederhana dari beberapa materi pelajaran yang terpisah. Namun setelah merasakan menjadi guru bahkan mengelola bimbel, saya kemudian memahami bahwa tidak sedikit siswa yang masih membutuhkan bantuan dalam belajar, tidak cukup hanya di sekolah. Bantuan belajar mulai dari yang sifatnya materi pengetahuan, pembiasaan belajar, hingga motivasi belajar. Belum lagi beberapa program bimbel yang mengembangkan aspek mental dan spiritual serta sinergi belajar dengan orang tua menjadi penguat bahwa layanan bimbel dapat memberikan pengaruh positif. Terlepas masih ada yang menjadikan bimbel sebagai cara pragmatis untuk meningkatkan nilai, jalan pintas untuk diterima di sekolah atau perguruan tinggi favorit. Terlepas masih ada bimbel yang berpikir pragmatis mengajar dengan motif bisnis.

Akhirnya, bimbel kenangan tak jadi ditutup, hanya operasionalisasinya dinonaktifkan hingga empat bulan ke depan sambil ada renovasi gedung. Namun kejadian ini bisa menjadi pembelajaran penting bagi lembaga pendidikan untuk dapat beradaptasi dengan perubahan. Berinovasi untuk terus berkembang menjawab tuntutan zaman. Fleksibilitas dan agilitas ini bukan hanya penting bagi bimbel namun berlaku juga untuk seluruh stakeholder pendidikan, termasuk pihak sekolah dan orang tua. Karena bisa jadi semua terdampak dan saling terkait. Jika sekarang virus corona yang menyerang, bisa jadi sesuatu yang lain di masa yang akan datang. Strategi penyikapannya pun berbeda. Jika hari ini ada kebutuhan untuk transformasi teknologi, entah ke depan butuh transformasi apa lagi. Barangkali ada benarnya bahwa tidak ada yang tidak berubah selain perubahan itu sendiri. Jangan takut berubah, jangan berhenti belajar. Sebab mereka yang berhenti belajar akan mati terkapar.

“Never stop learning because life never stops teaching”