Category Archives: Resensi

Siapa Berani Ambil Tangung Jawab?

There are risks and costs to action. But they are far less than the long-range risks of comfortable inaction” (John F. Kennedy)

Beberapa waktu lalu saya membaca manga tentang sepakbola berjudul ‘Blue Lock’ yang menceritakan upaya Asosiasi Sepakbola Jepang (JFA) dalam mencetak striker haus gol. Berbeda dengan manga bergenre olahraga lainnya yang banyak menonjolkan tentang kerja sama tim, ‘blue lock’ justru mengajarkan bahwa striker sejati harus memiliki ego yang tinggi untuk mencetak gol. Kualitas seorang striker ditentukan oleh jumlah gol yang bisa dicetaknya, sepragmatis itu. Ketidakberanian menembak ke arah gawang ketika ada ruang tembak, dan memilih untuk mengoper ke rekan dianggap sebagai bentuk kelemahan. Cari aman. Jika rekannya bisa mencetak gol, dia akan dipuji karena tidak egois. Ketika gagal berbuah gol, dia tidak disalahkan. Padahal bentuk ketidakegoisan seorang striker adalah dengan keberanian mengambil peluang (sekaligus risiko) untuk terus mencetak gol. Dan rekan setimnya harus memahami posisi itu.

Dalam realitanya, memang banyak didapati sikap egois yang dimiliki para pemain bintang di posisi penyerang. Mulai dari menolak untuk diganti, memilih menembak bola ke gawang dibandingkan mengoper, memarahi rekan setim yang tidak memberinya bola, mengambil alih tendangan set piece, hingga tidak membantu pertahanan. Sikap malas ataupun kebanyakan gaya tidak masuk hitungan, sebab konteksnya adalah sikap yang menunjukkan ego tinggi dalam memperbesar peluang mencetak gol. Dan ego itulah yang menunjukkan gairah dan semangat untuk terus menjadi yang terbaik. Pentingnya kolektivitas tim dalam permainan sepakbola adalah satu hal, namun melihat sosok pemain yang tidak pernah puas dalam melampaui rekor demi rekor adalah sesuatu yang lain. Butuh ego, ‘keserakahan’, dan keberanian untuk dapat melakukannya.

Dalam konteks organisasi yang lebih luas, konteks ego yang seperti ini juga diperlukan oleh sosok pemimpin. Sebagai ‘ujung tombak’ suatu organisasi, pemimpin diharapkan berani mengambil tanggung jawab, bukan lantas melemparnya ke orang lain. Memang ada yang namanya mendelegasikan dan memberikan kepercayaan pada orang lain, namun itu berbeda dengan lempar tanggung jawab. Sosok pemimpin harus berani mengambil keputusan yang paling tidak populer sekalipun jika memang itu keputusan yang perlu diambil. Dan pemimpin sejati akan berdiri paling depan dalam mempertanggungjawabkan keputusannya. Keputusan yang diambil karena pemahaman dan kesadaran yang utuh. Keputusan yang bisa jadi penuh dengan risiko.

Keberanian untuk mengambil risiko menjadi modal penting untuk menjadi pemimpin. Kebijakan yang diambil bisa jadi tidak menyenangkan semua orang, bagaimanapun keputusan tetap harus dilakukan. Tidak malah menggantung sikap hanya karena ketidakberanian dalam menghadapi risiko kepemimpinan. Apalagi melarikan diri dari tanggung jawab dengan dalih apapun. Atau lepas tanggung jawab dengan alasan apapun. Menjadikan orang lain sebagai ‘tameng’ atas pilihan sikap juga tidak menunjukkan kebesaran jiwa seorang pemimpin. Termasuk memilih untuk tidak bersikap. Menunggu arah angin berhembus. Pragmatis dan oportunis.

Keputusan yang diambil belum tentu tepat, namun berani mengambil tanggung jawab atas sebuah keputusan yang diambil melalui pertimbangan yang mendalam akan jauh lebih baik dibandingkan ‘cuci tangan’ atas keputusan yang belum tentu salah. Cari aman. Seakan anggota organisasi tidak dapat menilai modus tersebut. Padahal setiap kebijakan akan ada konsekuensinya, dan setiap pilihan akan ada risikonya. Para pemimpin sejati memiliki keberanian dalam menghadapi konsekuensi dan risiko tersebut, sebab berani memimpin berarti berani untuk menderita. Leiden is lijden. Terus menjadi sorotan apapun sikap yang dipilih. Bahkan senantiasa dikritisi.

The biggest risk is not taking any risk”, demikian ungkap Mark Zuckerberg. Harus ada yang ambil risiko shooting ke gawang walaupun belum tentu gol, sebab saling oper –secantik apapun—takkan berbuah kemenangan. Tidak cukup hanya bermain aman untuk meraih kemenangan. Harus ada yang mengambil risiko kepemimpinan sepelik apapun kondisinya agar arah perubahan lebih terang benderang. Jika kualitas striker dihitung dari jumlah golnya, maka kualitas seorang pemimpin dinilai dari seberapa besar keputusan yang diambilnya mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Dan jalan perjuangan seorang pemimpin selalu menuntut keberanian dalam mengambil tanggung jawab. Bukan mencari berjuta pembenaran untuk lari dari tanggung jawab.

Leadership is taking responsibility while others are making excuses” (John C. Maxwell)

Jika Bisa Kembali ke Masa Lalu…

If you could see your whole life from start to finish, would you change things?
(Louise Banks dalam film ‘Arrival’)

Akhirnya, 44 chapter komik Boku Dake ga Inai Machi selesai kubaca dalam dua hari. Komik karya Kei Sanbe ini sudah diadaptasi ke dalam anime bahkan live action dengan judul internasionalnya ‘Erased’. Erased berkisah tentang Satoru Fujinuma, seorang pemuda yang memiliki kemampuan untuk mengirim dirinya kembali ke waktu sebelum kejadian berbahaya terjadi sehingga memungkinkan dirinya untuk melakukan pencegahan. Saat ibunya dibunuh, kemampuan Satoru mengirim dirinya ke 18 tahun lalu, saat dia masih di sekolah dasar. Kondisi ini memberinya kesempatan untuk mencegah penculikan berantai yang merenggut nyawa kedua teman sekelasnya dan seorang anak kecil dari sekolah lain. Pelaku penculikan ini pula yang membunuh ibunya di masa depan, apa ada hubungannya?

Cerita berkaitan dengan perjalanan waktu menurutku selalu menarik. Kita bisa melatih fokus sekaligus imajinasi, menghubungkan berbagai peristiwa antar waktu, mencari dan menganalisis petunjuk yang terserak, dan biasanya cerita seperti ini memiliki plot twist yang tak terduga. Beberapa film yang terkait dengan relativitas waktu bahkan memukau nalar (mind blowing), bukannya membuat rileks malah bikin pusing semisal film Interstellar ataupun Inception. Pertanyaannya adalah bagaimana jika kita bisa kembali ke masa lalu? Apa yang akan kita lakukan?

Sebagai manusia yang hobi berpikir, pertanyaan ini sudah lama muncul. Dan jawaban pertama yang muncul adalah: tidak mungkin manusia bisa kembali ke masa lalu. Dalam dogma agama sudah jelas bahwa waktu adalah makhluk Tuhan yang memiliki karakteristik sangat bernilai (tak tergantikan), cepat berlalu, dan tidak akan kembali. Karenanya solusi dari perbuatan dosa adalah taubat dan tidak mengulanginya, bukan kembali ke masa lalu dan memperbaikinya. Secara logika pun kembali ke masa lalu lebih sulit diterima dibandingkan pergi ke masa depan. Tak perlu pusing dengan teori relativitas khusus Einstein yang membuat seseorang ‘melompat’ ke masa depan jika bergerak dengan kecepatan cahaya, para astronot yang ke luar angkasa pun merasakan ‘lompatan waktu’ ini sehingga ketika kembali ke bumi seakan sudah berada di masa depan. Berbeda dengan kembali ke masa lalu. Mereka yang mengaku atau dicurigai sebagai time traveler faktanya belum benar-benar terbukti. Jika ada mesin waktu dari masa depan, harus ada ‘teknologi portal’ di masa lalu untuk memunculkan mesin waktu tersebut. Jika tidak ada, bukan hanya tidak bisa kembali ke masa depan, lokasi munculnya tak bisa dipastikan aman. Dalam hal ini teleportasi masih lebih masuk akal karena relativitas jarak masih dalam dimensi ruang dan waktu yang sama. Sementara kembali ke masa lalu masih sebatas fiksi dan fantasi. Lagipula jika kembali ke masa lalu dimungkinkan, maka istilah ‘penyesalan selalu datang di akhir, jika di awal namanya pendaftaran’ sudah tak lagi relevan.

Namun jawaban menafikan kemungkinan manusia untuk kembali ke masa lalu tidaklah menjawab pertanyaan. Jika memang bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan kita lakukan? Maka jawaban kedua yang terlintas adalah: apapun yang dilakukan, takdir masa depan tidak akan berubah. Dalam hal ini terjadi yang disebut predestination paradox. Masa depan terbentuk dari masa lalu, dan sudah terbentuk, apapun yang dilakukan di masa lalu. Dalam hal ini terjadi looping timeline atau paradoks waktu. Masih ingat film Terminator dimana John Connor mengirim Kylee Reese untuk melindungi ibunya di masa lalu dari terminator yang akan membunuh ibunya sehingga John Connor tidak dilahirkan. Yang terjadi kemudian adalah ternyata Kylee merupakan ayah dari John, orang yang mengirimnya ke masa lalu. Pola serupa juga terjadi di beberapa film seperti Project Almanac, Harry Potters and The Prisoner of Azkaban, hingga Avengers: Endgame. Bahkan mesin waktu Doraemon pun seringkali menerapkan pendekatan ini. Perjalanan waktu adalah bagian dari takdir masa depan, sehingga tidak akan mengubahnya.

Jawaban kedua ini masih belum menjawab dengan tegas pertanyaan. Masih membatasi imajinasi pula. Lantas bagaimana jika kita bisa kembali ke masa lalu dan mampu mengubah masa depan, apa yang akan kita lakukan? Sebelum menjawabnya, kita perlu berimajinasi terlebih dahulu tentang mekanisme kembali ke masa lalu yang dipilih. Apakah dengan mekanisme menciptakan dunia paralel yang tidak saling memengaruhi ala Dragon Ball? Dimana penggunaan mesin waktu menciptakan banyak dunia paralel. Ataukah dengan mekanisme yang memberikan pengaruh fisik langsung dengan mengubah masa lalu ala Back to the Future? Sebagaimana tubuh Marty perlahan menghilang karena ‘mengganggu hubungan’ kedua orang tuanya di masa lalu. Apalagi jika polanya lompat-lompat tak beraturan waktu dan tempat ke masa lalu dan masa depan ala The Time Traveler’s Wife, penjelajahan waktu cuma bikin repot. Mekanisme mustahil yang paling masuk akal sepertinya pola mengembalikan ingatan ke masa lalu ala Boku Dake ga Inai Machi dan X-Men: Days of Future Past. Bukan fisik yang kembali ke masa lalu, melainkan ingatan masa depan. Ada juga pola mengembalikan ingatan masa depan ke tubuh orang lain ala Source Code, tapi tampaknya akan menyulitkan.

Jika ingatan masa depan bisa kembali ke masa lalu, dan aktivitas di masa lalu bisa mengubah masa depan, maka banyak hal yang bisa dilakukan. Pertama, saya akan mencatat semua ingatan masa depan dalam buku. Ada rekaman berbagai peristiwa dalam berbagai lingkup lintas waktu dan tempat disana. Ada memori tentang orang-orang yang dikenal hingga masa depan. Semua ingatan ini perlu dicatat sehingga memudahkan dalam menentukan prioritas dan mengelola sumber daya. Buku ini barangkali berbeda dengan future diary ala anime Mirai Nikki atau film The Butterfly Effect. Namun monitoring akan perubahan masa depan dapat dipantau dengan buku ini.

Kedua, saya akan melakukan berbagai perbaikan kecil di masa lalu. Selain karena perjalanan hidup yang relatif sudah lurus, perbaikan kecil akan lebih mudah dikontrol. Jika belajar dari film animasi The Girl Who Leapt Through Time, mengoreksi peristiwa sepele pun bisa memberikan efek domino yang besar. Perubahan kecil dalam problem solving bisa mengubah banyak hal. Jadi saya akan menahan diri dulu dari misi besar menyelamatkan dunia sambil melihat pola perubahan yang akan terjadi. Bagaimanapun tantangan mengubah masa depan adalah mengendalikan butterfly effect dari upaya memperbaiki masa lalu. Ketiga, jika ada hal besar yang hendak dilakukan adalah menyelamatkan orang-orang terdekat. Sudah banyak orang-orang di sekitar yang meninggal bukan karena penyakit tua yang memang tak ada obatnya. Jika masa depan masih bisa berubah, memperpanjang waktu kebersamaan dengan mereka adalah hal sentimental yang perlu dicoba.

Yah, pada akhirnya kita hidup di hari ini. Dan hanya ada hari ini. Kalau kata Oogway dalam Kungfu Panda, “You are too concerned with what was and what will be. There is a saying: Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called present.”. Masa lalu pada akhirnya hanyalah romantika sejarah yang tersimpan dalam memori, kita hanya bisa membukanya tanpa memasukinya. Menoleh ke masa lalu untuk mengambil pelajaran demi kebaikan di hari ini dan masa depan. Sementara masa depan adalah misteri yang belum tentu ada, kita hanya bisa mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Dan waktu sejatinya adalah kehidupan itu sendiri. Tidak perlu mengulang hidup untuk hari ini, cukuplah dengan mengoptimalkan hari ini untuk masa depan yang lebih baik.

Time waits for no one” (Makoto Kono dalam animasi ‘The Girl Who Leapt Through Time’)

Kemampuan Superpower Terkuat? Memimpin!

“Whenever you find the whole world against you, just turn around and lead the world” (Anonymous)

“Kemampuan superpower apa yang Anda ingin miliki agar dapat menguasai dunia?”, demikian pertanyaan dalam salah satu sesi Workshop Design Thinking For Innovation yang penulis ikuti beberapa waktu lalu. Hasil polling tersebut tidak mengejutkan dimana kemampuan melihat masa depan (future vision : 45%) dan mengendalikan orang lain (mind control : 42%) menjadi jawaban yang paling banyak dipilih peserta. Sisanya, kemampuan berpindah dalam sekejap (teleportation) dan bergerak secepat cahaya (flash) masing-masing hanya memperoleh 6%. Sementara itu, tak ada peserta yang memilih kemampuan membuat bola api (fireball), kekuatan super (super strength), dapat tidak terlihat (invisibility),bisa terbang (jetfly), dan kemampuan menyembuhkan diri (self heal).

Pertanyaan dan hasil polling tersebut mengingatkan penulis pada salah satu anime mind blowing berjudul Code Geass. Dikisahkan Lelouch Lamperouge, seorang bangsawan Britania yang dibuang ayahnya hendak menciptakan dunia yang damai untuk Nunally, adiknya. Ia memperoleh kekuatan misterius bernama “Geass Power of the King” yang membuatnya mampu membuat orang melakukan apapun yang diperintahkannya. Dalam perjalanannya, ada batasan dari kekuatan tersebut, misalnya hanya bisa digunakan satu kali untuk setiap orang. Bahkan ada kondisi yang membuatnya tak mampu menggunakan kekuatannya. Namun kecerdasannya dalam memprediksi masa depan, membuatnya tak tertandingi. Dan di akhir cerita, Lelouch mampu menguasai dunia dengan menghancurkan dunia yang sekarang dan menciptakan dunia yang baru. Mind control yang dipadu dengan future vision menjadi kombinasi ampuh untuk menguasai dunia.

Code Geass jelas kisah fiksi, hasil polling pun juga barangkali tidak cukup representatif dan tidak cukup memenuhi kaidah ilmiah. Namun dapat dipahami bahwa kemampuan mengendalikan orang lain lebih powerful dibandingkan kekuatan yang hanya untuk dirinya, seperti teleportation, flash, fireball, super strength, invisibility, jetfly, ataupun self heal. Sebagaimana Profesor X memimpin para X-Men. Bagaimana pun menguasai dunia tidak mungkin dapat dilakukan sendirian. Kemampuan melihat masa depan pun hanya akan bermanfaat untuk dirinya jika tidak ada yang percaya. Dan kemampuan menggerakkan (enable others to act) ini merupakan salah satu karakteristik penting seorang pemimpin, demikian pula halnya dengan kemampuan untuk memprediksi masa depan (visioner). Sehingga, kekuatan untuk menguasai dunia sejatinya terhimpun dalam diri seorang pemimpin.

Perhatikan daftar Top 5 ‘Manusia Paling Berkuasa’ versi Forbes tahun 2016, secara berurut adalah: Vladimir Putin (Presiden Rusia), Donald Trump (Presiden USA), Angela Merkel (Kanselir Jerman), Xi Jinping (Presiden RRC) dan Paus Francis (Pemimpin Katolik). Sementara itu, salah satu majalah global terkemuka The Economist edisi 14 – 20 Oktober 2017 memajang wajah Xi Jinping dilengkapi teks bombastis “The World’s Most Powerful Man” di cover terdepan. Hasil lebih beragam diperlihatkan TIME dalam ‘The 100 Most Influential People of 2017’ yang membagi dalam lima kategori: Pioneer, Artist, Leaders, Titans, dan Icons. Pun demikian, Leaders tetap mendominasi, dimana 24 dari 100 nama masuk kategori Leaders. Atau jika kita coba menelaah buku ‘The 100’ karya Michael H. Hart yang memuat daftar 100 manusia paling berpengaruh sepanjang zaman. Akan didapati, selain Rasulullah Muhammad SAW di peringkat pertama, hampir separuh nama dalam daftar tersebut adalah pemimpin, baik pemimpin agama, kerajaan, ataupun Negara. Selebihnya ada ilmuwan, penemu, filsuf, penjelajah, seniman, penulis, hingga pahlawan nasional.

Dalam daftar Top 10 ‘Manusia Paling Berkuasa’ versi Forbes tahun 2016 juga terdapat nama-nama seperti Bill Gates (Microsoft – peringkat 7), Larry Page (Google – peringkat 8 ) dan Mark Zuckerberg (Facebook – peringkat 10). Mereka memang bukan pemimpin suatu Negara atau wilayah, namun tetap saja mereka memimpin perusahaan besar, leading dalam dunia teknologi informasi dengan jutaan bahkan milyaran ‘rakyat’nya. Membangun masa depan di zamannya. Jadi tetap saja, kemampuan terkuat untuk mengubah dan menguasai dunia adalah memimpin. Tak heran kepemimpinan banyak diperebutkan. Jangankan statement kontroversial, ‘berdehem’nya seorang pemimpin di kancah internasional saja bisa membuat gaduh dunia global. “With great power comes great responsibility”, demikian ungkap Uncle Ben dalam film Spiderman. Disinilah seorang pemimpin ada di antara surga dan neraka. Ganjaran atas kebijakannya akan terus mengalir, menjadi kebaikan kah, atau malah dosa yang tak berujung. Konsekuensi ini harus dipahami bagi siapapun yang ingin memperoleh kekuatan besar dengan menjadi seorang pemimpin.

Lalu bukankah ‘kuota’ untuk menjadi pemimpin terbatas? Ya, jika pemimpin dimaknai sebatas jabatan. Pernah mendengar kisah seseorang yang punya mimpi mengubah dunia namun akhirnya gagal dan di akhir kisah ia sadar bahwa seharusnya ia terlebih dulu mengubah dirinya? Benar, mengubah dunia harus dimulai dari mengubah diri sendiri, menguasai dunia mesti diawali dengan menguasai diri sendiri. Kemudian barulah diri ini didorong tidak hanya puas menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri karena semakin besar lingkup kepemimpinan, akan semakin besar potensi kebermanfaatannya. Tidak perlu berambisi terlalu tinggi, sentuhan kepemimpinan bisa diawali dari lingkup yang lebih kecil. Membangun keluarga pemimpin, misalnya. Atau penulis cukup terinspirasi dengan kata-kata seorang guru, “Jika kamu memimpin kelas dengan baik hari ini, siswamu akan memimpin dunia dengan baik di masa depan”. Mari kita menjadi pemimpin, untuk memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, dan dunia!

If the king doesn’t move, then his subjects won’t follow” (Lelouch – Code Geass)

Retorika dan Aksi Nyata Mahasiswa untuk Indonesia

Di sini negeri kami, tempat padi terhampar. Samuderanya kaya raya, negeri kami subur, Tuhan. Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka. Anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja. Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar. Bunda relakan darah juang kami, ‘tuk membebaskan rakyat…

Lagu ‘Darah Juang’ di atas tampaknya tidak asing di kalangan aktivis mahasiswa. Bersama dengan ‘lagu-lagu perjuangan’ lain seperti ‘Berderap dan Melaju’, ‘Buruh Tani’ atau ‘Totalitas Perjuangan’, senandung ‘Darah Juang’ biasa menemani aksi mahasiswa yang acap kali penuh retorika. Keberpihakan mahasiswa terhadap rakyat ketika menggelar parlemen jalanan jelas tersurat dalam lirik lagu-lagu tersebut. Retorika kian terasa dalam mimbar dan podium demonstrasi, menguatkan asa rakyat jelata bahwa masih ada mahasiswa yang memperjuangkan nasib mereka. Pun baru sebatas retorika.

Dalam memperjuangkan  perbaikan bagi bangsa, tidak salah menggunakan retorika. Sebab retorika mampu menyalakan harapan, membakar semangat juang, sekaligus pengingat yang dapat memanaskan telinga para penguasa. Apalagi retorika yang penuh data. Namun tentu akan jadi ironi ketika perjuangan berhenti pada tataran retorika tanpa aksi. Sebatas memobilisasi massa tanpa berupaya menggerakkan masyarakat untuk lebih mandiri dan berdaya. Sekadar turun ke jalan tanpa coba turun tangan menyelesaikan masalah riil di lapangan. Hanya lelah berkoar-koar tanpa pernah merasakan kepayahan dalam berkontribusi nyata di tengah masyarakat.

Saat ini tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan gerakan mahasiswa, karena dinilai hanya sebatas retorika tanpa aksi nyata. Wacana mahasiswa yang kaya pembaharuan ibarat ada di menara gading, sementara permasalahan rakyat yang kompleks ada di dasar samudera. Terlampau terbentang jarak antara mahasiswa dengan masyarakatnya. Padahal Tri Dharma Perguruan Tinggi butir terakhir adalah pengabdian masyarakat yang menuntut aksi nyata. Tak salah Tan Malaka pernah mengingatkan, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia memang masih lebih asyik bermain dalam ranah kognitif teoritis, belum benar-benar mempertemukan mahasiswa dengan dunia paska kampus, termasuk realita masyarakat. Namun kesadaran mahasiswa dan pihak kampus untuk menebar kebermanfaatan ke tengah masyarakat saat ini semakin tinggi. Kampus dan organisasi kemahasiswaan mulai berlomba menjalankan program sosial kemasyarakatan. Di satu sisi, tuntutan akademis membuat mahasiswa kian apatis dan individualis. Di sisi lain, kompleksitas masalah justru mendorong banyak pihak berpartisipasi dalam mengurai permasalahan masyarakat.

Dan asa itu masih banyak tersisa, semangat mahasiswa masih bergelora, retorika akan segera dilengkapi dengan aksi nyata. Hipotesis bahwa mahasiswa hanya pandai bicara akan terbantahkan. Karena kenyataannya, banyak mahasiswa yang aktif berkarya di tengah masyarakat. Di berbagai wilayah nusantara, menjawab permasalahan masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Jumlahnya juga bukan cuma satu dua. Para mahasiswa ini bekerja untuk kepentingan rakyat Indonesia, bergerak bersama ‘tuk wujudkan cita mulia: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Kekuatan suatu bangsa terletak pada simpul terlemahnya. Kemiskinan adalah simpul terlemah bangsa ini, sehingga advokasi, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat marginal merupakan sebuah upaya strategis untuk melipatkangandakan kekuatan bangsa. Butuh pengorbanan dan tidak bisa sendirian memang, namun harus ada yang berani memulai. Rakyat yang sudah jemu akan janji palsu para pengampu kebijakan, banyak menggantungkan harapannya kepada para mahasiswa yang memiliki semangat, vitalitas, intelektualitas, sekaligus idealisme yang tinggi. Kelompok elit masyarakat yang senantiasa hadir membawa perubahan.

Bagaimanapun, pemuda hari ini adalah pemimpin bangsa di masa depan. Jika hari ini dunia pendidikan cuma memproduksi ‘robot-robot bernyawa’, masa depan bangsa akan jauh dari kreativitas dan berdaya. Jika hari ini kampus hanya menghasilkan sarjana yang pandai beretorika, kebangkitan bangsa Indonesia hanya akan berkutat dalam wacana. Namun ketika hari ini banyak sekumpulan pemuda yang peduli terhadap masyarakatnya, dan berkontribusi nyata dengan segenap cinta bagi bangsa dan negara, masa depan bangsa akan cerah dan berjaya. Menuju kegemilangan Indonesia yang dimulai hari ini, dari diri kita, untuk mulai menebar karya dan kontribusi nyata demi kemajuan bangsa.

Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!!!

*tulisan ini merupakan prakata dalam buku “Hak Rakyat Digasak, Mahasiswa Bergerak!” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Pijar Sang Pembelajar

“Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu. Ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia. Rataplah malam yang dingin. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki keadilan…” (Ost. Gie)

Sebut saja Anto, seorang aktivis mahasiswa kelas kakap yang tengah bimbang dengan masa depannya. Semangat berapi-apinya ketika di mimbar demonstrasi seolah tiada arti di hadapan dosen pembimbing akademisnya saat ini. Ia memandangi Kartu Rencana Studi (KRS)-nya yang masih menyisakan beberapa mata kuliah yang harus diselesaikan di semester akhir kuliahnya. Belum lagi skripsinya masih terbengkalai dan aktivitasnya di luar kelas membuatnya telat mengetahui informasi bahwa dosen pembimbing skripsinya sudah berangkat ke luar negeri selama beberapa bulan ke depan untuk menyelesaikan gelar PhD-nya. Ganti judul dan dosen pembimbing skripsi tentu butuh effort besar, belum lagi masih ada mata kuliah yang harus diulang. Ia bingung hendak meminta bantuan ke siapa, sementara teman-teman seangkatannya sudah lulus semua. Ia malu untuk bertemu orang tuanya yang selalu bertanya kapan dirinya diwisuda.

Lain halnya dengan Anti, mahasiswa tingkat akhir yang tengah mengurung diri di kamarnya. Belakangan ini kondisi fisiknya menurun, susah tidur dan kepalanya sering sakit. Kemungkinan dirinya tengah depresi berat. Orang tuanya tampak menyerah menghadapi anaknya yang tiba-tiba saja jadi sensitif dan malas beraktivitas. Sementara tidak ada temannya yang menjenguk dan menghiburnya. Sebelumnya, kuliahnya lancar sampai di semester-semester akhir semakin banyak tugas presentasi yang tidak disukainya. Anti mengalami kesulitan berbicara di depan kelas dan menjadi bahan olok-olok. Label ‘kutu buku gagu’ pun dilekatkan teman-temannya padanya. Puncaknya, ia ‘blank’ dalam seminar skripsi beberapa hari lalu. Presentasi yang sudah dipersiapkannya pun gagal total. Kegagalan yang harus dihadapinya sendirian.

* * *

Masa kuliah adalah masa yang penuh vitalitas, kaya akan impian dan idealisme yang didukung dengan kesegaran potensi jiwa, fisik dan akal. Masa kuliah adalah fase kehidupan yang penuh semangat dan dinamika, dimana mahasiswa merupakan golongan elit pemuda terpelajar yang memiliki potensi besar. Keberadaan mahasiswa dengan potensi keilmuannya sangat diharapkan dapat menjadi solusi bagi kompleksnya problematika bangsa. Mahasiswa juga kerap dipandang sebagai golongan penyalur aspirasi masyarakat yang solid dan massif. Belum lagi, jika melihat perjalanan sejarah, kumpulan pemuda penuh intelektual ini selalu menjadi yang terdepan dalam menggagas perubahan. Ya, di setiap titik perubahan besar dalam sejarah, pemuda selalu hadir memberikan kontribusinya. Menjadi pahlawan pada zamannya.

Pertanyaannya, potensi kepahlawanan tersebut dimiliki oleh mahasiswa seperti apa? Apakah mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang), kura-kura (kuliah rapat – kuliah rapat) atau bahkan mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring – kuliah nangkring)? Secara umum, ada empat domain prestasi yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa dan diseimbangkan. Pertama, domain spiritualitas yang menjadi pondasi dasar pemuda dalam berpikir dan bersikap. Kekuatan spiritual akan menjaga pemiliknya dari perilaku menyimpang, disorientasi dan berbagai energi negatif lainnya. Domain inilah yang akan membentuk karakter berkualitas dengan paradigma yang benar. Kedua, domain intelektual yang mengharuskan pemiliknya terus menjadi pembelajar seumur hidup. Mengisi hari dan hidupnya dengan ilmu yang bermanfaat dan mengaplikasikannya untuk kebermanfaatan yang luas. Sifatnya yang terus berkembang memungkinkan pemiliknya untuk terus menggali sumber ilmu kapanpun, dimanapun dan dari siapa (atau apa) pun. Ketiga, domain pengembangan diri yang akan melengkapi kapasitas intelektual. Penguasaan bahasa, keterampilan dan kepemimpinan, misalnya, akan melipatgandakan potensi yang dimiliki. Domain ini juga akan mendorong terciptanya kompetensi spesifik dan tajam. Keempat, domain sosial yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya. Kekuatan sosial ini jika dipenuhi dengan interaksi lingkungan yang positif akan membuat hidup lebih bermakna. Domain ini akan mengantarkan pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri.

Kasus Anto mencerminkan mahasiswa yang kuat di domain pengembangan diri dan sosial, namun lemah di domain intelektual. Ia pun akan tertinggal. Sementara Anti sebaliknya, fokus di domain intelektualnya melupakan domain spiritual, pengembangan diri dan sosialnya. Ia pun terpuruk. Menyeimbangkan keempat domain tersebut memang tidak mudah, namun mengabaikan salah satunya saja akan menghambat optimalisasi kualitas diri. Mahasiswa jenis kupu-kupu, kura-kura, ataupun kunang-kunang harus bertransformasi menjadi ’kutu kupret’ yang produktif: kuliah bermutu, kuliah berprestasi.

Kualitas dan produktivitas mahasiswa tidak hanya ditentukan di bangku kuliah, produktivitas juga tercermin dalam aktivitas organisasi, bahkan nangkring pun bisa produktif. Menjadi kontraproduktif jika jadi aktivis hanya sebagai pelarian karena gagal di akademis. Di sisi lain, kontribusi mahasiswa juga tidak dimonopoli mereka yang turun ke jalan atau terjun langsung ke masyarakat. Mahasiswa yang gemar dengan diskusi, mengikuti kajian, bahkan riset di laboratorium pun dapat berkontribusi ke masyarakat. Sebagaimana prestasi mahasiswa pun tidak melulu terkait akademik, keunggulan di ranah non-akademik pun dapat menjadi prestasi yang membanggakan.

Kesia-siaan dalam hidup biasanya diawali dari kesia-siaan dalam menjalani masa muda, yaitu dengan banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Padahal potensi yang dimiliki sebenarnya begitu besar, tidak akan habis jika hanya ‘sekadar’ mengikuti banyak kompetisi atau mencoba menorehkan banyak prestasi. Bahkan biasanya waktu akan lebih efektif di tangan mereka yang sibuk. Aktivis pembelajar akan mengoptimalkan waktunya dengan aktivitas bermanfaat. Sebaliknya, mahasiswa yang bermasalah justru banyak diisi mereka yang ’tidak jelas kerjaannya’.

Pengembangan kualitas diri ini akan terhenti ketika aktivis berhenti belajar. Tidak berani melakukan sesuatu yang baru. Stagnan. Karenanya, gelora kontribusi aktivis akan terus bergemuruh selama perbaikan diri terus dilakukan tak kenal henti. Pijar prestasi aktivis kan terus bersinar kala mereka terus belajar. Dan hanya para pembelajar sejati lah yang akan mampu menyeimbangkan domain prestasinya. Melahirkan pribadi-pribadi unggul yang siap melakukan perubahan besar yang akan menggoncangkan dunia. Dan jika bukan tidak mungkin pribadi unggul itu adalah kita, tak tergerakkah kita untuk mencoba mengoptimalkan potensi yang kita miliki? Tak tertarikkah kita untuk menjadi pahlawan pada zaman ini?

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Soekarno)

*tulisan ini merupakan kata pengantar bukuonline “Pijar-pijar Aktivis Pembelajar” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Inspirasi Merawat Indonesia dari Mancanegara

“Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu” (Imam Syafi’i)

Beberapa tahun lalu, Rhenald Kasali, salah seorang Guru Besar FEUI membuat tulisan tentang paspor yang disebutnya sebagai “surat izin memasuki dunia global”. Tanpa paspor, manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, dan menjadi pemimpin yang steril. Yang dimaksudkan Pak Rhenald tentu bukan sekedar keberadaan paspor, tetapi penggunaannya dalam bepergian ke luar negeri. Sebegitu pentingnya kah ‘tamasya’ ke mancanegara?

Indonesia Negara yang ramai dan ramah, penduduknya yang banyak takkan merasa kesepian. Indonesia Negeri yang kaya akan keragaman, hampir semua sketsa keindahan dunia ada di Indonesia. Mulai dari panorama dasar laut, pantai, sawah, hutan, hingga gunung berpuncak salju dapat ditemukan di nusantara. Lalu buat apa wisata ke luar negeri yang hanya menambah devisa Negara destinasi? Apalagi seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, gambaran tentang Negara-negara di penjuru dunia sudah terpampang jelas di dunia maya.

Katak yang terkungkung dalam tempurung akan melompat lebih rendah dibandingkan katak yang hidup di alam bebas. Tak heran, banyak pemimpin besar lahir dari mereka yang pernah merasakan perjalanan jauh ke tempat baru yang memberi inspirasi tersendiri yang mewarnai hidup mereka. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, begitu kata petuah Arab. Bukan Cina sebagai satu-satunya destinasi yang ditekankan, tapi betapa banyak hikmah yang dapat diambil dari setiap perjalanan. Hikmah yang lebih membentang cakrawala dalam berpikir dan bertindak.

Inspirasi itu datang melalui proses panjang, bahkan sekalipun ‘belum berhasil’ menempuh perjalanan ke luar negeri, hikmah itu sudah dapat dirasakan. Saya pernah urung mempresentasikan paper dalam kegiatan World Zakat Forum di New York, USA karena terbentur dengan berbagai prioritas kegiatan lain. Namun pengalaman mengurus visa USA yang penuh lika-liku bisa jadi cerita tersendiri. Dan dalam banyak kesempatan, selalu ada skenario lebih indah yang menyertai ‘asa yang tertunda’ asalkan ada keyakinan dan ikhtiar nyata. Karenanya kisah perjuangan yang tidak mudah untuk dapat menuai hikmah di luar negeri bisa menjadi inspirasi dan bahan refleksi diri.

Inspirasi itu hadir melalui interaksi lintas bahasa dan lintas budaya. Ada berbagai hal positif yang dapat diambil hikmahnya dan potret negatif yang kian memperkaya rasa syukur kita. Memang sudah menjadi watak manusia untuk kurang bersyukur sebelum kehilangan. Kecintaan terhadap tanah air akan semakin menguat di negeri orang, setidaknya itulah yang pernah saya rasakan. Di balik kekaguman akan kedisiplinan dan penataan kota di Singapura misalnya, ada semburat syukur atas potret Indonesia yang lebih humanis dan ramah. Di balik inspirasi akan fokus, kerja keras dan kemandirian penduduk negeri India, ada kebanggaan tersendiri menjadi warga Negara Indonesia yang lebih egaliter dan santun. Tekad untuk merawat Indonesia pun kian berkobar. Nilai rasa yang tidak tergantikan hanya dari telusur literatur ataupun berselancar di dunia maya.

Dunia adalah sebuah buku dan orang-orang yang tidak pernah melakukan perjalanan ia hanya membaca satu halaman. Hikmah dapat datang dari mana saja. Sesekali kita memang perlu menengok dari luar untuk memperbaiki rumah kita. Tentu berbagai inspirasi menandang mancanegara untuk merawat Indonesia tidak sebanding dengan inspirasi yang langsung dirasakan dengan bertualang ke negeri orang. Semoga kumpulan tulisan ini bukan sekedar menginspirasi, tetapi juga mampu memotivasi kita untuk bergabung sebagai para penjelajah hikmah perjalanan. Perjalanan yang –kata Imam Syafi’i—mampu melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” (H. Jackson Brown Jr.)

*tulisan ini merupakan kata pengantar buku online “Menandangi Mancanegara” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Dwi Tunggal Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an untuk Kepemimpinan Bangsa

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kaya akan sumber daya dan kaya akan budaya. Negeri kepulauan nan indah bertajuk zamrud khatulistiwa. Negara besar dengan jumlah penduduk peringkat empat terbanyak di dunia yang tersebar di penjuru nusantara. Mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Pun mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah Negara Islam. Sebagaimana beranekanya suku dan budaya, ragam agama juga ada di Indonesia. Ironisnya, statement bahwa Indonesia bukan Negara Islam kerap disalahartikan sebagai dikotomi antara Indonesia dan Islam, seakan identitas keislaman akan kontraproduktif dengan identitas keindonesiaan. Islam dan nasionalisme, akhirnya menjadi dua kata yang dikesankan ibarat minyak dan air, takkan mampu bersatu.

Dalam KBBI, nasionalisme didefinisikan sebagai paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri . Nasionalisme juga didefinisikan sebagai semangat kebangsaan, yaitu kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Rasa cinta terhadap tanah air sejatinya adalah fitrah manusia sebagaimana kecintaan terhadap keluarga. Dan Islam datang sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, karenanya mustahil bertentangan dengan nilai cinta tanah air.

Nasionalisme hadir untuk mengikis semangat kesukuan dan memperkuat ikatan masyarakat. Dan Islam telah melakukannya sebelum istilah nasionalisme ada. Di Madinah, beragam suku mulai dari Quraisy, Aus, Khazraj, hingga suku-suku beragama Yahudi dan Nasrani menandatangani Piagam Madinah yang salah satu klausulnya adalah bersatu mempertahankan Madinah dari serangan luar. Itu adalah nasionalisme. Mempererat tali persaudaraan dan mempersatukan dengan tetap menjaga eksistensi dari keragaman suku dan bangsa, itulah Islam.

Nasionalisme menurut Soekarno akan membentuk rasa percaya diri dan merupakan esensi mutlak jika kita mempertahankan diri dalam perjuangan melawan kondisi-kondisi yang menyakitkan. Ya, sebagaimana Islam, nasionalisme sejatinya hadir untuk membebaskan. Revolusi perlawanan rakyat atas hegemoni kaum aristrokat dan anti dominasi gereja di Eropa abad ke-18 adalah nasionalisme yang tidak jauh berbeda dengan bagaimana para pahlawan pejuang kemerdekaan sejak zaman kerajaan dahulu berperang untuk mengusir penjajah. Perlawanan lokal dan sporadis yang gagal mengusir penjajah kemudian bertransformasi menjadi gerakan nasional yang terorganisir. Itulah nasionalisme.

Namun Islam memang berbeda dengan nasionalisme, terutama dalam aspek ruang lingkup dan orientasi. Nasionalisme masih tersekat oleh batas geografis sementara Islam borderless. Kesetiaan tertinggi seorang nasionalis adalah pada bangsa dan Negara, sementara kesetiaan tertinggi seorang muslim adalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam Islam, kesetiaan terhadap pemimpin ataupun wilayah geografis tertentu haruslah dalam kerangka ketaatan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Itulah semangat nasionalisme untuk mengusir penjajah versi Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin dan banyak pejuang Islam lainnya di nusantara. H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Serikat Islam menyatakan bahwa Islam adalah “faktor pengikat dan simbol nasional”.

Perbedaan antara Islam dan nasionalisme bukan untuk dipertentangkan, melainkan diposisikan dengan tepat untuk membangun kepemimpinan nasional yang kuat. Semangat spiritualitas dan religiusitas Islam yang bersifat universal seharusnya diposisikan sebagai fondasi dengan semangat kebangsaan (nasionalisme) sebagai (salah satu) tiangnya. Tiang nasionalisme tanpa fondasi religiusitas akan mendorong pada primordialisme, chauvinisme, bahkan fasisme. Kecintaan terhadap tanah air yang berlebihan dan tidak didasari spiritualitas yang kuat akan berujung kepongahan, merendahkan bangsa lain, bahkan dalam titik ekstrim justru akan memicu terjadinya imperialisme dan penjajahan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nasionalisme itu sendiri.

Dalam skala yang lebih kecil, ‘nasionalisme buta’ akan mematikan logika dan berpikir kritis. Padahal kemerdekaan sebagai buah dari semangat kebangsaan menghendaki kekuatan untuk berdiri sendiri. Berdikari dalam berpikir dan bertindak. Karenanya, tiang nasionalisme yang berdiri di atas landasan religiusitas ini harus berdekatan dengan tiang kemandirian menuju Indonesia berdaya. Tidak cukup hanya merdeka dan bersatu, tetapi juga harus berdaulat, adil dan makmur. Kepemimpinan bangsa yang kuat tidak dapat dipisahkan dari kemampuan untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Semangat kebangsaan dan kemandirian tanpa fondasi keislaman akan mendorong pada kebebasan tanpa batas, pun harus mengorbankan orang banyak. Lihatlah bagaimana ekspansi negara-negara Eropa di masa penjajahan, yang alih-alih berdaya malah memperdaya. Berdikari adalah berdiri di atas kaki sendiri bukan berdiri di atas kesulitan orang lain. Karenanya, tiang nasionalisme dan kemandirian harus pula disertai dengan tiang kepedulian. Berlandaskan perikemanusiaan. Karena memang tidak cukup hanya dengan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, tetapi juga harus memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Selain makhluk pribadi, manusia adalah makhluk sosial yang pastinya akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam skala yang lebih besar, suatu bangsa juga selalu butuh untuk membangun hubungan dengan orang lain. Sadar dan peduli bahwa keberadaannya merupakan satu entitas dari komunitas yang lebih luas. Pun demikian dalam konteks kepemimpinan, selalu erat kaitannya dengan aspek pelayanan dan motivasi kepedulian. Shalat yang berdimensi pribadi harus disertai dengan zakat yang berdimensi sosial. Kemandirian sejati adalah mampu memandirikan orang lain, berdaya adalah mampu memberdayakan orang lain.

Bagaimanapun, iman yang abstrak harus disertai amal shalih yang konkret. Semangat kebangsaan juga bukan semata jargon, apalagi kemandirian dan kepedulian yang jelas-jelas harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Karenanya, fondasi keislaman beserta tiang-tiang kebangsaan, kemandirian dan kepedulian ini harus mewujud menjadi sesuatu yang lebih tampak dan terukur. Hal tersebut adalah kompetensi, baik pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Suatu urusan yang dikerjakan oleh orang yang tidak berkompeten hanya akan berujung kepada kehancuran. Karenanya pemimpin haruslah memiliki kompetensi yang mumpuni. Tidak harus sempurna, tetapi kompetensinya sesuai dengan kebutuhan, level dan lingkup amanah serta kekhasan dari kepemimpinan yang diemban.

Kepemimpinan ideal yang didambakan oleh seorang muslim harus berlandaskan fondasi keislaman, Islam yang pertengahan, tidak terlalu kaku tetapi tidak pula terlalu cair. Islam yang menginspirasi dan mencerahkan, tidak taqlid buta namun tidak pula mendewakan akal. Islam yang seimbang, bijak dalam merespon kondisi kekinian dan menghargai berbagai perbedaan. Islam yang bukan hanya baik dalam aspek keimanan dan ibadah, namun kehadirannya mampu menebar kebermanfaatan yang luas. Islam yang dapat menjadi Rahmat bagi semesta alam.

Untuk menghadapi tantangan kepemimpinan Islam, fondasi ini perlu diperkokoh dengan semangat kebangsaan yang mempersatukan elemen bangsa guna mencapai cita bersama. Kedaulatan dan independensi bangsa juga perlu diperkuat dengan semangat kemandirian untuk menghapus segala ketergantungan. Kontribusi kemanusiaan yang dilandasi semangat kepedulian juga akan memperkokoh bangunan kepemimpinan. Fondasi dan tiang-tiang kepemimpinan ini kemudian harus dilengkapi dengan rangka atap berupa kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan menunjang terlaksananya fungsi kepemimpinan secara utuh demi kejayaan negeri tercinta.

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kuat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbagai perbedaan yang ada akan kian memperindah khazanah bangsa. Negeri yang satu, terikat dalam cita wawasan nusantara. Bangsa yang utuh dan tak terpisah-pisahkan. Bangsa besar yang mampu berdiri sendiri. Negeri yang ramah, gemar menolong dan penuh tenggang rasa. Negeri dimana Islam yang juga bermakna damai penuh keselamatan, akan menjadi penguat negeri itu. Bukan hanya secara kuantitas, tetapi melakukan banyak perbaikan kualitas. Selamanya menjadi penguat, pun ketika berbagai ujian menerpa dan duka melanda. Senantiasa menjadi solusi untuk menjawab kompleksitas permasalahan bangsa. Terus menjadi cahaya yang mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita mulia…

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” (Pembukaan UUD RI 1945)

*tulisan ini dimuat sebagai prolog buku “Islam, Kepemimpinan & Keislaman” karya para pengurus Forum Negarawan Muda

Kegelisahan Pribadi Efektif

You have to decide what your highest priorities are and have the courage—pleasantly, smilingly, nonapologetically, to say “no” to other things. And the way you do that is by having a bigger “yes” burning inside. The enemy of the “best” is often the “good”.” (Stephen R. Covey)

Beberapa hari lalu saya mengikuti Training Pribadi Efektif “Seni Mengelola Diri Sendiri dan Memimpin Orang Lain” yang diselenggarakan oleh tim Human Capital Dompet Dhuafa di Universitas Terbuka. Judul pelatihannya yang terdengar familiar ternyata memang diambil dari buku “The 7 Habits of Highly Effective People”nya Stephen R. Covey. Saya pernah membaca buku tersebut belasan tahun lalu saat masih SMA, cukup aplikatif dan inspiratif. Pelatihan yang diselenggarakan pun berisi intisari dari hal-hal yang tertuang dalam buku best seller tersebut.

Ulasan mengenai training pribadi efektif apalagi resensi terhadap bukunya sudah banyak beredar. Apresiasi, modifikasi, hingga kritik terhadap materi yang tertuang dalam buku tersebut juga tidak sedikit. Ada yang coba mengaitkan gagasan dalam buku tersebut dalam perspektif Islam, bahkan ada yang mengkritisi habis konsep yang dikatakan oleh Stephen Covey terinspirasi dari ajaran Mormon, yang dianggap sesat oleh umat Nasrani. Tulisan ini akan lebih banyak mengulas tentang kegelisahan saya akan adanya paradigma yang keliru dalam memaknai tujuh kebiasaan yang efektif. Pelatihan lima hari yang dipadatkan menjadi dua hari tentu memungkinkan terlewatkannya beberapa materi yang sebenarnya penting untuk membentuk paradigma yang benar.

Berkenaan dengan konsep diri, paradigma dan prinsip, konsep agama (Islam) adalah sesuatu yang seharusnya mendasari. Prinsip ‘tanam – tuai’ misalnya, jika dipahami hanya sebatas hukum kausalitas maka akan kontraproduktif ketika dibenturkan dengan takdir dan kehidupan setelah mati. Fenomena banyaknya orang baik yang hidup sengsara atau orang jahat yang hidup sejahtera menjadi sulit dijelaskan. Contoh lain prinsip ‘dari luar ke dalam’ yang jika dipahami sebagai kebertahapan mutlak akan mendorong seseorang untuk tidak membuat perubahan di luar sebab perbaikan diri sendiri sejatinya tidak akan pernah selesai. Bingkai agama akan membuat semuanya lebih jelas dan terarah.

Kebiasaan efektif pertama adalah proaktif (proactive). Proaktif dicirikan dengan sikap pantang menyerah dan pantang penyerang, bertanggung jawab dan tidak mencari kambing hitam, optimis serta fokus pada lingkaran kendali bukan lingkaran kekhawatiran. Lingkaran kendali adalah hal-hal yang bisa kita ubah sementara lingkaran kekhawatiran adalah hal-hal yang ingin kita ubah. Disinilah kemudian timbul dikotomi antara reaktif yang fokus pada lingkaran kekhawatiran dengan proaktif yang fokus pada lingkaran kendali. Padahal lingkaran kekhawatiran sejatinya adalah mimpi dan kepedulian, mereka yang hanya fokus pada lingkaran kendali hanya akan sibuk pada dirinya. Lingkaran kekhawatiran ada bukan untuk diminimalisir oleh lingkaran kendali, tetapi justru untuk diperluas, sehingga lingkaran kendali dapat terus berkembang. Disinilah seharusnya dipersepsikan bahwa proaktif adalah sikap reaktif yang produktif, fokus pada lingkaran kendali untuk mengubah hal-hal yang ingin kita ubah, bukan sekadar mengubah hal-hal yang bisa kita ubah.

Kebiasaan efektif kedua adalah mulai dari tujuan akhir (begin with the end in mind) yang ditandai dengan menuliskan mimpi dan pernyataan misi (mission statement). Menuliskan ‘terminal tujuan’ dan ‘halte-halte’ dalam hidup sudah banyak dipahami sebagai salah satu upaya penting dan serius dalam menggapai impian. Namun ada dua catatan disini. Pertama, ‘terminal tujuan’ memang sebaiknya lebih fundamental dan jangka panjang, tidak melulu ukuran materi. Namun bagaimanapun, target dan tujuan hidup yang terukur tetaplah diperlukan sebagai indikator keberhasilan, yang terkadang bersifat materi. Esensinya adalah kejelasan arah dan keterhubungan dengan ‘terminal tujuan’ bukan sebatas materi atau nonmateri, terukur atau tidak terukur. Kedua, fleksibilitas dan agility dalam mencapai ‘terminal tujuan’ tetap diperlukan di tengah arus perubahan dan ketidakpastian. Menambah halte, mengubah rute, bahkan membuat terminal bayangan tidak masalah jika memang diperlukan.

Kebiasaan efektif ketiga adalah dahulukan yang utama (put first things first). Sudah sejak SMA saya punya perspektif bahwa prioritas baru akan muncul jika ada benturan. Jadi selama semua masih bisa dikelola tanpa ada benturan, semua hal masih bisa dilakukan. Memprioritaskan kuadran penting dan tidak mendesak justru akan kontraproduktif jika tidak banyak hal yang perlu dilakukan. Belum lagi berbicara fakta bahwa banyak hal yang tidak bisa dikatakan penting namun tidak pula tepat disebut tidak penting, atau berbagai hal yang rasanya tidak pas dikatakan mendesak tapi tidak dapat pula dibilang tidak mendesak. Menariknya, adanya aktivitas di seluruh kuadran justru kerapkali membuat hidup lebih seimbang dan optimal, selama bisa dikelola dengan baik. Menyusun skala prioritas memang baik, namun mewaspadai penyakit malas dan suka menunda (prokrastinasi) tidak kalah baik.

Ketiga kebiasaan efektif pertama berbicara tentang sukses pribadi, sementara ketiga kebiasaan efektif berikutnya fokus pada sukses bersama yang memang lebih dapat dipahami dengan simulasi dan implementasi. Kebiasaan efektif keempat adalah berpikir menang – menang (think win – win). Faktanya, kita tidak bisa memuaskan semua orang, selalu ada pihak yang merasa tidak menang atau tidak diuntungkan. Sehingga jika win-win solution tidak mungkin dihasilkan, paradigma yang bisa dimunculkan adalah tidak boleh menzhalimi, tidak merugikan dan meminimalisir kemudhorotan. Akhirnya, tidak mendapat apa-apa atau bahkan menerima kekalahan dengan sikap positif bisa jadi merupakan sebuah kemenangan.

Kebiasaan efektif kelima adalah komunikasi empatik (seek first to understand, then to be understood). Mungkin karena keterbatasan waktu penjelasannya tidak menyeluruh. Komunikasi empatik tidak sesederhana yang dijelaskan. Mengulang dengan singkat apa yang dikatakan, membahasakan kembali dan merefleksikan perasaan hanyalah bagian kecil dari komunikasi empatik. Pun demikian dengan kebiasaan efektif keenam yaitu sinergi (synergize). Sinergi tidak melulu berbicara tentang perbedaan, tetapi justru kuat dengan berbagai kesamaan, sinergi juga tidak semata ada dalam ranah komunikasi namun banyak bermain dalam ranah aksi. Adapun kebiasaan efektif ketujuh adalah mengasah gergaji (sharpen the saw) yang melingkupi semua kebiasaan. Sayangnya fokus pembahasan lebih banyak menyoal mengapa dan apa, bukan bagaimana.

Kesuksesan bersumber dari rangkaian kebiasaan yang efektif sebenarnya mudah dipahami, banyak kisah yang dapat menjadi contoh. Akan lebih baik lagi jika kesuksesan tersebut dihubungkan dengan visi jangka panjang dalam bingkai keimanan dan ketakwaan. Jika sukses pribadi adalah menjadi hamba Allah yang beribadah dan sukses bersama adalah menjadi khalifah yang memakmurkan bumi, maka mengasah gergaji adalah keistiqomahan dalam menjalankannya. Semoga kita bisa menjadi pribadi efektif yang sukses pribadi dan sukses bersama, yang sukses dunia dan akhirat. Aamiiin…

Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a, “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 201-202)

Bagai Pungguk Merindukan Pendidikan Gratis (2)

Membaca buku ini adalah merenungi keresahan pendidikan Indonesia. Mengingat kembali salah satu tujuan bernegara: mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan yang terasa makin menjauh di antara buramnya potret masyarakat. Akan tetapi, membaca buku ini akan menguatkan jangkar semangat di hati kita bahwa tujuan itu harus kita capai. Betapa bapak-bapak dan para ibu pendiri bangsa ini telah mewakafkan dirinya untuk membangun kemerdekaan sebagai gerbang mewujudkan tujuan bernegara. Masalahnya sekarang, setelah melewati gerbang itu, maukah kita menapaki jalan berat menuju tujuan itu? Kita tidak boleh menyerah, dan semangat itu harus dimulai sekarang. Dimulai dari hal kecil, dengan membaca buku ini.
(Sri Nurhidayah, Praktisi Pendidikan)

Ada tiga kriteria sekolah yang menjadi harapan masyarakat yaitu sekolah yang terjangkau secara finansial, memiliki kualitas yang baik, dan mudah untuk diakses atau dinikmati layanannya. Sayangnya, di Indonesia saat ini umumnya kita hanya boleh memilih maksimal dua kriteria. Jika mau cari sekolah yang terjangkau dan berkualitas, sudah pasti sulit diakses, persaingannya sangat ketat, yang mau masuk rebutan. Apabila hendak memilih sekolah yang mudah diakses dan masih terjangkau, kualitasnya diragukan. Udah gratis, gampang masuk, ga usah lah rewel minta kualitas. Dan kalau ingin sekolah yang berkualitas dan mudah diakses, hamper dapat dipastikan biayanya tinggi. Mihil bingits. Ono rego ono rupo. Dan masalah pendidikan tidak hanya selesai dengan menyediakan pendidikan gratis. Mencerdaskan kehidupan bangsa sama artinya dengan menyediakan pendidikan yang terjangkau, berkualitas, dan mudah diakses oleh segenap bangsa Indonesia.

Peran pemerintah dalam menyediakan keterjangkauan, kualitas dan akses pendidikan memang sangat vital, namun harus didukung penuh oleh sekolah dan masyarakat. Bisa jadi ada kontribusi dari sekolah yang menyebabkan adanya anak yang tidak lagi mengenyam pendidikan atau bahkan trauma bersekolah. Bisa jadi ada siswa dari keluarga miskin yang dikeluarkan karena tidak mampu membayar uang buku atau menunggak SPP. Mungkin juga ada anak yang kapok sekolah karena pembelajarannya membosankan, suasana kelas dan sekolah tidak mendukung, gurunya sering tidak masuk, kekerasan fisik ataupun karena kasus bullying. Yang pasti, peran sekolah dalam mewujudkan pendidikan untuk semua sangatlah besar, apalagi di zaman otonomi daerah seperti saat ini. Sekolah bahkan dapat memberikan materi ajar tambahan seperti akhlak, kewirausahaan ataupun tanggap bencana, guna meningkatkan efektifitas pembelajaran.

Satu hal yang kerap terlupa adalah pelibatan komite sekolah dan wali murid sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari dunia persekolahan dan pendidikan. Banyak persoalan di kelas dan sekolah yang sebenarnya mudah diselesaikan ketika melibatkan elemen masyarakat. Karena bagaimanapun, keluarga dan masyarakat adalah komponen penting pendidikan. Tidak sedikit kasus anak putus sekolah yang disebabkan karena minimnya kesadaran pendidikan keluarga dan masyarakat. Sekolah dianggap cuma buang uang, lebih baik bekerja yang dapat menghasilkan uang. Banyaknya orang sukses yang tidak mengenyam pendidikan tinggi dijadikan alasan, padahal lebih banyak lagi orang sukses dengan pendidikan memadai. Adanya seorang menteri yang cuma lulusan SMP jadi pembenaran, padahal puluhan menteri lainnya berpendidikan tinggi.

Permasalahan pendidikan amatlah kompleks, butuh sinergi dari seluruh pihak. Dan karena mencerdaskan kehidupan bangsa pada hakikatnya adalah tujuan negara bukan cuma pemerintah, peran serta masyarakat sebagai elemen terbesar mutlak diperlukan. Lebih baik menyalakan lilin daripada terus mengutuk kegelapan. Tidak sedikit kontribusi masyarakat yang dapat dilakukan untuk memperbaiki wajah pendidikan Indonesia, tidak selalu harus tergantung pada kebijakan pemerintah. Pendidikan untuk semua tentu akan lebih mudah terwujud jika segenap elemen masyarakat mau peduli dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya saja, setiap rumah tangga keluarga berkewajiban untuk memastikan bahwa dalam radius 50 meter dari rumahnya tidak ada anak yang putus sekolah. Caranya bisa dengan menjadi orang tua asuh, membentuk santunan pendidikan di lingkungan ataupun sekedar membantu sosialisasi berbagai program pendidikan yang mungkin sesuai dan dibutuhkan.

Advokasi pendidikan tidak hanya menyoal pembelaan hak warga negara lewat jalur hukum. Aksi nyata yang menghubungkan masyarakat marginal dengan kanal program yang dapat membantu mereka memperoleh haknya juga termasuk aktivitas advokasi. Betapa banyak program pendidikan pemerintah, swasta, ataupun LSM yang terkendala informasi. Melakukan pencerdasan dan sosialisasi adalah advokasi yang dapat dilakukan segenap elemen masyarakat untuk mendukung tercapainya pendidikan yang adil dan merata. Tidak hanya itu, masyarakat juga punya peran besar dalam mengontrol implementasi bantuan dan program pendidikan, baik fisik maupun non fisik. Kontrol ini dapat meminimalisir penyelewengan sehingga kebermanfaatan program dapat lebih optimal dirasakan. Apalagi sekarang sudah banyak kanal pengaduan, mulai dari ombudsman sampai KPK.

Untuk mengatasi banjir atau macet, tidak cukup dengan hebatnya program pemerintah tanpa didukung oleh infrastuktur sosial kemasyarakatan. Pun demikian dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Peran pemerintah dalam mengelola kebijakan pendidikan memang sangat penting untuk memperbaiki wajah pendidikan Indonesia, namun kepedulian dan peran serta masyarakat tidak kalah pentingnya. Jangan sampai itikad baik pemerintah bertepuk sebelah tangan. Ya, masyarakat tidak cukup hanya berharap akan terwujudnya pendidikan berkualitas untuk seluruh anak bangsa, tanpa berusaha mewujudkannya. Dengan pemahaman, dengan kepedulian, dengan aksi nyata. Sehingga tidak seperti pungguk yang merindukan bulan…

Bagai Pungguk Merindukan Pendidikan Gratis (1)

Perbaikan kualitas pendidikan dalam konteks negara yang sangat beragam seperti Indonesia seharusnya diawali dengan telaah atas hal-hal dasar, yang diikuti dengan alternatif penyelesaian, bukan tambal sulam. Sayangnya, sementara ini pemerintah lebih memilih menyebar ‘aroma’ harum demi factor yang tidak mengarah pada perbaikan pendidikan yang mumpuni. Sebut saja sekolah gratis, beasiswa untuk siswa miskin, bahkan kebijakan yang berupa PP atau Permen. Buku ini mengupas tuntas upaya-upaya pemerintah yang belum menyentuh dasar persoalan walau guyuran dana melimpah.
(Itje Chodidjah, Praktisi Pendidikan)

Alhamdulillah, akhirnya buku kedua yang kami tulis terbit juga di bulan ini. Jika buku pertama yang bertajuk “Besar Janji Daripada Bukti: Kebijakan dan Praktik Pendidikan Indonesia di Era Transisi Demokrasi” lebih banyak menyajikan potret dan data dunia pendidikan di Indonesia, disertai dengan berbagai hasil riset dan kajian. Buku kedua yang berjudul “Bagai Pungguk Merindukan Pendidikan Gratis: Advokasi Dompet Dhuafa Mewujudkan Pendidikan Anak Bangsa” lebih banyak berkisah mengenai perjuangan mewujudkan pendidikan untuk semua. Selain peran pemerintah, ada partisipasi masyarakat yang perlu ditumbuhkembangkan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hak seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan sudah diatur dalam konstitusi negara, bukan hanya dalam Undang-undang Sisdiknas, apalagi sekedar PP atau Permen. Hak ini jelas termaktub dalam amandemen Undang-undang Dasar 1945 pasal 31. Ayat pertama mengungkapkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Hak ini kemudian dipertegas dengan ayat kedua yang berbunyi “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Sangat jelas. Bahkan ada dua kata wajib di ayat tersebut yang mengisyaratkan seharusnya ada sanksi jika terjadi kelalaian dalam memenuhi amanah konstitusi tersebut.

Lalu bagaimana dengan sumber pembiayaannya? Hal ini sudah terjawab di ayat keempat yang menyatakan bahwa “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”. 20% APBN/ APBD bukan jumlah yang sedikit. Sekurang-kurangnya pula. Jika memang secara konstitusi sudah kuat, perangkat pelaksana dan pembiayaannya sudah tersedia, mengapa masih banyak anak putus sekolah? Mengapa pendidikan belum menjangkau seluruh anak Indonesia? Buku ini mengungkapkan, setidaknya ada tiga komponen yang memegang peran penting untuk mewujudkan pendidikan bagi seluruh warga negara, yaitu pemerintah, sekolah, dan masyarakat.

Sebagai komponen yang membuat, melaksanakan, hingga mengevaluasi kebijakan pendidikan, peran pemerintah sangatlah vital. Dengan berbagai sumber daya yang tersedia, kendala utamanya bermuara pada satu kata: KESUNGGUHAN. Sebagai contoh, coba saja kita tengok data jumlah sekolah di Indonesia. Hingga akhir 2011, di Indonesia tercatat ada 146.804 unit SD dan 22.527 unit MI. Timpang sekali dengan SMP dan MTs yang hanya berjumlah 30.290 unit dan 14.787 unit. Sementara jumlah bangunan SMA, SMK dan MA masing-masing hanya 11.306 unit, 9.164 unit dan 6.426 unit. Dimana keseriusan pemerintah jika secara daya tampung saja angka putus sekolah tidak bisa dihindarkan? Di Kabupaten Bogor misalnya, SD/ MI meluluskan sekitar 102 ribu siswa setiap tahun, sementara daya tampung SMP/ MTs hanya sekitar 72 ribu. Artinya, secara matematis sudah pasti ada sekitar 30 ribu siswa yang tidak dapat melanjutkan pendidikan di Kabupaten Bogor setiap tahunnya.

Kesungguhan pemerintah tidak dapat hanya diukur dari anggaran pendidikan yang digelontorkan. Anggaran pendidikan yang signifikan, tapi bukan berarti masalah pendidikan teratasi. Pada APBN 2003 sebelum berlakunya UU Sisdiknas anggaran pendidikan ‘hanya’ 13,6 triliun rupiah, jumlah ini meningkat hampir 30 kali lipatnya pada APBN 2015 menjadi sebesar 406.7 triliun rupiah, tapi efektifkah? Persentase penduduk buta huruf Indonesia menurun namun tingkat literasinya tetap rendah. Data UNESCO menyebutkan indeks membaca Indonesia hanya 0,001. Artinya, dari 1000 penduduk, hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Angka partisipasi sekolah meningkat, namun Human Development Index (HDI) yang memuat aspek pendidikan, ekonomi dan kesehatan cenderung stagnan. Peningkatan peringkat HDI dari 111 di tahun 2004 menjadi peringkat 108 di tahun 2014 bukanlah prestasi yang membanggakan.

Ketidakseriusan kian tampak jika menyoroti aspek pengelolaan anggaran. Sekitar 80% anggaran pendidikan baik di pusat maupun daerah ternyata dialokasikan untuk belanja pegawai. Sisanya baru digunakan untuk keperluan program pendidikan. Dari yang hanya sekitar 20% ini, di antaranya berupa beasiswa dan bantuan operasional pendidikan, pencairannya sering terlambat, bahkan tidak jarang ada berbagai pemotongan oleh oknum. Istilahnya jatah preman. Tidak hanya itu, ICW mengungkapkan bahwa korupsi terbesar di Indonesia ada di sektor pendidikan dengan indikasi kerugian Negara mencapai 619 miliar rupiah. Itu yang terungkap. Berbagai ketidakoptimalan dalam implementasi kebijakan pendidikan sejatinya menunjukkan tidak adanya kesungguhan pemerintah dalam mengawal program dan kebijakan. Buku ini mengungkapkan berbagai fakta lain yang diharapkan mampu menggugah kesungguhan pemerintah, lengkap dengan rekomendasi solusi tentunya. Karena tanpa kesungguhan, segala cita dan harapan takkan menjadi kenyataan. Bagai pungguk merindukan bulan…