Category Archives: Others

Sepakbola Eropa Tanpa Muslim (2/2)

Pesepakbola muslim di Liga Italia (Serie A) sebagiannya diisi pemain berpengalaman di liga lain. Misalnya Franck Ribery (Fiorentina) yang sudah memenangkan semua piala yang mungkin didapat ketika memperkuat Bayern Munchen. Edin Dzeko (AS Roma) pernah meraih gelar Bundesliga bersama Wolfsburg dan dua kali juara Premier League bersama Manchester City. Brahim Diaz (AC Milan) pernah juara Premier League 2017/2018 bersama Manchester City dan juara La Liga 2019/2020 bersama Real Madrid. Henrikh Mkhtariyan (AS Roma) pernah juara Liga Armenia (4 kali), juara Liga Ukraina (3 kali) dan juara Liga Eropa bersama Manchester United. Tiemoue Bakayoko (Napoli) pernah juara Ligue 1 bersama AS Monaco dan juara piala FA bersama Chelsea. Nama-nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Serie A di antaranya Calhanoglu dan Bennacer (AC Milan); Mert Muldur, Kaan Ayhan, Mehdi Bourabia, dan Hamed Jr. Traore (Sassuolo); Merih Demiral (Juventus); Berat Djimsiti (Atalanta); Kalidou Koulibaly, Elseid Hysad, dan Ghoulam (Napoli); Hakimi dan Handanovic (Inter Milan); Koray Gunter dan Mert Cetin (Verona); Amadou Diawara (AS Roma); Keita Balde, Omar Colley dan Mehdi Leris (Sampdoria); Fares dan Strakosha (Lazio); Sofyan Amrabat (Fiorentina); Adam Ounas (Cagliari); Barrow dan Mbaye (Bologna); Gervinho (Parma); Valon Behrami (Genoa); Amer Gojak (Torino); Mamadou Coulibaly (Udinese); dan Ahmad Benali (Crotone).

Perancis, negara yang dipimpin Presiden Macron, menyumbang banyak nama-nama pesepakbola muslim. Liga Perancis (Ligue 1) sering menjadi tempat dimana bakat para pesepakbola muslim ditemukan. Di skuad PSG sebagai juara Ligue 1 tiga muslim terakhir, ada sejumlah pemain muslim di antaranya Idrissa Gueye dan Abdou Diallo. Diallo masih berseragam AS Monaco ketika menjadi juara Ligue 1 2016/2017 bersama dengan banyak pesepakbola muslim lainnya seperti Toure, Bakayoko, Mendy, Traore, Nabil Dirar dan Djibril Sidibe. Sidibe masih bertahan di AS Monaco bersama pemain muslim lainnya termasuk Ben Yedder yang menjadi top skor Ligue 1 musim lalu bersama Mbappe. Nama-nama pemain muslim lainnya yang masih aktif bermain di Ligue 1 di antaranya Zeki Celik, Burak Yilmaz, Yusuf Yazici, dan Boubakary Soumare (Lille); Nayef Aguerd, Hamari Traore, dan M’Baye Niang (Rennes); Boubacar Kamara, Saif-Eddine Khaoui, dan Pape Gueye (Marseille); Amine Gouiri, Hassane Kamara, Boudaoui, dan Youcef Atal (Nice); Aouar, Ekambi, Benlamri, dan Moussa Dembele (Lyon); Niane, Boulaya, Kouyate, Bronn, Fofana, dan Maziz (Metz); Oumar Doucoure, Sylla, Haidara, dan Seko Fofana (Lens); Boufal, Thioub, Ismael Traore, El Melali, Abdoulaye Bamba, Coulibaly, Amadou, Ali-Cho, dan Alioui (Angers); Ben Arfa, Yacine Adli, Sabaly, dan Zerkane (Bordeaux); Wahbi Khazri, dan Abdoulaye Sidibe (Saint Etienne); Haris Belkebla (Brest); Abdelhamid, Berisha, El Bilal Toure, Zeneli, dan Drammeh (Reims); Umut Bozok (Lorient); Lafont, Abeid, Louza, Abdoul Kader Bamba, Abdoulaye Toure, dan Kalifa Coulibaly (Nantes); Ferhat, Duljevic, dan Benrahou (Nimes); Habib Diallo, Simakan, Ibrahima Sissoko, Lamine Kone, Idriss Saadi, dan Majeed Waris (Strasbourg); Chafik, Ngouyamsa Nounchil, dan Moussa Konate (Dijon).

Terlihat banyak bukan, pesepakbola muslim yang aktif bermain di lima liga terbaik Eropa? Nyatanya, belum semua nama tertulis disana, masih ada puluhan nama lain. Atau bahkan ratusan nama lagi jika kita sertakan liga-liga lain di Eropa. Secara kuantitas, keberadaan pemain muslim ini jelas akan memberikan dampak terhadap persepakbolaan di Eropa. Bagaimana dengan kualitas? Indikatornya tentu tidak mudah, apalagi ada ratusan nama. Kalau kita jadikan Liga Champions musim ini sebagai kompetisi tingkat tertinggi di level Eropa, kita akan mendapati pesepakbola muslim disana. Di posisi kiper ada Mendy (Chelsea) dengan 3 cleansheet (CS), dengan cadangan Bounou (Sevilla) yang belum pernah kalah (2 CS) dan Handanovic (Inter – 1 CS). Dengan formasi 3-5-2, di posisi bek kiri ada Bansebaini (Monchengladbach – 1 CS) yang sudah mencetak 2 gol (GS), Zouma (Chelsea – 3 CS) di tengah, dan bek kanan Djimsiti (Atalanta – 1 CS). Sebagai bek cadangan ada Rudiger (Chelsea – 1 CS), Hakimi (Inter – 1 CS), Mazraoui (Ajax), Aguerd (Rennes), dan Mendy (Madrid). Di posisi gelandang bertahan ada Gundogan (Man. City – 2 GS – 2 CS) dan Pogba (Man. United – 2 assist (AS) & 1 CS). Di posisi gelandang serang ada Salah (Liverpool – 2 GS, 1 AS, 3 CS) di kanan, Ziyech (Chelsea – 1 GS & 3 CS) di tengah, dan Mane (Liverpool – 1 GS, 1 AS & 3 CS) di kanan. Sebagai cadangan ada Visca (Basaksehir – 1 GS & 1 AS), Kante (Chelsea – 3 CS), Pjanic (Barcelona – 1 CS), dan Fares (Lazio). Di posisi striker ada Thuram (Monchengladbach – 2 GS & 2 AS) dan Dembele (Barcelona – 2 GS & 1 AS). Cadangan striker ada En Nesyri (Sevilla – 2 GS), Benzema (Madrid – 2 GS), Marega (Porto – 1 GS & 1 AS), dan Berisha (Salzburg – 1 GS & 1 AS). Jika Liga Eropa dibuatkan seperti ini juga pasti kita akan mendapati banyak pemain muslim disana. Ada 48 klub yang bermain dari negara yang lebih beragam. Saat ini, top skor sementara Liga Eropa adalah pesepakbola muslim, Yusuf Yazici (Lille – 6 GS). Di bawahnya ada beberapa pemain yang telah mencetak 4 gol, di antaranya pemain muslim, Munas Dabbur (Hoffenheim).

Banyak masyarakat yang lebih tertarik dengan sepakbola daripada politik, barangkali karena bisa menghibur tanpa menyakiti. Dalam sejarah manusia, para politisi non-muslim lah yang banyak mewarnai kehancuran peradaban manusia. Pun demikian dalam sejarah dunia kemanusiaan, para pemimpin non-muslimlah yang paling banyak mengalirkan darah rakyatnya. Karenanya, stigma terorisme yang dilekatkan pada Islam tidaklah beralasan. Apalagi dalam dunia persepakbolaan, banyak pemain muslim yang menghibur dan menorehkan prestasi tanpa mengumbar kebencian dan permusuhan. Sudah saatnya Bangsa Barat yang (konon) lebih rasional dalam berpikir, bisa lebih bijaksana dalam bersikap dan mengeluarkan statement. Kedamaian dunia tidaklah hadir dari menebar kebencian, apalagi terus berprasangka buruk dan mengkambinghitamkan orang lain. Para pejabat dan politisi sepertinya perlu belajar respect dari dunia sepakbola. Bagaimana kekerasan dan rasisme akan berbuah hukuman. Bagaimana performa lebih diutamakan di atas pertimbangan yang berbau SARA. Dan akhirnya, sepakbola Eropa tanpa Muslim akan jauh tertinggal, sebagaimana dunia tanpa Islam akan jatuh pada kegelapan.

Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan sepak bola. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan dan saya menemukan Islam” (Franck Ribery)

Sepakbola Eropa Tanpa Muslim (1/2)

I don’t have tattoos, I don’t change hairstyles, I don’t know how to dance. I just want to play football.” (Mo Salah)

Guys, who’s the most important for the French people? The teacher Samuel Paty who lost his life teaching knowledge to the kids. Or a millionaire football player Paul Pogba?”, demikian kicau akun ‘Angry Smurf’ di status twitter miliknya beberapa hari lalu seraya memention ‘The Sun Football’, media Inggris yang sempat menyebar hoax tentang mundurnya Paul Pogba dari timnas Perancis akibat komentar Presiden Macron yang dinilai menghina Islam. Twit tersebut sudah dihapus, namun jejak hasil polingnya masih bisa dilihat. Sebanyak 71,4% responden memilih Paul Pogba, dan hanya 28,6% dari lebih 12 ribu responden yang memilih Samuel Paty, guru yang disebut Presiden Perancis, Emmanuel Macron, sebagai pahlawan. Dalam kolom komentar, meski aksi terorisme banyak dikecam, tidak sedikit pula yang justru menyalahkan guru Paty yang dianggap turut menyebarkan kebencian.

Kontroversi pernyataan Presiden Macron sepertinya perlu pembahasan tersendiri, apalagi tidak sedikit negara di Eropa yang ‘tidak ramah’ dengan imigran muslim. Namun mendapati dukungan terhadap pesepakbola di atas kasus politik yang terjadi mengisyaratkan betapa banyak orang yang lebih mencintai sepak bola dibandingkan mereka yang membenci Islam. Misalnya ketika Mesut Ozil mundur dari timnas Jerman dua tahun lalu akibat diskriminasi, banyak pihak yang mendukungnya. Pun demikian ketika Ozil harus dicoret dari skuat Arsenal karena mendukung muslim Uighur. Dicoretnya Franck Ribery, Hatem Ben Arfa, Mamadou Sakho, Samir Nasri hingga Karim Benzema dari timnas Perancis yang dianggap tak lepas dari isu rasisme pun memperoleh banyak sorotan. Perancis mungkin lupa bahwa imigran muslim telah menghuni timnas Perancis sejak tahun 1936 dan sebagian besar skuad timnasnya saat ini adalah warga keturunan.

Sumbangsih ilmuwan muslim terhadap dunia sudah banyak yang mengupasnya, mulai dari Ibnu Sina (Bapak Kedokteran Modern), Al Zahrawi (Bapak Ilmu Bedah Modern), Ibnul Haytham (Bapak Optik Modern), hingga Al Khawarizmi (Bapak Aljabar, penemu angka nol). Lantas bagaimana kiprah pemain sepakbola muslim dalam sepakbola modern? Ali Daei, pemegang rekor gol terbanyak untuk timnas (109 gol) adalah seorang muslim. Karena sedemikian banyaknya pesepakbola muslim di dunia, pembahasan kali ini akan fokus pada pesepakbola muslim yang masih aktif bermain di lima liga top eropa. Jadi nama-nama pesepakbola muslim seperti Zinedine Zidane, Frederick Kanoute, Nicolas Anelka, Eric Abidal, Yaya Toure, Kolo Toure, hingga Thierry Henry tak masuk hitungan.

Mulai dari Liga Inggris, ada empat pesepakbola muslim yang mengantarkan Liverpool menjadi juara Liga Champions 2018/2019 dan juara Liga Inggris 2019/2020. Naby Keita dan Xherdan Shaqiri barangkali hanya pemain pelapis. Namun Mohamed Salah dan Sadio Mane punya peran vital di Liverpool beberapa musim terakhir. Tanpa mereka Liverpool akan memperpanjang puasa gelar. Salah menjadi topskor Liverpool di Liga Champions 2018/2019 dengan 5 gol dan 2 assist, diikuti Mane dengan 4 gol dan 1 assist. Keita mencetak 1 gol, Shaqiri 2 assist. Di Liga Inggris 2019/2020, Salah mencetak 19 gol dan 10 assist, Mane 18 gol dan 7 assist, Keita 2 gol dan 3 assist, dan Shaqiri 1 gol. Musim ini pun Salah dan Mane masih tak tergantikan sebagai top skor klub. Manchester City selaku juara Liga Inggris 2018-2019, juara piala FA 2019, dan juara Piala Liga 2018-2020 mencatatkan setidaknya tiga pemain muslimnya. Benjamin Mendy di posisi bek, Ilkay Gundogan di posisi gelandang bertahan, dan Riyad Mahrez di posisi gelandang serang. Riyad Mahrez juga berperan penting mengantarkan Leicester City menjadi juara Liga Inggris 2015/2016 bersama pemain muslim lainnya, N’Golo Kante. Musim 2016/2017, Kante pindah ke Chelsea dan bersama bek muslim, Kurt Zouma berperan mengantarkan Chelsea menjadi juara Liga Inggris 2016/2017, juara piala FA 2017/2018, dan juara Piala Eropa 2018/2019. Dalam skuad Manchester United yang menjuarai Liga Eropa 2016/2017 tercatat nama pemain muslim seperti Paul Pogba, Marouane Fellaini, dan Henrikh Mkhitaryan. Sementara dalam skuad Arsenal yang menjuarai Piala FA 2019/2020 lalu ada nama pemain muslim seperti Mesut Ozil, Granit Xhaka, Shkodran Mustafi, dan Sead Kolasinac. Selain itu masih ada puluhan pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Liga Inggris, di antaranya Elneny (Arsenal); El Ghazi, El Mohamedy, Bertrand Traore dan Trezeguet (Aston Villa); Jahanbakhsh dan Tariq Lamptey (Brighton); Edouard Mendy, Rudiger dan Ziyech (Chelsea); Ayew, Kouyate dan Sakho (Crystal Palace); Doucoure dan Tosun (Everton); Kamara (Fulham); Choudhury, Nampalys Mendy, Slimani, Soyuncu, dan Under (Leicester); Djenepo (Southampton); Aurier dan Sissoko (Spurs); Ivanovic (West Brom); Said Benrahma dan Issa Diop (West Ham); serta Romain Saiss dan Adama Traore (Wolves).

Di Liga Spanyol yang klub besarnya lebih terbatas, pesepakbola muslim barangkali tidak sebanyak di Liga Inggris. Ada nama Karim Benzema yang bersama Real Madrid berhasil tiga kali menjuarai La Liga termasuk musim 2019/2020, dan empat kali juara Liga Champions termasuk juara beruntun tahun 2016-2018. Torehan 254 golnya bersama Real Madrid menunjukkan kontribusi besarnya. Sebelumnya, torehan 66 golnya berhasil mengantarkan Lyon menjuarai Ligue 1 empat musim beruntun (2004-2008). Pemain muslim lainnya di skuad Real Madrid ada Eden Hazard dan Ferland Mendy. Di klub rival, ada Miralem Pjanic dan Ousmane Dembele, pesepakbola muslim yang berseragam Barcelona. Kala terakhir menjuarai Liga Champions 2014/2015, dalam skuad Barcelona ada nama Munir El Haddadi, pesepakbola muslim yang saat ini bermain bersama Sevilla. Setelah mendapat tiga gelar La Liga bersama Barcelona, Munir berhasil menjuarai Liga Eropa 2019/2020 berseragam Sevilla bersama pesepakbola muslim lainnya, kiper Yassine Bounou dan striker Youssef En-Nesyri. Selain itu, juga masih ada nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di La Liga, di antaranya Januzaj (Real Sociedad); Nabil Fekir dan Aissa Mandi (Real Betis); Abdoulay Diaby dan Enes Unal (Getafe); Kone (Elche); Kondogbia dan Diakhaby (Valencia); Mahmoud (Deportivo); Papakouli Diop (Eibar); Yokuslu dan Emre Mor (Celta Vigo); Bardhi (Levante); dan El Yamiq (Real Valladolid).

Di Liga Jerman, pesepakbola muslim terbilang banyak, namun tidak setenar nama-nama di Liga Inggris. Di skuad Bayern Munchen, ada rekrutan baru bek muslim Bouna Sarr. Di skuad Borussia Dortmund, ada Emre Can dan Mahmoud Dahoud yang beragama Islam. Sementara di skuad Leipzig ada Amadou Haidara, Yussuf Poulsen, Dayot Upamecano, dan Ibrahima Konate. Nama-nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Bundesliga di antaranya Demirbay, Moussa Diaby, Amiri, dan Bellarabi (Leverkusen); Thuram, Bansebaini dan Ibrahima Traore (Monchengladbach); Rani Khedira (Augsburg); Al Ghoddioui (Stuttgart); Omer Toprak (Werder Bremen); Amin Younes, Aymen Barkok, dan Almamy Toure (Eintracht Frankfurt); Admir Mahmedi dan Yunus Malli (Wolfsburg); Bicakcic, Belfodil, Dabbur, dan Kasim Nuhu Adams (Hoffenheim); Amir Abrashi (Freiburg); Ellyes Skhiri dan Salih Ozcan (Koln); Amine Harit, Salif Sane, Nassim Boujellab, Suat Serdar, Vedad Ibisevic, Nabil Bentaleb, Ahmed Kutucu, Ozan Kabak, dan Hamza Mendyl (Schalke); serta Oztunali dan Niakhate (Meinz).

(bersambung)

Dan FPL (Musim Ini) Pun Usai… (2/2)

Sudah banyak situs hingga akun youtube yang menjelaskan mengenai aturan main, tips & trick, hingga rekomendasi pemain terkait FPL, pun sebenarnya menganalisis dan memilih sendiri tim FPL merupakan suatu keasyikan tersendiri. Dengan poin dan peringkat yang biasa saja tentunya tidak layak bagi saya untuk banyak berkoar-koar tentang strategi dalam bermain FPL. Namun di sisi lain barangkali ada analisis dari catatan pengalaman newbie yang bisa dijadikan salah satu referensi untuk optimalisasi mendulang poin FPL.

Pertama, manajer FPL baru perlu memahami aturan main dan istilah FPL. Misalnya bench boost, free hit, wild card, blank game week, double game week, dan sebagainya. Ketentuan bagaimana poin diberikan ataupun potensi pengurangan poin juga perlu dipahami. Anggaplah sebagai bekal awal sehingga tidak terlalu coba-coba. Kedua, pastikan availability pemain. Poin FPL memang banyak ditentukan dari keterlibatan pemain terhadap gol, misalnya mencetak gol atau assist, atau melakukan aksi penyelamatan dan cleansheet. Namun memastikan pemain ikut bertanding adalah lebih mendasar. Pertandingan FPL perdana saya di pekan 1 musim 2018/2019 berantakan karena ada empat pemain yang tidak bermain atau cidera, termasuk Son Heung-Min yang ikut Asian Games 2018. Pekan berikutnya tidak lebih baik karena keempat pemain tersebut diganti (poin minus 12) namun mubazir tidak semuanya dimainkan. Di pekan-pekan berikutnya juga kurang diuntungkan ketika mengganti pemain yang ditandai cedera namun ternyata dimainkan, dengan pemain yang tidak ditandai cidera namun ternyata tidak main atau bahkan cedera. Bagaimanapun, pemain yang ikut bertanding walaupun kalah masih berpotensi mendapat poin selama tidak banyak mendapat pengurangan poin.

Ambil contoh untuk pemain musim 2019/2020 ini. Untuk posisi kiper, banyak yang bermain penuh di 38 pertandingan. Kiper Liverpool, Alisson, yang sempat cedera di awal musim hanya ada di urutan ke-12 untuk posisi goalkeepers FPL dengan 122 poin, jauh di bawah kiper Burnley, Nick Pope (170 poin). Bahkan Alisson yang mencatatkan 13 cleansheet dan hanya kebobolan 24 gol, masih kalah jumlah poinnya dibandingkan Foster, kiper Watford (137 poin) yang bermain penuh dan hanya mencatatkan 9 cleansheet, kebobolan 64 gol, dan timnya pun terdegradasi. Di posisi defenders Liverpool, van Dijk (178 poin) memang ada di bawah Trent (210 poin) dan Robertson (181 poin) yang assistnya dua digit. Namun bermodalkan bermain penuh, 5 gol dan 2 assist, van Dijk ada di atas Doherty (Wolves, 167 poin, 4 gol, 8 assist) dan Lundstram (Sheffield United, 144 poin, 5 gol, 4 assist) yang tidak selalu menjadi pilihan utama. Pun demikian dengan Tarkowski (Burnley, 143 poin, 2 gol, 3 assist) yang bermain full, total poinnya di atas beberapa pemain yang lebih banyak terlibat dalam gol namun tak bermain penuh, misalnya Azpilicueta (Chelsea, 130 poin, 2 gol, 6 assist).

Kemudian ada Ward-Prowse, midfielder yang bermain penuh untuk Southampton, mencetak 5 gol dan 4 assist dengan total poin 117. Poin ini sama dengan Bruno Fernandes (MU, 8 gol, 8 assist), dan Dele Alli (Spurs, 8 gol, 6 assist) yang waktu bermainnya jauh lebih sedikit. Antonio yang dimainkan West Ham dengan waktu bermain hanya setengah dari Ward-Prowse, walau berhasil mencetak 10 gol dan 4 assist, total poinnya hanya 111. Untuk posisi striker, ada Jimenez (194 poin) yang bermain penuh untuk Wolves. Dengan sama-sama mencetak 17 gol, Jimenez dengan 7 assistnya mengungguli Rashford (MU, 177 poin) yang memberikan 8 assist.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak perlu terlalu sering melakukan transfer pemain, kecuali kondisi urgen akibat cedera, suspensi, dan sebagainya. Atau mempertimbangkan jadwal pertandingan ke depan. Bukan hanya transfer berlebih akan ada konsekuensi pengurangan 4 poin (-4) untuk setiap kelebihan pemain, namun tidak ada jaminan pemain yang menggantikan akan lebih baik dari yang digantikan. Apalagi bola itu bulat dan konsisten bermain baik juga tidak mudah. Belum lagi jika poin akhir perolehan sama, manajer FPL yang lebih sedikit melakukan transfer akan menempati peringkat yang lebih tinggi. Selain itu, semakin banyak transfer, semakin banyak opsi, semakin membuat pusing. Hal ini terkait dengan catatan berikutnya yaitu jangan terlalu serius dalam bermain FPL. Alih-alih menjadi hiburan, yang ada malah stres. Tak perlu dipikirkan berlarut-larut, seringkali lintasan pikiran yang muncul di awal adalah intuisi yang benar. Salah pilih starter, salah pilih kapten, hingga salah transfer adalah hall umrah dalam FPL. Selanjutnya, kecermatan dalam memanfaatkan chips, DGW, dan BGW juga menjadi seni tersendiri dalam bermain FPL.

Kiper yang paling potensial biasanya bukan yang paling mahal, namun yang paling tangguh. Banyak bermain, banyak cleansheet, banyak penyelamatan, termasuk dari titik putih. Pemain defender yang paling potensial biasanya bek sayap yang kerap memberi assist, atau bek yang diandalkan dalam situasi set piece. Posisi midfielder yang paling potensial biasanya gelandang serang yang banyak terlibat dalam gol, serta eksekusi bola mati. Gelandang serang ini sangat diuntungkan dalam mendulang poin. Di satu sisi bisa berperan sebagai striker, misalnya Martial di MU dan Antonio di West Ham. Di sisi lain dapat poin dari cleansheet. Tak heran pemain dengan poin tertinggi ada di posisi ini. Musim 2018/2019 lalu ada Salah (poin 259), Hazard (238), Sterling (234), dan Mane (231). Di musim 2019/2020 ini ada De Bruyne (poin 251), Salah (233), dan Mane (221). Sementara untuk posisi striker yang paling potensial adalah yang paling produktif mencetak gol, kemudian memberikan assist. Musim lalu ada Aubameyang (23 gol) dan Aguero (22 gol), di musim ini ada Vardy (23 gol), Aubameyang (22 gol) dan Ings (22 gol). Dan yang terbaik belum tentu yang paling mahal. Pope, De Bruyne, dan Vardy bukanlah yang paling mahal di posisinya. Hanya Trent Alexander-Arnold, bek terbaik sekaligus termahal harganya di FPL.

Dan FPL musim ini akhirnya usai. Pandemi Covid-19 membuat musim ini terasa berbeda. Head to head leagues yang cukup menarik dalam bragging rights kehilangan keseruannya justru di masa-masa krusial. Namun di sisi lain, wildcard di musim ini dapat jatah tiga kali. Dan waktu jeda antar musim pun lebih singkat. Liga Inggris 2020/2021 akan dimulai kembali 12 September 2020, hanya berjarak delapan pekan dari berakhirnya musim 2019/2020. Dan hanya berselang tiga pekan dari final Liga Champions 2020. Dan karena FPL semakin dikenal luas, bahkan ternyata di kantor dan lingkungan perumahan ada mini liga FPL, manajer FPL musim depan sepertinya akan semakin meningkat. Apalagi pandemi Covid-19 belum benar-benar berakhir sehingga games online juga semakin diminati. Belum lagi realita persaingan Liga Inggris 2020/2021 tampaknya kian sengit. Dominasi Liverpool dan Manchester City terancam dengan menanjaknya performa tim lain semisal Chelsea dan Manchester United. Hal ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri. Dan FPL musim ini akhirnya usai, sampai jumpa di FPL musim depan. Jika ada mini liga FPL bolehlah saya ikutan. Atau jangan-jangan ada rekomendasi fantasy football lain yang cukup menarik? Saya sudah coba UCL Fantasy, masih kalah seru lah dibandingkan FPL. Salam panah hijau!

“Football is a game of mistakes. Whoever makes the fewest mistakes wins.” (Johan Cruyff)

Dan FPL (Musim Ini) Pun Usai… (1/2)

Football is a game about feelings and intelligence” (Jose Mourinho)

Berbagai liga sepakbola Eropa telah selesai. Beberapa liga bahkan selesai lebih awal akibat pandemi Covid-19. Liga Perancis (Ligue 1) selesai di pekan ke-28 dengan pertandingan Lille vs Lyon pada 8 Maret 2020 sebagai pertandingan pamungkas. PSG ditetapkan sebagai juara Ligue 1 setelah memuncaki klasemen dengan selisih 12 poin plus satu pertandingan lebih banyak dibandingkan Marseille di posisi runner-up. Hingga saat ini kasus positif corona di Perancis masih terus bertambah pun sudah melewati puncaknya. Perancis ada di urutan ke-19 dengan lebih dari 180 ribu kasus corona dan fatality rate mencapai 16,7%. Liga Belgia (Jupiler League) juga dihentikan lebih awal menyisakan satu pertandingan di babak reguler. Club Brugge yang memimpin klasemen babak reguler dengan selisih 15 poin dinobatkan sebagai juara. Biasanya setelah babak reguler, Jupiler League dilanjutkan dengan babak play-off yang mempertemukan tim 6 besar untuk menentukan juara. Kurva Covid-19 Belgia juga serupa dengan Perancis namun dengan jumlah kasus corona 65 ribuan. Liga Belanda (Eredivisie) juga berakhir lebih awal. Pertandingan FC Groningen vs PSV Eindhoven pada 8 Maret 2020 (pekan ke-26) menjadi pertandingan terakhir musim ini. Dan tidak ada juara Eredivisie musim ini.

Beberapa liga lain yang lanjut setelah sempat dihentikan akibat Covid-19 juga telah selesai. Liga Jerman (Bundesliga) yang mulai kembali bergulir 16 Mei 2020 telah selesai pada 27 Juni 2020 dengan Bayern Munchen sebagai juaranya, selisih 13 poin dari Borussia Dortmund di posisi runner-up. Kemenangan atas tuan rumah Werder Bremen 0-1 pada 16 Juni 2020 sudah memastikan gelar juara Bayern Munchen untuk delapan musim secara berturut-turut. Liga Spanyol (La Liga) yang mulai kembali bergulir 11 Juni 2020 telah selesai pada 19 Juli 2020 dengan Real Madrid sebagai jawaranya, terpaut lima poin dengan Barcelona di posisi kedua. Kemenangan 2-1 atas Villareal pada 16 Juli 2020 telah memastikan gelar La Liga ke-34 bagi Real Madrid. Liga NOS Portugal yang dimulai kembali 3 Juni 2020 baru saja berakhir kemarin dengan FC Porto sebagai juara, unggul lima poin dari Benfica di posisi kedua. Kemenangan 2-0 atas Sporting CP pada 15 Juli 2020 sudah cukup untuk memastikan gelar liga ke-29 kali bagi FC Porto. Kemenangan 2-4 atas tuan rumah Krasnodar pada 5 Juli 2020 sudah cukup mengantarkan Zenit St. Petersburg menjuarai Premier League Rusia untuk keenam kalinya pun liga baru berakhir pada 22 Juli 2020. Di klasemen akhir, Zenit unggul 15 poin atas Lokomotiv Moskow di posisi kedua.

Liga Italia (Serie A) yang baru kembali bergulir 20 Juni 2020, baru akan selesai pada 2 Agustus 2020. Namun kemenangan 2-0 Juventus atas Sampdoria tadi malam sudah cukup mengantarkan La Vecchia Signora menjadi juara Serie A untuk sembilan musim secara beruntun. Klub-klub yang mendominasi masih itu-itu saja, tidak ada kejutan berarti. Satu-satunya klub kejutan adalah Istanbul Basaksehir yang menjuarai Liga Turki (Super Lig) untuk pertama kalinya, mengalahkan dominasi Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas. Kemenangan tipis 1-0 atas Kayserispor yang diperkuat dengan kekalahan Trabzonspor 3-4 oleh Konyaspor pada 19 Juli 2020 sudah cukup mengunci gelar juara. Pun di pertandingan terakhir tadi malam Basaksehir kalah 3-2 dari tuan rumah Kasimpasa, selisih poin akhir dengan runner-up Trabzonspor masih empat poin.

Beralih ke Liga Inggris (Premier League/ EPL) yang ada kaitannya dengan judul tulisan ini, kemenangan Chelsea 2-1 atas Manchester City pada 25 Juni 2020 mengakhiri puasa gelar liga Inggris selama 30 tahun bagi Liverpool. Walaupun perebutan tiket ke kompetisi Eropa masih sengit hingga akhir, Liverpool sudah mengunci gelar juara liga Inggris yang ke-19 pada pekan ke-31. Di klasemen akhir, Liverpool unggul selisih 18 poin dari Manchester City di posisi runner-up. Liverpool merupakan tim yang paling sedikit kebobolan (33 gol) dan hanya kalah oleh Manchester City (102 gol) dalam urusan membobol gawang lawan (85 gol). Kedua bek sayap Liverpol, Trent Alexander-Arnold (13 assist) dan Andrew Robertson (12 assist), hanya kalah jumlah assistnya oleh Kevin de Bruyne (20 assist). Namun top skor Liverpool dua musim terakhir, M. Salah (19 gol) dan Sadio Mane (18 gol), kalah produktif dibandingkan Jamie Vardy (Leicester City – 23 gol), Danny Ings (Southampton – 22 gol), Aubameyang (Arsenal – 22 gol), dan Raheem Sterling (Manchester City – 20 gol).

Fantasy Premier League (FPL) adalah sebuah permainan resmi yang diselenggarakan oleh The Football Association, asosiasi sepakbola Inggris, sebagai ajang promosi Liga Primer Inggris. FPL dimainkan dengan cara memilih 15 pemain sepakbola yang bermain di Liga Primer Inggris setiap pekannya dengan aturan tertentu, untuk memaksimalkan poin sesuai dengan kontribusinya pada pertandingan sebenarnya di Liga Primer Inggris. Pada permainan ini, para pemain FPL, yang selanjutnya disebut sebagai manajer FPL, diuji kemampuan analisisnya dalam menentukan pemain-pemain yang diharapkan meraih poin tinggi di setiap pertandingan. Musim ini adalah musim kedua saya bermain FPL. Total poin yang terkumpul sebesar 2136, menempati peringkat 644.200 dari 7.628.968 pemain FPL di seluruh dunia dan peringkat 10.617 di Indonesia. Bisa dikatakan mengalami peningkatan dibandingkan musim lalu dengan 2086 poin dan hanya menempati peringkat 967.881 dari 6.324.237 pemain FPL dunia dan peringkat 22.008 di Indonesia. Tujuh jutaan manajer FPL barangkali tidak semuanya aktif dan tidak sedikit juga yang membuat lebih dari satu akun. Namun game online dengan jutaan pemain tentu dapat dikatakan populer. Apalagi FPL adalah permainan strategi yang dinamikanya sangat ditentukan oleh realitas EPL, hal ini tentu sangat menarik.

Ada berbagai publikasi baik berupa tugas akhir, hasil penelitian, hingga buku yang mengangkat tema tentang FPL. Beberapa hasilnya pun menarik. Bermain FPL ternyata membuat manajer FPL untuk menonton lebih banyak pertandingan EPL. Hal ini tentu menjadi sarana promosi EPL yang sangat efektif. 84% manajer FPL menonton pertandingan EPL lain yang bukan pertandingan tim favoritnya. 47.5% manajer FPL akan membeli pemain dari tim rival jika dinilainya menguntungkan, bahkan 41.4% manajer FPL lebih menginginkan tim fantasinya menang dibandingkan tim favoritnya. Penghianatkah? Ternyata hasil riset menyebutkan bahwa loyalitas pada tim favorit dengan loyalitas terhadap tim fantasi adalah dua hal yang berbeda. Karenanya tidak ada penurunan loyalitas fans secara nyata seperti menurunnya penjualan tiket atau merchandise dikarenakan FPL.

Pihak penyelenggara resmi FPL menyediakan hadiah utama hingga hadiah setiap pekannya. Ada juga yang menjadikan FPL sebagai sarana taruhan. Namun penelitian menyebutkan bahwa motivasi utama untuk bermain FPL adalah bragging rights. Gengsi dan pamer. Membuktikan diri lebih bisa menganalisis pemain sepakbola, lebih memahami sepakbola, lebih beruntung, dan sebagainya. Rata-rata manajer FPL menghabiskan waktu 6.9 jam per pekan untuk keperluan FPL, dimana 96.6% waktu tersebut dihabiskan ketika jam kantor/ sekolah. Namun bukan berarti FPL menurunkan produktivitas kerja karyawan. 49% manajer FPL mengatakan bahwa FPL membantu mengeratkan hubungan dengan rekan kantor atau teman sekolah. Bahkan 62% manajer FPL mengatakan bahwa kompetisi di FPL mampu meningkatkan moral mereka.

(bersambung)

Corona Bikin Kangen Nonton Bola (2/2)

Kurva Covid-19 di Spanyol juga sudah mulai menurun sepekan terakhir walaupun tidak sedrastis Jerman. Dengan fatality rate sebesar 10.2% dan recovery rate 57.6%, setidaknya butuh waktu sebulan bagi Spanyol untuk pulih dari pandemi Covid-19. Artinya, jika penurunan kasus Coronanya sesuai tren, rencana La Liga untuk kembali bergulir pada 6 atau 13 Juni 2020 masih mungkin terjadi. Di puncak klasemen, Barcelona sementara ini unggul dua pon dari rivalnya, Real Madrid. Sementara di dasar klasemen, Espanyol hanya berjarak enam poin dari Celta Vigo di posisi ke-17. Dengan masih adanya 11 pertandingan tersisa, klasemen akhir masih sangat mungkin berubah. Namun rencana melanjutkan La Liga sangatlah berisiko mengingat Spanyol merupakan negara dengan kasus Corona tertinggi ke-2 di dunia, kasus baru per harinya masih di atas 2.700 kasus dan jumlah korban jiwa baru setiap harinya di masih di atas 250 orang. Belum lagi, pertandingan Liga Champion yang disinyalir menyebarkan virus Corona di Eropa dua di antaranya melibatkan klub La Liga, yaitu Valencia (vs Atalanta) pada 10 Maret 2020 dan (Liverpool vs) Atletico Madrid pada 11 Maret 2020. Jika La Liga akan kembali bergulir, pengelolaannya harus sangat ketat.

Beberapa hari lalu, Perancis menyusul Belgia dan Belanda membatalkan liga domestiknya. Paris Saint-Germain (PSG) yang unggul 12 angka di atas Marseille di posisi runnerup dan masih mempunyai tabungan satu pertandingan lebih banyak baru saja disahkan menjadi juara Ligue 1. Dua peringkat terbawah, Toulouse dan Amiens terdegradasi digantikan juara Ligue 2 Lorient dan runner-upnya Lens. Nimes tetap bertahan di Ligue 1 walaupun ada di posisi ke-18 sebab tidak ada playoff promosi-degradasi dengan peringkat ke-2 Ligue 2. Seperti halnya Belgia, kurva Covid-19 baru akan mencapai puncak, dengan fatality rate 14.6% dan recovery rate 29,6%. Dengan jumlah kasus yang jauh lebih banyak dibandingkan Belgia dan Belanda, sepertinya butuh lebih dari dua bulan bagi Perancis untuk pulih dari pandemi Covid-19. Entah bagaimana nasib Lyon dan PSG di Liga Champions. Laga Liga Champions antara Lyon (vs Juventus) pada 26 Februari 2020 dan PSG (vs Dortmund) pada 11 Maret 2020 sendiri dianggap mempercepat penyebaran virus corona di Perancis.

Italia termasuk negara yang dianggap kurang baik dalam penanganan Covid-19. Kurvanya sudah mulai menurun 11 hari terakhir namun tidak signifikan. Jika trennya tetap tanpa terjadi percepatan, masih butuh sekitar 5 bulan untuk Italia agar kembali normal. Dengan fatility rate 13.6% dan recovery rate 37%, Italia sebenarnya tidak lebih buruk dari Belgia atau Perancis. Bahkan jumlah kasus baru dan korban jiwa baru di Italia masih lebih rendah dari Spanyol. Namun kecepatan pemulihannya masih sangat rendah untuk jumlah kasus yang sedemikian besar. Pemain Serie A rencana akan mulai latihan mandiri pada 4 Mei 2020 dan bersama tim pada 18 Mei 2020. Serie A sendiri rencananya akan dimulai kembali 2 Juni 2020 tanpa penonton hingga akhir tahun ini. Di klasemen sementara, Juventus memimpin klasemen dengan poin 63, dibayang-bayangi Lazio (poin 62) dan Inter Milan (poin 54, dengan 1 pertandingan lebih banyak). Sementara juru kunci Brescia (poin 16) hanya berjarak 9 poin dari Genoa di posisi ke-17. Dengan masih menyisakan 12 – 13 pertandingan, klasemen akhir masih mungkin berubah. Namun keputusan melanjutkan Liga Italia memiliki risiko yang sangat tinggi, apalagi setidaknya ada 16 pemain dari 6 klub Serie-A yang pernah dan masih positif Corona.

Sementara itu, total kasus corona di Inggris mencapai 118.343 dengan fatality rate mencapai 20.4%, tertinggi di antara negara lainnya, dengan kasus terbesar di London yang mencapai 24.297 kasus. Walaupun risikonya masih sangat tinggi, Premier League direncanakan akan dimulai kembali pada 8 atau 13 Juni 2020. Di klasemen sementara, Liverpool sendirian di puncak dengan keunggulan 25 poin dari posisi runner-up Manchester City yang memiliki satu pertandingan lebih banyak. Dengan 9 pertandingan tersisa, Liverpool hanya butuh dua kemenangan untuk mengunci gelar juara setelah penantian 30 tahun. Sementara perebutan jatah Liga Champion, Liga Eropa, dan tidak terdegradasi masih cukup ketat.

Hanya klub-klub dari lima liga terbaik di Eropa yang masuk fase gugur 16 besar Liga Champions, sementara untuk Liga Eropa jumlah negara yang terlibat lebih banyak lagi. Di fase gugur 16 besar Liga Eropa masih ada Istanbul Basaksehir (Turki), FC Copenhagen (Denmark), LASK (Austria), FC Basel (Swiss), Olympiacos (Yunani), Rangers (Skotlandia), Shakhtar Donetsk (Ukraina). Kurva Covid-19 di Turki dan Denmark mulai turun, mungkin butuh 1.5 bulan untuk kembali normal. Austria dan Swiss bahkan bisa pulih lebih cepat. Yunani dan Skotlandia juga relatif turun, hanya Ukraina yang kurva Covid-19nya masih relatif naik. Secara umum, jika kompetisi di Eropa akan dilanjutkan pada Agustus 2020 relatif masih memungkinkan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di Asia, Korea Selatan dan Vietnam bersiap untuk kembali memulai liga domestiknya beberapa waktu ke depan. Dengan recovery rate di atas 80%, kedua negara ini hampir berhasil menuntaskan pandemi Covid-19 di negaranya. Indonesia sepertinya perlu lebih bersabar dan tidak tergesa-gesa untuk memulai kembali liga domestik. Walaupun fatality ratenya sudah turun ke angka 7.8%, recovery rate Indonesia baru di angka 15%. Kurva belum mencapai puncak pula. Setidaknya butuh waktu dua bulan lebih bagi Indonesia untuk kembali pulih. Bagaimanapun, lanjutnya liga domestik bukan cuma perkara olahraga, namun ada kepentingan bisnis di dalamnya. Karenanya, selain pertimbangan kesehatan dan kemanusiaan, faktor keuangan dan ekonomi juga akan menjadi pertimbangan. Indonesia perlu wawas diri, tidak perlu ikut-ikutan apalagi sombong. Yakinlah, badai Corona akan berlalu, dan sepakbola akan kembali memulai babak baru.

You hear now more and more it’s not only the elderly and weaker – it’s not only that, there are younger people involved who can die of it as well. It’s not about that, it’s about just, show heart and a bit of sensibility and do the right thing: stay at home as long as we have to. And then at one point we will play football again as well, 100 per cent. I couldn’t wish more for it because of a few really good reasons, how you can imagine. I can’t wait actually, but even I have to be disciplined and I try to be as much as I can.” (Jurgen Klopp)

Corona Bikin Kangen Nonton Bola (1/2)

Pemerintah dan otoritas sepak bola memperlakukan para pemain seperti kelinci percobaan selama pandemik virus corona.” (Wayne Rooney)

Per 30 April 2020, jumlah kasus corona di Indonesia menembus lima digit menjadi 10.118 kasus. Walaupun tingkat kesembuhannya sudah lebih meningkat dibandingkan dengan tingkat kematian, namun angkanya masih di bawah jumlah kasus baru. Sehingga secara umum kurvanya belum turun. Amerika Serikat masih tak terkejar di peringkat teratas dengan 1.066.885 kasus atau sekitar 32.8% dari total kasus dunia. Jika melihat jumlah kasus baru sebulan terakhir yang di atas 20 ribu setiap harinya, ditambah faktor pemerintah dan masyarakatnya, pandemi Covid-19 di Amerika Serikat sepertinya masih akan lama. Tepat di bawah Amerika Serikat, negara-negara dengan kasus corona terbanyak berturut-turut adalah Spanyol (239.639 kasus), Italia (203.591), Perancis (166.420), United Kingdom (165.221), dan Jerman (161.985). Lima negara Eropa yang sekaligus memiliki liga sepakbola terbaik di Eropa. Liga-liga terbaik yang saat ini tidak dapat berlangsung terimbas pandemi Covid-19.

Tiga tahun terakhir, final liga champions 2017 – 2019 terjadi di bulan Ramadhan (1438 – 1440H), menemani makan sahur. Sementara pada Ramadhan 1437H ada gelaran Piala Eropa 2016 yang menemani santap sahur. Terlepas dari aktivitas yang lebih produktif seperti shalat dan tilawah di bulan Ramadhan, bagi para pencinta sepakbola terasa ada yang hilang selama sebulan lebih ini. Apalagi jika dalam kondisi normal, beberapa pekan ke depan seharusnya bisa ada beberapa partai penentuan juara liga-liga top dunia. UEFA berharap liga-liga domestik dilanjutkan dan diselesaikan paling lambat 2 Agustus 2020, namun yang terjadi justru beberapa negara menghentikan liga sepakbolanya. Belgia menjadi negara pertama yang membatalkan liga domestiknya pada 2 April 2020 lalu, dan menetapkan Club Brugge sebagai juara Jupiler League 2019/2020. Club Brugge memang sudah mengunci gelar sebelum Jupiler League dihentikan akibat Covid-19. Club Brugge mengakhiri kompetisi sebagai pemuncak klasemen dengan selisih 15 poin dari Gent di posisi runner-up dengan hanya satu pertandingan tersisa. Tidak ada degradasi di Jupiler League, namun dua tim teratas di Divisi II yang memang sudah menyelesaikan turnamennya akan promosi ke Jupiler League.

Belgia ada di urutan ke-13 kasus positif Corona dengan 48.519 kasus. Fatality rate yang mencapai 15.7% termasuk yang tertinggi di dunia sementara recovery ratenya hanya 23.9%. Kurvanya baru akan mencapai puncak sehingga mungkin butuh dua bulan lagi bagi Belgia untuk pulih. Pekan lalu giliran liga Belanda yang dibatalkan dan beberapa hari lalu liga Argentina juga mengambil sikap yang sama. Berbeda dengan liga Belgia, tidak ada juara dan tidak ada degradasi di liga Belanda dan liga Argentina. Keputusan ini jelas tidak menguntungkan Ajax Amsterdam yang menjadi pemuncak klasemen sementara Eredivisie dengan 56 poin yang hanya unggul selisih gol dengan AZ Alkamaar di posisi runner-up. Dengan menyisakan 9 pertandingan, Feyenoord (50 poin) dan PSV Eindhoven (49 poin) masih berpeluang mengejar. Jatah playoff Liga Eropa (posisi 4 – 7) pun masih ketat. Namun keputusan ini jelas menguntungkan RKC Waalwijk dan ADO Den Haag yang ada di posisi degradasi. Belanda ada di urutan ke-14 kasus positif Corona dengan 39.316 kasus dan fatality rate 12.2%. Kurvanya juga belum mencapai puncak dan mungkin butuh sedikit lebih lama untuk pulih dibandingkan Belgia. Sementara itu di Argentina, Boca Junior yang memimpin klasemen dengan keunggulan satu poin dari River Plate juga gagal menjadi juara Superliga. Namun dengan liga yang baru separuh jalan, apapun masih mungkin terjadi di Superliga. Memang kurva Covid-19 nya masih relatif naik, namun Argentinya sebenarnya hanya ada di urutan ke-53 kasus positif Corona dengan 4.285 kasus, fatality rate 5% dan recovery rate 28%. Jauh lebih baik dari negara Amerika Selatan lainnya semisal Brazil, Peru, atau Ekuador yang masuk peringkat 20 besar kasus Corona.

Jika melihat data dan kurva penyebaran Covid-19, dari lima liga top Eropa, barangkali hanya liga Jerman yang relatif realistis untuk melanjutkan liga. Walaupun jumlah kasus Corona di Jerman ada di peringkat ke-6 dunia dan berjarak cukup jauh dari Turki (117.589 kasus) di peringkat ke-7, namun kasus Corona yang terselesaikan di Jerman mencapai 80.3%. Case fatality ratenya hanya 4% sementara recovery ratenya mencapai 76.2%. Dalam tiga pekan terakhir, jumlah pasien yang sembuh di Jerman relatif lebih banyak dibandingkan jumlah kasus, sehingga jumlah orang yang terinfeksi menurun drastis dari 72.865 orang pada 6 April 2020 menjadi hanya 32.886 orang per 30 April 2020. Jika tren ini berlanjut, pandemi Covid-19 akan berlalu dari Jerman dalam waktu kurang dari tiga pekan ke depan. Atau mungkin sedikit lebih lama mengingat sudah lebih dari sebulan ini Jerman turut membantu merawat pasien Covid-19 dari negara lain. Liga Jerman rencana dilanjutkan pada 9 Mei 2020 tanpa penonton. Kalaupun harus diundur sampai akhir Mei 2020, dengan sisa 9 pertandingan (kecuali Eintracht Frankfurt dan Werder Bremen yang punya 1 pertandingan lebih banyak), Bundesliga masih sangat realistis diselesaikan sebelum 2 Agustus 2020. Bundesliga saat ini bisa dikatakan menjadi liga terketat dari lima liga top Eropa. Bayern Munchen di puncak klasemen (55 poin) dibayang-bayangi oleh Borussia Dortmund (51), RasenBallsport Leipzig (50), Borussia M.Gladbach (49), dan Bayer Leverkusen (47). Perebutan tempat terakhir di fase knockout Liga Eropa (peringkat 6) juga masih sangat ketat. Sementara di jurang degradasi, Paderborn, Werder Bremen, dan Fortuna Duesseldolf masih harus bekerja keras untuk bisa selamat.

(bersambung)

Lanjut Iseng Putar Otak

“Makin cerdas otak kita dilatih oleh matematika, makin besar harapan kita akan ketetapan dan kebenaran buah pikiran kita” (Tan Malaka)

Huuufffftttt ada apa dengan diri ini… Setelah iseng tentang sepakbola, iseng berlanjut ke hitung-hitungan matematika. Barangkali karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga untuk menghindari stress ‘dipingit’ di rumah, aktivitas produktifnya adalah iseng. Biar isengnya produktif, harus ada setidaknya salah satu dari olah hati, olah pikir, olah karsa, atau olah raga. Kali ini isengnya adalah olah pikir karena tidak sedikit yang mengirimkan tebak-tebakan beberapa hari terakhir. Berikut adalah beberapa jenis tebak-tebakan yang sempat saya terima, dan saya lengkapi dengan jawabannya.

Pertama, jenis tebak-tebakan operasi matematika. Relatif mudah diselesaikan dengan menuliskan gambar dalam bentuk angka. Kunci menyelesaikan soal jenis ini hanya dua hal: ketelitian dan pemahaman akan aturan dasar operasi hitung matematika. Ketelitian dibutuhkan karena ada detail yang sengaja dibuat untuk mengecoh jawaban. Sementara aturan dasar operasi hitung matematika mendahulukan tanda kurung, kemudian akar dan pangkat, kemudian perkalian dan pembagian, baru penjumlahan dan pengurangan. Untuk soal disamping, dari petunjuk (1) diperoleh bahwa sepasang sepatu bernilai 30/3 = 10, artinya sebuah sepatu bernilai 5. Dari petunjuk (2) diperoleh bahwa 2 orang bernilai 20-10 = 10, sehingga setiap orang bernilai 10/2 = 5. Dari petunjuk (3) diperoleh bahwa 4 pistol bernilai 13-5 = 8, sehingga sebuah pistol bernilai 8/4 = 2. Orang yang membawa 2 pistol dan 2 sepatu bernilai 5+4+10 = 19, disinilah ketelitian dibutuhkan. Pertanyaannya adalah 5 + 19 x 2. Disinilah pemahaman aturan dasar operasi hitung matematika dibutuhkan, dimana perkalian harus didahulukan dibandingkan penjumlahan. Sehingga 5 + 19 x 2 = 5 + 38 = 43.

Dengan teknik yang sama, untuk soal disamping, dari petunjuk (1) diperoleh bahwa sepasang sepatu bernilai 30/3 = 10, artinya sebuah sepatu bernilai 5. Dari petunjuk (2) diperoleh bahwa 2 kulkas bernilai 20-10 = 10, sehingga satu kulkas bernilai 10/2 = 5. Dari petunjuk (3) diperoleh bahwa 6 botol bernilai 17-5 = 12, sehingga satu botol bernilai 12/6 = 2. Ketelitian diperlukan disini karena kulkas membawa botol. Adapun kulkas yang membawa 3 botol bernilai 5+6 = 11, sehingga pertanyaannya menjadi 5 + 11 x 2. Karena perkalian didahulukan daripada penjumlahan, 5 + 11 x 2 = 5 + 22 = 27. Mudah bukan?

Kedua, jenis tebak-tebakan angka. Biasanya digambarkan dengan password untuk membuka sebuah gembok. Soal seperti ini secara serius bisa diselesaikan dengan menggunakan variabel pengganti a, b, c atau x, y, z. Namun secara sederhana dapat diselesaikan dengan logika yang menghubungkan antar petunjuk. Bahkan tidak perlu menggunakan kertas coret-coretan. Untuk soal disamping, misalnya. Dari petunjuk (1) dan (2) dapat disimpulkan bahwa angka 1 adalah angka yang salah karena posisinya tidak berubah tapi angka yang benar di petunjuk (1) di posisi yang salah sementara di petunjuk (2) di posisi yang benar. Dengan logika yang sama, dari petunjuk (2) dan (5) dapat disimpulkan bahwa angka 8 adalah angka yang salah. Karena angka 1 dan 8 adalah angka yang salah, dari petunjuk (2) diperoleh angka 9 adalah angka yang benar di posisi yang benar. Selanjutnya, dari petunjuk (4) dijelaskan bahwa angka 2 (serta 5 dan 3) adalah angka yang salah, sehingga di petunjuk (5) hanya angka 6 yang benar. Berarti di petunjuk (3), angka 4 yang salah. Sementara angka 6 ada di digit pertama karena angka 9 sudah ada di digit ke 3. Terakhir, dari petunjuk (1) diperoleh angka 7 yang benar dan posisinya ada di digit kedua. Sehingga angka yang dimaksud adalah 679.

Terlihat rumit ketika dituliskan, namun jika hanya dibayangkan secara logika sebenarnya lebih sederhana. Berikutnya untuk model soal serupa dengan empat digit. Dari petunjuk (1) dan (2) di sebelah kiri, karena angka 2 dan 6 (serta angka 4 dan 8 ) salah, berarti angka 5 dan 7 adalah angka yang benar. Dari petunjuk (3) di kanan atas, karena angka 5 benar, berarti angka 0, 1, dan 4 salah. Karena angka 0, 1, 2, 4, 6, dan 8, berarti angka yang benar adalah 3, 5, 7, dan 9. Dari petunjuk (4) di kanan bawah didapatkan bahwa angka 7 ada di digit kedua, dan angka 9 ada di digit ke 4. Dari petunjuk (1) dan (3), angka 5 seharusnya ada di digit pertama. Terakhir, angka 3 yang tersisa mengisi digit ketiga. Sehingga diperoleh angka yang dimaksud 5739. Barangkali masih relatif mudah.

Ketiga, jenis soal matematika lanjutan. Untuk menjawabnya butuh pemahaman matematika lebih lanjut, butuh coret-coretan, dan butuh waktu. Misalnya untuk soal disamping, untuk dapat menjawabnya butuh pengetahuan mengenai teorema phytagoras dan kesebangunan pada bangun datar. Menjelaskan jawabannya pun tidak mudah, kecuali buat mereka yang menyukai matematika. Dari gambar disamping, kita mengetahui beberapa hal. Pertama, kesemua bangun ruang yang disebutkan luasnya adalah berbentuk persegi, sehingga panjang sisinya adalah akar dari luasnya. Kedua, segitiga-segitiga yang terbentuk dari tumpukan persegi dengan sisi miring adalah sisi persegi yang ditanya merupakan segitiga yang sebangun sehingga perbandingan antara sisi-sisinya sama. Ketiga, luas persegi yang ditanya adalah kuadrat dari panjang sisi miring tersebut. Panjang sisi miring dapat diketahui dengan teorema phytagoras jika tinggi dan panjang alasnya diketahui. Untuk tinggi relatif mudah karena merupakan penjumlahan dari panjang sisi ketiga persegi. Jadi tingginya = √3 + √12 + √27 = √3 + 2√3 + 3√3 = 6√3. Adapun panjang alasnya bisa diperoleh dari kesebangunan tiga segitiga yang terbentuk, dimulai dari segitiga di tengah yang angkanya diketahui. Panjang alas segitiga di tengah adalah selisih sisi persegi di bawah dengan persegi di tengah, atau 3√3 – 2√3 = √3. Karena ketiga segitiga sebangun, panjang alas segitiga di bawah berarti 3√3/2 dan panjang alas segitiga di atas adalah √3/2. Sehingga panjang alas keseluruhan adalah √3/2 + √3 + 3√3/2 = 3√3. Sehingga panjang sisi persegi yang dicari merupakan akar dari kuadrat tinggi ditambah kuadrat panjang alas. Jadi sisinya = √27+108 = √135. Sehingga luas persegi yang ditanyakan adalah kuadrat dari √135 = 135.

Cara lain adalah dengan menghitung panjang sisi miring dari ketiga segitiga yang sebangun, dimulai dari segitiga di tengah. Panjang sisi miring segitiga di tengah = √12+3 = √15. Karena ketiga segitiga sebangun, panjang sisi miring segitiga di bawah berarti 3√15/2 dan panjang sisi miring segitiga di atas adalah √15/2. Sehingga panjang sisi miring = √15/2 + √15 + 3√15/2 = 3√15. Sehingga luas persegi yang ditanyakan adalah kuadrat dari 3√15 = 9 x 15 = 135. Cukup rumit ya? Tapi begitulah, di balik kerumitan ada keasyikan tersendiri. Barangkali ada lagi cara lain selain kedua cara di atas. Dan sejujurnya soal matematika lanjutan yang saya terima lebih rumit dari contoh soal disamping, membutuhkan pemahaman trigonometri dan aturan segitiga, jawabannya pun lebih panjang dan sulit dijelaskan. Namun ada kebahagiaan tersendiri ketika menemukan jawaban yang benar dari rangkaian penghitungan yang panjang.

Terakhir, jenis soal iseng. Jawabannya bisa jadi tidak ada, tidak terhingga, atau ada namun harus diselesaikan out of the box. Misalnya untuk soal disamping. Kita bisa menganggapnya hanya guyonan yang tidak memerlukan jawaban. Kita bisa menjawabnya dengan kata ‘banyak’, bukan dengan angka. Kita bisa juga menjawabnya dengan 0, sebab yang jadi petunjuk adalah daun, bukan pohon. Kita juga boleh menjawabnya dengan angka 2, dimana pohon diasumsikan sebagai sebuah satuan. Dan kita juga bisa menjawabnya dengan angka 6, karena tree + tree = six. Inilah salah satu jawaban out of the box. Apapun jawabannya, yang penting bisa dipertanggungjawabkan. Apakah Anda punya jawaban lain? Atau barangkali Anda punya tebak-tebakan lain? Silakan share ke saya, dengan senang hati saya akan menyelesaikannya ^_^.

Math is like love; a simple idea, but it can get complicated.” (R. Drabek)

Ikutan Iseng Tentang Sepakbola

Klub Favorit : AFC Ajax
Negara Favorit : Brazil
Pemain yang tidak disukai : Zlatan Ibrahimovic
Klub yang tidak disukai : Barcelona
Pemain Favorit : Cristiano Ronaldo
Pelatih Favorit : Otto Rehhagel
Pemain Legendaris Favorit : Pele
Kiper Favorit : Gianluigi Buffon
Bek Favorit : Dani Alves
Gelandang Favorit : Andrea Pirlo
Sayap Favorit : Ryan Giggs
Playmaker Favorit : Ronaldinho
Penyerang Favorit : Miroslav Klose

Jika kamu menyukai sepak bola salin, edit dan posting yuk!

Begitulah status facebook saya hari ini setelah lama tidak nulis status. Ikutan iseng barangkali karena kangen juga sama sepakbola yang sudah beberapa pekan vakum akibat wabah COVID 19. Bukan cuma liga-liga top dunia dan Indonesia yang sementara ditiadakan, main futsal rutin juga terpaksa off karena physical distancing. Di tulisan ini barangkali saya akan sampaikan sedikit penjelasan mengenai jawaban yang diberikan dalam status di atas. Singkat saja, soalnya kalau dijabarkan setiap pertanyaan bisa jadi satu tulisan.

Untuk klub favorit saya memilih AFC Ajax karena konsistensinya dalam melahirkan dan menemukan pemain sepakbola berkualitas. Beberapa akademi sepakbola lain juga bagus, misalnya Barcelona dan MU. Namun klub-klub tersebut banyak uang sehingga kerap juga membeli pemain instan. Berbeda dengan AFC Ajax yang seakan jadi supplier pemain sepakbola. Nama-nama seperti Johan Cruyff, Marco van Basten, Frank Rijkaard, Dennis Bergkamp, Edwin van der Sar, Clarence Seedorf, Edgar Davids, Patrick Kluivert, dan Wesley Sneijder adalah beberapa pemain yang dibina di AFC Ajax sebelum bergabung dengan klub-klub besar Eropa lainnya. Selain menjadi klub paling sukses di Belanda dengan 34 gelar Eredivisie dan 19 piala KNVB, AFC Ajax juga konsisten bersaing di kancah Eropa meskipun silih berganti ditinggalkan pemain bintangnya.

Gelaran Piala Dunia yang pertama kali saya tonton adalah Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat dimana Brazil menjadi juaranya. Sejak saat itu saya memfavoritkan timnas Brazil yang bermain indah dan tidak individualis. Sepakbola bisa dikatakan sudah menjadi budaya keseharian masyarakat Brazil, karenanya kaderisasi pemain sepakbola terbaik di Brazil tidak pernah putus. Bukan hanya menjadi negara yang terbanyak memenangi Piala Dunia dengan 5 trofi, Brazil merupakan satu-satunya timnas yang selalu tampil dalam setiap edisi Piala Dunia tanpa pernah absen. Bahkan tidak pernah melalui jalur playoff. Konsisten di level tertinggi.

Untuk pemain yang tidak disukai, sempat terpikir nama pemain seperti Pepe dan Sergio Ramos yang sering bermain ‘kotor’. Atau pemain bengal semacam Mario Balotelli atau Joey Barton. Tapi sepertinya saya lebih tidak suka pemain yang kelewat sombong, walaupun Zlatan termasuk pemain binaan AFC Ajax. Jika sesumbar sekadar buat psy war kayak Mourinho sih mendingan, ini mah sombongnya sudah jadi tabiat keseharian. Bukan cuma terlalu tinggi menilai dirinya, tetapi pernyataannya kerap merendahkan pihak lain. Kayaknya masa kecilnya yang suram membuat Zlatan mengidap narsistik akut. Bahkan dalam sebuah wawancara, Zlatan menyamakan dirinya dengan Tuhan. Padahal walaupun sering juara liga di beberapa klub, Zlatan terancam tidak akan pernah merasakan juara liga champions, juara Euro, apalagi juara Piala Dunia. Dan yang lebih bikin kesal lagi adalah namanya ada embel-embel ‘Ibrahim’nya, padahal kelakuannya jauh dari keteladanan Abul Anbiya.

Untuk klub yang tidak disukai, sebenarnya saya kurang menyukai klub yang ‘membeli gelar’ dengan gelontoran uang semisal Chelsea, PSG, atau Manchester City. Apalagi Barcelona punya akademi yang bagus juga. Hanya saja Barcelona terlalu sering –dan terlalu jelas—dibantu wasit dalam beberapa pertandingan, terutama di tingkat Eropa. Bukan hanya rivalnya di Spanyol seperti Real Madrid dan Atletico Madrid, klub-klub Eropa seperti AC Milan, Chelsea, hingga PSG pernah jadi korbannya. Sampai ada istilah uefalona untuk menggambarkan bahwa Barcelona sangat dianakemaskan oleh UEFA.

Untuk pemain favorit di era sekarang sepertinya tidak jauh dari nama Cristiano Ronaldo dan Leonel Messi. Pemilihan Ronaldo bukan karena Messi dari Barcelona, namun CR7 menurut saya adalah paket lengkap. Dengan tubuh atletis proporsional, kaki kanan dan kiri serta kepalanya sama berbahayanya bagi petahanan lawan. Konsistensinya juga teruji dengan bermain bagus di beberapa klub, bahkan di level timnas Portugal. Dalam kurun waktu yang panjang. Di dalam lapangan, kepemimpinannya dapat dirasakan. Di luar lapangan, kedermawanan sosialnya tidak diragukan.

Untuk pelatih favorit, saya menyukai figur seperti Claudio Raneiri yang dengan low profile berhasil membawa klub selevel Leicester City menjadi juara Liga Inggris. Namun sebelum masanya Raneiri, ada pelatih serupa yang menurut saya lebih fenomenal. Adalah Otto Rehhagel yang telah berpartisipasi dalam lebih dari 1.000 pertandingan Bundesliga, sebagai pemain dan pelatih. King Otto berhasil mengantarkan klub medioker Werder Bremen menjadi klub papan atas Eropa dengan 2 kali juara Bundesliga, 2 kali juara DFB Pokal plus sekali juara Piala Winner. Melatih klub sebesar Bayern Munchen justru membuat Rehhegel meredup. King Otto kembali bersinar setelah mengantarkan klub promosi Kaiserslautern sebagai juara Bundesliga. Tak cukup membuat kejutan di level klub, King Otto membuat kejutan lainnya ketika mengantarkan timnas ‘anak bawang’ Yunani menjadi Juara Euro 2004 dengan mengalahkan tuan rumah Portugal yang juga diperkuat Cristiano Ronaldo.

Untuk pemain legendaris favorit, barangkali karena saya suka dengan timnas Brazil, nama pertama yang muncul adalah Edson Arantes do Nascimento atau lebih dikenal dengan Pele. Pele adalah satu-satunya pemain yang mampu meraih juara Piala Dunia sebanyak 3 kali plus Piala Jules Rimet. Pada 1999, Pele terpilih sebagai pesepakbola terbaik seabad oleh International Federation of Football History & Statistic (IFFHS) dan juga terpilih sebagai Athlete of the Century oleh Komite Olimpiade Internasional. Berdasarkan IFFHS, top skor timnas Brazil ini merupakan pencetak gol terbanyak di dunia dengan mencetak 1281 gol dari 1363 pertandingan, termasuk pertandingan tidak resmi.

Untuk kiper favorit, saya suka dengan figur kiper yang mampu memberikan rasa tenang kepada pemain lain, misalnya Edwin van der Sar dan Allison Becker. Sayangnya van der Sar belum teruji di level timnas Belanda, sementara Allison belum teruji konsistensinya. Adalah Gianluigi Buffon yang sudah teruji di level klub maupun timnas Italia, dan konsistensinya sudah teruji. Bahkan di usianya yang sudah 42 tahun, Buffon masih terus bermain dan bisa diandalkan. ‘Gigi’ juga mencerminkan kepemimpinan dan loyalitas. Saat Juventus dihukum degradasi ke Serie B, alih-alih mencari klub lain, Gigi justru melihatnya secara positif, mau merasakan menjadi juara Serie B yang belum pernah dirasakannya.

Untuk bek favorit ini agak sulit. Brazil punya Cafu dan Roberto Carlos, Italia punya Paulo Maldini dan Javier Zanetti, dan masih banyak bek hebat lainnya. Namun pilihan secara pragmatis akhirnya jatuh ke Dani Alves. Bagaimanapun, jika trofi adalah ukuran keberhasilan seorang pesepakbola, Dani Alves adalah pesepakbola tersukses. Koleksi trofi Dani Alves mencapai 42 trofi bersama enam tim berbeda, termasuk di level internasional bersama timnas Brasil. Jauh melampaui bek-bek hebat lainnya. Hingga saat ini Dani Alves masih bermain di Sao Paulo dan belum menunjukkan tanda-tanda akan gantung sepatu.

Posisi gelandang (midfielder) ini cakupannya cukup luas, mulai dari gelandang bertahan, gelandang sayap, gelandang serang, hingga playmaker. Dalam beberapa kasus bahkan posisi gelandang serang ini tumpang tindih dengan posisi striker. Karenanya, nominasi nama untuk gelandang favorit ini sangat banyak. Alasan kenapa akhirnya saya memilih Andrea Pirlo dari sekian banyak nama adalah karena posisinya sebagai gelandang bertahan sekaligus deep playmaker merupakan posisi gelandang yang tidak akan tumpang tindih dengan posisi pemain sayap, gelandang serang, apalagi striker. Sebagai gelandang, Pirlo barangkali tidak mencetak banyak gol, namun memanjakan penyerang dengan umpan cantik dan terarah. Hampir semua trofi di level klub dan timnas Italia pernah diraihnya.

Dari semua pemain sayap, saya memfavoritkan Ryan Giggs yang berhasil mengoleksi 35 trofi dari 8 ajang berbeda bersama satu klub: Manchester United. Walau di musim-musim terakhirnya, Giggs banyak bermain lebih ke dalam seperti playmaker, namun sebagian besar posisi yang dijalaninya adalah sebagai pemain sayap. Giggs adalah pemain yang paling banyak tampil membela MU. Dari 963 laga di seluruh ajang kompetisi bersama MU, Giggs mencetak 168 gol dan hebatnya tidak pernah sekalipun mendapat kartu merah. Beberapa rekor Giggs di Liga Inggris di antaranya assist terbanyak (162 assist) dan trofi Liga Inggris terbanyak (13 kali juara Liga Inggris).

Posisi playmaker ini mirip dengan gelandang, cukup banyak nominasinya. Alasan memilih Ronaldo de Assis Moreira atau lebih dikenal dengan Ronaldinho adalah karena skill dan pribadinya yang unik. Di usia 13 tahun, Ronaldinho sudah dilirik media Brazil setelah mencatatkan kemenangan 23-0 dalam laga futsal lokal dimana kesemua gol dicatat olehnya. Ronaldinho dikenal sebagai playmaker penuh trik dan sangat piawai mengolah si kulit bundar. Banyak gerakan, umpan, hingga golnya yang kreatif dan ‘kurang ajar’. Ronaldinho bisa dikatakan sebagai pesepakbola terbaik di dunia sebelum era Ronaldo dan Messi. Sesuatu yang khas darinya adalah wajahnya yang selalu tersenyum, termasuk ketika mendapat kartu merah bahkan ketika di penjara sekalipun. Di penjara Paraguay, bakat Ronaldinho masih terlihat jelas ketika membawa timnya juara pada turnamen futsal antar tahanan.

Miroslav Josef Klose barangkali tidak seproduktif Joseph Bican, Romario, Pele, Puskas, atau Gerd Muller dalam urusan mencetak gol. Bahkan dibandingkan Ronaldo atau Messi pun jumlah golnya barangkali hanya setengahnya. Klose merupakan pencetak gol terbanyak timnas Jerman dengan catatan 71 gol, sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan raihan 16 gol. Klose mencetak gol di 4 edisi Piala Dunia sekaligus membawa Jerman meraih medali (minimal masuk semifinal). Menariknya, timnas Jerman tidak pernah kalah saat Klose berhasil mencetak gol pada pertandingan tersebut. Namun yang paling berkesan dari Klose adalah sikap fair play nya, hal inilah yang menjadikannya favorit.

Itu jawaban saya, bagaimana jawaban Anda?

Jika Bisa Kembali ke Masa Lalu…

If you could see your whole life from start to finish, would you change things?
(Louise Banks dalam film ‘Arrival’)

Akhirnya, 44 chapter komik Boku Dake ga Inai Machi selesai kubaca dalam dua hari. Komik karya Kei Sanbe ini sudah diadaptasi ke dalam anime bahkan live action dengan judul internasionalnya ‘Erased’. Erased berkisah tentang Satoru Fujinuma, seorang pemuda yang memiliki kemampuan untuk mengirim dirinya kembali ke waktu sebelum kejadian berbahaya terjadi sehingga memungkinkan dirinya untuk melakukan pencegahan. Saat ibunya dibunuh, kemampuan Satoru mengirim dirinya ke 18 tahun lalu, saat dia masih di sekolah dasar. Kondisi ini memberinya kesempatan untuk mencegah penculikan berantai yang merenggut nyawa kedua teman sekelasnya dan seorang anak kecil dari sekolah lain. Pelaku penculikan ini pula yang membunuh ibunya di masa depan, apa ada hubungannya?

Cerita berkaitan dengan perjalanan waktu menurutku selalu menarik. Kita bisa melatih fokus sekaligus imajinasi, menghubungkan berbagai peristiwa antar waktu, mencari dan menganalisis petunjuk yang terserak, dan biasanya cerita seperti ini memiliki plot twist yang tak terduga. Beberapa film yang terkait dengan relativitas waktu bahkan memukau nalar (mind blowing), bukannya membuat rileks malah bikin pusing semisal film Interstellar ataupun Inception. Pertanyaannya adalah bagaimana jika kita bisa kembali ke masa lalu? Apa yang akan kita lakukan?

Sebagai manusia yang hobi berpikir, pertanyaan ini sudah lama muncul. Dan jawaban pertama yang muncul adalah: tidak mungkin manusia bisa kembali ke masa lalu. Dalam dogma agama sudah jelas bahwa waktu adalah makhluk Tuhan yang memiliki karakteristik sangat bernilai (tak tergantikan), cepat berlalu, dan tidak akan kembali. Karenanya solusi dari perbuatan dosa adalah taubat dan tidak mengulanginya, bukan kembali ke masa lalu dan memperbaikinya. Secara logika pun kembali ke masa lalu lebih sulit diterima dibandingkan pergi ke masa depan. Tak perlu pusing dengan teori relativitas khusus Einstein yang membuat seseorang ‘melompat’ ke masa depan jika bergerak dengan kecepatan cahaya, para astronot yang ke luar angkasa pun merasakan ‘lompatan waktu’ ini sehingga ketika kembali ke bumi seakan sudah berada di masa depan. Berbeda dengan kembali ke masa lalu. Mereka yang mengaku atau dicurigai sebagai time traveler faktanya belum benar-benar terbukti. Jika ada mesin waktu dari masa depan, harus ada ‘teknologi portal’ di masa lalu untuk memunculkan mesin waktu tersebut. Jika tidak ada, bukan hanya tidak bisa kembali ke masa depan, lokasi munculnya tak bisa dipastikan aman. Dalam hal ini teleportasi masih lebih masuk akal karena relativitas jarak masih dalam dimensi ruang dan waktu yang sama. Sementara kembali ke masa lalu masih sebatas fiksi dan fantasi. Lagipula jika kembali ke masa lalu dimungkinkan, maka istilah ‘penyesalan selalu datang di akhir, jika di awal namanya pendaftaran’ sudah tak lagi relevan.

Namun jawaban menafikan kemungkinan manusia untuk kembali ke masa lalu tidaklah menjawab pertanyaan. Jika memang bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan kita lakukan? Maka jawaban kedua yang terlintas adalah: apapun yang dilakukan, takdir masa depan tidak akan berubah. Dalam hal ini terjadi yang disebut predestination paradox. Masa depan terbentuk dari masa lalu, dan sudah terbentuk, apapun yang dilakukan di masa lalu. Dalam hal ini terjadi looping timeline atau paradoks waktu. Masih ingat film Terminator dimana John Connor mengirim Kylee Reese untuk melindungi ibunya di masa lalu dari terminator yang akan membunuh ibunya sehingga John Connor tidak dilahirkan. Yang terjadi kemudian adalah ternyata Kylee merupakan ayah dari John, orang yang mengirimnya ke masa lalu. Pola serupa juga terjadi di beberapa film seperti Project Almanac, Harry Potters and The Prisoner of Azkaban, hingga Avengers: Endgame. Bahkan mesin waktu Doraemon pun seringkali menerapkan pendekatan ini. Perjalanan waktu adalah bagian dari takdir masa depan, sehingga tidak akan mengubahnya.

Jawaban kedua ini masih belum menjawab dengan tegas pertanyaan. Masih membatasi imajinasi pula. Lantas bagaimana jika kita bisa kembali ke masa lalu dan mampu mengubah masa depan, apa yang akan kita lakukan? Sebelum menjawabnya, kita perlu berimajinasi terlebih dahulu tentang mekanisme kembali ke masa lalu yang dipilih. Apakah dengan mekanisme menciptakan dunia paralel yang tidak saling memengaruhi ala Dragon Ball? Dimana penggunaan mesin waktu menciptakan banyak dunia paralel. Ataukah dengan mekanisme yang memberikan pengaruh fisik langsung dengan mengubah masa lalu ala Back to the Future? Sebagaimana tubuh Marty perlahan menghilang karena ‘mengganggu hubungan’ kedua orang tuanya di masa lalu. Apalagi jika polanya lompat-lompat tak beraturan waktu dan tempat ke masa lalu dan masa depan ala The Time Traveler’s Wife, penjelajahan waktu cuma bikin repot. Mekanisme mustahil yang paling masuk akal sepertinya pola mengembalikan ingatan ke masa lalu ala Boku Dake ga Inai Machi dan X-Men: Days of Future Past. Bukan fisik yang kembali ke masa lalu, melainkan ingatan masa depan. Ada juga pola mengembalikan ingatan masa depan ke tubuh orang lain ala Source Code, tapi tampaknya akan menyulitkan.

Jika ingatan masa depan bisa kembali ke masa lalu, dan aktivitas di masa lalu bisa mengubah masa depan, maka banyak hal yang bisa dilakukan. Pertama, saya akan mencatat semua ingatan masa depan dalam buku. Ada rekaman berbagai peristiwa dalam berbagai lingkup lintas waktu dan tempat disana. Ada memori tentang orang-orang yang dikenal hingga masa depan. Semua ingatan ini perlu dicatat sehingga memudahkan dalam menentukan prioritas dan mengelola sumber daya. Buku ini barangkali berbeda dengan future diary ala anime Mirai Nikki atau film The Butterfly Effect. Namun monitoring akan perubahan masa depan dapat dipantau dengan buku ini.

Kedua, saya akan melakukan berbagai perbaikan kecil di masa lalu. Selain karena perjalanan hidup yang relatif sudah lurus, perbaikan kecil akan lebih mudah dikontrol. Jika belajar dari film animasi The Girl Who Leapt Through Time, mengoreksi peristiwa sepele pun bisa memberikan efek domino yang besar. Perubahan kecil dalam problem solving bisa mengubah banyak hal. Jadi saya akan menahan diri dulu dari misi besar menyelamatkan dunia sambil melihat pola perubahan yang akan terjadi. Bagaimanapun tantangan mengubah masa depan adalah mengendalikan butterfly effect dari upaya memperbaiki masa lalu. Ketiga, jika ada hal besar yang hendak dilakukan adalah menyelamatkan orang-orang terdekat. Sudah banyak orang-orang di sekitar yang meninggal bukan karena penyakit tua yang memang tak ada obatnya. Jika masa depan masih bisa berubah, memperpanjang waktu kebersamaan dengan mereka adalah hal sentimental yang perlu dicoba.

Yah, pada akhirnya kita hidup di hari ini. Dan hanya ada hari ini. Kalau kata Oogway dalam Kungfu Panda, “You are too concerned with what was and what will be. There is a saying: Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called present.”. Masa lalu pada akhirnya hanyalah romantika sejarah yang tersimpan dalam memori, kita hanya bisa membukanya tanpa memasukinya. Menoleh ke masa lalu untuk mengambil pelajaran demi kebaikan di hari ini dan masa depan. Sementara masa depan adalah misteri yang belum tentu ada, kita hanya bisa mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Dan waktu sejatinya adalah kehidupan itu sendiri. Tidak perlu mengulang hidup untuk hari ini, cukuplah dengan mengoptimalkan hari ini untuk masa depan yang lebih baik.

Time waits for no one” (Makoto Kono dalam animasi ‘The Girl Who Leapt Through Time’)

Indonesia Setara Palestina, Kok Bisa?

…Di meja makan dan mangkuk supmu, kuhidangkan kisah negeri terluka. Kisah generasi yang hilang, korban perang peradaban. Tak kalah luka dari Bosnia, tak kalah pedih dari Palestina. Tak kalah luka dari Bosnia, tak kalah pedih dari Palestina. Karena yang kau temui, hanya zombie-zombie. Makhluk-makhluk hidup tanpa pribadi, tanpa izzah, tanpa harga diri…” (‘Generasi yang Hilang’, Teater Kanvas)

Nasyid lawas tersebut tiba-tiba terlintas kala membaca Human Development Report 2016 bertajuk “Human Development for Everyone” yang dirilis UNDP pekan lalu. Human Development Index (HDI) Indonesia naik 0,003 poin namun turun 3 peringkat ke posisi 113 dari 188 negara yang masuk dalam daftar. Dan tepat di bawah Indonesia adalah Palestina (peringkat 114), disusul Vietnam (115) dan Filipina (116) yang sama-sama masuk kategori Medium Human Development. Berbeda dengan negara tetangga Thailand (87) dan Malaysia (59) yang masuk kategori High Human Development. Apalagi jika dibandingkan Brunei (30), Singapura (5), dan Australia (2) di kategori Very High Human Development. Sementara di posisi teratas ada Norwegia.

Belasan tahun lalu rasanya berlebihan Indonesia disamakan dengan Bosnia atau Palestina yang penuh konflik bersenjata. Bahkan penyesuaian lirik nasyid ‘Negeri yang Terlupa’ Izzatul Islam menjadi ‘Negeri yang Terluka’ sepertinya sangat tidak sebanding. Kisruh krisis ekonomi dan reformasi Indonesia di penghujung abad ke-20 tampaknya belum seberapa dibandingkan mencekamnya suasana di Palestina yang puluhan tahun lamanya penduduknya harus siap mati setiap saat. Tapi nyatanya, enam tahun terakhir HDI Indonesia memang setara dengan Palestina. Ya, enam tahun terakhir, karena sebelumnya HDI Palestina tidak pernah diukur. HDI Bosnia juga baru ada enam tahun terakhir, dan ternyata HDI Bosnia kini ada di peringkat 81 dunia.

Mungkin terlalu sederhana mengklasifikasi dan memeringkatkan kualitas suatu negara hanya dengan melihat indikator kesehatan, pendidikan dan ekonomi yang juga dibatasi. Tapi bagaimanapun, laporan tahunan yang dikeluarkan UNDP ini menjadi data referensi internasional yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Tidak perlu mencari dalih untuk mempermasalahkannya, yang perlu ada justru upaya perbaikan nyata. Apalagi realitanya HDI Indonesia memang cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Toh membaca data Human Development Report saja sudah banyak hal menarik yang dapat dilihat, misalnya ketika kita coba bandingkan antara capaian Indonesia dengan Palestina.

Baru membaca indikator life expectancy at birth (angka harapan hidup pada saat lahir) hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata pun di tengah suasana perang, life expectancy at birth Palestina mencapai angka 73,1 tahun, lebih tinggi dari Indonesia yang ‘hanya’ 69,1 tahun. Apalagi membaca berbagai indikator pendidikan, ternyata Palestina juga lebih unggul. Rata-rata usia bersekolah (mean years of schooling) di Palestina 8,9 tahun sementara di Indonesia baru 7,9 tahun. Tingkat literasi (literacy rate) Palestina juga relatif lebih baik. Salah satu indikatornya adalah angka melek huruf penduduk berusia minimal 15 tahun di Palestina mencapai 96,7% sementara Indonesia baru 93,9%. Banyaknya penduduk berusia minimal 25 tahun yang setidaknya pernah merasakan sekolah menengah di Palestina (58,8%) juga lebih tinggi dibandingkan Indonesia (47,3%).

Angka partisipasi kasar (gross enrolment ratio) Indonesia sedikit lebih tinggi untuk tingkat pra sekolah (pre-primary) dan sekolah dasar (primary school), namun untuk tingkat pendidikan tinggi (tertiary school) Indonesia (31%) masih jauh tertinggal dibandingkan Palestina (44%). Hal ini menunjukkan tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Data menunjukkan bahwa angka putus sekolah dasar (primary school dropout rate) Indonesia mencapai 18,1%, sementara di Palestina hanya 2,5%. Padahal rasio guru : siswa Indonesia lebih ‘mewah’ (1:17) dibandingkan Palestina (1:24). Peringkat Indonesia sedikit ada di atas Palestina karena indikator ekonomi, di antaranya Pendapatan Nasional Bruto per kapita (Gross National Income per capita) Indonesia yang mencapai $ 10.053 sementara Palestina hanya setengahnya ($ 5.256). Dilihat dari indikator kerja dan ketengakerjaan (work and employment), Indonesia juga unggul jauh, sebab angka pengangguran di Palestina terbilang tinggi. Hal ini dapat dimengerti sebab ketersediaan lapangan kerja di daerah konflik tentu sangat terbatas, apalagi berbagai macam pasokan sumber daya (resources) di Palestina dibatasi oleh Israel.

Indonesia punya sejarah panjang dengan Palestina. Palestina (bersama dengan Mesir) termasuk di antara negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina. Indonesia pun termasuk di antara negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina setelah dideklarasikannya pada November 1988. Tahun lalu, dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina juga kembali diinisiasi oleh Indonesia melalui Resolusi dan Deklarasi Jakarta dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI). Pun demikian, kesejajaran kualitas pembangunan manusia antara Indonesia dengan Palestina bukanlah suatu hal yang membanggakan. Indonesia dengan banyaknya sumber daya yang dimilikinya semestinya mampu menjadi Negara yang lebih maju dibandingkan Palestina yang masih terus diliputi konflik. Ya, dengan menyandang status merdeka, Indonesia seharusnya mampu berprestasi lebih.

Salah satu upaya perbaikan yang perlu menjadi perhatian adalah pembangunan pendidikan dan kesehatan. Fokus pada pembangunan ekonomi nyatanya tidak signifikan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Semakin tingginya kesenjangan sosial di Indonesia yang ditandai dengan tingginya rasio gini membuat pertumbuhan ekonomi seakan tak ada arti. Pertumbuhan ekonomi lebih dinikmati mereka yang berekonomi kuat, sementara masyarakat marjinal kian termarinalkan. Pembangunan pendidikan dan kesehatan memberikan secercah harapan bagi masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidupnya, termasuk potensi perbaikan kualitas ekonomi dengan pendidikan dan kesehatan yang baik. Pertumbuhan ekonomi juga sangat dipengaruhi ekonomi global yang artinya siap runtuh kapan saja, sementara pembangunan pendidikan adalah investasi masa depan Indonesia yang berkualitas.

Hari ini boleh jadi Palestina masih jauh tertinggal. Namun di masa depan, bukan tidak mungkin Palestina akan naik status menjadi Negara yang sepenuhnya merdeka dan masuk dalam kategori High Human Development. Saat ini boleh jadi Indonesia masih di atas Palestina, Filipina ataupun India. Namun tidak ada jaminan Indonesia Emas nan Berdaya kan jadi realita jika bangsa ini alpa dalam membangun pendidikan dan kesehatan. Tentu kita sama-sama menginginkan negeri dan umat ini bisa kembali berjaya, dan kesemuanya tidak akan terjadi jika kita gagal dalam mempersiapkan SDM berkualitas untuk masa depan. Ya, perlu upaya serius untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Boleh lah Indonesia disejajarkan dengan Palestina, tapi hanya jika kedua negara ini sudah sama-sama menjadi negara merdeka yang berhasil membangun SDM bangsanya. Semoga masa itu akan segera tiba…

…Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah Bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel” (Soekarno, 1962)