Wahai Para Istri, Bersyukurlah!

Allah tidak akan melihat kepada perempuan yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan suaminya.” (HR. An Nasa’i dan Al Baihaqi)

Dalam kitab Al Bidayah wa An Nihayah karya Al Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi, ada sebuah hadits panjang riwayat Al Bukhari yang berkisah tentang pernikahan Nabi Ismail a.s. dengan seorang wanita yang tinggal di sekitar sumur Zamzam. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, Hajar, ibu Nabi Ismail a.s. meninggal dunia. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim a.s. datang untuk mengetahui kabar anaknya, namun dia tidak menemukan Nabi Ismail a.s.. Beliaupun bertanya kepada istri Nabi Ismail yang kemudian menjelaskan bahwa suaminya sedang pergi mencari nafkah. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat.” Setelah mendengarkan keluhan tentang kehidupan yang dijalani anak dan menantunya, Nabi Ibrahim a.s. berkata, “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengganti palang pintu rumahnya”. Kemudian beliau pun pergi.

Ketika Nabi Ismail a.s. datang, dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?”. Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua begini dan begitu keadaannya datang dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan, dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan.” Nabi Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab, “Ya, dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu.” Nabi Ismail a.s. berkata, “Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.

Kemudian Ismail menikah lagi dengan wanita lain dari penduduk yang tinggal di sekitar situ. Nabi Ibrahim a.s. yang pergi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah SWT datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak menemukan Nabi Ismail a.s.. Beliaupun bertanya kepada istri Nabi Ismail yang kemudian menjelaskan bahwa suaminya sedang pergi mencari nafkah. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab seraya memuji Allah SWT, “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup”. Nabi Ibrahim a.s. bertanya, “Apa makanan kalian?”. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Daging”. Nabi Ibrahim a.s. bertanya lagi, “Apa minuman kalian?”. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Air”. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka”. Rasulullah SAW bersabda, “Saat itu belum ada biji-bijian di Mekkah dan seandainya ada tentu Nabi Ibrahim sudah mendoakannya. Dan dari doa Nabi Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorang pun penduduk Makkah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air”.

Nabi Ibrahim a.s. selanjutnya berkata, “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh palang pintu rumahnya”. Kemudian beliau pun pergi.  Ketika Nabi Ismail a.s. datang, dia berkata, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya, tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kita (seraya memuji Ibrahim). Dia bertanya kepadaku tentangmu maka aku terangkan, lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik”. Nabi Ismail a.s. bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab, “Ya, dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu”. Nabi Ismail a.s. berkata, “Dialah ayahku dan palang pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu”.

Kedua istri Nabi Ismail a.s. menjawab jujur pertanyaan Nabi Ibrahim a.s., namun dalam perspektif kesyukuran yang berbeda. Dan hasilnya pun bertolak belakang. Perkara kesyukuran ini ternyata sangatlah mendasar. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat melakukan sholat gerhana matahari dengan sangat panjang, beliau melihat surga dan neraka. Saat melihat neraka, beliau bersabda, “Tidak pernah aku melihat pemandangan seperti itu sebelumnya. Aku melihat kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita”. Sahabat bertanya, “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kekufuran mereka”. Kemudian para sahabat bertanya lagi, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang, kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai), niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu’” (HR Bukhari).

Lagi-lagi perkara kesyukuran yang menyebabkan banyak wanita masuk ke neraka. Bukan berarti laki-laki atau suami sudah pasti selalu bersyukur. Namun keinginan untuk memperoleh lebih, membandingkan dengan yang lain, hingga pertimbangan berdasarkan perspektif orang lain lebih banyak dilakukan oleh para wanita. Karenanya, jika ketaatan adalah salah satu kunci surga bagi para istri, maka kesyukuran adalah tameng yang akan menyelamatkan para istri dari neraka. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni neraka”. Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab, “Para wanita”. Seorang sahabat bertanya, “Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudari-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka tidak bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak bersabar” (HR. Ahmad).

Ketika seorang istri merasa sulit untuk berterima kasih, kerap lalai dalam beribadah, sering merasa iri, mudah mengeluh, selalu menuntut, dan menyebarkan aib suami. Bisa jadi kekufuran dan kefasikan itu sudah mulai jelas memperlihatkan tandanya. Kesyukuran tidak terbentuk. Padahal betapa banyak hal yang bisa disyukuri, tidak terhitung jumlahnya. Pekerjaan rumah menumpuk pertanda ada ladang pahala. Rumah riuh berantakan pertanda ada keaktifan. Semua gejala masalah akan terlihat berbeda ketika dipandang dari perspektif kesyukuran. Bukan menunggu nikmat datang baru bersyukur, tetapi senantiasa bersyukur sehingga nikmat kian bertambah. Wahai para istri, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sesuai) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7)

Antara ‘Ad dan Tsamud (2/2)

Kaum ‘Ad dan Tsamud diberikan tenggat waktu sebelum diazab dan mereka sama-sama tidak mau bertaubat. Ketika tanda azab berupa kekeringan menimpa ladang dan kebun kaum ‘Ad, Nabi Hud a.s. masih berusaha meyakinkan mereka, “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” Kaum ‘Ad berkata: “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” (QS. Hud: 52-54). Sementara Nabi Saleh a.s. berkata, “Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat. Mereka membunuh unta itu, maka berkata Saleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 64-65).

Dan akhirnya, kesudahan kaum ‘Ad dan Tsamud pun sama, sama-sama dibinasakan. “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” (QS. Fushshilat: 13). Teknisnya memang tidak persis sama, hal ini justru menunjukkan betapa mudah dan banyaknya cara jika Allah SWT hendak mengazab suatu kaum. Kaum ‘Ad diazab dengan beragam cara. Dimusnahkan oleh suara yang mengguntur, menjadikan mereka seperti sampah yang dibawa banjir (QS. Al Mu’minun: 41). Kemudian dengan angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan mereka menjadi tak tampak lagi kecuali bekas tempat tinggal mereka (QS. Al Ahqaf: 24-25), atau angin yang membinasakan, yang tidak membiarkan suatu apapun yang dilandanya dan menjadikannya seperti serbuk (QS. Adz Dzariyat: 41-42), atau angin yang sangat bergemuruh dalam beberapa hari (QS. Fushshilat: 16), atau angin kencang yang terus menerus sehingga membuat mereka bergelimpangan bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya (QS. Al Qamar: 19-20). Dikatakan pula sebagai angin topan yang sangat dingin, yang melanda selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, dan menjadikan kaum ‘Ad mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk), serta tidak menyisakan seorang pun di antara mereka (QS. Al Haqqah: 6-8).

Kaum Tsamud tak lebih baik, azabnya juga beragam. Dalam tafsir Ibnu Katsir, selama tiga hari masa penangguhan azab, wajah mereka berubah. Menjadi kuning di hari pertama, lalu menjadi merah di hari kedua, kemudian menjadi hitam di hari ketiga. Kemudian kaum Tsamud diazab dengan gempa yang menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka (QS. Al A’raf: 78). Juga disebutkan bahwa azabnya adalah suara yang sangat keras (QS. Al Haqqah: 5), atau suara mengguntur yang menimpa sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya (QS. Hud:67), atau suara keras yang mengguntur di pagi hari (QS. Al Hijr: 83), atau suara keras mengguntur yang menjadikan mereka seperti batang-batang kering yang lapuk (QS. Al Qamar:31). Juga disebutkan mereka diazab dengan sambaran petir (QS. Fushshilat: 17), atau mereka disambar petir sedang mereka melihatnya, mereka tidak mampu bangun juga tidak mendapat pertolongan (QS. Adz Dzariyat: 44-45).

Mentadabburi ayat-ayat tentang azab umat-umat terdahulu semestinya mampu membuat kita merenung. Betapa besarnya kuasa Allah SWT dan betapa mudah bagi-Nya untuk membinasakan suatu kaum. Caranya pun banyak, mulai dari melibatkan makhluk seukuran virus atau bakteri, hingga benda langit berukuran besar. Namun jika di masa lampau, azab begitu terlihat, di masa sekarang kita perlu lebih berhati-hati. Balasan atas kekafiran dan kemaksiatan tidak sesegera itu. Melakukan perbuatan dosa pun terasa semakin ringan. Nyaman dalam kelalaian. Kisah hancurnya umat terdahulu mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur, mewawas diri dan tidak sombong. Tidak ada daya upaya yang bisa dilakukan manusia, kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT.

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
(QS. At Taubah: 70)

Antara ‘Ad dan Tsamud (1/2)

Kaum Tsamud dan `Ad telah mendustakan hari kiamat. Maka adapun kaum Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras. Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin.” (QS. Al Haqqah: 4-6)

Salah satu isi kandungan Al Qur’an adalah kisah-kisah terdahulu (Qashashul Qur’an) yang dapat diambil pelajaran (ibrah) darinya. Ibrah ini tidak melulu bisa diambil dari keteladanan pada Nabi, Rasul, dan orang-orang shalih. Namun Al Qur’an kerap mendorong umat Islam untuk memperhatikan kesudahan umat-umat terdahulu yang mendustakan Rasul. Salah dua di antaranya adalah kisah kaum ‘Ad dan kaum Tsamud yang ternyata memiliki banyak kesamaan. Termasuk kesamaan pembelajaran.

Nabi Hud a.s. diutus kepada kaum ‘Ad, sementara Nabi Saleh a.s. diutus kepada kaum Tsamud. Kedua Nabi dan Rasul ini berasal dari Arab, merupakan keturunan Sam, anak Nabi Nuh a.s., dan diutus kepada kaumnya sendiri. Kisah keduanya diceritakan dalam berbagai surah dan ayat Al Qur’an, namun penyebutan keduanya jauh lebih sedikit dibandingkan penyebutan kaum yang didakwahinya. Contohnya dalam surah Al Haqqah di atas, ketika kaum ‘Ad dan Tsamud disebut dua kali, Nabi Hud a.s. ataupun Nabi Saleh a.s. tak ada yang disebutkan. Dalam Al Qur’an, kaum ‘Ad disebutkan sebanyak 24 kali, sementara Nabi Hud a.s. hanya disebutkan 7 kali. Kaum Tsamud disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 26 kali, sementara Nabi Saleh a.s. hanya disebutkan 9 kali. Seakan pelajaran mengenai perilaku hingga kebinasaan dua kaum ini harus lebih mendapat perhatian dibandingkan sepak terjang Nabi yang diutus ke kaum-kaum tersebut.

Menariknya lagi, tempat tinggal kedua kaum ini dijadikan nama Surah dalam Al Qur’an. Kaum ‘Ad tinggal di Al Ahqaf (bukit-bukit pasir), sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al Ahqaf ayat 21, “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Ad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaf dan sesungguhnya telah berlalu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Adapun kaum Tsamud tinggal di Al Hijr (pegunungan batu), sebagaimana Firman-Nya dalam Surah Al Hijr ayat 80, “Dan Sesungguhnya penduduk-penduduk negeri Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul”.

Kaum ‘Ad dan Tsamud menyembah berhala, meneruskan tradisi kemusyrikan. Berhala yang disembah kaum ‘Ad awalnya dibuat untuk menghormati nenek moyang mereka yang selamat dari banjir besar di zaman Nabi Nuh a.s., sementara kaum Tsamud menyembah berhala karena meneruskan tradisi nenek moyang mereka, termasuk kaum ‘Ad. Karenanya Nabi Hud a.s. dan Nabi Saleh a.s. diutus untuk memurnikan tauhid kepada Allah SWT, namun keduanya didustakan. Kaum ‘Ad berkata, “Apakah kedatanganmu kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka buktikanlah ancamanmu kepada kami, jika kamu benar!” (QS. Al A’raf:70). Sementara kaum Tsamud berkata, “Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (QS. Hud: 62).

Kaum ‘Ad dan Tsamud mendustakan para Rasul, tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan, berlaku sombong bahkan menantang untuk diazab. Nabi Hud a.s. berpesan kepada kaum ‘Ad, “Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab” (QS. Asy Syu’ara: 132-138). Demikian pula halnya dengan kaum Tsamud, bahkan setelah ditunjukkan mukjizat keluarnya unta dari batu besar, mereka tetap ingkar. “Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)” (QS. Al A’raf: 76-77).

(bersambung)

Covid: Antara Konspirasi, Bisnis, dan Kemanusiaan (2/2)

Barangkali benar ada berbagai kebijakan pemerintah yang lamban ataupun keliru dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Namun hal itu bukan berarti sikap cerdas adalah membangkang terhadap kebijakan pemerintah, misalnya dengan tidak patuh terhadap protokol kesehatan. Berpikir kritis berbeda dengan naif, apalagi malas berpikir. Barangkali benar bahwa tingkat kesembuhan akibat Covid-19 lebih tinggi daripada tingkat kematiannya. Namun bukan berarti para korban Covid-19 ini tak ada artinya. Satu nyawa saja begitu berharga, apalagi ini sampai puluhan ribu nyawa. Itu pun baru yang terdata. Bahkan jika benar bahwa ada faktor kesengajaan dalam penyebaran virus corona, atau kalaupun memang benar ada kepentingan bisnis di balik pandemi Covid-19, penyikapan seperti yang dilakukan para covidiot tetaplah tidak menyelesaikan masalah apapun.

Karenanya, tidak perlu terjebak pada teori konspirasi yang belum jelas kebenarannya, dan tidak jelas kebermanfaatannya. Tidak perlu juga terlalu pusing dengan berbagai isu kepentingan yang ada di luar kendali kita. Cukup lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dan membantu diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita. Disinilah kemanusiaan mengambil peran dalam pandemi ini. Percaya atau tidak dengan adanya virus corona bisa jadi tergantung keyakinan seseorang, tetapi meyakini bahwa setiap diri kita perlu menjaga keselamatan orang lain adalah sisi kemanusiaan. Seseorang memiliki hak untuk tidak percaya dengan berita yang disampaikan media, namun secara manusiawi seseorang perlu menjaga hak orang lain untuk merasa aman dari lisan dan perbuatannya. Setiap kita boleh saja meyakini tentang adanya konspirasi global, namun bukan berarti mematikan rasa empati dan simpati dengan memaksakan keyakinannya pada orang lain, yang bahkan tidak sedikit dari mereka, keluarga mereka, atau rekan-rekan mereka yang telah menjadi korban pandemi ini.

Untungnya, aksi nyata kedermawanan sosial atas nama kemanusiaan terus hadir sejak awal masa pandemi. Mulai dari pembagian masker, penyemprotan disinfektan, paket bantuan isolasi mandiri, hingga pengadaan tabung oksigen dan rumah sakit darurat. Para pejuang kemanusiaan inilah yang menjadi secercah asa di tengah himpitan hidup. Di saat para covidiot hanya berkoar tentang konspirasi tanpa kontribusi, tanpa solusi. Bahkan di saat pemerintah tidak bisa diandalkan dalam melindungi segenap bangsa Indonesia. Inisiatif membantu ini muncul dan menyelesaikan berbagai persoalan akibat pandemi, pun barangkali skalanya terbatas. Pendekatan kemanusiaan inilah yang berperan besar dalam memelihara kehidupan, tidak memilih untuk menyerah dengan keadaan. Pejuang Covid-19 di garda terdepan, mulai dari tenaga kesehatan, relawan, hingga tukang gali kubur, mampu bertahan dan terus berjuang atas nama kemanusiaan. Sebab jika ukurannya adalah materi, sungguh nyawa lebih berharga.

Di hadapan pendekatan kemanusiaan, pendekatan konspiratif sudah tak lagi relevan, tidak simpatik sama sekali. Apalah artinya seseorang yang pandai bercakap tentang konspirasi elit global, sementara tetangganya sendiri tidak ia pedulikan. Tidak percaya adanya Covid, tidak membantu tim Satgas Covid, namun gemar membuat gaduh dengan informasi ‘kacamata kuda’ yang diyakininya. Menghabiskan energinya dengan segudang teori nirfaedah, sementara kebermanfaatannya tidak dirasakan bagi lingkungan sekitarnya. Permasalahan dalam kondisi kritis bukan persoalan apa yang benar, tetapi apa yang dibutuhkan. Karenanya, pendekatan kemanusiaan yang membawa cahaya, lebih tepat untuk diperjuangkan dibandingkan pendekatan bisnis yang oportunis ataupun pendekatan konspiratif yang hanya mengutuk kegelapan.

Dan diakui atau tidak, pandemi ini masih dan akan terus berlangsung hingga batasan takdirnya. Butuh kolaborasi dari banyak elemen sebab krisis tidak akan mampu dihadapi sendirian. Kesampingkan sejenak berbagai pendekatan konspiratif yang bisa jadi ada benarnya, untuk membantu meringankan beban banyak manusia terdampak pandemi yang sudah nyata adanya. Tidak terlalu serakah mengambil peluang dalam kesempitan orang lain. Tidak untuk suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Tetapi atas nama kemanusiaan. Memanusiakan manusia. Dan kelak saat semua krisis ini berlalu, kita bisa tetap bergandengan tangan sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Setiap penyakit ada obatnya, setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Menjadi ‘obat’ atau ‘racun’, menjadi ‘solusi’ atau ‘masalah’, semuanya tergantung bagaimana peran yang kita ambil.

We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity; more than cleverness, we need kindness and gentleness. Without these qualities, life will be violent and all will be lost.
(Charlie Chaplin)

Covid: Antara Konspirasi, Bisnis, dan Kemanusiaan (1/2)

Only two things are infinite, the universe and human stupidity; and I’m not sure about the former (universe)” (Albert Einstein)

Pandemi virus corona memang kejadian luar biasa. Berdasarkan data yang rutin diupdate worldometers, hingga 7 Juli 2021 ini telah ada lebih dari 185 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia, dengan korban jiwa lebih dari 4 juta orang. Indonesia sendiri ada di urutan ke-16 dengan jumlah kasus Covid-19 lebih dari 2,3 juta kasus dan korban jiwa lebih dari 61 ribu orang. Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia berkali-kali mencatatkan rekor terbanyak, dan trennya masih terus meningkat. Jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia hanya kalah oleh Brazil dan India. Jumlah kematian pun sepekan terakhir berkali-kali mencatatkan rekor terbanyak dengan tren yang juga meningkat. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sudah dilakukan di Jawa – Bali. Rumah Sakit mulai kehabisan tempat, tenaga medis bertumbangan, ketersediaan oksigen pun menipis. Indonesia dapat dikatakan tengah menghadapi krisis Covid-19.

Dan setiap kejadian luar biasa sudah biasa ada teori konspirasi yang menyertainya. Teori konspirasi terkait virus corona ini sudah aja sejak kehadirannya mulai ramai disoroti di awal tahun lalu. Kejelasan mengenai asal munculnya virus tersebut sampai saat ini tidak ada penjelasan yang memuaskan dari WHO. Dugaan mengenai kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan, atau dari hewan yang dijual di Pasar Makanan Laut Huanan yang berulang kali dibantah Pemerintah Cina tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Teori konspirasi lainnya yang menuding bahwa virus corona adalah senjata biologis buatan Amerika Serikat juga tidak dapat dibuktikan secara nyata. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa virus corona sudah diketahui keberadaannya puluhan tahun lalu, termasuk bahaya mutasi virusnya seperti dalam wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Namun memang masih banyak yang belum terjawab termasuk pertanyaan bagaimana virus menular dari kelelawar ataupun mengapa virusnya baru ‘meledak’ sekarang.

Beberapa penganut teori konspirasi lain melihat kejadian ini dari pertanyaan sederhana: siapa yang paling diuntungkan dengan pandemi ini? Memang ternyata ada berbagai pihak yang ‘diuntungkan’ dengan adanya Covid-19 ini. Perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin, disinfektan, obat dan vitamin, misalnya. Kemudian perusahaan yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) dan masker. Kemudian perusahaan berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi. Bahkan perusahaan penyedia games pun diuntungkan. Disinilah dunia bisnis mengambil kesempatan dalam ‘kesempitan’ pandemi. Ketika produk tertentu seketika ramai diborong dan habis di pasaran, tentu ada kepentingan bisnis yang bermain. Ketika ketersediaan masker atau oksigen begitu terbatas, boleh jadi ada yang mengambil peluang bisnis. Dan karena keseimbangan dunia ini, jika ada yang diuntungkan, tentu ada yang dirugikan. Walaupun bisa mengancam siapa saja, nyatanya pandemi ini kian memperlebar gap antara yang miskin dengan yang kaya. Dalam perspektif bisnis yang berorientasi profit, kondisi ini bukanlah salah pihak yang diuntungkan. Mereka yang mengambil peluang untuk meraup keuntungan tidak serta merta menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap berbagai permasalahan yang terjadi.

Lantas, apakah ada hubungannya dengan dunia politik? Pemilihan Kepala Negara misalnya? Boleh jadi. Yang jelas, pemegang kebijakan juga memiliki ruang besar untuk memanfaatkan pandemi ini. Korupsi dan kolusi semakin marak di masa pandemi. Bagaimana tidak, ada kucuran dana yang sangat besar yang bisa diselewengkan untuk kepentingan pribadi ataupun golongan. Pandemi ini adalah ujian kepemimpinan. Mereka yang suka meremehkan masalah, plin plan dalam mengambil keputusan, mengambil muka pimpinan, asal bicara tanpa data, mencari aman, berpikir pragmatis, hingga mereka yang mencari kesempatan dalam kesempitan semakin mudah terlihat. Konspirasi dapat diartikan sebagai persengkokolan jahat. Dan ruang persengkokolan semacam ini makin terbuka di masa pandemi.

Persoalannya, sekadar berpikir konspiratif bukan hanya tidak memecahkan masalah, bahkan tidak jarang justru memperkeruh permasalahan. Tidak sedikit mereka yang sekadar ikut-ikutan berpikir konspiratif, justru kebablasan. Istilah tren yang menggambarkan orang-orang ini adalah ‘covidiot’. Ada beberapa indikasi dan levelisasi para covidiot ini. Mulai dari menyangkal eksistensi dari virus corona dan penyakit yang diakibatkan oleh virus tersebut (Covid-19). Ada pula yang menganggapnya ada, namun menyangkal bahwa dampaknya sebesar yang diberitakan media. Ada yang merasa kebal virus sampai mencoba membuktikan kekebalannya dengan tidak mematuhi protokol kesehatan, mulai dari tidak menggunakan masker, sengaja bikin acara kumpul bareng, sampai menyengaja berinteraksi erat dengan penderita Covid-19. Ada juga covidiot yang berlebihan dalam menyikapi pandemi, misalnya dengan memborong tisu, hand sanitizer, ataupun masker.

Parahnya lagi, sebagaimana Covid, covidiot ini juga menular. Opini menyesatkan dan berita hoax juga banyak dan terus diproduksi untuk semakin mendangkalkan paradigma berpikir para covidiot yang kerap sharing tanpa saring informasi yang sejalan dengan pemikirannya. Informasi yang kadang dibungkus dengan bumbu religius dan (pseudo)ilmiah semakin sulit untuk bisa diluruskan, apalagi jika ditambah benih ego dan kesombongan. Berpikir kritis terhadap kondisi di sekitar kita sebenarnya merupakan hal yang lebih baik dibandingkan berpikir naif dan terlalu polos. Hanya saja terlalu berpikir konspiratif justru sama sekali tidak memberi manfaat. Siapa yang paling diuntungkan jika alih-alih terbangun ‘herd immunity’ malah terbentuk ‘herd stupidity’ akibat masyarakat kian abai terhadap protokol kesehatan? Siapa yang paling diuntungkan dengan menuduh tenaga medis hingga pemerintah sebagai kaki tangan elit global? Kasus Covid semakin tinggi, korban semakin banyak, teori konspirasi tak kunjung terbukti. Para covidiot pun juga sama sekali tidak dapat untung.

(bersambung)

Semoga Kalian Syahid Akhirat

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Kabar duka itu kembali tiba. Tadi siang jam 10.40, Om Wagiman meninggal di RSUD Wonosari setelah 2 pekan dirawat akibat Covid. Om Wagiman adalah suami dari adik bungsu ibu saya yang tinggal berdampingan dengan rumah kakek dan nenek saya. Beliau berhenti dari pekerjaannya di Kota Yogyakarta dan memilih buka usaha di kampung seraya memperdalam agama. Istrinya pun berhenti bekerja dari salah satu bank konvensional terbesar di Wonosari untuk lebih fokus ke keluarga. Cepat sekali kabar duka itu tiba sebab baru malam Jum’at pekan lalu (17/6), Mbah Akung (ayahnya Ibu) meninggal dan dicovidkan. Dan baru seminggu sebelumnya, pada 11 Juni 2021, Bude Rani (istri dari kakak sulung Ibu) meninggal di RS. PON.

Bulan ini baru berjalan tiga pekan namun sudah banyak sekali kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Baru 3 hari lalu, Pak Yuli Pujihardi, salah seorang pimpinan Dompet Dhuafa meninggal di RS. Kartika Pulomas setelah terpapar Covid. Di awal bulan ini pada 4 Juni 2021, Mas Jojo, salah seorang tim IT senior di Dompet Dhuafa berpulang ke rahmatullah, juga terjangkit Covid. Belum lagi jika ditambah wafatnya orang tua dari teman-teman, rekan kerja di wilayah, tetangga di perumahan, hingga orang-orang yang banyak dikenal, tentu daftarnya akan semakin banyak lagi. Apalagi jika ditambahkan informasi tentang kenalan saya yang terpapar Covid di bulan ini. Tampaknya gelombang Covid bulan ini memang tidak main-main.

Salah satu hikmah dari kematian adalah pengingatan bagi mereka yang masih hidup untuk lebih siap dalam menghadapi kematian. Mendengar bagaimana testimoni orang-orang atas kebaikan mereka yang telah mendahului kita, membuat kita benar-benar merenung tentang bagaimana akhir hidup kita kelak dan akan dikenang seperti apa. Apalagi mendengar cerita tentang husnul khatimah beberapa rekan, kian membuat takut akan kesudahan su’ul khatimah. Kabar ‘bahagia’nya, orang beriman yang meninggal karena wabah akan memperoleh predikat syahid akhirat, Insya Allah. Ada ganjaran kebaikan yang menyertainya. Syahid dunia adalah seseorang yang berjuang seakan-akan di jalan Allah, akan tetapi niatnya hanya karena ingin dapat nama, ada pamrih, dan bukan karena Allah semata. Sementara mereka yang wafat karena berperang di jalan Allah akan memperoleh predikat syahid dunia akhirat, mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, serta jaminan masuk surga.

Dari Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad SAW, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho’un. Rasulullah SAW lalu menjawab: Sesungguhnya wabah tho’un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho’un lalu tetap tinggal disana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala di sisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah SAW bertanya (kepada sahabatnya), “Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itulah syahid, Ya Rasulullah’’. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu, alangkah sedikit umatku yang syahid”. Para sahabat bertanya, “Mereka itu siapa ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, dan orang yang mati karena sakit perut juga syahid.” (HR. Muslim).

Hal ini bukan berarti kita cukup mengharap kematian akibat Covid saja agar dapat predikat syahid akhirat. Apalagi ada prasyarat keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan tawakkal untuk meraih predikat tersebut. Namun hal ini bisa jadi penguat optimisme dalam do’a-do’a kita. Semoga penyakit yang diderita orang yang mendahului kita dapat menggugurkan dosa-dosanya. Semoga kesabaran dalam menghadapi wabahnya dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT. Sementara bagi kita yang masih hidup, cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa kematian bisa datang kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Bahwa ada perjalanan panjang nan kekal setelah kehidupan di dunia fana ini. Bahwa harus ada bekal yang cukup untuk menjalaninya. Maka berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum. Allahumma la tahrimna ajrahum wala taftinna ba’dahum waghfirlana wa lahum wali ikhwaninalladzina sabaquna bil iman wala taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu Rabbana innaka ra’ufurrahim (Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, bebaskanlah dan maafkanlah mereka. Ya Allah, janganlah kiranya pahala mereka tidak sampai kepada kami dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggal mereka. Ampunilah kami dan mereka, dan juga kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang)

Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh orang, yaitu korban ath-tha’un (wabah) adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Daud)

Dari Niatlah Semua Berawal

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Semua berawal dari niat. Salah satu hadits masyhur tentang niat adalah hadits pertama dalam Hadits Arbain An Nawawi. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab r.a, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah SWT. Berbeda dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia, misalnya karena mengejar wanita. Dalam hadits tersebut amalan yang dicontohkan adalah hijrah. Ada yang berhijrah karena Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia. Setiap amal yang dilakukan seorang muslim harus dilandasi niat yang ikhlas agar amal tersebut diterima. Imam Ahmad dan Imam Syafii mengatakan bahwa hadits di atas mencakup sepertiga ilmu. Selain itu, Imam Syafii juga menambahkan bahwa makna hadits tentang niat ini mencakup 70 bab fiqh. Bahkan tidak sedikit ulama yang mengatakan bahwa hadits di atas merupakan sepertiga bagian dari Islam. Karena itulah setiap orang yang menuntut ilmu wajib meluruskan kembali niat yang dimilikinya.

Suatu amal perbuatan akan diterima Allah SWT ketika niatnya benar dan caranya benar. Saat suatu ibadah atau amalan baik dilakukan karena niat selain Allah, maka ibadah atau amalan tersebut akan tertolak. Termasuk niat yang tidak ikhlas adalah berharap pujian, ketenaran, ataupun harta dunia. Di sisi lain, seseorang yang berniat melakukan amal kebaikan bisa dihitung sudah melakukan kebaikan jika niatnya ikhlas karena Allah. Misalnya saja orang yang berniat shalat malam lalu ketiduran, atau orang yang berniat shalat jamaah kemudian ketika ia sampai masjid jama’ah sudah selesai. Orang tersebut tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang yang telah melakukannya, Insya Allah.

Secara bahasa, niat artinya keinginan atau tujuan. Sedangkan makna secara istilah, niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”. Bagaimanapun, amal perbuatan menyangkut tiga hal, yaitu hati, lisan, dan anggota badan. Sehingga niat dalam hati pun sudah merupakan salah satu dari ketiga hal tersebut. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Siapa saja yang ingin melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Demikian pula ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.”.

Dalam sebuah hadits disebutkan. ‘Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah r.a. berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Berawal dari niat, dan akhirnya pun akan ditentukan oleh niat. Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, niat itu wajib dalam ibadah. Niat merupakan syarat sah suatu ibadah. Sedangkan, dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk mendapatkan keridhaan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diharuskan memakai niat. Misalnya saat seseorang berpuasa di hari Senin, ada beberapa kemungkinan puasa yang dilakukannya. Bisa puasa Senin Kamis, puasa Ayamul Bidh, puasa Daud, membayar hutang puasa, dan sebagainya. Dan puasa apa yang sejatinya orang itu lakukan adalah sesuai dengan apa yang ia niatkan. Kemudian dengan niat pula suatu perbuatan biasa bisa bernilai pahala, misalnya makan, minum, tidur, dan sebagainya. Ketika seseorang meniatkan semua perbuatan tersebut sebagai bentuk ibadah karena Allah SWT, maka perbuatan tersebut akan bernilai ibadah. Karenanya, mari penuhi aktivitas harian kita dengan niat beribadah, senantiasa berhati-hati atas rusaknya niat, dan terus berupaya meluruskan niat karena Allah SWT semata. Dari niatlah semua berawal dan kita akan memperoleh apa yang kita niatkan.

Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Ibnul Mubarak)

Aku (Ingin Jadi) Hafizh Qur’an

Kuputuskan satu impian, aku ingin jadi hafidz Quran…
Ku akan bertahan walau sulit melelahkan, Allah beri aku kekuatan…
Kuimpikan sepasang mahkota, ‘tuk berikan di akhirat kelak…
Sebagai pertanda bahwa kau sangat kucinta, aku cinta engkau karena Allah…

Kucinta Umi, kucinta Abi, kuharap doamu selalu dalam hati…
Kucinta Umi, kucinta Abi, berharap bersama di Surga-Nya nanti…

I love you Umi, I love you Abi, I love my family forever in my heart…

* * *

Beberapa hari terakhir, putri keduaku kerap menyenandungkan lagu ‘Aku Hafizh Qur’an’ yang dipopulerkan oleh penyanyi religi cilik Aishwa Nahla. Bukan tanpa alasan tentunya, akhir pekan ini, Muthi akan wisuda TK B di sekolahnya. Sebuah prosesi seremonial yang sederhana mengingat masih tingginya kasus Covid-19 di negeri ini. Senandung ‘Aku Hafizh Qur’an’ menjadi salah satu penampilan para peserta didik, disamping hapalan Juz ‘Amma dan lagu ‘Guruku Tersayang’. Selain menyelesaikan studinya di TK Al Wafa, Muthi juga mendapat penghargaan sebagai siswi terbaik dalam disiplin menghapal Juz ‘Amma. Di waktu yang bersamaan dengan Wisuda Muthi, putri sulungku juga menyelenggarakan Wisuda Al Qur’an online setelah menyelesaikan hapalan juz 30.

Program menghapal Al Qur’an memang semakin menjamur. Hal ini menjadi salah satu hal yang patut disyukuri di akhir zaman ini. Jika dahulu, menghapal Al Qur’an di’monopoli’ oleh pesantren dan madrasah, saat ini tidak sedikit sekolah yang bahkan tanpa embel-embel sekolah Islam yang juga memprogramkan hapalan Al Qur’an kepada peserta didiknya. Tidak sedikit pula orang tua muslim milenial yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya dengan program hapalan Al Qur’an sebagai salah satu pertimbangannya. Bahkan ada orang tua yang secara khusus menghadirkan guru tahfizh privat bagi anaknya. Hapalan Al Qur’an menjadi tren baru di tengah ‘perang pemikiran’ yang kian marak.

Dalam beberapa hadits, para penghapal Al Qur’an memang memiliki berbagai keutamaan. Mulai dari didahulukan sebagai imam shalat, pemimpin shalat, hingga dikuburkan lebih dulu ketika syahid. Tidak hanya itu, para penghapal Al Qur’an akan dianugerahi mahkota dan pakaian kemuliaan, dan mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Bahkan mereka dapat menganugerahkan mahkota dan pakaian kemuliaan kepada kedua orang tuanya. Dari Buraidah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim). MasyaAllah…

Menghapal Al Qur’an memang merupakan salah satu bentuk interaksi positif terhadap Al Qur’an, selain membacanya, menyimaknya, mempelajarinya, mengajarkannya, mengkaji atau mentadabburinya, dan mengamalkannya. Budaya menghapal Al Qur’an juga bisa menjadi sarana syiar Islam. Bagaimana Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqoh Fahmil Qur’an (MFQ), dan Musabaqoh Hifzhil Qur’an (MHQ) menjadi kompetisi produktif. Bagaimana lantunan murottal menjadi alternatif senandung positif dibandingkan lagu-lagu jahiliyah. Dan hapalan Al Qur’an ini sebaiknya dapat dipelihara, tidak hanya dihapal sesaat untuk kemudian dilupakan. “Jagalah Al-Quran ini, demi zat yang jiwaku berada dalam tangan-Nya. Sesungguhnya dia lebih gampang terlepas daripada unta yang dilihat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga kita dan keluarga kita menjadi para pecinta Al Qur’an. Aamiiin…

“Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.” (HR. Turmudzi)

Si Tengah yang Unik

“Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya), maka anak-anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka”. (HR Bukhari dan Muslim)

Bulan Juni selalu menjadi bulan yang spesial. Di bulan ini beberapa orang terdekat merayakan hari kelahirannya. Tentu bukan Presiden Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, dan Jokowi yang saya maksud. Cukup unik memang 4 dari 7 presiden Indonesia lahir di bulan Juni dari 12 bulan yang tersedia. Namun beberapa anggota keluarga besar saya kebetulan lahir di bulan Juni. Dari yang tertua ada ibu kandung saya dan ibu mertua yang sama-sama lahir di bulan Juni. Kemudian adik ipar dan adik kandung saya, keduanya anak bungsu. Dan yang paling muda adalah anak kedua dan ketiga saya yang juga lahir di bulan Juni. Tulisan ini akan fokus bercerita tentang anak kedua yang lahir 6 tahun lalu.

Menjadi anak ke-2 dari 3 bersaudara memang tidak mudah. Ketika anak sulung mendapatkan cinta yang berlimpah karena lahir paling awal, anak tengah tidak mendapatkannya. Bahkan tidak jarang anak tengah ini hanya dapat ‘lungsuran’ dari kakaknya, tanpa diberikan barang baru. Ketika anak bungsu relatif dimanjakan, anak tengah hanya sedikit merasakannya ketika ia menjadi anak bungsu. Pada masa itu pun barangkali ia belum mengingatnya. Apalagi, Si Tengah ku ini berjarak 3.5 tahun dari kakaknya, namun hanya berjarak 2 tahun dari adiknya. Belum cukup puas merasakan sebagai anak bungsu, adiknya keburu lahir, anak laki-laki pertama pula.

Setiap anak terlahir dengan karakteristik yang berbeda, dipengaruhi beberapa faktor seperti lingkungan sekitar, perlakuan dari setiap orang tua, atau urutan kelahiran. Ya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa urutan kelahiran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi karakteristik anak. Gunarsa dan Yulia (2008) menunjukkan bahwa anak kedua dari tiga bersaudara menunjukkan karakter yang paling berbeda dibandingkan saudaranya. Posisi terapit di antara seoarang kakak dan adik seringkali menimbulkan rasa iri. Sehingga tak jarang anak tengah memiliki jiwa yang pengertian, kuat, dan sensitif, karena harus menghadapi perlakuan sang kakak sekaligus menjadi panutan untuk sang adik. Anak tengah menurut Psikolog Anak asal USA, Dr. Kevin Leman (2012) masuk kedalam kategori anak yang sangat fleksibel. Mereka mampu bersikap ramah dan bersosialisasi dengan orang lain. Pun kadang mereka memiliki rasa malu yang cukup tinggi, tetapi mereka bisa mengatasinya dengan tenang. Anak tengah juga bisa sangat sabar dan umumnya lebih memilih untuk menghindari konflik. Tak heran jika mereka lebih sering menjadi mediator atau negosiator dalam suatu masalah.

Sifat dan kepribadian anak tengah paling sulit dijabarkan. Umumnya, anak tengah memiliki kepribadian yang menyenangkan namun sedikit pemberontak dalam keluarganya. Anak tengah tumbuh lebih bahagia dalam lingkungan pertemanannya. Karenanya, anak tengah cenderung memiliki lingkaran pertemanan yang luas. Anak kedua sangat tahu rasanya bersaing dan tidak berkawan, sehingga anak kedua suka bekerja dengan orang lain dan cinta persahabatan. Anak kedua akan terus berusaha untuk menyenangkan orang lain, dan akan terus berusaha untuk menjadi perekat atau penjaga persahabatan. Profesor Departemen Psikologi, Institut Penelitian Kepribadian dan Sosial California, Dr. Frank J. Sulloway, Ph.D, mengatakan bahwa anak-anak tengah mendapat skor lebih tinggi dalam hal keramahan dibandingkan kakak dan adiknya, itulah yang menyebabkan anak tengah lebih mudah dalam hal pergaulan. Penelitian ini memperkuat sebuah studi dalam The Journal of Genetic Psychology (1966) yang menemukan bahwa anak tengah cenderung lebih baik dalam situasi kelompok. Sebelumnya, sebuah studi dari Texas Christian University dan University of Minnesota (1964) juga menunjukkan bahwa anak tengah memiliki perilaku yang sangat baik dan paling bisa menyesuaikan diri dalam kelompok.

Si Tengah ku yang sementara ini bercita-cita menjadi chef tak kalah menarik. Secara kecerdasan kognitif barangkali tidak sebaik kakaknya, namun kecerdasan sosialnya luar biasa. Si Tengah adalah yang paling aktif menunjukkan rasa sayangnya kepada keluarga. Perhatian terhadap kondisi keluarganya, bahkan yang kerap membuat tertegun adalah tiba-tiba merangkul dan mengucapkan “Aku sayang Ayah” seraya mengecup pipi. Alih-alih disebut negosiator, Si Tengah ini adalah ‘provokator’ ulung yang kerap memengaruhi adiknya dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya. Ia relatif lebih mampu menjaga adiknya dibandingkan kakaknya. Sensitif dan kompetitif, serta memiliki inisiatif yang tinggi.

Uniknya, Si Tengah kerap terbangun di tengah malam kemudian tertawa atau menangis, apalagi tahun lalu. Entah bermimpi atau ‘diganggu’. Tatapan mata kosongnya pun cukup membuat bergidik. Berbeda dengan kakak dan adiknya, yang terlihat sangat sedih jika dimarahi Ayahnya (yang memang jarang marah). Si Tengah ini terlihat ketakutan ketika dimarahi Ayahnya, bahkan tubuhnya sampai gemetaran. Dan setahun ke depan, Si Tengah ini akan tidak bersekolah dengan pertimbangan usia, kompetensi, dan kondisi yang serba tanggung. Sepertinya akan jadi cerita lain membayangkan Si Tengah melihat kakak dan adiknya bersekolah sementara dirinya tidak.

Bagaimanapun, Si Tengah patut diapresiasi atas cinta dan perhatiannya yang besar. Plus kesabarannya dalam menjalankan peran sebagai adik sekaligus kakak. Dan urutan kelahiran sejatinya hanyalah salah satu faktor yang memengaruhi kepribadian, bukan satu-satunya. Pola pengasuhan keluarga bahkan akan lebih banyak menentukan pribadi anak yang akan dibentuk. Happy birthday, my little angel! I wish you to love life and never stop dreaming! You are braver than you believe, stronger than you seem, smarter than you think, and more loved than you’ll ever know. My happiness becomes boundless to see your healthy growth. I will be with you to guide you in the way of life, to cheer for you in the success, and to comfort you in sadness. Love you, always! Happy birthday, my little girl!

A father holds his daughter’s hand for a short while, but he holds her heart forever” (Unknown)

Menulis yang Disampaikan, Menyampaikan yang Ditulis

Tell your story. Shout it. Write it. Whisper it if you have to. But tell it. Some won’t understand it. Some will outright reject it. But many will thank you for it. And then the most magical thing will happen. One by one, voices will start whispering, ‘Me, too.’ And your tribe will gather. And you will never feel alone again.
(L.R. Knost)

Write what you do and do what you write” barangkali merupakan jargon yang banyak dikenal terutama mereka yang terlibat dalam urusan Quality Management. Harus ada bukti tertulis dari apa yang telah kita kerjakan, dan pekerjaan yang dilakukan harus didukung oleh dokumen tertulis sebagai dasar pedoman pelaksanaan. Jika kita tidak bisa membuktikan bahwa kita telah bekerja, berarti kita tidak bekerja. Dan jika kita bekerja tidak sesuai dengan dokumen tertulis, berarti ada kesalahan dalam pekerjaan kita. Penyampaian tanpa bukti tertulis juga belum bisa dianggap kebenaran. Di sisi lain, melakukan apa yang disampaikan dapat menunjukkan integritas seseorang, namun menyampaikan apa yang dilakukan tidak selamanya dinilai positif. Bisa saja justru dianggap sombong, ujub, ataupun riya’. Tulisan ini tidak hendak menyoroti relevansi dari jargon tersebut, namun coba menghubungkan menulis dengan berbicara sebagai sesama aktivitas penyampaian pesan.

Menulis dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat aktif-produktif. Penulis dan pembicara berperan sebagai penyampai atau pengirim pesan kepada pihak lain. Keduanya harus mengambil sejumlah keputusan berkaitan dengan topik, tujuan, jenis informasi yang akan disampaikan, serta cara penyampaiannya sesuai dengan kondisi sasaran (pembaca atau pendengar) dan corak teksnya (eksposisi, deskripsi, narasi, argumentasi, dan persuasi). Perbedaan antara keduanya hanya dalam hal kecaraan dan medianya. Komunikasi dalam berbicara terjadi secara langsung dan respon pendengar juga dapat langsung ditangkap. Pembicara menyampaikan pesan secara lisan, sementara penulis menyampaikan pesan secara tertulis, termasuk gambar dan ilustrasi.

Menulis dan berbicara punya teknik dan tantangannya sendiri. Tidak semua orang yang hebat dalam menulis, mampu berbicara dengan fasih. Dan tidak semua orang yang hebat dalam berbicara, cakap menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Dalam berbicara, ada unsur nonverbal seperti suara, mimik, pandangan, dan gerak dapat secara langsung digunakan untuk memperjelas, mempertegas, dan menarik perhatian pendengar. Respon pendengar yang bisa langsung ditangkap juga memungkinkan pembicara untuk menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki apa yang disampaikannya. Namun implementasinya tak sesederhana itu, butuh banyak latihan dan ‘jam terbang’. Pembicara bukan hanya butuh persiapan materi atau konten pembicaraan, namun juga kesiapan mental. Asal berbicara memang mudah, namun berbicara yang baik, mencerahkan, dan menginspirasi tentu butuh pembiasaan.

Menulis tidak lebih mudah. Karena tidak langsung berhadapan dengan pembaca, dan tidak langsung mendapatkan responnya, persiapan penulis bisa lebih matang. Penulis bisa melakukan review tulisannya sebanyak yang dibutuhkan agar benar-benar siap, sebelum dipublikasikan. Namun jika pembicaraan dapat cepat diralat atas respon yang diberikan, klarifikasi tertulis butuh waktu. Ada berbagai teknik penulisan, termasuk penggunaan gaya bahasa, penambahan ilustrasi dan gambar untuk memperkuat tulisan. Namun implementasinya tak sesederhana itu, butuh banyak latihan dan ‘jam terbang’. Dan menjadi penulis butuh keberanian. Asal menulis memang mudah, namun perlu diingat bahwa ‘masa hidup’ sebuah tulisan jauh lebih lama dibandingkan pembicaraan. Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Jejak digital tulisan mudah diakses siapa saja, dan penulislah yang harus mempertanggungjawabkan tulisannya. Belum lagi dengan UU ITE, tantangan menjadi penulis lebih besar. Pastikan menulis yang baik atau lebih baik diam.

Dengan berbagai tantangan dan keunggulan masing-masing, idealnya setiap diri kita mampu menjadi pembicara dan penulis yang baik. Seorang da’i atau motivator yang sering berbicara di ruang publik tentu akan mengalami batasan ruang dan waktu dalam menginspirasi. Akan berbeda jika apa yang disampaikan juga dituliskan. Inspirasinya dapat terus terjaga menembus zaman. Di sisi lain, seorang penulis produktif akan mengalami batasan dalam kolaborasi gagasan. Penulis butuh menyampaikan langsung apa yang dituliskan sehingga ada respon langsung yang dapat memperkaya gagasan. Bukankah dua kepala lebih baik daripada satu kepala? Apalagi banyak kepala. Dalam dunia akademik, keseimbangan antara menulis dengan berbicara ini sudah lama dikenal. Misalnya tugas akhir tertulis yang dibuat harus dipresentasikan dalam sidang tugas akhir. Menulis dan berbicara, tanpa kecuali. Sayangnya, momentum seperti ini kurang dibiasakan. Akhirnya, aktivitas menulis dan berbicara dilakukan ala kadarnya. Itupun masih lebih baik dibandingkan mereka yang asal menulis dan asal berbicara, tanpa manfaat, tanpa berani mempertanggungjawabkan apa yang ditulis dan diucapkannya.

Keberadaan kita di dunia ini harus memberi manfaat. Namun setiap diri kita punya keterbatasan dalam melakukan beragam kebermanfaatan tanpa melibatkan orang lain. Batas sempit itu dapat diperluas dengan aktivitas menyampaikan inspiratif, baik lisan maupun tulisan. Dan batas itu akan semakin luas jika kita optimal melakukan keduanya, berbicara dan menulis. Dengan tetap memperhatikan keteladanan perilaku atas apa yang dibicarakan ataupun ditulis, tentunya. Tidak ada dikotomi antara keduanya, semuanya bisa dilatih dan dibiasakan. Dan karena keduanya bersifat aktif-produktif, satu-satunya cara paling efektif untuk menguasai keterampilan berbicara dan menulis adalah dengan langsung mengimplementasikannya. Khazanah ilmu dapat terus berkembang dengan penyampaian secara lisan dan tulisan, dan seharusnya kita berupaya menjadi bagian darinya. Memiliki keterampilan berbicara dan menulis, dan mencerminkannya dalam keteladanan perilaku. Bismillah… Komisaris… eh bukan… Bismillah, saya siap. Bagaimana dengan Anda?

I love writing for kids. I love talking to children about what I’d written. I don’t want to leave that behind.” (J.K. Rowling)