27 Tahun Harmoni Kebaikan

Ada hal menarik dari kegiatan penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf dari Dompet Dhuafa ini adalah pendekatan gerakan, itu artinya melibatkan semua dan membuat semua merasa punya kepemilikan atas masalah, punya keterlibatan untuk mau bergerak langsung” (Anies Baswedan)

Pameo “orang miskin dilarang sakit” menghadapi antitesisnya: “orang kaya dilarang berobat”. Itulah kesan pertama saya ketika mengenal Dompet Dhuafa melalui riset evaluasi dan kaji dampak program Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) sekitar 12 tahun lalu. Kala itu BPJS belum ada, asuransi kesehatan (Askes) hanya diakses segolongan orang, sementara kualitas layanan puskesmas masih sangat memprihatinkan. Alhasil, orang miskin tidak mampu mengakses layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas. Dan Dompet Dhuafa sejak tahun 2001 menawarkan solusi lain: layanan kesehatan gratis untuk dhuafa, dimana hanya orang miskin yang boleh berobat. Kualitas layanannya pun lebih baik dari puskesmas, dan pelaksanaan program LKC terbukti efektif dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesehatan masyarakat.

Penelitian berikutnya mengenalkan saya pada beberapa program pemberdayaan ekonomi, mulai dari Lembaga Pertanian Sehat (LPS), Kampoeng Ternak (Kater), dan Masyarakat Mandiri (MM). Jejaring Dompet Dhuafa yang saat ini sudah berganti status dan nama. Riset dan kajian kali ini dilakukan untuk merumuskan performance indicators dari program pemberdayaan berbasis zakat. Turun lapang langsung berinteraksi dengan para petani, peternak, serta pelaku usaha kecil dan mikro memperlihatkan bahwa potensi zakat untuk memberdayakan dan memandirikan masyarakat bukanlah sebatas impian. Kedua penelitian tersebut bisa dibaca di Zakat & Empowering, Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 2 Jumadil Tsani 1430/ Juni 2009.

Di akhir tahun 2008, saya lebih mengenal Dompet Dhuafa dengan mengelola program Beastudi Etos. Selama 12 tahun berkiprah, setidaknya 12 kali pula saya berganti amanah di Dompet Dhuafa. Dinamika yang barangkali tidak dijumpai di organisasi lain. Di satu sisi, dinamika tersebut memperlihatkan potret tentang fleksibilitas dan tidak terjebak pada status quo. Bagaimanapun, kepeloporan Dompet Dhuafa dalam program layanan, pengembangan, dan pemberdayaan berbasis ZISWAF membutuhkan kreativitas dan agilitas yang tinggi. Alhasil, berbagai inovasi produk dan program masterpiece bisa terus dihasilkan. Namun di sisi lain, dinamika cepat ini menjadi tantangan dalam proses kaderisasi dan transformasi nilai-nilai kebaikan. Visi, misi, dan value organisasi harus kuat agar tidak kehilangan arah di tengah pusaran arus perubahan.

Dan 27 tahun bukanlah waktu yang singkat. Tepat di usia tersebut, saya melangsungkan pernikahan. Artinya, Dompet Dhuafa sudah seharusnya menapaki jenjang yang lebih tinggi. Bertambahnya usia berarti bertambah pula kedewasaan, amal kebaikan, dan kontribusi. Barangkali perlu lebih giat dalam menginspirasi dan mengadvokasi, tak lagi mengambil peran sebagai lembaga pelaksana program-program bernuansa charity. Atau barangkali perlu menyeriusi posisi sebagai mitra strategis sekaligus mitra kritis pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakberdayaan di negeri ini. Atau mengelola kepemimpinan dan harmonisasi lembaga-lembaga filantropi sehingga dapat memberi dampak yang semakin signifikan, meluas dan merata. Bukan sekadar tumbuh dan berkembang, namun juga harus produktif menumbuhkan dan mengembangkan.

Selamat hari jadi yang ke-27 buat Dompet Dhuafa. Semoga tetap istiqomah dalam memberdayakan masyarakat marjinal dan terus amanah dalam menyantun dhuafa. Bukan sekadar membantu manusia, namun juga memuliakan manusia. Semoga semakin erat dalam menjalin ukhuwah dan membangun sinergi produktif dengan semua pihak. Saling mengingatkan dan saling menguatkan, karena jalan panjang perjuangan ini tak mungkin ditapaki sendirian. Semoga semakin semangat dalam menggugah etos kerja dan membentang kebaikan. Senantiasa memberikan yang terbaik, dan menjadi teladan baik bagi masyarakat dunia. Semoga senantiasa berlimpah berkah dari Allah SWT.

Terakhir, saya sampaikan kutipan sambutan dalam milad 27 tahun harmoni kebaikan DD dari Bapak Parni Hadi, inisiator dan Ketua Pembina Dompet Dhuafa. “…DD adalah sebuah sejarah, proses menyejarah. Banyak yang telah berkiprah, masing-masing berkontribusi, dari generasi ke generasi. Tak elok menyebut diri sendiri: paling benar dan berjasa paling besar sendiri. Wajib saling menghargai, jangan menghakimi, menzalimi dan meniadakan. Hari ini ada karena kemarin, berlanjut besok, generasi pendahulu dan penerus, saling merajut. Masing angkatan jaman punya peran dan bagian… Seluruh insan DD, ini sebuah perjalanan panjang, a long journey, kita masih harus terus berjuang. Jangan cepat jenuh, perjalanan masih jauh. Kaum dhuafa masih mengaduh, menjerit pahit, kemiskinan terus menghimpit. Ini tugas panggilan jaman, menebar kebaikan, selama hayat dikandung badan. Ini tugas kemanusiaan, pekerjaan suara hati, tidak kenal henti… Terima kasih para muzaki dan mustahik, donatur dan penerima manfaat, kami hanyalah alat, perantara belaka, antara Anda berdua, berkat ridha Allah, Sang Maha Pecinta.

#DompetDhuafa #27harmonikebaikan

Bimbingan Belajar Belajar Bertahan

It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change” (Charles Darwin)

Beberapa waktu lalu, saya menerima undangan dari seorang rekan yang mengelola bimbingan belajar (bimbel) di daerah Citayam. Bukan undangan menjadi pengajar tamu, apalagi undangan membuka cabang baru, namun undangan penutupan lembaga bimbel yang pernah saya besarkan 13 tahun yang lalu. Sedih juga mendengarnya, mengingat banyak kenangan yang tergoreskan, terutama di masa-masa awal pembentukkan bimbel tersebut. Pun demikian saya maklum, mengingat sektor pendidikan memang termasuk sektor kehidupan yang cukup terdampak pandemi Covid-19 ini. Jangankan jalur pendidikan nonformal seperti lembaga kursus, pendidikan formal pun harus beradaptasi cukup keras dan cerdas dalam menghadapi perubahan pengelolaan persekolahan selama masa pandemi Covid-19.

Berbeda dengan sektor terkait pariwisata yang minim pilihan dalam menghadapi Covid-19, sektor pendidikan masih punya pilihan bertransformasi untuk bisa bertahan. Ketika pembelajaran di sekolah bisa digantikan dengan pembelajaran jarak jauh, dunia perhotelan atau maskapai penerbangan misalnya, tidak dapat mengganti layanan mereka dengan menginap atau bepergian via online. Karenanya, ketika banyak sekali industri pariwisata yang terancam gulung tikar terdampak corona, pertumbuhan situs maupun aplikasi terkait pendidikan justru melonjak 267%. Pertumbuhan ini jauh melampaui online shopping (13%), games (44%), dan kesehatan (59%).

Bagaimanapun, sekolah formal masih menjadi primadona di Indonesia. Belajar di rumah dibimbing oleh keluarga yang semestinya menggunakan pendekatan pendidikan informal, tetap kental nuansa pendidikan formal dengan silabus dan kurikulum ketat dari sekolah. Walaupun siswa tidak datang ke sekolah dan pendidik juga tidak bertatap muka dengan peserta didiknya, sekolah formal tetap eksis meski beberapa sekolah mengurangi biaya pendidikan sebagai konsekuensinya. Gagasan homeschooling sempat mengemuka ketika tersebar isu pemerintah tetap mendorong siswa mulai kembali bersekolah pada tahun ajaran baru di pertengahan Juli 2020. Orang tua yang khawatir terhadap kesehatan dan keselamatan anaknya ramai-ramai menolak, pun prosedur kesehatan tetap akan diberlakukan. Namun setelah keluar pernyataan resmi dari Kemendikbud tentang kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19, wacana homeschooling pun menguap. Bagaimanapun, pendidikan formal masih jauh lebih populer, dengan segala penyesuaian yang harus dilakukan.

Kondisi berbeda dialami oleh pendidikan nonformal, khususnya bimbel. Selain tidak ada keharusan untuk mengirimkan anak belajar di bimbel, sejak masa awal pandemi Covid-19 eksistensi bimbel sudah terancam. Pertama, kekhawatiran orang tua terhadap aktivitas berkumpul di luar rumah sehingga KBM bimbel tatap muka menjadi salah satu aktivitas yang dihindari. Kedua, peniadaan Ujian Nasional 2020 oleh pemerintah membuat alasan orang tua memberikan tambahan pembelajaran kepada anaknya melalui bimbel semakin menurun. Dalam perkembangan pandemi Covid-19, keberadaan bimbel kian kritis. Pemerintah telah menginstruksikan sekolah formal untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh dimana siswa belajar dari rumah didampingi orang tuanya. Pendampingan belajar dari bimbel semakin tidak ada artinya. Ditambah lagi dampak pandemi terhadap krisis ekonomi menyebabkan kebutuhan akan bimbel bergeser menjadi sesuatu yang dianggap kurang prioritas.

Berbagai lembaga pendidikan umumnya beradaptasi di tengah pandemi Covid 19 dengan mengubah pola pembelajaran berbasis teknologi informasi. Karenanya platform pendidikan berbasis digital semakin berkembang dan banyak digunakan. Bahkan pemerintah pun mengubah pola pelatihan vokasional yang biasanya dilakukan Balai Latihan Kerja menjadi program kartu prakerja yang berbasis platform digital. Pendidikan formal dan nonformal pun beradaptasi. Namun realitanya tidak semudah itu untuk bimbel yang menjadikan layanan intensifnya sebagai keunggulan. Ketika KBM bimbel diganti online, apa bedanya dengan pembelajaran jarak jauh di sekolah? Efektif belum tentu, bosan bisa jadi. Fokus pendampingan guru terhadap siswa dan fokus belajar siswa tidak bisa dijamin lebih baik dibandingkan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan sekolah. Belum lagi ditambah fakta bahwa tidak semua bimbel siap secara sumber daya untuk segera alih teknologi. Lantas apa keunggulan bimbel?

Sebenarnya masih ada berbagai peluang bagi bimbel untuk bisa bertahan. Tersedia berbagai potensi inovasi program. Pertama, salah satu titik lemah dari pembelajaran jarak jauh adalah orang tua yang belum tentu memiliki kompetensi untuk mendampingi anaknya belajar. Bimbel bisa mengambil peran coaching dan consulting untuk efektivitas pembelajaran jarak jauh, baik terhadap siswa ataupun terhadap orang tua yang mendampingi anaknya belajar. Peran sebagai pengajar yang dalam beberapa kasus sudah tidak lagi relevan dengan kondisi aktual, digeser menjadi peran konsultatif yang ternyata masih dibutuhkan. Dari poin ini pun dapat terlihat bahwa bimbel yang sifatnya privat masih bisa dijalankan di tengah pandemi Covid-19. Kedua, titik lemah lain dari pembelajaran jarak jauh adalah spesialisasi ilmu yang tidak dimiliki orang tua padahal butuh pendalaman lebih. Berapa banyak orang tua yang bisa mendampingi anaknya belajar Fisika atau Kimia, misalnya. Bahkan pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di level tertentu pun butuh ilmu yang spesifik. Disinilah kompetensi pengajar bimbel masih dibutuhkan sebab guru di sekolah maupun orang tua di rumah sama-sama memiliki keterbatasan. Tak heran, program sukses Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang dijalankan oleh bimbel masih ramai peminat pun melalui pembelajaran online. Sebab materi ujiannya memiliki karakteristik spesifik, yang bisa jadi tidak dimiliki guru atau orang tua yang ada di generasi UMPTN atau bahkan Sipenmaru. Dan masih banyak potensi survival lainnya yang ternyata masih bisa dijalankan oleh bimbel di masa pandemi ini. Selama tidak terjebak status quo.

Semasa sekolah, saya tidak ikut bimbel. Selain alasan biaya, saya merasa telah mengetahui cara belajar mandiri yang paling efektif tanpa tergantung pengondisian eksternal. Bahkan ada guru saya yang antipati dengan bimbel. Beliau menganggap bimbel hanya mengajarkan cara praktis tanpa memberikan pemahaman. Beliau pernah membuktikan dengan memberikan soal anti-mainstream yang tidak bisa diselesaikan dengan rumus cepat bimbel, tapi bisa saya selesaikan dengan kombinasi beberapa rumus sederhana dari beberapa materi pelajaran yang terpisah. Namun setelah merasakan menjadi guru bahkan mengelola bimbel, saya kemudian memahami bahwa tidak sedikit siswa yang masih membutuhkan bantuan dalam belajar, tidak cukup hanya di sekolah. Bantuan belajar mulai dari yang sifatnya materi pengetahuan, pembiasaan belajar, hingga motivasi belajar. Belum lagi beberapa program bimbel yang mengembangkan aspek mental dan spiritual serta sinergi belajar dengan orang tua menjadi penguat bahwa layanan bimbel dapat memberikan pengaruh positif. Terlepas masih ada yang menjadikan bimbel sebagai cara pragmatis untuk meningkatkan nilai, jalan pintas untuk diterima di sekolah atau perguruan tinggi favorit. Terlepas masih ada bimbel yang berpikir pragmatis mengajar dengan motif bisnis.

Akhirnya, bimbel kenangan tak jadi ditutup, hanya operasionalisasinya dinonaktifkan hingga empat bulan ke depan sambil ada renovasi gedung. Namun kejadian ini bisa menjadi pembelajaran penting bagi lembaga pendidikan untuk dapat beradaptasi dengan perubahan. Berinovasi untuk terus berkembang menjawab tuntutan zaman. Fleksibilitas dan agilitas ini bukan hanya penting bagi bimbel namun berlaku juga untuk seluruh stakeholder pendidikan, termasuk pihak sekolah dan orang tua. Karena bisa jadi semua terdampak dan saling terkait. Jika sekarang virus corona yang menyerang, bisa jadi sesuatu yang lain di masa yang akan datang. Strategi penyikapannya pun berbeda. Jika hari ini ada kebutuhan untuk transformasi teknologi, entah ke depan butuh transformasi apa lagi. Barangkali ada benarnya bahwa tidak ada yang tidak berubah selain perubahan itu sendiri. Jangan takut berubah, jangan berhenti belajar. Sebab mereka yang berhenti belajar akan mati terkapar.

“Never stop learning because life never stops teaching”

New Normal, Ilusi Penuh Harapan

Normal is an illusion. What is normal for the spider is chaos for the fly.” (Charles Addams)

Alhamdulillah, setelah dua setengah bulan mengganti shalat Jum’at dengan shalat zhuhur akibat pandemi Covid-19, akhirnya saya berkesempatan melaksanakan shalat Jum’at di masjid secara berjama’ah. Itupun karena memang sedang ada agenda rapat offline. Karena masjid perumahan juga belum menyelenggarakan shalat Jum’at berjama’ah. Tidak ada yang terlalu berbeda dari Jum’atan sebelum virus corona menyerang, kecuali tersedianya hand sanitizer dan bilik disinfektan untuk jama’ah, dan sebagian besar jama’ah menggunakan masker. Ya, tidak semua jama’ah mengikuti protokol cegah corona dengan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Social distancing antar jama’ah juga hanya terjadi di awal ketika jama’ah belum banyak yang datang. Ketika jama’ah sudah membludak, apalagi pas pelaksanaan shalat, jarak antar jama’ah hanya sekadar ‘tidak menempel’. Saya tidak akan membahas lebih baik mana shalat Jum’at di masjid atau shalat zhuhur di rumah ketika terjadi wabah. Yang ingin saya soroti adalah betapa banyak masyarakat kita yang bosan #dirumahaja dan ingin segera dapat beraktivitas di luar rumah, seperti sediakala. Apalagi saat ini pemerintah sudah membuka ruang itu dengan terminologi “new normal” atau kenormalan baru. Pun baru akan dimulai Juni mendatang, masyarakat awam sudah banyak yang ‘berani beraktivitas normal’ hanya berbekal masker.

Kenormalan baru yang dikehendaki pemerintah adalah kehidupan seperti biasanya ditambah dengan protokoler kesehatan, seperti menjaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan, dan tidak berkerumun. Karena obat atau vaksin corona belum pasti kapan akan ditemukan, sementara virus corona takkan hilang dalam waktu dekat, pemerintah berharap masyarakat Indonesia bisa berdamai dengan corona. Panduan menghadapi kenormalan baru pun sudah disiapkan. Kebijakan ini diharapkan menjadi solusi terbaik dalam menghadapi pandemi Covid 19 yang dampaknya bukan hanya terlihat dari perspektif dunia kesehatan, namun sektor-sektor kehidupan lainnya juga sangat terdampak, termasuk sektor ekonomi. Kenormalan baru diharapkan mampu menggeliatkan kembali perekonomian nasional yang sempat ‘mati suri’.

Kebijakan kenormalan baru ini banyak menuai kritik. Ketua DPR RI, Puan Maharani meminta pemerintah tidak terburu-buru menerapkan new normal tanpa kajian mendalam, termasuk harus ada langkah antisipasi seandainya terjadi gelombang baru penyebaran virus corona setelah penerapan new normal. Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal menolak istilah new normal yang dinilainya tidak akan efektif. Sudah banyak buruh yang PHK, sebagian lainnya tidak ada yang bisa dikerjakan karena ketiadaan bahan baku, sebagiannya lagi tetap bekerja walau tanpa new normal. Sementara Relawan Laporcovid-19 yang juga Ketua Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia, Ahmad Arif menilai kondisi ke depan adalah kondisi tidak normal. Pemerintah harus mampu mengendalikan pandemi dan menurunkan penyebaran virus corona, atau alih-alih new normal, yang terjadi justru bencana baru. Organisasi Muhammadiyah juga mengkritik dan skeptis dengan kebijakan ini. Data primer dari ratusan jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah menunjukkan tren Covid 19 di Indonesia belum melandai. Berdamai dengan Covid 19 bukanlah sikap yang tepat, apalagi akan banyak nyawa masyarakat Indonesia yang dipertaruhkan. Dan masih banyak lagi kritik terhadap kebijakan kenormalan baru yang pada intinya dianggap tidak tepat waktunya karena belum memenuhi syarat untuk menerapkannya.

Sebagai catatan, ada beberapa syarat yang direkomendasikan WHO bagi negara yang hendak menerapkan new normal. Pertama, transmisi atau penularan Covid-19 terbukti sudah dapat dikendalikan. Indikator yang biasa digunakan adalah basic reproduction number (biasa dilambangkan dengan R0/ R naught) yaitu angka yang menunjukkan daya tular virus dari seseorang ke orang lain. Nilai R0 pada suatu waktu (t) atau biasa disebut effective reproduction number (Rt) haruslah lebih kecil dari 1 (satu) sehingga pelonggaran atau new normal dapat diterapkan. Bahkan idealnya, nilai Rt kurang dari 1 ini harus konsisten di bawah 1 (satu) selama dua pekan (14 hari) untuk memastikan transmisi Covid 19 sudah dapat dikendalikan. Kedua, sistem kesehatan terbukti memiliki kapasitas dalam merespon pelayanan Covid-19, mulai dari mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, hingga mengkarantina. Jangan sampai ketika terjadi gelombang baru akibat pelonggaran, Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan menjadi overload. Ketiga, adanya mitigasi risiko pandemi khususnya untuk wilayah dan kelompok orang yang rentan terjangkit Covid-19, misalnya di panti jompo, fasilitas kesehatan termasuk Rumah Sakit Jiwa, ataupun pemukiman padat penduduk. Keempat, implementasi pencegahan penularan Covid-19 di tempat kerja dan tempat umum dengan penyediaan fasilitas fisik dan penerapan prosedur kesehatan. Kelima, risiko penyebaran imported case dapat dikendalikan. Keenam, adanya keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan masa transisi kenormalan baru.

Faktanya, berbagai persyaratan tersebut memang belum terpenuhi. Nilai Rt di beberapa wilayah Indonesia yang akan diterapkan new normal, termasuk DKI Jakarta, masih di atas 1 (satu). Penambahan jumlah kasus baru corona pun masih ratusan setiap harinya, lebih tinggi dibandingkan penambahan jumlah pasien yang sembuh. Kurva penyebaran virus corona pun relatif masih terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda akan melandai dalam waktu singkat. Belum lagi, rasio jumlah tes corona dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia tergolong paling rendah di antara negara-negara dengan jumlah kasus corona minimal lima digit. Artinya, bisa jadi jumlah kasus positif corona (termasuk jumlah korban jiwa akibat corona) di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan data yang selama ini dipublikasikan. Singkatnya, new normal hanyalah ilusi sebab syarat dan ketentuannya belum terpenuhi, namun tetap akan diimplementasi.

Pun demikian, kenormalan baru adalah ilusi yang bisa dipahami. Ketika masyarakat lebih takut mati karena kelaparan dibandingkan mati karena virus. Ketika pemerintah sudah tidak lagi mampu membiayai. Ketika berbagai wacana dan teori konspirasi virus corona semakin ramai dan tidak dihalangi. Ketika pemimpin bukan hanya membiarkan, namun mencontohkan untuk tidak patuh prosedur. Ketika ekonomi menjadi panglima, yang siap menumbalkan sektor lainnya termasuk kesehatan dan pendidikan. Se-absurd apapun, kenormalan baru akan mentolerir dan menjadi solusi atas itu semua.

Masyarakat tak perlu takut menghadapi virus corona, toh berbagai virus mulai dari influenza hingga HIV bisa jadi ada setiap saat di semua tempat. Karenanya sebagian masyarakat menyambut kenormalan baru dengan euforia. Tidak perlu khawatir berlebihan dalam beraktivitas, harapan hidupnya pun semakin tinggi. Ketika Covid-19 diposisikan sebagai ilusi yang menebar ancaman dan ketakutan, new normal adalah ilusi yang memberikan harapan. Harapan untuk kembali menjalani hari-hari tanpa ketakutan. Harapan berdamai dengan virus dan membentuk sistem imun. Harapan kesejahteraan ekonomi semakin membaik. Dan berbagai harapan yang bisa jadi hanya sebatas angan. Entah sekadar harapan semu atau harapan yang akan mewujud biarlah imunitas dan waktu yang menjawabnya.

Akhirnya, masyarakat termasuk garda terdepan Covid-19 hanya bisa berdamai dengan kebijakan new normal. Ya, berdamai dengan kebijakan, bukan dengan virus yang tidak mengenal negosiasi. Tak bisa melawan. Tak punya posisi tawar. Apalagi bagi mereka yang tak punya pilihan dalam menentukan aktivitas pekerjaannya. Semuanya hanya bisa bekerja sesuai dengan tupoksinya, dan biarkan kenormalan baru menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Hidup mati adalah takdir yang tak perlu ditakuti, apalagi hanya dari virus yang terlihatpun tidak. Dalam ketidakjelasan, bukankah lebih baik hidup dengan harapan dibandingkan hidup dengan ketakutan?

Karena beban tanggung jawab dipindahkan ke individu masyarakat, maka pemerintah bisa beralih fokus untuk mengerjakan proyek selanjutnya. Apalagi keberadaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) nomor 1 tahun 2020 terkait penanganan pandemi Covid 19 sangat berpihak kepada pemerintah. Mulai dari keleluasaan menggunakan anggaran dengan dalih penanganan pandemi, hingga kekebalan hukum untuk disalahkan dalam upayanya mengatasi pandemi Covid 19. Proyek-proyek bisa kembali dijalankan, termasuk proyek pilkada. Biarlah rakyat mengais recehan untuk dapat meneruskan kehidupan. Biarlah para pengangguran dan pulahan juta korban PHK mati-matian untuk survival di tengah pandemi Covid-19. Semoga saja kebijakan new normal ini sudah direncanakan dengan matang dan tidak didasari pada kepentingan pragmatis golongan. Sehingga ribuan korban jiwa, termasuk puluhan tenaga medis tidaklah mati sia-sia. Untuk kemudian menuntut haknya di akhirat. Sehingga semua pihak bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil. Tidak kemudian lepas tangan ketika kondisi memburuk. Sehingga harapan baik bukan sebatas ilusi, namun menjadi impian yang akan diperjuangkan, dan do’a yang akan terwujud. Tetap normal dalam new normal.

“Hope and fear cannot occupy the same space. Invite one to stay.” (Maya Angelau)

Bersabar di Hari yang Fitri (2/2)

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,

Shaum berarti menahan diri, sama dengan bersabar. Orang yang berpuasa perlu bersabar dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Menahan diri dari berkata dusta, berkata kotor, termasuk menahan diri dari amarah. Bahkan jika ada yang mengajak berkelahi, Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengatakan, “Saya sedang berpuasa”. Tidak mampu bersabar memang tidak membatalkan puasa, namun dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala berpuasa. Karenanya, kesabaran merupakan salah satu wujud nyata keberkahan puasa seseorang. Sebulan penuh berlatih menahan diri seharusnya mampu membentuk seseorang menjadi pribadi yang sabar.

Apalagi ditengah ujian pandemi Covid 19 ini, menyaksikan persebaran virus yang begitu berbahaya, ditambah banyaknya masyarakat yang semaunya, dilengkapi pemerintah yang ‘suka-suka gua’, kesabaran ekstra harus dimiliki untuk melewati ujian dan cobaan ini. Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ , الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ,  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155 – 157)

Muara dari ujian adalah kembali kepada Allah SWT. Bahkan kita perlu lebih bersyukur atas ujian yang membuat kita semakin dekat kepada Allah SWT dibandingkan nikmat yang justru menjauhkan kita dari Allah SWT. Semoga kita bisa melewati berbagai ujian kehidupan ini dengan penuh kesabaran, tetap bersabar dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, dan senantiasa menjadikan sabar sebagai salah satu bekal untuk menuju Jannah-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ar Ra’du ayat 24 bahwa salamnya para malaikat untuk para penghuni surga adalah: سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ (selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu). Semoga kita bisa menjadi pribadi yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tidak mengeluh, bersikap lemah, dan menyerah menghadapi ujian.

وَٱلۡعَصۡرِ ,  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ,  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

* * *

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر لااله الاالله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

الْحَمْدُ لله الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِين، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه.

فَيَا عِبَادَ الله أُوْصِنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ  أما بعد

Sabar adalah sikap aktif, bukan pasif. Salah satu perwujudan kesabaran adalah berdo’a setelah berikhtiar. Sebagaimana dicontohkan oleh para Nabi, Rasul, dan orang-orang shalih. Nabi Ibrahim a.s. ketika diuji belum juga memiliki anak di usia tua lantas berdo’a: رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ yang artinya, “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaffat: 100). Nabi Yunus ketika di dalam perut ikan berdo’a: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ yang artinya, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zhalim/ aniaya” (QS. Al Anbiya: 87).

Para pemuda kahfi ketika diuji keimanannya sehingga memaksa mereka untuk bersembunyi di goa berdo’a: رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا yang artinya, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS. Al Kahfi: 10). Nabi Nuh dan Luth ketika diuji dengan kaumnya yang membangkang lantas berdo’a. Nabi Yaqub ketika diuji kehilangan anak-anak yang dicintainya berdoa. Nabi Yusuf ketika difitnah berdo’a. Nabi Ayub ketika diuji dengan berbagai ujian yang dahsyat berdo’a. Nabi Zakaria ketika diuji belum memiliki anak di usia lanjut berdo’a. Pun demikian dengan Rasulullah SAW yang tak henti berdzikir dan berdo’a dalam setiap kesempatan.

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah, marilah kita tutup khutbah ini dengan bermunajat kepada Allah SWT agar senantiasa menganugerahkan kebaikan dan keberkahan bagi kita, keluarga kita, masyarakat kita, bangsa dan negara kita, dan kaum muslimin dimanapun berada.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صل على سيدنا محمد ، وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم

وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد ، كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنَينَ وَالْمُؤْمِنَات الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارَا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا اَّلذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَان، وَلَاتَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ الرَّحِيم.

اللهم تقبل منا صلاتنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وخشوعنا وتضرعنا وتمم تقصيرنا برحمتك يا أرحم الراحمين

يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك ، يا مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعت ك

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُن وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَصَلّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِين

عباد الله ، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون ، فاذكروا الله العظيم يذكركم وشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bersabar di Hari yang Fitri (1/2)

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.
(QS. Ali Imran: 186)

Tak terasa, sudah sampai ke penghujung Ramadhan. Banyak hal di akhir Ramadhan ini yang sebenarnya ingin dituliskan. Mulai dari kesan berbeda mengakhiri Ramadhan di masa pandemi Covid-19, penambahan kasus positif corona terbesar di Indonesia hingga menembus lebih dari 20 ribu kasus, hingga drama konser dan lelang sepeda motor Jokowi. Namun dari semua itu, potensi membawakan khutbah Idul Fitri 1441 H sepertinya akan menjadi momen langka. Melihat tren kasus corona, kebijakan pemerintah, dan aktivitas masyarakat Indonesia, pendemi Covid-19 sepertinya masih akan berlangsung lama. Rekor baru penambahan kasus positif corona juga bukan tidak mungkin akan terjadi beberapa waktu ke depan. Drama lucu dan memalukan yang dipertontonkan pemerintah juga bisa jadi masih akan terulang. Namun shalat Idul Fitri di rumah akibat pandemi semoga saja ini akan menjadi yang pertama dan terakhir.

Panduan penyelenggaraan shalat Idul Fitri di rumah, baik sendiri maupun berjama’ah sudah banyak disosialisasikan. Selain niat, pembeda shalat Idul Fitri dengan shalat sunnah lainnya hanyalah terletak pada tambahan takbir tujuh kali di raka’at pertama dan lima kali di raka’at kedua, karenanya tak terlalu sulit untuk dapat dilaksanakan secara mandiri. Sementara khutbah Idul Fitri agak mirip dengan khutbah Jum’at, kecuali urutan pelaksanaannya setelah shalat dan pembacaan takbir dalam khutbah. Namun menjadi khatib relatif lebih berat ketimbang menjadi imam. Butuh keberanian dan kemampuan untuk menyampaikan. Belum lagi beratnya memberi nasihat sementara diri sendiripun masih jauh dari kesempurnaan. Bahkan jika sebatas membacakan teks khutbah yang beberapa sudah beredar pun tetap tidak mudah. Tidak heran belakangan ini justru semakin marak penjelasan bahwa khutbah Idul Fitri bukan termasuk syarat sah shalat Idul Fitri, sehingga tidak dilakukanpun shalat Ied-nya tetap sah.

Menurut penulis, membacakan teks khutbah yang dibuat oleh orang lain punya tantangan tersendiri. Pemahaman dan internalisasinya akan berbeda jika dibandingkan naskahnya dibuat sendiri. Dan menyampaikan khutbah dengan membaca teks juga punya tantangan lainnya. Di satu sisi dapat meminimalisir salah ucap, di sisi lain dapat mengganggu kepercayaan diri khatib. Karenanya penulis yang tipe visual akan menuliskan teks khutbah yang dibuat sendiri untuk memudahkan internalisasi, sehingga tidak perlu membawa teks ketika khutbah. Di sisi lainnya, naskah ini dapat menjadi salah satu referensi khutbah Idul Fitri 1441 H. Tema ‘sabar’ dipilih karena relevansinya dengan kondisi saat ini dan cenderung bersifat universal, dapat disampaikan kapanpun, dimanapun, oleh siapapun.

* * *

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لااله الاالله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ

Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan serta kesempatan untuk bertemu dengan bulan Syawal 1441 H. Di tengah pandemi Covid-19 ini, betapa banyak saudara kita yang terhalang untuk menunaikan shalat Idul Fitri karena kendala kesehatannya. Ada juga mungkin yang terkendala ilmunya, biasanya tinggal ikut shalat Idul Fitri di masjid atau lapangan, namun sekarang karena ada larangan berkumpul jadi bingung bagaimana melaksanakan shalat ‘ied di rumah. Atau bahkan barangkali ada keluarga, tetangga, kerabat, atau rekan kita yang tahun lalu masih bersama kita merayakan lebaran, namun tahun ini sudah tidak lagi membersamai kita. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan mengampuni dosa kita semua.

Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan kita, Rasulullah Muhammad SAW, yang telah banyak mengajarkan kita bagaimana bersabar menghadapi ujian. Shalawat dan salam juga semoga tersampaikan kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan segenap umatnya yang istiqomah memegang teguh iman dan Islam. Tak lupa, khatib berpesan ke diri sendiri dan kita semua untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan penuh rasa takut dan harap dalam menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita keimanan, kesehatan, dan keberkahan dalam menjalani aktivitas kita sehari-hari.

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Al Qur’an mengandung lima hal pokok, yaitu akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan tarikh. Dan berbicara tentang akhlak, sabar merupakan akhlak yang paling banyak disebutkan dalam Al Qur’an. Dalam beberapa ayat, bahkan sabar ini disebutkan lebih dari satu kali, misalnya dalam ayat terakhir surat Ali Imran, Allah SWT berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung). Atau dalam akhir surat Al Anfal ayat 46 disebutkan: وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ… (…Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar).

Dalam beberapa ayat, sabar didekatkan dengan shalat, misalnya firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 45: وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ (Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’) dan ayat 153: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ (Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar). Dalam beberapa ayat lain, sabar didekatkan dengan syukur, juga dengan takwa.

Sabar merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa, diantaranya disebutkan dalam akhir surat Al Baqarah ayat 177: وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (…dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa). Dan yang namanya akhlak tidak mengenal tempat dan waktu. Orang-orang yang benar-benar sabar adalah mereka yang senantiasa bersabar kapanpun, dimanapun. Bukan sabar dalam satu kondisi, dan tidak sabar di kondisi yang lain. Kesabaran itu tidak ada batas, sebagaimana balasan bagi kesabaran adalah pahala yang tidak terbatas.

(bersambung)

Ini Tentang Kita, Bukan Tentang Saya

“The only way we’re going to get through this is if we think as WE, not ME…”

Kutipan di atas saya ambil dari sebuah video pendek berjudul “Covid-19 Hoarder Rips People Off, A Stranger Teaches Him A Lesson”. Video tersebut berkisah tentang seorang anak muda yang memborong berbagai macam barang yang dibutuhkan di masa pandemi Covid-19 ini (emergency supplies) seperti tisu, toilet paper, hand sanitizer, dan sebagainya untuk dijual lebih mahal. Kemudian ada ‘a stranger’, wanita penderita diabetes yang membutuhkan insulin syringes (alat suntik insulin) dan tidak menemukannya di toko manapun. Singkat cerita, wanita ini akhirnya membeli alat suntik insulin dari anak muda dengan seluruh uang yang dimilikinya karena harganya yang dinaikkan lima kali lipat. Tak lama kemudian, anak muda tersebut dihubungi ibunya yang jatuh sakit dan segera pulang. Ternyata ibunya yang menderita diabetes kehabisan alat suntik insulin dan memaksakan dirinya mencari kemana-mana namun tidak menemukannya di toko manapun sehingga jatuh sakit. Di saat anak muda tersebut menyesali keputusannya menjual alat suntik insulin, ‘a stranger’ tadi datang dan membantu ibunya tanpa pamrih. Video ditutup dengan anak muda tadi yang memberikan emergency supplies yang dimilikinya secara gratis kepada yang membutuhkan. Terdengar klise memang, namun saya tertarik dengan kutipan di atas yang berulang kali disampaikan dalam video tersebut.

Kenyataannya, pandemi Covid-19 ini memang mengajarkan kita untuk berpikir dan bertindak sebagai ‘kita’, bukan sebagai pribadi masing-masing. Tidak sedikit orang yang positif terpapar virus corona atau mereka yang harus dikarantina yang lebih cepat pulih dengan masyarakat sekelilingnya yang membantu kebutuhan hariannya sementara mereka tak boleh kemana-mana. Di sisi lain juga tidak sedikit orang yang berpotensi terpapar virus corona, termasuk tenaga medis, yang diusir dari lingkungan yang tidak mendukungnya. Padahal pandemi Covid-19 ini hanya bisa kita lalui dengan saling menolong dan tidak egois, sebab tidak banyak yang punya sumber daya untuk melaluinya seorang diri.

Barangkali ada benarnya mereka yang beranggapan bahwa negara-negara sosialis lebih mampu menghadapi pandemi Covid-19 dibandingkan negara-negara liberalis yang cenderung mengakomodir ego individu. Di Asia Tenggara misalnya, Vietnam dan Laos yang berpaham sosialis berhasil mencatatkan nol kematian akibat virus corona dengan recovery rate mencapai 81.25% (Vietnam) dan 73.68% (Laos). Di Asia Tenggara hanya Kamboja yang lebih baik. Tidak perlu dibandingkan dengan Indonesia atau Filipina yang tergolong tinggi case fatality rate (CFR)nya (sekitar 6.6%), bahkan Singapura yang teknologinya lebih maju pun kesulitan menghadapi virus Corona. Singapura yang merepresentasikan kekuatan liberalis di Asia Tenggara mencatatkan kasus positif corona tertinggi di Asia Tenggara dengan 22 korban jiwa (CFR hanya 0.08%) dengan recovery rate hanya 33.3%. Kuba, negara sosialis di Amerika Utara juga kurva Covid-19nya sudah menurun. Dengan CFR 4.2% dan recovery rate hampir 80%, Kuba jauh lebih baik dibandingkan negara liberalis di Amerika Utara seperti USA dan Kanada. Bahkan China sebagai negara sosialis dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan menjadi negara dimana virus corona bermula, hanya menempati posisi ke-13 dalam urutan jumlah kasus positif corona dan jumlah korban meninggal akibat corona, dengan recovery rate mencapai 94.3%. Lebih baik dibandingkan USA dan beberapa negara liberalis di Eropa.

Memang faktor utama dalam menghadapi pandemi Covid-19 bukan perkara negara sosialis atau liberalis, lebih kepada penyikapan pemerintah dan rakyatnya. Namun kepatuhan akan larangan berkumpul dan keluar rumah tanpa keperluan, atau kebiasaan untuk saling berbagi sama rata sama rasa tentu akan mendukung terhentinya penyebaran virus corona. Disinilah pentingnya ego pribadi bisa ditekan untuk kepentingan bersama. Mereka yang hanya mementingkan dirinya tanpa peduli orang lain akan berpotensi membahayakan orang lain. Ketika merasa sehat, mereka tak mengindahkan peraturan untuk tetap di rumah walaupun berpotensi menjadi carrier bagi virus corona bahkan menjadi orang tanpa gejala. Ketika positif corona, mereka baru merasa perlu berbagi penyakit dengan orang lain, mulai dari menjilat dan meludah di sembarang tempat hingga memeluk orang lain. Ego pribadi yang justru mencelakakan orang lain.

Parahnya lagi jika penyakit mementingkan diri sendiri ini menjangkiti pejabat dan pemerintah. Kebijakan yang diambil bukan untuk kemaslahatan bersama. Menguntungkan diri dan kelompoknya tanpa peduli masyarakat semakin bingung dan kesusahan. Hukum dibuat dan diimplementasikan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Di satu sisi menuntut rakyat untuk menghadapi berbagai masalah dengan gotong-royong, di sisi lain tidak mau berkorban untuk memberikan sumbangsih apapun. Kalaupun ada kontribusi, selalu ada hitung-hitungannya: tidak merugikan diri sendiri atau harus ada return yang besarnya senilai atau lebih besar. Jauh dari nilai-nilai Pancasila. Jauh dari nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Pemerintah yang berpikir ‘saya’ ini jauh lebih berbahaya ketimbang pribadi yang berpikir ‘saya’, sebab dampak dari kebijakan akan jauh lebih besar dibandingkan dampak dari personal yang masih bisa dihadapi dengan personal lain yang berpikir ‘kita’.

Bukan hanya pemerintah, pengusaha atau pemilik perusahaan atau pemimpin dalam berbagai lingkup kepemimpinan juga bisa memberikan dampak yang besar dalam memilih untuk berpikir ‘saya’ atau ‘kita’. ‘Saya’ akan berpotensi bersikap sewenang-wenang untuk menyelamatkan diri sendiri, sementara ‘kita’ akan berupaya mencari solusi terbaik bagi semua orang. Sayangnya, sebagian besar masyarakat hanyalah ‘butiran pasir’ yang tidak memiliki kewenangan untuk memilih. Masyarakat hanya menjadi pihak yang terdampak dan bukan memberikan dampak. Karenanya ‘butiran pasir’ ini perlu bersatu dan bergotong-royong menjadi ‘kita’ yang memiliki kekuatan. Jika kekuatannya tidak cukup memberikan dampak besar, setidaknya cukup untuk saling membantu di antara ‘kita’. Sudah banyak inisiatif masyarakat yang membuat anggota masyarakatnya tetap survive menghadapi pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap krisis ekonomi masyarakat. Kepedulian masyarakat ‘kita’ sangatlah tinggi, pun dampaknya mungkin terbatas.

‘Indonesia Terserah’ adalah gambaran betapa sebagian masyarakat lelah menjadi ‘kita’ sementara sebagian masyarakat lainnya bahkan pemerintah malah memilih menjadi ‘saya’. Ketika semua masyarakat sudah lelah, ‘Indonesia Terserah’ akan menjadi ‘Indonesia Menyerah’. Memang butuh kepedulian dan keteladanan dari pemerintah untuk mengubah ‘Indonesia Terserah’ menjadi ‘Indonesia Peduli’. Namun pada akhirnya, setiap diri kita hanya bisa mengubah apa yang ada pada lingkar kendali kita. Cukup menjadi pribadi yang berpikir dan bersikap ‘kita’ untuk menyelamatkan lingkungan kita. Sehingga tidak ada keluarga, tetangga, teman, ataupun kerabat kita yang gagal melalui pandemi Covid-19 hanya karena ketidakpedulian kita. Kontribusi minimum ‘kita’ adalah dengan tidak membahayakan atau mencelakakan orang lain. Bahkan jika sebagian besar masyarakat memilih menjadi ‘saya’, mungkin akan ada satu titik dimana ‘kita’ perlu berpikir ‘saya’ untuk menyelamatkan ‘kita’. Agar setidaknya ada sekelompok masyarakat yang tetap sehat dan selamat untuk mempertahankan eksistensi ‘Kita Indonesia’. Dan agar setidaknya ada sekelompok masyarakat yang tetap optimis berusaha dan berdoa agar Indonesia mampu melalui pandemi Covid-19 ini.

Semoga ‘saya’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’, tanpa adanya si ‘dia’…

Menjadi Manusia Kuat

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

Lagu berjudul ‘Manusia Kuat’ dari Tulus itu kembali terdengar di tengah pandemi Covid-19. Lagu yang merupakan salah satu official song Asian Para Games 2018 ini memang kental nuansa motivasi untuk mengatasi segala rintangan menjadi manusia kuat. Asian Para Games adalah suatu perhelatan olahraga penyandang disabilitas terbesar di Asia. Selain ‘Manusia Kuat’, official songs Asian Para Games 2018 lainnya adalah ‘Dream High’, ‘Sang Juara’, ‘Kita Semua Sama’, dan ‘Song of Victory’. Lagu ‘Dream High’ yang dinyanyikan Sheryl Sheinafia berkolaborasi dengan penyanyi tunantra, Claudya Fritska, juga memiliki konten motivasi pantang menyerah untuk menggapai impian. Selain Claudya, penyanyi tunanetra lainnya yang turut menyanyikan official songs adalah Allafta Hidzi Sodiq (Zizi) yang mendampingi Adyla Rafa Naura Ayu (Naura) menyanyikan ‘Sang Juara’ dan Putri Ariani yang bersama artis lainnya membawakan ‘Song of Victory’. Mereka dan para atlet Asian Para Games sudah membuktikan jalan menjadi manusia kuat yang berani berjuang dalam kondisi bagaimanapun untuk meraih cita dan impian.

Kau bisa patahkan kakiku, tapi tidak mimpi-mimpiku…
Kau bisa lumpuhkan tanganku, tapi tidak mimpi-mimpiku…

Ketika lagu ‘Manusia Kuat’ ini kembali menggema di tengah wabah virus corona, pesan yang disampaikan juga sama. Selalu ada harapan di tengah segala ujian. Yang terpenting adalah menguatkan jiwa kita, dan melengkapinya dengan usaha terbaik untuk keluar sebagai pemenang. Mentalitas dan sugesti positif memiliki makna penting untuk melawan penyakit. Jangan sampai kalah sebelum berperang. Pikiran dan sikap mental negatif akan melemahkan sistem imunitas sehingga fisik lebih rentan terhadap penyakit. Relaksasi pikiran dan berdamai dengan jiwa menjadi langkah penting untuk menangkal virus corona. Tentu harus disertai dengan upaya terbaik lainnya. Sehingga yang muncul bukan sikap menyepelekan, namun tetap tenang dalam kehati-hatian.

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ukuran utama manusia yang kuat bukanlah ukuran fisik, namun ukuran kebesaran jiwanya. Kemampuan mengendalikan jiwanya dalam kondisi emosi, dan keberanian untuk memaafkan. Menurut Imam Ibnu Battal, sebagaimana dikutip Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari’, hadits tersebut menunjukkan bahwa berjuang mengendalikan nafsu itu lebih berat dari pada berjuang melawan musuh. Imam Ibnu Hajar menambahkan bahwa musuh terbesar bagi seseorang adalah syaithan yang ada pada dirinya dan nafsunya. Sementara marah itu timbul dari keduanya. Oleh karana itu, barangsiapa yang bisa berjuang melawan amarahnya sampai bisa mengalahkannya disertai juga dengan melawan nafsunya maka ialah orang yang paling kuat.

Kau bisa merebut senyumku, tapi sungguh tak akan lama…
Kau bisa merobek hatiku, tapi aku tahu obatnya…

Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, namun juga mengendalikan diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa, termasuk mengendalikan amarah. “Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’” (HR. Bukhari dan Muslim). Ramadhan adalah momentum tepat untuk upgrading diri menjadi manusia kuat. Bukan hanya sehat fisik karena berpuasa, namun juga kuat jiwa karena terbiasa mengendalikan hawa nafsu.

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

…Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya…”, demikian salah satu petikan lirik lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, karya W.R. Supratman. Untuk membangun Indonesia, dibutuhkan jiwa-jiwa yang terbangun, dan badan-badan yang terbangun. Tentu bukan tanpa alasan kata ‘jiwa’ dituliskan lebih dulu dari kata ‘badan’. Karena bagaimanapun, bangsa yang kuat dibangun dari jiwa yang kuat, baru kemudian badan yang kuat. Semangat pantang menyerah dan berjuang hingga titik darah penghabisan adalah salah satu perwujudan dari jiwa yang kuat tersebut. Bahkan di stanza lain lagu ‘Indonesia Raya’, lirik tersebut diganti dengan “…Sadarlah hatinya, sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya…”. Semakin meneguhkan untuk membangun Indonesia butuh kejernihan hati dan keluhuran budi, tidak cukup hanya pembangunan fisik belaka.

Kau bisa hitamkan putihku, kau takkan gelapkan apa pun…
Kau bisa runtuhkan jalanku, ‘kan kutemukan jalan yang lain…

Berbagai macam ujian dan cobaan sejatinya adalah pupuk untuk menumbuhkan jiwa yang kuat. Bagaimanapun, pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang. Masalah dan kendala selalu ada dalam kehidupan, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Putus asa bukanlah pilihan sebab jalan keluar selalu tersedia. Jiwa yang kuat inilah yang akan membentuk pribadi yang kuat. Yang kemudian akan menjadi fondasi dalam membangun masyarakat, bangsa, dan negara yang kuat. Perkara jiwa adalah perkara kemauan, bukan kemampuan. Karenanya, akhirnya berpulang ke pribadi masing-masing, maukah menjadi manusia kuat yang memiliki jiwa yang kuat? Sisanya, biarlah Sang Pemilik Jiwa yang akan menguatkan siapa yang dikehendaki-Nya.

“…Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. Ali Imran: 13)

Menggugat Ketimpangan Pendidikan Tinggi Indonesia (3/3)

Selanjutnya, setelah perguruan tinggi, bibit terbaik, dan tenaga pendidik berkualitas tersedia, untuk pemerataan pendidikan tinggi perlu dibangun sistem pembelajaran yang sesuai dengan menghapus senioritas dan formalitas pada dunia pendidikan tinggi sehingga ruang kaderisasi SDM muda yang berkompeten terbuka. Karena perguruan tinggi yang dibangun atau direvitalisasi sudah berbasis kearifan lokal, sistem pembelajarannya bisa jadi tidak sama untuk setiap wilayah. Yang pasti pembelajaran akan lebih kontekstual, sesuai dengan konteks dunia nyata yang dihadapi sehari-hari. Dan pembelajaran juga akan lebih fungsional, menekankan pada aspek kebermanfaatannya bagi peserta didik.

Budaya senioritas yang lebih mengarah ke praktik feodal perlu dihapus dari dunia pendidikan tinggi untuk menghadirkan penyegaran dan percepatan. Betapa banyak dosen muda yang terhambat perkembangan karirnya bukan karena faktor kompetensi namun sebab senioritas usia. Parahnya lagi, para dosen senior ini mengalami stagnasi kompetensi, di satu sisi tidak bisa dilangkahi. Akibatnya pendidikan tinggi pun mengalami stagnasi. Bagaimanapun, SDM muda lebih adaptif menghadapi perubahan zaman dan mampu mengakselerasi kompetensinya sesuai tuntutan zaman. Sementara mereka memiliki keterbatasan untuk mendobrak zona nyaman generasi SDM di atasnya, mengelola perguruan tinggi di daerah barangkali bisa memfasilitasi semangat perbaikan itu.

Revitalisasi perguruan tinggi di daerah akan semakin kuat ketika didukung SDM muda yang berkompeten. Memang yang terpenting adalah kompetensinya dalam mengelola perguruan tinggi, namun mudanya SDM akan menjadi nilai tambah. Semangat, kreativitas, inovasi, fleksibilitas, hingga gaya manajemen anak-anak muda yang egaliter sangat dibutuhkan untuk mendobrak kejumudan pengelolaan pendidikan tinggi kita. Tidak sedikit SDM muda berkompeten yang bahkan lulusan luar negeri tidak mendapat ruang aktualisasi diri yang cukup sekembalinya ke tanah air. Yang seperti ini perlu difasilitasi. Perguruan tinggi di daerah bisa menjadi ruang kaderisasi SDM berkualitas, bukan hanya untuk kaderisasi akademisi, namun juga kaderisasi kepemimpinan daerah yang akan berkolerasi dengan kepemimpinan nasional.

Lantas apa kaitannya dengan formalitas pendidikan tinggi? Ada berbagai kebiasaan turun-temurun dalam dunia pendidikan tinggi yang kurang substantif sehingga menghambat kelincahan dalam menghadirkan pembaruan. Formalitas yang minim esensi inilah yang harus diubah. Duduk di ruang kuliah hanyalah formalitas bagi mahasiswa, sebab esensi belajar adalah terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik. Kehadiran penuh dalam perkuliahan sebagai jaminan nilai A adalah formalitas, esensi nilai A adalah terpenuhinya kompetensi. Penilaian berdasarkan kerapihan rambut atau pakaian mahasiswa adalah formalitas, kecuali untuk jurusan yang memperhatikan grooming semisal perhotelan atau sekretaris. Sebab secara esensial, tampilan fisik bukan cermin kompetensi. Riset dan pengabdian masyarakat bisa jadi formalitas untuk menambah kum dosen, jika substansi pada aspek integritas dan kebermanfaatan tidak diperhatikan. Akreditasi bisa jadi hanya formalitas jika sekadar menjadi kesibukan mendadak guna pencitraan sesaat, sebab esensinya adalah implementasi standar nasional pendidikan sesuai dengan karakteristik perguruan tinggi. Dan barangkali masih banyak aktivitas seremonial dan rutinitas yang sebatas formalitas tanpa pemaknaan mendalam. Mulai dari orientasi perguruan tinggi, magang atau kerja praktik, membuat tugas akhir, hingga wisuda bisa jadi formalitas jika dilakukan sekadarnya tanpa added value yang dihasilkan.

Gagasan kampus merdeka yang digulirkan Mendikbud, Nadiem Makarim juga mengusik formalitas ini, terutama di perguruan tinggi yang terkurung sekat-sekat fakultatif. Pengubahan pengertian Sistem Kredit Semester (SKS) sebagai ‘jam kegiatan’ bukan lagi ‘jam belajar’, kemudahan dalam pembukaan jurusan baru atau bahkan perubahan status kampus turut menguatkan bahwa paradigma pengelolaan pendidikan tinggi harus dibenahi, tak harus mengekor pola lama. Memang implementasinya tak akan mudah sebab kondisi status quo ditambah kesenjangan kualitas pendidikan tinggi masih terlalu besar. Namun gagasan ini bisa sejalan dengan upaya pemerataan perguruan tinggi di Indonesia.

Terakhir, setelah semua sumber daya tersedia, untuk pemerataan pendidikan tinggi perlu dirancang dengan serius arah dan dampak dari pendidikan tinggi, termasuk menyusun standar kualitas yang adil bagi perguruan tinggi di daerah. Rekayasa outputnya harus direncanakan sejak awal. Ada wilayah yang diproyeksikan sebagai sentra pertanian, peternakan, pariwisata, pertambangan, teknologi, dan sebagainya semuanya dipetakan beserta perguruan tinggi yang akan menjadi pemasok SDM berkompeten dan mengakselerasi pemerataan pembangunan. Blue print ini sengaja tidak diletakkan di tahapan paling awal untuk menghindari dua jebakan yang sering terjadi. Jebakan pertama adalah berlama-lama dalam tataran konsep dan tidak segera melakukan aksi. Jika blue print ini menjadi prasyarat tahapan berikutnya, malah dikhawatirkan bisa jadi takkan pernah terimplementasi. Jebakan kedua adalah implementasi yang jauh dari blue print, baik karena faktor internal maupun eksternal. Jika blue print ini jadi di awal, akan ada saja ‘kreativitas’ menjauhkan implementasi dari perencanaan, baik disengaja maupun tidak. Lebih baik ada produk setengah matang yang terlihat dahulu untuk memantapkan rancangan yang dibuat.

Ketika input, proses, output, hingga impact sudah tersedia dan terkelola, berikutnya dikuatkan dengan standardisasi sistem, termasuk sistem evaluasi dan penilaian. Bagaimanapun, evaluasi ini sangat penting bukan hanya untuk menghadirkan perbaikan berkesinambungan, namun juga untuk memastikan bahwa pembangunan pendidikan tinggi masih berjalan pada arah dan spirit yang benar. Dan dikarenakan setiap perguruan tinggi memiliki business process masing-masing, evaluasi dan penilaiannya pun tidak harus disamaratakan. Ada kekhasan dan keunggulan khusus yang akan dinilai, disamping standar pendidikan tinggi dasar yang sifatnya umum. Tak perlu ikut-ikutan, jati diri setiap perguruan tinggi perlu dipertahankan.

Akhirnya menjadi cita-cita kita semua akan terwujudnya pendidikan tinggi berkualitas yang merata. Tidak harus ada gedung kampus yang megah di setiap penjuru Indonesia, yang penting pembangunan kehidupan dan manusia Indonesia dapat terlaksana dengan adil dan merata. Dimana kampus memegang peranan penting dalam rekayasa SDM pemberdaya masyarakat, sekaligus mengakselerasi pembangunan daerah. Kampus tak lagi menjadi menara gading sebab mudah diakses bagi siapa saja yang memenuhi kualifikasi. Kampus tidak menjanjikan kemewahan, namun kebermanfaatan. Pengabdian masyarakat sebagai salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi bukan lagi slogan kosong karena signifikansi peran kampus dalam membangun manusia dan masyarakat Indonesia. Peringkat perguruan tinggi di mata dunia biarlah hanya menjadi bonus, yang terpenting adalah terwujudnya cita-cita melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dan semoga itu semua bukan utopia, namun cita dan harapan yang akan terwujud nyata.

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda” (Tan Malaka)

Menggugat Ketimpangan Pendidikan Tinggi Indonesia (2/3)

Potensi pengembangan ekonomi lokal menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun atau merevitalisasi perguruan tinggi. Keberadaan kampus sebenarnya secara otomatis akan menggeliatkan perekonomian di wilayah tersebut, karenanya pemerataan kampus bisa menjadi salah satu solusi untuk pemerataan ekonomi. Setidaknya bisnis kuliner, stasionery, dan sewa tempat tinggal (kost/ kontrakan) akan tumbuh subur di sekitar kampus. Dan bisa lebih dari itu. Lihat saja bagaimana pesatnya perkembangan wilayah Dramaga paska IPB pindah kesana, atau Tembalang (Undip), ataupun Jatinangor (Unpad dan ITB). Pun demikian nantinya dengan wilayah Indralaya (Unsri). Idealnya, wilayah sekitar kampus dapat menjadi laboratorium produktif untuk pengembangan mahasiswa. Misalnya, revitalisasi akademi pariwisata seharusnya didukung dengan wilayah yang dekat dengan berbagai sentra wisata atau setidaknya dengan potensi wisata. Demikian pula revitalisasi Sekolah Tinggi Perikanan misalnya, memang didukung dengan wilayah yang kaya akan potensi ikan. Link and match dengan dunia usaha dan dunia industri yang relevan dengan kompetensi mahasiswa sudah dibangun sejak dini. Kalaupun pada akhirnya lulusan mahasiswa akan kembali untuk membangun daerahnya masing-masing, mereka sudah melihat model bagaimana kompetensi mereka diimplementasikan.

Jadi setelah direvitalisasi, tidak ada lagi mahasiswa kehutanan yang tak pernah melihat hutan, atau mahasiswa Teknik Perkapalan yang tak pernah melihat kapal. Sebab laboratorium pengembangan kompetensi mahasiswa ada di sekitar mereka. Dan perlu diperhatikan bahwa yang diharapkan adalah terciptanya simbiosis mutualisme dimana kampus dapat membantu pengembangan wilayah, dan wilayah dapat menjadi laboratorium pengembangan kampus. Jadi bukan menjadikan kampus sebagai sentra bisnis. Walaupun sah-sah saja kampus mempunyai unit bisnis, namun dominasi orientasi bisnis dapat memalingkan kampus dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Setelah perguruan tinggi dibangun dan direvitalisasi, langkah kedua untuk pemerataan pendidikan tinggi adalah dengan merekrut calon pemimpin pemberdaya masyarakat terbaik dari setiap pelosok nusantara. Tidak semua anak Indonesia harus mengenyam pendidikan tinggi, bisa jadi ada di antara mereka yang lebih siap dan lebih tepat merasakan langsung dunia kerja dan dunia usaha. Karenanya perlu dicari bibit terbaik untuk menjadi calon pemimpin pemberdaya masyarakat. Upaya pencarian bibit terbaik ini dulu dikenal sebagai jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), yang saat ini barangkali sudah menyempit maknanya dengan jalur SNMPTN. Esensinya adalah bahwa selalu ada calon pahlawan di suatu wilayah yang perlu ditemukenali untuk kemudian direkrut dan dibina. Kawah candradimukanya seharusnya tidak melulu kampus besar di kota besar, tetapi perguruan tinggi terdekat yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan wilayahnya.

Ada beberapa kekeliruan yang selama ini terjadi dalam upaya merekrut calon mahasiswa terbaik ini, diluar kegagalan pihak sekolah menemukenali bibit terbaik di sekolahnya. Pertama, ketergantungan pada teknologi informasi dan komunikasi. Sosialisasi tidak menyentuh ke pelosok sebab belum semua wilayah memiliki akses internet. Padahal bisa jadi bibit terbaik ada disana. Karenanya pendekatan kultural dan struktural lewat perangkat pendidikan sangatlah penting. Kedua, penilaian kompetensi yang generalis tidak spesialis. Dianggap terbaik ketika unggul di semua mata pelajaran, padahal bisa jadi keunggulannya dibangun melalui bidang ilmu yang spesifik, atau bahkan bisa jadi keunggulannya tidak diajarkan di sekolah. Misalnya siswa yang mahir dalam bercocok tanam atau mengolah bahan pangan karena pengalaman mereka membantu orang tua, takkan terdeteksi bakatnya karena tidak terfasilitasi oleh mata pelajaran, apalagi jika nilai mata pelajaran dasar mereka biasa saja. Padahal mereka bisa jadi bibit terbaik di Sekolah Tinggi Pertanian atau Akademi Tata Boga, misalnya.

Dan kekeliruan yang paling sering terjadi adalah ‘mencerabut’ mereka dari akar masyarakatnya. Ditarik ke kota dan dididik sehingga nyaman dengan kondisinya. Tidak bisa kembali untuk membangun daerah sebab kompetensinya tidak relevan atau sumber daya di daerahnya sangat terbatas. Bibit terbaik ini memang sejak awal dikondisikan untuk meninggalkan masyarakat. Kalaupun diikat dengan pengabdian, ikatannya takkan bertahan lama. Alhasil, kesenjangan baru tercipta. Menjadi penting untuk merekrut dengan benar, mendidik dengan benar, dan melepas dengan benar, sehingga dapat dipastikan mereka yang berasal dari masyarakat akan kembali memberikan kontribusinya untuk masyarakat.

Setelah perguruan tinggi dan bibit terbaiknya tersedia, langkah ketiga untuk pemerataan pendidikan tinggi adalah menghadirkan kualitas pendidikan tinggi terbaik ke daerah, setidaknya dari tenaga pendidiknya. Mengapa kualitas ini tidak dibangun sejak awal? Sebab membangun kualitas membutuhkan proses dan sumber daya yang tidak sedikit. Tidak bisa serta merta muncul. Mengubah status PTS menjadi PTN mungkin hanya butuh beberapa dokumen, namun membangun PTN tersebut menjadi PTN berkualitas tidak mudah. Merekrut mahasiswa barangkali hanya butuh selembar kertas, namun menjadikannya mahasiswa yang berkualitas tidaklah sederhana. Dan bagaimanapun, kualitas adalah conformance to requirements, sehingga harus jelas dulu kebutuhan dan persyaratannya. Dan kualitas adalah fitness for use, sehingga mesti clear dulu yang dikehendaki user seperti apa.

Menghadirkan tenaga pendidik berkualitas menjadi catatan tersendiri sebab ujung tombak pendidikan terletak di pendidiknya, walau proses pembelajarannya andragogi yang melibatkan peserta didik sekalipun. Sayangnya, tidak mudah menghadirkan tenaga pendidik berkualitas ke daerah. Tenaga pendidik berkualitas banyak berkumpul di kota besar yang kaya sumber daya, sementara daerah sangatlah sulit bersaing untuk menghadirkan sumber daya tersebut. Pun demikian, keunggulan kompetitif dan komparatif wilayah sebenarnya bisa diangkat guna menggugah semangat pengabdian para tenaga pendidik berkualitas ini. Secara umum, daerah relatif lebih kaya data, dan kebermanfaatan dari tindak lanjut hasil riset dan pengembangan dapat lebih mudah dirasakan. Hal ini bisa menjadi kenikmatan tersendiri. Belum lagi suasana yang lebih kondusif, jauh dari hiruk pikuk juga bisa menjadi nilai tambah. Bahkan nilai-nilai kemanusiaan dan nasionalisme bisa menguatkan motif para tenaga pendidik berkualitas ini untuk berkontribusi. Selain itu, sistem penugasan sementara dan mekanisme reward bisa menjadi opsi lain yang dapat dilakukan.

Karenanya, menjadi penting untuk terlebih dahulu mengondisikan wilayah dan peserta didiknya. Sumber daya primer di wilayah perlu disediakan dan potensi sumber daya wilayah terus dikembangkan. Bahkan tidak semua filantropis siap memulai perjuangan dari nol. Peserta didik yang potensial dan siap untuk bertumbuh berkembang akan memantapkan semangat berkontribusi dan berkolaborasi para pendidik berkualitas ini. Dan tantangan yang lebih tinggi akan membuktikan sejatinya kualitas diri.

(bersambung)

Menggugat Ketimpangan Pendidikan Tinggi Indonesia (1/3)

“Education is not a way to escape poverty, it is a way to fight it” (Julius Nyerere)

Akhir April 2020 lalu, BPS mempublikasikan Statistik Indonesia 2020 yang memuat berbagai data tentang Indonesia. Salah satu data yang ditampilkan adalah jumlah perguruan tinggi, tenaga pendidik, dan mahasiswa di Indonesia. Pada tahun 2019, jumlah perguruan tinggi di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan di bawah Kementerian Agama (Kemenag) ada sebanyak 4.079 perguruan tinggi, dengan 302.589 tenaga pendidik dan 8.490.427 mahasiswa. Jumlah yang sebagian besarnya masih terkonsentrasi di 13 dari 34 provinsi. Ada 3.158 (77.4%) perguruan tinggi yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatra Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Selatan. Hanya 921 (22.6%) perguruan tinggi yang tersebar di 21 provinsi lainnya.

Itu baru secara kuantitas, bagaimana secara kualitas? Bulan lalu, Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), IPB University, Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), meraih prestasi baik dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) 2020 dalam kategori Impact Ranking. Maret 2020 lalu, Quacquarelli Symonds World University Rankings (QS WUR) kembali merilis peringkat universitas terbaik di dunia. UI, UGM, Unair, Unpad, ITB, ITS, IPB University, dan UB masuk dalam daftar tersebut berdasarkan bidang ilmu. Bahkan Universitas Bina Nusantara (Binus) yang merupakan perguruan tinggi swasta, masuk peringkat 451 – 500 dunia untuk bidang ilmu Computer Science – Information System. Dan semua perguruan tinggi tersebut di atas ada di Pulau Jawa.

Dalam pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia versi Unirank tahun 2020, polanya juga tidak jauh berbeda. Peringkat tertinggi di luar 13 provinsi di atas adalah Universitas Udayana (Unud) di peringkat 20 dan Universitas Jambi (Unja) di peringkat 37. Di bawah perguruan tinggi swasta seperti Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di peringkat 11, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di peringkat 15, Universitas Binus di peringkat 16, dan Universitas Telkom di peringkat 17. Perguruan tinggi dari Indonesia wilayah timur baru muncul di peringkat 126 yaitu Universitas Pattimura (Unpatti) di Ambon. Pun demikian dalam pemeringkatan versi Webometrics 2020, Universitas Mataram (Unram) muncul di peringkat 17 di bawah Universitas Telkom di peringkat 15. Sementara Unpatti baru muncul di peringkat 100. Artinya, secara kuantitas dan kualitas terjadi ketimpangan yang nyata di dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Lantas apa masalahnya, bukankah persebaran penduduknya juga terkonsentrasi hanya di beberapa provinsi? Ada benarnya jika kita hanya melihat data bahwa sebanyak 78.02% penduduk Indonesia ada di 13 provinsi tersebut. Namun jika kita kaji lebih dalam akan terasa ada yang tidak benar. Misalnya Yogyakarta yang berpenduduk 3,8 juta memiliki 127 perguruan tinggi, sementara Kalimantan Timur (Kaltim) yang berpenduduk 3,7 juta hanya memiliki 68 perguruan tinggi. Padahal dengan luas wilayah Kaltim yang 41 kali lebih besar dari Yogyakarta ditambah sedemikian besar potensi alam yang ada di Kaltim, pengembangan perguruan tinggi di Kaltim lebih strategis. Apalagi jika yang dibandingkan adalah Jakarta dengan 327 kampus yang penduduknya bahkan lebih banyak dari gabungan penduduk di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hanya ada 141 perguruan tinggi di Nusa Tenggara sementara luas wilayahnya 101 kali lebih besar dibandingkan Jakarta.

Masalah kesenjangan itu kian tampak ketika dimasukkan beberapa indikator yang menunjukkan kualitas hidup manusia, misalnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau persentase kemiskinan. IPM 2019 Indonesia rata-rata 71.92 dengan IPM tertinggi adalah Jakarta (80.76) diikuti Yogyakarta (79.99). Sementara IPM 2019 terendah secara berturut adalah Papua (60.84), Papua Barat (64.70), NTT (65.23), Sulbar (65.73), dan Kalbar (67.65). Untuk persentase kemiskinan terendah adalah Jakarta (3.42%), sementara persentase kemiskinan tertinggi ada di Papua (26.55%), Papua Barat (21.51%), NTT (20.62%), Maluku (17.65%), dan Gorontalo (15.31%). Ketimpangan itu begitu terasa.

Persoalan takkan selesai hanya sebatas menyadari bahwa ketimpangan itu terjadi. Apalagi pendidikan tinggi punya karakteristik yang tidak bisa disamakan dengan pendidikan dasar dan menengah. Setidaknya ada lima langkah yang perlu diambil untuk memperkecil kesenjangan pendidikan tinggi di Indonesia. Pertama, membangun atau merevitalisasi perguruan tinggi di daerah sesuai dengan potensi pengembangan ekonomi lokal. Membangun perguruan tinggi butuh sumber daya yang tidak sedikit, karenanya bisa jadi pilihan terbaik adalah merevitalisasinya. Pengubahan status PTS menjadi PTN seperti yang cukup banyak dilakukan pemerintah pada kurun 2010 – 2014 merupakan suatu bentuk revitalitasi. Namun pengubahan status saja tidak cukup, perlu dilanjutkan dengan upaya memunculkan keunggulan. Apalagi sebagian besar perguruan tinggi yang diubah statusnya berada di wilayah perbatasan, di antaranya Universitas Borneo Tarakan (perbatasan dengan Malaysia), Universitas Musamus Merauke (Perbatasan dengan Papua Nugini), dan Universitas Maritim Raja Ali Haji (perbatasan dengan Singapura).

Ambil contoh Universitas Timor (Unimor) di NTT yang lokasinya dekat perbatasan dengan Timor Leste. Status PTN diperoleh tahun 2014, tidak ada jurusan Hubungan Internasional namun justru ada program eksakta murni semisal Biologi, Matematika, dan Kimia. Praktis tidak terlihat keunggulan kompetitifnya, padahal jurusan seperti Pariwisata misalnya bisa jadi lebih prospektif di NTT yang kaya akan potensi wisata. Revitalisasi berarti menghidupkan kembali, dan yang dihidupkan kembali adalah perguruan tinggi, bukan hanya universitas. Dalam kasus pengubahan status PTS dan PTN pada 2010 – 2014, selain universitas juga banyak Politeknik yang diubah statusnya. Namun bisa jadi kebutuhan revitalisasinya lebih spesifik dari itu: akademi atau sekolah tinggi. Bidang keilmuannya bisa jadi pertanian, perikanan, kesehatan, pariwisata, teknologi, dan sebagainya, disesuaikan dengan potensi pengembangan di daerahnya. Sama-sama fokus pada satu bidang keilmuan, akademi lebih kuat domain pendidikan vokasionalnya, sementara Sekolah Tinggi di akademik. Atau bisa juga berbentuk institut. Misalnya, di suatu wilayah ada kebutuhan akan tenaga pendidik yang berkualitas karena universitas tidak spesialis, bisa jadi bentuk revitalisasinya adalah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).

(bersambung)