Si Tengah yang Unik

“Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya), maka anak-anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka”. (HR Bukhari dan Muslim)

Bulan Juni selalu menjadi bulan yang spesial. Di bulan ini beberapa orang terdekat merayakan hari kelahirannya. Tentu bukan Presiden Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, dan Jokowi yang saya maksud. Cukup unik memang 4 dari 7 presiden Indonesia lahir di bulan Juni dari 12 bulan yang tersedia. Namun beberapa anggota keluarga besar saya kebetulan lahir di bulan Juni. Dari yang tertua ada ibu kandung saya dan ibu mertua yang sama-sama lahir di bulan Juni. Kemudian adik ipar dan adik kandung saya, keduanya anak bungsu. Dan yang paling muda adalah anak kedua dan ketiga saya yang juga lahir di bulan Juni. Tulisan ini akan fokus bercerita tentang anak kedua yang lahir 6 tahun lalu.

Menjadi anak ke-2 dari 3 bersaudara memang tidak mudah. Ketika anak sulung mendapatkan cinta yang berlimpah karena lahir paling awal, anak tengah tidak mendapatkannya. Bahkan tidak jarang anak tengah ini hanya dapat ‘lungsuran’ dari kakaknya, tanpa diberikan barang baru. Ketika anak bungsu relatif dimanjakan, anak tengah hanya sedikit merasakannya ketika ia menjadi anak bungsu. Pada masa itu pun barangkali ia belum mengingatnya. Apalagi, Si Tengah ku ini berjarak 3.5 tahun dari kakaknya, namun hanya berjarak 2 tahun dari adiknya. Belum cukup puas merasakan sebagai anak bungsu, adiknya keburu lahir, anak laki-laki pertama pula.

Setiap anak terlahir dengan karakteristik yang berbeda, dipengaruhi beberapa faktor seperti lingkungan sekitar, perlakuan dari setiap orang tua, atau urutan kelahiran. Ya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa urutan kelahiran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi karakteristik anak. Gunarsa dan Yulia (2008) menunjukkan bahwa anak kedua dari tiga bersaudara menunjukkan karakter yang paling berbeda dibandingkan saudaranya. Posisi terapit di antara seoarang kakak dan adik seringkali menimbulkan rasa iri. Sehingga tak jarang anak tengah memiliki jiwa yang pengertian, kuat, dan sensitif, karena harus menghadapi perlakuan sang kakak sekaligus menjadi panutan untuk sang adik. Anak tengah menurut Psikolog Anak asal USA, Dr. Kevin Leman (2012) masuk kedalam kategori anak yang sangat fleksibel. Mereka mampu bersikap ramah dan bersosialisasi dengan orang lain. Pun kadang mereka memiliki rasa malu yang cukup tinggi, tetapi mereka bisa mengatasinya dengan tenang. Anak tengah juga bisa sangat sabar dan umumnya lebih memilih untuk menghindari konflik. Tak heran jika mereka lebih sering menjadi mediator atau negosiator dalam suatu masalah.

Sifat dan kepribadian anak tengah paling sulit dijabarkan. Umumnya, anak tengah memiliki kepribadian yang menyenangkan namun sedikit pemberontak dalam keluarganya. Anak tengah tumbuh lebih bahagia dalam lingkungan pertemanannya. Karenanya, anak tengah cenderung memiliki lingkaran pertemanan yang luas. Anak kedua sangat tahu rasanya bersaing dan tidak berkawan, sehingga anak kedua suka bekerja dengan orang lain dan cinta persahabatan. Anak kedua akan terus berusaha untuk menyenangkan orang lain, dan akan terus berusaha untuk menjadi perekat atau penjaga persahabatan. Profesor Departemen Psikologi, Institut Penelitian Kepribadian dan Sosial California, Dr. Frank J. Sulloway, Ph.D, mengatakan bahwa anak-anak tengah mendapat skor lebih tinggi dalam hal keramahan dibandingkan kakak dan adiknya, itulah yang menyebabkan anak tengah lebih mudah dalam hal pergaulan. Penelitian ini memperkuat sebuah studi dalam The Journal of Genetic Psychology (1966) yang menemukan bahwa anak tengah cenderung lebih baik dalam situasi kelompok. Sebelumnya, sebuah studi dari Texas Christian University dan University of Minnesota (1964) juga menunjukkan bahwa anak tengah memiliki perilaku yang sangat baik dan paling bisa menyesuaikan diri dalam kelompok.

Si Tengah ku yang sementara ini bercita-cita menjadi chef tak kalah menarik. Secara kecerdasan kognitif barangkali tidak sebaik kakaknya, namun kecerdasan sosialnya luar biasa. Si Tengah adalah yang paling aktif menunjukkan rasa sayangnya kepada keluarga. Perhatian terhadap kondisi keluarganya, bahkan yang kerap membuat tertegun adalah tiba-tiba merangkul dan mengucapkan “Aku sayang Ayah” seraya mengecup pipi. Alih-alih disebut negosiator, Si Tengah ini adalah ‘provokator’ ulung yang kerap memengaruhi adiknya dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya. Ia relatif lebih mampu menjaga adiknya dibandingkan kakaknya. Sensitif dan kompetitif, serta memiliki inisiatif yang tinggi.

Uniknya, Si Tengah kerap terbangun di tengah malam kemudian tertawa atau menangis, apalagi tahun lalu. Entah bermimpi atau ‘diganggu’. Tatapan mata kosongnya pun cukup membuat bergidik. Berbeda dengan kakak dan adiknya, yang terlihat sangat sedih jika dimarahi Ayahnya (yang memang jarang marah). Si Tengah ini terlihat ketakutan ketika dimarahi Ayahnya, bahkan tubuhnya sampai gemetaran. Dan setahun ke depan, Si Tengah ini akan tidak bersekolah dengan pertimbangan usia, kompetensi, dan kondisi yang serba tanggung. Sepertinya akan jadi cerita lain membayangkan Si Tengah melihat kakak dan adiknya bersekolah sementara dirinya tidak.

Bagaimanapun, Si Tengah patut diapresiasi atas cinta dan perhatiannya yang besar. Plus kesabarannya dalam menjalankan peran sebagai adik sekaligus kakak. Dan urutan kelahiran sejatinya hanyalah salah satu faktor yang memengaruhi kepribadian, bukan satu-satunya. Pola pengasuhan keluarga bahkan akan lebih banyak menentukan pribadi anak yang akan dibentuk. Happy birthday, my little angel! I wish you to love life and never stop dreaming! You are braver than you believe, stronger than you seem, smarter than you think, and more loved than you’ll ever know. My happiness becomes boundless to see your healthy growth. I will be with you to guide you in the way of life, to cheer for you in the success, and to comfort you in sadness. Love you, always! Happy birthday, my little girl!

A father holds his daughter’s hand for a short while, but he holds her heart forever” (Unknown)

Menulis yang Disampaikan, Menyampaikan yang Ditulis

Tell your story. Shout it. Write it. Whisper it if you have to. But tell it. Some won’t understand it. Some will outright reject it. But many will thank you for it. And then the most magical thing will happen. One by one, voices will start whispering, ‘Me, too.’ And your tribe will gather. And you will never feel alone again.
(L.R. Knost)

Write what you do and do what you write” barangkali merupakan jargon yang banyak dikenal terutama mereka yang terlibat dalam urusan Quality Management. Harus ada bukti tertulis dari apa yang telah kita kerjakan, dan pekerjaan yang dilakukan harus didukung oleh dokumen tertulis sebagai dasar pedoman pelaksanaan. Jika kita tidak bisa membuktikan bahwa kita telah bekerja, berarti kita tidak bekerja. Dan jika kita bekerja tidak sesuai dengan dokumen tertulis, berarti ada kesalahan dalam pekerjaan kita. Penyampaian tanpa bukti tertulis juga belum bisa dianggap kebenaran. Di sisi lain, melakukan apa yang disampaikan dapat menunjukkan integritas seseorang, namun menyampaikan apa yang dilakukan tidak selamanya dinilai positif. Bisa saja justru dianggap sombong, ujub, ataupun riya’. Tulisan ini tidak hendak menyoroti relevansi dari jargon tersebut, namun coba menghubungkan menulis dengan berbicara sebagai sesama aktivitas penyampaian pesan.

Menulis dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat aktif-produktif. Penulis dan pembicara berperan sebagai penyampai atau pengirim pesan kepada pihak lain. Keduanya harus mengambil sejumlah keputusan berkaitan dengan topik, tujuan, jenis informasi yang akan disampaikan, serta cara penyampaiannya sesuai dengan kondisi sasaran (pembaca atau pendengar) dan corak teksnya (eksposisi, deskripsi, narasi, argumentasi, dan persuasi). Perbedaan antara keduanya hanya dalam hal kecaraan dan medianya. Komunikasi dalam berbicara terjadi secara langsung dan respon pendengar juga dapat langsung ditangkap. Pembicara menyampaikan pesan secara lisan, sementara penulis menyampaikan pesan secara tertulis, termasuk gambar dan ilustrasi.

Menulis dan berbicara punya teknik dan tantangannya sendiri. Tidak semua orang yang hebat dalam menulis, mampu berbicara dengan fasih. Dan tidak semua orang yang hebat dalam berbicara, cakap menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Dalam berbicara, ada unsur nonverbal seperti suara, mimik, pandangan, dan gerak dapat secara langsung digunakan untuk memperjelas, mempertegas, dan menarik perhatian pendengar. Respon pendengar yang bisa langsung ditangkap juga memungkinkan pembicara untuk menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki apa yang disampaikannya. Namun implementasinya tak sesederhana itu, butuh banyak latihan dan ‘jam terbang’. Pembicara bukan hanya butuh persiapan materi atau konten pembicaraan, namun juga kesiapan mental. Asal berbicara memang mudah, namun berbicara yang baik, mencerahkan, dan menginspirasi tentu butuh pembiasaan.

Menulis tidak lebih mudah. Karena tidak langsung berhadapan dengan pembaca, dan tidak langsung mendapatkan responnya, persiapan penulis bisa lebih matang. Penulis bisa melakukan review tulisannya sebanyak yang dibutuhkan agar benar-benar siap, sebelum dipublikasikan. Namun jika pembicaraan dapat cepat diralat atas respon yang diberikan, klarifikasi tertulis butuh waktu. Ada berbagai teknik penulisan, termasuk penggunaan gaya bahasa, penambahan ilustrasi dan gambar untuk memperkuat tulisan. Namun implementasinya tak sesederhana itu, butuh banyak latihan dan ‘jam terbang’. Dan menjadi penulis butuh keberanian. Asal menulis memang mudah, namun perlu diingat bahwa ‘masa hidup’ sebuah tulisan jauh lebih lama dibandingkan pembicaraan. Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Jejak digital tulisan mudah diakses siapa saja, dan penulislah yang harus mempertanggungjawabkan tulisannya. Belum lagi dengan UU ITE, tantangan menjadi penulis lebih besar. Pastikan menulis yang baik atau lebih baik diam.

Dengan berbagai tantangan dan keunggulan masing-masing, idealnya setiap diri kita mampu menjadi pembicara dan penulis yang baik. Seorang da’i atau motivator yang sering berbicara di ruang publik tentu akan mengalami batasan ruang dan waktu dalam menginspirasi. Akan berbeda jika apa yang disampaikan juga dituliskan. Inspirasinya dapat terus terjaga menembus zaman. Di sisi lain, seorang penulis produktif akan mengalami batasan dalam kolaborasi gagasan. Penulis butuh menyampaikan langsung apa yang dituliskan sehingga ada respon langsung yang dapat memperkaya gagasan. Bukankah dua kepala lebih baik daripada satu kepala? Apalagi banyak kepala. Dalam dunia akademik, keseimbangan antara menulis dengan berbicara ini sudah lama dikenal. Misalnya tugas akhir tertulis yang dibuat harus dipresentasikan dalam sidang tugas akhir. Menulis dan berbicara, tanpa kecuali. Sayangnya, momentum seperti ini kurang dibiasakan. Akhirnya, aktivitas menulis dan berbicara dilakukan ala kadarnya. Itupun masih lebih baik dibandingkan mereka yang asal menulis dan asal berbicara, tanpa manfaat, tanpa berani mempertanggungjawabkan apa yang ditulis dan diucapkannya.

Keberadaan kita di dunia ini harus memberi manfaat. Namun setiap diri kita punya keterbatasan dalam melakukan beragam kebermanfaatan tanpa melibatkan orang lain. Batas sempit itu dapat diperluas dengan aktivitas menyampaikan inspiratif, baik lisan maupun tulisan. Dan batas itu akan semakin luas jika kita optimal melakukan keduanya, berbicara dan menulis. Dengan tetap memperhatikan keteladanan perilaku atas apa yang dibicarakan ataupun ditulis, tentunya. Tidak ada dikotomi antara keduanya, semuanya bisa dilatih dan dibiasakan. Dan karena keduanya bersifat aktif-produktif, satu-satunya cara paling efektif untuk menguasai keterampilan berbicara dan menulis adalah dengan langsung mengimplementasikannya. Khazanah ilmu dapat terus berkembang dengan penyampaian secara lisan dan tulisan, dan seharusnya kita berupaya menjadi bagian darinya. Memiliki keterampilan berbicara dan menulis, dan mencerminkannya dalam keteladanan perilaku. Bismillah… Komisaris… eh bukan… Bismillah, saya siap. Bagaimana dengan Anda?

I love writing for kids. I love talking to children about what I’d written. I don’t want to leave that behind.” (J.K. Rowling)

Penyerangan Terbaik Adalah Bertahan

I don’t say we are a defensive team. I say we are a strong team in defensive terms, but at the same time lacking sufficient fluidity in attack because that will take time to come.” (Jose Mourinho)

Pernah mendengar pepatah yang mengatakan, “Pertahanan terbaik adalah menyerang”? Barangkali pepatah tersebut tidak sepenuhnya tepat. Apalagi jika ukuran terbaik adalah gelar juara. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil akhir liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 ini yang telah berakhir. Dalam beberapa liga, tim yang paling produktif adalah tim yang menjuarai liga. Namun dalam banyak liga, ternyata tim juara adalah tim yang bertahan paling baik, pun belum tentu terbaik dalam menyerang. Juara liga domestik di berbagai liga sukses mengandaskan juara bertahan dengan kokohnya lini pertahanan mereka, meski kalah dalam produktivitas gol. Sekali lagi, Bundesliga dengan Bayern Munich nya adalah pengecualian. Die Roten menjadi juara Bundesliga sebagai tim paling produktif mencetak gol, namun dalam hal bertahan Bayern Munich hanya ada di urutan ke-5.

Di Premier League, Manchester City begitu dominan dengan paling banyak memasukkan gol (83 gol) dan paling sedikit kebobolan (32 gol). Dari 38 pertandingan, Manchester City berhasil cleansheet di 19 pertandingan. Selain kiper Ederson yang berhasil mencatatkan 19 cleansheet dari 36 pertandingan Premier League yang dijalaninya, ada nama bek Ruben Dias yang turut menjadi kunci kesuksesan Manchester City di musim ini. Baru didatangkan dari Benfica di awal musim, Ruben Dias sukses menjadi pemain terbaik Liga Inggris di musim perdananya. Dari 32 penampilannya di Premier League, Dias sukses mencatat 17 cleansheet, 35 intersep, 24 tekel, dan 23 blok. Peran vital Ruben Dias mengingatkan akan peran Vincent Kompany di skuad Manchester City. Musim 2019/2020 peran ini menghilang. Alih-alih menggantikan, Laporte dan John Stones justru kerap cedera, gelar juara pun sempat direbut Liverpool musim lalu.

Juara Serie A Inter Milan kalah dalam urusan produktivitas gol dibandingkan Atalanta yang finish di posisi ke-3. Namun Inter Milan menjadi klub Serie A yang paling sedikit kebobolan (35 gol). Bersama rival sekotanya AC Milan, Inter Milan mencatatkan 14 cleansheet dari 38 pertandingan. Kiper senior Handanovic (37 laga) dan bek wonderkid Alessandro Bastoni (33 laga) sama-sama mencatatkan 14 cleansheet. Bersama dengan Milan Skriniar dan Stefan de Vrij, Bastoni yang baru berusia 22 tahun sukses mengawal pertahanan Inter Milan. Musim ini Inter juga sukses mendatangkan Achraf Hakimi (22 tahun) dari Borussia Dortmund. Hakimi bisa dikatakan sebagai salah satu bek kanan terbaik di Serie A jika dilihat kontribusinya terhadap penyerangan. Selain mencatatkan 13 cleansheet, Hakimi berhasil mencetak 7 gol dan 8 assist dari 37 pertandingannya di Serie A musim ini.

Kondisi serupa terjadi di Spanyol. Dalam urusan mencetak gol, sang jawara La Liga Atletico Madrid (67 gol) kalah produktif dibandingkan Barcelona (85 gol) yang finish di posisi ke-3. Namun pertahanan Atletico begitu kokoh dengan hanya kemasukan 25 gol dari 38 pertandingan. Kiper Jan Oblak yang tampil penuh di musim ini menjadi pemain kuncinya dengan mencatatkan 100 saves dan 18 cleansheet dari 38 pertandingan La Liga. Oblak bisa dikatakan sebagai salah satu kiper terbaik dan paling konsisten saat ini. Peran pemain baru seperti Luis Suarez (21 gol, 3 assist) dan Yannick Carrasco (6 gol, 10 assist) memang penting. Namun peran Savic, Gimenez, dan Hermoso di lini pertahanan juga tak kalah vital. Ditambah Koke sebagai gelandang bertahan.

Di Liga Portugal, juara liga Sporting Lisbon (65 gol) kalah produktif dibandingkan Porto (74 gol) dan Benfica (69 gol), namun pertahanannya sangat kuat dengan hanya kemasukan 20 gol dari 34 laga. Sepeninggal pemain berkualitas seperti Bruno Fernandes (ke MU), Raphinha (ke Leeds), Marcos Acuna (ke Sevilla), dan Jeremy Mathieu (pensiun), Sporting Lisbon memperkuat skuadnya dengan baik. Kiper Antonio Adan yang baru didatangkan dari Atletico Madrid sukses mencatatkan 19 cleansheet dan 1 assist dari 32 pertandingan. Pedro Goncalves (Pote) yang baru didatangkan dari Famalicao sukses jadi top skor Liga Portugal dengan 23 gol dan 3 assistnya dari 32 laga. Pemain baru Sporting Lisbon lainnya ada gelandang serang Nuno Santos dari Rio Ave (7 gol, 6 assist), bek Zouhair Feddal dari Real Betis (19 cleansheet, 2 gol, 3 assist), dan gelandang bertahan Joao Palhinha dari Braga (1 gol, 9 kali man of the match). Kemudian ada pemain pinjaman bek kanan dari Manchester City Pedro Porro (19 cleansheet, 3 gol, 3 assist) dan gelandang bertahan dari Inter Milan Joao Mario (2 gol, 1 assist). Adapun pemain lama yang tak kalah vital adalah bek tengah Sebastian Coates yang mencatatkan 19 cleansheet dan 5 gol dari 33 pertandingan.

Liga Perancis memberikan gambaran terbaik betapa pentingnya kokohnya pertahanan dalam meraih gelar juara. Keberhasilan Lille memutus dominasi PSG di Ligue 1 tidak terlepas dari solidnya lini bertahan. Dalam urusan mencetak gol, boleh saja Lille (64 gol) tertinggal jauh dari PSG (86 gol), Lyon (81 gol), dan AS Monaco (76 gol). Namun dengan hanya kebobolan 23 gol dalam 38 pertandingan sudah cukup mengantarkan Lille menjadi juara Ligue 1 musim ini. Kiper Mike Maignan bermain penuh musim ini dan mencatatkan 21 cleansheet dari 38 laga. Terbanyak di antara liga terbaik di Eropa. Lille tercatat menang tipis 1 gol dalam 12 pertandingan, dan hanya kalah 3 kali itupun dengan selisih tipis 1 gol. Apresiasi juga perlu diberikan untuk duet bek tengah beda generasi: Jose Fonte (37 tahun) dan Sven Botman (21 tahun) yang sama-sama mencatatkan 20 cleansheet. Kapten Lille Jose Fonte dianggap mampu menjadi mentor yang sangat baik bagi Botman yang baru didatangkan dari U21 Ajax yang meminjamkannya ke Heerenveen musim sebelumnya. Ditinggal pemain utama seperti striker Osimhen ke Napoli dan bek Magalhaes ke Arsenal, Lille berhasil menjaga keseimbangan kekuatan lini serang dengan mendatangkan kombinasi Burak Yilmaz, striker gaek 35 tahun dari Besiktas (16 gol, 5 assist) dan Jonathan David, wonderkid Kanada berusia 21 tahun (13 gol, 2 assist).

Pentingnya pertahanan sebenarnya dapat dipahami secara sederhana. Mencetak gol memungkinkan tim untuk memenangi pertandingan, mungkin juga seri atau kalah. Namun tidak kebobolan memastikan tim tidak akan kalah, pilihannya hanya seri atau menang. Tim dengan pertahanan kokoh mungkin tidak seatraktif tim dengan filosofi menyerang semacam Atalanta atau Ajax Amsterdam yang kerap membantai lawannya. Namun seni bertahan juga tidak mudah. Soliditas lini bertahan perlu didukung chemistry kuat dengan lini tengah dan lini depan. Musim ini Liverpool nyaris gagal masuk 4 besar di antaranya karena badai cedera di sektor pertahanan. Kuatnya penyerangan barangkali dapat memenangkan hati penonton karena suguhan permainan yang menarik, namun kokohnya pertahanan dapat memenangkan gelar juara. Bukan semata pragmatis, namun taktis dan strategis. Sudah banyak klub yang membuktikannya. Karenanya dalam kondisi tertentu, bukanlah pertahanan terbaik adalah dengan menyerang, namun penyerangan terbaik adalah dengan bertahan.

Attack wins you games, defence wins you titles” (Sir Alex Ferguson)

Pembuktian Mereka yang Terbuang

Barcelona didn’t value me. They underestimated me and Atletico opened their doors to give me an opportunity. I will always be grateful to this club for trusting in me.” (Luis Suarez)

Gelaran liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 usai sudah. Beberapa liga seperti Serie A Italia, Eredivisie Liga Belanda, Bundesliga Jerman, Liga Premier Inggris, ataupun Primeira Liga Portugal sudah ada kepastian juaranya jauh hari sebelum kompetisi berakhir. Namun untuk Ligue 1 Perancis dan La Liga Spanyol, penentuan juara liga baru dapat dipastikan di pertandingan terakhir. Di Ligue 1, Lille langsung tancap gas dengan gol di menit ke-10, dan digandakan semenit setelah jeda. Angers hanya bisa membalas 1 gol di menit ke-91. Di pertandingan lain, gol PSG di menit ke-37 yang digandakan di menit ke-71 tidak cukup menjadikan PSG mempertahankan gelar Ligue 1 untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Gelar juara Ligue 1 pun berpindah ke Lille yang terakhir memperolehnya 10 tahun lalu.

Di pertandingan terakhir La Liga 21 jam sebelumnya, drama terjadi di menit ke-18 ketika Real Valladolid yang butuh keajaiban untuk selamat dari jurang degradasi berhasil membobol gawang pemuncak klasemen Atletico Madrid. Namun dua menit berselang, Real Madrid yang butuh kemenangan untuk mengambil alih puncak klasemen justru kebobolan oleh Villareal yang sedang berjuang menembus 6 besar zona kompetisi eropa. Sampai turun minum, duo Madrid yang berpeluang menjadi jawara La Liga dalam posisi tertinggal. Selepas jeda, hanya butuh 12 menit bagi Atletico Madrid untuk menyamakan skor melalui Correa, dan 10 menit kemudian Luis Suarez sukses membuat Atletico berbalik unggul. Di pertandingan lain, Real Madrid baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-87 dan sukses melakukan comeback 4 menit kemudian. Duo Madrid pun menang dengan skor 2-1, Villareal gagal menembus zona kompetisi eropa, dan Real Valladolid pun terdegradasi.

Luis Suarez menjadi sorotan dalam keberhasilan Atletico Madrid meraih gelar La Liga ke-11 setelah 6 musim terakhir didominasi oleh Real Madrid dan Barcelona. Bukan hanya karena berhasil mencetak gol penentu kemenangan, Luis Suarez baru musim ini bergabung dengan Atletico Madrid setelah ‘dibuang’ Barcelona yang menganggapnya terlalu tua. Luis Suarez dengan torehan 21 golnya di pentas La Liga menjadi top skorer klub, setara dengan jumlah gol Llorente (12 gol) dan Correa (9 gol). Gol-golnya pun seringkali menentukan hasil akhir, ada 21 poin yang didapat dari 21 golnya, tertinggi dari pemain manapun di La Liga musim ini. Pun tertinggal jauh dari sahabatnya Leonel Messi (30 gol) yang memperoleh gelar El Pichichi La Liga musim ini, torehan gol Suarez ini sebanding dengan jumlah gol striker Barcelona lain yang lebih muda, yaitu Griezmann (13 gol), Dembele (6 gol), dan Braithwaite (2 gol). Pembuktian yang berkelas. Uniknya, kejadian serupa terjadi 7 tahun lalu ketika David Villa ‘dibuang’ Barcelona ke Atletico Madrid dengan kedatangan Neymar, dan membawa Atletico menjadi juara La Liga di musim pertamanya.

Masih lekat dalam ingatan pula ketika tahun lalu Barcelona dibantai Bayern Munich 2-8 di perempat final Liga Champions. Philippe Coutinho, pemain ‘buangan’ Barcelona yang berstatus pinjaman turut mencatatkan dua gol dan satu assist menghadapi tim yang meminjamkannya, pun baru diturunkan di menit ke-75 sebagai pemain pengganti. Kisah pembuktian ‘mantan’ juga bisa dilihat di Inter Milan yang dihuni beberapa pemain ‘buangan’ Liga Premier Inggris seperti Young, Lukaku, Sanchez, dan Darmian (Manchester United) dan Christian Eriksen (Tottenham Hotspur). MU dan Spurs pun sempat menjadi finalis, mengakhiri musim tanpa piala, sementara Inter Milan menjadi juara Serie A Italia setelah terakhir meraihnya 11 tahun lalu. Pembuktian ‘mantan’ juga bisa dilihat di Liga Champions, dimana Thomas Tuchel yang berhasil membawa PSG memenangkan dua gelar Ligue 1 termasuk domestic quadruple dan mengantarkan final Liga Champions musim lalu, dipecat PSG secara sepihak. Tak lama berselang, Tuchel menjadi pelatih Chelsea dan berhasil menjadi juara Liga Champions hanya dalam waktu 4 bulan masa kepelatihannya. Sementara PSG gagal di semifinal Liga Champions dan harus puas di posisi runnerup Ligue 1.

Pembuktian mereka yang terbuang ini berbeda dengan kasus pindahnya pemain karena ingin memperoleh trofi di klub lain yang dinilainya lebih potensial. Pembuktian mereka yang terbuang ini juga berbeda dengan kasus pindahnya pemain hanya karena urusan uang. Keduanya adalah pilihan pragmatis yang rasional. Tanpa perlu menyebut nama, tidak sedikit pemain yang memilih opsi ini. Mereka tidak benar-benar terbuang, pun sebagian di antara mereka memperoleh cap pengkhianat dari fans klub lamanya. Kalaupun pada akhirnya mereka sukses dengan klub barunya, nuansa pembuktiannya akan sangat berbeda dengan mereka yang pindah karena ‘terpinggirkan’. Emosinya akan berbeda.

Bagaimanapun, ada motivasi kuat setelah ‘diremehkan’. Ada kebahagiaan tersendiri mendapati diri lebih baik dari apa yang orang lain prasangkakan. Di sisi lain, menjadi penyesalan tersendiri bagi mereka yang salah dalam menilai dan membuat keputusan. Walaupun pihak ini biasanya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Mengatakan turut berbahagia dengan kesuksesan mereka yang pernah dipinggirkan, pun ada sesak di hati yang tidak bisa diutarakan. Karenanya, menjadi penting untuk mengawal proses perpindahan pemain dengan cara yang baik. Sehingga kesan yang muncul pun baik. Jika pun ternyata pemain yang dilepas memperoleh kesuksesan, pihak klub akan tetap memperoleh kredit positif. Klub hebat yang menyebarkan pemain-pemain hebat. Bukan klub bodoh yang membuang dan menyia-nyiakan talenta hebat. Apalagi dalam dunia sepakbola, yang telah ‘dibuang’ mungkin saja akan ‘dipungut’ lagi di kemudian hari.

Tell me I can’t, then watch me work twice as hard to prove you wrong” (Neymar Jr.)

Pilih Topskor Atau Juara Liga?

Football is a team sport and not an individual sport. We win as a team, and every individual is better if we are part of the team” (Fernando Torres)

Gelaran liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 berakhir sudah. Selain Bundesliga dengan Bayern Munich nya, di berbagai liga top Eropa muncul klub juara baru yang mengandaskan juara bertahan. Di Serie A, Inter Milan memutus dominasi Juventus. Di La Liga, Atletico Madrid mengalahkan dominasi Real Madrid dan Barcelona. Di league 1, Lille berhasil mematahkan dominasi PSG. Di Liga Portugal, Sporting Lisbon sukses mengakhiri dominasi Porto dan Benfica. Dan di setiap liga, sudah tentu ada pencetak gol terbanyak alias top scorer. Menariknya, mengesampingkan Bundesliga dengan Bayern Munich nya, banyak top scorer liga tidak berhasil membawa timnya menjuarai liga.

Cristiano Ronaldo yang merupakan pemain aktif dengan gol terbanyak di dunia, di musim ketiganya bersama Juventus akhirnya berhasil menjadi top scorer Serie A. Di musim perdananya 2018/2019, 21 gol Ronaldo kalah dari Quagliarella (Sampdoria) dan Zapata (Atalanta) yang mencetak 26 dan 23 gol. Di musim 2019/2020, 31 golnya tidak cukup untuk mengalahkan 36 gol Immobile (Lazio). Namun di dua musim sebelumnya, Ronaldo sukses membawa Juventus menjadi juara Serie A, sementara ketika Ronaldo berhasil menjadi top scorer Serie A, Juventus harus puas mengakhiri musim di posisi ke-4. Bahkan jika ditarik lagi ke belakang, terakhir kali top scorer Serie A menjuarai liga terjadi 12 tahun lalu pada musim 2008/2009, saat Ibrahimovic dengan 25 golnya berhasil membawa Inter Milan juara Serie A.

Di pentas La Liga, tanpa Ronaldo, Lionel Messi sukses menjadi top scorer La Liga dalam 5 musim terakhir. Namun torehan 30 golnya hanya mampu membawa Barcelona menutup musim di posisi ke-3, terpaut 7 dan 5 poin dari Atletico Madrid dan Real Madrid. Luis Suarez yang merupakan top skor juara La Liga Atletico Madrid dengan 21 golnya hanya ada di urutan ke-4 daftar top skor La Liga. Kondisi serupa terjadi di Ligue 1. Kylian Mbappe berhasil menjadi top scorer Ligue 1 untuk tiga musim berturut-turut. Namun 27 golnya hanya bisa mengantarkan PSG di posisi runner-up. Padahal jumlah tersebut jauh di atas Burak Yilmaz, top skor juara Ligue 1 Lille yang ‘hanya’ mencetak 16 gol.

Manchester City musim ini begitu dominan di Premier League. Paling banyak mencetak gol, paling sedikit kebobolan, ball possession dan pass accuracy tertinggi, serta sudah memastikan diri sebagai juara Premier League jauh-jauh hari. Namun Manchester City tidak dominan dalam urusan top scorer. Ilkay Gundogan yang merupakan top skor City ‘hanya’ mencetak 13 gol. Kalah jauh dari nama-nama seperi Kane, Salah, dan Fernandes. Bahkan jumlah golnya lebih sedikit dibandingkan Bamford, Son, Calvert-Lewin, Vardy, ataupun Watkins. Kondisi serupa terjadi di Liga Belanda. Ajax Amsterdam begitu mendominasi, paling banyak mencetak gol, paling sedikit kebobolan, ball possession, shot per game dan pass accuracy tertinggi, serta sudah memastikan diri sebagai juara Eredivisie jauh-jauh hari. Namun Dusan Tadic, top skor Ajax dengan 14 golnya hanya ada di peringkat ke-8 daftar top skor bersama Henk Veerman (SC Heerenveen) dan Lennart Thy (Sparta Rotterdam). Sementara top skor Eredivisie justru diperoleh Giakoumakis (26 gol) dari klub VVV-Venlo yang terdegradasi musim ini setelah hanya mencatatkan 6 kemenangan dan 5 laga imbang.

Sudah kerap terjadi, kesuksesan menjadi top skor tidak berbanding lurus dengan keberhasilan menjadi juara liga. Di Liga Champions musim ini pun juga menunjukkan bahwa Erling Haaland dengan 10 golnya berhasil menjadi top skor namun hanya mampu membawa Borussia Dortmund menjejak perempat final Liga Champions. Hal ini dapat dipahami, sosok ‘superman’ dalam tim akan memudahkan lawan membaca pola permainan. Cukup ‘matikan’ saja figur sentral seperti Ronaldo atau Messi. Atau lihat saja betapa tumpulnya Spurs tanpa sosok Kane dan atau Son. Atau bagaimana vitalnya peran Giakoumakis yang mampu mengamankan 18 poin bagi VVV-Venlo di Eredivisie musim ini. Tanpanya, VVV-Venlo akan menyudahi liga hanya dengan 5 poin hasil sekali menang dan dua kali imbang. Faktanya, VVV-Venlo kalah di semua pertandingan Eredivisie ketika Giakoumakis tidak bermain.

Lebih repotnya lagi, ego kerap muncul pada figur sentral ini. Padahal biasanya ‘superman’ ini kerap sudah difasilitasi dalam mengeksekusi penalti ataupun set piece. Kondisi berbeda diperlihatkan finalis liga champions. Tercatat ada 16 pemain Chelsea yang mencetak gol di Premier League, 6 pemain di antaranya terlibat dalam minimal 7 gol. Di Manchester City juga ada 16 pemain yang mencetak gol di Premier League, 8 di antaranya terlibat dalam minimal 8 gol. Relatif merata tanpa ada yang benar-benar menonjol. Rotasi pemain yang kerap dijalankan pun semakin memperlihatkan bahwa kedua finalis ini bermain sebagai tim. Chelsea memiliki 15 pemain yang pernah terpilih sebagai man of the match di laga premier league musim ini, sementara Manchester City ada 12 pemain.

Pada akhirnya, tim yang berorientasi pada ‘superteam’ lebih berpeluang juara dibandingkan tim yang mengandalkan ‘superman’. Gelar individu barangkali bisa diraih para ‘superman’ ini, namun tidak mudah memadukannya dengan gelar tim. Karena ada ego yang harus ditekan, kepercayaan yang perlu ditumbuhkan, dan kelapangan hati yang mesti dihidupkan. Bagaimanapun, satu tim dalam sepakbola terdiri atas 11 pemain, 1 atau 2 pemain sehebat apapun tentu tidak cukup. Para pemain sentral ini sudah memahami hal ini, bahkan tidak jarang menyampaikan statement bahwa yang terpenting adalah kemenangan tim dan bukan rekor pribadi. Sayangnya, kadang-kadang hal tersebut tidak tampak di lapangan. Apalagi mereka juga membawa bebannya sendiri sebagai pemain yang diandalkan. Padahal formulanya sederhana: tim unggul akan melahirkan pemain-pemain unggul, namun pemain unggul belum tentu dapat menghadirkan tim unggul. So, mau jadi ‘superman’ atau ‘superteam’?

No individual can win a game by himself” (Pele)

Bundesliga yang Membosankan

Bayern is already a champion, as always, it is boring and sad” (Bernd Leno)

Gelaran liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 usai sudah. Beberapa liga sudah memastikan juaranya sejak beberapa pekan lalu. Inter Milan sudah pasti juara Serie A Italia sejak 2 Mei 2021, di hari yang sama dengan Ajax Amsterdam yang mengunci gelar juara Eredivisie Liga Belanda. Sehari berselang giliran Zenit St Petersburg yang menjadi jawara Liga Rusia menyisakan dua pertandingan. Bayern Munich memastikan gelar Bundesliga pada 8 Mei, sementara Manchester City sudah memastikan gelar juara Liga Premier Inggris sejak 12 Mei lalu, di hari yang sama ketika Sporting Lisbon mengunci gelar juara Primeira Liga Portugal. Di antara liga domestic top di Eropa, praktis hanya La Liga Spanyol dan Ligue 1 Perancis yang penentuan juaranya sampai pekan terakhir.

Di antara liga-liga top Eropa, bisa dikatakan Bundesliga adalah liga yang paling tidak menarik. Di pekan terakhir, jatah untuk tim untuk berlaga di kompetisi Eropa sudah lengkap. Bayern Munich sudah pasti juara diikuti Leipzig di posisi runner up. Borussia Dortmund dan Wolfsburg sudah mengunci posisi 4 besar zona Liga Champions. Eintracht Frankfurt mengunci posisi 5 zona Liga Eropa, sementara Bayer Leverkusen aman di posisi 6 ikut playoff Liga Eropa. Lolosnya Arminia Bielefeld dari degradasi di pertandingan terakhir juga tidak terlalu dramatis. Hal serupa sebenarnya juga terjadi di Primeira Liga Portugal dimana posisi 5 besar yang berkesempatan ikut kompetisi eropa, juga posisi tim-tim yang akan degradasi sudah fiks sehingga pertandingan pekan terakhir tak lagi menentukan. Namun perlu dicatat bahwa terakhir kali Sporting Lisbon juara Liga Portugal terjadi pada 2002. Artinya, Sporting Lisbon musim ini berhasil mematahkan dominasi FC Porto dan Benfica yang bergantian juara selama 18 musim sebelumnya. Berbeda sekali dengan Bayern Munich yang mempertahankan juara Bundesliga 9 musim berturut-turut.

Liga-liga top Eropa musim ini melahirkan juara baru, kecuali Bundesliga. Selain Sporting Lisbon, di La Liga Atletico Madrid untuk kali kedua dalam 17 musim terakhir berhasil mematahkan dominasi Real Madrid dan Barcelona. Terakhir kali Atletico Madrid mematahkan dominasi tersebut pada musim 2013/2014 atau 7 tahun lalu. Di Ligue 1, Lille berhasil mematahkan dominasi PSG yang menjadi juara Liga Perancis 3 musim sebelumnya. PSG bahkan 7 kali menjadi juara Ligue 1 dalam 8 musim sebelumnya, hanya disela oleh AS Monaco pada musim 2016/2017. Di Serie A, Inter Milan merusak dominasi Juventus yang menjadi juara Liga Italia 9 musim sebelumnya secara berturut-turut. Di musim ini, Juventus bahkan harus puas mengakhiri liga di peringkat ke-4. Di Premier League, Manchester City menggantikan Liverpool sebagai jawara Liga Inggris. Kompetisi di Liga Inggris masih relatif ketat, tercatat ada 5 klub berbeda yang menjadi juara dalam 10 musim terakhir.

‘Parahnya’ lagi, dominasi Bayern Munich bukan hanya gelar juara liga, tetapi juga klub dengan gol terbanyak serta top skor liga. Di liga lain, juara liga tidak merangkap menjadi top skor liga. Sebutlah Harry Kane (Tottenham/ Premier League), Ronaldo (Juventus/ Serie A), Messi (Barcelona/ La Liga), dan Mbappe (PSG/ Ligue 1). Bahkan di Eredivisie yang didominasi Ajax musim ini, top skornya adalah Giakoumakis dari VVV-Venlo yang pernah dibantai Ajax 0-13 di kandang dan harus terdegradasi musim ini. Di Bundesliga, Robert Lewandowski dengan 41 golnya yang mematahkan rekor Gerd Muller 49 tahun lalu sebagai gol terbanyak Bundesliga dalam semusim, begitu mendominasi. Andre Silva (Eintracht Frankfurt) di posisi kedua ‘hanya’ mencetak 28 gol. Lewandowski meraih sepatu emas Eropa, sementara Lionel Messi di posisi runnerup ‘hanya’ mencetak 30 gol. Lewandowski pun menjadi top skor Bundesliga dalam 4 musim berturut, dan 6 kali menjadi top skor dalam 8 musim terakhir.

Selain juara liga, top skor, dan gol terbanyak, Bayern Munich juga mendominasi hampir di semua data statistis. Thomas Muller mencetak assist terbanyak Bundesliga musim ini dengan 18 assist. Die Roten juga unggul dari segi ball possession, shots per game, shots on target per game, dribbles per game, pass accuracy, dan ratings. Bayern Munich mengawali musim 2020/2021 dengan status treble winner dan langsung membantai Schalke 04 di pekan pertama 8 gol tanpa balas. Setelah merebut Piala Super Eropa, Bayern Munich sempat dikejutkan dengan kekalahan 4-1 dari Hoffenheim di pekan ke-2. Kekalahan ke-2 dirasakan Die Roten pada pekan ke-15 setelah ditundukkan 3-2 oleh Borussia Monchengladbach sehingga juara paruh musim jatuh di tangan Leipzig, seperti tahun sebelumnya. Dan semua akan Bayern Munich pada akhirnya.

Walaupun demikian, dominasi dalam Bundesliga bukanlah salah Bayern Munich, karena setiap klub sepakbola tentu mengharapkan kemenangan dan prestasi. Seperti kata pepatah: mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Tantangan ini seharusnya bisa menjadi motivasi bagi klub lain untuk mematahkan dominasi tersebut. Memang tidak mudah, sebab prestasi berbanding lurus dengan dukungan finansial. Dan kekuatan finansial akan memudahkan tim dalam memilih pemain dan pelatih, serta memperkuat tim. Namun, apapun bisa terjadi di sepakbola. Nyatanya Lille berhasil menumbangkan dominasi klub kaya raya PSG di Ligue 1. Sebagai catatan, total skuad Lille (23 pemain) hanya senilai 239 juta euro, masih di bawah nilai Neymar (110 juta euro) plus Mbappe (160 juta euro) di PSG. Di musim ini pun, Bayern Munich sempat dikalahkan tim medioker Mainz 05 di pekan ke-31. Dan publik tentu banyak yang menantikan penantang juara Bundesliga yang akan berhasil mematahkan dominasi The Bavarians. Agar Bundesliga semakin kompetitif dan menarik, tidak terkesan monoton karena juaranya sudah dapat dipastikan.

Only Bayern Munich really have some sort of guarantee to win if they only catch a good day. All the others need really good days to win. I like it.” (Pierre Emerick Aubameyang)

Kalau Ramadhan Bisa Menyapa…

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelenggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Kalau bulan bisa ngomong, ia akan mengungkapkan kecemburuannya pada Ramadhan. Bagaimana tidak, Ramadhan ini begitu spesial dan dianakemaskan. Bukan hanya berlimpah berkah dan ampunan, serta menjadi bulan yang identik dengan Al Qur’an, dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hitungan bulan seakan tak ada artinya dibandingkan dengan suatu malam di bulan Ramadhan. Jika bulan-bulan lain bisa menuntut, tentu mereka akan meminta kesetaraan, semua bulan seperti bulan Ramadhan. Dimana pintu-pintu kebaikan begitu terbuka luas. Aktivitas ibadah pun seakan begitu dimudahkan.

Kalau setan bisa protes, ia akan menggugat bulan Ramadhan. Bagaimana tidak, di bulan Ramadhan ini mereka dibelenggu tak dapat leluasa menggoda manusia. Memang masih ada kepanjangan tangan mereka dari bangsa jin dan manusia, namun tentu kerjanya tidak semudah di luar bulan Ramadhan. Di bulan ini berbuat baik menjadi lumrah. Sementara perbuatan tidak baik menjadi cela. ‘Puasa ga boleh bohong’… ‘Lagi puasa jangan ngomongin orang’… ‘Kalo marah batal lho puasanya’… Jika setan-setan bisa berdemonstrasi, mereka akan melakukan aksi massa menuntut keadilan. Mengapa tidak ada semenit atau bahkan sedetikpun malaikat dibelenggu sehingga manusia sulit berbuat baik? Dan mereka harus menerima dibelenggu selama sebulan lamanya!

Kalau Ramadhan bisa menyapa, ia akan bertutur ramah kepada orang beriman yang antusias bersiap menyambutnya. Mengabarkan betapa berharganya kesempatan beramal shalih ketika pintu-pintu surga terbuka lebar sementara pintu-pintu neraka ditutup. Mengingatkan untuk dapat menjaga konsistensi berbuat baik sepanjang Ramadhan, tidak hanya giat di awal. Jika Ramadhan bisa baper, ia akan bersedih menyaksikan manusia yang membiarkannya berlalu begitu saja. Mengasihani manusia yang masih menuruti syahwatnya serta tidak bertambah kebaikannya. Padahal ia hanya datang menyapa sesaat. Sebulan adalah waktu yang teramat singkat. Sementara tidak ada jaminan tahun depan manusia akan kembali menjumpainya.

“Ya Allah, perjalankanlah bulan ini kepada kami dengan penuh kebajikan dan iman, serta keselamatan dan Islam. Rabb-ku dan Rabb-mu (bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi)

Pegiat Zakat, Jangan Berkhianat!

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kalian menghianati berbagai amanat yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal 27)

Hasil pemeriksaan medis untuk kali ketiga dalam dua pekan terakhir masih belum berhasil menunjukkan gejala penyakit apapun. Padahal sejak sakit di kaki serasa ditusuk-tusuk beberapa pekan lalu, aku belum pernah benar-benar pulih. Dan kali ini penyakitnya kembali menghampiri, demam tinggi, tidak bisa tidur, bahkan indera penciuman pun tidak berfungsi. Covid kah? Tidak. Ini sudah kali kedua dalam dua pekan ini hasil SWAB test menunjukkan hasil yang negatif. Dokter pun bingung atas apa yang terjadi. Diagnosis yang bisa disampaikan hanyalah stress, seraya menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana persoalan pikiran bisa memberi dampak terhadap tubuh.

Malam ini terasa panas menyelimuti tubuh, padahal AC sudah menyala. Mungkin suara murathal Al Baqarah yang sayup-sayup terdengar di kamar sebelah yang jadi penyebabnya. Beberapa hari ini, dalam ruqyah mandiri, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuh ini. Di hari kelima, aku tak sanggup lagi, ruqyah mandiri terasa sangat melelahkan. Butuh bantuan orang lain. Segera saja aku minta diantar menemui ustadz yang memang biasa membantu dalam melakukan ruqyah. Menjadi sebuah ikhtiar, bagaimanapun ruqyah hanyalah sarana karena yang menyembuhkan adalah Allah SWT.

Dalam keadaan setengah sadar, ada kalanya berteriak bahkan memukul diri sendiri, jin kafir dan jin muslim yang bersemayam dalam tubuhku saling bentrok. Jin kafir ini menyampaikan tiga misinya: membunuh diriku, membuatku bercerai dengan istriku, dan membuatku keluar dari tempat kerjaku. Kuteringat beberapa hari lalu betapa tiba-tiba aku membenci diriku, istriku, dan tempat kerjaku. Jin kafir ini tampak sangat membenci pekerjaanku sebagai pegiat zakat. Apalagi ada berbagai perbaikan yang kulakukan, yang bisa jadi mengusik sebagian orang. Setelah melalui waktu yang terasa panjang, akhirnya semuanya berhasil terkendali. Atas izin Allah SWT aku kembali sehat, dan semakin mantap untuk berjuang di jalan ZISWAF yang ternyata begitu dibenci para musuh Allah. Tak boleh berlalu seharipun tanpa tilawah, dzikir, dan senantiasa mengingat-Nya.

* * *

Kisah di atas adalah penggalan kisah nyata dari seorang rekan pegiat ZISWAF yang diceritakan langsung kepada penulis beberapa waktu lalu. Penyakit nonmedis memang bukan hal baru bagi penulis. Namun ada beberapa ibroh yang dapat diambil dari cerita seorang rekan ini. Pertama, ‘gangguan’ bukan hanya bisa masuk ke orang awam, namun orang ‘alim’pun dapat terkena ‘gangguan’ tersebut pada titik terlemahnya. Kedua, penyakit nonmedis memang benar ada, pun demikian, ruqyah harus tetap dipandang sebagai sarana, bukan merupakan faktor yang menentukan kesembuhan. Ketiga, jalan para pejuang syariah memang tak pernah mulus dari cobaan dan gangguan. Dan itu merupakan sunatullah dalam berjuang.

Walaupun tidak bisa dijadikan hujjah yang dapat dipercaya, ada beberapa perkataan jin dalam kasus di atas yang dapat menjadi warning sekaligus motivasi. Bukan perkataan tentang sadisnya pembunuhan 6 laskar FPI yang entah didapatnya dari mana. Namun ungkapan kebenciannya terhadap para pejuang syari’ah, para pegiat dakwah, zakat, wakaf, dan sebagainya. Di saat semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya penegakan syari’ah, pihak yang memusuhinya pun tidak sedikit, miltan, terorganisir dan sistematis. Polarisasi ideologis antara kedua kubu ini lebih dahsyat dibandingkan perang antara ‘cebong’ dengan ‘kampret’. Dan tidak ada posisi di antara hizbullah dengan hizbusysyaithan. Akan ada masa dimana manusia akan memilih dimana mereka akan berdiri.

Ujian besar bagi para pejuang syari’ah pun tampaknya tinggal menunggu waktunya. Tanda-tandanya sudah semakin kentara, seperti pembubaran beberapa ormas Islam, ditutupnya pasar muamalah, ataupun ditangkapnya Ketua salah satu Lembaga Amil Zakat karena diduga danai terorisme. Ujian ke depan bisa jadi semakin berat karena para pejuang syari’ah ini ‘diserang’ dari dalam di saat ada kepentingan eksternal untuk memanfaatkan dana umat. Tantangan terbesarnya justru datang dari para pengkhianat perjuangan. Mereka yang berada di barisan umat, namun mengedepankan kepentingan duniawi pribadi dan kelompoknya. Jumlahnya barangkali tidak besar, namun ibarat kanker yang terus merusak sel, jaringan, dan organ sehat. Syari’ah Islam yang mulia, distigmakan negatif akibat ulah oknum pengkhianat berkedok syari’ah.

Pun demikian, optimisme tetap harus dipupuk. Tidak sedikit pejuang syari’ah yang benar-benar tulus ikhlash dalam berjuang. Merekalah anasir terkuat dalam menghadapi berbagai ujian. Yang namanya jalan kebenaran memang tak pernah sepi dari aral menghadang. Godaan untuk meninggalkan medan juang dan memilih jalan yang lebih aman dan menjanjikan juga semakin besar. Perjalanan waktu nanti akan membuktikan, siapa yang benar-benar berjuang di Jalan-Nya, siapa yang mencederai amanah hanya demi kenikmatan sesaat yang semu. Semoga Allah SWT senantiasa memantapkan langkah kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Ahlan Wa Sahlan Ya Sya’ban

Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman” (Abu Bakar al Balkhi)

Tak terasa, bulan Sya’ban 1442 H telah tiba. Artinya, dalam waktu kurang dari sebulan lagi, bulan Ramadhan akan kembali menghampiri. Kata sya’ban diambil dari kata sya’bun yang artinya kelompok atau golongan. Dinamakan Sya’ban karena pada bulan tersebut masyarakat jahiliyah berpencar mencari air. Ada juga yang mengatakan, mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan. Al Munawi mengatakan, “Bulan Rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan Sya’ban, mereka berpencar ke berbagai medan peperangan”.

Bulan Sya’ban ialah bulan dimana Rasulullah SAW paling sering berpuasa sunnah. Banyak dalil yang menjelaskan mengenai hal ini, di antaranya dari Aisyah r.a. yang meriwayatkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah melebihi (puasa sunnah) di bulan Sya’ban.” (HR.  Bukhari). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Usamah bin Zaid r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban”. Rasulullah SAW bersabda, “Ini adalah bulan yang seringkali dilalaikan oleh banyak orang. Keberadaannya antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan, saya ingin sekali ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa” (HR. An Nasa’i).

Bulan Sya’ban memang seakan ‘kalah pamor’ dibandingkan bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab termasuk salah satu dari empat syahrul haram (bulan yang dimuliakan). Letaknya terpisah dari tiga syahrul haram lainnya yang dekat dengan pelaksanaan haji. Bulan Rajab pun memiliki momentum Isra Mi’raj yang di Indonesia banyak diperingati sebagai salah satu hari libur nasional. Sementara Ramadhan adalah Sayyidusy Syuhur (penghulunya para bulan) yang nama bulannya disebutkan langsung dalam Al Qur’an. Ramadhan juga memiliki banyak julukan, di antaranya Syahrul Qur’an, bulan dimana Al Qur’an pertama kali diturunkan. Kemudian syahrush shiyam, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Bahkan di bulan Ramadhan ada lailatul qadar, dimana satu malamnya lebih baik daripada seribu bulan.

Pun tidak sepopuler bulan Rajab dan Ramadhan, bulan Sya’ban sebenarnya memegang peran vital dalam memastikan kesuksesan menjalani ibadah Ramadhan. Ibarat akan bertanding, porsi latihan harus optimal jelang menghadapi pertandingan. Ibarat akan menyelenggarakan kegiatan, gladi resik event Ramadhan sudah harus mantap di bulan Sya’ban. Ibarat akan memanen ketakwaan di bulan Ramadhan, bulan Sya’ban adalah momen penting dalam memelihara pohon ketakwaan yang bibitnya telah ditanam sejak bulan Rajab. Bagaimana mungkin panennya akan berhasil jika pemeliharaannya dilupakan? Berbagai kegiatan Tarhib Ramadhan pun banyak digelar di bulan Sya’ban ini. Pun sebenarnya Tarhib Ramadhan yang bersifat ilmu dan pengingatan lebih tepat dikondisikan sejak bulan Rajab, sehingga di bulan Sya’ban ini umat Islam bisa langsung latihan dalam menyambut Ramadhan.

Persiapan iman, ilmu, fisik, dan mental sudah benar-benar dimatangkan di bulan Sya’ban ini. Persiapan diri dan keluarga untuk menyambut Ramadhan juga harus benar-benar siap. Dengan latihan dan pemanasan yang cukup, seharusnya pertandingan dapat dijalani dengan baik. Tidak perlu khawatir ‘telat panas’ ataupun cedera. Dan bulan Sya’ban belum lama masuk, ada cukup banyak waktu untuk menguatkan bekal dan persiapan. Apalagi kondisi pandemi tidak se’mencekam’ tahun lalu. Berbagai persiapan seharusnya bisa lebih optimal. Semoga dengan pembiasaan yang baik di bulan Sya’ban ini dapat mengantarkan kita untuk bisa lebih produktif di bulan Ramadhan. Pembiasaan positif yang semoga saja dapat istiqomah dilakukan di luar Ramadhan.

Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan” (HR. Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman. Syaikh Ahmad Syakir berkata dalam takhrij Musnad Imam Ahmad: sanad hadits ini dhaif)

Sliver the Truth

Kebenaran umpama selembar cermin di tangan Tuhan yang jatuh pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memerhatikannya, lalu berpikir telah mengenggam kebenaran.” (Jalaluddin Rumi)

Sliver the truth’ artinya sepotong kebenaran, sebuah istilah yang baru saya dapati saat berdiskusi dengan Pak Zaim Uchrowi, salah seorang pendiri Harian Republika. Beliau mengatakan bahwa ‘sliver the truth’ begitu berkembang di Indonesia, terutama di dunia maya. ‘Sliver the truth’ mengandung kebenaran, namun tidak utuh, dan menurut beliau hal ini lebih berbahaya daripada kebohongan/ hoax. Hoax ketika dibuktikan kepalsuannya akan nyata kebohongannya dan ditinggalkan. Namun sepotong kebenaran tidak benar-benar bisa dibuktikan kepalsuannya karena masih mengandung kebenaran. Mereka yang meyakini sepotong kebenaran ini pun lebih sulit untuk bersikap objektif dan menerima kebenaran yang kompleks. Sepotong kebenaran dianggap sebagai kebenaran yang utuh.

Ada istilah serupa yang saya kenal sebelumnya yaitu ‘half-truth’ atau kebenaran yang setengah-setengah. Ada pepatah lama yang mengatakan, “a half-truth is a whole lie”. Barangkali ada benarnya, sebab sepotong kebenaran lebih didominasi kepingan yang dekat dengan kebohongan dibandingkan dengan kepingan kebenarannya. Dan menjadi lebih berbahaya dibandingkan kebohongan karena kepingan kebenaran ini diyakini sebagai kebenaran sementara kepingan yang lain diyakini sebagai kebohongan. Semakin lama penggalan kebenaran ini diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, semakin jauhlah dengan kebenaran hakiki sebab mereka yang meyakininya menutup diri dari penggalan kebenaran yang lain.

Dalam realitanya, ‘sliver the truth’ ini banyak digunakan untuk memanipulasi kebohongan menjadi kebenaran. Belum lagi jika sudah melibatkan framing media. Kebohongan yang terus diulang akan menjadi kebenaran, apalagi jika dalam pengulangan tersebut diselipkan ‘sliver the truth’. Istilah ‘framing’ ini akhirnya dekat dengan istilah ‘paltering’ alias mempermainkan kebenaran. Mengelabui orang dengan menyatakan hal yang ‘benar’. Contoh sederhana yang lekat dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan istilah ‘On the Way (OTW)’ ketika terlambat memenuhi janji pertemuan, padahal baru saja berangkat di depan rumah. Tidak sepenuhnya salah karena memang sudah di jalan (depan rumah). Bahkan ada yang lebih ekstrim menggunakan OTW dengan maksud lagi jalan ke kamar mandi buat siap-siap. Sejenis kebohongan yang barangkali dianggap lumrah.

Sebenarnya tidak semua ‘kebohongan’ dilarang. Nabi Ibrahim a.s. misalnya, pernah ‘berbohong’ tiga kali: menatap langit dan mengatakan dirinya sakit ketika diajak warga untuk berhari raya menyembah berhala; ‘mengambinghitamkan’ berhala paling besar yang menghancurkan berhala-berhala; dan mengakui Sarah (istrinya) sebagai saudara perempuannya. Termasuk ‘sliver the truth’ karena Nabi Ibrahim a.s. memang merasa sakit hatinya menyaksikan kemusyrikan kaumnya. Dalam kasus penghancuran berhala, yang disampaikan Nabi Ibrahim a.s. adalah sejenis majas, bukan jawaban dusta atas sebuah pertanyaan. “Berhala yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al Anbiya:63). Secara logika, karena berhala tidak dapat berbicara, maka pernyataannya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Bahkan ada yang menafsirkan kalimat bal fa’alahu kabiruhum hadzaterdiri dari dua kalimat.Bal fa’alahumenjawab pertanyaan bahwa pelakunya adalah laki-laki, sementara kabiruhum hadzaadalah sebuah kebenaran karena Nabi Ibrahim a.s. saat itu memang menunjuk berhala paling besar yang ada disana. Kemudian untuk kasus mengakui Sarah sebagai saudarinya karena memang Sarah adalah saudara perempuan seagamanya. Saat itu bahkan Sarah memang satu-satunya saudari seiman. Jika ditambah berbagai potensi fitnah yang akan muncul jika Nabi Ibrahim a.s. menjawab ‘apa adanya’, maka keputusan untuk slivering the truthtentu akan lebih mudah dipahami. Atau dalam kisah Nabi Yusuf a.s., manipulasi kebenaran pun sempat dilakukan ketika menuduh saudaranya (Benyamin) mencuri sehingga dapat ditahan, dan pada akhirnya bisa membawa ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.) ke Mesir. Itu termasuk siasat. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Ummu Kultsum binti Uqbah Abi Mu’ith r.a. mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah termasuk pendusta: orang yang mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan.” Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mentolerir kebohongan hanya dalam tiga kondisi: pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau sebaliknya.

Hanya saja dalam kondisi saat ini, ‘slivering the truth’ ini tidak patut dibudayakan. Bukan hanya motifnya yang seringkali politis dan sangat pragmatis, kondisi masyarakat pun juga tidak mendukung. Bualan dan dusta semakin jadi fenomena biasa. Daya kritis terhadap informasi menurun sementara fanatisme golongan meningkat. Belum lagi ditambah media yang cenderung kepada satu potongan kebenaran, bukan pada kebenaran itu sendiri. Sepotong kebenaran ini ketika dipadukan dengan arogansi dan fanatisme berlebihan dapat berbahaya. Bukan hanya akan menolak kebenaran dari pihak yang berbeda, dan merendahkan pihak lain, namun akan menimbulkan kebencian dan permusuhan dengan pihak lain. Polaritas antar golongan semakin kuat, seperti anjing dan kucing. Atau ibarat cebong dan kampret.

Ada istilah ‘white lies’ bahkan ‘beautiful lies’, namun ‘seputih’ apapun hal itu tetaplah sebuah kebohongan, bukan kebenaran. Kebohongan ‘baik’ yang akan diikuti oleh kebohongan lain untuk menutupinya. Kebohongan yang akan melahirkan kenyamanan semu. The truth is still the truth, even if no one believes it. A lie is still a lie, even if everyone believes it. Memang kebenaran kadang menyakitkan, karenanya tidak semua orang menyukainya. Ada pula yang namanya pembenaran, yang mampu memberi kepuasan sesaat. Dan sepotong kebenaran adalah sesuatu hal yang berbeda lagi. Bisa diarahkan membawa kebaikan, namun lebih berpotensi besar menyertai kebohongan. Karenanya, daripada menyampaikan sepotong kebenaran, lebih baik membiasakan berpikir kritis dan terbuka, tabayyun (check and recheck), serta menahan diri dari perkataan dan perilaku dusta, sekecil apapun, dalam keadaan bercanda sekalipun. Membiasakan diri untuk terus mencari, menelaah, dan menerima kebenaran. Bisa jadi ada kesalahan dari kebenaran yang kita yakini. Bisa jadi ada kebenaran dalam kesalahan yang orang lain yakini. Sebab kebenaran sejati hanya ada di sisi Allah SWT.

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim)