Tag Archives: aktivis mahasiswa

Belajar dari Abilitas Penyandang Disabilitas

“Dia yang Mau Menerima Saya Apa Adanya!”, judul tulisan dari salah seorang kawan tiba-tiba terlintas ketika ku menghadiri Grand Launching ThisAble Creative di Unpad Training Center. Tidak mengherankan, karena tulisan tersebut baru dikirim sehari sebelumnya. Tulisan mengenai berbagai penolakan dan pertanyaan sensitif yang mengiringi hidup seorang penyandang disabilitas. Sekaligus ungkapan kesyukuran atas hadirnya pendamping hidup dan keluarganya yang begitu tulus menerimanya. Tulisan dari seorang teman penyandang disabilitas yang begitu produktif menulis. Penulis novel ‘Sepotong Diam’ dan ‘Masih Ada’ sekaligus founder One Day One Post Community.

ThisAble Creative (TAC) merupakan sebuah gerakan sosial yang diinisiasi oleh penerima Beasiswa Aktivis Nusantara – Dompet Dhuafa, Regional Bandung. Gerakan ini bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat difabel dalam memunculkan potensinya sehingga lebih mandiri dan dapat menciptakan inklusifitas di tengah masyarakat. Dalam acara grand launching bertemakan “Commemorate the Extraordinary” ini dilakukan penyerahan kaki palsu yang dibuat handmade oleh difabel dan untuk difabel, sharing inspirasi oleh para penyandang disabilitas, serta launching tas TAC yang dibuat langsung oleh para difabel.

diskriminasi difabel

Di tengah hiruk pikuk isu diskriminasi SARA jelang Pilkada DKI yang sepertinya mencoba mengalihkan isu penistaan agama yang dilakukan oleh petahana, diskriminasi terhadap para difabel seolah luput dari hiruk pikuk. Padahal para penyandang disabilitas sangat rentan terhadap tindak diskriminatif, bahkan tindak kriminal. Pelecehan dan diskriminasi yang kadang dirasakan oleh jomblowan dan jomblowati jelas jauh lebih ringan dibandingkan apa yang menimpa para penyandang disabilitas. Lingkaran setan kemiskinan berputar di sebagian besar para difabel. Mencoba memperbaiki nasib, akses terhadap pekerjaan terbatas. Hendak memutus rantai kemiskinan, akses terhadap pendidikan juga terbatas. Belum lagi terbatasnya akses fasilitas dan sarana layanan publik, ditambah berbagai stigma negatif yang dilekatkan kepada para difabel, menambah panjang daftar tindak diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas.

Berbeda dengan isu SARA yang kental nuansa keyakinan dan budaya yang dogmatis, diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas semestinya tidak perlu terjadi karena disatukan oleh isu kemanusiaan yang universal. Kesetaraan, saling membutuhkan dan saling membantu. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Artinya ketidaksempurnaan fisik tidak seharusnya menjadi pembeda. Sayangnya keangkuhan acapkali menghijabi kesyukuran, rasa gengsi kerapkali menutupi rasa empati, alhasil diskriminasi terus terjadi. Padahal dari penuturan para penyandang disabilitas, mereka tidak ingin diistimewakan. Mereka hanya ingin dimanusiakan, bukan sebagai orang cacat yang layak dihujat, bukan epidemi yang harus dijauhi, bukan komunitas terzholimi yang minta dikasihani, juga bukan bangsawan yang segala sesuatunya harus disediakan. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia. Peduli dan dipedulikan, mencintai dan dicintai.

Dan hari ini aku belajar banyak akan arti kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Salah seorang penerima kaki palsu sudah hapal lebih dari 5 juz Al Qur’an, ada juga juara paralympic yang sudah mengharumkan nama bangsa. Sementara mereka yang (katanya) ‘sempurna’ justru belum menorehkan karya apa-apa. Sekali lagi aku diingatkan bahwa setiap manusia dikaruniai kelebihan dan kekurangan. Ya, kekurangan hakikatnya adalah karunia jua, bukan aib. The extraordinary people bukanlah mereka yang tidak punya kekurangan, tetapi merekayang memiliki kekurangan namun bukannya menjadi kelemahan, namun justru menjadi kekuatan. Dan ternyata para penyandang disabilitas ini memiliki potensi yang luar biasa, menjadikannya memiliki abilitas yang tidak kalah dari para ‘penyandang non-disabilitas’. Allah Maha Adil, Dia melengkapi segala kekurangan dengan sesuatu yang setimpal…

I firmly believe that the only disability in life is a bad attitude” (Scott Hamilton)

Retorika dan Aksi Nyata Mahasiswa untuk Indonesia

Di sini negeri kami, tempat padi terhampar. Samuderanya kaya raya, negeri kami subur, Tuhan. Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka. Anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja. Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar. Bunda relakan darah juang kami, ‘tuk membebaskan rakyat…

Lagu ‘Darah Juang’ di atas tampaknya tidak asing di kalangan aktivis mahasiswa. Bersama dengan ‘lagu-lagu perjuangan’ lain seperti ‘Berderap dan Melaju’, ‘Buruh Tani’ atau ‘Totalitas Perjuangan’, senandung ‘Darah Juang’ biasa menemani aksi mahasiswa yang acap kali penuh retorika. Keberpihakan mahasiswa terhadap rakyat ketika menggelar parlemen jalanan jelas tersurat dalam lirik lagu-lagu tersebut. Retorika kian terasa dalam mimbar dan podium demonstrasi, menguatkan asa rakyat jelata bahwa masih ada mahasiswa yang memperjuangkan nasib mereka. Pun baru sebatas retorika.

Dalam memperjuangkan  perbaikan bagi bangsa, tidak salah menggunakan retorika. Sebab retorika mampu menyalakan harapan, membakar semangat juang, sekaligus pengingat yang dapat memanaskan telinga para penguasa. Apalagi retorika yang penuh data. Namun tentu akan jadi ironi ketika perjuangan berhenti pada tataran retorika tanpa aksi. Sebatas memobilisasi massa tanpa berupaya menggerakkan masyarakat untuk lebih mandiri dan berdaya. Sekadar turun ke jalan tanpa coba turun tangan menyelesaikan masalah riil di lapangan. Hanya lelah berkoar-koar tanpa pernah merasakan kepayahan dalam berkontribusi nyata di tengah masyarakat.

Saat ini tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan gerakan mahasiswa, karena dinilai hanya sebatas retorika tanpa aksi nyata. Wacana mahasiswa yang kaya pembaharuan ibarat ada di menara gading, sementara permasalahan rakyat yang kompleks ada di dasar samudera. Terlampau terbentang jarak antara mahasiswa dengan masyarakatnya. Padahal Tri Dharma Perguruan Tinggi butir terakhir adalah pengabdian masyarakat yang menuntut aksi nyata. Tak salah Tan Malaka pernah mengingatkan, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia memang masih lebih asyik bermain dalam ranah kognitif teoritis, belum benar-benar mempertemukan mahasiswa dengan dunia paska kampus, termasuk realita masyarakat. Namun kesadaran mahasiswa dan pihak kampus untuk menebar kebermanfaatan ke tengah masyarakat saat ini semakin tinggi. Kampus dan organisasi kemahasiswaan mulai berlomba menjalankan program sosial kemasyarakatan. Di satu sisi, tuntutan akademis membuat mahasiswa kian apatis dan individualis. Di sisi lain, kompleksitas masalah justru mendorong banyak pihak berpartisipasi dalam mengurai permasalahan masyarakat.

Dan asa itu masih banyak tersisa, semangat mahasiswa masih bergelora, retorika akan segera dilengkapi dengan aksi nyata. Hipotesis bahwa mahasiswa hanya pandai bicara akan terbantahkan. Karena kenyataannya, banyak mahasiswa yang aktif berkarya di tengah masyarakat. Di berbagai wilayah nusantara, menjawab permasalahan masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Jumlahnya juga bukan cuma satu dua. Para mahasiswa ini bekerja untuk kepentingan rakyat Indonesia, bergerak bersama ‘tuk wujudkan cita mulia: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Kekuatan suatu bangsa terletak pada simpul terlemahnya. Kemiskinan adalah simpul terlemah bangsa ini, sehingga advokasi, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat marginal merupakan sebuah upaya strategis untuk melipatkangandakan kekuatan bangsa. Butuh pengorbanan dan tidak bisa sendirian memang, namun harus ada yang berani memulai. Rakyat yang sudah jemu akan janji palsu para pengampu kebijakan, banyak menggantungkan harapannya kepada para mahasiswa yang memiliki semangat, vitalitas, intelektualitas, sekaligus idealisme yang tinggi. Kelompok elit masyarakat yang senantiasa hadir membawa perubahan.

Bagaimanapun, pemuda hari ini adalah pemimpin bangsa di masa depan. Jika hari ini dunia pendidikan cuma memproduksi ‘robot-robot bernyawa’, masa depan bangsa akan jauh dari kreativitas dan berdaya. Jika hari ini kampus hanya menghasilkan sarjana yang pandai beretorika, kebangkitan bangsa Indonesia hanya akan berkutat dalam wacana. Namun ketika hari ini banyak sekumpulan pemuda yang peduli terhadap masyarakatnya, dan berkontribusi nyata dengan segenap cinta bagi bangsa dan negara, masa depan bangsa akan cerah dan berjaya. Menuju kegemilangan Indonesia yang dimulai hari ini, dari diri kita, untuk mulai menebar karya dan kontribusi nyata demi kemajuan bangsa.

Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!!!

*tulisan ini merupakan prakata dalam buku “Hak Rakyat Digasak, Mahasiswa Bergerak!” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Pijar Sang Pembelajar

“Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu. Ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia. Rataplah malam yang dingin. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki keadilan…” (Ost. Gie)

Sebut saja Anto, seorang aktivis mahasiswa kelas kakap yang tengah bimbang dengan masa depannya. Semangat berapi-apinya ketika di mimbar demonstrasi seolah tiada arti di hadapan dosen pembimbing akademisnya saat ini. Ia memandangi Kartu Rencana Studi (KRS)-nya yang masih menyisakan beberapa mata kuliah yang harus diselesaikan di semester akhir kuliahnya. Belum lagi skripsinya masih terbengkalai dan aktivitasnya di luar kelas membuatnya telat mengetahui informasi bahwa dosen pembimbing skripsinya sudah berangkat ke luar negeri selama beberapa bulan ke depan untuk menyelesaikan gelar PhD-nya. Ganti judul dan dosen pembimbing skripsi tentu butuh effort besar, belum lagi masih ada mata kuliah yang harus diulang. Ia bingung hendak meminta bantuan ke siapa, sementara teman-teman seangkatannya sudah lulus semua. Ia malu untuk bertemu orang tuanya yang selalu bertanya kapan dirinya diwisuda.

Lain halnya dengan Anti, mahasiswa tingkat akhir yang tengah mengurung diri di kamarnya. Belakangan ini kondisi fisiknya menurun, susah tidur dan kepalanya sering sakit. Kemungkinan dirinya tengah depresi berat. Orang tuanya tampak menyerah menghadapi anaknya yang tiba-tiba saja jadi sensitif dan malas beraktivitas. Sementara tidak ada temannya yang menjenguk dan menghiburnya. Sebelumnya, kuliahnya lancar sampai di semester-semester akhir semakin banyak tugas presentasi yang tidak disukainya. Anti mengalami kesulitan berbicara di depan kelas dan menjadi bahan olok-olok. Label ‘kutu buku gagu’ pun dilekatkan teman-temannya padanya. Puncaknya, ia ‘blank’ dalam seminar skripsi beberapa hari lalu. Presentasi yang sudah dipersiapkannya pun gagal total. Kegagalan yang harus dihadapinya sendirian.

* * *

Masa kuliah adalah masa yang penuh vitalitas, kaya akan impian dan idealisme yang didukung dengan kesegaran potensi jiwa, fisik dan akal. Masa kuliah adalah fase kehidupan yang penuh semangat dan dinamika, dimana mahasiswa merupakan golongan elit pemuda terpelajar yang memiliki potensi besar. Keberadaan mahasiswa dengan potensi keilmuannya sangat diharapkan dapat menjadi solusi bagi kompleksnya problematika bangsa. Mahasiswa juga kerap dipandang sebagai golongan penyalur aspirasi masyarakat yang solid dan massif. Belum lagi, jika melihat perjalanan sejarah, kumpulan pemuda penuh intelektual ini selalu menjadi yang terdepan dalam menggagas perubahan. Ya, di setiap titik perubahan besar dalam sejarah, pemuda selalu hadir memberikan kontribusinya. Menjadi pahlawan pada zamannya.

Pertanyaannya, potensi kepahlawanan tersebut dimiliki oleh mahasiswa seperti apa? Apakah mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang), kura-kura (kuliah rapat – kuliah rapat) atau bahkan mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring – kuliah nangkring)? Secara umum, ada empat domain prestasi yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa dan diseimbangkan. Pertama, domain spiritualitas yang menjadi pondasi dasar pemuda dalam berpikir dan bersikap. Kekuatan spiritual akan menjaga pemiliknya dari perilaku menyimpang, disorientasi dan berbagai energi negatif lainnya. Domain inilah yang akan membentuk karakter berkualitas dengan paradigma yang benar. Kedua, domain intelektual yang mengharuskan pemiliknya terus menjadi pembelajar seumur hidup. Mengisi hari dan hidupnya dengan ilmu yang bermanfaat dan mengaplikasikannya untuk kebermanfaatan yang luas. Sifatnya yang terus berkembang memungkinkan pemiliknya untuk terus menggali sumber ilmu kapanpun, dimanapun dan dari siapa (atau apa) pun. Ketiga, domain pengembangan diri yang akan melengkapi kapasitas intelektual. Penguasaan bahasa, keterampilan dan kepemimpinan, misalnya, akan melipatgandakan potensi yang dimiliki. Domain ini juga akan mendorong terciptanya kompetensi spesifik dan tajam. Keempat, domain sosial yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya. Kekuatan sosial ini jika dipenuhi dengan interaksi lingkungan yang positif akan membuat hidup lebih bermakna. Domain ini akan mengantarkan pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri.

Kasus Anto mencerminkan mahasiswa yang kuat di domain pengembangan diri dan sosial, namun lemah di domain intelektual. Ia pun akan tertinggal. Sementara Anti sebaliknya, fokus di domain intelektualnya melupakan domain spiritual, pengembangan diri dan sosialnya. Ia pun terpuruk. Menyeimbangkan keempat domain tersebut memang tidak mudah, namun mengabaikan salah satunya saja akan menghambat optimalisasi kualitas diri. Mahasiswa jenis kupu-kupu, kura-kura, ataupun kunang-kunang harus bertransformasi menjadi ’kutu kupret’ yang produktif: kuliah bermutu, kuliah berprestasi.

Kualitas dan produktivitas mahasiswa tidak hanya ditentukan di bangku kuliah, produktivitas juga tercermin dalam aktivitas organisasi, bahkan nangkring pun bisa produktif. Menjadi kontraproduktif jika jadi aktivis hanya sebagai pelarian karena gagal di akademis. Di sisi lain, kontribusi mahasiswa juga tidak dimonopoli mereka yang turun ke jalan atau terjun langsung ke masyarakat. Mahasiswa yang gemar dengan diskusi, mengikuti kajian, bahkan riset di laboratorium pun dapat berkontribusi ke masyarakat. Sebagaimana prestasi mahasiswa pun tidak melulu terkait akademik, keunggulan di ranah non-akademik pun dapat menjadi prestasi yang membanggakan.

Kesia-siaan dalam hidup biasanya diawali dari kesia-siaan dalam menjalani masa muda, yaitu dengan banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Padahal potensi yang dimiliki sebenarnya begitu besar, tidak akan habis jika hanya ‘sekadar’ mengikuti banyak kompetisi atau mencoba menorehkan banyak prestasi. Bahkan biasanya waktu akan lebih efektif di tangan mereka yang sibuk. Aktivis pembelajar akan mengoptimalkan waktunya dengan aktivitas bermanfaat. Sebaliknya, mahasiswa yang bermasalah justru banyak diisi mereka yang ’tidak jelas kerjaannya’.

Pengembangan kualitas diri ini akan terhenti ketika aktivis berhenti belajar. Tidak berani melakukan sesuatu yang baru. Stagnan. Karenanya, gelora kontribusi aktivis akan terus bergemuruh selama perbaikan diri terus dilakukan tak kenal henti. Pijar prestasi aktivis kan terus bersinar kala mereka terus belajar. Dan hanya para pembelajar sejati lah yang akan mampu menyeimbangkan domain prestasinya. Melahirkan pribadi-pribadi unggul yang siap melakukan perubahan besar yang akan menggoncangkan dunia. Dan jika bukan tidak mungkin pribadi unggul itu adalah kita, tak tergerakkah kita untuk mencoba mengoptimalkan potensi yang kita miliki? Tak tertarikkah kita untuk menjadi pahlawan pada zaman ini?

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Soekarno)

*tulisan ini merupakan kata pengantar bukuonline “Pijar-pijar Aktivis Pembelajar” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Mahasiswa Ada Kok, Gak Kemana-mana

Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu. Ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia. Rataplah malam yang dingin. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki keadilan…” (Ost. Gie)

Beberapa waktu lalu penulis sempat berbincang dengan sekumpulan mahasiswa dari berbagai universitas. Salah seorang mahasiswa ITB menyampaikan keresahannya tentang kepedulian mahasiswa yang terasa kian sulit untuk digugah. Penulis menanggapinya dengan mencoba memahami kondisi mahasiswa saat ini tanpa membandingkan dengan euphoria kondisi mahasiswa di masa lalu. Tantangannya berbeda. Pun penulis juga sampaikan bahwa kepedulian terwujud dalam aksi nyata, bukan sebatas keprihatinan dalam do’a. Karenanya bentuk kepedulian tidak melulu harus berupa aksi massa, walaupun tetap harus ada yang melakukannya. Yang penting harus ada keresahan yang kemudian menjelma menjadi gerak dalam aktivitas nyata. Yang menjadi masalah adalah ketika tidak merasa ada masalah, tidak peka terhadap problematika yang dihadapi bangsa ini.

Penulis jadi teringat sajak yang ditulis salah seorang senior saya di FTUI dan BEM UI beberapa saat lalu yang mempertanyakan kemana gerangan para pemuda. Tulisan serupa juga diungkapkan salah seorang aktivis alumni ITB yang sempat mendapat respon balik dari juniornya mahasiswa ITB. Tulisan-tulisan senada lainnya bisa di-googling, tidak perlu penulis sampaikan dalam tulisan ini. Intinya, memang terdapat perbedaan antara gerakan mahasiswa di masa lalu dengan dinamika mahasiswa saat ini. Ketika keresahan para alumni akan adik-adiknya yang dinilainya terjebak semakin hedonis dan individualis, tidak bertemu dengan pembelaan mahasiswa yang merasa biaya kuliah yang semakin tinggi dengan beban akademis yang semakin berat.

Alhasil, gerakan alumni kembali menggunakan almamaternya yang sejatinya merupakan bentuk kepedulian jadi terkesan aneh. Ekskalasi isu tanpa momentum yang tepat justru kurang mendapat tempat di hati masyarakat. Para alumni jadi terkesan sekedar post power syndrome, bahkan nuansa politis lebih terlihat dibandingkan gerakan moral intelektual, sementara mahasiswa kurang mendapatkan pendewasaan yang baik dalam membangun gerakan. Gerakan alumni ini selain mengangkat isu permasalahan bangsa juga memperlihatkan problematika yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini. Sayangnya, penyadaran yang dibangun belum didesain sempurna untuk menyelesaikan permasalahan.

Apatisme memang menjadi tantangan gerakan mahasiswa saat ini, tidak perlu ditutup-tutupi atau berusaha terus mencari pembenaran. Tidak perlu juga menyalahkan pihak eksternal, termasuk alumni yang sebenarnya juga punya andil. Kembali turunnya alumni sejatinya menunjukkan ada yang salah dengan kaderisasi gerakan mahasiswa. Biaya kuliah memang kian mahal tapi nyatanya parkiran kampus semakin penuh, mahasiswa semakin banyak yang memiliki barang mewah dan gemar menghabiskan waktu ke pusat perbelanjaan ataupun tempat makan kelas menengah ke atas. Beban akademis mungkin semakin tinggi, tetapi nilai dan kelulusan semakin mudah, teknologi informasi juga telah jauh berkembang. Masalahnya cuma di pengelolaan waktu yang lebih efektif dan efisien.

Jadi tidak perlu ditanya kemana mahasiswa, mereka ada, sibuk berkuliah di tengah sistem pendidikan yang mencetak robot. Mahasiswa ada dan tidak kemana-mana, sibuk dengan dirinya dan masa depan semunya. Sebagai kakak, alumni semestinya dapat berperan untuk mengenalkan mahasiswa pada dirinya, lingkungan masyarakatnya, bangsa dan negaranya, serta masa depannya. Bukan lantas mengambil alih peran mahasiswa ataupun mendikte mereka dengan solusi yang berbeda zaman. Permasalahan gerakan mahasiswa kontemporer haruslah diurai oleh mahasiswa itu sendiri, sebagai elemen bangsa yang cakap berpikir dan bertindak. Alumni bisa menjadi katalisator, tetapi bukan penentu sikap. Problematika akan terselesaikan ketika segenap elemen dapat berbuat sesuai peran, fungsi dan tanggung jawabnya.

Dunia pendidikan tinggi kita saat ini memang banyak melahirkan sarjana yang biasa dan luar biasa. Luar biasa dapat lulus cepat dengan indeks prestasi gemilang. Tetapi dunia kampus lupa untuk menghasilkan sarjana yang biasa di luar, mencermati perubahan zaman, berinteraksi dengan masyarakat, dan menjadi bagian dari solusi atas permasalahan bangsa. Tri Dharma perguruan tinggi seolah berhenti di tataran pendidikan dan penelitian, meninggalkan sisi pengabdian masyarakat. Segenap pemangku kepentingan perlu kembali diingatkan bahwa mahasiswa masih menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat Indonesia. Mahasiswa adalah elemen strategis bangsa yang mampu membawa perubahan baik secara vertikal maupun horizontal. Beban berat yang tidak banyak disadari para mahasiswa.

Mahasiswa perlu didukung untuk menjawab tantangan gerakan mahasiswa di zamannya. Pertanyaan ‘dimana mahasiswa’ tampak tidak berbeda dengan pertanyaan ‘kapan menikah’ atau ‘kapan punya anak’. Alih-alih memotivasi, justru bisa mengerdilkan. Tidak solutif. Jangan-jangan mahasiswa saat ini hanya mewarisi ‘pesta, buku, dan cinta’ dari para seniornya, bukan idealisme perjuangan. Sekarang pertanyaannya adalah ‘bagaimana mahasiswa akan mengambil sikap’, mandiri dan independen dalam mengatasi permasalahan mereka serta permasalahan bangsa dan Negara. Di tengah arus apatisme yang kian merebak, penulis optimis masih ada mahasiswa-mahasiswa ‘setengah dewa’ yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dan terus berkontribusi melakukan perbaikan. Di ruang kuliah, di organisasi, di tengah masyarakat, dimanapun mereka berkata. Penulis yakin setiap zaman ada pahlawannya, dan masih ada pahlawan mahasiswa di zaman ini. Mahasiswa peduli bukan utopis. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih. ‘Tuk kebenaran dan keadilan, menjunjung totalitas perjuangan. Seluruh rakyat dan mahasiswa, bersatu padu bergerak bersama. Berbekal moral intelektual, selamatkan Indonesia tercinta…