Tag Archives: bersyukur

Mencari Kebahagiaan

Untuk apa kau mengejar kemewahan? Apakah kau mencari kebahagian? Mengapa kau berduka ketika kegagalan? Apa kau tak terima takdir dari Tuhan? Mencari kekayaan, temui kegagalan. Ingin bahagia, terima kedukaan. Kekayaan tak menjanjikan kebahagian, adakala ia membawa kedukaan. Bersyukurlah dengan apa yang ada, itulah kunci kebahagian sebenarnya. Perlukan keimanan jua ketaqwaan, agar bahagia dunia akhirat. Berusahalah untuk berjaya, bersyukur dengan apa yang ada. Jika kau gagal tak perlu kecewa, itukan takdir dari Tuhan…” (‘Mencari Kebahagiaan”, Brothers)

Dimana kebahagiaan harus dicari? Bagaimana cara mendapatkannya? Ada dua kisah tentang pemuda yang mencoba mencari jawaban atas dua pertanyaan pertanyaan tersebut dan bertemu dengan orang bijak yang memberi mereka jawaban. Pada kisah pertama, orang bijak menyuruh pemuda tersebut pergi ke taman dan menangkap seekor kupu-kupu. Pemuda itu bergegas ke taman dan mulai mengejar kupu-kupu. Berlari kesana kemari, menerjang rerumputan, tanaman bunga, dan semak belukar, namun tak berhasil jua menangkap kupu-kupu. Orang bijak itupun menghentikan pemuda tersebut seraya berujar, ”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari dan menerjang tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak? Mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisiknya, biarkan ia memenuhi alam semesta ini sesuai fungsinya. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik dalam hatimu. Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan di suatu tempat. Ia tidak ke mana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah sebaik-baiknya, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri.

Pada kisah kedua, orang bijak memberikan sebuah sendok kemudian menuangkan tinta di atasnya. Orang bijak tersebut meminta sang pemuda untuk mengelilingi rumahnya yang besar sambil menjaga tinta di atas sendok tersebut agar tidak tumpah. Setelah sekian waktu, pemuda tersebut berhasil mengelilingi rumah besar itu tanpa menumpahkan tinta. Namun ia gelagapan ketika ditanya tuan rumah mengenai koleksi lukisan di lorong yang menurutnya paling indah, atau kucing peliharaan yang menurutnya paling cantik, atau bahkan jumlah kamar yang dilewatinya. Orang bijak tersebut akhirnya berkata, “Nak, sadarilah bahwa banyak orang yang tidak bisa menemukan bahagia karena terlalu fokus pada masalah yang dihadapinya. Mereka seperti kesulitan mencari-cari kebahagiaan, padahal bahagia itu sederhana, ada di mana-mana, di sekitarnya, dekat dengan dirinya. Sama seperti apa yang terjadi pada dirimu selama berkeliling rumah ini. Padahal ada banyak hal yang bisa engkau nikmati di sekitar, tapi kenyataannya engkau bahkan tak menyadari ada apa saja di sekitarmu.

Pesan dari dua kisah berbeda itu sama. Bahwa kebahagian itu sejatinya ada melingkupi setiap manusia, tak perlu dicari dan dikejar sedemikian rupa, cukup dimunculkan dengan rasa syukur dan kelapangan dada. Itulah mengapa banyak orang bahagia yang hidup sederhana, sementara tidak sedikit mereka yang berlimpah harta dan tahta namun tak merasa bahagia. Sebuah penelitian dari Kim dan Maglio (2018) mendapati bahwa menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir justru akan membuat seseorang tidak bahagia. Semakin dikejar semakin terasa jauh, dan waktupun semakin terasa tidak cukup. Agar lebih berbahagia, Kim dan Maglio menyarankan untuk lebih memfokuskan pada apa yang dimiliki saat ini dan mengurangi memikirkan ketercapaian tujuan akhir. Sederhananya, perbanyak bersyukur.

Tidak sedikit pula orang yang tertipu dengan kebahagiaan semu. Kebahagiaan sesaat. Ada sebuah studi yang membagi beberapa mahasiswa dalam dua grup. Grup pertama harus melakukan aktifitas yang terasosiasi dengan kebahagiaan, sementara grup kedua membuat kegiatan yang memberikan arti hidup. Para mahasiswa di grup pertama menghabiskan waktunya untuk aktivitas semacam bermain game, makan enak, atau hahahihi dengan teman-teman. Sementara mahasiswa grup kedua melakukan aktifitas seperti belajar, menolong orang, ataupun memaafkan teman. Hasilnya? Awalnya, grup pertama terlihat bahagia di saat grup kedua terlihat berjuang untuk melakukan aktifitasnya. Namun beberapa bulan kemudian, grup pertama terdeteksi mengalami penurunan mood ketika grup kedua berkata mereka jauh lebih merasa puas, tercerahkan dan emosi positif lainnya.

* * *

Seekor kelinci kecil ingin menyelidiki apa sebenarnya yang disebut dengan kebahagiaan. Pada suatu hari, ia keluar sendirian dari sarangnya untuk pergi mencari jawaban. Ketika bertemu singa, ia bertanya, “Apa arti kebahagiaan bagimu?”. Singa berkata, “Kebahagiaan ialah semua anggota keluarga selalu berada di samping kita”. Ketika bertemu harimau, ia juga bertanya, “Apa arti kebahagiaan bagimu?”. Harimau menjawab, “Kebahagiaan ialah orang yang kamu cintai juga mencintai dirimu”. Setelah mendengar itu, kelinci melompat pulang ke rumahnya kemudian bergegas memberitahukan semua jawaban yang didengarnya kepada ibunya. Saat ia selesai bercerita, sang ibu justru berkata, “Padahal hari ini kamu sudah sangat bahagia”. Kelinci itu bertanya, “Mengapa?”. Ibunya berkata, “Karena kamu tidak diterkam oleh mereka dan bisa kembali dengan selamat”.

Bahagia itu sederhana. Tak perlu banyak definisi, cukup dirasakan. Tak perlu diburu dan dicari, cukup ditumbuhkan. Mari kita berbahagia!

The foolish man seeks happiness in the distance; the wise grows it under his feet” (James Oppenheim)

Ngaku Aja Deh! (Seri: Sekolah)

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah” (‘Kisah Kasih di Sekolah’, Obbie Messakh)

Masa sekolah kerap dianggap sebagai masa yang paling berkesan, banyak kenangan yang begitu lekat tak terlupakan. Berbeda dengan masa kuliah apalagi ketika di dunia kerja, yang penuh dengan beban bahkan tidak jarang ada berbagai intrik dan kepentingan sehingga terasa kurang menyenangkan. Uniknya, disadari atau tidak, ada berbagai kenangan masa sekolah yang sebenarnya bukan milik pribadi, tapi banyak orang yang mengalaminya. Tidak percaya? Ayo kita coba!

# Anda lebih sering mengerjakan Pekerjaan RUMAH di sekolah
# Anda pernah menjadi korban razia (rambut, kuku, rok, dsb) yang diadakan di sekolah
# Anda punya teman yang sebelum ulangan bilang “ga belajar” tapi nilai ulangannya selalu bagus
# Anda merasa sangat gembira ketika tiba-tiba dapat pengumuman ada rapat guru dadakan
# Anda pernah mengoleskan kotoran hidung (upil atau ingus) atau sisa permen karet di bawah meja sekolah
# Anda jauh lebih suka guru telat masuk kelas daripada guru telat keluar padahal jam pelajaran sudah habis
# Anda masih merasakan sistem belajar catur wulan, liburan sekolah setiap empat bulan
# Anda pertama kali merasakan ketertarikan (jatuh hati) dengan lawan jenis
# Anda punya guru killer yang galak dan ditakuti, dan terkesan di hati hingga saat ini
# Anda pernah coba menghapal gerakan senam kesegaran jasmani
# Anda masih ingat guru kelas 6 SD, pun belum tentu tahu bagaimana keberadaan beliau saat ini
# Anda masih merasakan pelajaran khas orde baru berjudul : Pendidikan Moral Pancasila
# Anda punya guru yang menegur dengan berkata, “Kalau kamu mau ngobrol, silakan bicara di depan!”
# Selain lagu wajib nasional “Indonesia Raya”, Anda juga hapal lagu “Mengheningkan Cipta”
# Anda dan teman-teman memulai kegiatan belajar mengajar dengan mengucapkan salam ke guru
# Hingga sekarang, Anda masih ingat cinta pertama Anda ketika masa sekolah
# Selain Pancasila, Anda bahkan nyaris hapal teks Pembukaan UUD 1945 yang panjang itu
# Anda punya guru yang mengakhiri penjelasannya dengan berkata, “Ada pertanyaan? Kalau tidak, Bapak/ Ibu yang nanya”
# Anda punya teman satu sekolah yang pernah pingsan ketika upacara bendera
# Anda pernah membolos, atau setidaknya telat datang ke kelas atau sekolah
# Anda lebih sering menyebut “teman semeja” sebagai “teman sebangku” dan masih ingat dengannya hingga sekarang
# Anda pertama kali mengenal alat canggih yang bernama komputer dan disket
# Anda pernah bercanda dengan teman yang berakhir menjadi perkelahian atau permusuhan
# Anda rutin bersih-bersih atas nama piket kelas, kebiasaan baik yang tidak lagi dilakukan di kampus ataupun kantor
# Anda pernah jajan es mambo dan bakso cilok
# Anda pernah menggunakan “Sepatu Warrior” yang berwarna hitam putih
# Perasaan Anda ke guru sangat menentukan suka tidaknya Anda dengan pelajaran yang diajar guru tersebut
# Anda pernah memperoleh nilai jelek dan menyembunyikannya dari pengetahuan orang tua
# Bagian belakang buku tulis Anda diisi dengan hitung-hitungan, gambar dan coret-coretan lainnya
# Meja tulis Anda tidak dapat ditukar karena Anda mengenalinya, baik bentuk maupun coret-coretannya
# Anda mengusir kejenuhan saat guru mengajar di kelas dengan melakukan permainan kertas bersama teman Anda
# Anda pernah merasa ilfil dengan teman yang kelihatan sekali sedang cari perhatian orang yang disukainya
# Anda punya teman yang tulisan tangannya nyaris tidak dapat dibaca
# Anda pernah dapat tugas kelompok, namun yang mengerjakan hanya satu dua orang atau malah sendiri-sendiri

Sebenarnya masih banyak keisengan dan kejahilan lain yang menyertai kisah tak terlupakan di sekolah, beberapa di antaranya bahkan memalukan ataupun tidak mendidik. Namun tulisan ini didedikasikan untuk meningkatkan rasa syukur kita, bukan untuk mempermalukan. Jika Anda pernah merasakan sebagian besar pernyataan yang saya ungkapkan di atas, berbahagialah dan bersyukurlah, karena Anda lebih beruntung dari jutaan anak Indonesia yang tidak mampu bersekolah. Jika Anda tersenyum dan mengenang kembali masa-masa tak terlupakan di sekolah, bersyukurlah, karena banyak anak Indonesia yang kehilangan masa kanak-kanaknya ataupun masa kecilnya terlalu suram untuk diingat. Semoga saja masa-masa sekolah anak-anak saat ini juga penuh keceriaan hingga nantinya menjadi nostalgia yang indah. Tidak penuh beban, penuh kebencian, penuh ego, penuh amarah, penuh kebodohan, ataupun penuh dosa dan kecurangan yang menyebabkannya kehilangan kebahagiaan dan keberkahan.

“ …Ini adalah sebuah cerita anak sekolahan di kota metropolitan. Yang penuh dengan cobaan dan godaan dari berbagai aral melintang. You go to school everyday, but you don’t study hard and chatting when the class going on. Always cheating on the test by asking the answer or make many hidden small notes. What you gonna be? What you gonna be?…” (‘Go To School’, Snada)

Bocah Misterius

Akhir pekan kemarin ternyata sangat padat sehingga tidak sempat membuat tulisan baru walaupun gagasan di kepala sangat banyak. Untuk inspirasi awal pekan ini saya coba share tulisan Ust. Yusuf Mansur dalam buku ‘Wisata Hati’ yang terkait dengan aktivitas kita di bulan Ramadhan ini. Semoga bermanfaat…

* * *

Bocah itu menjadi pembicaraan di kampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja di atasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat di plastik es tersebut. Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi di tengah hari pada bulan puasa Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari di kampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap ba’da zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma, ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah…” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

Maaf ya, itu karena kamu melakukannya di bulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu…”. Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. “Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?!”

Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan, kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fitri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan, sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan, kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami! Tuan, sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan, sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan, jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…

Wuahh… entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada di pikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Selamat menjalankan ibadah puasa…

Roda Kehidupan

“…Roda kehidupan dunia berputar, mewarnai nasib manusia, suka dan terkadang duka. Dalam kehidupan dunia, tiada insan yang bebas dari cobaan. Baik bagi si miskin ataupun yang kaya, baik bagi jelata atau yang berjaya. Lain orang lain ujian, itulah keadilan Tuhan” (‘Roda Kehidupan’, Rhoma Irama)

* * *

Kehidupan bagaikan roda, beribu zaman terus berputar…”, begitu penggalan lirik nasyid ‘Untukmu Syuhada’nya Izzatul Islam. Kita tentu mafhum, suka dan duka, tangis dan tawa silih berganti mewarnai kehidupan. Periodenya tentu saja tidak sesaklak putaran roda. Ada kalanya kebahagian cukup lama dirasakan, atau ada juga yang hidupnya banyak dihabiskan dalam kesengsaraan. Analogi roda –kadang ada di atas, kadang ada di bawah– nampaknya cukup menarik untuk dikaji, apalagi setiap hari yang namanya roda begitu mudah kita jumpai.

Roda dipercaya sebagai salah satu penemuan terbesar manusia yang sangat bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan. Desain roda terus berkembang sejak zaman Mesopotamia pada tahun 3000 SM hingga saat ini. Ada beberapa bagian penting dari roda, diantaranya velg yang menjaga bentuk roda, menghubungkannya dengan poros tempatnya bisa berputar sekaligus memperindah roda. Untuk roda berisi udara, ada karet untuk mengurangi guncangan dan ada pula bagian bernama pentil yang berfungsi menjaga agar dalam keadaan normal roda hanya bisa dilalui udara dengan satu arah, yaitu masuk ke dalam roda, tidak keluar. Tulisan ini tidak akan detail membahas bagian roda, namun lebih mendalam mengupas hikmah di balik idiom ‘roda kehidupan’.

Jika kita cermati fungsi roda untuk memudahkan pergerakan, maka kita akan mendapati posisi roda akan selalu ada di bagian bawah kendaraan. Artinya, ketika roda sedang berada di atas pun, masih ada posisi yang lebih tinggi, atap kendaraan bahkan badan kendaraan itu sendiri. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk tidak sombong. Ketika posisi kita sedang di atas, kita harus menyadari bahwa masih ada yang lebih atas lagi sehingga kita tidak layak merendahkan yang ada di bawah. “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra’ : 37)

Di sisi lain, roda berputar di atas jalan, ada alas berupa tanah, aspal dan sebagainya yang dipijaknya. Artinya, ketika roda sedang berada di bawah pun, masih ada posisi yang lebih rendah, yang bahkan tergilas dan terlindas oleh roda tersebut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk bersyukur. Ketika posisi kita sedang di bawah sekalipun, kita harus menyadari bahwa masih ada yang tidak seberuntung kita. Banyak hal yang lebih layak untuk disyukuri, bukan dikeluhkan. Rasa syukur itu yang akan membawa kita pada posisi yang lebih tinggi tanpa harus tinggi hati. “Lihatlah orang yang lebih bawah daripada kamu, jangan melihat orang yang tinggi daripada kamu, karena dengan demikian kamu tidak akan lupa segala nikmat Allah kepadamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam realitanya, ada orang yang terus diliputi kebahagiaan, berlimpah harta beberapa generasi dan sebaliknya, ada juga yang terus menderita, miskin turun temurun. Bagaimana ‘roda kehidupan’ mampu menjelaskan hal ini? Perhatikan putaran roda pesawat ketika di darat dan di udara. Ketika di darat, setinggi – tingginya putaran roda pesawat, tidak akan lebih tinggi dari roda mobil yang ada di pegunungan, apalagi bandara biasanya ada di dataran rendah dekat pantai. Sebaliknya, serendah – rendahnya roda pesawat di udara, tidak akan lebih rendah dari roda motor yang ada di darat. Artinya, wilayah beroperasinya roda akan menentukan tinggi – rendahnya posisi roda di atas permukaan laut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk berikhtiar. Jika kita tidak berusaha membawa ‘kendaraan’ kita ke tempat yang lebih tinggi, putaran roda kehidupan setinggi apapun tidak akan mengangkat kita dari tempat yang rendah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS. Ar Ra’du : 11)

Kehidupan bagaikan roda pedati, sesekali di atas, kadang – kadang di bawah. Naik turun dalam menjalani kehidupan sudah menjadi keniscayaan, tinggal bagaimana kita bijak menyikapinya. Tidak sombong ketika ada di atas, tetap bersyukur ketika ada di bawah dan terus berupaya memperbaiki kehidupan sehingga putaran roda kita semakin tinggi. Membawa roda ke tempat lebih tinggi memang tidak mudah dan butuh energi lebih, apalagi dibandingkan membawanya turun, namun pemandangan di atas sana lebih indah, banyak hikmah selama perjalanan dan roda kehidupan kitapun akan semakin kuat.

* * *

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” (Pramoedya Ananta Noer)

Menyebut Nikmat, Percaya Diri dan Sombong

Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, berarti tidak bisa mensyukuri yang banyak. Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah. Sesungguhnya menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur dan meninggalkannya adalah kufur. Bersatu akan membawa rahmat dan bercerai-berai akan mendatangkan adzab” (HR Ahmad)

* * *

Akhir pekan lalu saya berkesempatan bertemu dengan Ahmad Fuadi, penulis buku ‘Negeri 5 Menara’. Ia sempat memperlihatkan kisah perjalannya ke 30 negara, sangat inspiratif. Dalam beberapa kesempatan, ia menyampaikan bahwa pemutaran film tersebut merupakan tahadduts binni’mah (menyebut nikmat) semoga dapat memotivasi, sama sekali tidak diniatkan untuk riya’ ataupun takabur. Beberapa hari yang lalu saya menerima SMS dari salah seorang etoser yang mengabarkan bahwa ia baru saja lolos seleksi pertukaran pemuda ke Jepang. Beberapa hari sebelumnya ia juga mengabarkan bahwa ia baru saja terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama se-Sulawesi Selatan dan mohon do’a untuk pemilihan mahasiswa berprestasi nasional. Menariknya, selain selalu didahului dengan salam dan hamdalah, dalam SMS-SMS tersebut berulang kali ia berterima kasih (padahal saya tidak membantu apa – apa) dan mohon maaf atas segala kesalahan (padahal ia tidak salah apa – apa). Sama sekali tidak terlihat adanya kebanggaan telah meraih prestasi yang mungkin hanya dapat diraih oleh segelintir orang.

* * *

Tahadduts binni’mah adalah istilah untuk menggambarkan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diraihnya sehingga ia perlu menceritakan atau memberitahukannya kepada orang lain sebagai implementasi rasa syukur yang mendalam. Perintah untuk menyebut nikmat ini terdapat pada akhir surah Adh Dhuha “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” yang oleh banyak ulama tafsir dipahami sebagai menyiarkan segala jenis kenikmatan sebagai salah satu perwujudan syukur. Mayoritas ulama salaf menganjurkan untuk menyebut nikmat termasuk memberitahukan kebaikan yang dilakukan jika ia mampu menghindarkan diri dari sifat riya’, ujub dan tidak memunculkan kedengkian serta agar dapat dijadikan contoh oleh orang lain. Namun jika dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang tidak baik, maka menyembunyikan nikmat bukan termasuk sikap kufur nikmat. Hasan al Bashripun pernah berpesan, “Perbanyaklah oleh kalian menyebut-nyebut nikmat, karena sesungguhnya menyebut-nyebutnya sama dengan mensyukurinya.”

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian lusuh, kumal dan berpenampilan memprihatinkan. Melihat keadaan demikian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Maka Rasulullah berpesan, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.” (HR. Baihaqi). Ungkapan syukur dengan menyebut nikmat, erat kaitannya dengan kepercayaan diri seseorang. Orang yang percaya diri akan lebih mudah untuk menceritakan kebahagiaan dan kenikmatan yang dirasakannya kepada orang lain sehingga semakin meningkatkan rasa percaya dirinya sekaligus menginspirasi orang lain. Lalu apa bedanya dengan narsis dan sombong?

Kepercayaan diri lebih menekankan pada keyakinan atas kemampuan dan penilaian diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif, termasuk kepercayaan atas kemampuannya menghadapi lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas keputusan atau pendapatnya. Sedangkan sombong menurut KBBI adalah menghargai diri secara berlebihan yang bersinonim dengan congkak (merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia (pandai, kaya, dsb)) dan angkuh (sifat suka memandang rendah kepada orang lain). Sombong, biasa disebut juga tinggi hati yang merupakan lawan dari rendah hati, berbeda dengan percaya diri yang identik kebalikan dari rendah diri (dalam konteks kepada makhluk, bukan khalik tentunya).

Sombong dalam definisi Rasulullah SAW adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran (HR. Muslim dan Turmidzi). Dan jika menilik dari beberapa dalil, diantaranya “Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” (QS. An Naml : 31) atau “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri, sehingga tidak ada seorang pun menganiaya orang lain dan tidak ada yang bersikap sombong terhadap orang lain.” (HR. Muslim) maka jelas terlihat bahwa sombong identik dengan membandingkan atau bersifat komparatif. Narsis adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan dan merupakan salah satu bentuk kesombongan. Spencer A Rathus dan Jeffrey S. Nevid menyebutkan dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000) bahwa orang yang narsis memandang dirinya secara berlebihan, gemar menyombongkan diri dan berharap orang lain memberikan pujian, senang menunjukkan kelebihannya dan khawatir jika kekurangannya diketahui orang lain. Karenanya menyebut nikmat yang sejatinya meninggikan Sang Pemberi Nikmat tidak sama dengan sombong. Karenanya percaya diri yang esensinya meyakini bahwa dirinya memiliki potensi yang diberikan oleh Allah dengan tetap mengakui potensi yang pasti juga dimiliki orang lain berbeda dengan angkuh.

Menyebut nikmat sebagai bentuk dari rasa syukur akan melipatgandakan nikmat dan meningkatkan kepercayaan diri namun tetap rendah hati karena menyadari bahwa segala nikmat termasuk semua kelebihan diri adalah pemberian Allah yang pada hakikatnya adalah kecil di hadapan Allah. Rasa syukur yang mendalam akan meningkatkan kepercayaan diri karena syukur dibuktikan dengan mengoptimalkan segala nikmat yang telah Allah berikan, termasuk memiliki impian yang tinggi dan memiliki keyakinan kuat untuk dapat meraihnya. Syukur nikmatpun akan lebih teruji ketika kita berani melangkah, berani bertanggung jawab, berani mengambil resiko dan berani mengambil keputusan. Dan itulah kepercayaan diri yang energi positifnya dapat menular ke orang lain, diantaranya dengan men-sharenya kepada orang lain.

Pun demikian kita perlu berhati – hati karena menyebut nikmat tidak semata – mata urusan lisan, tetapi juga urusan hati. Dan ujian terhadap hati seringkali halus sekali. Ketika kepercayaan diri menggiring yang bersangkutan untuk membicarakan kejelekan orang lain atau tidak menghargai (karya) orang lain dan tidak mau diingatkan (menerima kebenaran) maka sangat dimungkinkan akan terjerumus pada sikap sombong. Kemudian jika seseorang yang menyebut nikmat atau memiliki kepercayaan diri yang tinggi memposisikan dirinya sebagai objek, merisaukan penilaian orang lain dan terjebak pada hal fisik, maka yang bersangkutan sangat rentan tergolong orang yang narsis. Dan akhirnya, jika sudah berbicara hati memang menjadi urusan pribadi seorang hamba dengan Rabb-nya. Kita hanya dapat berupaya untuk meningkatkan syukur kita, mengoptimalkan potensi kita, terbuka terhadap kebenaran, berskap rendah hati dan menyadari bahwa segala kelebihan yang diberikan Allah adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan, bukan untuk dibanggakan.

* * *

Ada tiga perkara yang membinasakan yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri” (HR. Ath-Thabrani)

Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Sejatinya pengingatan untuk diri sendiri… T_T

Berkah Ramadhan

“Bukanlah puasa itu puasa dari makan dan minum, sesungguhnya puasa itu adalah puasa dari perbuatan sia-sia dan keji…” (Hadits riwayat Ibnu Huzaimah dan Hakim dengan sanad shahih)

Dikisahkan di sebuah pondok kecil pada suatu bulan Ramadhan, tersebutlah seorang santri yang mendatangi ustadznya untuk mendapatkan bimbingan. Santri ini walau belum lama tinggal di pondok dikenal aktif untuk memperdalam ilmu agama. Sesampainya ia menemui ustadznya, ia bertanya, “Ustadz, bagaimana caranya agar aku dapat merasakan berkah di bulan Ramadhan ini?” Seraya tersenyum, Sang Ustadz menjawab, “Pergilah ke desa seberang, carilah seorang pengemis yang ada di ujung jalan, tanyalah padanya.

Bergegas, santri tersebut pergi ke desa seberang. Setelah berjalan cukup jauh, didapatinya seorang pengemis di ujung jalan. Tubuhnya kurus kering dengan pakaian yang terlihat lusuh, tampaknya ia telah berhari-hari memakai pakaian tersebut di jalan yang penuh debu ini. Santri tersebut kemudian mendekati pengemis itu kemudian menceritakan ‘petunjuk’ dari gurunya. Setelah itu ia bertanya, “Lalu, bagaimana caraku untuk merasakan berkah Ramadhan itu?” Singkat, pengemis itu menjawab. “Carilah jawabannya di rumah Allah.” Santri tersebut langsung berpikir bahwa rumah Allah yang dimaksud adalah masjid, namun ia tidak tahu bagaimana ia dapat menemukan masjid di desa ini, kemudian ia kembali bertanya, “Lalu, dimanakah aku dapat menemukan rumah Allah?” Dengan agak enggan, pengemis itu berkata, “Pergilah ke desa seberang, carilah seorang pengemis yang ada di pasar, tanyalah padanya.”

Santri tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke desa seberang yang jaraknya cukup jauh. Setelah bertanya kesana kemari, didapatilah sebuah pasar tradisional yang kumuh. Di sudut pasar, dilihatnya seorang pengemis yang kondisinya lebih memprihatinkan dari pengemis sebelumnya. Pakaiannya compang camping dan tubuhnya banyak dikerumuni lalat. Belum lagi lengan kirinya ternyata hanya sampai siku. Kakinya pun tampak kurus penuh koreng yang mulai mengering. Kelihatannya ia tinggal di pasar ini, terlihat dari beberapa helai kardus bekas dan sebuah buntalan lusuh yang ada di samping tubuhnya. Setelah memastikan tidak ada pengemis lain, santri itu kemudian mendekat, menceritakan perjalanannya dan menutupnya dengan pertanyaan, “Dimana aku bisa mendapati rumah Allah?“. Dengan tatapan nanar, pengemis tersebut menjawab, “Lanjutkan perjalananmu ke desa seberang, carilah seorang pengemis yang tinggal di bawah pohon besar, tanyalah padanya.”

Kembali, santri tersebut melanjutkan perjalanan. Matahari terasa semakin menyengat, desa seberang yang dimaksud ternyata sangat tandus. Dari kejauhan, terlihat sebuah pohon besar yang kering, daunnya banyak berguguran. Dalam terik panas, santri tersebut melihat seorang ibu tua bersama anak-anaknya di bawah pohon besar. Santri tersebut mendekat. Sang Ibu nampaknya sedang menanak nasi yang tampak tidak bersih. Disampingnya, beralaskan tikar nampak seorang anak kecil yang pucat wajahnya dengan tubuhnya yang menggigil. Kemudian, terdengar tangisan bayi yang ditaruh di dekat akar pohon. Sang ibu segera beranjak menuju bayinya, langkahnya sejenak terhenti ketika tubuh lemahnya tak sengaja menyenggol panci nasi yang nampak usang sehingga membuatnya terjatuh dan menumpahkan sebagian isinya. Sambil menahan tangis, ibu itu menenangkan bayinya seraya kembali menaruh nasi yang masih tersisa ke atas kompor minyak. Di dekatnya ada seorang anak, yang nampaknya paling besar, yang hanya duduk memandangi sekitarnya. Dari perilakunya, nampaknya anak tersebut mengalami keterbelakangan mental.

Santri tersebut tertegun, kemudian dengan mata berkaca-kaca ia memberanikan diri untuk menyatakan maksudnya kepada sang Ibu, “Maaf Bu, apa Ibu tahu dimana aku bisa mendapati rumah Allah?“. Sang Ibu hanya terdiam dan menyibukkan diri dengan masakan dan ketiga orang anaknya. Santri itu mulai putus asa hingga sang Ibu tiba-tiba bertanya, “Apakah kau kesini atas petunjuk pengemis pasar di desa seberang?“. Sambil menyeka air mata yang tak sadar mulai mengalir, santri itu segera meng-iyakan. Tanpa menoleh, Ibu tersebut kembali bertanya, “Lalu, apakah yang sudah kau berikan untuknya?” Sang santri tergugu, “Aku tidak memberikan apa-apa” dan selanjutnya hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Ibu tersebutpun kembali diam dan melanjutkan pekerjaannya. Dengan tangan hampa, santri itu kemudian kembali ke pondok dan menceritakan semuanya kepada ustadznya.

* * *

Saudaraku, sesungguhnya berkah Ramadhan itu begitu dekat untuk dapat kita rasakan. Lihatlah di sekeliling kita, bersyukurlah, dan berkah itu akan terhampar. Berkah itu ada bukan karena dicari, tapi karena dilakukan. Berkah itu akan kita dapat bukan karena diberikan, tapi karena kita berbuat. Ya, berbuat…

Saudaraku, seringkali kita disibukkan dengan aktivitas mencari, bermimpi dan mengharapkan Allah melimpahkan begitu saja kebaikan kepada kita. Tapi sering kita lupa untuk bersyukur, peduli dan memulai segala pencarian, impian dan harapan dengan amal nyata. Kita akan memperoleh apa yang kita dambakan dengan berbuat. Carilah kebenaran dengan melakukan kebenaran, raih kebaikan dengan melakukan kebaikan, gapai cinta Allah dengan mencintai-Nya…

Dan saudaraku, sesungguhnya berkah Ramadhan itu hanya akan benar-benar dapat kita rasakan kelak ketika kita telah menginjakkan kaki di rumah yang telah Allah janjikan bagi mereka yang berbuat baik dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, rumah di Jannah-Nya. Rumah yang hanya diperoleh dengan kerja keras penuh kesungguhan & keikhlashan…
Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Inspired from my mentee