Tag Archives: budaya plagiat

Formalitas Pendidikan Tinggi, pendidikan tinggi formalitas

“Sekolahlah biasa saja, jangan pintar-pintar, percuma! Latihlah bibirmu agar pandai bekicau, sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu. Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel, peduli titel diktat atau titel mukjizat. Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi, agar mudah bergaul tentu banyak relasi”
(‘Nak (2)’, Iwan Fals)

Udah selesai Pak, PhD-nya?”, tanya seorang dosen dari Negeri Jiran saat break usai aku mempresentasikan penelitianku di Hotel Fort Canning, Singapura medio Agustus lalu. Untuk mempersingkat pembahasan, sambil tersenyum aku pun menjawab, “Belum”. “Hehehe, jangankan gelar doktoral, gelar master aja belum”, batinku. Forum presentasi riset internasional memang banyak diikuti oleh dosen dan cukup efektif untuk menambah ‘kum’ mereka. Sayangnya, forum yang mempertemukan banyak peneliti dan akademisi ini biasanya kurang dinamis. Karakter peneliti dan akademisi yang umumnya pendiam mungkin satu hal, tetapi kecintaan akan ilmu pengetahuan yang menggugah rasa ingin tahu, tidak hanya sibuk dengan diri sendiri, adalah hal yang lain.

Dunia pendidikan kita penuh dengan formalitas. Bukan hanya skripsi atau tesis ‘yang penting jadi’, bahkan dunia penelitianpun jadi ‘yang penting presentasi’ dan ‘masuk publikasi internasional’. Tidak bermaksud menggeneralisir, tapi setidaknya hal tersebut yang kurasakan dalam konferensi tersebut. Ada yang mengangkat judul “Education Nowadays” dari hasil meneliti dua desa dengan masing-masing 30 responden, ada yang instrumennya hanya kembali 21% dan cenderung homogen, ada yang penelitiannya selevel skripsi, bahkan ada yang presentasi dengan membacakan power point copy paste dari makalah dengan terbata-bata seolah tak memahami apa yang ditulis. Penelitianku mungkin juga tidak istimewa, namun setidaknya aku memahami benar apa yang kusampaikan, umpan balik dari peserta pun cukup baik.

Teringat olehku cerita seorang teman yang urung pergi presentasi riset ke Eropa karena penelitiannya ‘dibajak’ dosennya. Realitanya tentu tidak cuma satu dua kasus. Jika yang dilakukan sebatas membacakan paper, siapapun bisa melakukannya, tidak harus si pembuat paper, dan artinya siapapun berhak atas selembar sertifikat bukti telah menghadiri dan mempresentasikan riset skala internasional. Penelitian formalitas berbuah sertifikat formalitas yang berguna untuk kenaikan pangkat formalitas. Tidak perlu lagi ditanyakan kebermanfaatan dari penelitian yang dilakukan.

Sekolah, apalagi pendidikan tinggi memang sarat formalitas. Formalitas yang sekaligus merupakan peluang bisnis. Tak heran ada jual beli gelar dan ijazah, tak perlu terkejut dengan berbagai kecurangan dalam ujian dan seleksi masuk kuliah, termasuk menggunakan jasa joki. Karena semuanya hanya formalitas. Berbagai pertanyaan tentang rencana lanjut kuliah tidak bisa kujawab dengan singkat. Memang tidak sedikit mereka yang melanjutkan pendidikan untuk memperdalam ilmu dan kompetensi, namun tidak sedikit yang cuma mengejar gelar atau sekedar daripada tidak ada kesibukan. Formalitas. Tanpa menyebut nama, lihat saja beberapa orang pemegang rekor gelar terpanjang, berapa banyak tulisan dan penelitian mereka yang dipublikasikan? Berapa banyak berita yang memuat kepakaran mereka? Hampir tidak ada! Banyak gelar tanpa kompetensi itu formalitas, sekedar kuliah di kampus abal-abal demi selembar ijazah yang menambah sederetan gelar itu formalitas.

Perguruan tinggi memiliki Tri Dharma yang (seharusnya) bukan formalitas. Pendidikan akan menghasilkan ilmu yang merupakan senjata ampuh bagi pemiliknya. Pendidikan yang hanya formalitas –sekedar mengajar, sekedar hadir di kelas, sekedar memberikan dan mengerjakan tugas—demi selembar ijazah ibarat senjata mainan yang hanya mampu menakuti anak kecil. Tumpul, tidak banyak membantu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tidak perlu ditanya keberkahan dan kebermanfaatan pendidikan formalitas tersebut. Penelitian tidak hanya mengeksplorasi cara berpikir sistematis dan ilmiah, tetapi juga dapat mengurai dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Riset formalitas akan kehilangan makna dan manfaat, tidak akan menjadi sesuatu yang menginspirasi. Bahkan berpotensi cacat moral dan intelektual, dengan plagiat misalnya.

Pengabdian masyarakat akan mendekatkan civitas akademika dengan simpul terpenting kehidupan berbangsa dan bernegara, menurunkan mereka dari menara gading. Bagaimanapun, kualitas seorang lulusan perguruan tinggi baru benar-benar akan teruji di tengah masyarakat, bukan di kampusnya. Formalitas perguruan tinggi hanya akan membentuk robot-robot penuh ego, hitung-hitungan dan keangkuhan. Bahaya sekali ketika ijazah menjadi tujuan yang wajib diraih dengan menghalalkan segala cara. Alangkah ironinya jika toga justru menjadi hijab lulusan perguruan tinggi dengan masyarakatnya. Dan ketika semuanya hanya formalitas, kapitalisasi pendidikan akan menyeruak, pendidikan tinggi akan kehilangan filosofi keberadaannya. Pada akhirnya, kehancuran negeri ini tinggal menuju waktunya. Mari selamatkan masa depan bangsa dengan memberikan ruh dan makna pada pendidikan, tidak terjebak formalitas. Membangun jiwa, bukan hanya badannya, untuk Indonesia Raya.

”Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu  tidak diberikan sama sekali!” ( Tan Malaka )

Meneliti, Menelaah dengan Hati

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata riset atau penelitian? Mungkin tidak sedikit orang yang akan menjawab sesuatu hal yang sulit, rumit atau kompleks. Penelitian diidentikkan dengan serangkaian eksperimen di laboratorium lengkap dengan formula njimet yang hanya mampu dipahami oleh orang ‘aneh’. Pun demikian persepsi umum masyarakat tentang peneliti, yang terbayang adalah orang ber-IQ jenius, berkacamata tebal dengan kepala yang botak sebagian. Peneliti kemudian diidentikkan dengan orang yang gemar bekerja keras dalam kesendirian, tidak pandai bersosialisasi karena sahabatnya hanya buku, alat dan otak mereka sendiri.

Penelitian dianggap aktivitas kerja otak, sistematis namun kaku, jauh dari kerja hati. Tidak humanis. Dikotomi ini justru menjadi salah satu akar problematika penelitian. Alasan mengapa penelitian di Indonesia masih kurang secara kuantitas dan kualitas lebih didominasi oleh perkara hati, bukan keterbatasan kemampuan otak. Publikasi riset Indonesia di jurnal internasional yang hanya sekitar 4000 per tahun adalah perkara niat, bukan keterbatasan sumber daya, mengingat jumlah perguruan tinggi saja sekitar 3200 dengan 60 ribuan dosen. Minimnya jumlah paten per tahun atau jumlah jurnal yang terakreditasi internasional dan terindeks di Scopus misalnya, bukan masalah ketidakmampuan otak bangsa Indonesia untuk bersaing di kancah global, melainkan masalah mentalitas. Ketika penelitian tidak didasarkan pada panggilan hati, yang terjadi adalah formalitas yang berujung pada kejumudan dan justru berimbas menghambat produktifitas.

Anggaran penelitian Indonesia yang hanya 0.08% dari Produk Domestik Bruto (PDB) memang berdampak pada kerja peneliti, namun meneliti adalah menelaah dengan hati. Para peneliti dan penemu produktif nyatanya lebih banyak berupaya untuk terus menghasilkan sesuatu yang dapat menghasilkan nilai tambah, dibandingkan menghabiskan waktu mereka untuk mengeluh akan keterbatasan anggaran. Terus berkontribusi pun kurang dihargai adalah kerja hati. Kerja hati memang butuh apresiasi yang tidak hanya bicara dana, namun orientasinya adalah mencoba memberikan yang terbaik dan biarkan hukum kausalitas itu berjalan. Penghargaan akan sebuah karya unggul tentu hanya masalah waktu. Apresiasi akan muncul seiring dengan pembuktian, dan itu butuh kerja hati, bukan hanya kerja fisik dan otak.

Menghasilkan penelitian yang aplikatif dengan dunia industri dan kehidupan sehari-hari memang butuh kerja keras, namun meneliti adalah menelaah dengan hati. Banyaknya penelitian yang berjarak dengan implementasi dan akhirnya hanya menjadi tumpukan kertas di perpustakaan jelas memperlihatkan gap antara teori dengan praktik. Penelitian yang dilakukan hanya untuk prasyarat gelar akademik, tambahan poin untuk jenjang karir ataupun cuma sekedar untuk mendapatkan dana hibah penelitian adalah persoalan niat, perkara hati. Penelitian yang bersifat formalitas dan rutinitas hanya akan menjadi cinderamata usang, bukti tidak bergerak yang tidak pula bermanfaat. Keterlibatan hati akan mendorong relevansi penelitian yang dilakukan dengan kebutuhan, karena orientasinya adalah kebermanfaatan yang luas, bukan bagi diri sendiri. Butuh itikad baik untuk menghasilkan penelitian yang tepat guna, dan itu butuh kerja hati, bukan hanya kerja fisik dan otak.

Plagiarisme merupakan tantangan lain bagi dunia penelitian dan ketidaktersediaan pusat data penelitian memang membuat kasus plagiat sulit dikontrol, namun meneliti sejatinya adalah menelaah dengan hati. Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya, keanekaragaman sosial budaya, hingga kaya tema dan gagasan. Artinya, plagiarisme muncul tentu semestinya bukan karena kekurangan ide, tetapi persoalan mentalitas. Mentalitas ingin serba instan, pemalas dan kurang menghargai buah karya orang lain adalah permasalahan hati, bukan semata perkara otak. Bahkan otak picik seorang peneliti senior untuk mengklaim hasil karya peneliti junior sebagai karyanya misalnya, justru akan semakin melanggengkan budaya menjiplak ini. Dan menganggap wajar penuh pemakluman suatu pencurian karya orang lain akan kian memperparah tradisi plagiat ini. Membuat suatu karya yang unggul dan orisinil memang tidak mudah, butuh kerja hati, bukan hanya kerja fisik dan otak.

Penelitian itu sebenarnya mudah dan menyenangkan, tinggal bagaimana hati kita memposisikannya. Penelitian itu sesungguhnya dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, tinggal bagaimana kita mampu memotretnya, mengolah gagasan segar secara runut untuk menghasilkan suatu karya yang aplikatif. Kerja otak –dan juga fisik—tentu sangat diperlukan, namun para peneliti besar melahirkan karya unggul sebagai sarana aktualisasi diri mereka. Dan aktualisasi diri adalah kerja hati. Ada kebesaran jiwa dan kejernihan budi yang menyertai, sehingga penelitian yang sekiranya menguras banyak energi justru menjadi hiburan yang menggembirakan. Semakin kompleks kajian dan analisa suatu penelitian, kian menarik dan menambah semangat.

Dunia pendidikan sudah banyak mengajarkan kita bahwa dominasi pemenuhan aspek intelektual di atas aspek mental, emosional dan spiritual justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Testimoni orang-orang sukses juga banyak mengungkapkan bahwa kerja cerdas dan kerja keras saja tidak cukup tanpa kerja ikhlas. Untuk mengurai permasalahan penelitian –dan penelitian– di negeri ini tidak cukup hanya memperhatikan ukuran-ukuran tangible yang dapat dilihat, ada faktor intangible yang ternyata memberi dampak besar. Niat dan komitmen yang tidak dapat dilihat akan membawa pengaruh dahsyat terhadap aktivitas perbaikan. Mari kita terus berkarya, mempersiapkan hati dan pikiran dengan penuh kesungguhan agar segala energi yang tercurah berbuah berkah. Memberi kebermanfaatan yang terus mengalir jauh melampaui usia kita…