Tag Archives: FPI

2021, Tahun Masih Harus Bersabar

Aku mencari segala bentuk rezeki tetapi aku tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar
(Umar bin Khattab r.a.)

Akhirnya, tahun 2020 berlalu. Ada banyak harapan di tahun 2021 ini. Pandemi virus corona sepanjang tahun 2020 benar-benar membuat dunia berselimut duka dan kekhawatiran. Banyak event nasional dan internasional di tahun 2020 yang ditunda atau dibatalkan, mulai dari konser musik, festival film, hingga Olimpiade di Tokyo. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia yang tetap berjalan barangkali termasuk anomali. Dalam kaleidoskop 2020 di bidang apapun, tidak terlepas dari dampak yang dirasakan akibat pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya bidang kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan, sosial budaya, politik, hukum, hubungan internasional, agama, hingga teknologi informasi dan olahraga tahun 2020 pasti terkait dengan persoalan pandemi ini.

Memasuki tahun 2021, pandemi belum juga berakhir. Bahkan angka statistiknya terus bertambah. Kasus Covid-19 tercatat sudah menembus 80 juta dengan korban jiwa lebih dari 1,8 juta di seluruh dunia. Di luar kasus Covid-19, awal tahun 2021 ini sebenarnya relatif lebih baik daripada awal tahun 2020. Awal tahun lalu sudah diwarnai dengan isu World War III karena memburuknya hubungan AS dengan Iran. Beberapa negara di Timur Tengah juga ikut bergejolak. Indonesia juga bersitegang dengan China yang mengklaim Laut Natuna. Awal tahun 2020 juga ditandai dengan banjir bandang di Jakarta, kebakaran hutan Australia, dan erupsi Gunung Taal di Filipina. Belum lagi kasus Reynhard Sinaga yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Semoga tidak terulang di tahun ini.

Di tahun 2021 ini sepertinya kesabaran masih akan terus diuji. Ada lebih dari 110 ribu kasus aktif Covid-19 di Indonesia dari sekitar 750 ribu kasus yang terdata, dengan korban jiwa lebih dari 22 ribu orang. Banyak ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia penuh. Itu belum termasuk klaster liburan akhir tahun. Petugas medis perlu lebih bersabar menghadapi pasien Covid-19 yang tak jua surut. Sudah 10 bulan sejak kasus pertama corona di Indonesia diumumkan, kebutuhan ekonomi harus terus terpenuhi, masyarakat tak bisa lagi ‘ditertibkan’ untuk diam saja di rumah. Butuh kesabaran untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimana masyarakat semakin abai. Di dunia pendidikan, banyak orang tua yang sepertinya juga masih harus bersabar untuk mendidik anaknya belajar di rumah karena pembelajaran tatap muka urung dilakukan.

Masyarakat Indonesia juga masih harus bersabar menghadapi pemerintah negeri ini. Ketidaktahuan pemerintah akan masuknya mutasi virus corona di Indonesia beberapa hari lalu seakan dejavu dengan kondisi awal tahun lalu saat pemerintah menyatakan belum ada kasus Covid-19 di tanah air pun ada beberapa warga asing yang terinfeksi setelah berkunjung ke Indonesia. Keputusan menutup kedatangan Warga Negara Asing (WNA) di awal tahun ini juga terasa terlambat hampir setahun. Dan memang butuh kesabaran ekstra dalam menyikapi kebijakan pemerintah Indonesia. Sepanjang tahun 2020, sudah ada puluhan pernyataan kontroversial dari pejabat pemerintah. Belum lagi ditambah berbagai pelanggaran hukum dan kesewenang-wenangan yang dilakukan. Jika pada 2020 masih ada Donald Trump, Presiden AS yang eksentrik dan kerap jadi olok-olok. Dengan tak terpilihnya lagi Trump, bukan tak mungkin Indonesia akan banyak mendapat sorotan dunia, bukan dalam artian yang positif.

Umat Islam masih harus bersabar. Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Habib Rizieq Shihab (HRS) dipenjara tak lama setelah 6 orang pengawalnya tewas ditembak polisi. Ironis, HRS dipenjara di Rutan Narkoba karena melanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, sementara beberapa bulan lalu puluhan ribu narapidana dibebaskan kerena Covid-19. HRS ditetapkan sebagai tersangka tanpa menghilangkan satupun nyawa, sementara para penembak laskar FPI tidak diusut, apalagi dihukum. Penangkapan HRS diproses begitu cepat pun tidak merugikan negara seperti kasus BLBI, Jiwasraya, e-KTP, ataupun Pelindo. Bahkan HRS sudah membayar denda 50 juta. Sementara Harun Masiku dan Sjamsul Nursalim yang jelas merugikan negara tak jua tertangkap. Menteri KKP dan Menteri Sosial yang diciduk KPK karena kasus korupsi memang di-reshuffle, namun jatah menteri dari partai lumbung koruptor tidaklah berkurang. Boro-boro ditindak atau dibubarkan, yang ada malah kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader partai penguasa menguap begitu saja. Apalagi kasus yang menyeret ‘anak Pak Lurah’. Barangkali harus menunggu Pak Lurah lengser dulu untuk menuntut keadilan, itupun jika Pak Lurah barunya berani menuntut.

Dan masyarakat dunia masih harus bersabar. Vaksin bukan obat. Alih-alih mengobati, vaksin lebih bersifat preventif. Butuh waktu untuk membuatnya, tambahan waktu untuk memproduksi vaksin yang efektif, tambahan waktu lagi untuk mendistribusikannya, serta lebih banyak waktu lagi untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit menular. Belum lagi adanya kelompok anti vaksin dan penganut teori konspirasi. Umat manusia perlu lebih bersabar agar tidak menimbulkan bencana lain yang lebih besar. Bagaimanapun, banyak bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Ditambah lagi potensi bencana alam. Selain pandemi Covid-19, tahun 2020 lalu ada berbagai bencana dengan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit, mulai dari kebakaran, banjir bandang, badai besar, letusan gunung berapi, gempa bumi, serangan belalang, angin topan, ledakan, hingga kerusuhan sipil dan krisis kemanusiaan. Dan tidak ada jaminan bencana serupa tak terulang di tahun ini.

Lalu sampai kapan harus bersabar? Sampai kapanpun, sebab kesabaran sejatinya tiada batas. Sabar secara bahasa artinya menahan diri. Sedangkan secara syari’at, sabar adalah menahan diri dalam tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian atau musibah. Jadi batas kesabaran adalah ketika tak ada lagi ketaatan yang harus dilakukan, kemaksiatan yang harus dihindari, dan musibah yang harus dihadapi. Ya, kesabaran harus ada sepanjang hayat. Kesabaran inilah yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian, tetap optimis, menikmati proses kehidupan, menjauhkan dari penyakit, keberuntungan yang baik, dan derajat tinggi di surga. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang sabar, semakin sabar di tahun ini, dan terus bersabar di tahun-tahun selanjutnya.

Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku
(Ali bin Abi Thalib r.a.)

Amar Ma’ruf Yes, Nahi Munkar No???

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imron : 104)

Pastinya bukan tanpa sebab, ayat di atas terletak setelah perintah untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa, berpegang teguh dengan tali (agama) Allah dan larangan untuk bercerai-berai. Mengajak manusia kepada kebaikan dan amar ma’ruf nahi munkar juga merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan untuk mendapat predikat sebagai orang yang beruntung di sisi Allah SWT. Dan ternyata bukan hanya keimanan dan ketaqwaan yang membuat suatu kaum layak untuk disebut sebagai khairu ummah, amar ma’ruf nahi munkar akan menyempurnakan keshalehan pribadi menjadi sesuatu yang jauh lebih istimewa. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imron : 110)

Tanpa amar ma’ruf nahi munkar, akan hilang rasa aman dan tumbuh subur kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat. “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang melakukan undian di atas kapal, sebagian mereka mendapatkan bagian di lantai atas dan yang lain di lantai bawah. Apabila yang berada di lantai bawah hendak mengambil air, mereka melewati orang-orang yang berada di lantai atas. Mereka pun berkata-kata seandainya kami melubangi yang menjadi bagian kami (bagian bawah kapal), tentu kami tidak mengganggu orang-orang yang di atas kami. Maka apabila mereka dibiarkan melakukan apa yang mereka inginkan, maka binasalah semuanya, dan apabila mereka dicegah (dari niatnya), maka selamatlah mereka dan selamatlah seluruh penghuni kapal” (HR. Bukhari dan Turmidzi). Hadits di atas, sebagaimana disampaikan Ibnu Hajar r.a. menjelaskan bahwa salah satu penyebab turunnya adzab adalah karena ditinggalkannya amar ma’ruf nahi munkar. Imam al-Qurtubi r.a juga berkata bahwa datangnya adzab seperti disebutkan dalam hadits tersebut dikarenakan dosa yang dilakukan oleh kebanyakan orang, dan juga karena tidak adanya amar ma’ruf nahi mungkar (di tengah mereka).

Amar ma’ruf nahi munkar juga akan menghapus dosa, memudahkan terijabahnya do’a dan menghindarkan dari musibah dan siksaan. “Fitnah (dosa/ keburukan) seseorang di dalam keluarganya, hartanya dan anaknya dihapuskan oleh shalat, shadaqah, dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Al Bukhari). “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya (agar supaya dihindarkan dari siksa tersebut) akan tetapi Allah Ta’ala tidak mengabulkan do’a kalian” (HR Ahmad dan At Tirmidzi).

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya” (QS. Al Anfal : 25). Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi  mengatakan bahwa ayat ini sebagai peringatan agar umat Islam tidak meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar yang dapat memperluas kerusakan sehingga adzab pun akan diturunkan kepada seluruh komponen masyarakat, tanpa kecuali. “Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kezhaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka Allah akan meratakan adzab kepada mereka semua” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Amar ma’ruf nahi munkar juga merupakan salah satu sebab yang mendatangkan pertolongan Allah SWT dan kepemimpinan (penguasaan) di muka bumi. “Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di muka bumi, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah dari yang munkar, dan kepada Allah lah kembali segala urusan” (QS. Al Hajj : 40-41). Dan ketika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan, syiar Islam akan tidak dikenal, perilaku maksiat dan dosa kian menjadi-jadi, kebodohan dan kesesatan merajalela, kerusakan dunia akhiratpun terjadi.

Fenomena amar ma’ruf yes, nahi munkar no
Hari ini kita tidak kekurangan penceramah yang selalu memerintahkan yang ma’ruf, ulama yang mengajak kepada kebaikan juga banyak ditemui. Namun mereka yang aktif melakukan perbaikan dan mencegah kemunkaran tidak mudah dijumpai. Kebanyakan orang memilih untuk hanya menutup mata, menggelengkan kepala seraya mengurut dada ketika melihat kemunkaran di hadapannya, tanpa berusaha mencegahnya, tanpa berupaya menjadi bagian dari solusi nyata. Amar ma’ruf memang lebih ringan dibandingkan nahi munkar yang berpotensi mengancam diri. Padahal amar ma’ruf dan nahi munkar adalah dua sisi mata uang yang tidak boleh ditinggalkan salah satunya. Realitanya, orang yang mencegah kemunkaran kerapkali dimusuhi dibandingkan orang yang sekedar mengajak kepada kebaikan.

Syaikh Ahmad Rifa’i mengatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar dapat dilakukan dengan lembut ataupun keras, tergantung mana yang lebih bermanfaat. Adakalanya cara yang lemah lembut dengan pendekatan emosional lebih efektif, namun tidak jarang juga dibutuhkan ketegasan untuk menanggulangi kemaksiatan. Nyatanya, hanya cara lemah lembut yang dianggap tepat, sementara pendekatan yang tegas kerap dianggap tidak sesuai dengan ruh Islam yang penuh kedamaian dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Lihat saja aksi Front Pembela Islam (FPI) yang kerap menjadi sorotan, aktivitas amar ma’ruf nahi munkarnya diidentikkan dengan kekerasan. Sejak awal berdirinya memang sudah ratusan aksi yang FPI lakukan, beberapa diantaranya mengakibatkan bentrok dengan preman atau massa dari kelompok lain. Upaya mereka untuk memerangi perjudian, pelacuran, minuman keras, komunisme dan kemaksiatan yang merusak tatanan kehidupan masyarakat justru dipersepsikan sebagai aksi yang meresahkan masyarakat. Bahkan tidak sedikit tokoh FPI yang diteror, diculik, dipenjara, ditembaki hingga dibunuh ‘hanya’ karena upaya mereka memerangi kemaksiatan. Pawai dan aksi damai, kajian, pencerdasan, advokasi, aksi peduli hingga menjadi relawan bencana yang dilakukan FPI seolah tertutupi oleh citra kekerasan dalam menjalankan aksinya.

Keutamaan nahi munkar
Tulisan ini tidak hendak membenarkan aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok masyarakat dengan dalih kebenaran dan keadilan. Penulis juga tidak hendak menyoroti peran media dalam membentuk opini di masyarakat. Penulis hanya hendak menempatkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar dan pelakunya pada posisi yang sesuai. Bagaimanapun, sikap aktif mencegah kemunkaran lebih diutamakan dari sikap berdiam diri. Dan sikap berdiam diri lebih baik dari sikap aktif memusuhi mereka yang mencegah kemunkaran. Perlu juga diingat bahwa selain menjauhkan dari azab Allah SWT, melarang tindakan munkar akan menghindarkan diri dari laknat Allah SWT dan mendekatkan diri pada Rahmat-Nya. “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (QS. Al Ma`idah : 78-79)

Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar r.a diamanahkan sebagai khalifah, sebagian bangsa Arab kembali kepada kekafiran dan sebagiannya lagi enggan membayar zakat. Memperhatikan kekuatan kaum muslimin, Umar bin Khattab r.a. mengusulkan untuk meminta bantuan dari kelompok umat Islam yang enggan membayar zakat untuk memerangi mereka yang kembali kepada kekafiran, sementara Khalifah Abu Bakar r.a. bersikukuh untuk memerangi keduanya. Shahabat sekaligus mertua Rasulullah SAW ini berkata, “Demi Allah! Aku benar-benar akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat itu adalah hak atas harta. Demi Allah! Seandainya mereka tidak mau menyerahkan kepadaku seikat karung (zakat) yang dahulu biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah SAW niscaya aku akan memerangi mereka kalau mereka tetap berkeras tidak mau menyerahkannya”. Umar bin Khattab r.a. pun mengatakan, “Demi Allah! Tidaklah mungkin hal itu berani dilakukannya melainkan karena aku yakin bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Dari situlah aku mengetahui bahwa dia berada di atas kebenaran”.

Abu Bakar r.a. yang dikenal lemah lembut justru bersikap tegas terhadap kemunkaran yang dihadapinya. Jika tidak membayar zakat dibiarkan, kaum muslimin akan mendapati Islam secara tidak utuh. Pembelaan terhadap perjudian, minuman keras, perzinahan dan berbagai kemaksiatan lainnya juga akan seolah menghalalkan yang diharamkan. Parahnya lagi, kemaksiatan itu cepat menular dan akan segera menjadi wabah yang mendatangkan bencana jika tidak ada yang melarangnya. Karenanya, sudah sewajarnya setiap manusia yang menghendaki ketenangan hidup untuk berupaya mengubah kemunkaran sekecil apapun. “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika masih tidak mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Amar Ma’ruf Yes, Nahi Munkar Yes!!!
Penulis masih ingat peristiwa belasan tahun lalu, ketika pada suatu malam wilayah tempat tinggal penulis dihebohkan dengan serangan orang-orang berpakaian ninja yang menghancurkan tempat-tempat prostitusi di sekitar wilayah tersebut. Hanya dalam waktu semalam, Kampung Rawakalong bersih dari prostitusi yang sudah menggurita sejak lama. Para tokoh agama dan pendidikan tidak jarang mengecam praktek perzinahan tersebut namun ternyata tidak ada perubahan apa-apa. Aparat keamanan jelas tidak bisa diandalkan karena justru mem-becking-i aktivitas haram tersebut. Dan ternyata kemaksiatan baru dapat hilang dengan aksi tegas yang menggemparkan kampung, bukan sekedar dengan kata dan kecaman, apalagi sekedar memalingkan muka seraya mengurut dada.

Dalam kaidah fiqh, upaya mencegah kemunkaran dapat dibenarkan ketika dapat menghilangkan kemunkaran tersebut, atau dapat memperkecil dampak buruknya. Namun tidak diperkenankan mencegah kemunkaran yang akan mendatangkan kemunkaran yang lebih besar. Disinilah ijtihadi para kelompok Islam diperlukan. Berdakwah dengan hikmah dan keteladanan bukan berarti tidak dapat berlaku keras dan tegas. Hikmah disini adalah argumen yang rasional, bukan berarti tutur kata yang lembut. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim a.s. secara ekstrim menghancurkan berhala-berhala dan menyisakan berhala yang paling besar untuk mengungkapkan hikmah. Atau perhatikan bagaimana Rasulullah SAW memerangi dan mengusir Yahudi Bani Quraidah dan Bani Nadhir dari Madinah, padahal banyak anak-anak, wanita dan orang tua di dalamnya, untuk menegaskan konsistensi penerapan konstitusi (perjanjian Hudaibiyah).

Ketika masih terjadi aksi amuk massa, jangan lantas salahkan masyarakat, karena bisa jadi hal tersebut hanyalah ekspresi kekecewaan atas penegakan hukum yang tidak adil. Ketika masih terjadi aksi paksa menutup tempat maksiat, jangan langsung memvonis sebagai tindak kekerasan, karena bisa jadi aksi tersebut hanya luapan kekesalan melihat pihak yang seharusnya bertindak tegas hanya berdiam diri bahkan melindungi. Aparat penegak hukum harusnya introspeksi, negara ini mestinya bercermin. Berbuat kerusakan memang tidak dapat dibenarkan, namun bisa jadi bentuk kepedulian untuk melarang kemunkaran yang berangkat dari hati nurani untuk meraih ketentraman hidup lah yang –selama ini masih– menyelamatkan kita dari azab yang besar.

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka kami menyelamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang yang berbuat dzalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik” (QS. Al A’raf : 165)