Tag Archives: hati nurani

Covid: Antara Konspirasi, Bisnis, dan Kemanusiaan (2/2)

Barangkali benar ada berbagai kebijakan pemerintah yang lamban ataupun keliru dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Namun hal itu bukan berarti sikap cerdas adalah membangkang terhadap kebijakan pemerintah, misalnya dengan tidak patuh terhadap protokol kesehatan. Berpikir kritis berbeda dengan naif, apalagi malas berpikir. Barangkali benar bahwa tingkat kesembuhan akibat Covid-19 lebih tinggi daripada tingkat kematiannya. Namun bukan berarti para korban Covid-19 ini tak ada artinya. Satu nyawa saja begitu berharga, apalagi ini sampai puluhan ribu nyawa. Itu pun baru yang terdata. Bahkan jika benar bahwa ada faktor kesengajaan dalam penyebaran virus corona, atau kalaupun memang benar ada kepentingan bisnis di balik pandemi Covid-19, penyikapan seperti yang dilakukan para covidiot tetaplah tidak menyelesaikan masalah apapun.

Karenanya, tidak perlu terjebak pada teori konspirasi yang belum jelas kebenarannya, dan tidak jelas kebermanfaatannya. Tidak perlu juga terlalu pusing dengan berbagai isu kepentingan yang ada di luar kendali kita. Cukup lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dan membantu diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita. Disinilah kemanusiaan mengambil peran dalam pandemi ini. Percaya atau tidak dengan adanya virus corona bisa jadi tergantung keyakinan seseorang, tetapi meyakini bahwa setiap diri kita perlu menjaga keselamatan orang lain adalah sisi kemanusiaan. Seseorang memiliki hak untuk tidak percaya dengan berita yang disampaikan media, namun secara manusiawi seseorang perlu menjaga hak orang lain untuk merasa aman dari lisan dan perbuatannya. Setiap kita boleh saja meyakini tentang adanya konspirasi global, namun bukan berarti mematikan rasa empati dan simpati dengan memaksakan keyakinannya pada orang lain, yang bahkan tidak sedikit dari mereka, keluarga mereka, atau rekan-rekan mereka yang telah menjadi korban pandemi ini.

Untungnya, aksi nyata kedermawanan sosial atas nama kemanusiaan terus hadir sejak awal masa pandemi. Mulai dari pembagian masker, penyemprotan disinfektan, paket bantuan isolasi mandiri, hingga pengadaan tabung oksigen dan rumah sakit darurat. Para pejuang kemanusiaan inilah yang menjadi secercah asa di tengah himpitan hidup. Di saat para covidiot hanya berkoar tentang konspirasi tanpa kontribusi, tanpa solusi. Bahkan di saat pemerintah tidak bisa diandalkan dalam melindungi segenap bangsa Indonesia. Inisiatif membantu ini muncul dan menyelesaikan berbagai persoalan akibat pandemi, pun barangkali skalanya terbatas. Pendekatan kemanusiaan inilah yang berperan besar dalam memelihara kehidupan, tidak memilih untuk menyerah dengan keadaan. Pejuang Covid-19 di garda terdepan, mulai dari tenaga kesehatan, relawan, hingga tukang gali kubur, mampu bertahan dan terus berjuang atas nama kemanusiaan. Sebab jika ukurannya adalah materi, sungguh nyawa lebih berharga.

Di hadapan pendekatan kemanusiaan, pendekatan konspiratif sudah tak lagi relevan, tidak simpatik sama sekali. Apalah artinya seseorang yang pandai bercakap tentang konspirasi elit global, sementara tetangganya sendiri tidak ia pedulikan. Tidak percaya adanya Covid, tidak membantu tim Satgas Covid, namun gemar membuat gaduh dengan informasi ‘kacamata kuda’ yang diyakininya. Menghabiskan energinya dengan segudang teori nirfaedah, sementara kebermanfaatannya tidak dirasakan bagi lingkungan sekitarnya. Permasalahan dalam kondisi kritis bukan persoalan apa yang benar, tetapi apa yang dibutuhkan. Karenanya, pendekatan kemanusiaan yang membawa cahaya, lebih tepat untuk diperjuangkan dibandingkan pendekatan bisnis yang oportunis ataupun pendekatan konspiratif yang hanya mengutuk kegelapan.

Dan diakui atau tidak, pandemi ini masih dan akan terus berlangsung hingga batasan takdirnya. Butuh kolaborasi dari banyak elemen sebab krisis tidak akan mampu dihadapi sendirian. Kesampingkan sejenak berbagai pendekatan konspiratif yang bisa jadi ada benarnya, untuk membantu meringankan beban banyak manusia terdampak pandemi yang sudah nyata adanya. Tidak terlalu serakah mengambil peluang dalam kesempitan orang lain. Tidak untuk suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Tetapi atas nama kemanusiaan. Memanusiakan manusia. Dan kelak saat semua krisis ini berlalu, kita bisa tetap bergandengan tangan sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Setiap penyakit ada obatnya, setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Menjadi ‘obat’ atau ‘racun’, menjadi ‘solusi’ atau ‘masalah’, semuanya tergantung bagaimana peran yang kita ambil.

We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity; more than cleverness, we need kindness and gentleness. Without these qualities, life will be violent and all will be lost.
(Charlie Chaplin)

Ulang Tahun, Ajang Umbar Kebodohan

Tawa teman-teman Sandy mendadak hilang mendapati temannya kejang-kejang setelah diikat dan disiram air di sebuah tiang lampu sebuah tempat futsal di kawasan Serpong, Tangerang. Lewat tengah malam selepas futsal (26/9/16), Sandi yang berulang tahun dikejutkan oleh temannya yang mengikatnya di sebuah tiang lampu yang ternyata berarus listrik karena adanya kabel yang terkelupas. Petugas keamanan langsung menurunkan panel listrik untuk mematikan setrum dan Sandy pun dilarikan ke rumah sakit. Sandy yang rencana menikah bulan depan menghembuskan nafas terakhirnya di ruang perawatan UGD RS. Eka Hospital tepat di hari ulang tahunnya. Ironis.

Kasus ulang tahun berdarah ini bukan kali pertama. Tahun lalu, 5 siswi SD tewas tenggelam saat merayakan ulang tahun di bendungan Tiyuh, Tulang Bawang Barat – Lampung (22/5/15). Sepulang sekolah, Vita bersama 7 merayakan ulang tahun di bendungan. Vita yang diceploki telur ayam kemudian membalas melumuri teman-temannya hingga sama-sama kotor. Gustian, salah seorang temannya yang hendak membersihkan diri, malah terpeleset jatuh ke bagian air yang dalam. Femi, Yulianti, Nurtika dan Vita yang mencoba membantu malah tenggelam. Ketiga temannya yang tidak bisa berenang hanya bisa berteriak histeris dan memanggil bantuan warga. Warga yang datang mengevakuasi sudah terlambat, kelima siswi kelas V SDN 2 Agung Jaya sudah tewas. Setahun sebelumnya, kasus serupa terjadi di Pantai Slamaran, Pekalongan (22/3/14). Kali ini Endang yang membersihkan diri di pantai setelah berlumuran telur dan tepung justru terseret ombak. Teman-temannya dari SMPN 1 Doro yang masih berseragam pramuka langsung menolongnya, dibantu seorang pemancing yang kebetulan ada di lokasi. Endang yang berulang tahun berhasil diselamatkan, namun Arief –salah seorang temannya—dan Fatikhurohman si pemancing justru terseret arus dan jenazah mereka baru ditemukan keesokan harinya.

Tak kalah ironis apa yang menimpa Maizatul Farhanah, siswi kelas VII SMPN 3 Batam yang tewas sia-sia dijahili teman sekelasnya dengan sepengetahuan wali kelasnya. Saat teman-tamannya mengajak Farhanah ke kantin, teman-teman yang lainnya memasukkan uang 300 ribu dan handphone temannya ke dalam tas Farhanah. Wali kelas datang menyampaikan laporan kehilangan dan memerintahkan dilakukan penggeledahan. Barang-barang tersebut ditemukan dalam tas Farhanah kemudian ia diminta berdiri dan diinterogerasi disertai teriakan ‘maling’ dari teman-temannya. Farhanah pingsan seketika. Depresi parah dan menolak makan. Pada 16 Desember 2010, tepat 20 hari setelah ulang tahunnya, gadis berusia 13 tahun yang sebelumnya dikenal ceria tersebut meninggal akibat infeksi jaringan otak dan pendarahan lambung.

Jika dirinci, kasus serupa tentunya banyak, apalagi ditambah yang luput di media. Semua berawal dari kebodohan di hari ulang tahun. Daftar ironi ajang unjuk kebodohan akan semakin banyak jika ditambah berbagai kasus terkait. Misalnya Zsa Zsa Jesica Shienjaya, mahasiswi UK Petra yang tewas gantung diri dengan tali raffia di kamar kosnya hanya karena pacarnya membatalkan perayaan ulang tahun bersamanya (18/6/12). Atau bagaimana Desy, siswi SMA Negeri 3 Tanjungbalai yang dicekoki narkoba dan diperkosa hingga tewas setelah menghadiri pesta uang tahun temannya (6/8/16). Bulan lalu, netizen juga dibuat geram dengan postingan tertanggal 14 Agustus 2016 di laman FB Mim Medan. Foto-foto yang viral di sosial media ini memuat sekelompok siswi berseragam pramuka yang mengikat temannya yang berulang tahun di sebuah tiang, melempari telur ke muka dan mulut sehingga temannya ini menangis dan terlihat sangat tersiksa, sementara mereka tampak bahagia dan berbangga. Jika ditelusuri, ini bukan kali pertama mereka melakukannya dan tampaknya juga bukan kali terakhir.

Tak perlu dalil-dalil agama bahwa tiup lilin adalah prosesi persembahan untuk dewa bulan atau bahwa perayaan ulang tahun merupakan bentuk menyerupai (tasyabuh) orang kafir, akal dan hati nurani sehat pun cukup untuk menolak perayaan ulang tahun sebagai ajang unjuk kebodohan. Apa manfaat yang ingin dicapai? Apakah caranya sudah tepat untuk memperoleh manfaat tersebut? Teman-teman Sandy bukan hanya akan berurusan dengan pihak polisi, tetapi juga merasakan tanggung jawab moral yang berat kepada keluarga Sandy dan akan dihantui penyesalan seumur hidup. Demikian pula dengan teman-teman dan guru Farhanah. Sepadankah dengan tawa dan kegembiraan sesaat? Apakah kebodohan tersebut menjadi satu-satunya cara untuk meraih manfaat?

Enam belas tahun lalu, penulis pernah ‘menceramahi’ teman-teman yang menceburkan penulis yang saat itu berulang tahun ke kolam di sekolah. Bagaimana jika orang yang dilempar ke kolam kepalanya terbentur batu besar yang tidak terlihat dari permukaan? Bagaimana jika ia punya penyakit sehingga langsung kejang-kejang dan tenggelam? Bagaimana basah kuyup akan menampakkan auratnya ketika keluar dari kolam? Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapkah? Apakah kejahiliyahan tersembunyi yang mendatangkan tawa sesaat tersebut sebanding dengan keburukan yang menyertainya? Belum lagi jika diingat bahwa Allah mengabulkan do’a mereka yang teraniaya. Alih-alih mempererat persahabatan, umbar kebodohan malah berbuah do’a buruk dari mereka yang teraniaya kepada teman-temannya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Segala musibah memang bisa dilihat dari kacamata takdir. Hanya saja ada hukum kausalitas yang perlu diperhatikan. Tak ada asap kalau tak ada api. Potensi musibah ulang tahun dapat diminimalisir bila tidak disertai aksi umbar kebodohan. Jika kebodohan tidak mungkin dihindari, lebih baik jangan rayakan ulang tahun. Logis. Toh sejatinya setiap harinya usia kita berkurang. Lalu apakah berarti ulang tahun harus dirayakan dengan serius, dengan refleksi diri atau muhasabah misalnya? Mungkin saja, tapi bukan di situ poinnya. Jangan umbar kebodohan dalam menyikapi berulangnya tanggal lahir! Bagi yang ada di level kesadaran akan hakikat waktu dan kefanaan dunia rasanya tidak perlu lagi merayakan ulang tahun. Namun bagi orang awam yang masih sehat akalnya, setidaknya bisa berpikir tentang resiko dan manfaat dari cara yang digunakan dalam merayakan ulang tahun. Bagi orang awam yang masih punya hati nurani, setidaknya bisa berempati maukah dirinya menerima perlakuan yang sama.

Kebodohan dapat dilawan dengan akal sehat dan hati jernih. Dan perlawanan tersebut akan semakin kuat dengan edukasi, aksi dan regulasi yang mendukung. Musibah buah dari umbar kebodohan di hari ulang tahun sebenarnya bisa diantisipasi sebagaimana penyikapan atas berbagai aksi bodoh lainnya, seperti tawuran pelajar, tidak tertib lalu lintas dan coret-coret baju sekolah setelah kelulusan, ataupun perploncoan di masa awal masuk sekolah atau kampus. Namun karena ulang tahun sifatnya personal, perbaikan individu menjadi faktor kunci menjadikan ulang tahun sebagai momentum cerdas dan mencerdaskan. Tak lagi jadi ajang umbar kebodohan, melainkan mengantarkan pada perbaikan dan kebaikan.

Dua hal yang tak terbatas: alam semesta dan kebodohan manusia; tapi saya tidak yakin tentang alam semesta.” (Albert Einstein)