Tag Archives: ikhlash

Dari Niatlah Semua Berawal

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Semua berawal dari niat. Salah satu hadits masyhur tentang niat adalah hadits pertama dalam Hadits Arbain An Nawawi. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab r.a, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah SWT. Berbeda dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia, misalnya karena mengejar wanita. Dalam hadits tersebut amalan yang dicontohkan adalah hijrah. Ada yang berhijrah karena Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia. Setiap amal yang dilakukan seorang muslim harus dilandasi niat yang ikhlas agar amal tersebut diterima. Imam Ahmad dan Imam Syafii mengatakan bahwa hadits di atas mencakup sepertiga ilmu. Selain itu, Imam Syafii juga menambahkan bahwa makna hadits tentang niat ini mencakup 70 bab fiqh. Bahkan tidak sedikit ulama yang mengatakan bahwa hadits di atas merupakan sepertiga bagian dari Islam. Karena itulah setiap orang yang menuntut ilmu wajib meluruskan kembali niat yang dimilikinya.

Suatu amal perbuatan akan diterima Allah SWT ketika niatnya benar dan caranya benar. Saat suatu ibadah atau amalan baik dilakukan karena niat selain Allah, maka ibadah atau amalan tersebut akan tertolak. Termasuk niat yang tidak ikhlas adalah berharap pujian, ketenaran, ataupun harta dunia. Di sisi lain, seseorang yang berniat melakukan amal kebaikan bisa dihitung sudah melakukan kebaikan jika niatnya ikhlas karena Allah. Misalnya saja orang yang berniat shalat malam lalu ketiduran, atau orang yang berniat shalat jamaah kemudian ketika ia sampai masjid jama’ah sudah selesai. Orang tersebut tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang yang telah melakukannya, Insya Allah.

Secara bahasa, niat artinya keinginan atau tujuan. Sedangkan makna secara istilah, niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”. Bagaimanapun, amal perbuatan menyangkut tiga hal, yaitu hati, lisan, dan anggota badan. Sehingga niat dalam hati pun sudah merupakan salah satu dari ketiga hal tersebut. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Siapa saja yang ingin melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Demikian pula ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.”.

Dalam sebuah hadits disebutkan. ‘Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah r.a. berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Berawal dari niat, dan akhirnya pun akan ditentukan oleh niat. Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, niat itu wajib dalam ibadah. Niat merupakan syarat sah suatu ibadah. Sedangkan, dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk mendapatkan keridhaan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diharuskan memakai niat. Misalnya saat seseorang berpuasa di hari Senin, ada beberapa kemungkinan puasa yang dilakukannya. Bisa puasa Senin Kamis, puasa Ayamul Bidh, puasa Daud, membayar hutang puasa, dan sebagainya. Dan puasa apa yang sejatinya orang itu lakukan adalah sesuai dengan apa yang ia niatkan. Kemudian dengan niat pula suatu perbuatan biasa bisa bernilai pahala, misalnya makan, minum, tidur, dan sebagainya. Ketika seseorang meniatkan semua perbuatan tersebut sebagai bentuk ibadah karena Allah SWT, maka perbuatan tersebut akan bernilai ibadah. Karenanya, mari penuhi aktivitas harian kita dengan niat beribadah, senantiasa berhati-hati atas rusaknya niat, dan terus berupaya meluruskan niat karena Allah SWT semata. Dari niatlah semua berawal dan kita akan memperoleh apa yang kita niatkan.

Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Ibnul Mubarak)

Keutamaan Memiliki Rasa Tidak Memiliki

Alif tengah dirundung gundah. Mas Garuda menghilang tanpa jejak paska tragedi WTC 11 September 2001, entah masih hidup atau tidak. Seketika Alif teringat nasihat dari Ustadz Fariz, “Kehilangan memang memilukan. Tapi kehilangan hanya ada ketika kita sudah merasa memiliki. Bagaimana kalau kita tidak pernah merasa memiliki? Dan sebaiknya kita jangan terlalu merasa memiliki. Sebaliknya, kita malah yang harus merasa dimiliki. Oleh Sang Maha Pemilik.

Alif bertanya, “Kenapa tidak boleh merasa memiliki? Bukannya kita diberikan kesempatan di dunia ini untuk memiliki?”. Ustadz Fariz menjawab, “Pada hakikatnya, tidak ada satu pun yang kita miliki. Segalanya di dunia ini hanya pinjaman. Bahkan kita meminjam waktu dan nyawa kepada Yang Kuasa. Hidup, raga, roh, suami, istri, orangtua, anak, keluarga, uang, materi, jabatan, kekuasaan. Semua adalah titipan sementara. Pemilik sebenarnya cuma Dia.

Tapi ustadz, rasa memiliki membuat kita bertanggung jawab dan mencintai…”, Alif terus bertahan, namun jawaban Ustadz Fariz membuatnya tertegun. “Bahkan rasa cinta itu sendiri adalah titipan-Nya… Tentu tidak ada salahnya mencintai dan mengambil tanggung jawab. Tapi kita harus siap dan sadar sepenuhnya, bahwa  Sang Pemilik setiap saat bisa meminta kembali milik-Nya. Karena itu kenapa harus merasa sangat memiliki?” katanya membalas dengan pertanyaan.

* * *

Kisah tersebut terdapat dalam Novel “Rantau 1 Muara” yang ditulis Ahmad Fuadi dan terinspirasi dari kisah nyata. Terlepas dari dialog tersebut benar terjadi atau tidak, cuplikan kisah di atas menjadi salah satu segmen penting yang menguatkan judul novel, tentang muara di atas muara. Semua adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kembali ke yang satu, yang esensial, yang awal. Yaitu menghamba dan mengabdi. Kepada Sang Pencipta.

Dunia ini fana, demikian pula dengan apa yang ada di dalamnya. Dan memiliki sesuatu yang fana pada hakikatnya adalah tidak memiliki apapun. Namun dunia ini sungguh memperdaya, ramai manusia berlomba-lomba mengejar dunia, untuk memilikinya. Kepemilikan terhadap dunia bahkan kerap menjadi ukuran kesuksesan peradaban manusia. Kepemilikan adalah aset, yang dapat menghadirkan kekuasaan, keleluasaan, bahkan dapat membeli kebahagiaan. Orang yang memiliki banyak aset dipersepsikan sebagai orang kaya dan terhormat yang penuh kemudahan, sementara mereka yang tidak memiliki dunia adalah orang miskin yang hina dan sengsara.

Lalu apakah manusia tidak perlu memiliki aset dunia apapun? Persoalan sebenarnya bukan pada jumlah aset yang dimiliki, melainkan bagaimana rasa memiliki –dan rasa tidak memiliki– itu diposisikan. Karena konsepsi kepemilikan hakikatnya erat kaitannya dengan batasan dan kebermanfaatan. Kepemilikan aset dunia yang banyak disertai dengan rasa tidak memiliki aset tersebut justru akan menuai banyak kebermanfaatan. Penempatan rasa tidak memiliki yang tepat justru akan mengarahkan pemiliknya untuk memiliki lebih banyak keutamaan. Ya, semakin memiliki dengan rasa tidak memiliki.

Sebaliknya, penempatan rasa memiliki yang keliru akan menempatkan pemiliknya pada jurang kehancuran. Lihat bagaimana kisah Qorun yang kaya aset namun ditenggelamkan ke dalam bumi. Atau kisah Fir’aun yang merasa memiliki kekuasaan tidak terbatas yang akhirnya ditenggelamkan ke dasar lautan. Rasa memiliki dunia akan mendorong pada kufur nikmat, kesombongan, dan keserakahan. Salah satu indikator dari rasa memiliki yang tidak pada tempatnya ini adalah ketakutan dan kekhawatiran berlebihan akan kehilangan perihal dunia yang dimiliki. Dan ketika benar-benar kehilangan akan menimbulkan depresi dan kesedihan yang mendalam, bahkan tidak jarang berujung pada kerusakan dan kematian.

Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak pernah kehilangan apa-apa.”, begitu pesan Syaikh Siti Jenar ketika membahas tentang zuhud. Dan zuhud bukan berarti hidup miskin tanpa harta, tetapi meninggalkan hal-hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah, termasuk berbagai perkara dunia. Suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah orang kaya bisa menjadi orang yang zuhud?” Beliau menjawab, “Ya, dengan syarat ketika banyak hartanya tidak menjadikannya bangga dan ketika luput darinya dunia dia tidak bersedih hati.”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dikisahkan seseorang datang kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku akan suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya niscaya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia?” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia niscaya manusia mencintaimu”. Abu Dzar r.a. berkata, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”

Rasa tidak memiliki dunia akan memunculkan sifat pemurah, tidak kikir, dan rendah hati karena menyadari bahwa segala sesuatu bukanlah miliknya. Rasa tidak memiliki dunia ini juga akan melahirkan sifat hemat, tulus, dan bertanggung jawab karena memahami semuanya adalah milik Allah SWT yang setiap saat bisa saja diambil Oleh-Nya. Mereka yang menyadari hakikat kepemilikan absolut ada di tangan Allah SWT, akan semakin banyak berbekal dengan iman, amal shalih dan kebermanfaatan bagi orang lain. Mereka sadar lahir ke dunia tidak membawa apapun, begitu pula ketika kembali kepada-Nya. Hanya bekal akhirat yang dikumpulkan selama di dunianyalah yang sejatinya merupakan miliknya.

Orang-orang yang sadar bahwa ada hak orang lain dalam harta mereka akan lebih amanah, peduli dan terus memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Mereka yang sadar bahwa hidup, lingkungan dan organisasi yang mereka tinggali tidak mutlak mereka kuasai akan semakin meyakini pentingnya bermitra, membangun sinergi dan hubungan baik dengan pihak lain. Semakin besar rasa tidak memiliki, semakin banyak pula sikap positif yang dimiliki. Dan kepemilikan terhadap sikap positif akan berbanding lurus terhadap kepemilikan perkara duniawi yang tetap diposisikan sebagai washilah, bukan tujuan. Hidup akan terpenjara dunia dengan merasa punya segalanya. Hidup akan lebih bermakna dengan percaya bahwa dunia seisinya adalah kepunyaan Allah Yang Maha Kaya.

* * *

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

Taushiyah Hari Ini

Pada suatu sholat Jumat, seorang jama’ah membuka dompetnya untuk segera mengisi kotak amal yang telah berada di depannya. Dia berusaha mencari pecahan terkecil di antara pecahan 50 ribuan di dompetnya. Setelah puas menemukannya, ia segera memasukkannya ke dalam kotak amal, setelah itu ia pun berusaha segera akan menggeser kotak amal tersebut.

Tiba-tiba ia dicolek oleh seorang jamaah di belakangnya sambil menyerahkan beberapa lembar 50 ribuan. Segera saja, ia masukkan 50 ribuan tadi ke dalam kotak amal, karena dikiranya demikian niat orang dibelakang tadi dan mengeser kotak amal tersebut ke sampingnya. Namun orang tadi bilang, “Pak, itu tadi uang bapak yg tercecer setelah bapak memasukkan dompet tadi

Ps. ambil sendiri hikmahnya ^_^

Taushiyah Hari Ini

Seseorang melapor kepada Imam Ahmad, “Wahai Imam Ahmad, semalam saya menunaikan sholat malam, saya pun menangis tersedu-sedu. Sehingga rumput yang ada di sekelilingku pun seakan tumbuh karena tangisku…“. Imam Ahmad berkata, “Sungguh, seandainya engkau tertawa terbahak-bahak tapi engkau mengakui dosamu itu lebih baik daripada engkau menangis tersedu-sedu tapi kemudian engkau merasa besar. Sesungguhnya amalan orang yang ujub itu tidak akan pernah naik ke langit
(Sumber: Ighotsatul Lahfan/ Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)

Ketika Dai Meninggalkan Masyarakatnya

“Perumpamaan orang yang berjalan pada batas-batas Allah serta berhasil, laksana suatu yang melayarkan sebuah kapal, maka sebagian atas sebagian lainnya (dari bagian bawah) bila orang-orang yang berada dibagian bawah terkena air mereka berteriak kepada orang diatasnya seraya berkata: “Kalau kami tenggelam itulah nasib kami. Sekiranya orang bagian atas membiarkan mereka serta tidak mau menolongnya lalu tenggelamlah semua. Tetapi kalau mereka menarik tangan-tangan mereka lalu selamat, maka selamatlah semuanya” (HR Bukhari)

* * *

Hening, itu yang penulis rasakan ketika malam Idul Fitri yang lalu, tidak ada takbir, tahlil dan tahmid yang biasanya berkumandang. Pagi harinya, shalat ‘Ied secara sederhana dilakukan di mushalla kecil di sisi bukit yang tampaknya jarang digunakan. Setelah shalat ‘Ied dilakukan, tidak sedikit jama’ah yang baru berdatangan, nampaknya perjalanan mendaki dan menuruni gunung untuk mencapai tempat diselenggarakannya shalat ‘Ied cukup jauh. Khutbahpun disampaikan secara sederhana dan hanya satu khutbah, tidak dua khutbah seperti yang selama ini penulis pahami. Penulis jadi teringat acara syukuran sehari sebelumnya, kala itu masyarakat sekampung berkumpul untuk menyambut kedatangan kami. Acaranya? Penyambutan, berdo’a dan makan – makan! Padahal saat itu masih masuk waktu berpuasa. Dan masyarakat tidak dapat disalahkan karena ketidaktahuan mereka.

Penulis jadi teringat kata-kata Ahmad Fuadi, penulis buku ‘Negeri 5 Menara’. Dalam suatu kesempatan, ia menyampaikan pesan salah seorang gurunya ketika masih tinggal di Pondok Pesantren Gontor bahwa seorang da’i yang hebat bukanlah dia yang sering berceramah di televisi, tetapi seseorang yang istiqomah mengajarkan satu ayat Al Qur’an di suatu desa terpencil di atas bukit. Terasa sekali bahwa negeri ini kekurangan da’i (yang ikhlash). Tanpa sadar para da’i yang ada meninggalkan masyarakatnya demi kepopuleran, kedudukan tinggi di pentas politik dan hal – hal keduniawian lainnya. Jangankan berdakwah di daerah terpencil atau wilayah perbatasan, di masyarakat tempat dia tinggalpun banyak da’i yang tidak dirasakan peran dan manfaatnya. Padahal setiap kita punya kewajiban berdakwah, sesuai kadar kemampuan. “Dan hendaklah ada di antara kamu, segolongan orang yang (tetap) menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang menang” (QS. Ali Imran : 104).

Taklif dakwah memang tidak ringan, namun sikap berdiam diri tetaplah tidak diperkenankan. Sikap membiarkan orang lain bermaksiat hanya akan mendatangkan kerusakan yang lebih besar. “Tidaklah suatu kaum yang orang-orang taatnya lebih banyak daripada pelaku maksiatnya, tetapi mereka membiarkannya, melainkan Allah akan mengadzabnya secara merata” (HR Ahmad dan Baihaqi). Rasulullah SAW pun memberikan peringatan kepada kita, “Hendaklah kalian benar-benar menyuruh perbuatan yang ma’ruf dan benar-benar melarang perbuatan yang munkar, atau (bila tidak kalian lakukan) Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian berkuasa atas kalian semua (yang akibatnya banyak sekali kejahatan dan kemungkaran diperbuatnya) lalu orang-orang yang baik di antara kalian berdoa (agar kejahatan dan kemungkaran itu hilang) maka doa mereka (orang-orang baik itu) tidak diterima” (HR. Al Bazzar dan Ath Thabrani)

Berdakwah mungkin memang melelahkan, namun bukan berarti boleh ditinggalkan. Jangankan kita, para Nabi pun akan diperingatkan Allah SWT jika tidak sabar dalam berdakwah. Ketika penduduk negeri Ninawa tak jua bergeming dari kesesatannya padahal sudah bertahun – tahun dakwah menyapa mereka, Nabi Yunus yang merasa putus asa pun meninggalkan mereka. Dalam perjalanannya di atas kapal, badai datang menerjang. Barang-barang sudah dibuang ke laut tetapi tetap tidak cukup, harus ada penumpang yang dibuang. Undian berkali – kali dilakukan, Nabi Yunus lah yang ditakdirkan untuk keluar dari kapal. Seekor paus besar memakannya, ia pun menyadari kezhalimannya seraya memperbanyak do’a, dzikir dan tawakkal. Allahpun menyelamatkannya, bahkan memberikan hidayah kepada penduduk negeri Ninawa. “Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabb-mu dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (terhadap kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabb-nya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam : 48 – 50)

Berdakwah memang tidak mudah, namun tidak serta merta berarti susah. Seorang penerbang Jerman yang mengerjakan proyek di sebuah desa kecil jauh dari pemukiman di Sudan berkisah bahwa di suatu senja ia didatangi oleh seorang penduduk desa yang berkata, “Hai orang asing, aku siap membantumu”. “Aku tidak membutuhkan bantuanmu”, jawab orang Jerman itu. Namun orang Sudan itu kembali berujar, “Engkau pasti membutuhkan bantuanku dan aku tidak akan meninggalkanmu sampai engkau menerima usulku”. Orang Jerman itu menegaskan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan siapapun namun orang Sudan itu terus memaksanya dan mengajaknya menginap. Orang Sudan itu hanya memiliki satu kamar tidur di rumahnya sehingga ia meminta istrinya untuk menginap di rumah tetangga. Orang Jerman itu diperlakukan seperti seorang tamu kehormatan, semua kebutuhannya dilayani dengan baik, sehingga iapun terheran-heran dan bertanya, “Mengapa engkau melakukan semua ini?”. Orang Sudan itu menjawab, “Aku telah bernadzar kepada Allah SWT untuk mengerjakan kebajikan setiap hari. Aku melihat Anda sebelum matahari terbenam dan tidak seorangpun aku jumpai untuk melaksanakan nadzarku kepada Allah SWT, yakni melakukan kebajikan setiap hari”. Orang Jerman itu takjub dan penasaran apakah agama yang membuat orang Sudan ini berbuat seperti itu. Akhirnya ia mempelajari Islam dan memperoleh hidayah.

Permasalahan ummat memang kompleks mulai dari pendangkalan akidah, pengerdilan syari’ah, dominasi informasi dan budaya asing hingga penindasan dunia Islam. Kita mungkin bukan orang yang berlimpah harta yang dapat membiayai segala kebutuhan masyarakat Islam. Kita mungkin juga bukan orang yang punya kuasa untuk menangkapi dan menghukum para pelaku kezhaliman. Kemampuan kita terbatas, tapi bukan berarti tidak ada sesuatupun yang dapat kita lakukan. Berdakwah tidak harus lewat mimbar, dapat lewat tulisan ataupun sikap dan perbuatan seperti dicontohkan orang Sudan tersebut. Meminjam istilahnya Aa Gym : mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai sekarang juga. Masyarakat tidak akan tercerdaskan dengan sikap acuh. Permasalahan ummatpun terlalu besar untuk ditanggung segelintir orang. Keterlibatan setiap orang dalam berbuat baik dan menyampaikan kebaikan akan menimbulkan efek bola salju sehingga Islam dapat menyentuh setiap penjuru di muka bumi ini.

* * *

“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang muslim”
(QS. Al-Fushilat: 33)

“Siapa saja yang menyeru manusia kepada petunjuk (Islam),dia pasti akan dapat pahala yang diperoleh orang yang mengikuti petunjuk itu tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya.”
(HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Wallahu a’lam bi shawwab
-dibuatsaatrehatsepulangdariyogyasebelumbertolakkekalsel-

KepadaMu Kutitip Cinta (4/6)

Pagi ini matahari agak suram, tertutup awan mendung yang tebal. Cuasa terasa agak menusuk tulang. Angin pun terasa kurang bersahabat. Aku mempercepat langkahku, menapaki rumput yang basah oleh hujan tadi malam. Munashoroh ‘Peduli Ambon’ dimulai sekitar setengah jam lagi. Ambon. Pikiranku kembali melayang kepada Taufik. Entah mengapa, pikiran tentangnya selalu berputar-putar di kepalaku. Aku takut, jangan-jangan ‘virus hati’ itu sudah menyebar jauh. Padahal aku sudah menghindarinya. Sungguh! Sudah 37 menit acara berjalan, namun pikiranku terus melayang kepada kejadian sore itu bersama Taufik. Yang terus kuingat dari obrolanku berdua dengan Taufik saat itu adalah kata-kata konyolku sendiri yang menyuruhnya untuk pergi ke Ambon. Tapi siapa yang menyangka dia akan menuruti kata-kataku?

Kesan yang ada, Taufik pergi hanya untuk menghindari masalah, bukan dengan keikhlashan hati. Itu yang sangat kusayangkan. Padahal jika memang dia punya masalah yang cukup berat, kan bisa saja dia minta bantuan kepada seseorang yang bisa dipercaya. Atau paling tidak, istikharah, dan menyerahkan penyelesaiannya hanya kepada Allah. Bukan dengan melarikan diri begitu. Aku menarik napas panjang. “Allah… berikan dia petunjukMu seandainya dia masih hidup. Tapi… apa mungkin?”, aku menggumam pelan di sela-sela acara yang sedang berlangsung. Hei! Kenapa aku terus memikirkannya?

“Ikhwah fillah, rasa kemanusiaan sepertinya sudah tak ada lagi disana. Hati nurani mereka telah mati. Mereka bantai saudara-saudara kita dengan biadab. Tak peduli apakah itu anak-anak atau wanita jompo. Semuanya… dibantai habis”, suara Pak Yusuf membuyarkan lamunanku. Hening sejenak. Kucoba untuk memfokuskan pikiranku kedepan sana. Kurasakan mataku mulai memanas. Tenggorokanku tercekat.

“Saya sendiri, beruntung bisa ada di hadapan kalian semua, walaupun rintangan yang saya hadapi cukup berat bagi saya. Alhamdulillah, saya masih sempat memulangkan anak istri saya ke Makasar. Seminggu di pengungsian rasanya seperti setahun, tanpa makanan yang tersisa. Kami hanya makan daun-daunan muda yang ada di sekitar kami. Ingin rasanya saya menangis… sewaktu anak saya merengek meminta roti yang dimakan TNI. Namun…”, Pak Yusuf, sang saksi mata, mengusap matanya. Ia terisak. “Namun sayang, ibu mertua saya… tidak dapat saya selamatkan. Beliau…”, kalimatnya menggantung. Tenggorokannya basah. Dalam suaranya yang sedih, tersimpan ketegaran para mujahidin di medan jihad.

“Ibu mertua saya… Alhamdulillah syahid… dengan leher tergantung dan isi perutnya yang berantakan… Fotonya bisa kalian lihat di luar sana”. Ia menghentikan kalimatnya untuk meneguk air putih yang disediakan panitia. Napasnya tersengal. Ya, aku bisa merasakannya. “Saya juga menyaksikan seorang tertara berikat kepala merah menyembelih leher tetangga kami yang berusaha memberikan perlawanan. Setelah disembelih, tubuhnya dipotong dan dicincang-cincang tidak karuan, kemudian dimasukkan ke dalam karung bersama daging-daging yang lain”. Kali ini kalimatnya meninggi menandakan emosinya yang kian meluap, menyimpan luka yang cukup dalam. Nadanya menyimpan amarah.

Air mataku yang kian menggantung akhirnya kini jatuh satu-satu. Kutengok Elfi yang sudah menangis sejak tadi. Pikiranku kembali ke Taufik, dan terus ke Taufik. Hatiku masih basah. Dukaku juga masih dalam. Bagaimana dengan dia? Bagaimana keadaannya? Air mataku terus mengalir seiring cerita Pak Yusuf yang kian menggemaskan dan memancing emosi.

“Namun ada banyak hal yang akan membuat kalian mengucapkan takbir”, dengan suara yang pelan ia melanjutkan ceritanya. Kali ini tidak dengan terisak. Wajahnya tersenyum. “Diantaranya, panah-panah api yang diluncurkan ke arah kami padam dengan sendirinya, kemudian panah-panah itu jatuh ke tanah tak berdaya setelah berada sekitar 3 meter dari kami. Setelah itu mereka berbalik dan lari tunggang langgang, seperti ada satu kekuatan yang membungkus dan melindungi kami. Dan kami yakin, Allah telah menurunkan bala tentaraNya seperti Allah telah menurunkan ‘burung Ababil’ untuk melindungi ka’bah!!”. “Allaaahu akbaaaaaaaar!!!”, teriak beberapa ikhwan dari baris belakang diikuti dengan yang lainnya. Lantang.

Allah… air mata ini semakin deras. Semoga Taufik memang benar-benar masuk dalam jajaran para syuhada. Elfi tergugu, begitu pula aku. Akhwat didepanku, di sebelahnya, juga di belakangku tak mampu mengangkat kepalanya. Semuanya kulihat tertunduk. Ingatanku kembali ke foto-foto yang terpampang di luar gedung. Seorang nenek yang mati tergantung dengan tali melilit di lehernya dan dengan usus yang memburai, seorang anak dengan kakinya yang membusuk, sesosok tubuh yang hangus terbakar, bayi dengan tubuh berantakan, dan masih banyak lagi pemandangan yang membuat perutku mual. Allah… bagaimana aku bisa enak-enakan hidup dengan pemandangan seperti itu? Apa yang bisa kami lakukan? Aku iri kepada mereka para wanita yang syahid. Wangi syurga untuk mereka seakan tercium olehku. Adakah Taufik disana? Taufik yang syahid. Taufik yang… Taufik. Ah… lagi-lagi…… !

Kupandangi buku ‘Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu’ Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Kemudian pandanganku kulayangkan ke taman di samping masjid. Pikiranku menerawang jauh. Jauuuh sekali. Aku mencoba meraba hatiku yang paling dalam. Mungkinkah kutemukan virus itu? Kucoba mencarinya di dasar hatiku. Dapat! Oh Allah. Ya, aku merasakannya! Virus itu… semakin menjalar! Tidak! Aku harus memusnahkannya. Harus! Aku tidak boleh terus membiarkannya bermain di taman hatiku yang indah. Lagipula kan Taufik sudah…

Tiba-tiba aku menangkap sesosok bayangan yang sudah aku kenal melintas dari arah luar jendela sebelah utara, berlari di tengah gerimis. Ah, mungkin pandanganku yang salah. Aku terlalu terbawa perasaan. “Avi…”, Elfi mencolek lenganku. Matanya tertuju ke luar sana, jendela sebelah barat. “Apakah itu… Taufik?”, ucap Elfi pelan. Tak kusangka Elfi juga melihatnya. Taufik?! Ya, itu Taufik! Tapi… Tidak mungkin! … tapi…

Kau harus mengejarnya, Avi!”, seru suara dalam hatiku. “Untuk apa?”, tanyaku heran. “Ini untuk hatimu, bukankah kau merasakannya…?”. Aku berpikir sejenak. “Haruskah?”. “Ya, kapan lagi kau akan bertemu dengannya? Selagi dia ada disini”. Aku diliputi rasa bimbang. Benar kata suara hatiku. Aku memang merindukannya. Dan kini aku tinggal menghampirinya selagi ia berada disini sebelum dia menghilang lagi. Ya, aku harus menghampirinya. Tapi… apa alasanku?

“Bukankah kamu sekertarisnya? Kamu bisa saja menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya”. Aku terdiam. Acara munashoroh yang sedang berlangsung sudah tidak kuhiraukan. Konsentrasiku buyar. Yang terpikir saat ini bagaimana caranya agar aku bisa menemui Taufik diluar sana. Pandanganku tak lepas dari jendela itu. “Ayo tunggu apa lagi?”, tegur suara hatiku lagi.

Akhirnya aku memutuskan untuk keluar menghampiri Taufik. Kucolek lengan Elfi. “Fi, aku keluar sebentar ya…”. Aku berpamitan sejenak pada Elfi dan kemudian beranjak dari dudukku menuju taman mesjid dimana Taufik berada. Aku mempercepat langkahku. Namun langkahku berhenti disaat bayangan Taufik tinggal beberapa meter lagi dari hadapanku. Aku ragu. Apakah aku sanggup berbicara atau tidak. Mengapa?. “Ayo, tinggal beberapa langkah lagi!”. Virus itu telah benar-benar menguasai hatiku. Ah… langkahku terasa berat.

Aku menoleh ke kanan, ke kiri dan ke belakang, takut-takut ada orang yang memperhatikan sikapku saat ini. Kugerakkan kakiku selangkah demi selangkah. Namun langkahku kembali terhenti. Jantungku berdegup kencang. Tanganku dingin. Aka tidak sanggup mendekatinya. Aku semestinya malu. Kupandangi bayangan punggung Taufik dari tempat aku berdiri. Ya, aku kini tepat berada 3 meter dari belakangnya. Kulihat bayangan Taufik begitu bercahaya saat tertimpa sinar kilat yang berkelebat. Aku termangu, tiba-tiba… CETTHAAARRRR!!! Suara petir yang menggelegar mengagetkanku. Pada saat itu pula Taufik menoleh tepat ke arahku dan ah… dia tersenyum. Aku gemetar, tak tahu harus berbuat apa. Aku…

“Avi… Avi… sudah subuh”, suara Mbak Rina diiringi suara ketukan pintu kamar membangunkanku dari tidur yang terasa sangat melelahkan. “Astaghfirullah…, ya Mbak..”, aku menggeliat. Kupandangi sekeliling kamarku. Ah… ternyata aku memang tertidur diatas sajadah berselimutkan sarung dan mukena, seperti dalam mimpiku. Mimpi… ? “Astaghfirullah… rupanya aku tertidur setelah shalat malam tadi. Jadi aku hanya bermimpi?”. Aku menggumam sendiri. Kurasakan mataku agak sembab. “Kenapa mimpiku ini begitu nyata? Pak Yusuf? Foto-foto berdarah? Munashoroh Ambon? Dan… Taufik?”, aku termangu. Tatapanku kosong menembus langit-langit kamar. “Bodohnya aku”, kutepuk kepalaku. “Tidak ada munashoroh Ambon! Tak ada Pak Yusuf! Tak ada foto-foto itu! Tapi Taufik… kenapa ia begitu nyata?”. Aku merenung. Tatapanku kosong . “Avi… sudah bangun?”, kembali suara Mbak Rina memanggil. “Ya Mbak…”. Aku berusaha bangkit dari tidurku dan bergegar mengambil air wudhu. Pukul 5.15. Telat lagi!!

Karena Engkau Begitu Berharga

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu Diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At-Taubah : 105)

* * *

Pada suatu musim semi, Ibnu Jad’an melihat unta miliknya tumbuh besar dan susunya siap diperah, diapun berujar, “Demi Allah, saya akan sedekahkan unta betina ini beserta anaknya kepada tetanggaku sebab Allah SWT berfirman : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS. Ali Imron : 92). Sungguh barang yang paling aku cintai adalah unta betina ini”. Lalu iapun membawa unta betina tersebut beserta anaknya kepada tetangganya sambil berkata, “Ambillah sebagai hadiah dariku untukmu”. Tetangganyapun tampak sangat bahagia menerima sesuatu yang sangat berharga tersebut.

Musim semi selesai, tibalah musim kemarau yang kering dan panas. Ibnu Jad’an dan ketiga anaknya berjalan untuk mencari ad-duhul (lubang dalam tanah yang menyambung dengan sumber air yang memiliki mulut di