Tag Archives: islamophobia

Sepakbola Eropa Tanpa Muslim (2/2)

Pesepakbola muslim di Liga Italia (Serie A) sebagiannya diisi pemain berpengalaman di liga lain. Misalnya Franck Ribery (Fiorentina) yang sudah memenangkan semua piala yang mungkin didapat ketika memperkuat Bayern Munchen. Edin Dzeko (AS Roma) pernah meraih gelar Bundesliga bersama Wolfsburg dan dua kali juara Premier League bersama Manchester City. Brahim Diaz (AC Milan) pernah juara Premier League 2017/2018 bersama Manchester City dan juara La Liga 2019/2020 bersama Real Madrid. Henrikh Mkhtariyan (AS Roma) pernah juara Liga Armenia (4 kali), juara Liga Ukraina (3 kali) dan juara Liga Eropa bersama Manchester United. Tiemoue Bakayoko (Napoli) pernah juara Ligue 1 bersama AS Monaco dan juara piala FA bersama Chelsea. Nama-nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Serie A di antaranya Calhanoglu dan Bennacer (AC Milan); Mert Muldur, Kaan Ayhan, Mehdi Bourabia, dan Hamed Jr. Traore (Sassuolo); Merih Demiral (Juventus); Berat Djimsiti (Atalanta); Kalidou Koulibaly, Elseid Hysad, dan Ghoulam (Napoli); Hakimi dan Handanovic (Inter Milan); Koray Gunter dan Mert Cetin (Verona); Amadou Diawara (AS Roma); Keita Balde, Omar Colley dan Mehdi Leris (Sampdoria); Fares dan Strakosha (Lazio); Sofyan Amrabat (Fiorentina); Adam Ounas (Cagliari); Barrow dan Mbaye (Bologna); Gervinho (Parma); Valon Behrami (Genoa); Amer Gojak (Torino); Mamadou Coulibaly (Udinese); dan Ahmad Benali (Crotone).

Perancis, negara yang dipimpin Presiden Macron, menyumbang banyak nama-nama pesepakbola muslim. Liga Perancis (Ligue 1) sering menjadi tempat dimana bakat para pesepakbola muslim ditemukan. Di skuad PSG sebagai juara Ligue 1 tiga muslim terakhir, ada sejumlah pemain muslim di antaranya Idrissa Gueye dan Abdou Diallo. Diallo masih berseragam AS Monaco ketika menjadi juara Ligue 1 2016/2017 bersama dengan banyak pesepakbola muslim lainnya seperti Toure, Bakayoko, Mendy, Traore, Nabil Dirar dan Djibril Sidibe. Sidibe masih bertahan di AS Monaco bersama pemain muslim lainnya termasuk Ben Yedder yang menjadi top skor Ligue 1 musim lalu bersama Mbappe. Nama-nama pemain muslim lainnya yang masih aktif bermain di Ligue 1 di antaranya Zeki Celik, Burak Yilmaz, Yusuf Yazici, dan Boubakary Soumare (Lille); Nayef Aguerd, Hamari Traore, dan M’Baye Niang (Rennes); Boubacar Kamara, Saif-Eddine Khaoui, dan Pape Gueye (Marseille); Amine Gouiri, Hassane Kamara, Boudaoui, dan Youcef Atal (Nice); Aouar, Ekambi, Benlamri, dan Moussa Dembele (Lyon); Niane, Boulaya, Kouyate, Bronn, Fofana, dan Maziz (Metz); Oumar Doucoure, Sylla, Haidara, dan Seko Fofana (Lens); Boufal, Thioub, Ismael Traore, El Melali, Abdoulaye Bamba, Coulibaly, Amadou, Ali-Cho, dan Alioui (Angers); Ben Arfa, Yacine Adli, Sabaly, dan Zerkane (Bordeaux); Wahbi Khazri, dan Abdoulaye Sidibe (Saint Etienne); Haris Belkebla (Brest); Abdelhamid, Berisha, El Bilal Toure, Zeneli, dan Drammeh (Reims); Umut Bozok (Lorient); Lafont, Abeid, Louza, Abdoul Kader Bamba, Abdoulaye Toure, dan Kalifa Coulibaly (Nantes); Ferhat, Duljevic, dan Benrahou (Nimes); Habib Diallo, Simakan, Ibrahima Sissoko, Lamine Kone, Idriss Saadi, dan Majeed Waris (Strasbourg); Chafik, Ngouyamsa Nounchil, dan Moussa Konate (Dijon).

Terlihat banyak bukan, pesepakbola muslim yang aktif bermain di lima liga terbaik Eropa? Nyatanya, belum semua nama tertulis disana, masih ada puluhan nama lain. Atau bahkan ratusan nama lagi jika kita sertakan liga-liga lain di Eropa. Secara kuantitas, keberadaan pemain muslim ini jelas akan memberikan dampak terhadap persepakbolaan di Eropa. Bagaimana dengan kualitas? Indikatornya tentu tidak mudah, apalagi ada ratusan nama. Kalau kita jadikan Liga Champions musim ini sebagai kompetisi tingkat tertinggi di level Eropa, kita akan mendapati pesepakbola muslim disana. Di posisi kiper ada Mendy (Chelsea) dengan 3 cleansheet (CS), dengan cadangan Bounou (Sevilla) yang belum pernah kalah (2 CS) dan Handanovic (Inter – 1 CS). Dengan formasi 3-5-2, di posisi bek kiri ada Bansebaini (Monchengladbach – 1 CS) yang sudah mencetak 2 gol (GS), Zouma (Chelsea – 3 CS) di tengah, dan bek kanan Djimsiti (Atalanta – 1 CS). Sebagai bek cadangan ada Rudiger (Chelsea – 1 CS), Hakimi (Inter – 1 CS), Mazraoui (Ajax), Aguerd (Rennes), dan Mendy (Madrid). Di posisi gelandang bertahan ada Gundogan (Man. City – 2 GS – 2 CS) dan Pogba (Man. United – 2 assist (AS) & 1 CS). Di posisi gelandang serang ada Salah (Liverpool – 2 GS, 1 AS, 3 CS) di kanan, Ziyech (Chelsea – 1 GS & 3 CS) di tengah, dan Mane (Liverpool – 1 GS, 1 AS & 3 CS) di kanan. Sebagai cadangan ada Visca (Basaksehir – 1 GS & 1 AS), Kante (Chelsea – 3 CS), Pjanic (Barcelona – 1 CS), dan Fares (Lazio). Di posisi striker ada Thuram (Monchengladbach – 2 GS & 2 AS) dan Dembele (Barcelona – 2 GS & 1 AS). Cadangan striker ada En Nesyri (Sevilla – 2 GS), Benzema (Madrid – 2 GS), Marega (Porto – 1 GS & 1 AS), dan Berisha (Salzburg – 1 GS & 1 AS). Jika Liga Eropa dibuatkan seperti ini juga pasti kita akan mendapati banyak pemain muslim disana. Ada 48 klub yang bermain dari negara yang lebih beragam. Saat ini, top skor sementara Liga Eropa adalah pesepakbola muslim, Yusuf Yazici (Lille – 6 GS). Di bawahnya ada beberapa pemain yang telah mencetak 4 gol, di antaranya pemain muslim, Munas Dabbur (Hoffenheim).

Banyak masyarakat yang lebih tertarik dengan sepakbola daripada politik, barangkali karena bisa menghibur tanpa menyakiti. Dalam sejarah manusia, para politisi non-muslim lah yang banyak mewarnai kehancuran peradaban manusia. Pun demikian dalam sejarah dunia kemanusiaan, para pemimpin non-muslimlah yang paling banyak mengalirkan darah rakyatnya. Karenanya, stigma terorisme yang dilekatkan pada Islam tidaklah beralasan. Apalagi dalam dunia persepakbolaan, banyak pemain muslim yang menghibur dan menorehkan prestasi tanpa mengumbar kebencian dan permusuhan. Sudah saatnya Bangsa Barat yang (konon) lebih rasional dalam berpikir, bisa lebih bijaksana dalam bersikap dan mengeluarkan statement. Kedamaian dunia tidaklah hadir dari menebar kebencian, apalagi terus berprasangka buruk dan mengkambinghitamkan orang lain. Para pejabat dan politisi sepertinya perlu belajar respect dari dunia sepakbola. Bagaimana kekerasan dan rasisme akan berbuah hukuman. Bagaimana performa lebih diutamakan di atas pertimbangan yang berbau SARA. Dan akhirnya, sepakbola Eropa tanpa Muslim akan jauh tertinggal, sebagaimana dunia tanpa Islam akan jatuh pada kegelapan.

Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan sepak bola. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan dan saya menemukan Islam” (Franck Ribery)

Sepakbola Eropa Tanpa Muslim (1/2)

I don’t have tattoos, I don’t change hairstyles, I don’t know how to dance. I just want to play football.” (Mo Salah)

Guys, who’s the most important for the French people? The teacher Samuel Paty who lost his life teaching knowledge to the kids. Or a millionaire football player Paul Pogba?”, demikian kicau akun ‘Angry Smurf’ di status twitter miliknya beberapa hari lalu seraya memention ‘The Sun Football’, media Inggris yang sempat menyebar hoax tentang mundurnya Paul Pogba dari timnas Perancis akibat komentar Presiden Macron yang dinilai menghina Islam. Twit tersebut sudah dihapus, namun jejak hasil polingnya masih bisa dilihat. Sebanyak 71,4% responden memilih Paul Pogba, dan hanya 28,6% dari lebih 12 ribu responden yang memilih Samuel Paty, guru yang disebut Presiden Perancis, Emmanuel Macron, sebagai pahlawan. Dalam kolom komentar, meski aksi terorisme banyak dikecam, tidak sedikit pula yang justru menyalahkan guru Paty yang dianggap turut menyebarkan kebencian.

Kontroversi pernyataan Presiden Macron sepertinya perlu pembahasan tersendiri, apalagi tidak sedikit negara di Eropa yang ‘tidak ramah’ dengan imigran muslim. Namun mendapati dukungan terhadap pesepakbola di atas kasus politik yang terjadi mengisyaratkan betapa banyak orang yang lebih mencintai sepak bola dibandingkan mereka yang membenci Islam. Misalnya ketika Mesut Ozil mundur dari timnas Jerman dua tahun lalu akibat diskriminasi, banyak pihak yang mendukungnya. Pun demikian ketika Ozil harus dicoret dari skuat Arsenal karena mendukung muslim Uighur. Dicoretnya Franck Ribery, Hatem Ben Arfa, Mamadou Sakho, Samir Nasri hingga Karim Benzema dari timnas Perancis yang dianggap tak lepas dari isu rasisme pun memperoleh banyak sorotan. Perancis mungkin lupa bahwa imigran muslim telah menghuni timnas Perancis sejak tahun 1936 dan sebagian besar skuad timnasnya saat ini adalah warga keturunan.

Sumbangsih ilmuwan muslim terhadap dunia sudah banyak yang mengupasnya, mulai dari Ibnu Sina (Bapak Kedokteran Modern), Al Zahrawi (Bapak Ilmu Bedah Modern), Ibnul Haytham (Bapak Optik Modern), hingga Al Khawarizmi (Bapak Aljabar, penemu angka nol). Lantas bagaimana kiprah pemain sepakbola muslim dalam sepakbola modern? Ali Daei, pemegang rekor gol terbanyak untuk timnas (109 gol) adalah seorang muslim. Karena sedemikian banyaknya pesepakbola muslim di dunia, pembahasan kali ini akan fokus pada pesepakbola muslim yang masih aktif bermain di lima liga top eropa. Jadi nama-nama pesepakbola muslim seperti Zinedine Zidane, Frederick Kanoute, Nicolas Anelka, Eric Abidal, Yaya Toure, Kolo Toure, hingga Thierry Henry tak masuk hitungan.

Mulai dari Liga Inggris, ada empat pesepakbola muslim yang mengantarkan Liverpool menjadi juara Liga Champions 2018/2019 dan juara Liga Inggris 2019/2020. Naby Keita dan Xherdan Shaqiri barangkali hanya pemain pelapis. Namun Mohamed Salah dan Sadio Mane punya peran vital di Liverpool beberapa musim terakhir. Tanpa mereka Liverpool akan memperpanjang puasa gelar. Salah menjadi topskor Liverpool di Liga Champions 2018/2019 dengan 5 gol dan 2 assist, diikuti Mane dengan 4 gol dan 1 assist. Keita mencetak 1 gol, Shaqiri 2 assist. Di Liga Inggris 2019/2020, Salah mencetak 19 gol dan 10 assist, Mane 18 gol dan 7 assist, Keita 2 gol dan 3 assist, dan Shaqiri 1 gol. Musim ini pun Salah dan Mane masih tak tergantikan sebagai top skor klub. Manchester City selaku juara Liga Inggris 2018-2019, juara piala FA 2019, dan juara Piala Liga 2018-2020 mencatatkan setidaknya tiga pemain muslimnya. Benjamin Mendy di posisi bek, Ilkay Gundogan di posisi gelandang bertahan, dan Riyad Mahrez di posisi gelandang serang. Riyad Mahrez juga berperan penting mengantarkan Leicester City menjadi juara Liga Inggris 2015/2016 bersama pemain muslim lainnya, N’Golo Kante. Musim 2016/2017, Kante pindah ke Chelsea dan bersama bek muslim, Kurt Zouma berperan mengantarkan Chelsea menjadi juara Liga Inggris 2016/2017, juara piala FA 2017/2018, dan juara Piala Eropa 2018/2019. Dalam skuad Manchester United yang menjuarai Liga Eropa 2016/2017 tercatat nama pemain muslim seperti Paul Pogba, Marouane Fellaini, dan Henrikh Mkhitaryan. Sementara dalam skuad Arsenal yang menjuarai Piala FA 2019/2020 lalu ada nama pemain muslim seperti Mesut Ozil, Granit Xhaka, Shkodran Mustafi, dan Sead Kolasinac. Selain itu masih ada puluhan pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Liga Inggris, di antaranya Elneny (Arsenal); El Ghazi, El Mohamedy, Bertrand Traore dan Trezeguet (Aston Villa); Jahanbakhsh dan Tariq Lamptey (Brighton); Edouard Mendy, Rudiger dan Ziyech (Chelsea); Ayew, Kouyate dan Sakho (Crystal Palace); Doucoure dan Tosun (Everton); Kamara (Fulham); Choudhury, Nampalys Mendy, Slimani, Soyuncu, dan Under (Leicester); Djenepo (Southampton); Aurier dan Sissoko (Spurs); Ivanovic (West Brom); Said Benrahma dan Issa Diop (West Ham); serta Romain Saiss dan Adama Traore (Wolves).

Di Liga Spanyol yang klub besarnya lebih terbatas, pesepakbola muslim barangkali tidak sebanyak di Liga Inggris. Ada nama Karim Benzema yang bersama Real Madrid berhasil tiga kali menjuarai La Liga termasuk musim 2019/2020, dan empat kali juara Liga Champions termasuk juara beruntun tahun 2016-2018. Torehan 254 golnya bersama Real Madrid menunjukkan kontribusi besarnya. Sebelumnya, torehan 66 golnya berhasil mengantarkan Lyon menjuarai Ligue 1 empat musim beruntun (2004-2008). Pemain muslim lainnya di skuad Real Madrid ada Eden Hazard dan Ferland Mendy. Di klub rival, ada Miralem Pjanic dan Ousmane Dembele, pesepakbola muslim yang berseragam Barcelona. Kala terakhir menjuarai Liga Champions 2014/2015, dalam skuad Barcelona ada nama Munir El Haddadi, pesepakbola muslim yang saat ini bermain bersama Sevilla. Setelah mendapat tiga gelar La Liga bersama Barcelona, Munir berhasil menjuarai Liga Eropa 2019/2020 berseragam Sevilla bersama pesepakbola muslim lainnya, kiper Yassine Bounou dan striker Youssef En-Nesyri. Selain itu, juga masih ada nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di La Liga, di antaranya Januzaj (Real Sociedad); Nabil Fekir dan Aissa Mandi (Real Betis); Abdoulay Diaby dan Enes Unal (Getafe); Kone (Elche); Kondogbia dan Diakhaby (Valencia); Mahmoud (Deportivo); Papakouli Diop (Eibar); Yokuslu dan Emre Mor (Celta Vigo); Bardhi (Levante); dan El Yamiq (Real Valladolid).

Di Liga Jerman, pesepakbola muslim terbilang banyak, namun tidak setenar nama-nama di Liga Inggris. Di skuad Bayern Munchen, ada rekrutan baru bek muslim Bouna Sarr. Di skuad Borussia Dortmund, ada Emre Can dan Mahmoud Dahoud yang beragama Islam. Sementara di skuad Leipzig ada Amadou Haidara, Yussuf Poulsen, Dayot Upamecano, dan Ibrahima Konate. Nama-nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Bundesliga di antaranya Demirbay, Moussa Diaby, Amiri, dan Bellarabi (Leverkusen); Thuram, Bansebaini dan Ibrahima Traore (Monchengladbach); Rani Khedira (Augsburg); Al Ghoddioui (Stuttgart); Omer Toprak (Werder Bremen); Amin Younes, Aymen Barkok, dan Almamy Toure (Eintracht Frankfurt); Admir Mahmedi dan Yunus Malli (Wolfsburg); Bicakcic, Belfodil, Dabbur, dan Kasim Nuhu Adams (Hoffenheim); Amir Abrashi (Freiburg); Ellyes Skhiri dan Salih Ozcan (Koln); Amine Harit, Salif Sane, Nassim Boujellab, Suat Serdar, Vedad Ibisevic, Nabil Bentaleb, Ahmed Kutucu, Ozan Kabak, dan Hamza Mendyl (Schalke); serta Oztunali dan Niakhate (Meinz).

(bersambung)