Tag Archives: keberanian

Siapa Berani Ambil Tangung Jawab?

There are risks and costs to action. But they are far less than the long-range risks of comfortable inaction” (John F. Kennedy)

Beberapa waktu lalu saya membaca manga tentang sepakbola berjudul ‘Blue Lock’ yang menceritakan upaya Asosiasi Sepakbola Jepang (JFA) dalam mencetak striker haus gol. Berbeda dengan manga bergenre olahraga lainnya yang banyak menonjolkan tentang kerja sama tim, ‘blue lock’ justru mengajarkan bahwa striker sejati harus memiliki ego yang tinggi untuk mencetak gol. Kualitas seorang striker ditentukan oleh jumlah gol yang bisa dicetaknya, sepragmatis itu. Ketidakberanian menembak ke arah gawang ketika ada ruang tembak, dan memilih untuk mengoper ke rekan dianggap sebagai bentuk kelemahan. Cari aman. Jika rekannya bisa mencetak gol, dia akan dipuji karena tidak egois. Ketika gagal berbuah gol, dia tidak disalahkan. Padahal bentuk ketidakegoisan seorang striker adalah dengan keberanian mengambil peluang (sekaligus risiko) untuk terus mencetak gol. Dan rekan setimnya harus memahami posisi itu.

Dalam realitanya, memang banyak didapati sikap egois yang dimiliki para pemain bintang di posisi penyerang. Mulai dari menolak untuk diganti, memilih menembak bola ke gawang dibandingkan mengoper, memarahi rekan setim yang tidak memberinya bola, mengambil alih tendangan set piece, hingga tidak membantu pertahanan. Sikap malas ataupun kebanyakan gaya tidak masuk hitungan, sebab konteksnya adalah sikap yang menunjukkan ego tinggi dalam memperbesar peluang mencetak gol. Dan ego itulah yang menunjukkan gairah dan semangat untuk terus menjadi yang terbaik. Pentingnya kolektivitas tim dalam permainan sepakbola adalah satu hal, namun melihat sosok pemain yang tidak pernah puas dalam melampaui rekor demi rekor adalah sesuatu yang lain. Butuh ego, ‘keserakahan’, dan keberanian untuk dapat melakukannya.

Dalam konteks organisasi yang lebih luas, konteks ego yang seperti ini juga diperlukan oleh sosok pemimpin. Sebagai ‘ujung tombak’ suatu organisasi, pemimpin diharapkan berani mengambil tanggung jawab, bukan lantas melemparnya ke orang lain. Memang ada yang namanya mendelegasikan dan memberikan kepercayaan pada orang lain, namun itu berbeda dengan lempar tanggung jawab. Sosok pemimpin harus berani mengambil keputusan yang paling tidak populer sekalipun jika memang itu keputusan yang perlu diambil. Dan pemimpin sejati akan berdiri paling depan dalam mempertanggungjawabkan keputusannya. Keputusan yang diambil karena pemahaman dan kesadaran yang utuh. Keputusan yang bisa jadi penuh dengan risiko.

Keberanian untuk mengambil risiko menjadi modal penting untuk menjadi pemimpin. Kebijakan yang diambil bisa jadi tidak menyenangkan semua orang, bagaimanapun keputusan tetap harus dilakukan. Tidak malah menggantung sikap hanya karena ketidakberanian dalam menghadapi risiko kepemimpinan. Apalagi melarikan diri dari tanggung jawab dengan dalih apapun. Atau lepas tanggung jawab dengan alasan apapun. Menjadikan orang lain sebagai ‘tameng’ atas pilihan sikap juga tidak menunjukkan kebesaran jiwa seorang pemimpin. Termasuk memilih untuk tidak bersikap. Menunggu arah angin berhembus. Pragmatis dan oportunis.

Keputusan yang diambil belum tentu tepat, namun berani mengambil tanggung jawab atas sebuah keputusan yang diambil melalui pertimbangan yang mendalam akan jauh lebih baik dibandingkan ‘cuci tangan’ atas keputusan yang belum tentu salah. Cari aman. Seakan anggota organisasi tidak dapat menilai modus tersebut. Padahal setiap kebijakan akan ada konsekuensinya, dan setiap pilihan akan ada risikonya. Para pemimpin sejati memiliki keberanian dalam menghadapi konsekuensi dan risiko tersebut, sebab berani memimpin berarti berani untuk menderita. Leiden is lijden. Terus menjadi sorotan apapun sikap yang dipilih. Bahkan senantiasa dikritisi.

The biggest risk is not taking any risk”, demikian ungkap Mark Zuckerberg. Harus ada yang ambil risiko shooting ke gawang walaupun belum tentu gol, sebab saling oper –secantik apapun—takkan berbuah kemenangan. Tidak cukup hanya bermain aman untuk meraih kemenangan. Harus ada yang mengambil risiko kepemimpinan sepelik apapun kondisinya agar arah perubahan lebih terang benderang. Jika kualitas striker dihitung dari jumlah golnya, maka kualitas seorang pemimpin dinilai dari seberapa besar keputusan yang diambilnya mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Dan jalan perjuangan seorang pemimpin selalu menuntut keberanian dalam mengambil tanggung jawab. Bukan mencari berjuta pembenaran untuk lari dari tanggung jawab.

Leadership is taking responsibility while others are making excuses” (John C. Maxwell)

Menikmati Kritik Gurih dan Renyah

“Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran” (Corrie Ten Boom)

Senang dipuji dan tidak suka dikritik sudah menjadi salah satu tabiat manusia. Jangankan pejabat negara yang dengan kekuasaannya dapat ‘membungkam’ para pengritiknya, anak kecil pun akan menunjukkan ketidaknyamanan ketika ada yang mengungkapkan kesalahannya. Sebaliknya, pujian begitu mudah membuat orang tersenyum sumringah dengan mata berbinar – binar, bahkan tidak jarang membuat orang tersebut menuruti keinginan ataupun memberikan sesuatu kepada yang memujinya. Padahal pujian bisa melenakan bahkan menjatuhkan. Pujian kadang juga menunjukkan kemunafikan, membangun budaya bermuka dua. Dalam konteks keikhlasan, pujian juga menjadi ujian berat yang dapat merusak pahala.

Sama-sama dapat menjatuhkan, kritik lebih sulit untuk diterima. Padahal mengungkapkan kritikan lebih mudah daripada menyampaikan pujian. Nafsu memang tidak mudah untuk ditundukkan. Kekurangan seseorang dapat mudah kita komentari, sementara jika kita sendiri yang menjalani juga belum tentu bisa lebih baik. Dan mengritik jelas lebih mudah daripada menerima kritik. Ibarat melihat kuman di seberang lautan namun gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Butuh jiwa besar untuk dapat menerima kritik. Butuh sikap bijak untuk dapat menyikapi kritik dengan benar. Dan dalam berbagai kesempatan, kritik itu dapat membangun, mengingatkan kita akan kekurangan untuk diperbaiki dan kesalahan untuk tidak lagi diulangi.

Ada kisah teladan dari Khalifah Umar bin Khattab r.a tentang bagaimana menyikapi kritik. Pada suatu ketika Umar r.a sedang berpidato di depan umum, Salman Al Farisi r.a menyelanya seraya berujar, “Demi Allah, kami tidak akan mendengarkannya!”. “Kenapa wahai Salman?”, tanya Umar ra.a kepada salah seorang shahabat pahlawan perang Khandaq tersebut. “Karena Anda telah mengistimewakan diri Anda dari kami. Masing-masing kami hanya diberi sehelai baju, tetapi Anda mengambil dua helai untuk diri Anda!”. Umar r.a kemudian mencari anaknya di tengah kerumunan orang seraya bertanya kepada Ibnu Umar r.a, “Kain siapakah yang saya pakai sehelai lagi?”. “Kain bagian saya, hai amirul mu’minin!” jawab Abdullah bin Umar r.a di hadapan khalayak ramai. Umar r.a kemudian berkata, “Sebagaimana kalian ketahui, saya ini bertubuh tinggi, sedangkan kain bagian saya pendek. Abdullah pun memberikan kepada saya bagiannya, dan saya pakai untuk menyambung baju saya”. Dengan air mata berlinang disebabkan kebanggaan dan kepercayaannya, Salman r.a berkata, “Alhamdulillah, sekarang katakanlah wahai Amirul mu’minin, dan kami akan mendengar dan mentaatinya”.

Pada saat lain Umar r.a mengimbau kepada kaum muslimin untuk tidak memberikan mas kawin lebih dari 40 uqiyah (1240 gram) karena saat itu sedang terjadi resesi ekonomi akibat masa paceklik. Jika ada yang melebihkan, kelebihannya akan diserahkan ke baitul maal. Tiba-tiba ada seorang wanita yang memprotesnya, ”Apakah yang dihalalkan Allah akan diharamkan oleh Umar?” seraya membacakan QS. An Nisa ayat 20 (“…dan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun…). Khalifah Umar r.a langsung bekata, ”Astaghfirullah, wanita itu benar dan Umar salah. Dengan ini saya cabut kebijakan yang baru saja saya keluarkan!

Kritik adalah bukti cinta, karenanya Umar r.a menerimanya dengan lapang. Kritik adalah tanda kepedulian sekaligus sebagai kontrol diri yang layak disyukuri. Tidak sedikit teori tentang pengaruh positif kritik terhadap perbaikan diri kita, namun realitanya tetap saja tidak mudah menerima kritik. Apalagi kritik yang disampaikan oleh mereka yang kita nilai tidak lebih baik dari kita, atau kritik yang disampaikan dengan cara yang tidak baik. Menurut penulis yang menyukai kripik, menikmati kritik tidak berbeda dengan menikmati kripik, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, ada langkah-langkah yang harus dilakukan.

Pertama, untuk menikmati kripik kita harus menyukai makan kripik. Berdasarkan penelitian, makan kripik bisa meringankan dan memperbaiki suasana hati, membuat kita lebih tenang dan lebih ceria dalam menjalani kegiatan. Jadi, untuk dapat menikmati kritik, kita harus menyukai kritik. Bersyukur ada yang memperhatikan kita dan mengharapkan kita bisa lebih baik setiap saatnya. Sadarilah bahwa hidup tanpa kritik akan hambar, walaupun hidup penuh dengan kritik akan menggelisahkan.

Kedua, untuk menikmati kripik pastikan bahwa kita punya gigi yang cukup kuat untuk dapat mengunyahnya. Kalau tidak, yang terasa hanya sakit dan ketidaknyamanan. Untuk dapat menikmati kritik, kita harus punya keberanian yang dibungkus dalam kematangan diri. Sikap anti kritik seringkali timbul karena kita takut mengakui bahwa kita punya kekurangan atau kita takut menerima bahwa kita telah melakukan kesalahan. Keberanian untuk menerima kritik menjadi kunci penting untuk dapat menikmatinya. Bagaimanapun, untuk dapat menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, butuh persiapan hati dan jiwa. Keberanian kita untuk mengoreksi dan memperbaiki diri akan mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang mungkin timbul.

Selanjutnya, untuk menikmati kripik, kita harus memilih rasa yang kita sukai, atau jika diperlukan kita tambahkan ‘sesuatu’ agar lebih enak. Tidak semua kripik harus dimakan dan tidak semua kripik dapat dimakan. Untuk dapat menikmati kritik, kita harus memilih, karena memang tidak semua kritik itu benar, tidak semua kritik dapat membangun. Memilih kritik berbeda dengan sikap anti kritik karena memprioritaskan kritik yang membangun jelas berbeda dengan tidak mau dikritik. Perlu diperhatikan, dalam memilih kritik yang perlu didahulukan adalah konten/ isi kritik, bukan siapa yang mengritik. Jika apa yang disampaikan memang baik, namun caranya kurang baik atau orang yang menyampaikan kurang kita sukai, kita perlu menambahkan ‘bumbu’ agar kritik lebih gurih dan renyah. Penuhi pikiran dan jiwa kita dengan hal positif, lakukan perbaikan juga dengan positif.

Terakhir, kripik lebih enak dinikmati sebagai cemilan di waktu santai, sambil membaca buku atau menonton TV misalnya. Makan kripik bukanlah aktivitas utama. Menyikapi kritik juga jangan sampai menjadi tugas utama yang dilakukan, akan sangat melelahkan padahal kita tidak akan dapat memenuhi harapan dari semua orang. Nikmatilah kritik di waktu tenang, jangan sikapi secara emosional. Kritik adalah bumbu penyedap hidangan kehidupan, bukan hidangan utamanya, karenanya harus dinikmati dengan santai, tidak perlu menghabiskan energi untuk menyikapi seluruh kritik yang diterima.

Kritik adalah cermin diri untuk kita berbenah, karena bisa jadi ada kesalahan atau kekurangan yang luput dari perhatian kita, namun tidak luput di mata orang lain. Ada noda di tubuh kita yang hanya dapat kita lihat melalui cermin. Dan orang lain, mulai dari sahabat sampai ‘musuh’ kita, tidak jarang lebih jujur dalam menilai kita daripada diri kita sendiri. Sudut pandang yang berbeda dan akan memperkaya inilah salah satu hal yang menyebabkan kritik tetap dibutuhkan. Dan sudah sewajarnya segala sesuatu yang kita butuhkan dapat kita nikmati. Kritik kerap dipersepsikan negatif sehingga tidak mudah untuk dinikmati. Padahal, kritik ibarat kripik yang gurih dan renyah. Menikmatinya dapat meningkatkan stamina, dapat menambah keceriaan, dapat lebih menentramkan. Menikmati kritik akan membuat kritik lebih bermakna dan bermanfaat. Selamat menikmati kripik, eh, maksudnya menikmati kritik. Yuk, mari…

Tiada Alasan Tuk Menunda

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.”

* * *

Assalamu ‘alaikum wr wb. Purwo, selamat menjalankan ibadah puasa. Btw, bisa minta saran, gimana caranya kita menjalani hidup jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Makasih, semoga nt mendapatkan pahala” SMS tersebut masuk ke inbox saya di hari – hari awal Ramadhan, pertanyaan serius dari seorang teman SMP yang saat ini sudah menikah dan dikaruniai seorang anak. Pertanyaan seputar permasalahan hidup, konsep diri dan kesuksesan sebenarnya sudah biasa saya terima dan saya tanggapi, namun pertanyaan kali ini tidak mudah saya jawab. Secara pemahaman teoritis dan belajar dari pengalaman orang lain, saya sebenarnya dapat menjawabnya, tetapi rasanya berat dan terkesan omong kosong. Beberapa hari sebelumnya saya juga dibuat speechless ketika salah seorang ‘adik’ yang sedang hamil mengatakan bahwa dia ngidam mau lihat Kak Purwo nikah. Waduh!!

Menyegerakan Menikah
Menikah memiliki banyak keutamaan, karenanya menyegerakan menikah jika sudah mampu sangat dianjurkan. Dalam salah satu hadits riwayat Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi disebutkan bahwa salah satu dari tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah SWT adalah pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan diri. Selain perintah untuk menikah(kan), dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 32 secara gamblang juga disampaikan bahwa jika hanya faktor ekonomi yang menjadi penghalang seseorang untuk menikah, maka Allah Yang Maha Luas Pemberian-Nya yang akan memampukannya dengan limpahan Karunia-Nya. Bersegera memang berbeda dengan tergesa – gesa, namun lebih jauh berbeda dengan terus menunda. Berbagai keutamaan seharusnya dapat menyingkirkan berbagai keraguan dan kekhawatiran. Jika sudah siap ilmu, fisik, mental dan finansial serta keluarga sudah terkondisikan sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menyegerakan menikah. Tak heran Umar bin Khattab r.a. menyindir keras Abu Zawaid r.a yang menunda menikah dengan mengatakan, “Tidak ada yang menghalangimu dari menikah kecuali kelemahan dan kemaksiatan”. Astaghfirullah…

Rintangan Pasti Selalu Ada
Berdasarkan pengamatan, ada beberapa faktor (selain takdir Allah tentunya) yang menyebabkan seseorang menunda untuk menikah. Faktor finansial dan akademis (masih kuliah) sepertinya bukan menjadi penghalang yang utama, toh sudah banyak rekan saya yang berhasil menghadapi dua faktor tersebut. Lalu apa? Menurut saya setidaknya ada empat factor. Pertama, faktor keluarga, mulai dari belum dibolehkan orang tua, masih harus membiayai keluarganya, ada kakaknya yang belum menikah, tidak dapat restu dari pihak keluarga hingga sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Faktor ini bisa menimpa siapa saja dan cukup pelik, tetapi bisa dan memang harus diatasi. Kedua, faktor keberanian, terlalu diliputi kekhawatiran tentang masa depan, termasuk sikap pasif/ menunggu jodoh, tidak berani mengungkapkan keinginan, takut ditolak, takut diterima dan tidak dapat memenuhi harapan, dan sebagainya. Uniknya, fenomena ini bukan hanya dirasakan mereka yang minderan dan berpikiran pendek, tetapi juga dapat menimpa orang – orang aktif dan visioner yang terlalu banyak pertimbangan. Ketiga, idealis dan terlalu memilih. Pasangan yang diharapkan harus memiliki sejumlah kriteria tertentu, mulai dari pendidikan, karakter, penampilan fisik, suku, profesi hingga hal – hal yang detail seperti kondisi pembinaan rutin, jumlah hapalan qur’an, intensitas shalat berjama’ah di masjid dan sebagainya. Banyak hal yang menciptakan berbagai kriteria tersebut, tidak hanya internal diri, tetapi juga kondisi eksternal. Keempat, seperti disampaikan Umar bin Khattab r.a., kemaksiatan. Ada dosa – dosa yang masih terus diperbuat sehingga menutup keberkahan dan pertolongan dari Allah SWT. Abstrak memang, namun sangat beralasan.

Bukan Cuma Cepat, Tetapi Juga Tepat
Jika faktor keluarga dan kemaksiatan terasa lebih pribadi (menyangkut diri sendiri) dan membutuhkan proses untuk mengatasinya, faktor keberanian dan terlalu memilih lebih memperlihatkan dimensi pemahaman dan psikologis. Fatalnya ketika tidak berani dan terlalu memilih terhimpun dalam diri seseorang, alamat akan sulit bagi orang tersebut untuk dapat meraih apa yang dicita – citakannya. Butuh penyadaran. Kekhawatiran adalah hal yang wajar karena ’perjanjian yang teguh’ memang bukan main – main, tetapi bukan berarti harus terus diturutkan, seperti ungkapan seorang teman, ”menikah itu memang tidak sesederhana yang diharapkan, tetapi juga tidak sesulit yang dikhawatirkan”. Pun demikian halnya dengan memilih, bukan sekedar wajar tetapi memang diperlukan. Hanya saja perlu diingat bahwa Allah SWT kerap kali memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Bisa jadi jodoh kita bukan seseorang yang memenuhi semua kriteria yang kita harapkan, tetapi seseorang yang tepat untuk bersama – sama memenuhi semua harapan. Aktif dan ’tidak takut’ bukan berarti ’tidak tahu malu’. Kriteriapun tidak serta merta harus diturunkan, hanya diharapkan berusaha untuk lebih bijak dalam memandang kriteria sebagai proses yang mendewasakan, tidak saklak. Keberanian dan ’keterbukaan’ ini insya Allah akan mempercepat, dan mempertepat.

Tiada Alasan Untuk Menunda
Allah SWT dan Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk bersegera dalam melalukan kebaikan, tidak kemudian menundanya. Hasan Al Bashri pernah berwasiat, “Jangan sekali – kali menunda – nunda karena Anda adalah hari ini bukan besok”. Iya, tidak ada kepastian hari esok akan datang, belum tentu kita masih diberikan kesempatan untuk beramal dan melakukan kebaikan. Memang ada skala prioritas dalam memilih kebaikan yang akan dan perlu untuk dilakukan, namun sejatinya tidak ada dikotomi antar kebaikan. Lebih dalam lagi terkait penundaan, Ibnul Jauzi mengatakan, “Jangan sekali – kali mengulur – ulur waktu, karena ia merupakan tentara iblis yang paling besar”. Penundaan akan membuka celah kelalaian dan memberikan syaithan lebih banyak kesempatan untuk memperdaya. Kewajiban kita begitu banyaknya, tidak seharusnya kita menunda menunaikan kewajiban. Ibnu ’Atha berkata, ”Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!”. Sejarah telah mengajarkan kepada kita betapa banyak orang yang tidak diberikan kesempatan untuk melakukan berbagai kebaikan dan untuk mewujudkan cita – citanya, hanya karena orang tersebut tidak bersegera dan berpikir bahwa dia dapat melakukannya di lain hari. Kembali ke tema pernikahan, Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya usiaku tinggal 10 hari lagi, maka yang lebih baik bagiku adalah segera menikah dari pada aku menjumpai Allah dalam keadaan membujang”. Semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk menjumpai Allah dalam keadaan suci dan tersucikan dengan menikahi seseorang yang terhormat (HR. Ibnu Majah)

* * *

“…Berbahagialah manusia yang tlah menemukan fitrahnya untuk membentuk keluarga yang sakinah. Menikahlah engkau segera bila saatnya telah tiba, jangan carikan alasan untuk menunda… Menikah, mengurangi dosa dan maksiat. Menikah, menyatukan bahagia dan nikmat. Rezeki manusia Allah mengaturnya, jangan takut bila kau niat untuk menikah…” (’Ayo Menikah’, Ar Rayyan)

Wallahu a’lam bishawwab
Nb : mencobamenyemangatidirisendiri

Menggapai Durian

Alkisah, ada sebuah pohon durian besar dengan beberapa buahnya. Dari bawah pohon terlihat samar ada satu buah durian terbesar yang letaknya paling tinggi. Diadakanlah sayembara uji kemampuan untuk mengambil buah durian yang paling tinggi tersebut. Ketika pemuda desa dikumpulkan, ternyata tidak banyak yang berminat mengikuti sayembara, sebagian memilih pulang dan tidur, sebagian lagi memilih untuk jadi penonton saja. Mereka umumnya adalah orang – orang yang cacat sehingga tidak dapat memanjat atau orang – orang yang tidak yakin bahwa durian tersebut dapat dijangkau. Akhirnya mereka hanya dapat menyoraki dan mendorong orang lain untuk mencobanya.

Singkat cerita, berkumpulah tujuh orang yang hendak mengikuti sayembara. Orang pertama maju, menatap sejenak pohon durian tersebut, memegang batang besarnya, mendongak ke atas kemudian menggelengkan kepala. Sambil tertunduk lesu ia berujar, “Aku mengundurkan diri”. Ternyata orang ini berani maju hanya karena ingin melihat durian besar itu dari bawah. Itupun setelah ia diminta maju oleh teman – temannya. Sementara bagaimana cara memanjat pohon durianpun dia tidak tahu. Kontestan keduapun maju, walau tubuhnya kecil, nampaknya ia cukup lincah. Anak yang biasa ikut lomba panjat pinang ini nampak cukup percaya diri dengan kemampuannya, iapun mendekati pohon durian itu. Dengan tangan kecilnya ia mencoba melingkarkan tubuhnya ke batang pohon durian untuk dapat memanjatnya, ternyata tidak bisa. Tangannya bahkan tidak sampai melingkari setengah dari batang pohon durian itu. Dicoba berkali – kalipun, ia tetap tidak beringsut ke atas. Akhirnya setelah badannya kotor dan sakit – sakit, iapun menyerah. Nampaknya ia masih terlalu muda dan belum cukup besar untuk dapat memanjat pohon durian tersebut.

Giliran kontestan ketiga, penonton riuh bersorak karena yang maju bertubuh tegap. Tangannya cukup panjang dan kuat untuk memeluk pohon durian itu dan perlahan mulai dapat naik. Namun belum sampai tiga meter dia atas permukaan tanah, tiba – tiba saja keringat dinginnya sudah mulai keluar. Tidak sampai cabang pertama, ia pun turun dan menyatakan ketidaksanggupannya. Penontonpun terkejut. Ternyata pria atletis tadi takut dengan ketinggian. Akhirnya orang keempat maju. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari kontestan sebelumnya namun ternyata dia jago memanjat. Dalam waktu singkat cabang pertama sudah berhasil ia capai. Perjalanan selanjutnya tidaklah sesukar memulainya. Namun menginjak cabang ketiga geraknya semakin lambat, sesekali ia menggaruk – garuk dan tampak meringis kesakitan. Ternyata ia ‘diserang’ semut merah yang banyak bersarang di pohon durian tersebut. Melihat sasarannya masih jauh dan tak tahan dengan gigitan semut, iapun memutuskan untuk turun menyelamatkan diri. Akhirnya, ia pun gagal.

Belajar dari kontestan sebelumnya, kontestan ke-5 melumuri dahulu tangan, kaki dan tubuhnya dengan abu gosok sehingga semutpun enggan menggigit. Mulai dipanjatnya pohon durian itu. Belasan meter sudah ia capai dengan relatif cepat, namun terlihat gerakannya mulai melemah. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Dilihatnya buah durian besar itu masih jauh di atas, iapun mencoba mencapai beberapa meter lagi, namun kondisi fisiknya sudah tak dapat dipaksakan. Dengan napas terengah – engah berselimut kejengkelan, iapun turun menyatakan ketidaksanggupannya untuk dapat memanjat hingga ujung. Orang keenam maju dan mulai memanjat. Dengan keyakinan tinggi ia terus naik hingga mulai nampak kecil dari bawah. Di dalam kerimbunan daun ia melihat beberapa buah durian. Dalam keterengahan, ia melihat buah terbesar masih cukup jauh di atas sana. Dan ia melihat ada buah durian yang cukup besar dan matang pada cabang yang berbeda dan letaknya lebih dekat. Dengan tenaga yang tersisa, iapun memanjat cabang dengan durian yang lebih dekat tersebut. Siapa yang akan melihat dan siapa pula yang dapat membedakannya, pikirnya. Akhirnya iapun berhasil memetik buah durian dan membawanya turun. Penontonpun riuh bertepuk tangan, aroma durian tercium. Segera diambilnya pisau besar untuk membelah durian tersebut.

Tak disangka, ketika dibuka isi durian tersebut berlendir. Ketika dicicipipun rasanya tak enak. Ya, durian tersebut busuk. Penonton mulai mengejek dan meminta kontestan terakhir untuk mencoba memanjat. Kontestan terakhir maju dengan sigap. Sejenak ia memandang ke atas pohin, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan kemudian tersenyum. Tampak sekali ia telah siap dan yakin dapat memetik durian yang benar. Ia mulai memanjat, agak kesulitan di awal, namun ia berhasil melaluinya. Semut – semutpun sempat menggigit tubuhnya namun ia terus naik untuk menjauhkan dirinya dari semut – semut tersebut. Sesekali ia beristirahat untuk mengatur nafas, mendongak lagi ke atas untuk melihat durian yang jadi targetnya dan mulai kembali memanjat. Kadang batang yang diinjaknya patah, kadang pula ia tergelincir, namun pegangannya cukup kuat untuk tetap menahannya. Kadang terpaan angin kuat menghajar tubuhnya, namun ia rapatkan tubuhnya dan terus bertahan. Ia tal pedulikan keringatnya yang terus mengucur, tubuhnya yang mulai penuh luka gores dan pakaiannya yang mulai koyak. Ia acuhkan durian – durian kecil di kiri kanannya bahkan durian yang nampak matang di cabang yang berbeda. Setelah melalui perjuangan berat dan panjang, ia berhasil memetik durian besar itu dan membawanya turun. Aroma harum semerbak memenuhi sekeliling durian itu.

Penontonpun tak sabar melihat isinya. Durianpun dibuka, terlihat isi buah durian yang besar berwarna kuning cerah dan tampak menggiurkan. Ketika dicicipi, ternyata rasanya sungguh enak tak terlukiskan. Biji durian itu terasa keras di mulutnya, ketika ia lihat ternyata itu bukan biji biasa melainkan batu permata yang begitu berharga. Ya, kontestan terakhir memenangkan sayembara dan memperoleh sesuatu yang begitu berharga yang tidak semua orang mampu memilikinya.

* * *

Semuanya dimulai dari impian. Tidak semua orang berani memiliki impian karena tidak yakin impiannya dapat terwujud, karena tidak percaya dirinya memiliki kemampuan untuk dapat mewujudkan impiannya. Padahal pemikiran besar lah yang dapat mewujudkan karya besar. Impian yang tinggi lah yang akan memotivasi dan terus meningkatkan kemampuan. Dan orang – orang hebat takkan memilih untuk mengubur mimpinya atau cukup puas hanya menjadi penonton. Penonton yang hanya meminta orang lain untuk bergerak, puas mencemooh atas kegagalan dan puas bertepuk tangan atas keberhasilan. Bukankah kesuksesan hanya dapat dimulai oleh orang – orang yang berani?

Dari orang – orang yang berani untuk mencoba meraih impian, ada yang gagal karena ketidaktahuannya tentang bagaimana cara untuk meraih impian, ada yang terhambat geraknya karena keterpaksaan. Biar bagaimanapun ilmu dan keikhlashan menjadi modal penting dalam meraih mimpi. Sekedar mempunyai mimpi tanpa upaya untuk meraihnyapun takkan berbuah keberhasilan. Untuk meraih mimpi, butuh bekal perjuangan yang cukup. Sebagian bekal mungkin dapat dikumpulkan sambil jalan, sebagian lagi harus dipersiapkan dari awal, termasuk kesiapan mental ataupun kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Tanpanya, tampaknya harus berulang kali naik – turun untuk menggapai impian, itupun jika jiwa pembelajar dimiliki.

Sebagian lain orang gagal meraih mimpi karena takut ‘jatuh’ dan akhirnya memilih untuk ‘turun’. Ada pula yang gagal meraih mimpi karena tidak tahan terhadap ujian – ujian selama perjalanan. Kesabaran mutlak dibutuhkan untuk meraih mimpi. Ada pula yang gagal karena tidak cukup kuat energi dan keyakinannya untuk meraih mimpi. Tidak cukup tepat strateginya dan tidak cukup keras usahanya. Yang paling menyedihkan adalah orang yang gagal meraih mimpi karena tertipu oleh tujuan – tujuan semu lainnya. Keberhasilannya adalah keberhasilan semu, perjuangannya pun akan sia – sia. Impian besar hanya dapat diraih dengan keteguhan dan keistiqomahan. Istirahat sejenak tetap diperlukan namun tidak boleh sampai melenakan.

Menggapai impian memang tidak mudah, butuh keberanian, ilmu, keikhlashan, kesabaran, kesungguhan dan keikhlashan. Memulai mengejar impian juga sangat berat, tidak kalah berat dari menghadapi berbagai macam gangguan dan ujian selama menjalani medan perjuangan menuju impian. Fisik dan jiwa harus siap menahan luka. Pikiran harus tetap jernih menghadapi berbagai rongrongan. Dan bekerja sama tentunya akan mempermudah menggapai impian. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah bermuara segala urusan. Dan impian itu hakikatnya ada untuk diwujudkan…

Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Teruntuk saudara/i ku yang tengah merajut mimpi, tetaplah bermimpi dan berupaya untuk meraihnya…