Tag Archives: kesombongan

Iman Dulu Baru Imun

Dari Abdullah bin Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu. Jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah. Jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.
(HR. At Tirmidzi)

Rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia tercipta per 8 Oktober lalu yaitu penambahan sebesar 4.850 kasus baru. Angka ini melampaui rekor harian sebelumnya sebesar 4.823 kasus baru per 25 September 2020. Penambahan kasus Covid-19 ini terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, dimana DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar dengan 1.182 kasus baru. Ricuhnya demonstrasi Omnibus Law melengkapi kabar duka dari negeri ini.

Ada yang unik dari pandemi Covid-19 ini, pola serangannya acak, mempersulit proses tracing nya. Tidak sedikit olahragawan yang fisiknya sehat ternyata terjangkit, namun rekan-rekan yang berlatih bersamanya ternyata negatif. Dalam sebuah ruangan dimana terdapat orang yang positif corona, tidak semua orang di ruangan tersebut tertular virus corona, dan belum tentu mereka yang tertular adalah yang dekat jaraknya dengan pembawa virus. Ada yang sembuh cepat pun dengan penyakit penyerta (komorbid), ada yang lama sembuhnya walau tanpa komorbid. Ada yang abai namun selamat dari pandemi, ada yang ketat menerapkan protokol kesehatan namun masih terpapar virus.

Selama ini, sistem imun yang dimiliki seseorang lah yang dijadikan jawaban ilmiahnya. Walau sebenarnya tak bisa menjawab penyebaran virus yang memilih korbannya secara acak, termasuk mereka yang punya pola hidup sehat. Karenanya, kita perlu mengembalikan jawabannya kepada perkara yang lebih esensi, yaitu keimanan. Dalam konteks iman, keselamatan dan kecelakaan adalah hak prerogratif Allah SWT. Sakit, sembuh, dan sehat merupakan ketetapan dari Allah SWT. Sehingga kita mampu bersyukur dan tidak lalai terhadap kesehatan yang menyertai. Juga mampu bersabar, tidak berputus asa, serta senantiasa mengambil pelajaran dari setiap musibah yang melanda. Ya, jawaban mengapa ada yang positif atau negatif Covid-19 dengan beragam kondisinya dalam perspektif keimanan adalah semata karena takdir Allah SWT. Jadi bukan imun yang menentukan.

Iman adalah sesuatu yang tidak hanya diyakini dalam hati, namun juga diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Dalam aspek spiritual, keimanan ini akan menghadirkan ketenangan jiwa dalam kondisi apapun. Perasaan tenteram dari stres, cemas, dan takut berlebihan akan menguatkan sistem imun tubuh, sehingga lebih tangguh menghadapi penyakit yang menyelinap ke dalam tubuh. Pada titik inilah iman akan berdampak positif terhadap imun. Bahkan dalam kondisi terserang penyakit pun, orang dengan iman yang kuat akan tetap bisa berpikir dan bersikap positif. Alhasil, keimanannya akan kian bertambah dengan penyakitnya. Nabi Ayub a.s. ketika ditimpa ujian hidup hingga 18 tahun hanya berdo’a, “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al Anbiya: 83). Hanya mengadu, tanpa mengeluh, menuntut, ataupun menyalahkan. Kalaupun ada kesembuhan yang diharapkan, itupun dalam rangka keta’atan karena penyakitnya menghambatnya dalam beribadah. “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS. Shad: 41). Hal ini menguatkan bahwa bagaimanapun, iman harus didahulukan daripada imun.

Lantas apakah mereka yang merasa aman dari virus Corona membuktikan bahwa keimanan mereka kuat? Hati-hati, dalam hal ini ‘rasa aman’ bak pisau bermata dua. Bisa hadir dari manifestasi iman dan kekuatan tawakkal. Bisa juga indikasi dari sifat ujub dan takabbur. Indikator pembedanya hanya amal shalih dan kesombongan. Raja’ dan rasa aman harus disertai amal shalih. Kisah perjalanan khalifah Umar bin Khattab r.a. ke Negeri Syam yang masyhur di masa pandemi ini dapat menjadi i’tibar. Di wilayah Saragh, Abu Ubaidah bin Al Jarrah r.a. memberitahu bahwa Negeri Syam tengah dilanda wabah tha’un. Dalam musyawarah dadakan yang digelar, para shahabat berbeda pendapat antara melanjutkan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah. Akhirnya Amirul Mukminin mengikuti saran dari sesepuh Quraisy yang hijrah sebelum fathu Makkah untuk kembali ke Madinah. Beberapa shahabat tidak puas, termasuk Abu Ubaidah r.a. yang lantas bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah kita hendak lari dari takdir Allah?”. “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain”, jawab Umar r.a. dengan tegas seraya memberikan analogi seseorang yang memiliki seekor unta lalu turun ke lembah yang mempunyai dua sisi, yang satu subur dan yang lain tandus. “Jika engkau menggembalakan untamu di tempat tandus adalah takdir Allah, maka bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, berarti engkau menggembala dengan takdir Allah juga?”, jelas Umar r.a. Keputusan ini dikuatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf r.a. yang datang terlambat dan menyampaikan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri” (HR. Bukhari – Muslim).

Iman perlu disertai dengan amal, tawakkal perlu diiringi dengan ikhtiar. Mereka yang abai terhadap protokol kesehatan namun ‘merasa aman’ dengan hanya mengonsumsi madu dan habbatussauda misalnya, tidaklah sempurna ikhtiar dan keimanannya. Apalagi jika sampai bersikap keras kepala ketika ditegur, bahkan merendahkan orang lain. Bisa jadi ‘rasa aman’nya justru muncul dari goda’an setan. Sebab sebagaimana penyakit, kesehatan dan ‘rasa aman’ juga sejatinya merupakan ujian keimanan. Iman adalah kunci untuk memproduksi sistem imun dan rasa aman. Sebagaimana iman, imun dan aman juga merupakan nikmat Allah yang perlu dijaga. Ar-Razi berkata, “Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakiknya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi. Kemudian seandainya kambing diikat pada suatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan”. Dan dari semuanya, nikmat iman adalah nikmat yang paling besar. Ibnu Taimiyah berkata, “Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat iman. Dia adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan taat dan kebaikan, berkurang dengan kefasikan dan kemaksiatan”. Mari kita rawat iman untuk juga merawat imun.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS. Al-An’am: 82)

SuperMan dalam SuperTeam

Sebuah tim adalah lebih dari sekedar sekumpulan orang. Ini adalah proses memberi dan menerima.” (Barbara Glacel & Emile Robert Jr)

Di sebuah hutan, ada seekor Rusa yang bersahabat dengan seekor Monyet. Suatu ketika, mereka hendak menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka. Ketika mereka sedang berdiskusi, tampak seekor Tupai mengamati mereka. Mereka pun meminta pandangan dari Tupai tersebut untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka. Si Tupai kemudian menyampaikan bahwa siapa yang paling cepat dapat mengumpulkan 10 buah kenari adalah yang lebih unggul. Tanpa dikomando, Rusa dan Monyet segera meluncur ke pohon kenari terdekat. Rusa tiba lebih dulu namun terpaku bingung bagaimana caranya mengambil buah kenari. Tak lama kemudian, Monyet datang menyusul dengan bergelayutan dari pohon ke pohon. Dalam waktu singkat, Si Monyet sudah ada di atas pohon kenari dan mulai memetik buahnya. Setelah terkumpul 10 buah, Si Monyet tersenyum pada Rusa di bawah pohon dan segera kembali ke tempat Tupai. Merasa kalah, sambil menggerutu Rusa pun kembali ke tempat Tupai.

Di tempat Tupai, Rusa bertemu dengan seekor Jerapah, sementara Si Monyet masih hanyut dalam kemenangan. Rusa protes karena kompetisi yang adil seharusnya memungkinkan setiap pesertanya meraih kemenangan, sementara kompetisi yang diajukan Si Tupai takkan mungkin dimenangkannya karena tidak dapat memanjat. Jerapah coba menengahi, dengan leher panjangnya ia melihat ada batu besar di puncak bukit. Rusa mengetahui batu yang dimaksud, dari atas pohon Si Monyet pun dapat melihatnya. Jerapah mengusulkan siapa yang lebih dulu mencapainya dialah yang lebih unggul. Rusa dan Monyet mengangguk dan langsung meluncur ke batu tersebut. Rusa lewat jalur darat, Monyet melompat-lompat dari pohon ke pohon. Ternyata untuk mencapai bukit tersebut harus melewati padang rumput luas. Rusa semakin mempercepat larinya sementara Monyet kian terengah-engah apalagi rumput yang cukup tinggi cukup menyulitkannya mengejar Rusa. Baru sampai tengah padang rumput, Rusa sudah berdiri tegak di atas batu besar di puncak bukit seraya tersenyum penuh kemenangan. Kali ini Si Monyet merasa diperlakukan tidak adil karena tidak mungkin mengalahkan kecepatan lari Rusa di padang rumput, apalagi sambil merangkak.

Rusa segera turun untuk menyapa Monyet yang masih menggerutu, tiba-tiba muncul Kancil yang dikenal cerdik dan bijak di padang rumput tersebut. Mereka pun sepakat menjadikan Kancil sebagai juri dan menceritakan perihal pertandingan yang sudah mereka lalui kepada Si Kancil. Sambil tersenyum, Si Kancil mengatakan bahwa kompetisi menentukan keunggulan haruslah yang menantang. Kancil menceritakan bahwa di seberang sungai ada pohon besar yang buahnya rendah dan berwarna-warni. Siapa yang bisa mengambil buah tersebut dialah yang lebih unggul. Rusa dan Monyet pun kembali saling berlomba. Rusa tiba lebih dulu di tepi sungai, dengan sigap ia mampu menyeberangi sungai yang cukup lebar dengan air yang cukup berlimpah. Tiba di seberang sungai, ia langsung menuju pohon besar itu dan melihat buah yang dimaksud. Buah tersebut memang cukup rendah, namun seberapa keras Rusa berusaha menggapainya, ia tetap tidak mampu. Di seberang sana, Monyet tidak mampu menyeberangi sungai yang tidak ada jembatan, bebatuan ataupun pohon yang dapat dipijaknya. Sungai yang lebar dan cukup dalam baginya, membuat Monyet hanya dapat memandangi Rusa yang kesulitan untuk mengambil buah beraneka warna. Lama tidak ada pemenang, Monyet pun menyerah, ia meminta Rusa menjemputnya dan ia akan mengambilkan buah tersebut untuk Rusa. Rusa juga mulai putus asa, akhirnya ia menyeberangi sungai untuk menjemput Monyet yang kemudian naik di atas punggungnya dan mengantarnya ke pohon besar tersebut. Tanpa kesulitan, Si Monyet mengambil buah tersebut dan memberikannya kepada Rusa. Kancil yang sudah ada di seberang sungai tersenyum dan mengatakan bahwa mereka berdua adalah pemenangnya.

* * *

Seekor kelinci, sedang bermain dan mencari makan di mulut gua. Tiba-tiba dari balik semak-semak muncul seekor rubah yang hendak memangsanya. Kelinci tersebut langsung lari ke dalam gua dikejar oleh Si Rubah. Terdengar perkelahian sengit di dalam gua. Lima menit kemudian, Kelinci keluar gua dengan membawa tulang paha Rubah. Beberapa waktu kemudian, tampak seekor Serigala yang kelaparan dan tengah mencari mangsa. Kelinci pun lari ke dalam gua dan dikejar Serigala. Perkelahian sengit kembali terdengar dari dalam gua. Lima belas menit kemudian, Kelinci keluar gua dengan membawa tulang kaki Serigala. Beberapa jam kemudian, muncul seekor Beruang yang tengah mencari makan. Melihat Kelinci yang melarikan diri ke dalam gua, Beruang tersebut mengejarnya. Terdengar kembali perkelahian yang sengit dari dalam gua. Setengah jam kemudian, Kelinci keluar gua dengan membawa potongan jari beruang. Tak terasa waktu berlalu, Kelinci pun mendekati mulut gua dan berkata, “Sudah petang, kita lanjutkan esok lagi!”. Tak lama kemudian dari dalam gua keluar seekor Singa bertubuh besar. “Baik, terima kasih. Besok kita lanjutkan lagi”, jawab Sang Raja Hutan yang tampak kenyang tersebut.

* * *

Berbicara tentang membangun tim, secara sederhana ada dua alasan mendasar mengapa kita perlu bekerja sama. Pertama, setiap diri kita punya keterbatasan sehingga ada hal-hal yang tidak dapat diselesaikan sendirian tanpa bantuan orang lain. Dari fakta mendasar inilah manusia diidentifikasi sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya. Kedua, ada hal-hal yang akan lebih cepat terselesaikan atau hasilnya akan lebih optimal ketika tidak dikerjakan sendirian. Disinilah optimalisasi dari zoon politikon, dimana kecenderungan manusia untuk bergaul dan bermasyarakat dapat dioptimalkan untuk meningkatkan produktivitas atau saling memberikan keuntungan.

Rusa punya keterbatasan karena tidak dapat memanjat, Monyet punya keterbatasan karena tidak dapat menyeberangi sungai. Karenanya usaha untuk dapat memetik buah di seberang sungai hanya dapat dilakukan jika Rusa dan Monyet bekerja sama. Disinilah kerja sama akan saling melengkapi karakteristik komponen-komponennya. Kelinci butuh rasa aman ketika bermain dan mencari makan, Singa butuh makan dan karena untuk mengejar mangsa membutuhkan energi besar bahkan taruhan nyawa, maka mangsa yang siap santap tentu akan lebih menguntungkan. Keduanya dapat memenuhi kebutuhannya secara optimal ketika bersinergi. Disinilah kerja sama akan mengikis perbedaan demi hasil yang saling menguntungkan.

Namun ada hal lain yang harus dicermati dalam kedua kisah di atas terkait upaya untuk membangun kerja sama. Ternyata untuk membangun tim yang kokoh, ada satu tabiat yang harus diminimalisir yaitu kesombongan. Kerja sama tidak akan terbangun dari komponen-komponen yang penuh kesombongan. Jika Rusa dan Monyet sama-sama merasa lebih unggul dari lainnya, buah di seberang sungai takkan dapat diperoleh. Butuh itikad baik dan kelapangan hati untuk memulai bangunan kerja tim yang kokoh. Jika Singa merasa besar dan hebat tentu ia tidak akan butuh kerja sama dengan Kelinci yang kecil. Butuh kebesaran jiwa dan kecerdasan emosional yang tinggi untuk mencapai hasil yang lebih besar buah dari kerja sama. Disinilah kerja sama tidak menuntut adanya SuperMan, melainkan potensi komponen-komponennya berpadu menjadi SuperTeam.

SuperMan vs SuperTeam
Perhatikan tim sepakbola yang hebat, kemampuan di setiap lininya hampir merata. Tidak hanya produktif menyerang dan kokoh bertahan, bola terus mengalir cerdas membangun penyerangan sekaligus pertahanan, dan semua komponen terlibat. Bedakan dengan tim sepakbola bertabur bintang yang tiap komponennya hendak unjuk kebolehan. Permainan kolektif tidak terjadi, kerja sama tidak terbangun, lini bertahan rapuh dan lini serang pun tumpul. Tak heran tim Indonesia All Star sering kalah ketika bertanding. Apa yang membedakan antara tim sepakbola yang hebat dengan tim bertabur bintang? Ya, dalam membangun tim, SuperTeam lebih dibutuhkan daripada SuperMan. Apalagi jika ada tim yang hanya mengandalkan seorang SuperMan dalam timnya untuk meraih kemenangan, sudah pasti akan lebih banyak kekecewaan yang diperoleh.

Ada berbagai perbedaan mendasar antara SuperMan dengan SuperTeam. SuperMan akan unjuk kebolehan diri sementara SuperTeam akan mengoptimalisasi peran komponen-komponennya. SuperMan akan fokus pada dirinya sendiri dan tidak peduli yang lain sementara SuperTeam akan memberikan perhatian pada seluruh anggota di setiap lini. Jika meraih keberhasilan, SuperMan akan menepuk dada seraya membanggakan kontribusi besarnya. Sementara itu SuperTeam akan lebih tahu diri jika meraih kesusksesan. Mereka sadar keberhasilan terwujud karena kontribusi setiap anggotanya. SuperMan akan menggerakkan orang lain untuk mengikutinya sedangkan SuperTeam akan membangun sistem yang mendorong anggotanya untuk mengikuti aturan main. Semakin jelas bahwa keunggulan SuperMan sifatnya lebih temporer dengan benefit yang terbatas, sementara SuperTeam akan membangun keunggulan jangka panjang dengan kebermanfaatan yang lebih luas dan merata.

Lalu mungkinkah ada SuperMan dalam SuperTeam? Tidak. Karena syarat utama membentuk SuperTeam adalah tiap anggotanya, sehebat apapun, harus menanggalkan jubah SuperMan-nya. Tiap personal tetap memiliki keunggulan namun tanpa embel-embel SuperMan. Tetap akan ada komponen dengan potensi di atas rata-rata timnya namun tetap dalam kerangka SuperTeam. Tetap akan ada anggota dengan karakter kepemimpinan yang menonjol namun perannya tetap terbingkai dalam tujuan bersama. Untuk mengoptimalkan peran masing-masing, tiap komponen SuperTeam bahkan harus membangun keunggulan pribadi, dan hal ini tidaklah kontraproduktif dengan aturan main SuperTeam. Bahkan mungkin saja ada suatu titik dimana pribadi yang penuh keunggulan tersebut meninggalkan SuperTeam untuk kemudian membentuk atau bergabung dengan SuperTeam lain dengan visi yang lebih besar dan sejalan. Intinya, SuperTeam tidaklah mengekang kelebihan yang dimiliki anggotanya, bahkan dapat terus mengembangkannya tanpa harus bersifat individualis.

Sebagai makhluk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya dan tentunya memiliki target hidup masing-masing, setiap kita tentunya perlu untuk terus mengembangkan kualitas diri. Menjadi manusia yang memiliki banyak keunggulan bukanlah suatu kesalahan. Menjadi SuperMan tidaklah keliru. Hanya saja dalam konteks bekerja sama, ada tujuan yang lebih besar yang diperjuangkan sehingga tidaklah perlu label SuperMan pun upaya pengembangan kualitas diri terus dilakukan. Superman –dalam film—pun tidak unjuk kemampuan dalam bermasyarakat, tidak sombong dalam interaksi dengan rekan kerjanya. Karena ia pun sadar bukan Superman yang dibutuhkan dalam membangun kerja tim, kelebihan yang diumbar hanya akan membuat batasan, mengekang optimalisasi potensi seluruh personil tim. Yuk, jadi manusia hebat yang rendah hati dan terhimpun dalam SuperTeam sehingga manfaatnya dapat lebih luas dirasakan.

Apa yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk bekerja dalam sistem, dan menjadi berarti bagi setiap orang, setiap tim, setiap platform, setiap divisi, setiap komponen yang ada tidak untuk keuntungan kompetitif individu atau pengakuan, tetapi untuk kontribusi terhadap sistem secara keseluruhan atas dasar menang-menang.
(W. Edward Deming)

Kisah Latief Bersaudara

Di sebuah desa, tersebutlah dua orang yang bernama Latief, sebutlah Latief A dan Latief B. Keduanya cukup dikenal walau Latief B relatif lebih dikenal hingga ke desa seberang. Keduanyapun bersaudara bahkan tempat tinggal mereka hanya dipisahkan oleh dinding tipis. Secara struktrural di desa tersebut, Latief A lebih memiliki kewenangan. Karenanya dengan pongah ia dapat memerintahkan apapun dan siapapun, tidak terkecuali Latief B. Sementara Latief B tidak terlalu menghiraukan dan lebih asyik pada pekerjaannya yang memang banyak.

Konflik dimulai ketika Latief A menggunakan kewenangannya untuk mencoba mengerjakan tugas Latief B. Latief B merasa Latief A punya tugas sendiri yang lebih prioritas dan sesuai dengan kompetensinya sementara tugas ini memang sudah tradisi dikerjakan oleh Latief B. Awalnya tidak jua tercapai titik temu namun akhirnya Latief A mengalah dengan menyisakan berbagai persoalan. Konflik antara mereka memang bukan hal baru, dan sedihnya, justru banyak dicontoh masyarakat desa tersebut. Tapi seolah mengabaikan visi bersama membangun desa, seolah melupakan bahwa mereka bersaudara, ego lebih banyak bermain. Konflik semakin parah ketika sedikit-sedikit Latief A menggunakan kewenangannya untuk memvonis, menghukum, dsb. Parahnya lagi, Latief B semakin tak peduli, apapun yang dikatakan Latief A tidak digubris olehnya.

Beberapa bulan kemudian Latief A mendapatkan masalah karena kebiasaan debat kusir yang tak jua ditinggalkannya. Jadilah desa tersebut dirundung masalah. Kelalaian dan kepongahan yang harus dibayar mahal. Latief B tidak bisa tertawa karena juga merasakan dampaknya. Tak lama berselang, Latief A memberikan evaluasi dan taushiyah yang cukup panjang kepada Latief B. Latief B hanya memandangnya sebagai celotehan dari orang yang ga bisa berkaca, ga kenal dan ga tau serta ga konkret!

Ya, Latief A dengan kewenangannya dapat memerintahkan warga kampung untuk mengadakan berbagai kegiatan mulai dari rembug desa hingga pemilihan kepala desa. Tapi Latief A sering tidak ada saat dibutuhkan karena berbagai alasan, mulai dari sakit, sibuk belajar atau mencari penghasilan hingga sekedar karena malas. Pekerjaan utamanya, termasuk mengawasi Latief B sering terbengkalai. Akhirnya, warga yang paling merasakan masalah ketika kegiatan yang dilakukan menemui hambatan.

Menjelang tutup usia, dengan penuh kepongahan, lagi-lagi Latief A menegur Latief B. Latief B merasa kasihan, begitu sulit untuk mengingatkan Latief A betapa beratnya beban pekerjaan ini ketika harus ditambah berbagai teguran tanpa pernah sedikitpun diberikan motivasi, apalagi bantuan konkret. Ingin rasanya Latief B memberikan pelajaran tentang tanggung jawab dan kontribusi nyata. Tanggung jawab yang bukan terletak hanya dengan perintah sementara amanah dan dirinya terbengkalai. Kontribusi yang bukan diwujudkan hanya dengan kata-kata, dalam perdebatan panjang yang tidak esensi.

Ah, nampaknya memang seharusnya hanya cukup ada satu Latief. Yang begitu luar biasa seperti Rasulullah, yang begitu peduli sebagaimana Umar bin Khattab, yang begitu tawadhu layaknya Umar bin Abdul Aziz, yang begitu berani & perkasa seperti Shalahuddin Al Ayyubi…

Ps : untuk semua rekan seperjuangan, mari sama-sama berkaca, sudah optimalkah kontribusi kita?