Tag Archives: Manchester United

UEL Rasa Simulasi UCL (Tahun Depan)?

“Please don’t call me arrogant, but I’m European champion and I think I’m a special one”
(Jose Mourinho)

Fase grup kompetisi sepakbola Eropa sudah usai, tak ada kejutan berarti untuk tim yang lolos ke fase gugur. Di Liga Champions, klub-klub besar seperti Bayern Munchen, Manchester City, Chelsea, Sevilla, Barcelona, dan Juventus sudah memastikan diri lolos ke babak 16 besar sejak matchday ke-4. Liverpool, Porto, dan Dortmund menyusul lolos di matchday ke-5. Kalaupun ada kejutan adalah Inter Milan, finalis Liga Eropa musim lalu yang jadi juru kunci grup B di bawah Real Madrid, Borussia Monchengladbach, dan Shakhtar Donetsk. Manchester United (MU) yang turun kasta ke Liga Eropa sebenarnya sudah diprediksi di awal, yang mengejutkan adalah MU sempat mengalahkan PSG 1-2 di Paris, mengalahkan Leipzig 5-0 di Old Trafford, dan memimpin klasemen sementara grup H hingga matchday ke-4. Lolosnya Atletico Madrid, Atalanta, dan Lazio di matchday terakhir juga tidak mengejutkan.

Di Liga Eropa, tim-tim dari liga top Eropa seperti Arsenal, AS Roma, Leicester City, dan Hoffenheim sudah memastikan diri lolos ke babak 32 besar sejak matchday ke-4. Di matchday ke-5, ada 14 tim lainnya yang menyusul lolos ke fase gugur termasuk AC Milan, Lille, Villareal, Tottenham Hotspur, Bayer Leverkusen, Benfica, dan PSV Eindhoven. Kalaupun ada yang sedikit mengejutkan paling hanya Napoli yang harus berjuang hingga matchday terakhir untuk bisa lolos, atau laga terakhir tak menentukan di grup I antara tuan rumah Villareal (juara grup) dan Qarabaq (juru kunci) yang ditunda akibat Covid-19 yang menyerang pemain Qarabaq. Sebelumnya di matchday ke-3, pertandingan Villareal menjamu Maccabi Tel Aviv juga diundur beberapa jam akibat hujan badai yang membuat stadion tergenang air. Delapan klub yang turun kasta dari Liga Champions ke Liga Eropa, termasuk Ajax Amsterdam dan MU juga tidak mengejutkan.

Pun demikian, ada hal menarik jika mengacu pada klasemen sementara liga domestik. Banyak klub pimpinan klasemen sementara justru bermain di Liga Eropa (UEL), bukannya Liga Champions (UCL). Di liga Inggris, Spurs yang bermain di UEL hingga pekan ke-12 ada di puncak klasemen di atas Liverpool (peringkat 2) yang lolos fase grup UCL sebagai juara grup. Leicester (peringkat 3) yang bermain di UEL ada di atas Chelsea (peringkat 5) yang tak terkalahkan di fase grup UCL, dan MU (peringkat 8 ) yang akan bermain di UEL juga ada di atas Manchester City (peringkat 9) yang juga tak terkalahkan di fase grup UCL. Anomali memang buat Arsenal yang berhasil sapu bersih kemenangan di fase grup UEL dengan tim pelapis padahal di Liga Inggris sedang terseok-seok di peringkat 15. Begitu pula halnya di Liga Italia, hingga pekan ke-11, AC Milan yang bermain di UEL memuncaki Serie A dan belum terkalahkan diikuti Inter Milan di posisi runnerup yang baru saja tersingkir sebagai juru kunci di UCL. Napoli (peringkat 3) yang bermain di UEL unggul selisih gol dari juara bertahan Juventus (peringkat 4) yang lolos ke fase gugur UCL sebagai juara grup. Sementara itu, AS Roma (peringkat 6) yang berlaga di UEL ada di atas Atalanta (peringkat 8 ) dan Lazio (peringkat 9) yang bermain di UCL.

Beralih ke Liga Spanyol, Real Sociedad yang bermain di UEL memimpin klasemen sementara La Liga di atas Atletico Madrid (peringkat 2) dan Real Madrid (peringkat 3) yang lolos ke fase gugur UCL. Sementara Villareal (peringkat 4) yang bermain di UEL ada di atas juara Liga Eropa musim lalu Sevilla (peringkat 5) yang bermain di UCL. Bahkan posisi Granada (peringkat 8 ) yang bermain di UEL masih lebih baik daripada Barcelona (peringkat 9) yang bermain di UCL. Hal mirip terjadi di Liga Jerman, hingga pekan ke-11 Bayer Leverkusen yang bermain di UEL memimpin klasemen sementara di atas juara Bundesliga 8 musim terakhir, Bayern Munchen yang tak terkalahkan di fase grup UCL. Hoffenheim yang juga bermain di UEL memang tercecer di peringkat 12 Bundesliga, namun Bayer Leverkusen cukup untuk mewakili tim UEL yang memimpin di atas Bayern Munchen (peringkat 2), Leipzig (peringkat 3), Dortmund (peringkat 5), dan Monchengladbach (peringkat 8 ) yang bermain di UCL. Kondisi serupa juga terjadi di Liga Perancis dimana hingga pekan ke-13 dominasi PSG yang meraih 7 titel juara Ligue 1 dalam 8 tahun terakhir dikalahkan oleh Lille yang bermain di UEL. Lille menjadi pemuncak klasemen sementara Ligue 1 di atas PSG (peringkat 3), Marseille (peringkat 4) dan Rennes (peringkat 8 ) yang menjadi perwakilan Liga Perancis di UCL musim ini. Walaupun dua klub terakhir tersingkir dan hanya menjadi juru kunci di fase grup UCL.

Satu lagi negara yang mengirimkan wakilnya di babak 16 besar UCL adalah Portugal. Di Liga Portugal, hingga pekan ke-9, FC Porto yang lolos ke fase gugur UCL hanya ada di peringkat ke-3, diapit oleh Benfica (peringkat 2) dan Braga (peringkat 4) yang bermain di UEL. Sementara puncak klasemen Liga NOS diduduki oleh Sporting CP yang musim ini gagal menembus fase grup UEL. Pemuncak klasemen sementara Liga Belanda, Ajax Amsterdam juga akan bermain di UEL. Di posisi runnerup Eredivisie hingga pekan ke-12 ada PSV Eindhoven yang juga bermain di UEL. Belum lagi pemuncak klasemen liga domestik yang barangkali kurang dikenal lainnya juga bermain di UEL. Misalnya Young Boys (Swiss), Slavia Praha (Republik Ceko), Rangers (Skotlandia), Red Star Belgrade/ Crvena Zvezda (Serbia), Salzburg (Austria), Club Brugge (Belgia), Olympiakos (Yunani) dan Dynamo Kyiv (Ukraina). Belum lagi jika disertakan para manajer berpengalaman seperti Mourinho (Spurs), Rodgers (Leicester City), Jorge Jesus (Benfica), dan Unai Emery (Villareal). Ataupun juga manajer yang pernah menjadi legenda klub semisal Gerrard (Rangers), Arteta (Arsenal), Gattuso (Napoli), Stankovic (Red Star Belgrade), dan Solskjaer (MU). Semua ini akan membuat kompetisi Liga Eropa tahun ini tidaklah bisa dipandang sebelah mata.

Kalaupun UEL semakin kompetitif tahun ini, tetap saja pamornya masih kalah jauh dengan UCL, hadiahnya juga jauh berbeda. Hasil undian babak 16 besar UCL hampir pasti menghasilkan big match antara Barcelona yang lolos sebagai runner-up, dengan juara grup selain Real Madrid dan Juventus. Sementara di UEL pertandingan seru barangkali baru akan muncul di perempat final. Kalaupun ada satu atau dua laga antara dua tim unggulan di babak 32 besar atau 16 besar, paling hanya sebagai pemanis kompetisi. Yang menarik adalah jika tim-tim yang berlaga di UEL ini bisa konsisten di liga domestik hingga akhir musim. Bisa jadi tahun depan tak ada Manchester City, Lazio, Atalanta, Monchengladbach, Porto, Sevilla, bahkan Barcelona di Liga Champions. Digantikan Leicester City, Spurs, AC Milan, Napoli, Real Sociedad, Villareal, Bayer Leverkusen, hingga Lille. Sehingga tim-tim tersebut bisa lebih serius berlaga di Liga Eropa sebagai pemanasan dan simulasi Liga Champions musim depan. Yah, bagaimanapun babak knock out UCL dan UEL masih dua bulan lagi. Klasemen masih sangat mungkin berubah. Pekan depan pun klasemen liga domestik bisa saja sudah berubah. Atau siapa tahu ada kejutan dari tim-tim kuda hitam semisal Southampton (Premier League), Sassuolo (Serie A), Cadiz (La Liga), Wolfsburg (Bundesliga), Lyon (Ligue 1), Vitesse (Eredivisie), Alanyaspor (Super Lig), Beerschot (Jupiler Pro League), dan sebagainya. Kita nikmati saja perkembangan dan dinamikanya.

The Champions League is the competition everyone wants to be in” (Steven Gerrard)

Jangan Jumawa Menang Sementara

Juara adalah pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi” (Dennis de Young)

Gelaran babak 16 besar kompetisi sepakbola Benua Biru sudah selesai. Di Liga Eropa, Arsenal berhasil comeback dengan kemenangan tiga gol tanpa balas di Emirates Stadium setelah sebelumnya kalah 2-0 di kandang Rennes (14/3). Dua hari sebelumnya kisah serupa dicatatkan Juventus di Liga Champions yang mengandaskan perlawanan Atletico Madrid dengan skor serupa (12/3). Kemenangan besar Chelsea atas Dinamo Kyiv (14/3) dan Manchester City atas Schalke 04 (12/3) di kandang sehingga menyisakan selisih agregat 8 gol pun kalah ramai dibandingkan berbagai kemenangan dramatis yang terjadi. Pekan lalu, comeback luar biasa dicatatkan Manchester United (MU) yang menyingkirkan Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 1-3 di kandang lawan setelah kalah 0-2 di Old Trafford (6/3). Sebelumnya, Ajax juga sukses membalikkan ketertinggalan 1-2 di kandang dengan kemenangan telak 1-4 atas juara bertahan Liga Champions tiga tahun terakhir di kandang Real Madrid, Santiago Bernabeu (5/3).

Beberapa pertandingan bahkan harus ditentukan di babak tambahan waktu (extra time). Comeback FC Porto mengunci kemenangan atas AS Roma baru diperoleh di menit ke-117 setelah agregat sama kuat 3-3 di waktu normal (6/3). Di Liga Eropa, Benfica baru memastikan tiket perempat final atas Dinamo Zagreb di menit ke-94 dan 105 setelah aggregat sama kuat 1-1 di waktu normal (14/3). Tim tersukses di Liga Eropa, Sevilla, harus tersingkir di menit-menit akhir setelah aggregat sama kuat 4-4 di waktu normal (14/3). Bahkan ketika extra time, Sevilla sempat unggul melalui Vazquez di menit ke-98 sebelum disamakan Van Buren di menit ke-102. Kemenangan Sevilla dengan aturan gol tandang pun buyar setelah Traore mencetak gol kemenangan Slavia Prague di menit ke-119.

Metafora ‘Bola itu Bundar’ yang menunjukkan ketidakpastian hitung-hitungan hasil akhir sudah lama dikenal di dunia sepakbola. Bahkan mungkin sebelum ‘Das Wunder von Bern’, Keajaiban Bern kala Jerman Barat berhasil mengalahkan tim unggulan Hongaria di Final Piala Dunia 1954 yang dianggap menjadi cikal bakal adanya metafora tersebut. Sayangnya, tidak sedikit orang yang melihatnya dari sudut pandang keberuntungan yang menjadi pangkal kemenangan, bukan mengantisipasi berbagai kelalaian yang mengakibatkan kekalahan yang tak terduga sebelumnya. Bagaimanapun, hasil akhir biasanya tidak akan mengingkari ikhtiar, termasuk usaha sebelum memulai pertandingan.

Faktor penentu utama adalah mentalitas pemenang. Hal ini yang menyebabkan klub dengan sejarah kuat selalu ada peluang mengejar ketertinggalan sebelum peluit akhir ditiup. Selain Keajaiban Bern, dikenal juga ‘The Istanbul Miracle’ dimana Liverpool berhasil menjadi juara Liga Champions 2005 lewat drama adu pinalti setelah sebelumnya tertinggal 3-0 dari AC Milan hingga menit ke-53. Atau final Liga Champions 1999, dimana dua gol kemenangan MU yang dicetak di menit 90+1 dan 90+3 oleh dua orang pemain pengganti membuyarkan kemenangan Bayern Munchen yang sudah di depan mata. Keberhasilan melakukan comeback hampir selalu dikaitkan dengan mentalitas kuat penuh keyakinan dan pantang menyerah, bukan sekadar kecermelangan strategi.

Di sisi sebaliknya, kekalahan setelah kemenangan sementara kerap dihubungkan dengan sikap sombong dan meremehkan. Lihat saja bagaimana Kapten Real Madrid, Sergio Ramos, sengaja mencari akumulasi kartu kuning kala menang 1-2 di kandang Ajax. Merasa di atas angin, Real Madrid malah tersingkir setelah kebobolan 4 gol di leg 2. Atau perhatikan bagaimana PSG merasa sudah pasti lolos ke babak 8 besar setelah menumbangkan MU di Old Trafford dua gol tanpa balas. Bagaimana mungkin MU bisa memberikan perlawanan di Parc des Princes dengan sebagian besar pemain utama tidak bisa bermain. PSG seakan lupa bahwa dua tahun sebelumnya Barcelona dapat membalikkan defisit 4 gol dari PSG dengan gol penentu kemenangan di menit 90+5. Sekali lagi, bola itu bundar, jangan lekas berpuas diri hingga merasa aman, apalagi sampai meremehkan lawan.

Hal penting berikutnya yang juga menentukan adalah kecermatan dalam memanfaatkan momen. Gol penentu kemenangan dari Porto, Juventus, dan MU lahir dari sepakan 12 pas di menit-menit krusial. Telles sukses mengeksekusi penalti buat Porto di menit 117, Ronaldo berhasil mencetak hattrick bagi Juventus dari titik putih di menit 86, sementara Rashford dari MU mencetak gol penalti di menit 90+3. Tidak perlu menyalahkan wasit atau siapapun, bagaimanapun hukuman penalti diberikan karena ada kelalaian dalam menjaga momentum dengan pelanggaran. Memanfaatkan momen juga bisa didapat dari ganjaran kartu, pergantian pemain, ataupun situasi set piece.

Meraih kemenangan memang tidak mudah, namun mempertahankan kemenangan juga tidak lebih mudah. Kemenangan sementara yang berujung pada sikap jumawa tentu mudah dikalahkan dengan kekalahan sementara yang melahirkan usaha ekstra. Keberhasilan semu disertai sikap belagu akan menemui karmanya ditundukkan oleh kegagalan semu yang dibarengi mentalitas kuat untuk terus maju. Betapa banyak petahana yang gagal melanjutkan kemenangan karena kelalaian menjaga momentum dan malah bersikap merendahkan. Tidak sedikit pula mereka yang mampu membalikkan keadaan, meraih kesuksesan setelah menempuh keterpurukan. Hanya Allah SWT yang mengetahui ketentuan masa depan, tugas kita hanya terus berjuang sampai akhir. Karena bagaimanapun, bola itu bundar.

Tanpa impian kita tidak akan meraih apapun, tanpa cinta kita tidak akan merasakan apapun, tanpa Allah kita bukan siapa siapa” (Mesut Ozil)