Tag Archives: memilih

Jangan Lewatkan Kesempatan

“Kulihat bunga di taman, indah berseri menawan. Cantik anggun nan jelita, melambai – lambai mempesona…. Ada bertangkai mawar kaya akan wewangian, khasanah yang memerah, kuning, ungu dan merah jambu. Ada si lembut melati pantulkan putih nan suci, tebarkan harumnya yang khas tegar baja di medan ganas. Si kokoh anggrek berbaris serumpun, menanti siraman kasih sejuk air jernih. Senyum lembut dahlia palingkan gundah lara…”
(‘Bimbang’, Suara Persaudaraan)

Suatu hari, seorang guru dan seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon di tengah padang rumput. Kemudian si pemuda bertanya, “Guru, saya ingin bertanya bagaimana cara menemukan pasangan hidup? Bisakah Guru membantu saya?”. Sang Guru diam sesaat kemudian menjawab, “Itu pertanyaan yang gampang – gampang susah”. Pemuda itu dibuat bingung oleh jawaban gurunya. Sang Guru meneruskan, “Begini, coba kamu lihat ke depan, banyak sekali rumput disana. Coba kamu berjalan kesana tapi jangan berjalan mundur, tetap berjalan lurus ke depan. Ketika berjalan, coba kamu temukan sehelai rumput yang paling indah, kemudian berikan kepada saya, tapi ingat, hanya sehelai rumput”

Pemuda itu berjalan menyusuri padang rumput yang luas. Dalam perjalanan itu dia menemukan sehelai rumput yang indah namun tidak diambilnya karena dia berfikir akan menemukan yang lebih indah di depan. Terus begitu sehingga tanpa pemuda itu sadari, ia telah sampai di ujung padang rumput. Akhirnya, dia mengambil sehelai rumput yang paling indah yang ada kemudian kembali ke Gurunya. Sang Guru berkata, “Saya tidak melihat ada yang spesial pada rumput yang ada di tanganmu”. Pemuda itu menjelaskan, “Dalam perjalanan saya menyusuri padang rumput tadi, saya menemukan beberapa helai rumput yang indah, namun saya berfikir saya akan menemukan yang lebih indah dalam perjalanan saya. Tetapi tanpa saya sadari saya telah berada di akhir padang rumput dan kemudian saya mengambil sehelai rumput yang paling indah yang ada di akhir padang rumput itu karena Guru melarang saya untuk kembali.”

Guru menjawab dengan tersenyum, “Itulah yang terjadi di kehidupan nyata. Rumput andaikan orang – orang yang ada di sekitarmu, rumput yang indah bagaikan orang yang menarik perhatianmu dan padang rumput bagaikan waktu. Dalam mencari pasangan hidup, jangan selalu membandingkan dan berharap bahwa ada yang lebih baik. Karena dengan melakukan itu kamu telah membuang – buang waktu dan ingat waktu tidak pernah kembali”

* * *

Hari berganti hari, waktu terus berputar tiada henti. Usia terus bertambah, tak terasa banyak kesempatan yang berlalu sudah. Alangkah beruntung mereka yang dapat mengoptimalkan waktu dan setiap kesempatan yang dimilikinya untuk kebaikan. Waktu dan kesempatan adalah karunia termahal yang Allah berikan kepada hamba-Nya namun kerap dilalaikan. Ketika karunia tersebut telah terlewat, baru seringkali penyesalan mengiringinya, padahal waktu dan kesempatan tidak dapat kembali meskipun ditebus dengan apapun, dengan harga berapapun. Lebih parahnya lagi, kebiasaan menyia-nyiakan waktu dan melewatkan kesempatan dapat menjadi penyakit akut yang sulit diobati. Waktu demi waktu begitu saja berlalu, kesempatan demi kesempatan begitu mudah terlewatkan. Imam Hasan Al Bashri berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan dari waktu, bila berlalu waktumu maka berlalulah sebagian dari dirimu. Dan bila sebagian sudah berlalu, maka dekat sekali akan berlalu semuanya.”

Melalaikan waktu dan melewatkan kesempatan memang tidak selalu menimbulkan kerugian yang jelas tampak, namun mereka yang memahami hakikat waktu dan kesempatan pastilah menyadari bahwa tiap jenak waktu yang tersia adalah musibah dan tiap kesempatan yang terlewat adalah kerugian. Syaikh As-Sa’di berkata, ”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya –padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya— maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan mudharat terhadap dirinya.”

Begitu berharganya waktu dan kesempatan ini, sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah berpesan kepada Ibnu Umar, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang singgah di perjalanan. Kalau engkau berada di waktu pagi jangan menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan menunggu datangnya waktu pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” Dan kesempatan ini harus dimanfaatkan sesegera mungkin, tanpa harus menundanya. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133)

Salah satu karakter waktu adalah cepat berlalu dan salah satu karakter kesempatan adalah mudah terlewatkan. Karenanya, sikap malas dan suka menunda dalam menyikapi waktu dan kesempatan ini punya dampak lebih jauh lagi, yaitu dapat mengeraskan hati. Sehingga betapapun banyak kesempatan yang ditawarkan, masukan yang disampaikan ataupun bantuan yang diberikan, tidak akan memberikan pengaruh dikarenakan penyikapan negatif yang terpelihara tersebut. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid : 16)

Kesempatan seperti taufik dan hidayah, sumbenya dari Allah dan tidak semua orang mendapatkannya. Ketika kesempatan itu datang, yang perlu dilakukan adalah menyambutnya dalam rangka bersegera dalam kebaikan. Jika kita terus melewatkan kesempatan yang tidak selalu datang, kita akan semakin mudah untuk melewatkan banyak kesempatan lain dan pada akhirnya nanti hanya penyesalan yang ada ketika kesempatan tersebut tak lagi ada. Perlu disadari bahwa kesehatan, waktu muda, harta, kelapangan, ataupun itu terbatas. Lakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan kesempatan yang masih diberikan sehingga menimbulkan efek bola salju kebaikan yang lebih besar. Dan Ibnu Qayyim telah mengatakan, ”Kalau ternyata segala kebaikan bersumber dari taufik, sedangkan ia berada di tangan Allah bukan di tangan hamba, maka kunci untuk mendapatkannya adalah do’a, perasaan sangat membutuhkan, ketergantungan hati yang penuh kepada-Nya, serta harapan dan rasa takut kepada-Nya”

* * *

“Kesenangan yang datang tak akan selamanya, begitulah selepas susah ada kesenangan. Seperti selepas malam, datangnya siang. Oleh itu, waktu senang jangan lupa daratan. Gunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum segalanya terlepas dari genggaman. Kelak menyesal nanti tak berkesudahan, apa gunanya sesalan hanya menekan jiwa…” (‘Sketsa Kehidupan’, The Zikr)

Ps. Kali ini kesempatan yang diberikan jangan lagi dilewatkan begitu saja… ^_^

Tiada Alasan Tuk Menunda

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.”

* * *

Assalamu ‘alaikum wr wb. Purwo, selamat menjalankan ibadah puasa. Btw, bisa minta saran, gimana caranya kita menjalani hidup jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Makasih, semoga nt mendapatkan pahala” SMS tersebut masuk ke inbox saya di hari – hari awal Ramadhan, pertanyaan serius dari seorang teman SMP yang saat ini sudah menikah dan dikaruniai seorang anak. Pertanyaan seputar permasalahan hidup, konsep diri dan kesuksesan sebenarnya sudah biasa saya terima dan saya tanggapi, namun pertanyaan kali ini tidak mudah saya jawab. Secara pemahaman teoritis dan belajar dari pengalaman orang lain, saya sebenarnya dapat menjawabnya, tetapi rasanya berat dan terkesan omong kosong. Beberapa hari sebelumnya saya juga dibuat speechless ketika salah seorang ‘adik’ yang sedang hamil mengatakan bahwa dia ngidam mau lihat Kak Purwo nikah. Waduh!!

Menyegerakan Menikah
Menikah memiliki banyak keutamaan, karenanya menyegerakan menikah jika sudah mampu sangat dianjurkan. Dalam salah satu hadits riwayat Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi disebutkan bahwa salah satu dari tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah SWT adalah pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan diri. Selain perintah untuk menikah(kan), dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 32 secara gamblang juga disampaikan bahwa jika hanya faktor ekonomi yang menjadi penghalang seseorang untuk menikah, maka Allah Yang Maha Luas Pemberian-Nya yang akan memampukannya dengan limpahan Karunia-Nya. Bersegera memang berbeda dengan tergesa – gesa, namun lebih jauh berbeda dengan terus menunda. Berbagai keutamaan seharusnya dapat menyingkirkan berbagai keraguan dan kekhawatiran. Jika sudah siap ilmu, fisik, mental dan finansial serta keluarga sudah terkondisikan sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menyegerakan menikah. Tak heran Umar bin Khattab r.a. menyindir keras Abu Zawaid r.a yang menunda menikah dengan mengatakan, “Tidak ada yang menghalangimu dari menikah kecuali kelemahan dan kemaksiatan”. Astaghfirullah…

Rintangan Pasti Selalu Ada
Berdasarkan pengamatan, ada beberapa faktor (selain takdir Allah tentunya) yang menyebabkan seseorang menunda untuk menikah. Faktor finansial dan akademis (masih kuliah) sepertinya bukan menjadi penghalang yang utama, toh sudah banyak rekan saya yang berhasil menghadapi dua faktor tersebut. Lalu apa? Menurut saya setidaknya ada empat factor. Pertama, faktor keluarga, mulai dari belum dibolehkan orang tua, masih harus membiayai keluarganya, ada kakaknya yang belum menikah, tidak dapat restu dari pihak keluarga hingga sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Faktor ini bisa menimpa siapa saja dan cukup pelik, tetapi bisa dan memang harus diatasi. Kedua, faktor keberanian, terlalu diliputi kekhawatiran tentang masa depan, termasuk sikap pasif/ menunggu jodoh, tidak berani mengungkapkan keinginan, takut ditolak, takut diterima dan tidak dapat memenuhi harapan, dan sebagainya. Uniknya, fenomena ini bukan hanya dirasakan mereka yang minderan dan berpikiran pendek, tetapi juga dapat menimpa orang – orang aktif dan visioner yang terlalu banyak pertimbangan. Ketiga, idealis dan terlalu memilih. Pasangan yang diharapkan harus memiliki sejumlah kriteria tertentu, mulai dari pendidikan, karakter, penampilan fisik, suku, profesi hingga hal – hal yang detail seperti kondisi pembinaan rutin, jumlah hapalan qur’an, intensitas shalat berjama’ah di masjid dan sebagainya. Banyak hal yang menciptakan berbagai kriteria tersebut, tidak hanya internal diri, tetapi juga kondisi eksternal. Keempat, seperti disampaikan Umar bin Khattab r.a., kemaksiatan. Ada dosa – dosa yang masih terus diperbuat sehingga menutup keberkahan dan pertolongan dari Allah SWT. Abstrak memang, namun sangat beralasan.

Bukan Cuma Cepat, Tetapi Juga Tepat
Jika faktor keluarga dan kemaksiatan terasa lebih pribadi (menyangkut diri sendiri) dan membutuhkan proses untuk mengatasinya, faktor keberanian dan terlalu memilih lebih memperlihatkan dimensi pemahaman dan psikologis. Fatalnya ketika tidak berani dan terlalu memilih terhimpun dalam diri seseorang, alamat akan sulit bagi orang tersebut untuk dapat meraih apa yang dicita – citakannya. Butuh penyadaran. Kekhawatiran adalah hal yang wajar karena ’perjanjian yang teguh’ memang bukan main – main, tetapi bukan berarti harus terus diturutkan, seperti ungkapan seorang teman, ”menikah itu memang tidak sesederhana yang diharapkan, tetapi juga tidak sesulit yang dikhawatirkan”. Pun demikian halnya dengan memilih, bukan sekedar wajar tetapi memang diperlukan. Hanya saja perlu diingat bahwa Allah SWT kerap kali memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Bisa jadi jodoh kita bukan seseorang yang memenuhi semua kriteria yang kita harapkan, tetapi seseorang yang tepat untuk bersama – sama memenuhi semua harapan. Aktif dan ’tidak takut’ bukan berarti ’tidak tahu malu’. Kriteriapun tidak serta merta harus diturunkan, hanya diharapkan berusaha untuk lebih bijak dalam memandang kriteria sebagai proses yang mendewasakan, tidak saklak. Keberanian dan ’keterbukaan’ ini insya Allah akan mempercepat, dan mempertepat.

Tiada Alasan Untuk Menunda
Allah SWT dan Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk bersegera dalam melalukan kebaikan, tidak kemudian menundanya. Hasan Al Bashri pernah berwasiat, “Jangan sekali – kali menunda – nunda karena Anda adalah hari ini bukan besok”. Iya, tidak ada kepastian hari esok akan datang, belum tentu kita masih diberikan kesempatan untuk beramal dan melakukan kebaikan. Memang ada skala prioritas dalam memilih kebaikan yang akan dan perlu untuk dilakukan, namun sejatinya tidak ada dikotomi antar kebaikan. Lebih dalam lagi terkait penundaan, Ibnul Jauzi mengatakan, “Jangan sekali – kali mengulur – ulur waktu, karena ia merupakan tentara iblis yang paling besar”. Penundaan akan membuka celah kelalaian dan memberikan syaithan lebih banyak kesempatan untuk memperdaya. Kewajiban kita begitu banyaknya, tidak seharusnya kita menunda menunaikan kewajiban. Ibnu ’Atha berkata, ”Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!”. Sejarah telah mengajarkan kepada kita betapa banyak orang yang tidak diberikan kesempatan untuk melakukan berbagai kebaikan dan untuk mewujudkan cita – citanya, hanya karena orang tersebut tidak bersegera dan berpikir bahwa dia dapat melakukannya di lain hari. Kembali ke tema pernikahan, Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya usiaku tinggal 10 hari lagi, maka yang lebih baik bagiku adalah segera menikah dari pada aku menjumpai Allah dalam keadaan membujang”. Semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk menjumpai Allah dalam keadaan suci dan tersucikan dengan menikahi seseorang yang terhormat (HR. Ibnu Majah)

* * *

“…Berbahagialah manusia yang tlah menemukan fitrahnya untuk membentuk keluarga yang sakinah. Menikahlah engkau segera bila saatnya telah tiba, jangan carikan alasan untuk menunda… Menikah, mengurangi dosa dan maksiat. Menikah, menyatukan bahagia dan nikmat. Rezeki manusia Allah mengaturnya, jangan takut bila kau niat untuk menikah…” (’Ayo Menikah’, Ar Rayyan)

Wallahu a’lam bishawwab
Nb : mencobamenyemangatidirisendiri

“Bimbang”, Suara Persaudaraan

Kulihat bunga di taman
Indah berseri menawan
Cantik anggun dan jelita
Melambai-lambai mempesona

Semerbak bunga setaman
Semarak warna warnian
Memancarkan keanggunan
Sejuk dalam cahaya Islam

Ada bertangkai mawar, kaya akan wewangian
Khasanah yang memerah, kuning, ungu dan merah jambu
Ada si lembut melati, pantulkan putih nan suci
Tebarkan harumnya yang khas, tegar jelajahi medan ganas

Si kokoh anggrek, berbaris serumpun
Menanti siraman kasih sejuk air jernih
Rimbun senyum dahlia
Palingkan gundah lara

Terhenyak daku tersadar
Semua itu bukan tujuan
Tetapi bunga Islam
Yang tertaburkan benih iman pilihan

Ketika Harus Memilih

“Sindrom paska kampus memang bikin gak biasa. Tapi mau gak mau inilah dunia nyata, realita keras dan dinamis, tinggal kita memilih, tergilas atau terus bertahan… dan keistimewaan seseorang takkan pernah hilang tapi hanya terpendam dan akan kembali muncul di saat yang tepat” (SMS dari seorang teman, 9 Mei, 20:13:42)

Akhirnya diri ini memilih setelah sempat tertegun di persimpangan (baca tulisan ‘Di Persimpangan’). Memilih sesuatu yang dapat menjadi batu loncatan tuk menggapai mimpi. Memilih sesuatu yang dapat mengembangkan kapasitas dan melatih kompetensi. Memilih sesuatu yang dapat membuat diri ini bisa hidup bahkan hingga beberapa saat setelah nyawa ini terlepas dari raga. Ya, kebermanfaatan dan kontribusi akan tetap tertinggal pun diri ini tak ada lagi di dunia.

Namun ternyata menggapai mimpi itu tidak mudah. Bukan hanya karena tidak semua orang memiliki impian yang sama. Tapi banyak realita yang memaksa diri untuk berpikir lebih rasional, bekerja lebih keras bahkan sejenak melupakan mimpi yang pernah ada. Ya, disadari atau tidak, banyak orang bekerja tanpa impian dan menularkannya ke orang-orang di sekelilingnya. Akhirnya ketika ujian menghebat, bertahan saja sudah menjadi hal yang nyaris tidak mungkin…

Dan ternyata mengembangkan kapasitas tidaklah mudah sendirian. Butuh waktu, pendampingan, sarana dan fasilitas yang menunjang. Juga butuh rekan kerja untuk berbagi. Kerja profesional bukanlah kerja individual namun kerja tim, karenanya tidak mungkin diri ini tumbuh kembang sendirian. Dan akibatnya ketika kerja dibenturkan dengan kendala personal, perbedaan orientasi dan ketidakidealan tim, pengembangan kapasitaspun tidak utuh. Masih berjalan sementara yang lain berlari, masih berkutat di ‘dalam kotak’ sementara orang lain sudah menjelajahi dunia…

Menjaga kebermanfaatan juga tidak sederhana. Ada unsur orang lain di dalamnya, bukan hanya variabel waktu, kemampuan dan kesempatan. Semakin banyak kebermanfaatan yang hendak tetap kita jaga, semakin banyak pula energi yang perlu disediakan, digunakan untuk kemudian dikumpulkan lagi. Dan dukungan dari segenap pihak menjadi keniscayaan untuk optimalisasi kebermanfaatan. Dan jika kata kuncinya adalah ‘pilihan’, realitanya seringkali kita harus memilih prioritas kebermanfaatan yang akan diberikan, tidak dapat menjaga semua karena berbagai keterbatasan…

Tak pelak lagi, diri ini ‘shock’ dihadapkan dengan berbagai keterbatasan sementara perangkat untuk mengatasinya tidak disediakan. Belum lagi diri ini beradaptasi, berbagai energi negatif dan kendala yang tidak seharusnya ada sudah menerpa. Tersenyum dalam kegundahan. Memaksakan diri untuk tetap semangat dalam segala kebingungan dan kelelahan. ‘Memaksakan’ keikhlashan. Merasa sendirian dan terus memotivasi diri setiap saatnya…

Sebagian teman mengharapkanku tetap bertahan. “… This is the real fight!… Terkadang kita serasa berjuang sendiri, tetapi akan menjadi kenikmatan yang berbeda pada saat kita bisa melewati fasa-fasa yang ‘berat dan cukup melelahkan’ ini. Fastaqim!”, ujar seorang teman. Ada lagi yang menyarankan untuk mundur untuk mencari lingkungan dan kondisi yang lebih mendukung. “Hidup itu adalah seni memilih”, begitu ungkap seorang teman ketika kusampaikan betapa beratnya tantangan yang harus kuhadapi. “Dan antum punya potensi besar yang sayang jika harus ‘habis’ disana…”

Dan sampai sekarang jiwa pembimbang ini terus berupaya memupuk keberanian dan keikhlashan. Belum ada suatu perbaikan yang dilakukan ataupun rencana-rencana membangun yang dilaksanakan. Belum ada perapihan sistem yang dilakukan ataupun optimalisasi potensi yang dapat diberdayakan. Walau berat, masih ada waktu dan kesempatan. ‘Mission Imposible’ ini harus dituntaskan. Dan akhirnya memang harus dimulai dari diri yang dapat senantiasa lebih bersabar, bekerja keras dan cerdas serta tetap menjaga semangat dan keikhlashan. Allah pasti akan memberi jalan keluar atas segala permasalahan, menurunkan pahlawan-pahlawan untuk membantu perjuangan. Ya, nampaknya mundur untuk saat ini bukan solusi malah menambah permasalahan. Hadapi saja, sisanya biarlah Allah yang menentukan dan memberi ganjaran.

“The history of free men is never written by chance but by choice, their choice” (Dwight D. Eisenhower)

Di Persimpangan

“Masa depan harus dipikirkan baik-baik, direncanakan serta dipersiapkan sebaik mungkin. Tetapi tidak boleh disertai dengan kekhawatiran. Jangan khawatir akan hari esok” (Dale Carnigie)

Lagi-lagi, selalu ada keraguan untuk melangkah di setiap persimpangan. Bimbang ketika harus memilih jalan yang harus ditempuh tuk meraih cita. Ada mimpi dan obsesi pribadi yang memotivasi, ada pula harapan dan pinta orang-orang yang dicintai yang turut mewarnai. Akhirnya diri ini terhenti. Pilihan mundur tidaklah mungkin dan hanya akan semakin mempersulit diri. Jalan di depan begitu terbentang, kesempatan yang tersedia tidaklah sedikit. Namun mungkin karenanya jiwa ini menjadi jiwa peragu. Ya, berhati-hati dalam mengambil kesempatan karena kesempatan adalah waktu yang hanya datang satu kali. Dan kesempatan adalah peluang yang dapat diambil atau diabaikan. Satu pilihan pada suatu kesempatan akan menentukan nasib yang tidak dapat dikembalikan.

Kulihat rekan-rekan seperjalananku telah mulai menjajaki jalan-jalan di depanku. Ada yang masih terlihat takut penuh coba-coba, ada yang terlihat mantap namun keringat dingin nyata sekali membasahi sekujur tubuhnya, ada juga yang sudah melangkah dengan pasti. Bahkan ada diantaranya yang memasuki jalan-jalan panjang tersebut dengan berlari, entah karena yakin atau memang ada yang mengejar. Dan aku masih terpaku. Beberapa orang mengajakku segera mengikuti jalan yang mereka pilih. Tapi mereka terlalu banyak, pilihan jalan terlalu banyak. Jiwa petualangku ingin mencoba semua jalan, tapi itu tak mungkin, seberapapun supernya diri ini. Semakin banyak mimpi, tawaran, masukan dan kesempatan semakin menambah kemelut dalam jiwaku.

Ah, kulihat temanku ada yang kembali ke persimpangan. Dia tidak tahan dengan jalan yang telah dilaluinya yang ternyata hanya mengorbankan idealismenya. Demi sesuap nasi? Tidak! Tidak semurah itu harga sebuah idealisme. Akupun jadi bergidik menatap jalan itu. Suatu saat aku harus mencobanya. Selanjutnya, aku menolak halus tawaran temanku yang mengajakku terbang jauh menggapai cita. Masih sulit bagiku melakukannya sementara kewajibanku disini masih banyak, ada target terkait pribadi dan orang lain yang harus kupenuhi. Dan kini pikiranku beralih pada jalan yang terlihat begitu nyaman, jalan yang nampaknya tidak terlalu asing bagiku, namun keraguan kembali menyergapku. Tak lama, ada lagi teman yang mengajakku membuat jalan sendiri yang pasti akan bermanfaat bagi orang lain. Ah, semua jalan begitu menarik dan menantang. Ingin rasanya kupejamkan mata dan biarkanlah angin yang memilihkan untukku jalan yang terbaik untuk kutempuh.

Namun akhirnya aku harus memilih jalan mana dulu yang harus kutempuh. Mulai kuperhitungkan diriku, kemampuanku, kebutuhanku dan mimpiku. Kubuat target diri hingga 40 tahun ke depan. Kupilih jalan yang tidak memutuskanku dengan jalan yang sebelumnya telah kulalui. Jalan yang banyak memberikan kebermanfaatan bagi orang lain sebagai penghibur yang sangat efektif dalam menghapus segala lelah payah dalam menghadapi jauhnya perjalanan. Namun jalan kali ini terasa berbeda, ada fitnah materi dan ujian idealisme di dalamnya. Jalan yang akan kutempuh akan banyak mengasah keahlian dan kompetensiku. Bahkan mungkin jalan ini akan menentukan siapa teman perjalananku untuk menghadapi samudera kehidupan di masa mendatang…

Jalan itu kini sudah jelas, tinggal menggugah keberanianku untuk menapakinya. Ya, selama aku terdiam di persimpangan ini aku banyak melakukan aktivitas yang begitu menyenangkan bagiku. Larut dalam kontribusi yang sudah seharusnya dilakukan oleh orang-orang di belakangku. Aku harus keluar dari zona nyaman ini untuk kemudian bergerak maju. Mulai berjalan, bahkan mungkin berlari mengejar ketertinggalanku. Apapun jalan yang kupilih akan kubuat menjadi jalan untuk mencapai citaku. Tidak ada lagi kekhawatiran karena Allah pasti bersamaku. Dia akan membukakan dan memilihkan jalan itu dan semoga senantiasa membimbing langkahku selama menapaki jalan yang pasti akan lebih berat dari jalan yang pernah kutempuh…

Get up and face the fight!!! Bismillah…

“Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah di sekitarmu dengan penuh kesadaran” (James Thurber)