Tag Archives: mencari kebahagiaan

Mencari Kebahagiaan

Untuk apa kau mengejar kemewahan? Apakah kau mencari kebahagian? Mengapa kau berduka ketika kegagalan? Apa kau tak terima takdir dari Tuhan? Mencari kekayaan, temui kegagalan. Ingin bahagia, terima kedukaan. Kekayaan tak menjanjikan kebahagian, adakala ia membawa kedukaan. Bersyukurlah dengan apa yang ada, itulah kunci kebahagian sebenarnya. Perlukan keimanan jua ketaqwaan, agar bahagia dunia akhirat. Berusahalah untuk berjaya, bersyukur dengan apa yang ada. Jika kau gagal tak perlu kecewa, itukan takdir dari Tuhan…” (‘Mencari Kebahagiaan”, Brothers)

Dimana kebahagiaan harus dicari? Bagaimana cara mendapatkannya? Ada dua kisah tentang pemuda yang mencoba mencari jawaban atas dua pertanyaan pertanyaan tersebut dan bertemu dengan orang bijak yang memberi mereka jawaban. Pada kisah pertama, orang bijak menyuruh pemuda tersebut pergi ke taman dan menangkap seekor kupu-kupu. Pemuda itu bergegas ke taman dan mulai mengejar kupu-kupu. Berlari kesana kemari, menerjang rerumputan, tanaman bunga, dan semak belukar, namun tak berhasil jua menangkap kupu-kupu. Orang bijak itupun menghentikan pemuda tersebut seraya berujar, ”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari dan menerjang tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak? Mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisiknya, biarkan ia memenuhi alam semesta ini sesuai fungsinya. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik dalam hatimu. Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan di suatu tempat. Ia tidak ke mana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah sebaik-baiknya, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri.

Pada kisah kedua, orang bijak memberikan sebuah sendok kemudian menuangkan tinta di atasnya. Orang bijak tersebut meminta sang pemuda untuk mengelilingi rumahnya yang besar sambil menjaga tinta di atas sendok tersebut agar tidak tumpah. Setelah sekian waktu, pemuda tersebut berhasil mengelilingi rumah besar itu tanpa menumpahkan tinta. Namun ia gelagapan ketika ditanya tuan rumah mengenai koleksi lukisan di lorong yang menurutnya paling indah, atau kucing peliharaan yang menurutnya paling cantik, atau bahkan jumlah kamar yang dilewatinya. Orang bijak tersebut akhirnya berkata, “Nak, sadarilah bahwa banyak orang yang tidak bisa menemukan bahagia karena terlalu fokus pada masalah yang dihadapinya. Mereka seperti kesulitan mencari-cari kebahagiaan, padahal bahagia itu sederhana, ada di mana-mana, di sekitarnya, dekat dengan dirinya. Sama seperti apa yang terjadi pada dirimu selama berkeliling rumah ini. Padahal ada banyak hal yang bisa engkau nikmati di sekitar, tapi kenyataannya engkau bahkan tak menyadari ada apa saja di sekitarmu.

Pesan dari dua kisah berbeda itu sama. Bahwa kebahagian itu sejatinya ada melingkupi setiap manusia, tak perlu dicari dan dikejar sedemikian rupa, cukup dimunculkan dengan rasa syukur dan kelapangan dada. Itulah mengapa banyak orang bahagia yang hidup sederhana, sementara tidak sedikit mereka yang berlimpah harta dan tahta namun tak merasa bahagia. Sebuah penelitian dari Kim dan Maglio (2018) mendapati bahwa menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir justru akan membuat seseorang tidak bahagia. Semakin dikejar semakin terasa jauh, dan waktupun semakin terasa tidak cukup. Agar lebih berbahagia, Kim dan Maglio menyarankan untuk lebih memfokuskan pada apa yang dimiliki saat ini dan mengurangi memikirkan ketercapaian tujuan akhir. Sederhananya, perbanyak bersyukur.

Tidak sedikit pula orang yang tertipu dengan kebahagiaan semu. Kebahagiaan sesaat. Ada sebuah studi yang membagi beberapa mahasiswa dalam dua grup. Grup pertama harus melakukan aktifitas yang terasosiasi dengan kebahagiaan, sementara grup kedua membuat kegiatan yang memberikan arti hidup. Para mahasiswa di grup pertama menghabiskan waktunya untuk aktivitas semacam bermain game, makan enak, atau hahahihi dengan teman-teman. Sementara mahasiswa grup kedua melakukan aktifitas seperti belajar, menolong orang, ataupun memaafkan teman. Hasilnya? Awalnya, grup pertama terlihat bahagia di saat grup kedua terlihat berjuang untuk melakukan aktifitasnya. Namun beberapa bulan kemudian, grup pertama terdeteksi mengalami penurunan mood ketika grup kedua berkata mereka jauh lebih merasa puas, tercerahkan dan emosi positif lainnya.

* * *

Seekor kelinci kecil ingin menyelidiki apa sebenarnya yang disebut dengan kebahagiaan. Pada suatu hari, ia keluar sendirian dari sarangnya untuk pergi mencari jawaban. Ketika bertemu singa, ia bertanya, “Apa arti kebahagiaan bagimu?”. Singa berkata, “Kebahagiaan ialah semua anggota keluarga selalu berada di samping kita”. Ketika bertemu harimau, ia juga bertanya, “Apa arti kebahagiaan bagimu?”. Harimau menjawab, “Kebahagiaan ialah orang yang kamu cintai juga mencintai dirimu”. Setelah mendengar itu, kelinci melompat pulang ke rumahnya kemudian bergegas memberitahukan semua jawaban yang didengarnya kepada ibunya. Saat ia selesai bercerita, sang ibu justru berkata, “Padahal hari ini kamu sudah sangat bahagia”. Kelinci itu bertanya, “Mengapa?”. Ibunya berkata, “Karena kamu tidak diterkam oleh mereka dan bisa kembali dengan selamat”.

Bahagia itu sederhana. Tak perlu banyak definisi, cukup dirasakan. Tak perlu diburu dan dicari, cukup ditumbuhkan. Mari kita berbahagia!

The foolish man seeks happiness in the distance; the wise grows it under his feet” (James Oppenheim)