Tag Archives: rekan kerja

Semoga Kalian Syahid Akhirat

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Kabar duka itu kembali tiba. Tadi siang jam 10.40, Om Wagiman meninggal di RSUD Wonosari setelah 2 pekan dirawat akibat Covid. Om Wagiman adalah suami dari adik bungsu ibu saya yang tinggal berdampingan dengan rumah kakek dan nenek saya. Beliau berhenti dari pekerjaannya di Kota Yogyakarta dan memilih buka usaha di kampung seraya memperdalam agama. Istrinya pun berhenti bekerja dari salah satu bank konvensional terbesar di Wonosari untuk lebih fokus ke keluarga. Cepat sekali kabar duka itu tiba sebab baru malam Jum’at pekan lalu (17/6), Mbah Akung (ayahnya Ibu) meninggal dan dicovidkan. Dan baru seminggu sebelumnya, pada 11 Juni 2021, Bude Rani (istri dari kakak sulung Ibu) meninggal di RS. PON.

Bulan ini baru berjalan tiga pekan namun sudah banyak sekali kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Baru 3 hari lalu, Pak Yuli Pujihardi, salah seorang pimpinan Dompet Dhuafa meninggal di RS. Kartika Pulomas setelah terpapar Covid. Di awal bulan ini pada 4 Juni 2021, Mas Jojo, salah seorang tim IT senior di Dompet Dhuafa berpulang ke rahmatullah, juga terjangkit Covid. Belum lagi jika ditambah wafatnya orang tua dari teman-teman, rekan kerja di wilayah, tetangga di perumahan, hingga orang-orang yang banyak dikenal, tentu daftarnya akan semakin banyak lagi. Apalagi jika ditambahkan informasi tentang kenalan saya yang terpapar Covid di bulan ini. Tampaknya gelombang Covid bulan ini memang tidak main-main.

Salah satu hikmah dari kematian adalah pengingatan bagi mereka yang masih hidup untuk lebih siap dalam menghadapi kematian. Mendengar bagaimana testimoni orang-orang atas kebaikan mereka yang telah mendahului kita, membuat kita benar-benar merenung tentang bagaimana akhir hidup kita kelak dan akan dikenang seperti apa. Apalagi mendengar cerita tentang husnul khatimah beberapa rekan, kian membuat takut akan kesudahan su’ul khatimah. Kabar ‘bahagia’nya, orang beriman yang meninggal karena wabah akan memperoleh predikat syahid akhirat, Insya Allah. Ada ganjaran kebaikan yang menyertainya. Syahid dunia adalah seseorang yang berjuang seakan-akan di jalan Allah, akan tetapi niatnya hanya karena ingin dapat nama, ada pamrih, dan bukan karena Allah semata. Sementara mereka yang wafat karena berperang di jalan Allah akan memperoleh predikat syahid dunia akhirat, mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, serta jaminan masuk surga.

Dari Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad SAW, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho’un. Rasulullah SAW lalu menjawab: Sesungguhnya wabah tho’un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho’un lalu tetap tinggal disana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala di sisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah SAW bertanya (kepada sahabatnya), “Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itulah syahid, Ya Rasulullah’’. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu, alangkah sedikit umatku yang syahid”. Para sahabat bertanya, “Mereka itu siapa ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, dan orang yang mati karena sakit perut juga syahid.” (HR. Muslim).

Hal ini bukan berarti kita cukup mengharap kematian akibat Covid saja agar dapat predikat syahid akhirat. Apalagi ada prasyarat keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan tawakkal untuk meraih predikat tersebut. Namun hal ini bisa jadi penguat optimisme dalam do’a-do’a kita. Semoga penyakit yang diderita orang yang mendahului kita dapat menggugurkan dosa-dosanya. Semoga kesabaran dalam menghadapi wabahnya dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT. Sementara bagi kita yang masih hidup, cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa kematian bisa datang kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Bahwa ada perjalanan panjang nan kekal setelah kehidupan di dunia fana ini. Bahwa harus ada bekal yang cukup untuk menjalaninya. Maka berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum. Allahumma la tahrimna ajrahum wala taftinna ba’dahum waghfirlana wa lahum wali ikhwaninalladzina sabaquna bil iman wala taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu Rabbana innaka ra’ufurrahim (Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, bebaskanlah dan maafkanlah mereka. Ya Allah, janganlah kiranya pahala mereka tidak sampai kepada kami dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggal mereka. Ampunilah kami dan mereka, dan juga kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang)

Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh orang, yaitu korban ath-tha’un (wabah) adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Daud)