Tag Archives: ta’at pada suami

Wahai Para Istri, Bersyukurlah!

Allah tidak akan melihat kepada perempuan yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan suaminya.” (HR. An Nasa’i dan Al Baihaqi)

Dalam kitab Al Bidayah wa An Nihayah karya Al Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi, ada sebuah hadits panjang riwayat Al Bukhari yang berkisah tentang pernikahan Nabi Ismail a.s. dengan seorang wanita yang tinggal di sekitar sumur Zamzam. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, Hajar, ibu Nabi Ismail a.s. meninggal dunia. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim a.s. datang untuk mengetahui kabar anaknya, namun dia tidak menemukan Nabi Ismail a.s.. Beliaupun bertanya kepada istri Nabi Ismail yang kemudian menjelaskan bahwa suaminya sedang pergi mencari nafkah. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat.” Setelah mendengarkan keluhan tentang kehidupan yang dijalani anak dan menantunya, Nabi Ibrahim a.s. berkata, “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengganti palang pintu rumahnya”. Kemudian beliau pun pergi.

Ketika Nabi Ismail a.s. datang, dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?”. Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua begini dan begitu keadaannya datang dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan, dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan.” Nabi Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab, “Ya, dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu.” Nabi Ismail a.s. berkata, “Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.

Kemudian Ismail menikah lagi dengan wanita lain dari penduduk yang tinggal di sekitar situ. Nabi Ibrahim a.s. yang pergi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah SWT datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak menemukan Nabi Ismail a.s.. Beliaupun bertanya kepada istri Nabi Ismail yang kemudian menjelaskan bahwa suaminya sedang pergi mencari nafkah. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab seraya memuji Allah SWT, “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup”. Nabi Ibrahim a.s. bertanya, “Apa makanan kalian?”. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Daging”. Nabi Ibrahim a.s. bertanya lagi, “Apa minuman kalian?”. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Air”. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka”. Rasulullah SAW bersabda, “Saat itu belum ada biji-bijian di Mekkah dan seandainya ada tentu Nabi Ibrahim sudah mendoakannya. Dan dari doa Nabi Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorang pun penduduk Makkah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air”.

Nabi Ibrahim a.s. selanjutnya berkata, “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh palang pintu rumahnya”. Kemudian beliau pun pergi.  Ketika Nabi Ismail a.s. datang, dia berkata, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya, tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kita (seraya memuji Ibrahim). Dia bertanya kepadaku tentangmu maka aku terangkan, lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik”. Nabi Ismail a.s. bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab, “Ya, dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu”. Nabi Ismail a.s. berkata, “Dialah ayahku dan palang pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu”.

Kedua istri Nabi Ismail a.s. menjawab jujur pertanyaan Nabi Ibrahim a.s., namun dalam perspektif kesyukuran yang berbeda. Dan hasilnya pun bertolak belakang. Perkara kesyukuran ini ternyata sangatlah mendasar. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat melakukan sholat gerhana matahari dengan sangat panjang, beliau melihat surga dan neraka. Saat melihat neraka, beliau bersabda, “Tidak pernah aku melihat pemandangan seperti itu sebelumnya. Aku melihat kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita”. Sahabat bertanya, “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kekufuran mereka”. Kemudian para sahabat bertanya lagi, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang, kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai), niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu’” (HR Bukhari).

Lagi-lagi perkara kesyukuran yang menyebabkan banyak wanita masuk ke neraka. Bukan berarti laki-laki atau suami sudah pasti selalu bersyukur. Namun keinginan untuk memperoleh lebih, membandingkan dengan yang lain, hingga pertimbangan berdasarkan perspektif orang lain lebih banyak dilakukan oleh para wanita. Karenanya, jika ketaatan adalah salah satu kunci surga bagi para istri, maka kesyukuran adalah tameng yang akan menyelamatkan para istri dari neraka. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni neraka”. Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab, “Para wanita”. Seorang sahabat bertanya, “Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudari-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka tidak bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak bersabar” (HR. Ahmad).

Ketika seorang istri merasa sulit untuk berterima kasih, kerap lalai dalam beribadah, sering merasa iri, mudah mengeluh, selalu menuntut, dan menyebarkan aib suami. Bisa jadi kekufuran dan kefasikan itu sudah mulai jelas memperlihatkan tandanya. Kesyukuran tidak terbentuk. Padahal betapa banyak hal yang bisa disyukuri, tidak terhitung jumlahnya. Pekerjaan rumah menumpuk pertanda ada ladang pahala. Rumah riuh berantakan pertanda ada keaktifan. Semua gejala masalah akan terlihat berbeda ketika dipandang dari perspektif kesyukuran. Bukan menunggu nikmat datang baru bersyukur, tetapi senantiasa bersyukur sehingga nikmat kian bertambah. Wahai para istri, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sesuai) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7)

Polemik di Balik Nama Muthi’ah

“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fathimah binti Rasulillah SAW, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim)

Fathimah r.a. sangat penasaran dengan pesan ayahandanya, Rasulullah SAW, untuk menemui dan meneladani sosok muslimah berakhlak mulia bernama Muthi’ah. Sambil membawa Hasan r.a. yang masih kecil, Fathimah pun datang menemui muslimah teladan yang disebut Rasulullah SAW sebagai calon penghuni syurga. Sesampainya di depan rumah yang dimaksud, Fathimah r.a. mengucapkan salam. Salam dijawab, pintu pun dibuka, namun di luar dugaan Fathimah r.a. justru mendapat jawaban dari tuan rumah, “Sungguh bahagia aku menyambut kedatanganmu Fathimah. Namun, maafkanlah aku karena aku hanya dapat menerima kedatanganmu di rumahku. Sesungguhnya suamiku mengamanatkan padaku untuk tidak menerima tamu lelaki di rumahku.” Fathimah r.a. tersenyum, “Wahai Muthi’ah, ini Hasan, anakku dan dia masih kecil.” Muthi’ah r.a. menjawab, “Sekali lagi maafkan aku Fathimah, meskipun ia masih kecil tetapi ia lelaki. Sungguh aku tidak dapat melanggar amanat suamiku.

Ada yang meriwayatkan bahwa selepas itu Fathimah r.a. bergegas membawa anaknya pulang dan kembali menemui Muthi’ah, ada pula yang meriwayatkan kejadian tersebut berulang di hari selanjutnya ketika Fathimah turut mengajak Husein sementara suaminya Muthi’ah hanya mengizinkan Fahimah dan Hasan radhiallahu anhum. Wallahu a’lam. Singkat cerita, Fathimah r.a. diterima masuk ke dalam rumah, kemudian beliau menyampaikan perintah ayahandanya untuk meneladani akhlak Muthi’ah. Muthi’ah r.a. tampak senang mendengar kabar gembira yang disampaikan Fathimah, sekaligus heran dan bingung karena tidak merasa ada yang istimewa dari muslimah seperti dirinya.

Fathimah r.a. memandang ke sekeliling isi rumah, mencoba menerka apa yang istimewa dari seorang Muthi’ah. Pandangannya pun tertuju pada kursi, gantungan baju, dan meja yang di atasnya terdapat cambuk rotan, kipas dan handuk. Fathimah r.a. pun bertanya, “Untuk apa benta-benda itu?”. “Benda-benda ini kusediakan untuk menyambut suamiku pulang dari bekerja. Kursi ini untuk istirahat, gantungan untuk bajunya, dan handuk ini kugunakan untuk mengelap keringatnya yang sudah bekerja keras. Setelah kering keringatnya, suamiku biasa berbaring sejenak dan aku duduk di sampingnya sambil mengipasinya dengan kipas ini sampai hilang rasa lelahnya.”, jawab Muthiah r.a. “Lalu untuk apa cambuk ini?” tanya Fathimah r.a. semakin penasaran. “Setelah hilang rasa lelahnya, suamiku mandi dan aku menyiapkan hidangan untuknya. Suamiku akan makan hidangan tersebut dan aku memberikan cambuknya seraya berkata jika ada pelayananku yang tak memuaskan maka cambuklah aku.” “Lalu, apakah suamimu sering memukulmu?” tanya Fathimah r.a. lagi. “Tidak, tidak pernah, yang selalu terjadi adalah dia menarik tubuhku dan memelukku penuh kasih sayang.”, jawabnya. Mendengar semua penjelasan tersebut, Fathimah r.a. terperangah, tak terasa air matanya menetes. Ia pun menyadari, sungguh tak berlebihan jika ayahandanya memintanya belajar dari sosok Muthi’ah.

* * *

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya mereka (umat-umat terdahulu) menamakan dengan nama para nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka.”. Menyimak kisah di atas, tidak sedikit kaum muslimin yang menamai anak mereka dengan Muthi’ah, seorang teladan muslimah dalam keta’atan terhadap suami. Namun tidak sedikit pihak yang mempertanyakan keshahihan kisah tersebut yang tidak ditemukan dalam kitab-kitab yang biasa dijadikian rujukan. Penolakan lebih besar dilakukan oleh para penganut Syi’ah yang melihat kisah tersebut sebagai suatu upaya penghinaan ahlul bait. Dalam hal ini, derajat Fathimah r.a. seolah ada di bawah sosok ‘misterius’ bernama Muthi’ah. Sementara mereka mengklaim banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan Fathimah dan para ahlul bait di atas shahabat lain.

Padahal keutamaan seorang shahabat bukan berarti menghina shahabat yang lain. Misalnya saja ketika Allah SWT membenarkan pendapat Umar r.a. mengenai tawanan perang Badar, bukan lantas menunjukkan Umar r.a. lebih mulia dibandingkan Abu Bakar r.a. yang pendapatnya diambil oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW juga kerap memuji para shahabatnya, tanpa merendahkan shahabat lainnya. Ada pula bantahan bahwa kisah tersebut bertentangan dengan hadits para pemuka wanita ahli syurga seperti yang disebutkan di atas. Padahal shahabiyah yang dijamin masuk syurga bukan hanya Khadijah dan Fathimah radhiallahu anhuma. Ada Summayah, ada Ummu Sulaim, dan ada yang lainnya. Sebagaimana shahabat yang dijamin masuk syurga bukan hanya para Khulafaur Rasyidin. Kisah di atas sejatinya dapat dimaknai sama dengan kisah salah seorang ahli syurga yang tidak disebutkan namanya karena senantiasa menjaga dirinya dari sifat hasad kepada orang lain.

Ya, jika Muthi’ah yang berarti wanita yang ta’at bukanlah sekedar nama, melainkan sifat, dapat kita pahami bahwa hal tersebut akan mengantarkan seorang istri kepada syurga. Allah SWT berfirman, “Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…” (QS. An Nisa: 34). Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban). Beliau juga bersabda, “Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihah, bila ia menyuruhnya maka ia menaatinya, bila memandangnya membuat hati senang, bila bersumpah (agar istrinya melakukan sesuatu), maka ia melakukannya dengan baik, dan bila ia pergi maka ia dengan tulus menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri)” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Bahkan dengan redaksi serupa, Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka/ borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadap suaminya lalu menjilati luka/ borok tersebut, niscaya ia belum purna (belum dianggap cukup) menunaikan hak suaminya“.

Masih banyak lagi dalil yang menyampaikan keutamaan ketaatan seorang Istri terhadap suaminya, misalnya sabda Rasulullah SAW, “Ada dua golongan yang shalat mereka tidak melewati kepala-kepala mereka (tidak diterima oleh Allah SWT), yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya sampai ia kembali kepada tuannya dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali ta’at” (HR. Al Hakim dan Ath Thabrani). Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Seorang perempuan jika telah menikah maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami (dalam hal yang ma’ruf) itu lebih wajib dari pada ketaatan kepada orang tuanya“.

Polemik lainnya mengenai nama Muthi’ah justru hadir karena namanya yang dianggap sebagai tazkiyah (menganggap diri suci) sehingga dimakruhkan untuk memberi nama anak dengan Muthi’ah. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim disebutkan, “Anak perempuan Umar bin Khaththab bernama ‘Ashiyah (wanita yang suka bermaksiat), maka Rasulullah SAW memberinya nama Jamilah (wanita yang cantik)”. Berkenaan dengan hal ini Abu Thayyib berkata, “Beliau tidak mengganti Ashiyyah menjadi Muthiah(gadis yang penuh ketaatan) padahal ini adalah lawan dan kebalikannya. Indikasinya,beliau memilih Jamilah karena menghidari tazkiyyah (mensucikan diri)”.

Berbeda dengan nama Barrah (wanita yang baik dan berbakti), Yasaar (yang mudah), Rabaah (yang beruntung), Nafi’ (yang bermanfaat) dan Aflaha (yang menang) yang memang jelas tersurat dalam hadits riwayat Imam Muslim mengenai kemakruhannya, pendapat Abu Thayyib memiliki beberapa kelemahan. Pertama, Rasulullah SAW tidak selalu mengganti nama yang kurang baik dengan kebalikannya. Nama Hazn (sedih) diganti Sahal (mudah), padahal mudah bukanlah lawan dari sedih. Begitu juga dengan nama Zahm (berdesakan) yang diganti menjadi Basyir (pemberi berita gembira) atau Syihab (meteor) menjadi Hisyam (pemurah). Bukan dengan antonimnya. Karenanya kurang tepat kesimpulan bahwa pemilihan nama Jamilah disebabkan kemakruhan memberi nama Muthiah yang merupakan lawan dari ‘Ashiyah.

Kedua, dalam beberapa riwayat yang shahih dikisahkan bahwa Muthi’ bin Al Aswad r.a. dulunya bernama Al ‘Ash (pendosa), kemudian Rasulullah SAW mengganti namanya menjadi Muthi’ (yang ta’at). Dan nama Muthi’ah hanyalah bentuk muannats (perempuan) dari Muthi’. Ketiga, nama sejatinya adalah do’a, bukan klaim. Memberi nama anak dengan nama nabi atau orang-orang shalih adalah do’a, bukan klaim bahwa anak tersebut selevel dengan nabi atau orang-orang shalih. Nama Mukhlish (orang yang ikhlash) atau Muttaqin (orang yang bertakwa) adalah do’a, bukan klaim, karenanya tidak perlu terburu-buru untuk mengharamkan atau memakruhkan suatu nama karena do’a kebaikan yang menyertainya.

Berhati-hati dalam memberi nama adalah suatu keharusan, apalagi kelak kita akan dipanggil oleh Allah SWT dengan nama tersebut. Namun tidak perlu mempersulit pemberian nama. Upayakan memberi nama dengan nama orang-orang baik dan yang memiliki makna baik. Karena nama adalah do’a.

Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya
(Ibnu Qoyyim Al Jauziyah)