Tag Archives: tabayyun

Sliver the Truth

Kebenaran umpama selembar cermin di tangan Tuhan yang jatuh pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memerhatikannya, lalu berpikir telah mengenggam kebenaran.” (Jalaluddin Rumi)

Sliver the truth’ artinya sepotong kebenaran, sebuah istilah yang baru saya dapati saat berdiskusi dengan Pak Zaim Uchrowi, salah seorang pendiri Harian Republika. Beliau mengatakan bahwa ‘sliver the truth’ begitu berkembang di Indonesia, terutama di dunia maya. ‘Sliver the truth’ mengandung kebenaran, namun tidak utuh, dan menurut beliau hal ini lebih berbahaya daripada kebohongan/ hoax. Hoax ketika dibuktikan kepalsuannya akan nyata kebohongannya dan ditinggalkan. Namun sepotong kebenaran tidak benar-benar bisa dibuktikan kepalsuannya karena masih mengandung kebenaran. Mereka yang meyakini sepotong kebenaran ini pun lebih sulit untuk bersikap objektif dan menerima kebenaran yang kompleks. Sepotong kebenaran dianggap sebagai kebenaran yang utuh.

Ada istilah serupa yang saya kenal sebelumnya yaitu ‘half-truth’ atau kebenaran yang setengah-setengah. Ada pepatah lama yang mengatakan, “a half-truth is a whole lie”. Barangkali ada benarnya, sebab sepotong kebenaran lebih didominasi kepingan yang dekat dengan kebohongan dibandingkan dengan kepingan kebenarannya. Dan menjadi lebih berbahaya dibandingkan kebohongan karena kepingan kebenaran ini diyakini sebagai kebenaran sementara kepingan yang lain diyakini sebagai kebohongan. Semakin lama penggalan kebenaran ini diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, semakin jauhlah dengan kebenaran hakiki sebab mereka yang meyakininya menutup diri dari penggalan kebenaran yang lain.

Dalam realitanya, ‘sliver the truth’ ini banyak digunakan untuk memanipulasi kebohongan menjadi kebenaran. Belum lagi jika sudah melibatkan framing media. Kebohongan yang terus diulang akan menjadi kebenaran, apalagi jika dalam pengulangan tersebut diselipkan ‘sliver the truth’. Istilah ‘framing’ ini akhirnya dekat dengan istilah ‘paltering’ alias mempermainkan kebenaran. Mengelabui orang dengan menyatakan hal yang ‘benar’. Contoh sederhana yang lekat dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan istilah ‘On the Way (OTW)’ ketika terlambat memenuhi janji pertemuan, padahal baru saja berangkat di depan rumah. Tidak sepenuhnya salah karena memang sudah di jalan (depan rumah). Bahkan ada yang lebih ekstrim menggunakan OTW dengan maksud lagi jalan ke kamar mandi buat siap-siap. Sejenis kebohongan yang barangkali dianggap lumrah.

Sebenarnya tidak semua ‘kebohongan’ dilarang. Nabi Ibrahim a.s. misalnya, pernah ‘berbohong’ tiga kali: menatap langit dan mengatakan dirinya sakit ketika diajak warga untuk berhari raya menyembah berhala; ‘mengambinghitamkan’ berhala paling besar yang menghancurkan berhala-berhala; dan mengakui Sarah (istrinya) sebagai saudara perempuannya. Termasuk ‘sliver the truth’ karena Nabi Ibrahim a.s. memang merasa sakit hatinya menyaksikan kemusyrikan kaumnya. Dalam kasus penghancuran berhala, yang disampaikan Nabi Ibrahim a.s. adalah sejenis majas, bukan jawaban dusta atas sebuah pertanyaan. “Berhala yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al Anbiya:63). Secara logika, karena berhala tidak dapat berbicara, maka pernyataannya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Bahkan ada yang menafsirkan kalimat bal fa’alahu kabiruhum hadzaterdiri dari dua kalimat.Bal fa’alahumenjawab pertanyaan bahwa pelakunya adalah laki-laki, sementara kabiruhum hadzaadalah sebuah kebenaran karena Nabi Ibrahim a.s. saat itu memang menunjuk berhala paling besar yang ada disana. Kemudian untuk kasus mengakui Sarah sebagai saudarinya karena memang Sarah adalah saudara perempuan seagamanya. Saat itu bahkan Sarah memang satu-satunya saudari seiman. Jika ditambah berbagai potensi fitnah yang akan muncul jika Nabi Ibrahim a.s. menjawab ‘apa adanya’, maka keputusan untuk slivering the truthtentu akan lebih mudah dipahami. Atau dalam kisah Nabi Yusuf a.s., manipulasi kebenaran pun sempat dilakukan ketika menuduh saudaranya (Benyamin) mencuri sehingga dapat ditahan, dan pada akhirnya bisa membawa ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.) ke Mesir. Itu termasuk siasat. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Ummu Kultsum binti Uqbah Abi Mu’ith r.a. mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah termasuk pendusta: orang yang mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan.” Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mentolerir kebohongan hanya dalam tiga kondisi: pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau sebaliknya.

Hanya saja dalam kondisi saat ini, ‘slivering the truth’ ini tidak patut dibudayakan. Bukan hanya motifnya yang seringkali politis dan sangat pragmatis, kondisi masyarakat pun juga tidak mendukung. Bualan dan dusta semakin jadi fenomena biasa. Daya kritis terhadap informasi menurun sementara fanatisme golongan meningkat. Belum lagi ditambah media yang cenderung kepada satu potongan kebenaran, bukan pada kebenaran itu sendiri. Sepotong kebenaran ini ketika dipadukan dengan arogansi dan fanatisme berlebihan dapat berbahaya. Bukan hanya akan menolak kebenaran dari pihak yang berbeda, dan merendahkan pihak lain, namun akan menimbulkan kebencian dan permusuhan dengan pihak lain. Polaritas antar golongan semakin kuat, seperti anjing dan kucing. Atau ibarat cebong dan kampret.

Ada istilah ‘white lies’ bahkan ‘beautiful lies’, namun ‘seputih’ apapun hal itu tetaplah sebuah kebohongan, bukan kebenaran. Kebohongan ‘baik’ yang akan diikuti oleh kebohongan lain untuk menutupinya. Kebohongan yang akan melahirkan kenyamanan semu. The truth is still the truth, even if no one believes it. A lie is still a lie, even if everyone believes it. Memang kebenaran kadang menyakitkan, karenanya tidak semua orang menyukainya. Ada pula yang namanya pembenaran, yang mampu memberi kepuasan sesaat. Dan sepotong kebenaran adalah sesuatu hal yang berbeda lagi. Bisa diarahkan membawa kebaikan, namun lebih berpotensi besar menyertai kebohongan. Karenanya, daripada menyampaikan sepotong kebenaran, lebih baik membiasakan berpikir kritis dan terbuka, tabayyun (check and recheck), serta menahan diri dari perkataan dan perilaku dusta, sekecil apapun, dalam keadaan bercanda sekalipun. Membiasakan diri untuk terus mencari, menelaah, dan menerima kebenaran. Bisa jadi ada kesalahan dari kebenaran yang kita yakini. Bisa jadi ada kebenaran dalam kesalahan yang orang lain yakini. Sebab kebenaran sejati hanya ada di sisi Allah SWT.

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim)

Fanatisme Domba Aduan

…Sayang-sayang seribu kali, domba-domba tak menyadari. Kasihan aduhai kasihan, domba-domba pun bermusuhan. Hentikanlah, hentikan itu kedhaliman. Janganlah dan janganlah kau mengadu domba. Adu domba, adu domba, mengadu domba, sungguh suatu dosa. Adu domba, adu domba, mengadu domba, perbuatan tercela…
(‘Adu Domba’, Rhoma Irama)

Strategi apa yang tepat untuk dilakukan ketika kekuatan musuh lebih besar sementara kekuatan kita terus berkurang? Dalam buku 36 strategi perang kemiliteran cina daratan yang memuat 6 x 6 strategi perang, ada strategi terakhir (ke-6) yang dapat mengatasi kondisi ini yaitu strategi kekalahan perang. Ada enam siasat dalam strategi kekalahan perang ini, yaitu siasat memanfaatkan kecantikan wanita, siasat kota kosong, siasat adu domba dengan menggunakan mata-mata musuh, siasat melukai diri sendiri, siasat menggabungkan serangkaian strategi dan ketika mundur merupakan pilihan terbaik. Perang merupakan tipu muslihat, strategi Sun Tzu yang turut mengedepankan nilai moral, selain SDM dan hasil, juga menginspirasikan politik pecah belah atau siasat adu domba ini. Divide et empera yang pernah diterapkan penjajah Belanda ini terbukti mampu memecah kekuatan besar bangsa menjadi tidak berdaya. Kekuatan besar akan saling melemahkan menuju kehancuran tanpa perlu dilawan dengan kekuatan besar.

Imam Ibnu Qudamah di dalam kitabnya “Mukhtashar Minhajul Qashidin” menceritakan bagaimana berbahayanya siasat adu domba ini. Dikisahkan dalam kitab tersebut, seseorang menjual budak dan ia mengatakan kepada pembelinya bahwa budak ini tidak mempunyai satu aibpun hanya saja dia suka mengadu domba. Sang pembeli merasa hal tersebut bukan merupakan masalah dan membeli budak tersebut. Setelah beberapa hari budak itu berada di rumah pembeli, dia menghampiri tuannya seraya berkata, “Sebenarnya Tuanku tidak mencintai Nyonya. Meskipun begitu, dia tetap ingin menikahi Nyonya. Jika Nyonya menghendaki, saya bisa membujuknya agar dia tidak menceraikan Nyonya, lalu ambillah pisau untuk mencukur rambutnya tatkala dia tidur. Hal ini bisa menyihirnya, sehingga dia senantiasa mencintai Nyonya.” Lalu budak itu berkata kepada tuannya, “Istri Tuan berkomplot dengan seseorang dan ingin membunuh Tuan selagi Tuan sedang tidur.” Maka sang tuan pura-pura tidur. Ketika sang istri menghampirinya pelan-pelan sambil membawa pisau, ia mengira istrinya benar-benar akan membunuhnya. Ia pun segera bangkit dan membunuh istrinya. Mengetahui sang istri terbunuh, keluarga sang istri mendatanginya, lalu membunuhnya. Bahkan permusuhan merembet antara kabilah suami dan istri.

Dalam konteks akhlak, sikap mengadu domba jelas termasuk sifat tercela.Dari Ibnu Abbas r.a., ketika Rasulullah SAW melewati sebuah kebun beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa dalam kuburnya. Nabi bersabda, “Keduanya sedang disiksa dan tidaklah keduanya disiksa karena masalah yang sulit untuk ditinggalkan”. Kemudian beliau kembali bersabda, “Memang masalah mereka adalah dosa besar. Orang yang pertama tidak menjaga diri dari percikan air kencingnya sendiri. Sedangkan orang kedua suka mengadu domba” (HR. Bukhari). Bahkan secara lebih tegas, Rasulullah SAW mengatakan bahwa tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba  (HR. Muslim).

Kalah Jadi Abu, Menang Jadi Arang
Pada zaman jahiliyah, ada dua suku yang selalu bermusuhan turun-temurun yaitu Suku Aus dan Khazraj. Permusuhan selama 120 tahun tersebut pun berakhir setelah Islam datang. Kedua suku tersebut hidup berdampingan secara damai. Suatu ketika, seorang Yahudi bernama Syas Ibnu Qais merasa terganggu melihat Suku Aus dan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai penuh keakraban. Ia kemudian menyuruh seorang pemuda Yahudi untuk duduk bersama Suku Aus dan Suku Khazraj, dan menyinggung mengenai perang Bu’ast yang pernah terjadi di antara mereka. Suku Aus dan Khazraj terpancing dan mulai mengagungkan sukunya masing-masing, saling mencaci bahkan bersiap mengangkat senjata.

Untungnya, Rasulullah SAW yang mendengar peristiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka. Setelah mendengar nasehat Rasulullah, mereka sadar, menangis dan kemudian saling berpelukan. Perang pun dapat dihindarkan. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran: 103)

Bisa dibayangkan jika perang Bu’ast jilid II kembali terjadi, siapapun pemenangnya, kedua pihak yang bertikai akan mengalami kerugian besar. Ibarat dua domba yang bertarung, kalaupun ada akhirnya yang tergeletak kalah atau mungkin melarikan diri, domba yang telah bertarung pun takkan terbebas dari rasa sakit akibat habis bertarung. Yang terhibur adalah yang menonton, yang mereguk keuntungan adalah yang mengadu domba. Bukan satu dua kali siasat adu domba ini dilancarkan kepada umat Islam, dan tidak jarang umat Islam terpecah karenanya. Sibuk bertarung dengan saudaranya sendiri, saling menghujat dan merasa golongannya paling benar. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal: 46).

Apapun alasannya, berbantah-bantahan pasti akan melemahkan dan hanya membuat musuh-musuh Islam tertawa. Parahnya, masih banyak umat Islam yang tidak sadar sedang dipecah belah, bahkan ada yang berbangga dan berbahagia jika berhasil menjatuhkan saudaranya. Lebih ironis lagi, pihak yang mengadu domba ada di dalam tubuh umat Islam sendiri. Ibarat duri dalam daging, musuh dalam selimut. Na’udzubillah. “Barangsiapa meninggalkan, menghindari perbantahan, padahal ia posisinya adalah salah, maka Allah akan membangunkan rumah baginya di taman surga. Dan barangsiapa menghindari perbantahan, padahal dirinya posisinya benar, maka Allah membangunkan rumah untuknya di surga yang tinggi” (H.R. Turmudzi dan Ibnu Majah).

Fanatisme yang Membutakan
Buruknya perilaku adu domba nampaknya tidak perlu menjadi perdebatan, namun yang mengundang tanda tanya adalah mengapa masih ada pihak-pihak yang mau dipecah belah jika memang disadari bahwa adu domba itu berbahaya. Upaya adu domba hanya akan berhasil ketika ada rasa bangga yang berlebihan atau sikap fanatik. Misalnya dalam kasus Aus dan Khazraj di atas, peperangan hampir pecah ketika kedua suku tersebut mulai mengagungkan sukunya masing-masing. Berkenaan dengan fanatisme ini Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Rum: 31-32).

Perpecahan atau pertikaian biasanya terjadi ketika setidaknya ada satu pihak yang merasa ‘lebih’ dari yang lain sehingga perlu ‘diperlakukan berbeda’ atau ‘melakukan hal yang berbeda’. Sebagaimana cinta, kebanggaan yang berlebihan memang mampu membutakan, rasionalitas bisa terpasung karenanya. Apapun yang dimiliki siap diberikan, bahkan jika perlu mengambil hak milik orang lain untuk diberikan. Fanatisme ini telah berhasil membutakan Iblis sehingga tidak mau sujud kepada Adam, membutakan Qabil sehingga membunuh Habil, membutakan kaum kafir Quraisy sehingga memilih kepercayaan nenek moyangnya, dan telah berhasil membutakan banyak orang di muka bumi sehingga timbul banyak fitnah dan kekacauan.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata, “Sesungguhnya sikap fanatik adalah penyakit kronis yang telah membinasakan umat terdahulu dan sekarang. Penyakit inilah yang pertama kali terjadi dalam sejarah makhluk-makhluk yang Allah SWT ciptakan, yaitu saat menimpa iblis terlaknat. Dengan sebab itulah ia menjadi makhluk pertama yang bermaksiat kepada Allah SWT. Kefanatikannya terhadap bahan asal penciptaannya (yakni, api) menyebabkannya kufur dan menolak perintah Allah SWT untuk sujud penghormatan kepada Nabi Adam a.s. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Engkau (Allah) menciptakan aku dari api sementara Engkau menciptakan dia (Adam) dari tanah liat.” (QS. Al A’raf: 12).

Tabayyun yang Tidak Membudaya
Setelah perang Bani Mushthaliq, Rasulullah SAW membagi-bagikan ghanimah dan tawanan untuk dijadikan budak kepada kaum muslimin. Tawanan yang menjadi hak Rasulullah SAW adalah Juwairiyah binti Al-Harits, putrid pemimpin Bani Musthaliq, yang kemudian dinikahi oleh beliau. Tindakan Rasulullah SAW ini menggugah Al-Harits bin Dhihar untuk kemudian memeluk Islam dan mendorong para shahabat untuk membebaskan para budak dari Bani Mushthaliq. Kepada Rasulullah SAW, Al-Harits berkata, “Saya akan pulang ke kampung saya untuk mengajak orang masuk Islam dan membayar zakat. Bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya.” Namun ketika kaum Bani Musthaliq sudah menerima Islam, mengumpulkan zakat, dan waktu pengambilan zakat telah tiba, ternyata utusan Rasulullah SAW belum datang juga. Al-Harits khawatir ada apa-apa, sehingga setelah bermusyawarah dengan para tokoh Bani Musthaliq, ia merasa harus datang kepada Rasulullah SAW tanpa menunggu kedatangan utusan beliau. Al-Harits kemudian memimpin sendiri keberangkatan ke Madinah untuk menyerahkan zakat bersama rombongan tokoh Bani Musthaliq.

Di waktu yang hampir bersamaan, Rasulullah SAW mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat yang telah dikumpulkan Al-Harits. Di tengah jalan, Al-Walid melihat al-Harits beserta rombongan hendak menuju Madinah. Mengingat permusuhan di masa jahiliyah antara dirinya dengan Al-Harits, timbul rasa gentar di hati Al-Walid, jangan-jangan Al-Harits akan menyerang dirinya. Karena itulah, Al-Walid kemudian berbalik kembali ke Madinah dan menyampaikan laporan yang tidak benar bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat, bahkan akan membunuhnya. Rasulullah SAW tidak langsung percaya begitu saja, beliau pun mengutus beberapa sahabat lain untuk menemui Al-Harits. Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata, “Kami diutus Rasulullah saw untuk bertemu denganmu”. Al-Harits bertanya, “Ada apa?”. Utusan itu pun menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat, lalu ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya”. Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku”.

Maka ketika mereka sampai kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya, “Apakah benar engkau menolak untuk membayarkan zakat dan hendak membunuh utusanku?”. “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian”, tegas Al-Harits. Turunlah firman Allah SWT yang membenarkan perkataan Al-Harits, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya), sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang telah kamu lakukan.” (QS. Al Hujurat: 6).

Dapat dibayangkan kezhaliman yang terjadi jika laporan Al-Walid diterima mentah-mentah sebagai bahan pembuat keputusan. Atau sebaliknya, tragedi suami istri yang diceritakan Imam Ibnu Qudamah tentu tidak akan terjadi jika suami istri tersebut menyelidiki terlebih dahulu informasi yang diterima. Jika fanatisme adalah penyakit sehingga umat Islam mudah diadu domba dan tawadhu’ (rendah hati) yang merupakan lawannya adalah obatnya, maka tabayyun atau klarifikasi adalah upaya pencegahannya. Persediaan obat harus ada, namun upaya pencegahan juga lebih baik untuk dilakukan. Adu domba memang perbuatan tercela, namun fanatisme yang membutakan dan tradisi tabayyun yang ditinggalkanlah yang membesarkannya. Di dunia yang dipenuhi oleh kejahatan ini, selalu ada saja yang berperan sebagai pengadu domba dan selalu ada saja yang suka menonton. Namun jika domba aduannya tidak ada, tentu tidak ada yang bisa diadu ataupun ditonton, bukan?

Pada umumnya manusia tidak melihat aib diri mereka. Engkau melihat salah seorang dari mereka berperilaku kasar, namun ia merasa bahwa dirinya sangat lembut. Meski begitu keadaannya, ia masih sibuk mengkritik kesalahan orang lain. Barangsiapa yang mampu mengenal aib dirinya sendiri maka hal itu merupakan tanda kebaikan, keshalihan, dan merupakan awal timbulnya banyak kebajikan.” (Syaikh ‘Abdurrazzaq)