Tag Archives: ujian

Semoga Kalian Syahid Akhirat

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Kabar duka itu kembali tiba. Tadi siang jam 10.40, Om Wagiman meninggal di RSUD Wonosari setelah 2 pekan dirawat akibat Covid. Om Wagiman adalah suami dari adik bungsu ibu saya yang tinggal berdampingan dengan rumah kakek dan nenek saya. Beliau berhenti dari pekerjaannya di Kota Yogyakarta dan memilih buka usaha di kampung seraya memperdalam agama. Istrinya pun berhenti bekerja dari salah satu bank konvensional terbesar di Wonosari untuk lebih fokus ke keluarga. Cepat sekali kabar duka itu tiba sebab baru malam Jum’at pekan lalu (17/6), Mbah Akung (ayahnya Ibu) meninggal dan dicovidkan. Dan baru seminggu sebelumnya, pada 11 Juni 2021, Bude Rani (istri dari kakak sulung Ibu) meninggal di RS. PON.

Bulan ini baru berjalan tiga pekan namun sudah banyak sekali kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Baru 3 hari lalu, Pak Yuli Pujihardi, salah seorang pimpinan Dompet Dhuafa meninggal di RS. Kartika Pulomas setelah terpapar Covid. Di awal bulan ini pada 4 Juni 2021, Mas Jojo, salah seorang tim IT senior di Dompet Dhuafa berpulang ke rahmatullah, juga terjangkit Covid. Belum lagi jika ditambah wafatnya orang tua dari teman-teman, rekan kerja di wilayah, tetangga di perumahan, hingga orang-orang yang banyak dikenal, tentu daftarnya akan semakin banyak lagi. Apalagi jika ditambahkan informasi tentang kenalan saya yang terpapar Covid di bulan ini. Tampaknya gelombang Covid bulan ini memang tidak main-main.

Salah satu hikmah dari kematian adalah pengingatan bagi mereka yang masih hidup untuk lebih siap dalam menghadapi kematian. Mendengar bagaimana testimoni orang-orang atas kebaikan mereka yang telah mendahului kita, membuat kita benar-benar merenung tentang bagaimana akhir hidup kita kelak dan akan dikenang seperti apa. Apalagi mendengar cerita tentang husnul khatimah beberapa rekan, kian membuat takut akan kesudahan su’ul khatimah. Kabar ‘bahagia’nya, orang beriman yang meninggal karena wabah akan memperoleh predikat syahid akhirat, Insya Allah. Ada ganjaran kebaikan yang menyertainya. Syahid dunia adalah seseorang yang berjuang seakan-akan di jalan Allah, akan tetapi niatnya hanya karena ingin dapat nama, ada pamrih, dan bukan karena Allah semata. Sementara mereka yang wafat karena berperang di jalan Allah akan memperoleh predikat syahid dunia akhirat, mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, serta jaminan masuk surga.

Dari Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad SAW, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho’un. Rasulullah SAW lalu menjawab: Sesungguhnya wabah tho’un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho’un lalu tetap tinggal disana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala di sisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah SAW bertanya (kepada sahabatnya), “Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itulah syahid, Ya Rasulullah’’. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu, alangkah sedikit umatku yang syahid”. Para sahabat bertanya, “Mereka itu siapa ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, dan orang yang mati karena sakit perut juga syahid.” (HR. Muslim).

Hal ini bukan berarti kita cukup mengharap kematian akibat Covid saja agar dapat predikat syahid akhirat. Apalagi ada prasyarat keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan tawakkal untuk meraih predikat tersebut. Namun hal ini bisa jadi penguat optimisme dalam do’a-do’a kita. Semoga penyakit yang diderita orang yang mendahului kita dapat menggugurkan dosa-dosanya. Semoga kesabaran dalam menghadapi wabahnya dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT. Sementara bagi kita yang masih hidup, cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa kematian bisa datang kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Bahwa ada perjalanan panjang nan kekal setelah kehidupan di dunia fana ini. Bahwa harus ada bekal yang cukup untuk menjalaninya. Maka berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum. Allahumma la tahrimna ajrahum wala taftinna ba’dahum waghfirlana wa lahum wali ikhwaninalladzina sabaquna bil iman wala taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu Rabbana innaka ra’ufurrahim (Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, bebaskanlah dan maafkanlah mereka. Ya Allah, janganlah kiranya pahala mereka tidak sampai kepada kami dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggal mereka. Ampunilah kami dan mereka, dan juga kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang)

Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh orang, yaitu korban ath-tha’un (wabah) adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Daud)

Pegiat Zakat, Jangan Berkhianat!

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kalian menghianati berbagai amanat yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal 27)

Hasil pemeriksaan medis untuk kali ketiga dalam dua pekan terakhir masih belum berhasil menunjukkan gejala penyakit apapun. Padahal sejak sakit di kaki serasa ditusuk-tusuk beberapa pekan lalu, aku belum pernah benar-benar pulih. Dan kali ini penyakitnya kembali menghampiri, demam tinggi, tidak bisa tidur, bahkan indera penciuman pun tidak berfungsi. Covid kah? Tidak. Ini sudah kali kedua dalam dua pekan ini hasil SWAB test menunjukkan hasil yang negatif. Dokter pun bingung atas apa yang terjadi. Diagnosis yang bisa disampaikan hanyalah stress, seraya menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana persoalan pikiran bisa memberi dampak terhadap tubuh.

Malam ini terasa panas menyelimuti tubuh, padahal AC sudah menyala. Mungkin suara murathal Al Baqarah yang sayup-sayup terdengar di kamar sebelah yang jadi penyebabnya. Beberapa hari ini, dalam ruqyah mandiri, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuh ini. Di hari kelima, aku tak sanggup lagi, ruqyah mandiri terasa sangat melelahkan. Butuh bantuan orang lain. Segera saja aku minta diantar menemui ustadz yang memang biasa membantu dalam melakukan ruqyah. Menjadi sebuah ikhtiar, bagaimanapun ruqyah hanyalah sarana karena yang menyembuhkan adalah Allah SWT.

Dalam keadaan setengah sadar, ada kalanya berteriak bahkan memukul diri sendiri, jin kafir dan jin muslim yang bersemayam dalam tubuhku saling bentrok. Jin kafir ini menyampaikan tiga misinya: membunuh diriku, membuatku bercerai dengan istriku, dan membuatku keluar dari tempat kerjaku. Kuteringat beberapa hari lalu betapa tiba-tiba aku membenci diriku, istriku, dan tempat kerjaku. Jin kafir ini tampak sangat membenci pekerjaanku sebagai pegiat zakat. Apalagi ada berbagai perbaikan yang kulakukan, yang bisa jadi mengusik sebagian orang. Setelah melalui waktu yang terasa panjang, akhirnya semuanya berhasil terkendali. Atas izin Allah SWT aku kembali sehat, dan semakin mantap untuk berjuang di jalan ZISWAF yang ternyata begitu dibenci para musuh Allah. Tak boleh berlalu seharipun tanpa tilawah, dzikir, dan senantiasa mengingat-Nya.

* * *

Kisah di atas adalah penggalan kisah nyata dari seorang rekan pegiat ZISWAF yang diceritakan langsung kepada penulis beberapa waktu lalu. Penyakit nonmedis memang bukan hal baru bagi penulis. Namun ada beberapa ibroh yang dapat diambil dari cerita seorang rekan ini. Pertama, ‘gangguan’ bukan hanya bisa masuk ke orang awam, namun orang ‘alim’pun dapat terkena ‘gangguan’ tersebut pada titik terlemahnya. Kedua, penyakit nonmedis memang benar ada, pun demikian, ruqyah harus tetap dipandang sebagai sarana, bukan merupakan faktor yang menentukan kesembuhan. Ketiga, jalan para pejuang syariah memang tak pernah mulus dari cobaan dan gangguan. Dan itu merupakan sunatullah dalam berjuang.

Walaupun tidak bisa dijadikan hujjah yang dapat dipercaya, ada beberapa perkataan jin dalam kasus di atas yang dapat menjadi warning sekaligus motivasi. Bukan perkataan tentang sadisnya pembunuhan 6 laskar FPI yang entah didapatnya dari mana. Namun ungkapan kebenciannya terhadap para pejuang syari’ah, para pegiat dakwah, zakat, wakaf, dan sebagainya. Di saat semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya penegakan syari’ah, pihak yang memusuhinya pun tidak sedikit, miltan, terorganisir dan sistematis. Polarisasi ideologis antara kedua kubu ini lebih dahsyat dibandingkan perang antara ‘cebong’ dengan ‘kampret’. Dan tidak ada posisi di antara hizbullah dengan hizbusysyaithan. Akan ada masa dimana manusia akan memilih dimana mereka akan berdiri.

Ujian besar bagi para pejuang syari’ah pun tampaknya tinggal menunggu waktunya. Tanda-tandanya sudah semakin kentara, seperti pembubaran beberapa ormas Islam, ditutupnya pasar muamalah, ataupun ditangkapnya Ketua salah satu Lembaga Amil Zakat karena diduga danai terorisme. Ujian ke depan bisa jadi semakin berat karena para pejuang syari’ah ini ‘diserang’ dari dalam di saat ada kepentingan eksternal untuk memanfaatkan dana umat. Tantangan terbesarnya justru datang dari para pengkhianat perjuangan. Mereka yang berada di barisan umat, namun mengedepankan kepentingan duniawi pribadi dan kelompoknya. Jumlahnya barangkali tidak besar, namun ibarat kanker yang terus merusak sel, jaringan, dan organ sehat. Syari’ah Islam yang mulia, distigmakan negatif akibat ulah oknum pengkhianat berkedok syari’ah.

Pun demikian, optimisme tetap harus dipupuk. Tidak sedikit pejuang syari’ah yang benar-benar tulus ikhlash dalam berjuang. Merekalah anasir terkuat dalam menghadapi berbagai ujian. Yang namanya jalan kebenaran memang tak pernah sepi dari aral menghadang. Godaan untuk meninggalkan medan juang dan memilih jalan yang lebih aman dan menjanjikan juga semakin besar. Perjalanan waktu nanti akan membuktikan, siapa yang benar-benar berjuang di Jalan-Nya, siapa yang mencederai amanah hanya demi kenikmatan sesaat yang semu. Semoga Allah SWT senantiasa memantapkan langkah kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

2021, Tahun Masih Harus Bersabar

Aku mencari segala bentuk rezeki tetapi aku tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar
(Umar bin Khattab r.a.)

Akhirnya, tahun 2020 berlalu. Ada banyak harapan di tahun 2021 ini. Pandemi virus corona sepanjang tahun 2020 benar-benar membuat dunia berselimut duka dan kekhawatiran. Banyak event nasional dan internasional di tahun 2020 yang ditunda atau dibatalkan, mulai dari konser musik, festival film, hingga Olimpiade di Tokyo. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia yang tetap berjalan barangkali termasuk anomali. Dalam kaleidoskop 2020 di bidang apapun, tidak terlepas dari dampak yang dirasakan akibat pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya bidang kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan, sosial budaya, politik, hukum, hubungan internasional, agama, hingga teknologi informasi dan olahraga tahun 2020 pasti terkait dengan persoalan pandemi ini.

Memasuki tahun 2021, pandemi belum juga berakhir. Bahkan angka statistiknya terus bertambah. Kasus Covid-19 tercatat sudah menembus 80 juta dengan korban jiwa lebih dari 1,8 juta di seluruh dunia. Di luar kasus Covid-19, awal tahun 2021 ini sebenarnya relatif lebih baik daripada awal tahun 2020. Awal tahun lalu sudah diwarnai dengan isu World War III karena memburuknya hubungan AS dengan Iran. Beberapa negara di Timur Tengah juga ikut bergejolak. Indonesia juga bersitegang dengan China yang mengklaim Laut Natuna. Awal tahun 2020 juga ditandai dengan banjir bandang di Jakarta, kebakaran hutan Australia, dan erupsi Gunung Taal di Filipina. Belum lagi kasus Reynhard Sinaga yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Semoga tidak terulang di tahun ini.

Di tahun 2021 ini sepertinya kesabaran masih akan terus diuji. Ada lebih dari 110 ribu kasus aktif Covid-19 di Indonesia dari sekitar 750 ribu kasus yang terdata, dengan korban jiwa lebih dari 22 ribu orang. Banyak ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia penuh. Itu belum termasuk klaster liburan akhir tahun. Petugas medis perlu lebih bersabar menghadapi pasien Covid-19 yang tak jua surut. Sudah 10 bulan sejak kasus pertama corona di Indonesia diumumkan, kebutuhan ekonomi harus terus terpenuhi, masyarakat tak bisa lagi ‘ditertibkan’ untuk diam saja di rumah. Butuh kesabaran untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimana masyarakat semakin abai. Di dunia pendidikan, banyak orang tua yang sepertinya juga masih harus bersabar untuk mendidik anaknya belajar di rumah karena pembelajaran tatap muka urung dilakukan.

Masyarakat Indonesia juga masih harus bersabar menghadapi pemerintah negeri ini. Ketidaktahuan pemerintah akan masuknya mutasi virus corona di Indonesia beberapa hari lalu seakan dejavu dengan kondisi awal tahun lalu saat pemerintah menyatakan belum ada kasus Covid-19 di tanah air pun ada beberapa warga asing yang terinfeksi setelah berkunjung ke Indonesia. Keputusan menutup kedatangan Warga Negara Asing (WNA) di awal tahun ini juga terasa terlambat hampir setahun. Dan memang butuh kesabaran ekstra dalam menyikapi kebijakan pemerintah Indonesia. Sepanjang tahun 2020, sudah ada puluhan pernyataan kontroversial dari pejabat pemerintah. Belum lagi ditambah berbagai pelanggaran hukum dan kesewenang-wenangan yang dilakukan. Jika pada 2020 masih ada Donald Trump, Presiden AS yang eksentrik dan kerap jadi olok-olok. Dengan tak terpilihnya lagi Trump, bukan tak mungkin Indonesia akan banyak mendapat sorotan dunia, bukan dalam artian yang positif.

Umat Islam masih harus bersabar. Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Habib Rizieq Shihab (HRS) dipenjara tak lama setelah 6 orang pengawalnya tewas ditembak polisi. Ironis, HRS dipenjara di Rutan Narkoba karena melanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, sementara beberapa bulan lalu puluhan ribu narapidana dibebaskan kerena Covid-19. HRS ditetapkan sebagai tersangka tanpa menghilangkan satupun nyawa, sementara para penembak laskar FPI tidak diusut, apalagi dihukum. Penangkapan HRS diproses begitu cepat pun tidak merugikan negara seperti kasus BLBI, Jiwasraya, e-KTP, ataupun Pelindo. Bahkan HRS sudah membayar denda 50 juta. Sementara Harun Masiku dan Sjamsul Nursalim yang jelas merugikan negara tak jua tertangkap. Menteri KKP dan Menteri Sosial yang diciduk KPK karena kasus korupsi memang di-reshuffle, namun jatah menteri dari partai lumbung koruptor tidaklah berkurang. Boro-boro ditindak atau dibubarkan, yang ada malah kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader partai penguasa menguap begitu saja. Apalagi kasus yang menyeret ‘anak Pak Lurah’. Barangkali harus menunggu Pak Lurah lengser dulu untuk menuntut keadilan, itupun jika Pak Lurah barunya berani menuntut.

Dan masyarakat dunia masih harus bersabar. Vaksin bukan obat. Alih-alih mengobati, vaksin lebih bersifat preventif. Butuh waktu untuk membuatnya, tambahan waktu untuk memproduksi vaksin yang efektif, tambahan waktu lagi untuk mendistribusikannya, serta lebih banyak waktu lagi untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit menular. Belum lagi adanya kelompok anti vaksin dan penganut teori konspirasi. Umat manusia perlu lebih bersabar agar tidak menimbulkan bencana lain yang lebih besar. Bagaimanapun, banyak bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Ditambah lagi potensi bencana alam. Selain pandemi Covid-19, tahun 2020 lalu ada berbagai bencana dengan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit, mulai dari kebakaran, banjir bandang, badai besar, letusan gunung berapi, gempa bumi, serangan belalang, angin topan, ledakan, hingga kerusuhan sipil dan krisis kemanusiaan. Dan tidak ada jaminan bencana serupa tak terulang di tahun ini.

Lalu sampai kapan harus bersabar? Sampai kapanpun, sebab kesabaran sejatinya tiada batas. Sabar secara bahasa artinya menahan diri. Sedangkan secara syari’at, sabar adalah menahan diri dalam tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian atau musibah. Jadi batas kesabaran adalah ketika tak ada lagi ketaatan yang harus dilakukan, kemaksiatan yang harus dihindari, dan musibah yang harus dihadapi. Ya, kesabaran harus ada sepanjang hayat. Kesabaran inilah yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian, tetap optimis, menikmati proses kehidupan, menjauhkan dari penyakit, keberuntungan yang baik, dan derajat tinggi di surga. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang sabar, semakin sabar di tahun ini, dan terus bersabar di tahun-tahun selanjutnya.

Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku
(Ali bin Abi Thalib r.a.)

Bersabar di Hari yang Fitri (2/2)

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,

Shaum berarti menahan diri, sama dengan bersabar. Orang yang berpuasa perlu bersabar dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Menahan diri dari berkata dusta, berkata kotor, termasuk menahan diri dari amarah. Bahkan jika ada yang mengajak berkelahi, Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengatakan, “Saya sedang berpuasa”. Tidak mampu bersabar memang tidak membatalkan puasa, namun dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala berpuasa. Karenanya, kesabaran merupakan salah satu wujud nyata keberkahan puasa seseorang. Sebulan penuh berlatih menahan diri seharusnya mampu membentuk seseorang menjadi pribadi yang sabar.

Apalagi ditengah ujian pandemi Covid 19 ini, menyaksikan persebaran virus yang begitu berbahaya, ditambah banyaknya masyarakat yang semaunya, dilengkapi pemerintah yang ‘suka-suka gua’, kesabaran ekstra harus dimiliki untuk melewati ujian dan cobaan ini. Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ , الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ,  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155 – 157)

Muara dari ujian adalah kembali kepada Allah SWT. Bahkan kita perlu lebih bersyukur atas ujian yang membuat kita semakin dekat kepada Allah SWT dibandingkan nikmat yang justru menjauhkan kita dari Allah SWT. Semoga kita bisa melewati berbagai ujian kehidupan ini dengan penuh kesabaran, tetap bersabar dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, dan senantiasa menjadikan sabar sebagai salah satu bekal untuk menuju Jannah-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ar Ra’du ayat 24 bahwa salamnya para malaikat untuk para penghuni surga adalah: سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ (selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu). Semoga kita bisa menjadi pribadi yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tidak mengeluh, bersikap lemah, dan menyerah menghadapi ujian.

وَٱلۡعَصۡرِ ,  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ,  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

* * *

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر لااله الاالله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

الْحَمْدُ لله الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِين، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه.

فَيَا عِبَادَ الله أُوْصِنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ  أما بعد

Sabar adalah sikap aktif, bukan pasif. Salah satu perwujudan kesabaran adalah berdo’a setelah berikhtiar. Sebagaimana dicontohkan oleh para Nabi, Rasul, dan orang-orang shalih. Nabi Ibrahim a.s. ketika diuji belum juga memiliki anak di usia tua lantas berdo’a: رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ yang artinya, “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaffat: 100). Nabi Yunus ketika di dalam perut ikan berdo’a: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ yang artinya, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zhalim/ aniaya” (QS. Al Anbiya: 87).

Para pemuda kahfi ketika diuji keimanannya sehingga memaksa mereka untuk bersembunyi di goa berdo’a: رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا yang artinya, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS. Al Kahfi: 10). Nabi Nuh dan Luth ketika diuji dengan kaumnya yang membangkang lantas berdo’a. Nabi Yaqub ketika diuji kehilangan anak-anak yang dicintainya berdoa. Nabi Yusuf ketika difitnah berdo’a. Nabi Ayub ketika diuji dengan berbagai ujian yang dahsyat berdo’a. Nabi Zakaria ketika diuji belum memiliki anak di usia lanjut berdo’a. Pun demikian dengan Rasulullah SAW yang tak henti berdzikir dan berdo’a dalam setiap kesempatan.

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah, marilah kita tutup khutbah ini dengan bermunajat kepada Allah SWT agar senantiasa menganugerahkan kebaikan dan keberkahan bagi kita, keluarga kita, masyarakat kita, bangsa dan negara kita, dan kaum muslimin dimanapun berada.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صل على سيدنا محمد ، وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم

وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد ، كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنَينَ وَالْمُؤْمِنَات الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارَا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا اَّلذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَان، وَلَاتَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ الرَّحِيم.

اللهم تقبل منا صلاتنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وخشوعنا وتضرعنا وتمم تقصيرنا برحمتك يا أرحم الراحمين

يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك ، يا مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعت ك

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُن وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَصَلّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِين

عباد الله ، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون ، فاذكروا الله العظيم يذكركم وشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Keutamaan Ibadah di Luar Ramadhan

Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun” (Syeikh Bisyr Al Hafi)

Setiap tahun, baik dalam tarhib Ramadhan ataupun khutbah Jum’at di akhir Sya’ban atau awal Ramadhan, penceramah biasa menyampaikan tentang keutamaan bulan Ramadhan dan beribadah di dalamnya. Walaupun sudah mainstream, Ramadhan memang istimewa. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al Qur’an, bulan diturunkannya Al Qur’an, dan satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan para setan dibelenggu. Kondisi yang tidak ditemui di bulan lain. Namun bicara tentang keutamaan ibadah di bulan Ramadhan adalah perkara lain yang dapat diperdebatkan.

Ibadah shaum Ramadhan yang hukumnya wajib dan termasuk Rukun Islam memang lebih utama dibandingkan shaum sunnah di luar Ramadhan. Berdosa jika ditinggalkan dengan sengaja dan wajib diganti jika ditinggalkan membuat shaum Ramadhan ada di level yang berbeda. Yang juga berbeda barangkali i’tikaf menghidupkan lailatul qadar yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Perbedaan ini kemudian diperkuat dengan ganjaran diampuni dosa bagi mereka yang berpuasa dan menghidupkan malam Ramadhan dengan imanan wahtisaban.  Namun ketika menyoal tentang dampak puasa dan shalat malam terhadap fisik dan spiritual, dua kebahagiaan orang yang berpuasa, diijabahnya do’a orang yang berpuasa hingga hal-hal yang perlu dijaga selama berpuasa tidaklah berbeda antara Ramadhan dengan di luar Ramadhan. Bahkan beribadah di luar Ramadhan punya tantangan lebih.

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung seberapa beratnya ujian. Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya maka Dia menimpakan cobaan kepadanya. Sedekah yang utama adalah dengan sesuatu yang paling disukai. Berat memang, karenanya menjadi istimewa. Shalat berjama’ah di masjid yang paling besar ganjarannya adalah shalat shubuh. Terjaga dan beribadah ketika orang lain nyenyak tidur tentu tidak mudah. Jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Penuh risiko dan tidak sederhana, karenanya menjadikannya mulia. Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik dibandingkan mereka yang tidak bergaul dan tidak bersabar. Begitulah sunnatullahnya. Semakin berat ujian, kian besar pengorbanan, makin banyak kesungguhan yang diperlukan, akan semakin besar ganjarannya. Belajar dari Qur’an Surah Al Balad, ketika dihadapkan pada dua jalan, tidak banyak yang memilih jalan menanjak yang sulit ditempuh dibandingkan jalan yang mudah.

Begitulah beribadah di luar Ramadhan, lebih penuh tantangan. Berpuasa sunnah ketika orang lain berpuas makan tidaklah mudah. Istiqamah tilawah selepas zhuhur di saat yang lain bergegas istirahat dan makan siang punya tantangan yang jauh berbeda dibandingkan ketika Ramadhan. Di saat lingkungan lebih kondusif untuk beribadah. Perbedaan ini jelas terlihat dari interaksi umat Islam dengan masjid dan dengan Al Qur’an, ketika dan di luar Ramadhan. Perbedaan nyata terlihat dari jama’ah shalat Shubuh dan Isya, apalagi jika diteliti qiyamul lail nya. Padahal ibadah sejatinya adalah aktivitas sepanjang hayat, bukan hanya semangat ketika lingkungan kondusif. Imam Hasan Al Basri pernah berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Alangkah tidak pantasnya jika gema takbir hari raya menjadi batas amal ibadah seorang muslim. Na’udzubillah

Salah satu indikator sukses Ramadhan adalah terjaganya amal ibadah selepas Ramadhan. ‘Kun Rabbaniyyan Wa Laa Takun Ramadhaniyyan’, begitulah para ulama terdahulu menyampaikan. Hendaklah kita menjadi hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi ‘penyembah’ Ramadhan. Ketahuilah, keutamaan beribadah bukan hanya ada di bulan Ramadhan. Ibaratnya banyak orang berburu barang ketika cuci gudang, barang berlimpah dan banyak potongan harga. Mereka pun sekadar memperoleh barang murah yang tersedia. Sementara di hari biasa tidak banyak yang mencari barang, padahal walaupun sedikit lebih mahal, barang yang dipilih bisa lebih dijamin kualitasnya dan pelayanannya pun lebih optimal. Apalagi jika disadari bahwa barang yang dicari adalah kebutuhan sehari-hari, tidaklah tepat mengupayakannya hanya ketika cuci gudang. Ramadhan memang istimewa, namun satu tahun terdiri dari dua belas bulan, bukan hanya Ramadhan. Ada hak-hak Allah SWT yang tetap harus dijaga. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, serta membimbing kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya. Semoga kita tetap istiqamah beribadah sepanjang tahun, sepanjang hayat, serta dijauhkan dari sifat munafik. Aamiiin…

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali Imran: 8 )

Kaleidoskop 2016 Kelabu (2/2)

Ironisnya, di tengah banyaknya musibah yang membawa korban jiwa dan kerugian yang tidak sedikit, akal sehat dan sisi kemanusiaan juga banyak terkikis di tahun ini. Lihat saja rentetan aksi teror bom di tahun ini, baik di dalam maupun luar negeri (Turki, Bangladesh, Irak, Madinah, dll) yang menyisakan banyak keganjilan sekaligus menciderai kemanusiaan. Di Indonesia, tahun 2016 diawali dengan kasus bom sarinah menyusul maraknya isu tentang ISIS dan Gafatar. Isu teroris ‘abal-abal’ pun terus dijaga momentumnya sepanjang tahun mulai dari kasus bom Solo, bom molotov gereja Samarinda hingga kasus bom panci Tasikmalaya di akhir tahun. Kasus vaksin palsu yang sempat mencuat juga menciderai kemanusiaan. Kok tega? Namun ternyata di akhir tahun kemanusiaan semakin terkapar. Tragedi yang terjadi di Rohingnya (Myanmar) dan Aleppo (Suriah) sungguh tak manusiawi. Tragisnya lagi, tragedi kemanusiaan sebenarnya juga masih terjadi di berbagai penjuru dunia, di antaranya Sudan Selatan, Yaman, Nigeria, Somalia, Libya, Turki, Afghanistan dan Irak.

Tak hanya kemanusiaan yang terkikis di tahun 2016 ini, akal sehat pun setali tiga uang. Lihat saja hampir sepanjang tahun masyarakat Indonesia disuguhi ‘sinetron’ kopi sianida yang entah apa signifikansinya terhadap kemajuan bangsa. Masih mendingan drama ‘Papa Minta Saham’ yang mempergilirkan jabatan Ketua DPR, setidaknya serialnya tidak terlalu banyak pun rentang waktunya panjang. Atau skandal penunjukkan menteri dengan masalah kewarganegaraan sehingga dicopot, dan diangkat lagi menjadi wakil menteri beberapa bulan kemudian. Sangat dramatis. Ada lagi kasus penipuan bermodus penggandaan uang yang begitu dibela oleh seorang ‘cendekia’. Tidak habis pikir. Belum lagi jika kita tengok beberapa kasus ‘kecelakaan’ (jika tidak bisa disebut sebagai kebodohan) yang terjadi di tahun ini, misalnya tewasnya peserta lomba makan karena tersedak, atau pemuda yang menemui ajalnya setelah diikat di tiang lampu beraliran listrik dan diguyur air oleh teman-temannya yang ingin merayakan ulang tahunnya. Akal sehat entah kemana.

Lebih menyedihkannya lagi, tahun 2016 adalah tahun karamnya kapal keadilan hukum. Betapa banyak ketidakadilan terjadi dimana mafia hukum banyak bermain dan hukum masih tebang pilih. Bukan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, tapi tajam kepada pihak tertentu dan tumpul kepada pihak tertentu. Kasus penyalahgunaan kewenangan memang sarat intrik dan kepentingan, namun ketika kepentingan masyarakat banyak tidak dikedepankan yang muncul adalah ketidakpercayaan publik terhadap supremasi hukum. Salah satu kasus hukum yang mendapat sorotan serius di akhir tahun ini adalah terkait penistaan agama, bukan terkait korupsi Sumber Waras ataupun penyalahgunaan kewenangan terkait izin reklamasi, pun menyeret oknum yang sama. Dalam hal ini, pemerintah seakan tersandera oleh sosok Petahana Gubernur DKI. Muncul Aksi Bela Islam yang melibatkan jutaan massa hingga aksi tandingannya, dan berbagai dinamika berbangsa dan bernegara di penghujung tahun 2016.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2017? Bisa jadi kelabu kian hitam pekat, atau transisi menuju putih bersih, atau keduanya. Tapi tampaknya 2017 belum akan langsung putih bersih. Pelangi memang akan muncul setelah turunnya hujan, namun pastikan ada mentari yang menyinari dan rinai yang menyertai. Karena pelangi tidaklah muncul begitu saja selepas hujan. Isra Mi’raj memang menjadi hadiah indah selepas ‘Aamul Huzni (tahun duka cita). Namun di antaranya, ada ujian yang kian menghebat. Pekatnya malam memang menandakan akan segera terbit cerahnya mentari. Namun di antaranya ada waktu di antara dua tanduk setan, dimana manusia banyak yang lalai dan musibah banyak terjadi. Dan diantaranya juga ada waktu dimana seorang hamba akan begitu dekat dengan Rabb-nya, waktu dimana dosa diampuni dan do’a diijabah. Ya, kelabu mungkin tak akan segera sirna, namun cahaya kemenangan itu semakin dekat. Insyaa Allah…

…Jangan dipikir derita akan berpanjangan, kelak akan membawa putus asa pada Tuhan. Ingatlah biasanya kabut tak berpanjangan, setelah kabut berlalu pasti cerah kembali. Ujian adalah tarbiyah dari Allah. Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya. Kesenangan yang datang selepas kesusahan, semuanya adalah nikmat dari Tuhan” (‘Sketsa Kehidupan’, The Zikr)

Syukur dan Sabar dalam Berumah Tangga

Pada suatu hari, Imran bin Haththan menemui dan menatap istrinya. Secara fisik, Imran adalah laki-laki buruk rupa dan bertubuh pendek. Sedangkan istrinya cantik jelita dan tinggi semampai. Semakin lama dipandang, sang istri kian terlihat cantik di mata Imran. Merasa dipandangi terus-menerus, istri Imran pun bertanya, “Ada apa dengan dirimu?”. Imran menjawab, “Segala puji bagi Allah. Demi Allah, kamu perempuan yang cantik.” Sang istri kemudian berkata, “Bergembiralah, karena sesungguhnya saya dan kamu akan masuk surga.” Imran pun bertanya, “Dari mana kamu tahu hal itu?”. Istrinya menjawab, “Sebab, kamu telah dianugerahi istri seperti aku, dan engkau bersyukur. Sedangkan aku diuji dengan suami seperti kamu, dan aku bersabar. Orang yang bersabar dan bersyukur ada di dalam surga.

Kisah tersebut dengan berbagai versinya kerap disampaikan sebatas humor mengenai pasangan ‘Beauty and the beast’. Padahal jika diselami maknanya lebih dalam, syukur dan sabar merupakan hal utama dalam berumah tangga. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa penyebab terbesar perceraian adalah masalah finansial, kemudian perselingkuhan, baru faktor-faktor lainnya termasuk KDRT, masalah anak dan keluarga, ataupun karena perbedaan prinsip. Jika perselingkuhan erat kaitannya dengan iman serta kesetiaan (dan biasanya hanya merupakan dampak bukan akar masalah); masalah keuangan (dan berbagai faktor penyebab perceraian lainnya) lebih dekat dengan manajemen syukur dan sabar.

Tanpa bermaksud mendikotomikan, syukur memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan sabar. Karenanya dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah SWT mengungkapkan betapa sedikit manusia yang pandai bersyukur. Karenanya ketika Aisyah r.a. bertanya mengapa Rasulullah SAW shalat sampai sebegitunya padahal dosa beliau sudah pasti diampuni, Rasulullah SAW hanya menjawab, “Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Padahal tetap beribadah hingga kaki bengkak-bengkak adalah wujud kesabaran, namun syukurlah yang menjadi tujuan. Misi sebagai hamba dijalani dengan bersyukur, sementara misi sebagai khalifah dihadapi dengan bersabar. Dimensi syukur lebih abstrak, bahkan kita perlu bersyukur atas karunia mampu bersyukur.

Problematika berumah tangga biasa dimulai dari keluhan-keluhan yang muncul diikuti dengan sikap suka membandingkan dengan nikmat yang diperoleh orang lain. Bukti nyata terkikisnya rasa syukur dan sabar. Rasa syukur untuk bisa bersabar dan kesabaran untuk terus bersyukur. Pernikahan biasanya diawali dengan kesyukuran, kecuali dalam beberapa kasus misalnya kawin paksa atau married by accident. Bahtera rumah tangga yang mengarungi samudera kehidupan tentu tidak terlepas dari hujan badai dan ujian. Disinilah kesabaran dibutuhkan. Sabar adalah sikap aktif untuk mengatasi permasalahan dengan penuh kesungguhan. Kerja keras tanpa batas.

Bersabar itu sulit, namun bersyukur lebih rumit dan kerap dilupakan. Kala ujian datang menghadang, manusia sering alpa akan segala nikmat yang telah diberikan dalam bentuk lain. Orang sakit mungkin ingat akan nikmat sehat, namun lupa bahwa adanya keluarga yang menemani juga merupakan nikmat. Ketika masalah finansial menerpa bahtera rumah tangga, suami istri tentu tidak tinggal diam dan bekerja keras. Itu adalah kesabaran. Namun tanpa kesyukuran, kesabaran tersebut biasanya tak mampu bertahan. Suami istri seakan lupa nikmat ketika mereka baru menapaki mahligai pernikahan, kebahagiaan dikaruniai keluarga yang mendukung dan anak yang terlahir sempurna, termasuk nikmat keharmonisan rumah tangga yang pernah dirasakan. Toh rezeki tidak harus berupa uang.

Ketika kesyukuran tiada, yang tersisa adalah sikap emosional dan kesombongan. Sebab rasa syukur ditandai dengan ketenangan dan berbagi. Dan saat kesabaran juga terkikis, yang muncul adalah ego dan menyalahkan pihak lain. Sebab kesabaran menghadirkan sikap solutif dan mau bekerja sama. Bisa dibayangkan neraka rumah tangga tanpa kesyukuran dan kesabaran. Dalam beberapa hadits yang menyampaikan bahwa penghuni neraka didominasi oleh wanita, Rasulullah SAW mengemukakan penyebabnya adalah karena para wanita banyak melaknat/ mengeluh dan durhaka pada suaminya. Mengingkari banyak kebaikan pada suaminya ketika menemukan suatu hal yang tidak disukainya. “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i).

Jika istri perlu lebih banyak bersyukur untuk mengikis sikap gengsi dan ketidakstabilan emosinya, suami perlu lebih banyak bersabar untuk meruntuhkan egonya. Laki-laki memang pemimpin dalam rumah tangga, namun mengedepankan statement tersebut bukan solusi dalam mengatasi problematika rumah tangga. Sebab istri perlu dihargai sebagai tulang rusuk bukan alas kaki. “Tulang rusuk yang bengkok”, kata Rasulullah SAW. Harus bersabar untuk meluruskannya karena akan patah jika dipaksa. Bukan hanya bersabar untuk tidak menyakiti, tetapi juga bersabar atas berbagai sikap istri yang kadang emosional, moody, suka menuntut, kekanak-kanakan dan kurang bijaksana. “…Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Kesyukuran dan kesabaran ini harus terinternalisasi dalam nurani dan pikiran dan terimplementasi dalam perbuatan. Mulai dari hal yang sederhana misalnya suami yang biasa meminta maaf pun tidak salah dan istri yang berterima kasih atas pemberian sekecil apapun. Kesyukuran pasti akan menambah nikmat. Sementara kesabaran akan mendatangkan solusi atas berbagai permasalahan dari arah yang tidak terduga. Bahtera rumah tangga akan kokoh dengan kesabaran, dan akan semakin indah dengan kesyukuran. Semoga kita –dan pasangan hidup kita– menjadi hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur dan khalifah-khalifah di muka bumi yang teguh besabar.

“Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. (HR. Muslim)